IMG-LOGO
Daerah

Jabatan Itu Kulit, Isinya Adalah Mengabdi dan Melayani


Selasa 9 April 2019 21:30 WIB
Bagikan:
Jabatan Itu Kulit, Isinya Adalah Mengabdi dan Melayani
Panitia peringatan hari lahir Muslimat NU di Mimika, Papua.
Mimika, NU Online
Sikap seseorang terhadap Nahdlatul Ulama sangat dipengaruhi kedalaman pemahaman tentang jamiyah ini. Keragaman pemahaman menjadikan Nahdliyin atau warga NU kadarnya bertingkat, mulai satu hingga dua puluh empat karat layaknya emas.

Hal itu tercermin dari sambutan Ketua Jamaah Istighatsah An-Nahdliyah Mimika, Sugiarso, di hadapan ratusan hadirin. "NU itu lahir sebagai respons gerakan Wahabi di Arab Saudi. Saat itu NU belum ada. Apalagi struktur NU jelas belum ada. Namun amaliah NU sudah ada sejak awal Islam masuk Nusantara melalui para sufi, Walisongo,” katanya pada peringatan hari lahir ke-73 Muslimat NU dan Isra’ Mi’raj yang diadakan Jamaah Istighatsah An-Nahdliyah di lapangan Jayanti, Sempan, Mimika, Papua, Ahad (7/4).
.
Dalam pandangannya, kegiatan tahlilan, yasinan, shalawatan, manakiban, dzikir, selamatan, syukuran, pengajian, olah kanuragan, olah kebatinan semua ada. “Tapi NU sebagai struktur belum lahir. Kegiatan seperti itulah yang dilakukan warga masyarakat sehingga disebut NU kultural," jelasnya.

Lebih lanjut Wakil Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Mimika ini juga menjelaskan tentang peranan majelis yasinan, tahlilan, istighatsah, dzikir, dan sejenisnya. 

"NU kultural jauh lebih dulu ada daripada NU struktural. Maka ketika ada orang mengatakan bahwa istighatsah ilegal, jelas yang bersangkutan bukan orang NU, orang tidak tahu sejarah, orang yang mengaku NU tetapi perusak NU,” sergahnya. 

Menurutnya, tidak tepat dan tidak relevan berbicara legal atau ilegal terhadap kegiatan seperti itu. “Ketika pengurus struktural NU datang bukan dari NU kultural, jelas itu penyelewengan,” ulasnya. 

Bagaimana mungkin orang yang tidak pernah atau jarang tahlilan mengurusi ahli tahlil, shalawat, serta istighatsah. Jelas tidak bisa. “NU struktural itu berisi perwakilan orang NU kultural sehingga bisa menyambungkan komunikasi, kerja sama, silaturahim antar majelis tahlil, yasin dan sebagainya," urainya dengan penuh semangat.

Ketua Pengurus Pondok Pesantren Darussalam Mimika, Papua Pesantren Wirausaha Ahlus-Sunnah wal Jamaah An-Nahdliyah Mimika ini juga menjelaskan pentingnya madrasah dan pesantren.  

"NU itu pesantren besar, madrasah diniyah besar. Pesantren adalah NU kecil. Tanpa pesantren, madrasah, majelis tahlil, yasin, manakib, istighatsah, shalawat dan sebagainya, NU akan ompong,” katanya memberikan tamsil. 

NU struktural tidak akan bisa berbuat apa-apa jika tidak punya jamaah. “Dan jamaah itu hanya bisa dibina di majelis-majelis seperti itu, di pesantren dan di madrasah,” ungkapnya. 

Secara lebih dalam, Sugiarso mengemukakan bahwa membesarkan majelis istighatsah hakikatnya adalah membesakan NU. “Membesarkan pesantren hakikatnya adalah membesarkan NU. Membesarkan madrasah hakikatnya adalah membesarkan NU," jelasnya.

Menurutnya, jabatan struktural di NU itu hanya kulit, namun isinya adalah pengabdian dan pelayanan. “Bicara itu kulit, tindakan dan perbuatan itulah isinya,” tegasnya. 

Dalam pandangannya, isi jelas lebih penting daripada kulit. “Janganlah terjebak tampilan kulitnya. Durian kulitnya duri, tapi isinya empuk dan enak. Kedondong kulitnya halus, tapi isinya banyak durinya,” sergahnya memberi contoh. 

Di akhir sambutannya bersama Ustadz Hasyim Asy'ari selaku Pengasuh Pondok Pesantren Darussalam Mimika, Sugiarso mengajak jamaah membaca shalawat Asyghil. “Untuk keamanan negara supaya dijauhkan dari orang orang dzalim,” pungkasnya. 

Lantunan shalawat Asyghil yang diikuti jamaah pengajian membuat suasana syahdu dan khidmat. (Ibnu Nawawi)

Bagikan:
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG