IMG-LOGO
Fragmen

Sejarah Gerakan Kaum Tarekat Melawan Penjajah

Rabu 10 April 2019 10:0 WIB
Bagikan:
Sejarah Gerakan Kaum Tarekat Melawan Penjajah
Ilustrasi (ist)
Kondisi bangsa Indonesia yang sedang terjajah Belanda tidak membuat umat Islam diam. Sejarah mencatat, perjuangan umat Islam, khususnya kalangan pesantren melawan dan mengusir penjajah mampu membuat negara Indonesia terbebas dari penjajahan. Walau demikian, upaya-upaya penjajahan kembali terus dilakukan oleh Belanda hingga 1947. Sebab itu, usaha menegakkan kemerdekaan Indonesia tidak berhenti pasca-proklamasi 17 Agustus 1945.

Jauh sebelum masa-masa tersebut, kaum tarekat atau kelompok pengikuti kaum sufi juga melakukan perlawanan terhadap penjajah Belanda. Kelompok-kelompok tarekat di Nusantara telah memperoleh pengikut menjelang abad ke-18. Ajaran-ajaran sufi menolak segala bentuk penindasan terhadap manusia. Sebab itu, kaum tarekat memobilisasi diri untuk melakukan gerakan perlawanan terhadap penjajah.

Martin van Bruinessen dalam Kitab Kuning, Pesantren, dan Tarekat (2015) mencatat bahwa tarekat pertama yang memperoleh banyak pengikut di Asia Tenggara yang benar-benar dapat dimobilisasi ialah tarekat Sammaniyah. Tarekat ini dianut oleh Sultan Palembang yang juga diikuti oleh masyarakat awam.

Tarekat Sammaniyah memainkan peranan penting dalam melakukan perlawanan terhadap pendudukan Kota Palembang oleh tentara Belanda pada tahun 1819. Dalam sebuah karya sastra lokal dijelaskan bahwa beberapa kelompok orang berpakaian putih dan berdzikir keras hingga mencapai puncak mahabbah lalu kemudian tanpa rasa gentar menyerang penjajah Belanda. Mereka meyakini bahwa tubuh mereka sudah kebal karena dzikir tersebut.

Awal-awal perkembangan tarekat di Nusantara, memang yang pertama-tama muncul berkaitan dengan kultus kekebalan tubuh yang familiar disebut debus. Kekebalan tubuh melalui dzikir, wirid, amalan, dan doa tertentu itu dikembangkan oleh tarekat Rifa’iyah dan Qadiriyah. Sisa-sisa praktik debus masih dapat ditemukan di Aceh, kerajan-kerajaan semenanjung Kedah dan Perlak, Minagkabau, Banten, Cirebon, Maluku, bahkan di kalangan komunitas Melayu di Cape Town Afrika Selatan. Sebuah keistimewaan tersebut membuat manaqib Syekh Abdul Qadir Al-Jilani kerap dibaca oleh umat Muslim di berbagai wilayah.

Di Kalimantan Selatan pada tahun 1860-an, penjajah Belanda menghadapi perlawanan serupa dari gerakan-gerakan rakyat yang kuat menjalankan amalan-amalan bercorak sufi yang disebut beratip beramal. Hal itu merupakan adaptasi masyarakat setempat terhadap tarekat Sammaniyah.

Beberapa kasus lain di mana kaum tarekat mengambil bagian dalam pemberontakan antikolonial selama akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Salah satu pemberontakan terbesar terhadap kolonial Belanda terjadi di Banten pada tahun 1888. Di sini tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah yang terlibat, walaupun secara tidak langsung.

Tarekat yang sama juga memainkan peranan dalam gerakan rakyat secara besar-besaran di Lombok pada tahun 1891. Tapi hal itu ditujukan kepada orang Bali yang pada saat itu menduduki peranan besar di pulau tersebut. Keterlibatan kaum tarekat juga disebut dalam hubungannya dengan perlawanan petani yang bercorak mesianistik di Jawa Timur pada tahun 1903.

Perlawanan besar lainnya disebabkan karena diberlakukannya pajak tembakau yang baru pecah di Sumatera Barat pada tahun 1908. Kali ini tarekat Syattariyah yang telah lama dianut masyarakat setempat. Mereka kerap memainkan peranan dalam sejumlah perlawanan terhadap penjajah.

Perlawanan besar juga terjadi di Jawa Tengah yang dipimpin Pangeran Diponegoro. Perlawanan terhadap kolonial Belanda itu disebut Perang Jawa yang berlangsung pada 1825-1830. Walaupun tidak ada tarekat yang terlibat, namun warna dan ajaran sufi menjadi motivasi perlawanan. Tidak adanya tarekat yang terlibat memperkuat dugaan bahwa kala itu belum ada jaringan tarekat di Jawa Tengah yang mungkin dimanfaatkan oleh Pangeran Diponegoro dan para ulama penasihatnya.

Namun, R.S. O’Fahey (1987) mengutip seorang pengawas administrasi (administrateur) jajahan Perancis di Afrika Utara yang bernama Louis Rinn, menyatakan bahwa selain haji-haji yang pulang ke Sumatera Barat patut pula diidentifikasi tiga haji yang pulang ke Kerajaan Mataram dan Mangkunegaran di Pulau Jawa. Mereka diduga sebagai pengikut tarekat Sanusiyah. Jika yang terakhir ini diidentifikasi secara lebih rinci dan detail, berarti mereka adalah para pejuang yang ada di wilayah Jawa Tengah pada awal abad 19, khususnya di wilayah Yogyakarta dan Surakarta. Merujuk hal itu, diduga bahwa mereka adalah Kiai Mojo dan Sentot Ali Basya dan beberapa temannya yang tergabung dalam perlawanan besar tanah Jawa yang dipimpin Pangeran Diponegoro.

Perlawanan tersebut berlanjut ketika para ulama pesantren melakukan gerakan-gerakan. Ulama pesantren yang juga pengikut tarekat bahkan beberapa sudah menjadi mursyid tidak hanya menjadikan pesantren sebagai tempat menempa ilmu agama, tetapi juga menjadi wadah pergerakan nasional dan penguatan cinta tanah air. Puncak perlawanan kaum pesantren yang dikomando oleh Hadhratussyekh KH Hasyim Asy’ari terjadi pada 10 November 1945 di Surabaya. Laskar kiai dan santri berhasil memukul mundur NICA (Belanda) yang membonceng tentara Sekutu (Inggris). (Fathoni)
Tags:
Bagikan:
Selasa 9 April 2019 18:25 WIB
Sufi, Tarekat, dan Perkembangannya di Nusantara
Sufi, Tarekat, dan Perkembangannya di Nusantara
Ilustrasi (ist)
Tarekat dipandang sebagai sumber kekuatan spiritual, sekaligus melegitimasi dan mengukuhkan posisi raja. Jelaslah bahwa para raja tidak berminat kepada upaya yang membuat kekuatan supernatural yang sama dapat dimiliki oleh semua warga negara mereka.

Salah satu kesimpulan tersebut diungkapkan oleh Martin van Bruinessen dalam Kitab Kuning, Pesantren, dan Tarekat (2015) untuk menggambarkan bahwa kekuatan dan eksistensi raja juga ditentukan oleh upaya batin yang didapat melalui legitimasi tarekat. Beberapa literatur secara tegas mengemukakan bahwa tarekat-tarekat di Nusantara mendapatkan pengikutnya, pertama-tama di lingkungan istana. Setelah lama, kemudian menyebar ke kalangan masyarakat atau rakyat jelata.

Hal itu menunjukkan bahwa peran-peran dai mistik (sufi) seperti para Wali Songo juga dilakukan di pusat pemerintahan, yaitu kerajaan. Sejak awal melakukan penyebaran agama Islam pada abad ke-14, para wali memang ditunjuk oleh raja atau sultan menjadi penasihat kerajaan. Hal itu juga terlihat ketika ulama sufi terkemuka asal Aceh pada abad ke-16 dan ke-17 seperti Syekh Nuruddin Ar-Raniry, Hamzah Fansuri, dan Syekh Abdurrauf Singkel menjadi penasihat utama raja pada masa Kerajaan Aceh Darussalam.

Menurut Abdul Hadi WM (2009), asal-usul tarekat (at-tariqah) Sufi dapat dirunut pada abad ke-3 dan 4 H (abad ke-9 dan 10 M). Pada waktu itu tasawuf telah berkembang pesat di negeri-negeri seperti Arab, Persia, Afghanistan dan Asia Tengah. Beberapa Sufi terkemuka memiliki banyak sekali murid dan pengikut. Di antara murid dan pengikut para Sufi terkemuka itu aktif mengikuti pendidikan formal di lembaga-lembaga pendidikan Sufi (ribbat, semacam pesantren). Di antara Sufi yang memiliki banyak murid di antaranya ialah Junaid al-Baghdadi dan Abu Said al-Khayr.

Abad-abad awal proses Islamisasi kawasan Asia Tenggara berbarengan dengan masa-masa ketika tasawuf dan dan pertumbuhan tarekat abad pertengahan merebak. Abu Hamid Al-Ghazali yang telah menguraikan konsep moderat tasawuf akhlaqi, dapat diterima oleh para fuqaha, wafat pada tahun 1111 M. Begitu juga dengan Ibnu ‘Arabi yang karyanya sangat mempengaruhi ajaran hampir semua sufi yang muncul belakangan, wafat pada tahun 1240 M. Pun demikian dengan Syekh Abdul Qadir Al-Jailani yang ajarannya menjadi dasar tarekat Qadiriyah, wafat pada tahun 1166.

Ada juga Syekh Najmudin Kubra (wafat 1221 M), sufi Asia Tengah pendiri Thariqah Kubrawiyyah; Syekh Abul Hasan Ali Asy-Syadzili (wafat 1258), pendiri Thariqah Syadziliyyah asal Maghribi, Afrika Utara; Syekh Ahmad Ar-Rifa’i (wafat 1320) yang mendirikan Thariqah Rifa’iyyah.  Selain itu, awal abad ke-14 juga menjadi fase pertumbuhan Thariqah Naqsyabandiyyah yang didirikan oleh Syekh Muhammad Bahauddin An-Naqsyabandi (wafat 1389) dan Thariqah Syathariyyah yang didirikan Syekh Abdullah Asy-Syaththari (wafat 1428 M). Kedua thariqah terakhir belakangan menjadi yang thariqah besar yang memiliki banyak pengikut di Indonesia.

Ajaran para sufi pada masa-masa tersebut cukup mewarnai orang-orang Asia Tenggara yang pertama memeluk Islam. Warna sufi menjadikan agama Islam menarik bagi masyarakat Asia Tenggara sehingga perkembangan tasawuf menjadi salah satu faktor yang menyebabkan proses Islamisasi Asia Tenggara dapat berlangsung. Warna sufi dari Asia Tenggara di antaranya di bawa oleh Sayyid Ali Rahmatullah (Sunan Ampel) dari Kerajaan Champa (Vietnam) ke Nusantara pada abad ke-15.

Warna sufi yang menonjolkan dzauq (rasa) lebih menyentuh dalam proses penyebaran Islam di Nusantara, khususnya Indonesia. Hingga saat ini umat Islam di Indonesia masih lekat dengan sikap-sikap sufistik. Penghormatannya kepada orang-orang mulia seperti sufi dan ulama-ulama yang mempunyai keistimewaan atau karomah masih lestari, baik dari mereka yang sudah meninggal maupun yang masih hidup.

Menjelang abad ke-18 berbagai tarekat telah memperoleh pengikut yang tersebar di Nusantara. Ulama-ulama asal Indonesia yang baru kembali dari Hijaz (Makkah dan Madinah) menyebarkan tarekat Syattariyah yang seringkali dipadukan dengan tarekat Naqsyabandiyah maupun Khalwatiyah. Gerakan-gerakan tarekat tersebut tidak hanya berjasa mengembangkan ajaran Islam, tetapi juga turut memberikan perlawanan terhadap penjajah Belanda di sejumlah daerah. (Fathoni)
Senin 8 April 2019 10:45 WIB
Keramat Bendera NU
Keramat Bendera NU
Bendera Nahdlatul Ulama berwarna hijau. Di dalamnya terdapat logo NU dengan khot berupa huruf Arab berwarna putih (sesuai AD/ART NU). Awalnya, logo tersebut dirancang, didesain, dan diciptakan oleh KH Ridlwan Abdullah (1884-1962) dari Bubutan Surabaya menjelang penyelenggaraan Muktamar ke-2 NU di Surabaya pada 1927. Tepatnya pada tanggal 12 Rabiul Awal 1346 H, bertepatan dengan tanggal 9 Oktober 1927.

Bendera yang terdepat logo NU tersebut mempunyai keramat atau keistimewaan tersendiri karena diciptakan melalui proses lahir dan batin. Sebab itu, tidak boleh dipakai sembarangan apalagi digunakan tidak sesuai aturan atau dimanfaatkan untuk kampanye politik praktis.

Kala itu, KH Wahab Chasbullah yang menjadi Ketua Panitia Muktamar memberikan mandat dan amanah kepada KH Ridlwan Abdullah untuk menciptakan logo NU. Kiai Wahab Chasbullah menunjuk Kiai Ridlwan bukan tanpa alasan sebab mengingat Kiai Ridlwan dikenal pandai menggambar, melukis, dan seni kaligrafi. Salah satu karya Kiai Ridlwan ialah bangunan Masjid Kemayoran di Surabaya. Masjid tersebut memiliki gaya arsitektur yang khas.

Terhitung sejak penugasan Kiai Wahab Chasbullah hingga satu setengah bulan Kiai Ridlwan mencoba membuat sketsa lambang NU bahkan sampai berkali-kali tapi belum berhasil. Padahal Muktamar sudah diambang pintu sehingga sempat mendapat ‘teguran’ Kiai Wahab Chasbullah.

Pada suatu malam dengan harapan muncul inspirasi atau ilham pada saat-saat orang lelap tidur, Kiai Ridlwan mengambil air wudhu kemudian melaksanakan shalat istikharah. Setelah itu beliau tidur sejenak. Kiai Ridlwan Abdullah bermimpi melihat sebuah gambar di langit yang biru dan jernih. Gambar tersebut terlihat seperti bola dunia dikelilingi bintang dan tali penyambung dan pengait.

Berdasarkan mimpi tersebut, KH Ridlwan Abdullah tersentak bangun dari tidurnya dan spontan langsung mengambil kertas dan pena untuk membuat sketsa gambar sesuai dengan apa yang tertayang dalam mimpinya tersebut. Saat itu jam dindingnya menunjukkan pukul 02.00 dini hari. Karena kecakapannya dalam melukis, pada keesokan harinya gambar tersebut bisa diselesaikan lengkap dengan tulisan NU memakai huruf arab dan tahunnya.

Untuk mengetahui arti logo NU tersebut, dalam Muktamar NU ke-2 itu diadakan majelis khusus, pimpinan sidang adalah Kiai Raden Adnan dari Solo. Dalam majelis ini, pimpinan sidang meminta Kiai Ridlwan Abdullah menjelaskan arti logo NU. Semua elemen yang terdapat dalam logo NU dijelaskan dengan gamblang oleh Kiai Ridlwan. Beliau menguraikan:

“Lambang tali adalah lambang agama (Berpegang teguhlah kamu sekalian pada tali Allah dan jangan bercerai berai). Tali yang melingkari bumi melambangkan Ukhuwah Islamiyah kaum muslimin seluruh dunia. Untaian tali yang berjumlah 99 melambangkan Asmaul Husna. Bintang besar yang berada di tengah bagian atas melambangkan Nabi Besar Muhammad SAW. Empat bintang kecil samping kiri dan kanan melambangkan Khulafaur Rasyidin, dan empat bintang di bagian bawah melambangkan madzhibul arba’ah (empat madzhab). Sedangkan semua bintang yang berjumlah sembilan melambangkan Wali Songo.” (Lihat Choirul Anam, Pertumbuhan dan Perkembangan NU, 2010)

Mengutip Hasyim Latief dalam NU Penegak Panji Ahlussunnah wal Jamaah (1979), Choirul Anam menjelaskan bahwa tulisan ‘Nahdlatul Ulama’ dengan huruf Arab merupakan rancangan dari Kiai Ridlwan sendiri, tidak termasuk dalam mimpi.

Usai mendengarkan penjelasan Kiai Ridlwan Abdullah, seluruh peserta majelis khusus sepakat menerima logo tersebut. Kemudian Muktamar ke-2 NU tahun 1927 memutuskannya sebagai logo Nahdlatul Ulama.

Hasil keputusan Muktamar ke-2 terkait logo NU membuat Hadlratussyekh KH Hasyim Asy’ari penasaran kepada Kiai Ridlawan. Setelah perhelatan Muktamar ditutup, Kiai Hasyim Asy’ari memanggil Kiai Ridlwan. Karena KH Hasyim Asy’ari berkeyakinan ada proses batin yang dilakukan oleh Kiai Ridlwan.

Kiai Ridlwan Abdullah mengungkapkan bahwa sebelum menggambar logo NU, terlebih dahulu dirinya melakukan shalat istikharah, meminta petunjuk kepada Allah SWT. Logo NU tergambar sesuai apa yang terlihat dalam mimpi Kiai Ridlwan dalam tidurnya sesaat setelah melaksanakan shalat istikharah.

Setelah mendengar penjelasan Kiai Ridlwan Abdullah, Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari merasa puas. Kemudian beliau mengangkat kedua tangan sambil berdoa. Setelah memanjatkan doa beliau berkata, “Mudah-mudahan Allah mengabulkan harapan yang dimaksud dalam lambang Nahdhatul Ulama.” (Fathoni)
Jumat 5 April 2019 9:15 WIB
KH Wahab Chasbullah soal Perumpaan Kehidupan Ikan di Laut
KH Wahab Chasbullah soal Perumpaan Kehidupan Ikan di Laut
KH Wahab Chasbullah (Dok. Perpustakaan PBNU)
Ijthad keagamaan, kemasyarakatan, kebangsaan, dan kenegaraan senantiasa diperlihatkan Nahdlatul Ulama secara bijak dan lapang dada. Bukan bermaksud mengekor pada sistem yang diterapkan oleh pemerintah, tetapi untuk kepentingan yang lebih luas. Karena dengan masuk sistem, justru kesempatan memperbaiki akan lebih mudah dan diterima ketimbang teriak-teriak di luar sistem dan dianggap memberontak.

Sejumlah pro dan kontra menyelimuti tubuh kiai dan pengurus NU ketika dihadapkan pada kebijakan pemerintah seperti ajakan Muhammad Hatta kepada NU untuk mengisi kabinet. Sedangkan para kiai tidak mau karena Kabinet Hatta mendukung Persetujuan Renville sedangkan para kiai tidak. Begitu juga ketika Soekarno menggagas Nasakom. NU juga ikut di dalamnya.

Ketidaksetujuan terhadap Perjanjian Renville tidak akan bisa disalurkan tanpa NU menerima pinangan Bung Hatta. Begitu juga jika NU menolak sistem Nasakom, maka keputusan Soekarno hanya akan didominasi para nasionalis dan komunis. NU masuk sistem agar setiap kebijakan Bung Karno tidak terpengaruh orang-orang PKI.

Politik jalan tengah tersebut digelorakan oleh KH Wahab Chasbullah. Dengan alasan strategis, apapun yang dicetuskan oleh Presiden Soekarno sebisa mungkin diterima dengan tangan terbuka. Keterbukaan politik bagi NU memang sangat dijunjung tinggi. Hal ini untuk menghalau pergerakan politik PKI yang kala itu menjadi bagian dari sistem. Keterbukaan tersebut bukan berarti hanyut dalam kegelapan dan mengorbankan prinsip. Sikap demikian ditegaskan oleh Kiai Wahab Chasbullah:

“Jadilah seperti ikan yang hidup. Ikut itu selagi dia masih hidup, masih mempunyai ruh atau nyawa. Biar dua ratus tahun hidup di laut yang mengandung garam, dia tetap saja tawar dagingnya, tidak menjadi asin. Sebabnya karena dia mempunyai ruh, karena dia hidup dengan seluruh jiwa. Sebaliknya, kalau ikan itu sudah mati, tidak mempunyai nyawa, tiga menit saja taruh dia di kuali yang bergaram, maka dia akan menjadi asin rasanya.” (Chiroul Anam, Pertumbuhan dan Perkembangan NU, 2010: 301)

Fatwa Kiai Wahab yang kala itu menjabat Rais ‘Aam PBNU itu dikemukakan berkali-kali saat NU menghadapi konstelasi politik yang tidak menentu. Hal itu menujukkan bahwa NU berupaya mempunyai sikap akomodatif, menampung dan menghadapi segala persoalan politik yang berkembang ketika itu, dengan penuh lapang dada.

Sikap seperti ini memang tidak mudah jika tidak mempunyai ilmu, kepiawaian, dan kekuatan. Kiai Wahab memberikan pelajaran bagi Nahdliyin bahwa NU mempunyai kekuatan kokoh, baik ilmu maupun karakter sejak dahulu. Persisnya saat santri dan kiai mampu menghalau para penjajah, baik Belanda, Jepang maupun tentara Sekutu.

Karena itu, mudah dipahami jika NU juga menunjukkan sikap lunak ketika menghadapi pembentukan DPR-GR, DPAS, dan DEPERNAS. Meski pada awalnya di tubuh NU sendiri terjadi pro dan kontra dalam menghadapi persoalan tersebut, sikap dan perilaku politik tetapi berupaya fleksibel. Sikap semacam NU ditempuh NU antara lain agar lebih mudah mendapatkan kesempatan dan memanfaatkannya secara efektif, setidaknya untuk mengimbangi politik PKI.

Hal ini dikemukakan KH Saifuddin Zuhri dalam Berangkat dari Pesantren (2013) tentang Sosialisme Indonesia, Landreform, dan Pancasila. Tokoh-tokoh PKI di Dewan Pertimbangan Agung Sementara (DPAS) menghendaki sosialisme Indonesia sebagai sosialisme komunis ala Moskow dan Peking (Beijing). Begitu pula Landreform, PKI menghendaki pembagian tanah sama rata, sama rasa, dan meniadakan hak milik.

Sejarah membuktikan, politik jalan tengah NU memberikan dampak positif bagi keberlangsungan kehidupan berbangsa dan bernegara, baik pada masa pra-kemerdekaan maupun pasca-kemerdekaan Indonesia. Politik dijalankan oleh NU tidak semata-mata untuk kepentingan kekuasaan belaka, namun perhatian NU secara luas untuk kepentingan rakyat, bangsa dan negara. (Fathoni)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG