IMG-LOGO
Nasional

Sayangkan Kasus Pengeroyokan, IPNU Minta Aktifkan Organisasi Siswa

Rabu 10 April 2019 13:0 WIB
Bagikan:
Sayangkan Kasus Pengeroyokan, IPNU Minta Aktifkan Organisasi Siswa
Aswandi, Ketum PP IPNU
Jakarta, NU Online
Peristiwa pengeroyokan seorang siswi SMP oleh 12 siswi SMA di Pontianak, Kalimantan Barat, merupakan tindakan keji yang memilukan dunia kepelajaran masa kini. 

Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) menyayangkan kejadian tersebut. Kasus demikian tak henti-hentinya terjadi di kalangan pelajar. Apalagi kekerasan ini dilakukan oleh 12 siswi SMA kepada seorang siswi SMP.

“Kita sangat menyayangkan kejadian ini. Sudah banyak kasus bullying dan kekerasan pelajar dan kita merasa ini adalah salah satu kejadian yang sangat memilukan,” kata Ketua Umum PP IPNU Aswandi Jailani, Rabu (10/4).

Menurutnya, kehidupan remaja seharusnya diisi dengan kegiatan-kegiatan positif yang mendukung potensi mereka sebagai generasi masa depan. Terlebih saat ini sudah memasuki era globalisasi yang sangat kompetitif.

“Membentuk lingkaran-lingkaran teman sebaya yang positif perlu dilakukan. Selain OSIS ada juga organisasi-organisasi pelajar di luar sekolah yang lebih dapat berperan memberikan ruang aktualisasi untuk pelajar dan juga saling mengingatkan,” ujarnya.

Tindak kekerasan ataupun bullying yang kerap kali dilakukan oleh sejumlah pelajar harus segera dihentikan melalui aktifitas-aktifitas positif. Pasalnya tindakan tersebut merupakan tindakan yang tidak produktif dan negatif.

"Tidak ada keuntungannya sama sekali, malah kerugian bagi korban dan pelaku itu sendiri. Menang jadi arang, kalah jadi abu," katanya sembari mengutip peribahasa.

Peristiwa ini menurutnya, menjadi pelajaran penting untuk ke depannya. Organisasi ekstrakurikuler di sekolah harus terus diaktifkan sebagai langkah pencegahan kasus serupa terjadi lagi.

Di samping itu, untuk kasus ini, IPNU meminta Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) untuk dapat mendampingi korban agar lekas pulih secara fisik dan mentalnya.

“Kita berharap KPAI melakukan pendampingan kepada korban agar korban cepat pulih, baik secara fisik maupun secara mental, sehingga tidak menimbulkan trauma yang mengganggu tumbuh kembangnya remaja tersebut,” ucap pria asal Jambi itu.

Selain itu, Kepolisian setempat juga harus bertindak tegas memberikan sanksi yang setimpal kepada pelaku yang sudah secara terencana melakukan tindakan kejinya itu.

"Kita juga berharap pihak kepolisian dapat memberikan hukuman kepada para pelaku dengan tidak mengorbankan masa depan mereka,” pungkasnya. (Syakir NF/Muhammad Faizin)
Bagikan:
Rabu 10 April 2019 23:25 WIB
Jokowi Akan Alokasikan Dana Operasional Kepala Desa
Jokowi Akan Alokasikan Dana Operasional Kepala Desa
Jakarta, NU Online
Presiden Joko Widodo berkomitmen mengalokasikan dana operasional untuk kepala desa dan akan menyederhanakan format laporan pertanggung jawaban dana desa. Hal tersebut ia sampaikan saat memberikan arahan dalam Silaturahmi Nasional Pemerintahan Desa se-Indonesia di Senayan, Jakarta, Rabu (10/4).

Ia menjelaskan bahwa total anggaran dana desa yang sudah digelontorkan sejak tahun 2015-2019 sebesar Rp 257 Triliun artinya kepala desa memiliki tanggung jawab yang besar dalam setiap penggunaan anggaran yang ada di desa untuk berbagai bentuk pembangunan seperti jalan desa, embung, BUMDes dan lain-lain. 

"Sehingga diperlukan juga dana operasional untuk kepala desa, sehingga mengontrol, mengawasi, penggunaan dana desa dilapangan betul-betul bisa efektif. Jangan sampai nanti tidak ada dana operasional, dicari-cari dengan jurus penyelewengan. Lebih bagus yang legal, yang sudah kita tentukan dengan aturan yang ada itu akan lebih baik," terangnya. Untuk besaran jumlahnya akan dirumuskan kemudian dengan Kementerian Keuangan.

Selain mengenai dana operasional, Presiden Joko Widodo juga merespon banyaknya keluhan tentang rumitnya pembuatan laporan pertanggungjawaban dana desa. Untuk itu, pihaknya akan menyederhanakan format laporan tersebut. 

"Laporan juga akan disederhanakan, nanti Mendes bersurat ke Menkeu. Kita tahu kepala desa kan pendidikannya macam-macam, jadi laporan itu tidak usah tebal-tebal, ruwet-ruwet, kalau saya orientasinya bukan prosedur, saya orientasinya hasil. Lha hasilnya sudah jelas ada kan, laporan hanya bersifat administratif, prosedur," ungkapnya.

Dalam acara tersebut, Presiden Jokowi juga memberikan apresiasinya kepada para kepala desa. Dirinya mengakui kerja keras dari para kepala desa yang kerja hingga 24 jam. Dan semua kerja kerasnya terlihat dari capaian yang sudah dilakukan di desa diantaranya 191 ribu kilometer jalan desa, 24 ribu unit posyandu, 50 ribu unit PAUD, 8900 pasar desa, 58 ribu unit irigasi, 1,1 juta meter jembatan, yang kesemuanya itu dibangun dari dana desa.

"Membangun desa artinya membangun Indonesia. Dan bapak/ibu (kades) sekalian adalah presidennya desa. Total alokasi anggaran dana desa Rp 257 Triliun anggaran yang diberikan pada desa, dan saya pastikan anggarannya akan naik terus kedepannya," ujarnya.

Selain itu, dirinya menjelaskan bahwa kunci kemajuan desa ada dua. Pertama kepemimpinan yang menguasai tata kelola dan inovasi, kedua memperhatikan kualitas Sumber Daya Manusia.

"Kedepan dana desa akan difokuskan ke ekonomi dan inovasi. Berikan suntikan agar produk berkualitas dan memiliki daya saing. Dorong agar kemasannya baik, mengangkat dari desa ke market place nasional kemudian pasar global," pesannya.

Rabu 10 April 2019 23:15 WIB
FORUM TITIK TEMU
Islam di Nusantara Tekankan Kompromi
Islam di Nusantara Tekankan Kompromi
Oman Fathurahman berbicara pada Forum Titik Temu, Rabu (10/4).
Jakarta, NU Online
Guru Besar Filologi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Oman Fathurahman menyatakan bahwa walaupun Indonesia baru merdeka pada 1945, pada dasarnya, akar dan jati dirinya sudah terbentuk sejak lama yang ketika itu bernama Nusantara.

Pria yang mempunyai fokus kajian terhadap manuskrip kuno tentang tasawuf itu kemudian mengemukakan bahwa Islam yang awal datang ke nusantara sangat menekankan aspek titik temu.

"Saya melihat banyak titik temu di dalam ajaran-ajaran tasawuf yang menjelaskan Islam yang datang awal ke Nusantara itu Islam yang sangat menekankan aspek titik temu," kata Oman pada Forum Titik Temu di Hotel Rizt- Carlton, Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (10/4) siang.

Ia lantas mencontohkan bahwa pada abad ke-17, di Aceh terjadi konflik keagamaan. Satu tragedi keagamaan, hingga dikeluarnya fatwa kafir dari Syekh Nuruddin Ar-Raniry terhadap orang-orang yang berbeda pendapat dengannya.

"Itu betul-betul eksplisit kafir dan boleh dibunuh. Nah, ini kan satu tragedi," ujarnya.

Proses berikutnya muncullah ajaran-ajaran sufistik yang mempertemukan para pihak yang berkonflik, sehingga konflik-konflik yang dapat memicu perpecahan dapat diantisipasi dan dicegah.

Menurutnya, dalam upaya menyelesaikan konflik keagamaan, Syekh Al-Qurani dari Madinah juga mengemukakan pernyataan yang sangat baik, al-jam’u moqaddamun alat-tarjih. Artinya mengkompromikan keragaman itu sebaiknya lebih dikedepankan ketimbang mengunggulkan salah satu (dalil).

Oman menegaskan apa yang diungkapkan Syekh Al-Qurani sebagai titik temu yang sangat tepat dan berdampak besar jika diterapkan. Oleh karenanya, ia menyarankan di forum tersebut agar masing-masing pemeluk agama mereaktualisasi nilai-nilai titik temu yang ada dalam ajaran spiritual masing-masing agama.

Dengan semangat akar dan jati diri spiritualitas, kata Oman, seharusnya Islam di Indonesia menjadi pemimpin di dunia dalam konteks persaudaraan dan kemanusiaan. "Kita jangan lupa dengan jati diri kita yang sejak awal sudah penuh dengan titik temu," harapnya. 

Ia menilai, jika ada kelompok yang ingin mengoyak-oyak persaudaraan sebagai sesama warga negara Indonesia, itu sama artinya dengan menghianati akar dan jati dirinya sendiri. (Husni Sahal/Kendi Setiawan)
Rabu 10 April 2019 23:0 WIB
Forum Sufi Dunia Rekomendasikan Dirikan Universitas Sufi Internasional
Forum Sufi Dunia Rekomendasikan Dirikan Universitas Sufi Internasional
Syech Adnan Ai-Afyouni sampaikan rekomendasi ulama sufi
Pekalongan, NU Online
Dalam rangka meningkatkan pengetahuan dan pemahaman tentang taswuf dan kesufian, Forum Sufi Dunia merekomendasikan pembangunan sebuah perguruan tinggi yang secara khusus membahas tasawuf guna memastikan langkah kerja sufi.

"Pembentukan universitas sufi internasional," kata Syekh Adnan Al-Afyouni, Mufti Damaskus, Suriah, saat membacakan poin-poin rekomendasi pada penutupan Forum Sufi Dunia di Kajen, Pekalongan, Jawa Tengah, Rabu (10/4).

Mendengar hal itu, kontan para hadirin yang memenuhi ruang aula pertemuan Pendopo Kajen, Pekalongan itu bertepuk tangan.

Untuk mewujudkan hal tersebut, Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Yahya langsung menghibahkan tanahnya sebagai tempat dibangunnya kampus tersebut.

"Habib Luthfi berpesan jangan sampai lupa karena tadi disebut di dalam rekomendasi bahwa akan dibangun Universitas Sufi Internasional, Habib Luthfi sudah ada tanah 22 hektare dan siap dibangun Universitas Sufi Internasional," ujar Habib Ali bin Hasan al-Bahr meneruskan pesan Habib Luthfi.

Di samping membangun kampus, rekomendasi lainnya adalah pembuatan saluran TV internasional yang bermanhaj sufi, pertemuan sufi internasional mendunia, dan dokumentasi data tarekat, tasawuf, serta penjelasan sanad-sanadnya.

Kegiatan Forum Sufi Dunia ini ditutup secara resmi oleh Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, setelah selama dua hari yakni Senin-Selasa (8-9/4) menggelar berbagai agenda di Pendopo Kajen, Hotel Horison dan Hotel Santika Pekalongan. (Syakir NF/Muiz)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG