IMG-LOGO
Nasional

Forum Sufi Dunia Rekomendasikan Dirikan Universitas Sufi Internasional

Rabu 10 April 2019 23:0 WIB
Bagikan:
Forum Sufi Dunia Rekomendasikan Dirikan Universitas Sufi Internasional
Syech Adnan Ai-Afyouni sampaikan rekomendasi ulama sufi
Pekalongan, NU Online
Dalam rangka meningkatkan pengetahuan dan pemahaman tentang taswuf dan kesufian, Forum Sufi Dunia merekomendasikan pembangunan sebuah perguruan tinggi yang secara khusus membahas tasawuf guna memastikan langkah kerja sufi.

"Pembentukan universitas sufi internasional," kata Syekh Adnan Al-Afyouni, Mufti Damaskus, Suriah, saat membacakan poin-poin rekomendasi pada penutupan Forum Sufi Dunia di Kajen, Pekalongan, Jawa Tengah, Rabu (10/4).

Mendengar hal itu, kontan para hadirin yang memenuhi ruang aula pertemuan Pendopo Kajen, Pekalongan itu bertepuk tangan.

Untuk mewujudkan hal tersebut, Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Yahya langsung menghibahkan tanahnya sebagai tempat dibangunnya kampus tersebut.

"Habib Luthfi berpesan jangan sampai lupa karena tadi disebut di dalam rekomendasi bahwa akan dibangun Universitas Sufi Internasional, Habib Luthfi sudah ada tanah 22 hektare dan siap dibangun Universitas Sufi Internasional," ujar Habib Ali bin Hasan al-Bahr meneruskan pesan Habib Luthfi.

Di samping membangun kampus, rekomendasi lainnya adalah pembuatan saluran TV internasional yang bermanhaj sufi, pertemuan sufi internasional mendunia, dan dokumentasi data tarekat, tasawuf, serta penjelasan sanad-sanadnya.

Kegiatan Forum Sufi Dunia ini ditutup secara resmi oleh Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, setelah selama dua hari yakni Senin-Selasa (8-9/4) menggelar berbagai agenda di Pendopo Kajen, Hotel Horison dan Hotel Santika Pekalongan. (Syakir NF/Muiz)
Bagikan:
Rabu 10 April 2019 23:25 WIB
Jokowi Akan Alokasikan Dana Operasional Kepala Desa
Jokowi Akan Alokasikan Dana Operasional Kepala Desa
Jakarta, NU Online
Presiden Joko Widodo berkomitmen mengalokasikan dana operasional untuk kepala desa dan akan menyederhanakan format laporan pertanggung jawaban dana desa. Hal tersebut ia sampaikan saat memberikan arahan dalam Silaturahmi Nasional Pemerintahan Desa se-Indonesia di Senayan, Jakarta, Rabu (10/4).

Ia menjelaskan bahwa total anggaran dana desa yang sudah digelontorkan sejak tahun 2015-2019 sebesar Rp 257 Triliun artinya kepala desa memiliki tanggung jawab yang besar dalam setiap penggunaan anggaran yang ada di desa untuk berbagai bentuk pembangunan seperti jalan desa, embung, BUMDes dan lain-lain. 

"Sehingga diperlukan juga dana operasional untuk kepala desa, sehingga mengontrol, mengawasi, penggunaan dana desa dilapangan betul-betul bisa efektif. Jangan sampai nanti tidak ada dana operasional, dicari-cari dengan jurus penyelewengan. Lebih bagus yang legal, yang sudah kita tentukan dengan aturan yang ada itu akan lebih baik," terangnya. Untuk besaran jumlahnya akan dirumuskan kemudian dengan Kementerian Keuangan.

Selain mengenai dana operasional, Presiden Joko Widodo juga merespon banyaknya keluhan tentang rumitnya pembuatan laporan pertanggungjawaban dana desa. Untuk itu, pihaknya akan menyederhanakan format laporan tersebut. 

"Laporan juga akan disederhanakan, nanti Mendes bersurat ke Menkeu. Kita tahu kepala desa kan pendidikannya macam-macam, jadi laporan itu tidak usah tebal-tebal, ruwet-ruwet, kalau saya orientasinya bukan prosedur, saya orientasinya hasil. Lha hasilnya sudah jelas ada kan, laporan hanya bersifat administratif, prosedur," ungkapnya.

Dalam acara tersebut, Presiden Jokowi juga memberikan apresiasinya kepada para kepala desa. Dirinya mengakui kerja keras dari para kepala desa yang kerja hingga 24 jam. Dan semua kerja kerasnya terlihat dari capaian yang sudah dilakukan di desa diantaranya 191 ribu kilometer jalan desa, 24 ribu unit posyandu, 50 ribu unit PAUD, 8900 pasar desa, 58 ribu unit irigasi, 1,1 juta meter jembatan, yang kesemuanya itu dibangun dari dana desa.

"Membangun desa artinya membangun Indonesia. Dan bapak/ibu (kades) sekalian adalah presidennya desa. Total alokasi anggaran dana desa Rp 257 Triliun anggaran yang diberikan pada desa, dan saya pastikan anggarannya akan naik terus kedepannya," ujarnya.

Selain itu, dirinya menjelaskan bahwa kunci kemajuan desa ada dua. Pertama kepemimpinan yang menguasai tata kelola dan inovasi, kedua memperhatikan kualitas Sumber Daya Manusia.

"Kedepan dana desa akan difokuskan ke ekonomi dan inovasi. Berikan suntikan agar produk berkualitas dan memiliki daya saing. Dorong agar kemasannya baik, mengangkat dari desa ke market place nasional kemudian pasar global," pesannya.

Rabu 10 April 2019 23:15 WIB
FORUM TITIK TEMU
Islam di Nusantara Tekankan Kompromi
Islam di Nusantara Tekankan Kompromi
Oman Fathurahman berbicara pada Forum Titik Temu, Rabu (10/4).
Jakarta, NU Online
Guru Besar Filologi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Oman Fathurahman menyatakan bahwa walaupun Indonesia baru merdeka pada 1945, pada dasarnya, akar dan jati dirinya sudah terbentuk sejak lama yang ketika itu bernama Nusantara.

Pria yang mempunyai fokus kajian terhadap manuskrip kuno tentang tasawuf itu kemudian mengemukakan bahwa Islam yang awal datang ke nusantara sangat menekankan aspek titik temu.

"Saya melihat banyak titik temu di dalam ajaran-ajaran tasawuf yang menjelaskan Islam yang datang awal ke Nusantara itu Islam yang sangat menekankan aspek titik temu," kata Oman pada Forum Titik Temu di Hotel Rizt- Carlton, Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (10/4) siang.

Ia lantas mencontohkan bahwa pada abad ke-17, di Aceh terjadi konflik keagamaan. Satu tragedi keagamaan, hingga dikeluarnya fatwa kafir dari Syekh Nuruddin Ar-Raniry terhadap orang-orang yang berbeda pendapat dengannya.

"Itu betul-betul eksplisit kafir dan boleh dibunuh. Nah, ini kan satu tragedi," ujarnya.

Proses berikutnya muncullah ajaran-ajaran sufistik yang mempertemukan para pihak yang berkonflik, sehingga konflik-konflik yang dapat memicu perpecahan dapat diantisipasi dan dicegah.

Menurutnya, dalam upaya menyelesaikan konflik keagamaan, Syekh Al-Qurani dari Madinah juga mengemukakan pernyataan yang sangat baik, al-jam’u moqaddamun alat-tarjih. Artinya mengkompromikan keragaman itu sebaiknya lebih dikedepankan ketimbang mengunggulkan salah satu (dalil).

Oman menegaskan apa yang diungkapkan Syekh Al-Qurani sebagai titik temu yang sangat tepat dan berdampak besar jika diterapkan. Oleh karenanya, ia menyarankan di forum tersebut agar masing-masing pemeluk agama mereaktualisasi nilai-nilai titik temu yang ada dalam ajaran spiritual masing-masing agama.

Dengan semangat akar dan jati diri spiritualitas, kata Oman, seharusnya Islam di Indonesia menjadi pemimpin di dunia dalam konteks persaudaraan dan kemanusiaan. "Kita jangan lupa dengan jati diri kita yang sejak awal sudah penuh dengan titik temu," harapnya. 

Ia menilai, jika ada kelompok yang ingin mengoyak-oyak persaudaraan sebagai sesama warga negara Indonesia, itu sama artinya dengan menghianati akar dan jati dirinya sendiri. (Husni Sahal/Kendi Setiawan)
Rabu 10 April 2019 22:15 WIB
Persoalan Hoaks dalam Filologi dan Manuskrip
Persoalan Hoaks dalam Filologi dan Manuskrip
Ngobrol Filologi di Ciputat awal April 2019.
Tangerang Selatan, NU Online
Perkembangan teknologi informasi amat pesat, persebaran informasi nyaris tidak terbendung, terutama melalui medsos. Dari sekian banyak informasi yg tersebar melalui medsos tersebut,  sebagian di antaranya bisa dipertanggungjawabkan kebenaranya,  dan sebagian lainnya tidak. 
 
Maraknya hoaks tampaknya menjadi fenomena yang memprihatinkan yang menyertai  perkembangan teknologi informasi.  Sebagai user medsos, generasi millenial merupakan pengguna medsos yang paling rentan menjadi sasaran hoaks.
 
Sementara itu, naskah dan studi naskah sejauh ini dipahami hanya berkutat dengan hal-hal kuno, atau hal-hal yang terjadi di masa lampau yang terekam dalam naskah. Sejauh mana naskah dan studi naskah dapat  memberikan kontribusi kepada generasi milenial dalam menangkal hoaks?
 
Akademisi dan ahli filologi, Oman Fathurahma mengatakan filologi dan manuskrip memiliki nilai yang perlu diseminasikan, yaitu nilai tentang pentignya mengecek sumber primer, dari mana berita itu diterima, dan butuh diverifikasi.

"Hal ini bisa disampaikan untuk kebutuhan sekarang di era banjirnya informasi," ungkap Oman Fathurahman pada ajang Ngobrol Filologi (Ngofi) bertajuk Manuskrip sebagai sumber generasi milenial menangkal hoaks, awal April ini.

Hoaks diartikan sebagai informasi palsu. Ini bukan hal yang baru. Bahkan, menurut M Adib Misbachul Islam, sejak zaman dahulu saat manuskrip marak diproduksi banyak juga kesalahan dalam penyalinan, pengubahan judul, nama pengarang, tahun, dan sebagainya.
 
"Kalau dilihat dari pola-pola penyebaran berita, mirip dengan pola-pola transmisi naskah. Naskah pada masa lampau saat dihadirkan pengarang, kemudian disalin oleh orang lain entah itu muridnya atau yang lainnya, lalu menyebar melintasi ruang-ruang geografis. Kini ada berita lalu diseber ke mana-mana, grup WA dengan cepat," papar penulis buku Puisi Perlawanan dari Pesantren itu.

Sementara itu, Nida’ Fadlan menyebutkan, dalam kajian Islam dikenal metode fatabayyanu, yaitu mencari kebenaran informasi. Dalam konteks manuskrip ada langkah-langkah penelitian naskah, memilih naskah, inventarisasi naskahnya tunggal atau jamak.

"Sampai pada misi kajian filologi yaitu menghadirkan teks yang betul-betul otentik dan paling dekat dengan aslinya," ujar Nida’.

Ngobrol Filologi diadakan oleh Lingkar Filologi Ciputat (LFC). Hadir pada kesempatan tersebut peserta dari berbagai kalangan pencinta manuskrip. Ke depan, LFC berencana akan terus melakukan kajian, penelitian, dan penyebaran media generasi muda cinta manuskrip. Organisasi yang didirikan pada 31 Maret 2018 itu kini diketuai oleh Fathurrochman Karyadi, mahasiswa magister Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. (Abdul/Kendi Setiawan)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG