IMG-LOGO
Humor

Kisah Gus Dur dan Abu Nawas Mengelabui Malaikat Munkar-Nakir

Jumat 12 April 2019 11:30 WIB
Bagikan:
Kisah Gus Dur dan Abu Nawas Mengelabui Malaikat Munkar-Nakir
Kiai Said Aqil di Bekasi, Jabar
Bekasi, NU Online
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj berkisah tentang malaikat munkar-nakir yang tidak pernah berkesempatan bertanya kepada Gus Dur di alam kubur.

"Karena malaikat itu akan datang ketika pengantar jenazah paling terakhir meninggalkan makam tujuh langkah," katanya dalam Silaturahim & Inaugurasi Alumni Madrasah Kader Nahdlatul Ulama (MKNU) PWNU Jawa Barat, di Islamic Centre KH Noer Ali Bekasi, Kamis (11/4).

Tapi rupanya, Pengasuh Pondok Pesantren Luhur Al-Tsaqafah Jakarta ini melanjutkan, makam Gus Dur tidak pernah sepi dari awal hingga kini. 

"Ketika malaikat mau nanya, eh ternyata masih ada orang, gak jadi. Begitu terus sampai sekarang makam Gus Dur tidak pernah sepi dari peziarah," jelasnya disambut tawa ribuan Alumni MKNU dari Purwakarta, Subang, Depok, dan Bekasi. 

Selain itu, Kiai Said juga bercerita soal Abu Nawas yang berhasil mengelabui malaikat di alam kubur. Dikatakan, Abu Nawas sebelum wafat berpesan terlebih dulu kepada anaknya.

"Nanti kalau ayah mati, tubuh ayah ingin dibalut kain kafan yang paling lusuh. Bahkan kalau bisa yang sudah dekil, kumal, atau yang sudah robek-robek," kata Kiai Said mengilustrasikan pesan Abu Nawas. 

Sang anak penasaran lantaran pesan yang tak masuk akal itu. Namun, Abu Nawas sama sekali tidak membeberikan alasan mengenai pesan atau keinginan yang tidak biasa.

"Singkat cerita, Abu Nawas wafat. tubuhnya dipakaikan kain kafan sesuai permintaannya itu," jelas Kiai Said.

Saat pengantar jenazah Abu Nawas yang paling terakhir sudah tujuh langkah meninggalkan makam, malaikat munkar-nakir datang bermaksud ingin bertanya kepada Abu Nawas.

Namun, apa yang terjadi?  "Oh, salah masuk nih, ini orang lama ternyata," kata Kiai Said, meniru ucapan munkar-nakir yang membuat hadirin terkekeh-kekeh. (Arul Elgete/Muiz)

Tags:
Bagikan:
Jumat 12 April 2019 10:20 WIB
Jumatan dan Pilpres
Jumatan dan Pilpres
Ilustrasi humor
Siang itu terasa terik bagi Abdul, bocah kelas lima sekolah dasar. Cuaca panas tersebut tepat di hari Jumat. Bapaknya Abdul bernama Rojak tak henti-hentinya mengingatkan Abdul untuk berangkat shalat Jumat.

Rojak pun agak sedikit naik pitam melihat si Abdul ternyata keukeuh tidak mau berangkat shalat Jumat.

Nak, kamu sudah beranjak kelas lima SD, sudah wajib Jumatan,” kata Rojak.

“Saya tahu Pak, tapi sekali ini saya ‘libur’ deh...,” ucap si Abdul.

“Jumatan kok libur?” timpal si Bapak.

“Kata teman saya di sekolah tadi, ada pemeriksaan di masjid,” ungkap Abdul.

“Pemeriksaan apa?” tanya Rojak sedikit heran.

“Katanya yang pakai baju putih harus ganti karena dianggap kampanye pilpres. Lah, tiap Jumatan kan saya pakai baju putih...,” terang Abdul. (Ahmad)
Ahad 7 April 2019 17:15 WIB
Tidak Fasih ‘Ya Lal Wathon’
Tidak Fasih ‘Ya Lal Wathon’
Ini kisah  di salah satu kabupaten di Kalimantan Barat, di sebuah acara PCNU yang dihadiri para pejabat daerah dan tamu lainnya.

Seperti acara-acara NU umumnya, lagu Ya Lal Wathon selalu dinyanyikan bersama. Tapi tidak semua hadirin hafal atau fasih mengucapkan teks Arab syair ciptaan KH Abdul Wahab Chasbullah itu.

Banyak yang berusaha menfasih-fasihkan hingga wathon dilafalkan menjadi wadon. Jadilah lagu Ya Lal Wathon berbunyi seperti ini: 

Ya lal wadon ya lal wadon ya lal wadon, hubbul wadon minal iman
(Wahai para pecinta perempuan [wadon, jawa], mencintai perempuan itu sebagian dari iman

Saya terkekeh mendengarnya. Seandainya Mbah Wahab tahu, saya yakin beliau tak akan marah. Mungkin malah turut tertawa. (Ahmad Inung)

Selasa 5 Maret 2019 9:45 WIB
Saat Gus Dur Dituduh Kafir
Saat Gus Dur Dituduh Kafir
Bagi kelompok Islam konservartif, sematan kafir di ruang publik dalam kehidupan bermasyarakat kenyataannya tidak hanya ditujukan kepada non-Muslim, tetapi juga dituduhkan kepada sesama Muslim yang berbeda pandangan.

KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur adalah salah satu tokoh yang kerap dituduh kafir oleh kelompok tersebut. Tidak pernah berusaha tabayyun atau melakukan klarifikasi, tuduhan kafir seolah diobral.

Atas tuduhan tersebut, satu waktu ada seorang santri yang mengatakan kepada Gus Dur bahwa dirinya difitnah kafir.

"Gus, ada yang bilang njenengan kafir," ujar sang santri.

"Ya ndak apa-apa dibilang kafir, tinggal ngucapin dua kalimat syahadat, udah Islam lagi," jawab Gus Dur enteng. (Ahmad)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG