IMG-LOGO
Risalah Redaksi

Berikhtiar Memilih Pemimpin Terbaik untuk Kejayaan Indonesia

Ahad 14 April 2019 15:30 WIB
Bagikan:
Berikhtiar Memilih Pemimpin Terbaik untuk Kejayaan Indonesia
Pada Rabu, 17 April 2019, Indonesia akan menyelenggarakan pemilu presiden dan pemilu legislatif. Ini merupakan titik akhir dari kampanye yang telah berlangsung selama beberapa waktu, yang berlangsung dengan ketat dan suasana yang panas dengan beragam retorika yang dilakukan oleh para kandidat atau tim pendukungnya. Pilpres kali ini mengulang pertarungan pada 2014 antara Joko Widodo dan Prabowo Subianto yang kali ini didampingi oleh KH Ma’ruf Amin dan Sandiaga Uno. 

Setiap orang tentu sudah memiliki preferensi calon terbaik yang akan dipilih berdasarkan rekam jejak atau visi misi yang mereka sampaikan dalam kampanye. Perbedaan dukungan menyebabkan hubungan keluarga atau pertemanan menjadi renggang ketika kampanye menyentuh hal-hal yang sensitif seperti persoalan agama. Jangan sampai persaudaraan dan pertemanan yang kita bangun rusak gara-gara urusan pilpres.  

Ketika kita membuka grup atau akun media sosial, dengan mudah dapat kita temui unggahan yang mendiskreditkan kandidat lain. Tak jarang, debat kusir antarpendukung militan menyebabkan seluruh anggota grup tidak nyaman dengan perilaku beberapa orang tersebut. Banyak yang berharap pemilu segera berlangsung sehingga ketenangan kembali sebagaimana semula.

Di sisi lain, ada pula orang-orang yang cuek dengan pemilu. Tak peduli siapa yang terpilih karena selama ini gonta-ganti presiden, tetapi nasibnya tetap sama. Sebagian lagi mengamati situasi tetapi merasa calon-calon yang ada kurang memenuhi kriteria idealnya dan akhirnya lebih memilih golput. 

Yang menjadi keprihatinan bersama adalah maraknya politik uang. Praktik ini sudah berlangsung lama dan sejauh ini masih saja berjalan tanpa ada solusi yang memadai untuk menghindarinya. Baru-baru ini KPK bahkan menangkap salah seorang anggota DPR RI yang ternyata sudah menyiapkan sejumlah uang dalam amplop agar orang memilihnya menjadi anggota DPR periode selanjutnya. Kesadaran bahwa pemimpin yang membeli suara kemudian akan berusaha mengembalikan modal politiknya dengan melakukan beragam cara, termasuk melalui korupsi belum tumbuh secara baik di masyarakat. Toh, rakyat juga yang akhirnya menanggung akibatnya dari terpilihnya pemimpin yang tidak berkualitas, yang terpilih bukan karena kapasitasnya, tetapi karena membeli suara. 

Lembaga-lembaga penyelenggara pemilu seperti KPU, Bawaslu, dan DKPP dipertaruhkan kredibilitasnya dengan memastikan bahwa proses pemilu berlangsung dengan jujur dan adil. Sayangnya, ada sejumlah upaya untuk mendelegitimasi kerja-kerja yang mereka lakukan. Sejumlah hoaks seperti tujuh kontainer surat sudah tercoblos, server KPU sudah diatur untuk memenangkan kandidat tertentu, 17.5 juta data bermasalah, dan lainnya. Ini merupakan upaya untuk meruntuhkan kepercayaan kepada mereka sehingga rakyat akan turun ke jalan. Akibatnya, timbul kekacauan. Masyarakat dapat membantu melakukan proses pengawalan pemilu dengan sejumlah cara, seperti membantu mengunggah data di kanal kawalpemilu.org atau partisipasi Ansor yang akan menjaga semua TPS agar pemilu berlangsung dengan baik. 

Kita meyakini bahwa sebagian besar warga negara Indonesia adalah orang baik-baik yang menginginkan kedamaian. Namun demikian, segala kemungkinan harus diantisipasi. Satu-dua orang yang melakukan segala cara untuk meraih kemenangan dapat menimbulkan masalah besar terhadap kredibilitas hasil pemilu dan keberlangsungan penyelenggaraan negara di masa mendatang.

Kemenangan dan kekalahan merupakan hal yang normal dalam sebuah kontestasi. Yang nantinya menang, tentunya tidak boleh jumawa sedangkan yang kalah, harus mengevaluasi diri atas penyebab kekalahannya. Pemilu berputar setiap lima tahun. Mereka yang menang dalam satu periode belum tentu menang lagi pada periode selanjutnya. Masyarakat memiliki kearifan dalam hal ini dengan mengatakan bahwa dunia berputar. Kadang roda di bawah, kadang di atas.

Rakyat Indonesia sudah semakin matang dalam berdemokrasi. Ini tentu buah dari pengalaman panjang pemilu yang sudah beberapa kali dijalani. Pascareformasi, Indonesia sudah menyelenggarakan pemilu nasional selama empat kali yang dimulai pada 1999. Kontestasi 2019 adalah yang ke-5. Belum lagi jika dihitung dengan pilkada di tingkat provinsi dan kabupaten kota.  Ada banyak sekali pelajaran yang kita peroleh dari setiap penyelenggaraan pemilu yang kemudian terakumulasi menjadi pengetahuan bersama yang membuat kita semakin matang menghadapi peristiwa lima tahunan ini.

Pemilu dilaksanakan untuk menghasilkan pemimpin bagi seluruh rakyat Indonesia, bukan untuk melayani kelompok yang menang saja. Mereka yang mendapatkan kemenangan tentunya harus merangkul semua kelompok untuk bersama-sama membangun bangsa. Untuk menciptakan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia. 

Sebagai Muslim, selain usaha-usaha lahiriah, kita harus berdoa dan melakukan upaya-upaya batinian lain agar kita mendapatkan pilihan terbaik dan agar hajatan besar bangsa Indonesia ini berlangsung dengan aman dan damai. Kita sudah berijtihad bahwa pilihan kita adalah yang terbaik berdasarkan pertimbangan-pertimbangan rasional, tetapi apa yang terlihat baik di mata kita belum tentu baik di mata Allah. Tugas kita sebagai manusia adalah mengupayakan yang terbaik. Setelah itu, kita serahkan kepada Allah. Dengan demikian, kita memiliki kerendahan hati untuk menerima hasil yang ada. (Achmad Mukafi Niam)

Bagikan:
Ahad 7 April 2019 22:7 WIB
Populisme Islam, Gelombang Pasang atau Hanya Riak?
Populisme Islam, Gelombang Pasang atau Hanya Riak?
Ilustrasi (Antara)
Populisme Islam belakangan menjadi perbincangan banyak pihak ketika beberapa kelompok Islam menunjukkan aksi massa dengan menggelar acara 212 dan kemudian dilanjutkan pertemuan alumni 212 di tempat yang sama, Monas Jakarta. Konsolidasi terus dilanjutkan untuk kepentingan politik pemilihan presiden 2019 menyusul keberhasilan mereka menggulingkan Ahok dalam Pilkada DKI Jakarta 2017. Ada kekhawatiran sejumlah pihak, apakah gerakan tersebut akan mengubah lanskap keberislaman di Indonesia yang selama ini moderat menjadi lebih konservatif.

Secara sederhana, populisme Islam dapat diartikan sebagai upaya menggalang suara umat Islam yang selama ini merasa terpinggirkan oleh elite-elite yang selama ini menguasai negara. Mereka membangun narasi bahwa umat Islam ditindas. Salah satu yang jargon yang paling sering disampaikan adalah kriminalisasi ulama. Ujungnya adalah, penguasa harus diganti dengan orang yang mampu menampung aspirasi umat. Sayangnya, ada anggapan bahwa yang di luar mereka, tidak memperjuangkan aspirasi Islam. Sebuah fakta yang jauh dari kenyataan. 
 
Populisme berkembang di seantero dunia. Mulai muncul di Eropa oleh kelompok-kelompok masyarakat lokal yang merasa terancam dengan kedatangan imigran. Karena para imigram sebagian besar adalah Muslim yang memiliki cara hidup berbeda dan mengambil kesempatan kerja yang ada, maka orang Islam yang dipersalahkan. Ditambah lagi dengan munculnya gerakan ekstremis yang mengatasnamakan Islam, maka muncullah islamofobia. Kemenangan Donald Trump yang menggunakan pendekatan populisme juga mendorong para politisi di berbagai belahan dunia untuk menggunakan isu tersebut guna meraih kemenangan. Apakah hal ini juga terjadi di Brazilia dengan kemenangan Bolsonaro? Yang jelas, strategi populisme juga digunakan di Indonesia untuk kontestasi politik.

Jika dilihat dalam konteks ideologis, sesungguhnya kelompok-kelompok Islam yang bergabung dalam gerakan populisme Islam sangat beragam. Ada kelompok pengusung ide khilafah, kelompok tetap menginginkan indonesia tetap dalam bentuk NKRI tetapi dengan embel-embel bersyariah, atau simpatisan partai tertentu. Mereka bersatu di dalamnya. Dalam konteks amaliah agama, pengusung gerakan ini juga sangat beragam. Terdapat kelompok Islam puritan yang sangat ketat dalam beragama. Segala sesuatu yang tidak ada dalam Al-Qur’an dan Hadits dianggap sebagai bid’ah. Toh Reuni 212 digelar dalam konsep Maulidur Rasul yang sesungguhnya dibid'ahkan oleh yang lain. Kesatuan masih terjaga karena adanya kepentingan bersama.
 
Dengan keragaman kelompok seperti itu, yang dalam situasi normal saling bersaing, maka kelompok tersebut sangat rentan ketika tidak ada lagi kepentingan bersama yang mengikatnya. Mereka tidak disatukan oleh kepentingan ideologi, tetapi lebih kepada kepentingan politik. Ketika  kepentingan bersama tersebut sudah hilang, maka kompetisi yang akan terjadi. Koalisi sangat pragmatis tersebut terlihat dari proses pemilihan wakil gubernur DKI Jakarta di antara partai-partai pengusung Anis-Sandi yang hingga kini belum menghasilkan solusi, siapa yang akan menggantikan wakil gubernur. 

Koalisi Poros Tengah yang merupakan koalisi antarberbagai golongan Muslim di Indonesia berhasil menjadikan Gus Dur sebagai presiden pada pemilu 1999. Kemudian, koalisi tersebut akhirnya bertarung sendiri, dengan melengserkan Gus Dur yang sebelumnya secara bersama-sama mereka usung. Bekas luka akibat pertarungan politik tersebut masih terasa akibat adanya perasaan dikhianati. 

Politik di Indonesia sangat cair. Koalisi antarberbagai partai lebih didasarkan pada kepentingan untuk memenangkan calon tertentu, bukan didasarkan pada ideologi yang diusung. Pada pilpes 2009, Megawati dan Prabowo Subianto menjadi pasangan capres dan cawapres, sementara PKS yang menjadi mintra koalisi Gerindra saat itu mendukung kepemimpinan SBY. Begitulah politik, koalisi-koalisi bisa berubah dengan cepat, tergantung sejauh mana kepentingan mereka terakomodasi. Dalam Pilkada 2018, koalisi yang terjadi di tingkat daerah sangat beragam, tergantung seberapa besar calon yang mereka usung berhasil memenangkan pemilu daerah. Tak peduli di tingkat pusat saling bersaing, di tingkat daerah, mereka saling bekerja sama memenangkan calon yang mereka usung bersama. 

Koalisi yang berubah-ubah ini juga menjelaskan bahwa para pemilih, sekalipun mereka mengidentifikasi diri sebagai santri atau kelompok Islam puritan, tidak terlalu memperhatikan kualitas keislaman seseorang sebagai ukuran dalam memilih pemimpin. Populasi Muslim di Indonesia mencapai 88 persen, tetapi partai Islam, sejak pemilu 1955 tidak pernah menjadi pemenang. Sakalipun ada kecenderungan peningkatan kesalehan orang Indonesia dalam beragama, partai-partai Islam secara total tidak menunjukkan peningkatan jumlah persentase perolehan suara. Dan sejauh ini tidak ada tanda-tanda partai Islam akan menjadi pemenang dalam pemilu 2019. 

Keberlanjutan populisme Islam di Indonesia, sangat tergantung pada situasi yang ada, yaitu apakah ada kepentingan bersama yang akan menyatukan mereka mengingat begitu banyak warna ideologi yang ada di dalam koalisi yang saat ini mereka bangun. Jika ada perbedaan yang tidak bisa diakomodasi, maka gampang saja koalisi kepentingan tersebut pecah. 
 
Aspek lain yang perlu diperhatikan adalah, akomodasi dari berbagai kelompok Islam dalam membangun bangsa, sejauh mereka masih berada dalam koridor perjuangan NKRI. Perasaan tereksklusi dalam peran-peran yang sesungguhnya bisa mereka kontribusikan dalam membangun bangsa membuat mereka mudah sekali dibujuk untuk menjadi oposan pemerintah. (Achmad Mukafi Niam)

Ahad 31 Maret 2019 13:30 WIB
Isra’ Mi’raj dalam Konteks Kemajuan Teknologi
Isra’ Mi’raj dalam Konteks Kemajuan Teknologi
Setiap tahun, pada tanggal 27 Rajab, umat Islam selalu memperingati Isra’ Mi’raj yang merupakan perjalanan Rasulullah dari Masjidil Haram menuju Sidratul Muntaha untuk menerima perintah shalat. Ini merupakan proses spiritual yang sangat dalam yang menghubungkan umat manusia dengan Allah melalui shalat yang dijalankan selama lima kali dalam satu hari. Peristiwa tersebut tetap relevan dalam konteks era teknologi sekarang ini.

Kemajuan teknologi juga telah mampu mengurangi waktu secara signifikan untuk mengerjakan berbagai hal.  Rasulullah juga berhasil “menegosiasikan” jumlah shalat yang seharusnya 50 kali menjadi hanya 5 kali atau hanya sepersepuluhnya. Dengan demikian umat Nabi Muhammad diharapkan bisa melakukan banyak urusan kehidupan dunia lainnya.

Banyak aspek kehidupan yang dilakukan secara manual pada era Rasulullah hidup, kini dilakukan secara sangat efisien berkat teknologi. Mungkin dalam banyak hal, persentase efisiensinya lebih tinggi dibandingkan sepersepuluhnya. Perjalanan ibadah haji yang dulu menggunakan kapal laut sehingga membutuhkan waktu berbulan-bulan, kini hanya perlu waktu delapan jam. Kita bisa melihat dengan waktu nyata kejadian-kejadian di seluruh dunia. Teknologi pula yang memungkinkan manusia menjelajahi angkasa luar. 

Dalam kondisi demikian, seharusnya manusia mampu memanfaatkan kehidupannya untuk hal-hal yang lebih produktif karena hal-hal yang sebelumnya harus dikerjakan secara manual, kini dikerjakan oleh teknologi atau mesin.  Namun, ternyata manusia toh tetap saja menyia-nyiakan waktunya yang berharga untuk hal-hal yang kurang produktif.  Juga bukan untuk beribadah sebagaimana kewajiban atau kesunnahan dari Rasulullah. Nyatanya, banyak di antara kita yang merasa semakin kekurangan waktu. Merasa diburu-buru pekerjaan yang tidak ada habisnya. Merasa tertekan oleh tuntutan-tuntunan baru yang semakin hari semakin bertambah. 

Banyak di antara kita menghabiskan waktu berjam-jam setiap hari untuk menelusuri telepon cerdasnya. Di berbagai tempat, orang sibuk dengan HP-nya masing-masing untuk mencari informasi atau sekadar mengakses media sosial. Kadang bahkan terlihat tertawa sendirian. Yang di sekitarnya juga cuek karena masing-masing sibuk dengan dunia yang ada di genggamannya. Teknologi telah menjadi candu bagi banyak orang. 

Penyakit baru terkait dengan teknologi, yaitu Fear of Missiong Out (FOMO) atau ketakutan ketinggalan hal-hal terbaru yang ada di internet atau media sosial merebak. Merasa harus selalu terkoneksi dengan HP untuk mengecek unggahan terbaru yang muncul di media sosial. Mengunggah foto atau menulis komentar di media sosialnya untuk kemudian ingin tahu berapa jumlah suka yang diperoleh atau respons dari warganet atas status yang diunggahnya. Jika sedikit yang memberi tanda suka atau ada komentar yang negatif, maka stress dan tekanan mental pun muncul.

Dengan demikian, maka eksistensi dirinya hanya ditentukan oleh berapa banyak orang yang suka atas materi yang diunggah di media sosial. Berbagai cara digunakan untuk menarik sebanyak-banyaknya pengikut. Pergi ke luar negeri di tempat-tempat yang indah untuk memamerkan fotonya yang mana kebanyakan orang tidak dapat mencapai tempat tersebut, bahkan melakukan tindakan-tindakan ekstrem yang berbahaya. 

Dalam situasi seperti ini, manusia sesungguhnya telah mendegradasikan nilai-nilai kemanusiaannya sendiri. Energi, sumber daya, dan waktu yang dimiliki digunakan untuk mengejar popularitas sesaat dalam viral yang dalam satu harus sudah diganti dengan viral yang lain. Bahkan dalam situasi tertentu, seperti saat momen-momen politik, maka media sosial digunakan untuk membagikan konten-konten hoaks. 

Kita manusia, memiliki makna dalam hidup ketika kita mampu memberikan kontribusi kepada orang lain. Semakin besar kontribusi yang dapat kita berikan, maka semakin tinggi makna yang kita berikan. Semakin panjang manfaat yang dapat kita berikan kepada orang lain, tinggi apresiasi yang diberikan. Kita harus menciptakan warisan-warisan berharga bagi banyak orang. Ada sedemikian banyak persoalan yang menunggu penyelesaian. Ketika eksistensi diri kita hanya ditentukan oleh berapa jumlah suka yang kita peroleh di media sosial, sungguh sebuah kesia-siaan.

Teknologi telah memberi kemudahan bagi kita untuk melakukan banyak hal. Tapi di sisi lain, jika kita tidak awas, teknologi telah menghipnotif kita dengan beragam hiburan yang jumlahnya tak terbatas. Yang akhirnya menghabiskan waktu-waktu produktif kita yang sangat berharga, baik untuk berhubungan dengan Allah atau berurusan dengan manusia. Kecanggihan teknologi yang terus diperbaharui akan semakin melenakan kita. Jika itu yang terjadi, maka tak ada makna yang kita tinggalkan. Tak ada jejak yang kita terakan. Mereka orang-orang yang terlahir, menyibukkan diri dengan teknologi di genggaman. Menjadi tua dan akhirnya meninggal. Dan terlupakan. Hanya sekedar bagian dari deretan angka-angka yang menjadi target produsen teknologi untuk menjual hidupnya. 

Isra’ Mi’raj mengingatkan kembali kepada kita akan aspek spiritual dalam hidup untuk selalu menjaga hubungan dengan Allah. Di situlah kita menjaga eksistensi kemanusiaan kita karena jika shalat seseorang itu baik, maka hal-hal lainnya juga baik. (Achmad Mukafi Niam)

Ahad 24 Maret 2019 15:15 WIB
NU Menyambut Tantangan Era Teknologi
NU Menyambut Tantangan Era Teknologi
Tanggal 16 Rajab 1440 Hijriah yang bertepatan dengan hari Sabtu, 23 Maret 2019 menandai usia 96 tahun NU. Istighotsah digelar pada pagi itu kantor-kantor NU, masjid, mushala, pesantren, dan berbagai tempat lainnya di seluruh penjuru dunia yang menjadi pusat berkumpulnya warga NU untuk memanjatkan doa agar perjalanan NU ke depan dalam memperjuangkan kemuliaan Islam di Indonesia mendapatkan berkah dari Allah. Dalam perjalanannya hampir satu abad melintasi beragam zaman ini, NU telah mampu mengatasi berbagai tantangan. Dan tantangan baru berupa era teknologi menghadang di depan kita. 

Percepatan perkembangan teknologi memberi manfaat, tetapi sekaligus dapat menjadi bencana jika tidak dapat memanfaatkannya dengan baik. Banyak lembaga atau perusahaan besar yang memimpin pada era tertentu, tetapi kemudian tenggelam ketika mereka tidak mampu menyesuaikan diri dengan zaman baru. Organisasi Islam yang paling maju di era kolonial, Orde Lama, dan Orde Baru berbeda-beda, silih berganti. Bahkan ada di antaranya sudah bubar. 

Dalam konteks menghadapi berbagai perubahan zaman ini, NU selalu mampu menyesuaikan diri dengan baik. Salah satu karakter NU adalah fleksibilitas atau kemampuan menyesuaikan diri dengan berbagai zaman. Tentu saja, ini menjadi modal besar bahwa NU akan mampu menyesuaikan diri dengan zaman yang akan datang dengan berbagai cirinya.

Sekalipun demikian, kita harus mampu menyiapkan diri dengan era teknologi ini sehingga bukan hanya menjadi konsumen atau sekadar eksis saja, tetapi harus mampu menjadi pemimpin dan menentukan arah perkembangan Islam di Indonesia. Dan untuk itu, modal yang diperlukan adalah kualitas sumber daya manusia. 

Dalam hal ini, kreativitas dan inovasi serta kolaborasi adalah kunci keberhasilan pada era yang dikenal dengan industri 4.0. Ini berbeda dengan kebutuhan sukses di zaman revolusi industri 2.0 yang menyaratkan adanya efisiensi dan efektifitas. Pada aspek kolaborasi, NU adalah sebuah komunitas yang erat. Jaringan aktivis NU ada di berbagai tempat yang satu sama lain saling terhubung. Mereka disatukan oleh cita-cita bersama untuk menjadikan Indonesia sebagai tempat dengan ajaran Islam yang ramah di bawah ajaran Ahlusunnah wal Jamaah. 

Yang menjadi tantangan kini adalah bagaimana meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Ini artinya adalah bagaimana kualitas pesantren, sekolah, dan perguruan tinggi di lingkungan Nahdlatul Ulama. Ada banyak faktor yang menentukan kualitas sebuah lembaga pendidikan seperti kualitas pengajar, sarana dan prasarana, kurikulum. 

Berbagai kebijakan negara dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia berupa berbagai jenis beasiswa seperti beasiswa santri, Bidik Misi, LPDP, program 5000 doktor, dan lainnya memberi peluang bagi kader-kader muda terbaik NU untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi atau keahlian tertentu. Beberapa di antara mereka telah lulus dan mengabdikan diri di berbagai lembaga pendidikan NU. Lebih banyak lagi yang sedang menyelesaikan pendidikannya. Dan insyaallah, banyak sekali tunas-tunas muda NU yang di masa depan akan memperkuat NU dengan beragam keahlian yang mereka miliki. Ini menjadi modal NU dalam menyiapkan sumber daya manusianya di masa depan.

Kualitas pendidikan di Indonesia secara umum masih dianggap rendah. Dari indikator internasional seperti Programme for International Students Assessment (PISA) yang mengukur kemampuan sains, matematika, dan membaca, rata-rata kemampuan anak Indonesia dalam ketiga bidang masih sangat rendah dibandingkan dengan negara lain. Ini tentu cerminan dari kualitas pendidikan di Indonesia. Lembaga-lembaga pendidikan di lingkungan NU tentu tak jauh berbeda. Bahkan tantangannya menjadi lebih besar karena dikelola secara mandiri oleh masyarakat. Apalagi lembaga pendidikan di lingkungan NU berusaha mengkombinasikan kemampuan intelektual sekaligus pemahaman keislaman. Ada lebih banyak materi yang harus dipelajari. Namun, jika berhasil, maka siswa yang dihasilkan merupakan siswa yang tidak sekedar pintar, tetapi juga berkarakter.

Persoalan yang dihadapi NU juga bukan sekedar sumber daya manusia, tetapi komposisi keahliannya. Selama ini, keahlian yang dimiliki oleh kader-kader NU adalah bidang ilmu-ilmu agama dan sosial humaniora. Sedangkan era teknologi membutuhkan orang-orang yang kompeten dalam bidang sains. Dengan demikian, perlu dilakukan perencanaan yang baik agar menghasilkan komposisi yang ideal.

Era teknologi terdapat penguasa-penguasa baru, yaitu mereka yang menguasai teknologi. Para pencipta aplikasi yang disukai oleh warganet, para ustadz yang ceramahnya di media sosial banyak diunduh dan ditonton. Orang-orang berpengaruh di media sosial yang akunnya diikuti oleh jutaan orang, sesungguhnya merupakan individu-individu atau sekelompok kecil yang memiliki pengaruh besar kepada publik. Ini semua adalah soal kreativitas dan inovasi.

Kita yakin bahwa NU akan tetap mampu memberi peran besar pada era teknologi ini. Ada banyak sekali sumber daya manusia kreatif dan inovatif yang bergerak, baik atas nama pribadi atau organisasi NU yang menyebarkan nilai-nilai NU. Bagaimana menciptakan lahan subur tumbuhnya tradisi berteknologi. Memberi ruang bakat-bakat yang ada untuk tumbuh dan berkembang guna memberi kontribusi kepada dunia. (Achmad Mukafi Niam)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG