IMG-LOGO
Nasional

Umat Islam Jangan Tertipu Slogan 'Kembali pada Qur'an dan Hadits'

Senin 15 April 2019 14:0 WIB
Bagikan:
Umat Islam Jangan Tertipu Slogan 'Kembali pada Qur'an dan Hadits'
KH Ahmad Ishomuddin, Rais Syuriyah PBNU

Jakarta, NU Online
Rais Syuriyah PBNU KH Ahmad Ishomuddin mengingatkan umat Islam agar tidak perlu mengikuti dan tidak tertipu dengan slogan "Kembali pada Qur'an dan Hadits" yang saat ini sering digembar-gemborkan sebagian kelompok untuk menyebarkan paham mereka.

Memang sudah menjadi kesepakatan umat Islam jika teks-teks suci dalam Islam, berupa al-Quran dan al-Hadits, adalah sumber dan dalil hukum yang wajib diagungkan. Pengagungan terhadapnya lanjutnya tidaklah sama dengan penggalian hukum-hukum dari Qur'an dan Hadits.

Sehingga setiap muslim yang mengagungkan dan mensucikannya tidak otomatis menjadi seorang yang ahli untuk memahami dan menyimpulkan hukum-hukum dari keduanya secara benar.

"Hanya para ulama yang menguasai seperangkat syarat untuk berijtihad yang boleh menggali dan menyimpulkan hukum langsung darinya. Sedangkan kewajiban setiap orang muslim yang awam adalah bertanya kepada ahlinya jika tidak tahu dan mematuhi petunjuk para ulama dalam mengikuti salah satu dari empat madzhab fikih yang paling banyak dianut di daerahnya," jelasnya melalui akun Facebook-nya, Senin (15/4).

Ia juga mengungkapkan bahwa saat ini bermunculan pendakwah yang mempromosikan kepada kaum muslim awam akan perlunya berpegang teguh pada hadits shahih (al-i'timad 'ala al-Sunnah al-shahihah).

Padahal tidak setiap hadits shahih secara otomatis harus diamalkan, menolak keras setiap hadits dla' if, padahal tidak setiap hadits dla'if pasti tidak diamalkan.

"Kadangkala para mujtahid beralih dari suatu hadits yang shahih kepada dalil lainnya karena ada ta'arudl (kontradiksi secara lahiriah) dalam makna di antara beberapa hadits, atau antara al-Quran dengan hadits," terangnya.

Bagi yang mampu memahami kitab-kitab Ushul Fikih dan kitab-kitab fikih klasik dalam berbagai Madzhab dengan baik akan mudah menemukan contoh kasus hukum di mana seorang mujtahid yang mendapati hadits shahih namun ia tidak mengambilnya sebagai dalil hukum.

Jika ada saat ini sebagian juru dakwah yang mengklaim mampu memahami teks-teks suci agama Islam dengan benar sesuai dengan metode dari para sahabat nabi, maka itulah klaim yang penuh kedustaan dalam mengajarkan agama, tidak ilmiah, dan tidak bisa dipertanggung jawabkan dunia akhirat, serta hanya untuk mencari sebanyak mungkin pengikut belaka.

"Dari mana mereka tahu metode pemahaman agama itu berasal dari para sahabat? Apakah mereka mampu mengumpulkan seluruh pendapat para sahabat Nabi yang tersebar luas dalam berbagai referensi agama yang amat banyak jumlahnya? Tentu saja mereka tidak bakal mampu," tegasnya.

Oleh sebab itu yang paling logis dan paling aman dalam memahami agama, terutama bidang fikih, adalah dengan mengetahui metode pemahaman agama menurut para sahabat hanyalah melalui cara berpegang teguh kepada salah satu dari Madzhab yang empat yang lebih dekat masanya dengan masa sahabat dari pada masa kita hidup saat ini dan lebih tahu dari kita tentang manhaj (metode) para sahabat nabi.

"Cukup jelas bahwa yang perlu kita pedomani dalam beragama secara benar adalah pemahaman terhadap teks-teks suci dari empat madzhab fikih yang tiada lain kecuali warisan ajaran dari Rasulullah SAW," jelasnya. (Red: Muhammad Faizin)

Bagikan:
Senin 15 April 2019 23:40 WIB
Sekjen Kemendes Imbau ASN di Lingkungnya Gunakan Hak Pilih dan Jaga Netralitas
Sekjen Kemendes Imbau ASN di Lingkungnya Gunakan Hak Pilih dan Jaga Netralitas
Jakarta, NU Online
Sekretaris Jenderal Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Sekjen Kemendes PDTT) Anwar Sanusi mengimbau kepada seluruh pegawai di lingkungan Kemendes PDTT untuk menjaga netralitasnya dan menggunakan hak pilihnya dalam Pemilu pada 17 April mendatang.

"Dua hari lagi tanggal 17 April kita laksanakan pesta demokrasi yakni pemilu untuk memilih Presiden dan Wakil Presiden dan memilih Calon Legislatif DPR RI, Provinsi dan kota atau Kabupaten serta DPD RI. Sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) saya ingatkan kepada semuanya untuk jaga netralitas kita, gunakan hak pilih anda dan jangan golput," kata Anwar Sanusi saat menjadi pembina upacara dilingkungan Kemendes PDTT pada Senin (15/4/2019) di halaman parkir Kantor Kemendes PDTT.

Sekjen Anwar Sanusi memberikan kebebasan kepada aparatur di Kemendes PDTT untuk memilih Presiden, Wakil Presiden, anggota DPR RI, DPD RI, DPRD provinsi dan kabupaten/kota.

"Golput itu hak Anda, Tapi sayang, pesta demokrasi ini menentukan pemimpin lima tahun kedepan," katanya.

Anwar meminta kepada segenap ASN di lingkungan Kemendes PDTT untuk menggunakan hak pilihnya sesuai dengan hati nurani masing-masing dan tanpa intervensi. Karena masyarakat yang memiliki hak suara dijamin undang-undang dalam menyalurkan hak pilihannya.

"Jika perlu, ajak masyarakat untuk datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS). Karena ini merupakan harapan bangsa dan untuk kemajuan bangsa. Mari sukseskan Pemilu, kita harapkan pemilu berjalan lancar, aman, tertib, dan berkualitas," katanya.

Senin 15 April 2019 21:0 WIB
Pemilu Miliki Prinsip Syura dalam Islam, Kaum Khawarij Menolaknya
Pemilu Miliki Prinsip Syura dalam Islam, Kaum Khawarij Menolaknya
Jakarta, NU Online 
Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj mengatakan, warga NU wajib mengikuti pemilihan umum (pemilu) yang diselenggarakan negara yang telah dimusyawarahkan dan disepakati sistemnya. Namun, kewajiban tersebut bukan sebagai kewajiban syariat. 

Menurut pengasuh Pondok Pesantren Al-Tsaqofah Ciganjur, Jakarta Selatan, ini para alim ulama NU pernah membahas dan memutuskan hal itu pada masa Reformasi.

“Pada Munas NU 1997 di Pesantren Lirboyo, para ulama mengambil keputusan bahwa pemilu memiliki prinsip syura dan syura merupakan perintah Al-Qur'an dan warga negara wajib melaksanakannya. Sementara,” katanya pada konferensi pers terkait imbauan agar pemilu 2019 berlangsung damai, jujur, dan adil, di Gedung PBNU, Jakarta, Senin, (15/4). 

Menurut Kiai Said, dalam sejarah Islam, syura dilakukan pada zaman khulafaur rasyidin. Namun, pada masa Ali bin Abi Thalib ada kalangan dari dalam umat Islam sendiri yang menolaknya.   

“Ada kaum radikal, kelompok Khawarij namanya,” kata kiai yang pernah menuntut ilmu selama 13 tahun di Arab Saudi.

Kaum Khawarij tersebut mengatakan bahwa Ali bin Abi Thalib telah kafir karena menggunakan sistem syura, bukan dari Al-Qur'an. Padahal syura tersebut ada di dalam Al-Qur’an. 

Penyebab cara pandang Khawarij tersebut, sambung kiai yang pernah menjadi santri di Kempek, Lirboyo, dan Krapyak ini dilandasi penafsiran Al-Qur’an yang tekstual dan rigid. (Abdullah Alawi) 

Senin 15 April 2019 20:30 WIB
Habib Luthfi: Mari Kita Sambut Pemilu dengan Suka Cita
Habib Luthfi: Mari Kita Sambut Pemilu dengan Suka Cita
Habib Luthfi bin Yahya (pegang mic)
Pekalongan, NU Online
Ketua Forum Ulama Sufi Dunia Habib Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya berpesan kepada seluruh masyarakat Indonesia untuk menyambut pesta demokrasi Pemilu 2019 dengan suka cita, bertoleransi, dan senantiasa menjaga persatuan dan kesatuan.

Hal itu disampaikan saat memberikan taushiyah di acara doa bersama menjelang Pemilihan Umum Presiden dan Legislatif pada 17 April 2019, yang digelar Pemkab Pekalongan, Pemkot Pekalongan bersama TNI-Polri dan masyarakat sekaligus memperingati Isra Miraj Nabi Muhammad SAW di halaman Makodim 0710 Pekalongan, Ahad (14/4) malam.

“Pesta demokrasi dilaksanakan lima tahun sekali. Kita harapkan sejuk tanpa adanya gesekan atau hal tidak diinginkan yang dapat memecah kesatuan dan persatuan bangsa,” ujar Habib Luthfi.

Lebih lanjut, Maulana Habib Luthfi menjelaskan karena Pemilu ini adalah sejarah di Indonesia, jangan sampai rakyat mau dipecah-belah dengan berbeda pendapat. “Mari kita jaga persatuan dan kesatuan karena kita adalah saudara. Walaupun kita ada perbedaan tapi jangan mau dipecah belah,” tandas Habib Luthfi.

Dandim 0710 Pekalongan Letkol Inf Arfan Johan Wihananto dalam sambutannya mengatakan, memasuki hari tenang dalam pemilu hendaknya seluruh masyarakat untuk menjaga kondusifitas Pemilu agar berjalan aman dan damai.

“Harapannya dengan kegiatan doa bersama ini, pesta demokrasi yang sudah memasuki masa tenang dan sebentar lagi pencoblosan bisa tercipta suasana di Pekalongan menjadi aman, sejuk, dan kondusif,” jelasnya.

Bupati Pekalongan Asip Kholbihi, dalam sambutannya menyampaikan acara doa bersama digelar sebagai upaya mendekatkan diri dengan Tuhan. Salah satunya yaitu gelaran doa bersama menyambut pesta demokrasi 17 April pekan ini.

“Jaga kondusifitas Pemilu agar berjalan dengan aman dan damai. Saya juga berpesan agar setiap warga untuk datang ke TPS memilih sesuai hati dan pikirannya,” katanya.

Bupati berharap semoga Pemilu ini berlangsung damai, sukses dan lancar. Maka ada istilah manusia merencanakan Allah yang menentukan. “Maka kegiatan kali ini kita serahkan kepada Allah. Mudah-mudahan damai dan terpilihnya Presiden dan wakil rakyat yang berintegritas, peduli kepada kesejahteraan masyarakat, dan kemajuan pembangunan,” imbuhnya.

Doa bersama dalam rangka mewujudkan pemilu 2019 yang aman, damai, dan kondusif ini dihadiri oleh Maulana Habib Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya, Bupati Pekalongan Asip Kholbihi, Wakil Walikota Pekalongan yang baru Achmad Afzan Arslan Djunaid, Kapolres Pekalongan AKBP Wawan Kurniawan dan tuan rumah Dandim 0710 Pekalongan Letkol Inf Arfan Johan Wihananto, dan perwakilan Forkopimda lainnya. (Muiz)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG