IMG-LOGO
Nasional

Nasihat-nasihat Gus Mus untuk Pengedit Video Dirinya dan Kiai Ma'ruf Amin


Selasa 16 April 2019 06:45 WIB
Bagikan:
Nasihat-nasihat Gus Mus untuk Pengedit Video Dirinya dan Kiai Ma'ruf Amin
Cropping video Zainal minta maaf kepada Gus Mus.
Jakarta, NU Online
Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin Leteh Rembang, Jawa Tengah, KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) memberikan sejumlah nasihat kepada Zienal, pria pengedit video dirinya dengan KH Ma'ruf Amin.

Hal itu terlihat dalam video kunjungan silaturahim Zainal kepada Gus Mus di kediamannya beberapa waktu lalu. Dalam video yang dirilis oleh Gus Mus Channel dan telah diunggah di NU Online, terlihat suasana silaturahim berjalan santai. Gus Mus menyambut Zainal yang ditemani seorang pria lainnya diketahui bernama Sahili. Gus Mus berbicara dengan ramah dan nada yang menenteramkan.

Gus Mus menyilakan mereka duduk dan menikmati makanan yang dihidangkan. Terlihat juga Gus Mus menyodorkan buah jeruk kepada Zainal.

Gus kemudian menanyakan siapa nama lengkap Zainal. Begitu Zainal mengatakan kedatangannya adalah untuk meminta maaf kepada Gus Mus, Gus Mus menimpali, "Loh Sampeyan yang bikin video itu?"

Zainal mengangguk dan mengatakan iya. Gus Mus memuji Zainal sebagai pemuda yang pintar. Apalagi Zainal mengatakan dia mampu mengedit video karena belajar otodidak dari youtube.

"Itu sulit loh nyampur-nyampur video kayak gitu," kata Gus Mus.

Zainal yang sehari-hari berjualan sembako, mengatakan editan video Gus Mus dan Kiai Ma’ruf hasil keisengannya saja. Gus Mus kemudian mengatakan, suatu ilmu akan baik jika digunakan untuk kepentingan yang baik.

Saat itulah, Gus Mus mulai menegaskan bahwa Zainal harus meminta maaf kepada Kiai Ma’ruf Amin. "Kalau saya tidak masalah," kata Gus Mus.

Gus Mus menanyakan, apakah Zainal mengenal Kiai Ma’ruf? Ataukah Zainal pernah disakiti Kiai Ma’ruf? Atau ayah Zainal pernah berkelahi? Yang semuanya dijawab tidak oleh Zainal.

"Kenapa begitu? Nggak cocok sama Jokowi?" tanya Gus Mus.

Zainal yang sejak awal terlihat malu-malu, semakin tampak malu dan segan kepada Gus Mus. Gus Mus memberikan nasihat bahwa kebencian atau memusuhi kepada salah satu pasangan capres-cawapres bukanlah hal yang tepat. Karena lima tahun nanti calon presiden dan wakil presiden, bukan capres-cawapres yang sekarang. Jika melewati pemilu saja tidak bisa, maka akan susah ke depannya.

Oleh karena itu, Gus Mus meminta Zainal membuat editan-editan video yang menyejukkan masyarakat. Gus Mus menyebutkan para capres-cawapres sama-sama orang Indonesia. "Pemilu ini hanya lima tahun sekali, rutinan. Nggak perlu mengerahkan ilmu kamu hanya untuk lima tahun apalagi menyakiti sesama bangsa ini," kata Gus Mus.

Gus Mus meminta Zainal, pada waktu mendatang, setiap akan melakukan sesuatu agar dipikirkan, bakal mendapatkan dapat apa. "Kalau berbuat begini dapat apa? Secara materi atau pahala. Percaya pahala? (Perbuatan itu) ada pahalanya nggak? Apa malah dosa?" papar Gus Mus.

Mendengarkan nasihat Gus Mus, Zainal tampak mengangguk-angguk. 

Gus Mus sendiri usai pertemuan tersebut, menuliskan beberapa hal melalui akun facebook-nya.

"Namanya Zainal dari Batam. Masih sangat muda. Jauh-jauh dia datang dari Batam untuk meminta maaf, karena mengedit video (menggabungkan videoku dengan video lain untuk mendiskreditkan salah seorang calon presiden). Kelihatannya dia betul-betul menyesal. Mudah-mudahan penyesalannya ini benar-benar membuka matanya dan jadi pelajaran baginya --dan bagi lainnya yang mengalami hal yang sama-- bahwa: berlebih-lebihan dalam menyukai dan membenci (termasuk kaitannya dengan Pilpres ini), bisa menghilangkan akal sehat, minimal bisa membuat lupa bahwa: 

1. Pemilu dan Pilpres ini adalah agenda rutin 5 tahunan (melihat umurnya, secara lahir, Zainal ini masih akan mengalami berkali-kali pemilu dan pilpres); 

2. Kita semua saudara sebangsa Indonesia dan semua Capres-cawapres adalah tokoh-tokoh Indonesia yang menginginkan kemajuan Indonesia dan kebaikan bangsa Indonesia. 

3. Bila masing-masing pendukung hanya memuji dan menonjolkan keunggulan calonnya, tanpa menjelekkan calon 'lawan', maka semua calon akan tampak baik semua. Sebaliknya bila kedua pihak saling menjelekkan 'lawan', maka yang tampak hanya kejelekan keduanya belaka.

Semoga Allah merahmati Indonesia dan bangsa Indonesia. (Kendi Setiawan)


Bagikan:
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Maulid Akbar dan Doa untuk Keselamatan Bangsa
Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
IMG
IMG