IMG-LOGO
Nasional

Sebelum Mencoblos Surat Suara, Gus Mus Berpesan Baca Doa Ini

Selasa 16 April 2019 10:31 WIB
Bagikan:
Sebelum Mencoblos Surat Suara, Gus Mus Berpesan Baca Doa Ini
KH Musthofa Bisri, Mustasyar PBNU
Jakarta, NU Online
Pesta demokrasi Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden, Anggota Legislatif, dan Dewan Perwakilan Daerah akan dilaksanakan serentak di seluruh penjuru Indonesia pada 17 April 2019.

Pengasuh Pondok Pesantren Roudlatut Thalibin, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah KH Musthofa Bisri (Gus Mus) mengajak seluruh warga negara Indonesia untuk datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS) guna menunaikan 'hak kedaulatan' dengan riang gembira.

"Lupakanlah silang-sengketa dengan saudara sendiri sebangsa dan setanah-air di medsos selama ini. Kembalilah menjadi keluarga Indonesia yang guyub rukun demi Indonesia yang lebih baik," ajaknya melalui Facebook-nya, Selasa (16/4).

Mustasyar PBNU ini menyarankan para pemilih khususnya umat Islam, sebelum mencoblos calon-calon pilihan masing-masing, untuk mengawalinya dengan terlebih dahulu membaca istighfar, memohon ampun kepada Allah SWT.

Setelah membaca istighfar, ia mengajak umat Islam untuk membaca doa: "Allãhumma lã tusallith 'alainã bidzunűbinã man lã yakhãfuKa walã yarhamunã." (Ya Allah ya Tuhan kami, janganlah Engkau kuasakan atas kami, karena dosa-dosa kami, pemimpin yang tidak takut kepadaMu dan tidak mempunyai belas kasihan kepada kami).

"Semoga Allah menyertai kita dengan taufiq-hidayahNya," pungkasnya

Selain para tokoh NU yang aktif mengajak warga negara untuk menyalurkan aspirasinya, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) juga telah memberikan sejumlah imbauan untuk menggunakan hak pilih dengan nalar dan naluri.

PBNU juga telah menjelaskan ukuran subjek yang dipilih, baik calon presiden dan wakil presiden serta calon legislatif ialah shiddiq (jujur), tablīgh (menyampaikan pesan positif, pesan kebaikan, pesan menggembirakan), amânah (amanah), dan fathânah (cerdas).

“Karena itu, kepada seluruh warga negara yang telah memenuhi syarat, Nahdlatul Ulama mengimbau agar tidak golput,” kata Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj dalam konferensi pers menjelang pemilu 2019 di Kantor PBNU Jakarta Pusat, Senin (15/4) kemarin. (Muhammad Faizin)
Tags:
Bagikan:
Selasa 16 April 2019 20:0 WIB
IPM Warga Papua Naik, Agenda Selanjutnya Bangun Pemerintahan Baik
IPM Warga Papua Naik, Agenda Selanjutnya Bangun Pemerintahan Baik
Ilustrasi (Ist.)
Jakarta, NU Online
Badan Pusat Statistik (BPS) merilis Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia 2018 pada Senin (15/4) kemarin. Di antara 34 provinsi di Indonesia, tingkat pertumbuhan IPM Papua dan Papua Barat menempati posisi tertinggi.

Pertumbuhan Papua mencapai 1,64 persen menjadi 60,06 persen. Sedangkan Papua Barat berada pada 63,74 persen karena pertumbuhannya mencapai 1,19 persen.

Tingkat pertumbuhan IPM Papua dan Papua Barat yang terbaik, menurut Ahmad Suaedy, dinilai masuk akal. Sebaliknya, Dekan Fakultas Islam Nusantara Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia itu menganggap aneh jika tidak tumbuh dengan baik.

"Ini karena dana sangat besar digelontorkan ke Papua dan Papua Barat," jelas Suaedy kepada NU Online pada Selasa (16/4).

Di samping itu, lanjutnya, dana otonomi khusus (Otsus) dan banyak dana afirmasi lain juga masuk dalam membangun dua wilayah paling timur Indonesia itu.

"Di samping Dana Otsus yang merupakan khusus bukan bagian dari dana rutin pembiayaan dan pembangunan, juga ada banyak dana afirmasi lain seperti dana alokasi khusus dan pembangunan infrastruktur dan penyeragaman harga bahan pokok," kata penulis buku Gus Dur, Islam Nusantara, dan Kewarganegaraan Bineka itu.

Menurutnya, dana-dana afirmasi banyak juga yang digunakan untuk pendidikan di dalam dan bahkan ke luar negeri. "Bahkan kini orang Papua banyak diaspora di berbagai negara," jelasnya.

Namun, masyarakat Papua tentu tidak akan berpuas diri dengan peningkatan IPM saja. Hak tersebut juga perlu terus ditingkatkan. Pembangunan pemerintahan yang baik, kata Suaedy, menjadi agenda penting mereka melalui penempatan posisi kaum muda terpelajar pada hal yang menjadi keahliannya.

"Agenda yang penting bagi masyatakat Papua dan Papua Barat adalah membangun good governance, anti korupsi dan penempatan anak-anak muda terpelajar pada posisi yang sesuai dengan bakat," jelas anggota Ombudsman RI itu.

Suaedy menegaskan bahwa penempatan muda-mudi terpelajar itu jangan sampai didasarkan pada kekerabatan dan primordialisme.

"Rekrutmen sesuai dengan kemampuan dan keahlian bukan karena kerabat atau kesamaan primordial dan kesukuan. Merit system penting untuk dilaksanakan agar anak-anak muda terdidik lebih dinamis," pungkasnya. (Syakir NF/Muhammad Faizin)
Selasa 16 April 2019 19:50 WIB
Sejumlah Hal Penting Sebelum Datang ke TPS dan Mencoblos
Sejumlah Hal Penting Sebelum Datang ke TPS dan Mencoblos
Ilustrasi Pemilu (Dok. Skyegrid)
Jakarta, NU Online
Rakyat Indonesia telah memasuki hari pemungutan suara pada Rabu, 17 April 2019 untuk para pemilih di dalam negeri. Sejumlah hal perlu diperhatikan oleh pemilih, terutama sebelum melakukan pencoblosan saat datang ke tempat pemungutan suara (TPS).

Persiapan tersebut merupakan bagian dari peran aktif warga negara seperti ditekankan oleh Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj. Dia mengimbau agar setiap warga negara menggunakan hak pilih sebaik-baiknya.

“Mengajak peran serta seluruh warga negara menyukseskan penyelenggaraan pemilu yang bersih, jujur dan adil dengan menggunakan hak pilihnya dalam mekanisme demokrasi lima tahunan,” ujar Kiai Said, Senin (15/4) dalam konferensi pers menjelang pemilu 2019 di Kantor PBNU Jakarta Pusat.

Adapun sejumlah hal yang perlu diperhatikan sebelum datang ke TPS dan mencoblos seperti dikutip NU Online dari Tempo, sebagai berikut:

1.  Pastikan Anda Terdaftar sebagai Pemilih

Sebelum datang ke TPS, pemilih harus memastikan telah terdaftar sebagai pemilih tetap. Untuk mengetahui apakah anda terdaftar sebagai pemilih tetap atau tidak bisa dilihat dari formulir C6 yang biasanya sudah dibagikan panitia ke masing-masing pemilih oleh RT setempat.

Apabila tidak mendapatkan formulir C6, pemilih juga bisa mengecek di website lindungihakpilihmu.kpu.go.id. Di situs tersebut pemilih bisa memastikan apakah terdaftar atau tidak dengan hanya memasukkan Nomor Induk Kependudukan (NIK) di kolom pencarian. Apabila sudah pasti terdaftar, pemilih tinggal datang ke TPS membawa KTP elektronik atau formulir C6.

Lalu, bagaimana apabila pemilih tidak terdaftar sebagai pemilih tetap? Tenang, karena berdasarkan putusan Mahkamah Konstitusi, pemilih bisa datang ke TPS sesuai dengan alamat di KTP. Syaratnya pemilih membawa KTP elektronik atau surat keterangan (suket) yang dibuat Dinas Pendudukan dan Catatan Sipil.

2. Pastikan Pemilih Tidak Datang Terlambat

Hal yang tak kalah penting saat akan mencoblos adalah jangan datang terlambat. Terutama bagi pemilih yang belum terdaftar. TPS akan dibuka sejak pukul 07.00 dan berakhir hingga pukul 13.00.

Dikarenakan Pemilu kali ini banyak suara yang harus dicoblos, ketepatan waktu harus sangat diperhatikan. Karena, diperkirakan di Pemilu kali ini pemilih akan banyak menghabiskan waktu di dalam bilik suara untuk mencoblos lima surat suara.

Lalu bagaimana jika hingga pukul 13.00 Anda belum masuk ke bilik suara? Tenang, selama sebelum pukul 13.00 telah mendaftar, pemilih masih berkesempatan untuk menggunakan hak pilih di bilik suara. Namun, apabila pada pukul 13.00 antrean masih panjang, panitia akan berkoordinasi dengan Panwaslu untuk memperpanjang waktu apabila sangat terdesak.

“Jam 13.00 pendaftaran ditutup. Tapi bagi orang-orang yang sudah menulis di C7 yang udah terdaftar di C7 untuk para pemilih DPT dan DPTb itu selama dia  udah snulis di C7 maka dia masih diperbolehkan memilih sampai selesai,” ujar Komisioner KPU Ilham Saputra, Senin (15/4/2019).

3. Jangan Menggunakan Atribut Kampanye dan Memamerkan Pilihan Saat di TPS

Berdasarkan Peraturan KPU Pasal 276 UU Nomor 7 Tahun 2017 di hari pencoblosan sudah masuk dalam minggu tenang. Artinya, segala macam bentuk kampanye dilarang. Apalagi, saat memasuki pemungutan suara. Para pemilih dilarang menggunakan atribut atau pakaian yang mengandung simbol-simbol dukungan terhadap peserta Pemilu.

Selain itu, para pemilih dilarang mengumbar pilihannya saat berada di TPS. Termasuk memposting di media sosial. Penggunaan smartphone atau handphone pun dilarang saat pemilih berada di bilik suara.

4. Tolak Segala Bentuk Politik Uang atau Serangan Fajar

Demi mewujudkan pemilu yang bersih, jujur dan adil, segala macam bentuk iming-iming imbalan dari peserta Pemilu sangat diharamkan. Segala macam bentuk politik uang memiliki konsekuensi hukum yang berat.

Berdasarkan Pasal 515 UU Nomor 7 Tahun 2017, setiap pemilih dilarang mempengaruhi pemilih untuk golput atau memilih calon tertentu dengan menjanjikan sesuatu. Apabila Anda melalukan hal tersebut, ancaman pidana berupa penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak Rp 36.000.000,00.

Jadi, pastikan memilih pemimpin dan anggota legislatif berdasarkan hati nurani. Lihat rekam jejak, visi-misi yang telah mereka sampaikan saat masa kampanye selama tujuh bulan.

5. Pastikan Pemilih Tahu Siapa yang Akan Dicoblos

Usahakan pemilih sudah memantapkan pilihan sebelum mencoblos. Ingat, Anda akan menerima lima kertas suara, khusus DKI Jakarta empat kertas suara. Jadi, jangan berlama-lama di bilik suara karena antrean yang akan panjang. 

(Fathoni)
Selasa 16 April 2019 19:30 WIB
Jelang Pemilu, IPNU Ajak Pemilih Pemula Gunakan Hak Pilih
Jelang Pemilu, IPNU Ajak Pemilih Pemula Gunakan Hak Pilih
Pimpinan Pusat IPNU mendeklarasikan Pemilu Damai.
Jakarta, NU Online
Pemilihan Umum (Pemilu) 2019 meliputi pemilihan presiden dan pemilihan legislatif, akan diselenggarakan serentak besok, Rabu (17/4). Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) sebagai organisasi yang segmentasinya pelajar atau pemilih pemula mengajak seluruh kader, anggota, dan pelajar pada umumnya untuk menggunakan hak pilih.

"Jangan sampai kader IPNU, pelajar Indonesia golput karena golput bukan pilihan," tegas Aswandi, Ketua Umum Pimpinan Pusat IPNU.

Hal itu disampaikannya saat deklarasi Pemilu Damai di gedung PBNU lantai 5, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta, Selasa (16/4).

IPNU juga mengajak seluruh kader bersama mengawal berlangsungnya pesta demokrasi lima tahunan ini dengan memantau dan menjaga Tempat Pemungutan Suara atau TPS  masing-masing.

"Mengawal TPS masing-masing agar terselenggara Pemilu yang jujur, adil, dan damai," kata pria asal Jambi itu.

Sementara itu, Wakil Ketua Umum PP IPNU Imaduddin Abdillah mengungkapkan bahwa mencoblos pada Pemilu esok merupakan bentuk penyaluran hak pemilih sebagai warga negara. Hal ini harus dilaksanakan dengan penuh kedamaian sebagai wujud menjaga persatuan dan kesatuan dan watak masyarakat Indonesia.

"Pemilu ini merupakan penyaluran hak warga negara untuk memilih pemimpinnya dengan penuh kedamaian kekeluargaan," ujarnya.

Menegaskan komitmen tersebut, PP IPNU mendeklarasikan Pemilu damai sebagaimana dibacakan bersama berikut.
Kami, Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama dengan ini menyatakan:
1. Siap menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.
2. Selalu menaati segala peraturan dan perundang-undangan yang berlaku dan terkait dengan penyelenggaraan Pemilu.
3. Mengutamakan kepentingan nasional dari pada kepentingan pribadi dan golongan demi terpeliharanya keutuhan bangsa dan negara.
4. Siap mendukung dan menyukseskan Pemilu tahun 2019 yang aman, tentram, kondusif, dan damai serta menolak golput.
5. Mendukung Polri dalam menegakkan hukum terkait berita hoaks, ujaran kebencian, dan mengajak masyarakat untuk menjaga keamanan dan ketertiban. (Syakir NF/Ibnu Nawawi)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG