::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Kiai Syair, Ngaji Keliling dengan Manakib

Selasa, 16 April 2019 14:30 Tokoh

Bagikan

Kiai Syair, Ngaji Keliling dengan Manakib
KH Syair (kanan)
Setiap sore bakda Shalat Asar tanggal sembilan bulan Ruwah (Sya'ban), orang-orang berkumpul di tempat pemakaman Desa Plumbon, salah satu desa di kecamatan yang terkenal dengan empingnya, Limpung Batang. Mereka duduk seraya membaca Manakib Syech Abdul Qodir al-Jaelani, dilanjutkan dengan membaca surat Yasin dan Tahlil.

Begitu kira-kira gambaran suasana haul Kiai Syair. Sebenarnya Kiai Syair wafat di hari Sabtu Legi tanggal 1 di bulan Sya'ban bertepatan dengan bulan Mei 1988 M. Hanya saja haulnya dibarengkan dengan haflah akhirussanah pesantren yang dia dirikan, biasanya tanggal sembilan sampai sepuluh bulan Sya'ban.

Menurut beberapa sumber, Kiai Syair wafat setelah mengajar santri di pagi hari. Di sela-sela mengajar, Kiai Syair merasa dadanya sesak. Awalnya beliau berusaha melanjutkan, namun akhirnya beliau menyudahinya, setelah salah satu santrinya meminta beliau beristirahat. Setelah dituntun oleh santrinya dan diantar ke kamar, tak selang lama, Kiai Syair dipanggil Sang Pencipta.

Alasan dibacakan Manakib saat haul, di samping Surat Yasin dan Tahlil, karena sewaktu hidup, Kiai Syair gemar membaca dan menggunakan Manakib sebagai materi dakwahnya, sebagaimana penuturan Kiai Manab putra pertama Kiai Syair di sela-sela haul.

Banyak kesaksian perihal Kiai Syair dan Manakib ini. Penulis sendiri pernah berjumpa seorang kakek di sebuah  mushala. Ia bercerita tentang kenangan dakwah Kiai Syair dengan Manakib. Kegemaran Kiai Syair membaca Manakib ini masih dilestarikan oleh putra-putri Kiai Syair, para santri dan masyarakat. 

Misalnya, jamaah putri malam Ahad di rumah salah satu putri Kiai Syair yang rutin membaca Manakib. Lalu, biasanya ketika mau menempati sebuah bangunan baru, baik itu rumah atau toko tempat berdagang, juga dibacakan Manakib.

Saat Kiai Syair ngaji keliling dengan Manakib, wilayah Batang belum seperti sekarang. Dulu banyak daerah yang belum terjamah oleh listrik. Salah satu santri Kiai Syair era 60-an bercerita, kalau tiba di Limpung setelah matahari tenggelam, perlu nyali yang besar jika ingin meneruskan perjalanan ke pesantren milik Kiai Syair yang terletak di Desa Plumbon itu.

"Ada pembegal jalan yang ditakuti di area sungai petung, antara Limpung dan Plumbon," kenang Kiai Rofi'i santri asal Pemalang ini.

Santri sepuh ini juga cerita, dulu pernah menemani Kiai Syair memenuhi undangan pengajian. Kiai Sya'ir bersama beberapa santrinya berjalan dengan penerangan oncor (baca: obor). 

Sebagaimana keterangan dalam majalah Santri (terbit tahun 2016), biasanya undangan pengajian bakda Isya'. Malahan kadang satu malam ada beberapa daerah yang mengundang pengajian, akhirnya Kiai Syair berjalan dari satu pengajian ke pengajian lain, melewati hutan dan sungai bersama beberapa santri.

Perjalanan Mencari Ilmu

Kiai Syair lahir dari pasangan Salamah dan Habibah. Kiai Sya'ir merupakan putra pertama dari enam bersaudara. Ayah beliau adalah Lurah Desa Plumbon. Namun menurut suatu sumber, walau menjabat Lurah, ayah beliau tidak tergolong orang kaya.

Kiai Syair memulai pengembaraan intelektualnya di Pondok yang terletak di daerah Geringsing Batang di bawah bimbingan Kiai Munasib. Kemudian beliau meneruskan menyantri di Tegalsari Kendal di pesantren milik Kiai Masyud. Saat menyantri dengan Kiai Masyud, Kiai Syair turut menjadi tentara Hizbullah, di bawah komando Kiai Masyud. 

"Bapak dulu pernah gondrong dan menggunakan nama samaran, supaya tak terdeteksi oleh penjajah," kenang Kiai Manab dalam suatu pertemuan. 

Setelah dari Tegalsari, Kiai Syair nyantri di Gubugsari Kendal kepada Kiai Jamhuri Abdul Wahab. Dalam majalah Santri (terbit 2016) diceritakan, saat proses belajar, bekal beliau di bawah standar. Ada kisah yang relevan dalam konteks ini. 

Suatu ketika, karena sarung yang dimiliki hanya satu, saat mencuci sarungnya, Kiai Syair bersembunyi dalam air sambil mencari ikan seraya menunggu sarungnya kering. Pernah sarung Kiai Syair ini tertiup angin dan terbawa arus sungai, akhirnya Kiai Syair berendam sampai temannya datang membawakan pinjaman sarung.

Mendirikan Pesantren

Kira-kira tahun 1950 Kiai Syair kembali dari perantauan. Awalnya Kiai Syair mengaji bersama masyarakat di langgar (mushala) milik Kiai Ahmad Nahrawi. Sedikit demi sedikit jamaah Kiai Syair bertambah banyak. Akhirnya, pada tanggal 12 Rabiul Awal tahun 1951, Kiai Syair mendirikan pondok pesantren bernama TPI al-Hidayah.

Perihal nama TPI al-Hidayah ini, penulis belum lama mendengar langsung dari cerita Kiai Manab saat menyambut Ketua GP Ansor Gus Yaqut Cholil Qumas, yang bersilaturahim ke keluarga pesantren (21/03/2019). 

Kata Kiai Manab, nama pesantren Plumbon adalah pemberian Kiai Bisri Mustofa Rembang yang merupakan kakek Gus Yaqut dan Kiai Maksum Lasem. "TPI itu dari Kiai Bisri, sedangkan al-Hidayah dari Kiai Maksum" jelas Kiai Manab.

Kiai Manab juga bercerita, Kiai Bisri sering datang ke rumah Kiai Syair. Selain mengisi pengajian, Kiai Bisri juga menyerahkan karya-karyanya kepada Kiai Syair, supaya di sebarkan (dijual) ke masyarakat.

Bersama istri Nyai Amanah binti Ahmad Nahrowi, Kiai Sya'ir mengembangkan pesantren. Yang awalnya hanya berupa langgar dan rumah panggung, kemudian beliau berdua mendirikan bangunan yang sampai sekarang menjadi aula jamaah. Pada tahun 1965 juga dibangun tempat untuk santri putri. 

Kiai Syair dan Nyai Amanah dikaruniai lima anak, yakni Kiai Abdul Manab, Nyai Siti Nasehah (Allahu yarhamha), Nyai Faridatul Bahiyah, Kiai Agus Musyafa' dan Kiai Sulton. Selain menuruskan perjuangan mengajar dan mendidik santri, kelima anak Kiai Syair dan Nyai Amanah ini juga aktif di Nahdlatul Ulama Kabupaten Batang.

Setelah Kiai Syair wafat, putra-putri beliau, dengan dukungan alumni dan masyarakat, menderikan Yayasan al-Syairiyyah. Sekarang yayasan ini menaungi beberapa lembaga pendidikan, antara lain Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs), Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dan Madrasah Aliyah (MA) Takhassus. Pesantren pun berkembang, dari TPI al-Hidayah kemudian lahir Pesantren al-Ishlah, al-Banin, dan al-Amanah. 

Tahun ini haul Kiai Syair dan Nyai Amanah akan dilaksanakan tanggal 15 Sya'ban atau 21 April 2019. Mari kita kirim surat al-Fatihah, dan semoga Allah menuntun kita untuk meneladani dan meneruskan perjuangan beliau berdua.

Zaim Ahya, Kontributor NU Online, santri berbagai pesantren dan founder takselesai.com