IMG-LOGO
Tokoh

Kiai Syair, Ngaji Keliling dengan Manakib

Selasa 16 April 2019 14:30 WIB
Bagikan:
Kiai Syair, Ngaji Keliling dengan Manakib
KH Syair (kanan)
Setiap sore bakda Shalat Asar tanggal sembilan bulan Ruwah (Sya'ban), orang-orang berkumpul di tempat pemakaman Desa Plumbon, salah satu desa di kecamatan yang terkenal dengan empingnya, Limpung Batang. Mereka duduk seraya membaca Manakib Syech Abdul Qodir al-Jaelani, dilanjutkan dengan membaca surat Yasin dan Tahlil.

Begitu kira-kira gambaran suasana haul Kiai Syair. Sebenarnya Kiai Syair wafat di hari Sabtu Legi tanggal 1 di bulan Sya'ban bertepatan dengan bulan Mei 1988 M. Hanya saja haulnya dibarengkan dengan haflah akhirussanah pesantren yang dia dirikan, biasanya tanggal sembilan sampai sepuluh bulan Sya'ban.

Menurut beberapa sumber, Kiai Syair wafat setelah mengajar santri di pagi hari. Di sela-sela mengajar, Kiai Syair merasa dadanya sesak. Awalnya beliau berusaha melanjutkan, namun akhirnya beliau menyudahinya, setelah salah satu santrinya meminta beliau beristirahat. Setelah dituntun oleh santrinya dan diantar ke kamar, tak selang lama, Kiai Syair dipanggil Sang Pencipta.

Alasan dibacakan Manakib saat haul, di samping Surat Yasin dan Tahlil, karena sewaktu hidup, Kiai Syair gemar membaca dan menggunakan Manakib sebagai materi dakwahnya, sebagaimana penuturan Kiai Manab putra pertama Kiai Syair di sela-sela haul.

Banyak kesaksian perihal Kiai Syair dan Manakib ini. Penulis sendiri pernah berjumpa seorang kakek di sebuah  mushala. Ia bercerita tentang kenangan dakwah Kiai Syair dengan Manakib. Kegemaran Kiai Syair membaca Manakib ini masih dilestarikan oleh putra-putri Kiai Syair, para santri dan masyarakat. 

Misalnya, jamaah putri malam Ahad di rumah salah satu putri Kiai Syair yang rutin membaca Manakib. Lalu, biasanya ketika mau menempati sebuah bangunan baru, baik itu rumah atau toko tempat berdagang, juga dibacakan Manakib.

Saat Kiai Syair ngaji keliling dengan Manakib, wilayah Batang belum seperti sekarang. Dulu banyak daerah yang belum terjamah oleh listrik. Salah satu santri Kiai Syair era 60-an bercerita, kalau tiba di Limpung setelah matahari tenggelam, perlu nyali yang besar jika ingin meneruskan perjalanan ke pesantren milik Kiai Syair yang terletak di Desa Plumbon itu.

"Ada pembegal jalan yang ditakuti di area sungai petung, antara Limpung dan Plumbon," kenang Kiai Rofi'i santri asal Pemalang ini.

Santri sepuh ini juga cerita, dulu pernah menemani Kiai Syair memenuhi undangan pengajian. Kiai Sya'ir bersama beberapa santrinya berjalan dengan penerangan oncor (baca: obor). 

Sebagaimana keterangan dalam majalah Santri (terbit tahun 2016), biasanya undangan pengajian bakda Isya'. Malahan kadang satu malam ada beberapa daerah yang mengundang pengajian, akhirnya Kiai Syair berjalan dari satu pengajian ke pengajian lain, melewati hutan dan sungai bersama beberapa santri.

Perjalanan Mencari Ilmu

Kiai Syair lahir dari pasangan Salamah dan Habibah. Kiai Sya'ir merupakan putra pertama dari enam bersaudara. Ayah beliau adalah Lurah Desa Plumbon. Namun menurut suatu sumber, walau menjabat Lurah, ayah beliau tidak tergolong orang kaya.

Kiai Syair memulai pengembaraan intelektualnya di Pondok yang terletak di daerah Geringsing Batang di bawah bimbingan Kiai Munasib. Kemudian beliau meneruskan menyantri di Tegalsari Kendal di pesantren milik Kiai Masyud. Saat menyantri dengan Kiai Masyud, Kiai Syair turut menjadi tentara Hizbullah, di bawah komando Kiai Masyud. 

"Bapak dulu pernah gondrong dan menggunakan nama samaran, supaya tak terdeteksi oleh penjajah," kenang Kiai Manab dalam suatu pertemuan. 

Setelah dari Tegalsari, Kiai Syair nyantri di Gubugsari Kendal kepada Kiai Jamhuri Abdul Wahab. Dalam majalah Santri (terbit 2016) diceritakan, saat proses belajar, bekal beliau di bawah standar. Ada kisah yang relevan dalam konteks ini. 

Suatu ketika, karena sarung yang dimiliki hanya satu, saat mencuci sarungnya, Kiai Syair bersembunyi dalam air sambil mencari ikan seraya menunggu sarungnya kering. Pernah sarung Kiai Syair ini tertiup angin dan terbawa arus sungai, akhirnya Kiai Syair berendam sampai temannya datang membawakan pinjaman sarung.

Mendirikan Pesantren

Kira-kira tahun 1950 Kiai Syair kembali dari perantauan. Awalnya Kiai Syair mengaji bersama masyarakat di langgar (mushala) milik Kiai Ahmad Nahrawi. Sedikit demi sedikit jamaah Kiai Syair bertambah banyak. Akhirnya, pada tanggal 12 Rabiul Awal tahun 1951, Kiai Syair mendirikan pondok pesantren bernama TPI al-Hidayah.

Perihal nama TPI al-Hidayah ini, penulis belum lama mendengar langsung dari cerita Kiai Manab saat menyambut Ketua GP Ansor Gus Yaqut Cholil Qumas, yang bersilaturahim ke keluarga pesantren (21/03/2019). 

Kata Kiai Manab, nama pesantren Plumbon adalah pemberian Kiai Bisri Mustofa Rembang yang merupakan kakek Gus Yaqut dan Kiai Maksum Lasem. "TPI itu dari Kiai Bisri, sedangkan al-Hidayah dari Kiai Maksum" jelas Kiai Manab.

Kiai Manab juga bercerita, Kiai Bisri sering datang ke rumah Kiai Syair. Selain mengisi pengajian, Kiai Bisri juga menyerahkan karya-karyanya kepada Kiai Syair, supaya di sebarkan (dijual) ke masyarakat.

Bersama istri Nyai Amanah binti Ahmad Nahrowi, Kiai Sya'ir mengembangkan pesantren. Yang awalnya hanya berupa langgar dan rumah panggung, kemudian beliau berdua mendirikan bangunan yang sampai sekarang menjadi aula jamaah. Pada tahun 1965 juga dibangun tempat untuk santri putri. 

Kiai Syair dan Nyai Amanah dikaruniai lima anak, yakni Kiai Abdul Manab, Nyai Siti Nasehah (Allahu yarhamha), Nyai Faridatul Bahiyah, Kiai Agus Musyafa' dan Kiai Sulton. Selain menuruskan perjuangan mengajar dan mendidik santri, kelima anak Kiai Syair dan Nyai Amanah ini juga aktif di Nahdlatul Ulama Kabupaten Batang.

Setelah Kiai Syair wafat, putra-putri beliau, dengan dukungan alumni dan masyarakat, menderikan Yayasan al-Syairiyyah. Sekarang yayasan ini menaungi beberapa lembaga pendidikan, antara lain Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs), Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dan Madrasah Aliyah (MA) Takhassus. Pesantren pun berkembang, dari TPI al-Hidayah kemudian lahir Pesantren al-Ishlah, al-Banin, dan al-Amanah. 

Tahun ini haul Kiai Syair dan Nyai Amanah akan dilaksanakan tanggal 15 Sya'ban atau 21 April 2019. Mari kita kirim surat al-Fatihah, dan semoga Allah menuntun kita untuk meneladani dan meneruskan perjuangan beliau berdua.

Zaim Ahya, Kontributor NU Online, santri berbagai pesantren dan founder takselesai.com

Tags:
Bagikan:
Sabtu 13 April 2019 13:0 WIB
Kiai Ahmad Rifa’i Kalisalak, Melawan dengan Syi’ir
Kiai Ahmad Rifa’i Kalisalak, Melawan dengan Syi’ir
Sejarah kelam penjajahan yang dialami bangsa Indonesia menjadi pembelajaran berharga yang bisa kita ambil hikmahnya. Peristiwa tersebut bukan tanpa perlawanan, namun kecanggihan teknologi dan strategi licik seperti adu domba membuat bangsa ini takluk. Sejarah menunjukkan bahwa perlawanan terus dilakukan mulai dari masuknya Portugis, Belanda, Inggris dan Jepang. 

Sekarang bisa kita lihat deretan pahlawan dari masa ke masa menunjukkan betapa gigihnya mereka dalam mengusir penjajah. Bahkan perlawanan muncul dari berbagai kalangan seperti bangsawan, kiai sampai rakyat biasa. Segala cara sudah ditempuh, baik dengan jalan angkat senjata seperti perang Padri (1821-1835) di Sumatra, dan Perang Diponegoro (1825-1830) di Jawa yang membuat penjajah kewalahan. 

Kemudian ada pula yang melakukan perlawanan tanpa kekerasan. Metode tersebut biasa dilakukan oleh para ulama dengan dakwahnya. Salah satunya Kiai Ahmad Rifa’i, ulama yang gigih melakukan perlawanan melalui dakwah dan protes sosial sampai akhir hayatnya. Ia merupakan seorang ulama yang lahir di sebuah desa di Kendal, tepatnya di Desa Tempuran. Lebih jelasnya H Ahmad Syadzirin Amin dalam bukunya Gerakan Syaikh Ahmad Rifa’i mengambil pendapat Drs Slamet Siswadi menyebutkan, bahwa Ahmad Rifa’i lahir pada hari Kamis tanggal 9 Muharram 1200 H, bertepatan tahun 1786 Masehi.

Dalam kitab Risalah Syamsul Hilal Juz Ats-Tsani pada Bab Perimbangan Awal Tahun Hijriyah dan Miladiyah menyebutkan bahwa tanggal 1 Muharram 1200 H bertepatan dengan 4 November 1785. Artinya, 9 Muharram 1200 H setidaknya bertepatan pada 12 November 1785.

Kiai Ahmad Rifa'i dilahirkan dari rahim seorang wanita bernama Siti Rahmah, buah cintanya dengan Raden KH Muhammad Marhum. Jika melihat tahun kelahirannya, ia seangkatan dengan Pangeran Diponegoro (lahir 1785).

Ahmad Rifa’i diasuh oleh kedua orang tuanya sejak lahir hingga ayahnya wafat saat ia berusia enam tahun. Menurut kalangan Rifa’iyah, ia kemudian diasuh dan dididik oleh pamannya yang bernama KH Asy’ari, seorang ulama terkemuka di daerah Kaliwungu. Diasuh oleh KH Asy’ari menjadikan Ahmad Rifa’i tumbuh dewasa kental dengan ilmu agama Islam. Sejak kecil ia sudah memiliki kecerdasan yang luar biasa. Tak heran jika kelak ia menjadi ulama besar.

Perlawanan terhadap Belanda

Perjuangan dakwah Kiai Ahmad Rifa’i dilakukan sejak beliau muda. Pada usia 30-an tahun, tepatnya tahun 1833 ia menunaikan ibadah haji ke Makkah dan menetap di sana selama delapan tahun untuk menimba ilmu. Ia bertemu dengan para ulama besar di sana. Saat itu jaringan ulama dunia berpusat di Makkah.

Pertemuan tersebut membuatnya semakin bersemangat menimba ilmu. Salah satu gurunya adalah  Isa al-Barawi. Iai juga pernah berguru kepada Ibrahim al-Bajuri, seorang ulama dari Mesir meskipun kepergian Kiai Ahmad Rifa’i ke Mesir masih diragukan. Namun, karena pada masa itu banyak ulama yang beraktivitas di Makkah dan Madinah, bisa jadi Kiai Rifa’i bertemu Syaikh Ibrahim al-Bajuri di sana.

Pada saat Kiai Ahmad Rifa’i menimba ilmu di tanah haram, beliau bertemu dengan beberapa ulama Nusantara, seperti Syaikh Nawawi Banten dan Syaikh Kholil Bangkalan. Ketiga ulama tersebut menjadi sahabat karib dan sempat melakukan diskusi terkait dakwahnya kelak. Dari hasil diskusi tersebut ketiganya bersepakat, Syaikh Kholil Bangkalan akan fokus pada masalah tasawuf dalam dakwahnya, Syaikh Nawawi Banten pada masalah usuluddin, sementara Kyai Ahmad Rifa’i pada masalah fiqih.

Sesampai di tanah air Kiai Ahmad Rifa’i memulai dakwahnya di sebuah desa terpencil yakni Kalisalak, sekarang masuk di Kecamatan Limpung, Kabupaten Batang. Pada masa itu Nusantara sedang terpuruk karena penjajahan dan kebodohan. Ia sangat prihatin melihat kondisi masyarakat. Karena saat kehidupan sosial rakyat sangat tertindas oleh penjajah, para birokrat pribumi banyak yang bersekutu dengan penjajah. 

Melihat kondisi tersebut ia mendirikan pondok pesantren di Kalisalak yang digunakan sebagai tempat berdakwah dan mengajar agama Islam. Ia menilai bahwa budaya Islam di masyarakat harus diubah agar terhindar dari budaya yang tidak sesuai dengan Al-Qur’an dan sunah. Selain mengajar di pondok, ia juga sering berdakwah ke tempat lain seperti Wonosobo, Pekalongan, Kendal. Dari dakwahnya tersebut menjadikan pondok pesantrennya diketahui banyak orang. Hal itu membuat banyak orang berbondong-bondong ke pondok pesantren Kalisalak untuk menyantri pada Kiai Ahmad Rifa’i.

Materi dakwahnya tidak selalu tentang hukum Islam, tapi juga protes sosial karena ia melihat pemerintah kolonial yang selalu menindas masyarakat. Protes sosial ia masukkan dalam ajaran dan kitab yang ditulisnya. Ia meyakini pemerintah kolonial adalah kafir dan harus diperangi. Keyakinan tersebut diajarkan kepada santri-santrinya agar tidak tunduk terhadap penjajah dan birokrat pribumi yang bersekutu dengannya. Tidak hanya itu, Kiai Ahmad Rifa’i juga mengajarkan kepada santrinya bahwa melawan pemerintah kolonial merupakan Perang Sabil.

Kiai Rifa’i termasuk ulama yang sangat produktif dalam bidang penulisan. Kebanyakan karyanya adalah syi’ir atau nazam. Salah satu syi’ir ini menggambarkan pendapatnya pada pribumi yang mau bekerjasama dengan penjajah

Ghalib alim lan haji pasik pada tulung,
marang raja kafir asih pada junjung.
Ikulah wong alim munafik imane suwung,
Dumeh diangkat drajat dadi tumenggung.
Lamun wong alim weruho ing alane wong takabur,
Mengko ora tinemu dadi kadi miluhur.”

Artinya:
Ghalib alim dan haji fasik menolong,
raja kafir dan senang mendukungnya.
Itulah orang alim yang munafik yang kosong imannya,
Merasa diangkat derajatnya jadi tumenggung.
Jika orang alim menunjukkan jeleknya orang takabur,
Nanti tidaklah mungkin dapat kadi terkenal.

Pada syair di atas bisa kita lihat bagaimana kerasnya terhadap penjajah dan orang-orang pribumi yang bekerjasama dengan mereka.

Perlawanan dalam mengusir penjajah dari para pahlawan sangat beragam dengan situasi dan kondisi pada masa itu. Kiai Ahmad Rifai lebih memilih menggunakan metode dakwah secara lisan dan tulisan yang dirangkum dalam kitab-kitabnya. Metode tersebut memiliki keunikan tersendiri karena membentuk kesadaran masyarakat bahwa mereka sedang tertindas. Ia juga menanamkan pada masyarakat untuk menjadikan Islam sebagai fondasi dan jalan hidup yang benar.

Dengan kitab Tarjumah yang ia buat menjadikan santri-santri lebih mudah memahami ajarannya karena ditulis dengan Arab pegon yang nota bene berbahasa Jawa. Karena melihat kondisi masyarakat pada saat itu yang belum familiar dengan bahasa Arab. Selain mengajarkan agama Islam, dalam kitabnya, Kiai Ahmad Rifai memasukkan pesan-pesan untuk melawan penjajah dengan sekuat tenaga dan kemampuan masing-masing.

Slameta dunya akhirat wajib kinira
nglawen raja kafir sakuasnu kafikira
Tur perang sabil luwih kadene ukara
Kacukupan tan kanti akeh bala kuncara.

Artinya:
Keselamatan dunia akhirat wajib diperhitungkan
Melawan raja kafir sekemampuannya perlu dipikirkan
Demikian juga perang sabil lebih daripada ucapan
Cukup tidak menggunakan pasukan yang besar.

Akhir Hayat dan Warisan Kiai Ahmad Rifa’i

Meskipun tanpa kekerasan, perlawanan Kiai Ahmad Rifa’i tetap ada risikonya. Sejak saat di Kendal ia sempat beberapa kali dilaporkan, bahkan dijebloskan ke penjara. Ketika di Kalisalak, ia juga sempat bersitegang dengan ulama yang lain saat itu dan pemerintah. Ia pernah dituduh oleh Bupati Batang telah menghasut masyarakat untuk melawan pemerintah dan mengajarkan ajaran Islam yang menyimpang. Hingga akhirnya ia diasingkan (hukuman yang biasa dijatuhkan kepada para tokoh yang menentang penjajah pada masa itu), karena dianggap tidak taat pada pemerintah Belanda.

Sebelum diasingkan ke Ambon, ia sempat tinggal di penjara Pekalongan selamat 13 hari. Dalam masa pengasingan, ia sangat produktif menulis dan menjalin komunikasi rahasia dengan santri-santri yang ada di Kalisalak melalui saudagar Semarang yang berlayar ke Ambon. Saat hal itu diketahui oleh Belanda, ia kembali diasingkan ke Kampung Jawa Tondano, Sulawesi Utara hingga akhir hayatnya.

Tanggal 5 November 2004 melalui Keppres No. 089/TK/2004, Presiden Indonesia saat itu Susilo Bambang Yudhoyono menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Kiai Ahmad Rifa’i.

Setidaknya ada 68 karya atau kitab yang diwariskannya kepada generasi Islam saat ini yang kebanyakan berupa syair bahasa Jawa yang ditulis dengan aksara Arab (pegon) yang menerangkan ilmu agama Islam.

Ajaran Kiai Ahmad Rifa’i saat ini masih ada dan diamalkan oleh para pengikutnya yang dikenal dengan sebutan Rifa’iyah. Pada tahun 1965, Yayasan Pendidikan Islam Rifa’iyah didirikan oleh tokoh-tokoh Rifa’iyah masa itu. Saat ini pengikut Rifa’iyah banyak tersebar di berbagai daerah di Indonesia. Di antaranya Batang, Pekalongan, Pemalang, Wonosobo, Kendal, Pati, Jakarta dan lainnya.

Satu lagi warisan yang dilestarikan sampai sekarang, yakni Batik Rifa’iyah. Di Desa Kalipucang Wetan Kecamatan Batang masih banyak pengrajin Batik Rifa’iyah, hingga desa tersebut juga dikenal dengan Kampung Batik Rifa’iyah. Salah satu ciri khas Batik Rifa’iyah adalah gambar hewan yang tidak lengkap anggota tubuhnya (seakan-akan mati) pada motif atau desain batik.

Veri Listianto dan Gigih Arif, pegiat Lakpesdam NU Batang dan pengelola Pondok Online.




Senin 8 April 2019 20:0 WIB
Kiai Asnawi dan Doa Keamanan untuk Indonesia
Kiai Asnawi dan Doa Keamanan untuk Indonesia
Kiai Asnawi, Kudus
Kiai Raden Asnawi adalah seorang ulama kelahiran Damaran Belakang Menara Kudus pada tahun 1281 H/ 1864 M dan wafat pada tahun 1959 M. Ia merupakan keturunan ke-14 Sunan Kudus dari jalur Kiai Mutamakkin. Yang disebut terakhir ini adalah seorang wali terkenal yang hidup pada masa Sultan Agung Mataram pada paruh pertama abad ke-17 M.

Di kalangan pesantren, ia terkenal sebagai dai dan guru yang aktif berdakwah. Kiai Asnawi juga memiliki pesantren dan memiliki beberapa karya yang di antaranya populer di berbagai pondok pesantren, khususnya di Jawa.

Sebut saja salah satunya kitab Fasalatan, sebuah kitab yang berisi tuntunan ibadah shalat untuk pemula. Beberapa kitab karyanya yang lain adalah: Al-Qira’ah Al-‘Asyriyah, kitab tentang doa untuk pernikahan yang dikemas dalam bentuk puisi, Kitab Mu’taqad Seked yang berisi tentang prinsip-prinsip Aqidah Asy’ariyyah, Kitab Syareat Islam yang dari judulnya saja sudah terlihat bahwa kitab yang ditulis dalam bahasa Arab ini membahas tentang Fiqih, dan Kitab Terjemah Jurumiyyah.

Kiai Asnawi memiliki caranya tersendiri dalam hal nasionalisme. Seperti terlihat dari sikapnya yang non-kooperatif dengan belanda sebelum tahun 1940-an. Dan juga sikap yang sama terhadap Jepang pada tahun 1940-an. Dia populer sebagai seorang yang senantiasa membekali santrinya dengan doa jihad berupa amalan yang terdiri dari membaca Surat Al-Fil dalam melawan penjajah serta Shalawat Nariyah yang ditulis oleh Imam At-Tazi. Sampai sekarang pun amalan ini masih dipraktikkan oleh para kiai di Malang.

Berdasarkan hasil pengamatan dapat diketahui bahwa pembacaan surah Al-Fil oleh para ulama dilakukan dengan cara membaca berulang sebanyak 11 (sebelas) kali pada ayat yang berbunyi: “tarmihim bi hijaratin min Sijjil” tepatnya pada kata ‘tarmihim’. Hal itu dilakukan sembari mengangkat tangan layaknya melempar batu atau kerikil sebanyak pengulangan kata tersebut.

Kiai Asnawi juga menggubah sebuah doa populer untuk mendoakan Indonesia. Doa ini masih biasa dilantunkan di Masjid Menara pada pembukaan pengajian rutin bulanan. Adapun Naskah bacaan doa tersebut beserta artinya adalah sebagai berikut:

يَا رَبِّ صَلِّ عَلَى الرَّسُوْلِ مُحَمَّدٍ سِرِّ الْعُلَا
وَالأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ الْحُرِّ خَتْمًا أَوَّلًا
يَا رَبِّ نَوِّرْ قَلْبَنَا بِنُوْرِ قُرْأَنٍ جَلَا
وَافْتَحْ لَنَا بِدَرْسٍ أَوْ قِرَأَةٍ تُرَتَّلَا
وَارزُقْ بِفَهْمٍ الأَنْبِيَاءِ لَنَا وَأَيِّ مَنْ تَلَا
ثَبِّتْ بِهِ إِيْمَانَنَا دُنْيَا وَأُخْرَى كَاملًا
أَمَانَ أَمَانَ أَمَانَ أَمَانَ
بِإِنْدُوْنِسْيَا رَايَا أَمَانَ
أَمِيْن أَمِيْن أَمِيْن أَمِيْن
يَا رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَيَا مُجِيْبَ السَّائِلِيْنَ

Artinya:
Ya Tuhan kami, semoga shalawat dan salam tercurah limpahkan kepada Rasulullah Muhammad, dengan segala kemualiaan.
Juga kepada seluruh para nabi dan utusan yang lain yang senantiasa mulia pula.
Ya Tuhan kami, sinarilah hati kami dengan cahaya Al-Qur’an. Berikanlah kepada kami kepahaman dalam mempelajari atau membacanya secara tartil.
Berkahilah kami dan mereka yang membaca Al-Qur’an dengan hikmah para nabi.
Jadikan keimanan kami lebih kuat dan sempurna baik di dunia maupun di akhirat.
Berilah keamanan, berilah keamanan, berilah keamanan, berilah keamanan, bagi Indonesia raya dengan keamanan yang sesungguhnya.
Aman, aman, aman, aman Indonesia Raya aman.
Kabulkanlah doa kami, kabulkanlah doa kami, kabulkanlah doa kami wahai Dzat Tuhan seru sekalian alam dan wahai Dzat yang maha mengabulkan segala orang yang berdoa.


R. Ahmad Nur Kholis, Kontributor NU Online Disarikan dari buku: Abdurrahman Mas’ud. (2004). Intelektual Pesantren. Yogyakarta: LKIS
Selasa 19 Maret 2019 11:15 WIB
KH Nawawi Berjan, Ulama di Balik Berdirinya Organisasi Thariqah
KH Nawawi Berjan, Ulama di Balik Berdirinya Organisasi Thariqah
KH Nawawi Berjan (istimewa)
KH Nawawi nama lengkapnya adalah Muhammad Nawawi lahir di Berjan Purworejo pada hari Selasa Kliwon tanggal Robi’ul Awwal 1334 H./10 Januari 1916 M. Dari keluarga ningrat bernasab keturunan dari Sultan Agung Mataram dari jalur ayahnya yaitu, silsilah Muhammad Nawawi bin KH Muhammad Shiddiq bin Kiai Zarkasyi bin Asnawi Tempel bin Kiai Nuriman Tempel bin Kiai Burhan Joho bin Kiai Suratman Pacalan bin Jindi Amoh Plak Jurang bin Kiai Dalujah Wunut bin Gusti Oro-oro Wanut bin Untung Suropati bin Sinuwun Sayyid Tegal Arum bin Sultan Agung bin Pangeran Senopati.

Dari jalur ibunya bernama Nyai Fatimah bin Muhyiddin (w. 137 H/1948 M) kakek KH Muhammad Nawawi dari garis ibunya adalah cikal bakal desa Rending, sebuah desa disebelah utara desa Gintungan. Di desa yang didirikannya tersebut, kakeknya pernah menjabat sebagai lurah Desa. Pada sebagian wilayah desa Rendeng inilah terdapat sebuah pedukuhan bernama tirip, tempat mukim simbah Kiai Zaid, seorang Ulama besar dan juga saudara ipar KH Abdullah Termas Pacitan.

Masih kecilnya KH Nawawi termasuk keluarga yang religius, dan sering membaca buku dan kitab kuning walaupun bermain dengan teman sebaya dan bersama keluarga besarnya. Masa remajanya terkenal rajin belajar yang sangat tinggi bahkan membawa catatan sambil diskusi-musyawarah. Pada tahun 1970 yang ditulis oleh KH Nawawi sendiri, di mulai dengan belajar al-Quran, fath al-Qorib, Sanusi, Minhaj al-Qawim, Ta’lim al-Muta’allim, Tanqikh al-Qaul, dan Shahih Bukhari kepada ayahnya sendiri KH. Muhammad Shiddiq.

KH Nawawi pengalaman nyantri berbagai daerah di Jawa Timur, Jawa Tengah dan daerah Krapyak Yogyakarta seperti pondok di Lirboyo pondok Kediri, pondok Watucongol, pondok Lasem, pondok Jampes, pondok Termas Pacitan dan pondok Tebuireng Jombang.Di Bidang pendidikan al-Quran bin Nadhor diperdalam dengan langsung oleh KH Munawwir Krapyak Yogyakarta.

Berkelana mencari ilmu dengan semangat, KH Nawawi berajar banyak kiai-guru di pulau Jawa bahkan mampu mengusai kitab kuning. Dalam catatan beliau terhadap kitab Faidul Barry Fi Manaqibi al-Imam Bukhari al-Ju’fy tahun 1377 H tentang sanad yang telah ditulisnya sebagaimana pada saat belajar Shahih al-Bukhari di Pondok Pesantren Tebuireng KH Hasyim Asyari Jombang dan belajar Dalail Al-Khairat kepada Syekh Ahmad Alawy Jombang.

Pada perkembangannya, KH Nawawi tidak pula meninggalkan dunia lembaga pendidikan formal di dalam usaha dengan nalar idenya untuk menawarkan di pesantren yang dipimpinnya sebagai alternatif tempat penyelenggaraan lembaga pendidikan Guru Agama (PGA), tiga tahun mengalami penurunan jumlah murid secara drastis walaupun dalam transisi infrastruktur pendidikan sebagaimana yang telah dianjurkan oleh Menteri Agama untuk mendirikan lembaga pendidikan sejenis. Pembangunan ruang kelas baru dilaksanakan sejak pada tahun 1963 berkat bantuan Menteri Agama KH Saifuddin Zuhri.

Di Balik Berdirinya Jam’iyyah Ahli Thariqot al-Mu’tabaroh

Secara singkat, sejarah Thariqohal-Qhadiriyyah wa Naqsyabandiyyah berkembang di Berjan adalah merupakan hasil gabungan antara dua aliran, yakni aliran Thariqoh Qhadiriyyah dan aliran Thariqoh Naqsyabandiyyah yang gagas oleh Syekh Ahmad Khatib bin Abdul Ghaffar daerah Sambas Kalimantan Barat (1802-1872 M). Sedangkan aliran Thariqoh al-Qhadiriyyah pencetusnya adalah Syaikh Abdul Qhodir al-Jailani sebagai pelopor cikal-bakal aliran-aliran organisasi thariqoh dengan cabang-cabangnya di belahan penjuru dunia Islam.

Sementara aliran Thariqoh Naqsyabandiyyah adalah dirintis oleh Syaikh Muhammad bin Muhammad Bahauddin al-Bukhari al-Naqsyabandi (717 H/1318 M-791 H/1389 M) seorang tokoh sufi yang memulai belajar tentang tasawuf kepada gurunya Baba al-Samsyi pada saat berusia 18 tahun. Syekh Ahmad Khatib Sambas telah berhasil untuk menggabungkan dua aliran Thariqoh tersebut sebagaimana tertulis dalam karya kitabnya Fath al-Arifin dengan metode jenis Dzikir yaitu Dzikir Jahr dalam Thariqoh Qhadiriyyah dan Dzikir Khafi dalam Thariqoh Naqsybandiyyah.

Syekh Ahmad Khatib Sambas menjadi pelopor pemikiran Thariqoh Qhadiriyyah wa Naqsyandiyyah walaupun lama bermukim di Mekah pada pertengahan abad ke-19, maka banyak yang bersedia menjadi muridnya baik dari Negara Malaysia, Jawa dan luar Jawa. Pada perkembangannya Thariqoh wa Naqsyabandiyyah di Nusantara banyak yang bersumber kepada salah satu atau ketiga menjadi Mursyid pertama, mulai dan Syaikh Abdul Karim paman Syekh Nawawi Banten sebagai pimpinan Thariqoh.

Sedangkan muridnya meneruskan dan berjasa besar untuk mengembangkan Thariqoh wa Naqsyabandiyyah di Nusantara yaitu, Kiai Asnawi Caringan Banten (w.1937), Syekh Zarkasyi (1830-1914 M), pada tahun 1860. Sementara Syekh Zarkasyi pada periode pertama mengembangkan Thariqoh wa Naqsyabandiyyah diteruskan pada periode kedua Muhammad Siddiq dan diteruskan ke periode ketiga yaitu KH. Nawawi Berjan Purworejo Jawa Tengah.

Pada periode KH Nawawi pada mulanya tidak bersedia untuk di baiat menjadi mursyid karena alasan berjuang bersama laskar Hizbullah pada saat itu, lalu pamannya, memberanikan diri Kiai Abdul Majid Pagedangan matur untuk di baiat sebagai mursyid tapi KH. Nawawi jawabannya tetap sibuk berjuang bersama laskar Hizbullah, maka sementara kedudukan mursyid dilanjutkan oleh pamannya sendiri, Simbah Kiai Munir bin Zarkasyi.

Setelah pasca perjuangan melawan penjajah, dan saudara kandung mirip ayahandanya wafat bernama Muhammad Kahfi pada hari kamis tanggal 6 Dzulqo’dah 1371/1950 M, maka barulah KH Nawawi berkenan untuk di baiat sebagai mursyid kepada Simbah Kiai Munir (w. 1958) Amanah yang berat sebagai pewaris pimpinan pondok pesantren dan juga sebagai mursyid Thariqoh wa Naqsyabandiyah selama 35 tahun (1947-1982). Pada saat itulah, KH Nawawi mulai merasakan keadaan terhadap aliran dan organisasi Thoriqoh yang berkembang dengan saling menyalahkan dan bahkan mengkafirkan antara aliran Thariqoh seperti Thariqoh Tijaniyyah dan Thariqoh Syathoriyyah yang sejatinya sama-sama berasal dari organisasi NU.

Pada tanggal 31 Desember Tahun 1955 KH Nawawi Berjan dan KH Masruhan berdialog untuk berusaha meluruskan para penganut Thariqoh dan perlunya menyepakati dalam bentuk Jam’iyyah thariqoh yang benar dan lurus, mana yang mu’thabaroh maupun yang tidak. Sekitar dua tahun kemudian, KH Nawawi bersilaturrahim kebeberapa daerah Jawa Barat, Jawa Timur dan Jawa Tengah bersama Kiai Mahfudz Rembang, maka pada tahun 1957 yang didampingi oleh Kiai Abdurrahim Pagedangan sehingga melahirkan Tim Pentasheh Thariqoh yang beranggotakan enam orang diantaranya Kyai Muslih Mranggen, dan Kiai Baedlowi Lasem. Dengan keperihatinan dalam menyaksikan maraknya perpecahan dikalangan para penganut Thariqoh ini, kemudian KH Nawawi mengabadikan dalam catatan buku hariannya dengan menulis yaitu cara-cara yang menjalin hubungan persatuan berbagai panganut Thariqoh.

Menurut catatan-catatanbuku harian KH Nawawi, cara-cara mengeratkan ukhuwah di antara ikhwan thoriqoh. Pertama, para mursyid diberi tuntunan-tuntunan asas Thoriqoh yang semuanya asas-asas tadi dimengerti sampai tahu betul para murid dengan asas tujuan Thoriqoh hingga paham adab-adabnya murid Thoriqoh, adab kepada guru dan adab teman-teman Thoriqoh dengan inshaf, dan patuh terutama adab ma’a Allah dan Rasulnya. Kedua, supaya dianjurkan tazawur diantara mursyidin dengan para abdal satu sama lain, dengan tukar pikiran bagaimana caranya mentarbiyah murid-murid mana yang baik ditiru oleh ikhwan lain agar menambah amal khair.

Ketiga, para mursyid menganjurkan kepada abdal-abdal supaya berangkat khataman, tawajuhan dan riyadloh jasmaniyah dan rohaniyah serta tafakkur yang dapat mendekatkan muroqobah hingga para ikhwan Thoriqoh bisa melatih diri inshaf kepada ajaran-ajaran Sufi yang mana bisa sabar dan Ridho pada hukum Allah, dan membuat kebaikan kepada makhluk serta cinta kepada teman-teman dan menjauhi larangan-larangan tuhan dan terus mengabdi tambahannya ilmu serta ingat kepada mati agar giat beribadah.

Dengan terbentuknya panitia sementara dalam rencana penyelenggarakan kongres pertama. Maka pada tanggal 11 Agustus tahun 1956 dengan susunan kepanitiaan Pelindung KH Romli Tamim Rejo Jombang dan Ketua I KH Nawawi Berjan serta pembantu-pembantu I KH Khudlori Magelang. Hasil Presidium Kepengurusan Kongres perdana dengan Anggota KH. Mandhur, KH. Chudlori Tegalrejo, KH. Usman, KH. Chafidz Rembang, KH. Nawawi, KH. Masruchan Brumbung, dengan sidang pertama di Rejoso Jombang. Kesepakatan kongres pada tanggal 19/20 Rabiul awal 1377 atau 10 Oktober 1957 sebagai hari lahir Jam’iyyah Ahli Thariqoh al-Mu’tabaroh. Pendirian Jam’iyyah ini telah direstui oleh KH. Dalhar Watucongol, walaupun pada saat itu beliau tidak berkenan naik panggung. 

Dalam kongres Jam’iyyah Ahli Thoriqoh ke 1 pada tanggal 12-13 Oktober 1957 di Tegalrejo Magelang dalam kapasitasnya sebagai ketua Panitia Kongres, KH. Nawawi dan Kyai Siraj Payaman yang paling banyak memberikan Jawaban setiap pertanyaan dari peserrta, termasuk dari Kiai Mahrus Lirboyo.


Maliana Muhimma, Mahasiswa Pascasarjana IAIN Jember dan Guru MTs Negeri 1 Jember
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG