IMG-LOGO
Nasional

Jokowi-Amin Unggul di TPS Gus Dur Ciganjur

Rabu 17 April 2019 19:0 WIB
Bagikan:
Jokowi-Amin Unggul di TPS Gus Dur Ciganjur
Jakarta, NU Online
Calon presiden dan calon wakil presiden nomor urut 01 Joko Widodo (Jokowi)-KH Ma'ruf Amin unggul dari pasangan capres dan cawapres nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno di lima tempat pemungutan suara (TPS) di Ciganjur, Jagakarsa, Jakarta Selatan. 

Kelima TPS tersebut adalah TPS 76, 77, dan 78 yang hanya seperlemparan batu dari kediaman Gus Dur, Jokowi-Amin unggul dengan selisih suara meyakinkan. Di TPS 76, paslon 01 ini memperoleh 125 suara. Sementara Prabowo-Sandi hanya meraup 86 suara dengan 4 suara tak sah.

Di TPS 77 Jokowi-Amin mendapat 108 suara, Prabowo-Sandi meraup 93 suara. Lalu, di TPS 78 paslon 01 meraih 105 suara. Paslon 02 memperoleh 87 suara.

Sementara dua TPS lainnya dekat kediaman Ketum PBNU KH Said Aqil Siroj, yakni TPS 72 dan 73, tepatnya di Gang Wahid Jalan Warung Sila Ciganjur, Jakarta Selatan.

Di TPS 72, Jokowi-Amin unggul dengan perolehan 94 suara. Sementara Prabowo-Sandi mendapatkan 89 suara. Di sini terdapat satu surat suara tidak sah.

Kemudian, di TPS 73, Jokowi-Amin unggul dengan merebut 100 suara, Prabowo-Sandi mendulang 92 suara. 

Ditemui di sekitar kediaman Gus Dur, Priyo Sambadha (mantan ajudan Presiden ke-4 RI KH Abdurrahman Wahid) mengaku senang sekaligus bersyukur atas perolehan tersebut.

“Ini kan bisa dibilang kawasan Gus Dur, TPS Mbak Yenny Wahid yang notabene pendukung Pak Jokowi. Kalau sampai kalah, malu kita,” ujar aktivis Gusdurian ini.

Menurut Priyo, perolehan tersebut berbanding terbalik dengan hasil Pilpres 2014 silam, di mana pasangan Prabowo-Hatta menang di hampir semua TPS di Ciganjur atas pasangan Jokowi-JK. "Waktu itu, kami para Gusdurian menyatakan netral," tandas Priyo. (Musthofa Asrori)

Bagikan:
Rabu 17 April 2019 23:30 WIB
Beginilah Alur Lengkap Rekapitulasi Suara Pemilu 2019 oleh KPU
Beginilah Alur Lengkap Rekapitulasi Suara Pemilu 2019 oleh KPU
Ilustrasi (Antara)
Jakarta, NU Online
Pemilihan Umum Serentak 2019 telah dilaksanakan di seluruh daerah di Indonesia, Rabu (17/4). Sesuai jadwal, Komisi Pemilihan Umum (KPU) memulai penghitungan suara pada hari yang sama hingga keesokan harinya (17-18 April). Namun, penghitungan di tempat pemungutan suara (TPS) tersebut hanya satu tahap dari sekian tahap penghitungan manual yang mesti dilalui oleh KPU. 

Penjelasan soal proses ini antara lain bisa dijumpai dalam infografik berjudul “Alur Hitung dan Rekap Suara Pemilihan Umum Serentak 2019” yang dirilis KPU. 

Mula-mula, surat suara di 899.563 TPS di seluruh Indonesia dihitung pada 17-18 April 2019. Selanjutnya surat suara akan dihimpun di tingkat kecamatan yang jumlahnya mencapai 7.201. Untuk tahap ini, KPU memperkirakan waktu proses dari 18 April-4 Mei 2019.

Berikutnya, penghitungan manual surat suara akan bergerak ke level yang lebih tinggi, yakni kabupaten/kota yang berjumlah 514, termasuk ke tingkat provinsi yang berjumlah 34. Proses ini akan berlangsung antara 22 April-12 Mei 2019. 

Tahap terakhir, rekapitulasi secara nasional suara hasil pemilu ditargetkan rampung dan siap diumumkan kepada masyarakat antara tanggal 25 April-22 Mei 2019.

Proses penghitungan dilakukan secara terbuka dengan dihadiri para saksi dan pengawas. Setiap saksi memperoleh dokumen hasil hitung atau rekap surat suara. KPU juga tak menutup bagi media massa dan elektronik untuk meliput proses hitung manual tersebut, bahkan masyarakat pun dipersilakan memfoto hasil pemilu.




Saat ini KPU masih bekerja melakukan hitung manual. Di samping itu, proses penghitungan melalui exit poll dan quick count (hitung cepat) juga dilakukan oleh puluhan lembaga yang mendapat izin resmi dari KPU.

Meski demikian, Pengurus Bsar Nahdlatul Ulama mengimbau warga untuk tidak merespons secara berlebihan hasil hitung cepat. Secara akademis, hasil exit poll dan quick count merupakan cerminan hasil pemilu.

"Namun bukan merupakan hasil akhir pemilu yang secara legal dapat dijadikan dasar penetapan perolehan suara caprer-cawapres. Hasil akhir perolehan suara pilpres adalah yang kelak ditetapkan dan diumumkan KPU Mei mendatang," kata Ketua PBNU Robikin Emhas.

Sebelumnya, Ketum PBNU KH Said Aqil Siroj mengajak kepada para konstestan, tim sukses, pendukung, simpatisan, tokoh-tokoh politik, tokoh-tokoh agama dan seluruh warga negara, serta aparat keamanan (TNI/Polri) agar bahu-membahu menciptakan suasana politik yang damai, tidak memprovokasi rakyat dengan berita hoaks dan ujaran kebencian; serta menerima hasil pemilu dengan legowo. 

“Jika merasa keberatan terhadap hasil pemilu, maka menggunakan prosedur dan mekanisme konstitusional yang tersedia, sebagaimana ketentuan peraturan perundangan-undangan yang berlaku. Pemilu adalah ‘pesta’ demokrasi yang selayaknya dirayakan dengan damai dan tetap menjaga semangat persaudaraan bukan permusuhan,” kata Kiai Said.

PBNU menilai, Pemilu 2019 adalah pemilu serentak pertama yang digelar bangsa Indonesia dan menjadi batu uji kesiapan bangsa Indonesia berdemokrasi secara maju dan beradab. Kesuksesan penyelenggaraan pemilu tahun ini akan mengokohkan persepsi dunia bahwa Indonesia—yang menyoritas Muslim—dapat menyandingkan Islam dan demokrasi dalam satu tarikan nafas. (Mahbib)
Rabu 17 April 2019 21:0 WIB
PBNU: Kontestan Pemilu Jangan Memprovokasi Rakyat!
PBNU: Kontestan Pemilu Jangan Memprovokasi Rakyat!
Jakarta, NU Online
Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj mengimbau masyarakat di seluruh penjuru Tanah Air untuk meningkatkan persaudaraan antarsesama anak bangsa. Perbedaan pilihan politik tidak seharusnya membuat masyarakat terpecah belah.

“Kepada seluruh saudara-saudaraku, mari kita bangun persaudaraan ukhuwah watahaniyah, persaudaraan kebangsaan. Kalau bukan kita yang menjaga (persaudaraan), siapa lagi?” kata Kiai Said terkait di Jakarta pasca-penyelenggaraan Pemilihan Umum Serentak 2019, Rabu (17/4).

Ia mengajak kepada seluruh warga untuk memperkuat integritas sebagai bagian dari implementasi nilai-nilai luhur dari Rasulullah. “Bukan umat Islam yang ideal bila kita tidak membangun perdamaian. Nabi bersabda, innamâ bu‘itstu li utammima makârimal akhlâq—sesungguhnya aku (Nabi) tak diutus kecuali untuk menyempurnakan akhlak. Akhlak itu persaudaraan,” tambah Kiai Said.

Sebelumnya, ketum PBNU bersama jajaran pengurus harian lainnya menyampaikan Taushiyah Kebangsaan NU Menyambut Pemilu Serentak 2019. PBNU antara lain mengajak kepada para kontestan, tim sukses, pendukung, simpatisan, tokoh-tokoh politik, tokoh-tokoh agama dan seluruh warga negara, serta aparat keamanan (TNI/Polri) agar bahu-membahu menciptakan suasana politik yang damai, tidak memprovokasi rakyat dengan berita hoaks dan ujaran kebencian; serta menerima hasil pemilu dengan legowo. 
“Jika merasa keberatan terhadap hasil pemilu, maka menggunakan prosedur dan mekanisme konstitusional yang tersedia, sebagaimana ketentuan peraturan perundangan-undangan yang berlaku. Pemilu adalah ‘pesta’ demokrasi yang selayaknya dirayakan dengan damai dan tetap menjaga semangat persaudaraan bukan permusuhan,” kata Kiai Said.

PBNU menilai, Pemilu 2019 adalah pemilu serentak pertama yang digelar bangsa Indonesia dan menjadi batu uji kesiapan bangsa Indonesia berdemokrasi secara maju dan beradab. Kesuksesan penyelenggaraan pemilu tahun ini akan mengokohkan persepsi dunia bahwa Indonesia—yang mayoritas muslim—dapat menyandingkan Islam dan demokrasi dalam satu tarikan nafas. 

“Karena itu, Nahdlatul Ulama mengimbau kepada semua pihak agar menjaga keamanan dan ketertiban, berpartisipasi dan berperan aktif memastikan penyelenggaraan pemilu yang damai, bersih, jujur, dan adil,” lanjut Kiai Said. (Mahbib)

Rabu 17 April 2019 20:20 WIB
Pesan Gus Mus untuk Pihak yang Menang dan Kalah dalam Pilpres
Pesan Gus Mus untuk Pihak yang Menang dan Kalah dalam Pilpres
Jakarta, NU Online
Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ahmad Mustofa Bisri atau Gus Mus memberikan pesan kepada pihak yang menang maupun yang kalah dalam Pilpres 2019. Hal ini sejurus dengan itung cepat atau quick count sejumlah lembaga survei yang merilis hasil pemungutan suara.

Pengasuh Pondok Pesantren Raudhatut Thalibin Leteh, Rembang, Jawa Tengah itu menyampaikan bahwa kemenangan tidak harus direspon dengan hura-hura atau euforia berlebihan. Hal itu untuk menjaga perasaan pihak yang kalah.

"Siapa pun yang menang, nggak usah hura-hura, euforia nggak usah. Diam-diam saja, nggak usah diperlihatkan. Kenapa, untuk menjaga perasaan pihak yang kalah. Jadi yang satu legowo, yang satu tidak euforia," ujar Gus Mus, Rabu (17/4/19) di Rembang dikutip NU Online dari detikcom.

Tasyakuran atau proses bersyukur dalam pandangan Gus Mus juga perlu diubah mindset-nya. Kiai yang juga sastrawan dan budayawan itu menyebut bahwa tasyakuran harus dimaknai tasyakuran kemenangan rakyat Indonesia mendapatkan pemimpin pilihan rakyat.

"Kita sudah berkali-kali melaksankan pemilu-pemilu seperti ini. Jadi tidak akan kaget lagi. Jadi kalau kita tasyakuran bukan tasyakuran calon, tapi tasyakuran untuk Indonesia," tutur Gus Mus.

Kepada masyarakat, dia berharap agar setiap warga negara memiliki kedewasaan dalam berdemokrasi. Menurutnya, siapa pun nanti pasangan paslon yang terpilih dan telah ditetapkan secara resmi oleh pihak penyelenggara Pemilu, agar masyarakat dapat menerimanya.

"Sama kalau demokrasi rapat, masing-masing bisa menyampaikan pendapat, silakan. Tapi nanti kalau sudah didok (diputuskan), semua harus sudah ikut. Kalau masih ada yang protes, dia kurang belajar demokrasi. Mudah-mudahan masyarakat kita sudah matang dalam berdemokrasi," harap Gus Mus. (Red: Fathoni)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG