IMG-LOGO
Internasional

Media Internasional Sebut Pilpres Indonesia 2019 Terbesar di Dunia

Kamis 18 April 2019 12:0 WIB
Bagikan:
Media Internasional Sebut Pilpres Indonesia 2019 Terbesar di Dunia
Ilustrasi (Antara)
Jakarta, NU Online
Indonesia menggelar pemilihan umum (pemilu) pada Rabu 17 April kemarin. Pada kesempatan itu, ada lima surat suara yang harus dicoblos oleh pemilih yaitu kertas suara untuk pemilihan presiden dan wakil presiden, DPR RI, DPRD provinsi, DPRD kabupaten/kota, dan DPD RI. 

Pemilu Indonesia 2019 diikuti oleh 192,83 juta jiwa (190,77 juta DPT dalam negeri dan 2,06 juta DPT luar negeri). Jumlah ini naik 2,4 juta dari pemilu 2014 silam. Pemungutan suara dilaksanakan di 809.500 tempat pemungutan suara (TPS), di mana setiap TPS melayani sekitar 200-300 orang di hari pencoblosan. 

Menariknya, pemilu Indonesia dilaksanakan secara langsung dan dalam waktu sehari saja, berbeda dengan beberapa negara demokrasi lainnya yang membutuhkan waktu beberapa hari bahkan pekan untuk menyelenggarakan pemilu. Hal itu membuat Harian New York Times, seperti dikutip BBC, Kamis (18/4), menyebut bahwa pemilu di Indonesia sebagai pemilihan presiden secara langsung terbesar di dunia (the world's largest direct presidential election).  

Sementara menurut lembaga kajian Australia, Lowy Institute, sebagaimana dikutip CNN, Pemilu Indonesia merupakan "satu hari pemungutan suara paling rumit" yang pernah dilakukan. Penilaian itu didasarkan pada distribusi logistik pemilu yang 'tidak biasa'. Disebutkan bahwa untuk mengirim surat dan kotak suara hingga ke pelosok-pelosok wilayah Indonesia maka ada yang menggunakan kuda dan melewati hutan belantara.

Pemilu Indonesia, pemilu terbesar ketiga di dunia

Pemilu Indonesia secara umum menjadi menjadi pemilu terbesar ketiga di dunia, setelah India dan Amerika Serikat (AS). Dikutip statista.com, ada 834,101 juta pemilih yang terdaftar pada pemilu India 2014. Di bawahnya diikuti Amerika Serikat dengan 214,109 juta pemilih pada pemilu 2016.

Sementara jumlah pemilih Indonesia pada pemilu 2019 mencapai 192,83 juta jiwa. Di posisi empat ada Brasil dengan jumlah pemilih sebanyak 147,306 juta jiwa pada pemilu 2018. Berturut-turut negara dengan pemilu terbesar kelima hingga kesepuluh adalah pemilu Rusia 2018 (109,008 juta), pemilu Pakistan 2018 (105,955 juta), pemilu Bangladesh 2018 (104,190 juta), pemilu Jepang 2014 (101,280 juta), pemilu Meksiko 2018 (89,250 juta), dan pemilu Nigeria 2019 (82,344 juta).

Seruan PBNU terkait Pemilu 2019

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) antara lain mengajak kepada para kontestan, tim sukses, pendukung, simpatisan, tokoh-tokoh politik, tokoh-tokoh agama dan seluruh warga negara, serta aparat keamanan (TNI/Polri) agar bahu-membahu menciptakan suasana politik yang damai, tidak memprovokasi rakyat dengan berita hoaks dan ujaran kebencian; serta menerima hasil pemilu dengan legowo. 

“Jika merasa keberatan terhadap hasil pemilu, maka menggunakan prosedur dan mekanisme konstitusional yang tersedia, sebagaimana ketentuan peraturan perundangan-undangan yang berlaku. Pemilu adalah ‘pesta’ demokrasi yang selayaknya dirayakan dengan damai dan tetap menjaga semangat persaudaraan bukan permusuhan,” kata Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj di Jakarta pasca-penyelenggaraan Pemilihan Umum Serentak 2019, Rabu (17/4). (Red: Muchlishon)
Bagikan:
Kamis 18 April 2019 16:30 WIB
Ingin Keluar, Muslim Rohingya di Tahanan Saudi Mogok Makan
Ingin Keluar, Muslim Rohingya di Tahanan Saudi Mogok Makan
Foto: rohingyavision.com
Jeddah, NU Online
Para pengungsi Rohingya yang ditahan di pusat tahanan Shumaisi Jeddah, Arab Saudi, melakukan aksi mogok makan. Mereka menolak makan dan mendesak otoritas Ssaudi agar membebaskan mereka dari pusat tahanan itu. Aksi ini menjadi yang ketiga kalinya dalam beberapa bulan terakhir. Akibatnya, tujuh orang Rohingya harus dilarikan ke rumah sakit setelah menggelar aksi mogok makan tersebut pada Selasa (16/4) malam. 

Koordinator Kampanye untuk Koalisi Rohingya Bebas Ro Nay San Lwin mengatakan, aksi mogok makan dimulai sejak Sabtu (13/4) lalu. Meski demikian, dia menyebut kalau aksi pemogokan masih berlanjut di 10 kamar tahanan meski ada tujuh orang yang harus dibawa ke rumah sakit.

Dilaporkan bahwa sekitar 650 laki-laki etnis Rohingya ditahan di pusat tahanan Shumaisi di Jeddah sejak 2012 silam. Mereka ditahan karena tidak memiliki dokumen yang valid dan lengkap. “Polisi imigrasi melecehkan mereka, (mereka) mengatakan jika Anda (tahanan Rohingya) terus melakukan mogok makan, kami bahkan tidak akan memberi Anda air," kata Lwin dalam sebuah wawancara telepon dari Frankfurt, Jerman, seperti dikutip laman Aljazeera, Kamis (18/4).

"Mereka tidak melakukan kejahatan. Satu-satunya kejahatan mereka karena dianggap tak punya dokumen lengkap dan lalu mereka ditahan," tambahnya.

Sementara Ketua LSM Dewan Rohingya Eropa (ERC) Ambia Perveen, berdasarkan video yang diterimanya, menyebutkan bahwa polisi telah mengambil kasur, bantal, selimut, dan kebutuhan lainnya tahanan Rohinya di Shumaisi.

Sejumlah pengungsi Rohingya memasuki wilayah Arab Saudi pada 2012 lalu untuk mencari kehidupan yang lebih baik, menyusul kekerasan yang terjadi di kampung halaman mereka, di Negara Bagian Rakhine, Myanmar. Banyak dari mereka memasuki Arab Saudi dengan visa haji atau umrah, tetapi mereka kemudian tinggal lebih lama untuk bekerja. Mereka ditahan di berbagai pos pemeriksaan imigrasi dan selama razia. (Rred: Muchlishon)
Selasa 16 April 2019 19:45 WIB
WNI di Los Angeles Antre 3 Jam Ikuti Pemilu
WNI di Los Angeles Antre 3 Jam Ikuti Pemilu
Faradilla Al-Fath usai mencoblos di KJRI di LA, Sabtu (13/4).

Jakarta, NU Online

Warga Indonesia di luar negeri tak ketinggalan menggunakan hak suara mereka dalam pemilu 2019 ini. Tempat pencoblosan yang jauh, dan beberapa kendala lainnya tidak menyurutkan banyak WNI untuk tetap mendatangi tempat pemungutan suara.

Di Los Angeles, Amerika Serikat, Faradilla Al-Fath, rela mengantre tiga jam dalam proses pemungutan suara, Sabtu (13/4) lalu.

Gadis asal Tangerang, Banten ini, sebenarnya mahasiswi Master of Public Administration (MPA) di Arizona State University. Ia pun datang ke KJRI Los Angeles, tempat dirinya bisa mengikuti pemilu.

Dila mengaku datang pukul lima sore waktu setempat. Dirinya tidak terdaftar dalam daftar pemilih tetap. Namun, daftar pemilih khusus (DPK). Mereka yang masuk DPK ini baru boleh mengikuti pencoblosan satu jam sebelum TPS ditutup.

"Karena penutupan jam sembilan malam, saya sebagai DPK baru boleh mencoblos jam delapan malam," kata Dila, dihubungi dari Jakarta, Selasa (16/4).

Namun, untuk menuju pukul delapan, dia harus mengantre sejak pukul 18.30. Ia mengantre dalam posisi berdiri, sesekali harus mengecek paspor, mengecek titik-titik persiapan pencoblosan. Apalagi dirinya baru benar-benar mencoblos pada pukul 21.30.

Dila mengaku ini adalah pengalaman pertama dirinya mengikuti pemilu. Tahun 2014 lalu, ia sudah berhak mencoblos, namun karena sedang perjalanan dari Tangerang ke Jawa Timur, ia tidak bisa mencoblos.

Sebagai orang yang baru mengikuti pemilu, terlebih pertama pula mengikuti pemilu di luar negeri, Dila mengatakan hal itu sebagai pengalaman yang seru.

Di Arizona sendiri, lokasi tingga dan kuliah Dila, tidak banyak komunitas warga Indonesia. Sudah delapan bulan meninggalkan Indonesia, jarang pula menikmati makanan yang biasa dia temukan di Indonesia. Sementara di lokasi pemungutan suara di KJRI Los Angeles, berkumpul masyarakat Indonesia. Ada bazar makanan Indonesia, batik, jilbab, stand-stand daerah termasuk Papua, penggalangan dana.

"Ada joget bareng dan karaoke bareng. Ada pojok bermain buat anak," imbuh Dila yang juga tergabung dalam Temu Kebangsaan (Tembang) sebuah forum anak-anak muda Indonesia dari beragam etnis dan agama yang menyuarakan kebersamaan dalam keberagaman.

Oleh karena itu, Dila merasakan komunitas Indonesia yang sangat kuat. "Mereka datang ke LA, sebagai keluarga besar Indonesia," ujarnya.

Suasana pencoblosan di KJRI LA, menurut Dila juga menggambarkan antusiasme WNI dalam menggunakan suaranya. Terbukti dengan panjang dan lamanya mereka mengantre.

Menurut Dila, mereka yang masuk DPT nantinya membawa formulir A5 ke KJRI LA. Adapun yang belum terdaftar di DPT bisa masuk ke dalam pemilih khusus (DPK). "Yang masuk DPK tinggal datang ke KJRI dengan paspor yang masih berlaku dengan ketentuan surat suaranya masih ada. Karena prioritas surat suaranya adalah untuk yang terdaftar DPT," urai Dila.

Secara garis besar pemilihan presiden di KJRI LA sangat menarik. Karena sangat terasa nuansa kekeluargaan di antara mereka. "Sangat mengobati kangen rumah apalagi bagi saya yang tinggal jauh dari komunitas Indonesia," imbuh Dila.

Melalui pemilu kali ini, Dila berharap semoga siapa pun yang terpilih akan menjadi pemimpin yang siap mengemban amanah, mampu mengayomi, serta dapat mempromosikan Indonesa ke luar negeri.

"Mampu menangani kasus intoleransi, serta membuat Indonesia menjadi rumah terbuka dan rumah bersama warga dari berbagai agama, suku, ras, dan kalangan," harap Dila.

Adapun harapan untuk pemilu agar berlangsung jujur. Dila yakin Panwaslu sudah bekerja keras. Ia menyayangkan adanya kabar yang berseliweran, di mana pemilu di satu wilayah di luar negeri yang chaos. Padahal, itu karena banyaknya DPK sementara surat suara terbatas.

"Karena itu, kalau mau memilih DPT diprioritaskan. Jangan ada narasi Pansawlu bermain curang memilih salah satu kubu. Saya sendiri yang mengalami jadi DPK. Konsekuensinya ya harus antre, surat suara terbatas, tidak serta-merta menyalahkan Panswaslu. Anggota Panswaslu di KJRI LA saja tiga harian pulang pagi. Paginya ke Konjen lagi buat mengurus pemilu. Jangan ditambah beban lagi," katanya.

Para pemilih di luar negeri, kata Dila, seharusnya tahu dan sadar diri. Jika datang sebagai turis dan memilih di luar negeri agar membawa kertas A5. "Kalau mau milih dan dijamin surat suaranya daftar ke DPT. Nggak bisa sembarangan mau milih di mana. Jangan membuat gaduh. Karena KPU atau Panswaslu sudah bekerja dengan baik. Ini (saran) berlaku untuk semua kubu," pungkasnya. (Kendi Setiawan)


Selasa 16 April 2019 15:0 WIB
Kompleks Masjid Al-Aqsa Terbakar
Kompleks Masjid Al-Aqsa Terbakar
Ilustrasi Masjid Al-Aqsa. Foto: Anadolu Agency
Yerusalem, NU Online
Sebuah kompleks Masjid Al-Aqsa di Yerusalem terbakar pada Senin (15/4) malam waktu setempat. Beruntungnya, pemadam kebaran pada Departemen Wakaf Islam untuk Masjid Al-Aqsa berhasil memadamkan kobaran api sehingga kebakaran itu tidak sampai menyebabkan kerusakan yang parah.

Sebagaimana dilaporkan Newsweek, Selasa (16/4), kebakaran di Masjid Al-Aqsa tersebut tepatnya terjadi di ruang shalat Marwani. Sebagaimana diketahui, ruangan ini terletak di sebelah tenggara yang juga disebut sebagai Kubah Batu, lokasi Masjid Al-Aqsa.

Dilaporkan kalau api tersebut berasal dari ruang penjaga masjid yang letaknya berada di atas ruang shalat Marwani. Menurut Direktur Wakaf Yerusalem dan Masjid Al Aqsa, Syekh Azzam al-Khatib, api yang melalap ruang Marwani dipicu oleh anak-anak yang sedang bermain petasan di sekitar kompleks Masjid Al-Aqsa. Oleh karenanya, para jamaah diimbau untuk mendidik anaknya agar tidak bermain api di kompleks Masjid Al-Aqsa.

“Jamaah yang tinggal di sekitar masjid dan di Old City untuk mendidik anak-anak mereka untuk tidak bermain dengan api, khususnya di dalam Masjid Al-Aqsa," imbau Departemen Wakaf Islam dalam sebuah pernyataannya.

Meski demikian, kepolisian Israel mulai menyelidiki apa penyebab dari kebakaran di kompleks Masjid Al-Aqsa itu. Sebagaimana diketahui, kompleks yang terletak di Kota Tua, Yerusalem Timur, semula diduduki Yordania pada saat perang Arab-Israel pada 1948. Namun kemudian Israel berhasil merebutnya pada perang 1967. Meski Israel menduduki semua wilayah Yerusalem semenjak tahun 1980, akan tetapi Yordania diberikan hak sebagai juru kunci Kompleks Al-Aqsa. (Red: Muchlishon) 
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG