IMG-LOGO
Humor

Quick Count dan Real Count Setelah Nyoblos

Kamis 18 April 2019 19:30 WIB
Bagikan:
Quick Count dan Real Count Setelah Nyoblos
Ilustrasi humor
Pemilu serentak serasa istimewa bagi Waskito. Keluar dari tempat pemungutan suara, ia dan istri serta 3 orang anaknya yang sudah memiliki hak pilih nampak sumringah. Waskito optimis jagoan yang dipilihnya menang.

Karena hari pencobolosan merupakan hari libur nasional, Waskito bersama keluarganya memutuskan jalan-jalan ke sebuah tempat. Waktu sudah mencapai siang hari. Mereka mampir di sebuah warung bernama “Ibu Gito”, warung khas yang menyediakan makanan laut, seafood.

Selesai makan, Waskito memanggil seorang pelayan untuk menghitung semua jenis makanan yang telah dihabiskan dirinya dan keluarganya.

"Berapa semua, Mbak?" tanya Waskito.

"Apa saja yang dimakan pak?"

“Kakap bakar, cumi pedas, sate udang, kerang sambal ijo, kepiting, ditambah cah kangkung, dan lalap,” jawab Waskito.

Si Mbak pelayan terlihat komat-kamit menghitung menu yang telah dimakan Waskito dan keluarganya.

"Terhitung 250 ribu pak. Bayarnya ke kasir ya," ujar Mbak pelayan.

Waskito menuju kasir. Sampai di meja kasir Waskito kembali mengulang menu yang dimakan sekeluarganya.

"Semua 260 ribu, Pak," kata si kasir.

"Lho, kok beda 10 ribu. Kata si mbak tadi 250 ribu?” kata Waskito.

"Owh... itu kan hitung cepat (quick count), Pak. Hitungan asli (real count) ada di saya. Errornya cuma 1 persen kok pak," jawab si kasir enteng. (Fathoni)
Tags:
Bagikan:
Jumat 12 April 2019 11:30 WIB
Kisah Gus Dur dan Abu Nawas Mengelabui Malaikat Munkar-Nakir
Kisah Gus Dur dan Abu Nawas Mengelabui Malaikat Munkar-Nakir
Kiai Said Aqil di Bekasi, Jabar
Bekasi, NU Online
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj berkisah tentang malaikat munkar-nakir yang tidak pernah berkesempatan bertanya kepada Gus Dur di alam kubur.

"Karena malaikat itu akan datang ketika pengantar jenazah paling terakhir meninggalkan makam tujuh langkah," katanya dalam Silaturahim & Inaugurasi Alumni Madrasah Kader Nahdlatul Ulama (MKNU) PWNU Jawa Barat, di Islamic Centre KH Noer Ali Bekasi, Kamis (11/4).

Tapi rupanya, Pengasuh Pondok Pesantren Luhur Al-Tsaqafah Jakarta ini melanjutkan, makam Gus Dur tidak pernah sepi dari awal hingga kini. 

"Ketika malaikat mau nanya, eh ternyata masih ada orang, gak jadi. Begitu terus sampai sekarang makam Gus Dur tidak pernah sepi dari peziarah," jelasnya disambut tawa ribuan Alumni MKNU dari Purwakarta, Subang, Depok, dan Bekasi. 

Selain itu, Kiai Said juga bercerita soal Abu Nawas yang berhasil mengelabui malaikat di alam kubur. Dikatakan, Abu Nawas sebelum wafat berpesan terlebih dulu kepada anaknya.

"Nanti kalau ayah mati, tubuh ayah ingin dibalut kain kafan yang paling lusuh. Bahkan kalau bisa yang sudah dekil, kumal, atau yang sudah robek-robek," kata Kiai Said mengilustrasikan pesan Abu Nawas. 

Sang anak penasaran lantaran pesan yang tak masuk akal itu. Namun, Abu Nawas sama sekali tidak membeberikan alasan mengenai pesan atau keinginan yang tidak biasa.

"Singkat cerita, Abu Nawas wafat. tubuhnya dipakaikan kain kafan sesuai permintaannya itu," jelas Kiai Said.

Saat pengantar jenazah Abu Nawas yang paling terakhir sudah tujuh langkah meninggalkan makam, malaikat munkar-nakir datang bermaksud ingin bertanya kepada Abu Nawas.

Namun, apa yang terjadi?  "Oh, salah masuk nih, ini orang lama ternyata," kata Kiai Said, meniru ucapan munkar-nakir yang membuat hadirin terkekeh-kekeh. (Arul Elgete/Muiz)

Jumat 12 April 2019 10:20 WIB
Jumatan dan Pilpres
Jumatan dan Pilpres
Ilustrasi humor
Siang itu terasa terik bagi Abdul, bocah kelas lima sekolah dasar. Cuaca panas tersebut tepat di hari Jumat. Bapaknya Abdul bernama Rojak tak henti-hentinya mengingatkan Abdul untuk berangkat shalat Jumat.

Rojak pun agak sedikit naik pitam melihat si Abdul ternyata keukeuh tidak mau berangkat shalat Jumat.

Nak, kamu sudah beranjak kelas lima SD, sudah wajib Jumatan,” kata Rojak.

“Saya tahu Pak, tapi sekali ini saya ‘libur’ deh...,” ucap si Abdul.

“Jumatan kok libur?” timpal si Bapak.

“Kata teman saya di sekolah tadi, ada pemeriksaan di masjid,” ungkap Abdul.

“Pemeriksaan apa?” tanya Rojak sedikit heran.

“Katanya yang pakai baju putih harus ganti karena dianggap kampanye pilpres. Lah, tiap Jumatan kan saya pakai baju putih...,” terang Abdul. (Ahmad)
Ahad 7 April 2019 17:15 WIB
Tidak Fasih ‘Ya Lal Wathon’
Tidak Fasih ‘Ya Lal Wathon’
Ini kisah  di salah satu kabupaten di Kalimantan Barat, di sebuah acara PCNU yang dihadiri para pejabat daerah dan tamu lainnya.

Seperti acara-acara NU umumnya, lagu Ya Lal Wathon selalu dinyanyikan bersama. Tapi tidak semua hadirin hafal atau fasih mengucapkan teks Arab syair ciptaan KH Abdul Wahab Chasbullah itu.

Banyak yang berusaha menfasih-fasihkan hingga wathon dilafalkan menjadi wadon. Jadilah lagu Ya Lal Wathon berbunyi seperti ini: 

Ya lal wadon ya lal wadon ya lal wadon, hubbul wadon minal iman
(Wahai para pecinta perempuan [wadon, jawa], mencintai perempuan itu sebagian dari iman

Saya terkekeh mendengarnya. Seandainya Mbah Wahab tahu, saya yakin beliau tak akan marah. Mungkin malah turut tertawa. (Ahmad Inung)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG