::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Lima Sikap Teladan Nabi Muhammad kepada Istrinya

Jumat, 19 April 2019 17:00 Sirah Nabawiyah

Bagikan

Lima Sikap Teladan Nabi Muhammad kepada Istrinya
Ilustrasi suami-istri (©shutterstock.com/PixAchi)
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik…” (QS. Al-Ahzab: 21)

Nabi Muhammad saw. menjadi teladan paripurna dalam menjalani kehidupan di dunia ini bagi seluruh umat Islam. Tidak hanya dalam urusan ibadah saja, tapi juga dalam hal muamalah atau berinteraksi sosial, termasuk berhubungan dengan istri. Nabi Muhammad saw. telah memberikan contoh bagaimana seharusnya mengarungi biduk rumah tangga dengan baik. Sehingga ‘tujuan’ menikah atau berumah tangga yaitu sakinah (ketentraman) bisa diraih. Karena bagaimanapun kehidupan rumah tangga Nabi Muhammad saw. merupakan aplikasi dari nilai-nilai qur’ani.

Lantas bagaimana sesungguhnya Nabi Muhammad saw. bersikap dan berhubungan dengan istrinya? 

Setidaknya ada lima sikap teladan Nabi Muhammad saw. kepada istrinya. Pertama, menghibur istri yang sedih. Nabi Muhammad saw. adalah suami yang tahu apa yang harus dilakukan ketika istrinya sedang bersedih. Beliau selalu mendengarkan curhatan istrinya, menghibur jika istrinya tersakiti, menghapus air mata istri dan menggantinya dengan senyuman.

Terkait hal ini, ada cerita menarik. Suatu ketika Hafshah binti Umar bin Khattab, seorang istri Nabi Muhammad saw., melontarkan kata-kata yang menyakiti hati Shafiyyah, seorang istri Nabi Muhammad saw. yang lainnya. Hafshah ‘mengejek’ Shafiyyah dengan sebutan 'anak perempuan Yahudi'. Memang, Shafiyyah adalah anak perempuan dari Huyay, seorang pimpinan Yahudi terpandang dari Bani Nadhir. Namun kata-kata Hafshah itu membuatnya menangis. Kemudian Shafiyyah mengadu kepada Nabi Muhammad saw. terkait hal itu. 

“Sesungguhnya engkau (Shafiyyah) adalah putri seorang nabi, pamanmu adalah seorang nabi, dan engkau pun berada di bawah naungan nabi. Maka apakah yang ia banggakan atas dirimu?” kata Nabi Muhammad saw. melipur lara istrinya yang tersakiti, Shafiyyah, merujuk buku Rasulullah Teladan untuk Semesta Alam (Raghib as-Sirjani, 2011).

Kedua, romantis. Sikap romantis merupakan upaya untuk menjaga agar cinta terus bersemi di hati. Menjadi seorang nabi dan rasul tidak menghalangi Nabi Muhammad saw. untuk berlaku romantis kepada istrinya. Sebagaimana riwayat Sayyidah Aisyah, suatu ketika Nabi Muhammad saw. pernah menggigit daging di bekas gigitannya Sayyidah Aisyah dan minum di bekas mulutnya istrinya itu. Jika malam tiba, Nabi Muhammad saw. juga mengajak Sayyidah Aisyah jalan-jalan sambil berbincang-bincang. Itu sikap romantis yang ditunjukkan Nabi Muhammad saw. kepada istrinya, makan dan minum dalam satu wadah yang sama. 

Ketiga, tidak membebani istri. Nabi Muhammad saw. senantiasa mengerjakan pekerjaannya sendiri. Tidak pernah Nabi Muhammad saw. membebani istrinya dengan pekerjaan-pekerjaan yang bisa dikerjakannya sendiri. Nabi menyulam pakaiannya yang robek sendiri. Menjahit sandalnya yang putus sendiri. Tidak hanya itu, Nabi Muhammad saw. juga membantu istrinya untuk menyelesaikan pekerjaan rumah.

“Rasulullah senantiasa melakukan pekerjaan rumah tangga (membantu urusan rumah tangga). Apabila waktu shalat tiba, maka beliau pun keluar untuk shalat,” kata Sayyidah Aisyah dalam sebuah riwayat.

Keempat, melibatkan istri dalam kejadian penting. Nabi Muhammad saw. kerapkali curhat kepada istrinya terkait dengan persoalan yang tengah dihadapi. Dengan bercerita kepada istrinya, Nabi Muhammad saw. berharap ada solusi yang didapatkannya. Salah satu istri Nabi Muhammad saw. yang sering menjadi teman curhat adalah Sayyidah Ummu Salamah, yang memang terkenal kecerdasannya.

Terbukti, Sayyidah Ummu Salamah pernah beberapa kali memberikan solusi atas persoalan yang menimpa Nabi Muhammad saw. Diantaranya adalah kejadian setelah ditandatanganinya Perjanjian Hudaibiyah pada tahun ke-6 Hijriyah. Perjanjian Hudaibiyah dinilai para sahabat merugikan umat Islam. Alasannya, sesuai dengan isi perjanjian, umat Islam yang saat itu hendak menjalankan ibadah umrah. Mereka baru diperbolehkan umrah tahun depan. 

Setalah menandatangai perjanjian, Nabi Muhammad saw. mengajak kepada para sahabatnya untuk mencukur rambut mereka masing-masing dalam rangka bertahalul sebelum kembali ke Madinah. Namun, para sahabat enggan menuruti ajakan Nabi Muhammad saw. tersebut. Hal itu membuat Rasulullah ‘kesal’. Nabi Muhammad saw. lalu menceritakan kejadian itu kepada Sayyidah Ummu Salamah yang saat itu ikut dalam rombongan. 

Kata Sayyidah Ummu Salamah: “Wahai Rasulullah, keluarlah sehingga mereka melihatmu, namun jangan berbicara dengan seorang pun. Lalu sembelihlah untamu dan panggil tukang cukur untuk memotong rambutmu.” Rasulullah menuruti saran Sayyidah Ummu Salamah. Beliau keluar dari tendanya, tidak bicara dengan siapapun, kemudian menyembelih  untanya dan mencukur rambut. Dan benar. Setelah Rasulullah melaksanakan usulan Sayyidah Ummu Salamah, para sahabat berbondong-bondong mengikuti apa yang dilakukan Rasulullah.

Kelima, tidak pernah memukul dan menyakiti istri. Suatu ketika Sayyidah Aisyah berbicara dengan nada tinggi kepada Nabi Muhammad saw. Sayyidina Abu Bakar yang saat itu berada di kediaman Nabi Muhammad saw. mendengar dan tidak rela kalau Nabi Muhammad saw. diperlakukan seperti itu, meski oleh anaknya sendiri. Bahkan, Sayyidian Abu Bakar berusaha untuk memukul Sayyidah Aisyah. Tapi, Nabi Muhammad saw. buru-buru mencegahnya. Nabi Muhammad saw. tidak ingin istrinya tersakiti, meski oleh orang tuanya sendiri ataupun Nabi sendiri.

Sikap Nabi Muhammad saw. yang tidak pernah memukul atau menyakiti  istrinya diperkuat dengan pernyataan Sayyidah Aisyah dalam sebuah riwayat. Kata Sayyidah Aisyah, Rasulullah tidak pernah memukul istrinya sekalipun. Malah beliau melipur lara istrinya yang menangis karena suatu hal. (A Muchlishon Rochmat)