IMG-LOGO
Nasional

PBNU: Presiden Terpilih Diharapkan Dapat Tingkatkan Daya Saing Ekonomi Indonesia

Sabtu 20 April 2019 3:0 WIB
Bagikan:
PBNU: Presiden Terpilih Diharapkan Dapat Tingkatkan Daya Saing Ekonomi Indonesia
Jakarta, NU Online
Pengurus Besar Nahdlatul Ulama berharap, presiden dan wakil presiden yang terpilih dapat meningkatkan daya saing perekonomian Indonesia baik di dalam maupun di luar negeri.

“Saya berharap, siapa pun nanti presiden dan wakil presiden yang terpilih dapat meningkatkan daya saing perekonomian Indonesia,” kata Ketua PBNU Bidang Ekonomi H Eman Suryaman di Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Jumat (19/4).

Menurut Eman, agar perekonomian Indonesia mampu berdaya saing, maka kebijakan pemerintah harus berpijak kepada ekonomi kecil, menengah, dan atas. Ia mengatakan, pemerintah harus bersinergi dan mewadahi ketiganya.

"Kalau ketiganya dapat diwadahi dan bersinergi, maka ekonomi Indonesia akan maju, ketika ekonominya maju, kesejahteraan masyarakat secara otomatis dapat tercapai,” ucapnya.

Namun demikian, ia mempunyai catatan yang tidak boleh diabaikan pemerintah, yakni menciptakan keamanan dan kedamaian di dalam negeri.

“Kesejahteraan itu dapat terwujud apabila terciptanya kedamaian dan kesejukan di Indonesia. Jadi, pemerintah harus berusaha menciptakan keamanan dan kedamaian itu,” imbuhnya.

Ia menegaskan bahwa Indonesia merupakan negara besar. Indonesia bahkan masuk ke dalam kelompok negara dengan perekonomian besar di dunia, G20.

Negara G20 adalah negara yang terdiri atas 19 negara dengan perekonomian besar dan ditambah dengan Uni Eropa. Tujuan utama G20 adalah menghimpun para pemimpin negara ekonomi maju dan berkembang utama dunia untuk mengatasi tantangan ekonomi global.

“Walau pun sudah masuk G20, perekonomian Indonesia mesti terus ditingkatkan,” ucapnya.

Ia meyakini perekonomian Indonesia bisa terus meningkat karena secara geografis, letak Indonesia menguntungkan, yakni Indonesia terletak di antara dua benua dan dua samudra, yaitu di antara Benua Asia yang terletak di sebelah utara Indonesia  dan Benua Australia yang terletak di sebelah selatan Indonesia, dan terletak di antara dua samudra, yaitu Samudra Pasifik di sebelah timur Indonesia dan Samudra Hindia di sebelah barat Indonesia.

Selain geografis, sambungnya, kekayaan alam dan jumlah penduduknya yang banyak juga menjadi faktor penting. Menurutnya, jika ketiga hal tersebut dapat dikelola dengan baik, tidak menutup kemungkinan perekonomian Indonesia maju dan menjadi macan Asia. (Husni Sahal/Abdullah Alawi)

Bagikan:
Sabtu 20 April 2019 23:45 WIB
Syariat dan Hakikat Harus Diamalkan secara Seimbang
Syariat dan Hakikat Harus Diamalkan secara Seimbang
Tangerang Selatan, NU Online
Ketua Mahasiswa Ahlith Thoriqoh Al-Mu’tabaroh An-Nahdliyyah (MATAN) DKI Jakarta KH Ali M Abdillah mengatakan, ketika seseorang mempelajari syariat maka sudah seharusnya dia juga belajar tentang hakikat. Mengapa? Keduanya harus satu kesatuan, tidak bisa dipisah-pisahkan.

Menurut Kiai Ali, kalau seseorang hanya mempelajari syariatnya saja maka ia akan mudah mengkafirkan karena mengkaji agama secara ‘tekstual’. Begitu pun sebaliknya, jika seseorang hanya mempelajari agama saja maka mereka akan menjadi zindik (orang yang tersesat imannya.

Menurut Pengasuh Pengasuh Pesantren al-Rabbani Islamic College itu, hal itu sudah pernah terjadi pada masa Raden Ngabehi Rangga Warsita. Ketika itu, Raden Rangga Warsita mengkaji dan mengamalkan syariat dan hakikat secara seimbang. Namun para pengikutnya salah memahaminya, sehingga hanya mengamalkan hakikatnya saja dan meninggalkan syariat. 

"Padahal Raden Rangga Warsita menyeimbangkan keduanya, baik syariat maupun hakikat," ungkap Kiai Ali dalam diskusi di Sekretariat Islam Nusantara Center (INC), Tangerang Selatan, Sabtu (20/4).

Akibatnya, imbuh Kiai Ali, para penganut Raden Rangga Warsita tidak shalat lagi karena menganggap itu tidak diperlukan lagi. Mereka meninggalkan ibadah syariat dengan dalih bahwa dirinya sudah mengakui keberadaan Allah. 

"Semisal sudah tidak diperlukannya shalat, sebab dirinya sudah mengakui keberadaan Tuhan," paparnya. 

Oleh karenanya, keduanya harus dijalankan secara bersamaan. Tidak bisa bisa dipisahkan antara yang satu dengan yang lainnya. Karena menurut Kiai Ali, keduanya harus satu kesatuan. (Nuri Farihatin/Muchlishon)
Sabtu 20 April 2019 19:0 WIB
Alasan Mengapa Orang Modern Perlu Bertarekat
Alasan Mengapa Orang Modern Perlu Bertarekat
Tangerang Selatan, NU Online
Sekretaris Awwal Jam'iyyah Ahlit Thariqah Al-Mu'tabarah An-Nahdliyyah (JATMAN) KH Ali M Abdillah mengatakan, di tengah maraknya pandangan hidup yang hedonis dan materialis di dunia modern seperti saat ini maka orang perlu bertasawuf dan bertarekat. Bagi Kiai Ali, pandangan hedonis dan materialis menyisakan masalah karena puncak dari pencarian mereka adalah ‘kehampaan’ atau ‘sesuatu ‘yang kosong’. 

“Akhirnya ujung-ujungnya yang terjadi stress, depresi, dan sebagainya,” kata Kiai Ali di Sekretariat Islam Nusantara Center (INC), Tangerang Selatan, Sabtu (20/4).

Kiai Ali menjelaskan, kebutuhan fisik orang dengan pandangan hedonis dan materialis memang sudah terpenuhi, namun kebutuhan rohaninya tidak karena memang tidak pernah diberi ‘makan’, baik dengan ilmu ataupun amal. Menurutnya, tasawuf dan tarekat bisa menjawab persoalan yang menjangkiti manusia modern tersebut.

Ketua Mahasiswa Ahlit Thariqah Al-Mu'tabarah An-Nahdliyyah (MATAN) DKI Jakarta ini menegaskan, praktik tarekat di dunia modern tidak akan mengganggu aktivitas sehari-hari. Sebab, dzikir untuk mengingat Allah bisa dilakukan kapan saja dan dimana saja. Justru, hidup orang yang bertasawuf dan bertarekat akan lebih tenang.

“Orang modern yang bertasawuf dan bertarekat ini justru membantu menjadikan hidup lebih tenang. Menjadi hamba Allah yang lebih patuh dan taat,” terangnya.

Orang-orang yang bertasawuf dan bertarekat, imbuhnya, mengetahui bahwa musuh dari dirinya adalah nafsu yang dalam dirinya sendiri. Sehingga jika dia mengikuti hawa nafsunya maka sama saja dia mengikuti langkah-langkah setan. “Sementara tasawuf mengajarkan kita untuk melawan ajakan-ajakan setan yang ada di dalam diri kita. Sebab setan itu nyata di dalam diri kita, tapi tidak nampak,” ungkap Pengasuh Pesantren al-Rabbani Islamic College ini.

Kiai Ali menambahkan, sebagaimana keterangan dalam Al-Qur’an, setan masuk ke dalam diri manusia melalui aliran darah. Maka dari itu, darah orang yang bertarekat –karena banyak riyadhah seperti dzikir dan puasa- penuh dengan cahaya ketuhanan (nur ilahiyyah). 

“Maka bagi orang-orang modern, dengan mengikuti tasawuf dan tarekat yang diamalkan, bukan sebatas teori, itu sangat membantu memberikan ketenangan hidup lahir dan batin sehingga tercapai lah kebahagiaan dunia dan akhirat,” tukasnya.(Muchlishon)
Sabtu 20 April 2019 17:15 WIB
PBNU Imbau Masyarakat agar Sabar Menunggu Hasil Pemilu dari KPU
PBNU Imbau Masyarakat agar Sabar Menunggu Hasil Pemilu dari KPU
Jakarta, NU Online
Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengimbau kepada seluruh warga negara Indonesia, terutama umat Islam agar bersabar menunggu hasil rekapitulasi penghitungan suara dari Komisi Pemilihan Umum.

“Saya mengimbau kepada seluruh warga Indonesia agar sabar menunggu hasil penghitungan suara (dari KPU) sampai selesai,” kata Kiai Said di Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Sabtu (20/4).

Kiai Said juga mengimbau semua pihak menerima dengan lapang dada atas hasil pemilu. KPU akan menetapkan hasil pemilu 2019 paling lama 35 hari setelah pemungutan suara pada Rabu, 17 April 2019. Sehingga, hasil resmi pemilu 2019 baru bisa diketahui paling lama pada 22 Mei 2019.

“Apa pun hasilnya, sebagai umat yang dewasa, berbudaya, berkeperibadian, mempunyai integritas yang tinggi, maka harus menerima dengan lapang dada, besar hati, dengan sikap negarawan. Inilah demokrasi, pasti ada yang menang dan ada yang kalah,” ucapnya.

Menurutnya, Islam tidak menolak sistem demokrasi, bahkan keduanya saling melengkapi. Tak hanya itu, sambungnya, Al-Qur’an sendiri memerintahkan agar menjalankan musyawarah.

Sehingga menurutnya, tidak dibenarkan jika ada yang menolak hasil pemilu dengan cara-cara yang inkonstitusional, bahkan melakukan tindakan yang menjurus kepada perpecahan. Sebaliknya, semua pihak harus saling menyayangi dan menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia.

“Mari kita sayangi, kita rawat, kita jaga persatuan dan kesatuan berangkat dari semangat ukhuwah wathaniyah (persaudaraan sesama warga bangsa),” ajaknya.

Ia mengemukakan bahwa perjalanan pemilu di Indonesia yang damai ini mendapat apresiasi dari dunia internasional. Indonesia dengan penduduk mayoritas muslim, mampu menjalankan demokrasi dengan baik.

“Itu penilaian dari masyarakat dunia internasional,” ucapnya. (Husni Sahal/Abdullah Alawi)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG