IMG-LOGO
Nasional

PBNU: Percayakan Sepenuhnya Penghitungan Suara kepada KPU

Sabtu 20 April 2019 9:45 WIB
Bagikan:
PBNU: Percayakan Sepenuhnya Penghitungan Suara kepada KPU
Jakarta, NU Online
Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) meminta masyarakat untuk mempercayai proses penghitungan suara oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU). Hal itu ditegaskan oleh Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj yang juga mempercayakan sepenuhnya kepada KPU atas proses penghitungan suara yang sedang berjalan.

Kiai Said juga meminta kepada seluruh komponen masyarakat untuk bersabar. Tidak terburu-buru menghukumi atau menuduh (men-justice) dari proses yang ada.

"Jadi kita harus sabar. Jangan dulu terburu-buru men-justice, dari hasil quick count, tapi kita sabar," tegas Kiai Said kepada wartawan di Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Jumat (19/4).

Pengasuh Pondok Pesantren Al-Tsaqafah Ciganjur, Jakarta Selatan ini juga meminta masyarakat tak perlu terpecah belah. Baik masyarakat maupun kontestan pemilu, lanjut Kiai Said, harus mempercayai hasil akhir yang akan dikeluarkan KPU sebulan setelah pemilihan.

"Kita percayakan sepenuhnya, kepada KPU, Bawaslu, DKPP. Kita percaya, kita yakin mereka sudah punya sistem dan peralatan yang canggih, yang tak mungkin atau jauh dari kemungkinan mereka akan curang," jelasnya.

Sebab menurutnya, dari sistem tersebut, masyarakat luas juga bisa mengakses dan bersama-sama mengawasi. Karena sistem yang dibuat KPU juga terbuka bagi siapa pun yang ingin mengetahui secara langsung penghitungan suara. (Fathoni)
Tags:
Bagikan:
Sabtu 20 April 2019 23:45 WIB
Syariat dan Hakikat Harus Diamalkan secara Seimbang
Syariat dan Hakikat Harus Diamalkan secara Seimbang
Tangerang Selatan, NU Online
Ketua Mahasiswa Ahlith Thoriqoh Al-Mu’tabaroh An-Nahdliyyah (MATAN) DKI Jakarta KH Ali M Abdillah mengatakan, ketika seseorang mempelajari syariat maka sudah seharusnya dia juga belajar tentang hakikat. Mengapa? Keduanya harus satu kesatuan, tidak bisa dipisah-pisahkan.

Menurut Kiai Ali, kalau seseorang hanya mempelajari syariatnya saja maka ia akan mudah mengkafirkan karena mengkaji agama secara ‘tekstual’. Begitu pun sebaliknya, jika seseorang hanya mempelajari agama saja maka mereka akan menjadi zindik (orang yang tersesat imannya.

Menurut Pengasuh Pengasuh Pesantren al-Rabbani Islamic College itu, hal itu sudah pernah terjadi pada masa Raden Ngabehi Rangga Warsita. Ketika itu, Raden Rangga Warsita mengkaji dan mengamalkan syariat dan hakikat secara seimbang. Namun para pengikutnya salah memahaminya, sehingga hanya mengamalkan hakikatnya saja dan meninggalkan syariat. 

"Padahal Raden Rangga Warsita menyeimbangkan keduanya, baik syariat maupun hakikat," ungkap Kiai Ali dalam diskusi di Sekretariat Islam Nusantara Center (INC), Tangerang Selatan, Sabtu (20/4).

Akibatnya, imbuh Kiai Ali, para penganut Raden Rangga Warsita tidak shalat lagi karena menganggap itu tidak diperlukan lagi. Mereka meninggalkan ibadah syariat dengan dalih bahwa dirinya sudah mengakui keberadaan Allah. 

"Semisal sudah tidak diperlukannya shalat, sebab dirinya sudah mengakui keberadaan Tuhan," paparnya. 

Oleh karenanya, keduanya harus dijalankan secara bersamaan. Tidak bisa bisa dipisahkan antara yang satu dengan yang lainnya. Karena menurut Kiai Ali, keduanya harus satu kesatuan. (Nuri Farihatin/Muchlishon)
Sabtu 20 April 2019 19:0 WIB
Alasan Mengapa Orang Modern Perlu Bertarekat
Alasan Mengapa Orang Modern Perlu Bertarekat
Tangerang Selatan, NU Online
Sekretaris Awwal Jam'iyyah Ahlit Thariqah Al-Mu'tabarah An-Nahdliyyah (JATMAN) KH Ali M Abdillah mengatakan, di tengah maraknya pandangan hidup yang hedonis dan materialis di dunia modern seperti saat ini maka orang perlu bertasawuf dan bertarekat. Bagi Kiai Ali, pandangan hedonis dan materialis menyisakan masalah karena puncak dari pencarian mereka adalah ‘kehampaan’ atau ‘sesuatu ‘yang kosong’. 

“Akhirnya ujung-ujungnya yang terjadi stress, depresi, dan sebagainya,” kata Kiai Ali di Sekretariat Islam Nusantara Center (INC), Tangerang Selatan, Sabtu (20/4).

Kiai Ali menjelaskan, kebutuhan fisik orang dengan pandangan hedonis dan materialis memang sudah terpenuhi, namun kebutuhan rohaninya tidak karena memang tidak pernah diberi ‘makan’, baik dengan ilmu ataupun amal. Menurutnya, tasawuf dan tarekat bisa menjawab persoalan yang menjangkiti manusia modern tersebut.

Ketua Mahasiswa Ahlit Thariqah Al-Mu'tabarah An-Nahdliyyah (MATAN) DKI Jakarta ini menegaskan, praktik tarekat di dunia modern tidak akan mengganggu aktivitas sehari-hari. Sebab, dzikir untuk mengingat Allah bisa dilakukan kapan saja dan dimana saja. Justru, hidup orang yang bertasawuf dan bertarekat akan lebih tenang.

“Orang modern yang bertasawuf dan bertarekat ini justru membantu menjadikan hidup lebih tenang. Menjadi hamba Allah yang lebih patuh dan taat,” terangnya.

Orang-orang yang bertasawuf dan bertarekat, imbuhnya, mengetahui bahwa musuh dari dirinya adalah nafsu yang dalam dirinya sendiri. Sehingga jika dia mengikuti hawa nafsunya maka sama saja dia mengikuti langkah-langkah setan. “Sementara tasawuf mengajarkan kita untuk melawan ajakan-ajakan setan yang ada di dalam diri kita. Sebab setan itu nyata di dalam diri kita, tapi tidak nampak,” ungkap Pengasuh Pesantren al-Rabbani Islamic College ini.

Kiai Ali menambahkan, sebagaimana keterangan dalam Al-Qur’an, setan masuk ke dalam diri manusia melalui aliran darah. Maka dari itu, darah orang yang bertarekat –karena banyak riyadhah seperti dzikir dan puasa- penuh dengan cahaya ketuhanan (nur ilahiyyah). 

“Maka bagi orang-orang modern, dengan mengikuti tasawuf dan tarekat yang diamalkan, bukan sebatas teori, itu sangat membantu memberikan ketenangan hidup lahir dan batin sehingga tercapai lah kebahagiaan dunia dan akhirat,” tukasnya.(Muchlishon)
Sabtu 20 April 2019 17:15 WIB
PBNU Imbau Masyarakat agar Sabar Menunggu Hasil Pemilu dari KPU
PBNU Imbau Masyarakat agar Sabar Menunggu Hasil Pemilu dari KPU
Jakarta, NU Online
Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengimbau kepada seluruh warga negara Indonesia, terutama umat Islam agar bersabar menunggu hasil rekapitulasi penghitungan suara dari Komisi Pemilihan Umum.

“Saya mengimbau kepada seluruh warga Indonesia agar sabar menunggu hasil penghitungan suara (dari KPU) sampai selesai,” kata Kiai Said di Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Sabtu (20/4).

Kiai Said juga mengimbau semua pihak menerima dengan lapang dada atas hasil pemilu. KPU akan menetapkan hasil pemilu 2019 paling lama 35 hari setelah pemungutan suara pada Rabu, 17 April 2019. Sehingga, hasil resmi pemilu 2019 baru bisa diketahui paling lama pada 22 Mei 2019.

“Apa pun hasilnya, sebagai umat yang dewasa, berbudaya, berkeperibadian, mempunyai integritas yang tinggi, maka harus menerima dengan lapang dada, besar hati, dengan sikap negarawan. Inilah demokrasi, pasti ada yang menang dan ada yang kalah,” ucapnya.

Menurutnya, Islam tidak menolak sistem demokrasi, bahkan keduanya saling melengkapi. Tak hanya itu, sambungnya, Al-Qur’an sendiri memerintahkan agar menjalankan musyawarah.

Sehingga menurutnya, tidak dibenarkan jika ada yang menolak hasil pemilu dengan cara-cara yang inkonstitusional, bahkan melakukan tindakan yang menjurus kepada perpecahan. Sebaliknya, semua pihak harus saling menyayangi dan menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia.

“Mari kita sayangi, kita rawat, kita jaga persatuan dan kesatuan berangkat dari semangat ukhuwah wathaniyah (persaudaraan sesama warga bangsa),” ajaknya.

Ia mengemukakan bahwa perjalanan pemilu di Indonesia yang damai ini mendapat apresiasi dari dunia internasional. Indonesia dengan penduduk mayoritas muslim, mampu menjalankan demokrasi dengan baik.

“Itu penilaian dari masyarakat dunia internasional,” ucapnya. (Husni Sahal/Abdullah Alawi)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG