IMG-LOGO
Nasional

Ribuan Umat Islam Ikuti Doa Nisfu Sya'ban Bersama Habib Luthfi

Ahad 21 April 2019 5:30 WIB
Bagikan:
Ribuan Umat Islam Ikuti Doa Nisfu Sya'ban Bersama Habib Luthfi
Kegiatan doa nisfu sya'ban di Kanzus Sholawat Pekalongan
Pekalongan, NU Online
Ribuan umat Islam dari Pekalongan dan sekitarnya, Sabtu (20/4) petang mengikuti kegiatan doa Nisfu Sya'ban di Kanzus Sholawat Kota Pekalongan Jawa Tengah.

Kegiatan doa yang dipimpin Rais 'Aam Idarah Aliyah Jam'iyyah Ahlit Thariqah Al-Mu'tabarah An-Nahdliyah Habib Muhammad Luthfi bin Yahya berlangsung khidmat.

Acara diawali dengan shalat Maghrib berjamaah diteruskan dengan pembacaan surat Yasin sebanyak 3 kali diteruskan dengan do'a dan pembacaan shalawat.

Tidak hanya umat Islam dari Pekalongan dan sekitarnya yang mengikuti kegiatan doa nisfu sya'ban. Akan tetapi ada juga rombngan khusus sebanyak 2 bis dari Jakarta hadir secara khusus mengikuti kegiatan yang dihelat setiap tanggal 15 Sya'ban.

Salah satu jama'ah rombongan dari Jakarta, Taufiq (45) kepada NU Online mengatakan, dirinya bersama teman-teman yang lain sudah 3 kali mengikuti acara doa bersama di Kanzus Sholawat Pekalongan.

"Saya memilih hadir ke Pekalongan pada malam Nisfu Sya'ban karena yang pimpin doa Habib Luthfi bin Yahya, meski di Jakarta sendiri juga banyak yang menggelar acara yang sama, namun di Pekalongan terasa lebih istimewa karena ada Habib Luthfi," ujarnya. 

Hal yang sama diungkapkan Mahsun (41) asal Kabupaten Pekalongan, acara doa Nisfu Sya'ban di Kanzus Sholawat terasa istimewa karena dipimpin langsung Habib Luthfi bin Yahya. "Saya secara khusus mengajak istri dan anak-anak saya untuk mengikuti acara ini," jelasnya.

Dkatakan, doa Nisfu Sya'ban yang dibacakan setiap usai membaca surat Yasin yang ditirukan oleh seluruh jamaah tidak hanya untuk dirinya sendiri, akan tetapi juga doa untuk kejayaan, keamanan, dan kesejahteraan bangsa Indonesia dan umat Muslim di seluruh dunia.

Meski tidak ada taushiyah dari Habib Luthfi yang juga Ketua Forum Ulama Sufi Dunia ini, sebagian besar jamaah usai acara tidak langsung pulang hingga larut  malam. (Muiz)
Bagikan:
Ahad 21 April 2019 23:30 WIB
Haul Masyayikh Kudus di Ciganjur Berlangsung Khidmat
Haul Masyayikh Kudus di Ciganjur Berlangsung Khidmat
Pembina IKAQ H Abdurrahman Mas'ud (keempat dari kiri)
Jakarta, NU Online
Haul para Masyayikh Kudus di lantai 2 SDIT KH A Wahid Hasyim Ciganjur, Ahad (21/4), siang hingga jelang malam berlangsung khidmat. Para Masyayikh yang diperingati haulnya antara lain KH R Asnawi (ke-61) dan KH Ma'ruf Irsyad (ke-9). Acara tersebut diinisiasi Ikatan Alumni Qudsiyyah Kudus di Jakarta-Bogor-Depok-Tangerang-Bekasi (IKAQ Jabodetabek).

Selain seratusan alumni, kegiatan yang diisi mulai takhtiman Al-Qur’an, tahlil, pembacaan sholawat Asnawiyah, hingga dzibaan dengan langgam khas Kudus ini dihadiri Pembina IKAQ H Abdurrahman Mas'ud. Hadir pula perwakilan guru yang didaulat menyampaikan testimoni, yakni KH Ali Fikri dan KH Nur Hamid yang datang langsung dari Kudus.

Dalam sambutan selaku pembina dan perwakilan keluarga masyayikh, Abdurrahman Mas'ud menyatakan terima kasih tak terhingga kepada alumni. Ia menyebut rangkaian acara haul merupakan tradisi yang baik. “Kita harus menjunjung tinggi acara ini. Sebab, ini merupakan cara yang menyatukan kita atau The Uniting. Bukan memisahkan,” tandas Kepala Balitbang Diklat Kemenag ini.

Menurut doktor jebolan UCLA Amerika Serikat ini, tradisi mulai tahlilan hingga dzibaan ini merupakan identitas santri. “Inilah main identity atau identitas utama kita. Ini cara kita bertauhid. Saya waktu masih kuliah di Amerika juga menjaga tradisi tersebut,” ungkap Guru Besar UIN Walisongo Semarang ini.

Sebelumnya, Ketua Yayasan KH A Wahid Hasyim Ciganjur, H Arif Rahman Hamid, dalam sambutannya menyambut baik terselenggaranya acara tersebut. “Mohon maaf jika fasilitas yang ada di sini minimalis. Terima kasih kepada para kiai dan alumni yang berkenan menyelenggarakan kegiatan di sini,” ujar Arif Rahman mengawali sambutan.

Keponakan Gus Dur ini juga sempat meluruskan pembawa acara yang kurang tepat menyebut namanya. “Saya koreksi sedikit, saya bukan Arif Rahman Wahid. Tapi Arif Rahman Hamid. Ayah saya KH Hamid Baidhowi bin KH Baidhowi. Wahid itu Mbah saya dari ibu,” terangnya.

Mas Yai, sapaan akrabnya, mengaku baru tiba dari Yogyakarta pada pukul 08.00 pagi. Baru mendapat kabar sesampainya di rumah yang berada di kompleks yayasan. “Jadi, saya agak bingung juga mau ngomong apa. Sebenarnya, sepeninggal Gus Dur yang menempati jabatan tertinggi di sini adalah yang ditempati Haji Amin. Saya ini anak buah beliau ini,” selorohnya.

Putra bungsu Nyai Hj Aisyah Hamid Baidhowi ini menambahkan, ada agenda penting yang harus ia ikuti. Oleh karena itu, usai sambutan langsung pamit. “Mohon maaf tidak bisa menemani hingga selesai. Silakan dilanjutkan acara ini,” tandas pria nyentrik ini.
    
Usai acara, H Syaifullah Amin (Alumnus Qudsiyyah 2002) mengatakan, acara tersebut terselenggara berkat kolaborasi alumni Madrasah Qudsiyyah, Taswiquth Thullab Salafiyyah (TBS), Banat, Muallimat, Diniyyah Kradenan, Pondok Pesantren Roudhotul Muta'allimin (PPRM) dan Pesantren Roudhotuth Tholibin yang notabene peninggalan KH R Asnawi. (Musthofa Asrori)


Ahad 21 April 2019 23:15 WIB
Potensi Naskah-naskah Surau Simaung Sumbar
Potensi Naskah-naskah Surau Simaung Sumbar
Naskah kuno di surau surau Sumbar
Jakarta, NU Online
Surau Simaung merupakan surau tarekat Syatariyah yang menjadi salah satu destinasi wisata religi ziarah. Sepanjang tahun, ribuan orang datang ke surau-surau yang terletak di Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat itu untuk berbagai tujuan, seperti membayar nazar, berziarah ke makam ulama, dan lain-lain.

Di dalamnya terdapat puluhan naskah dengan ribuan halaman. Namun sayangnya, naskah-naskah dengan kekayaan kandungan (sastra, sejarah, hagiografi, agama, pengobatan tradisional dan lain-lain) dan keragaman iluminasi (ragam hias di dalam naskah) yang tersimpan di surau-surau tarekat itu belum terkelola dan dikembangkan.

Peneliti Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, M Nida Fadlan mengungkapkan bahwa hal tersebut dapat dimanfaatkan menjadi hal produktif yang bernilai ekonomi dan sumber pengetahuan.

"Melalui penerbitan edisi teks dan rekayasa iluminasi menjadi motif kain (batik) akan memberi peluang untuk pengembangan ekonomi kreatif masyarakat pendukung surau-surau tarekat di Sumatera Barat," jelasnya melalui rilis yang diterima NU Online pada Sabtu (20/4).

Terbitan edisi teks naskah dan rekayasa iluminasi tersebut, menurutnya dapat menjadi buah tangan bagi peziarah atau wisatawan. Selain itu, naskah-naskah yang sudah dikemas rapi saat ini, lanjutnya, dapat dipajang guna dipamerkan sehingga bisa dilihat oleh peziarah. Mereka dapat melihat khazanah naskah tersebut sebagai warisan intelektual ulama pada masa lampau.

"Tentu ini akan menjadi nilai lebih Surau Simaung sebagai tujuan wisata ziarah religi," ujar alumnus Pondok Buntet Pesantren Cirebon, Jawa Barat itu.

Bagi pemerintah, katanya, khazanah naskah koleksi Surau Simaung merupakan aset kebudayaan. Naskah-naskah tersebut merupakan salah satu objek penting dalam pemajuan kebudayaan.

Pemerintah melalui Undang-Undang Pemajuan Kebudayaan Nomor 5 Tahun 2017 telah menempatkan naskah kuno (manuskrip) pada urutan kedua dari sepuluh objek pemajuan kebudayaan yang telah ditetapkan. 

Pemajuan kebudayaan di dalam undang-undang ini, katanya, diartikan sebagai upaya meningkatkan ketahanan budaya dan konstribusi budaya Indonesia di tengah peradaban dunia melalui perlindungan, pengembangan, pemanfaatan, dan pembinaan kebudayaan (Pasal 1 Ayat 3).

"Pemajuan kebudayaan ini bertujuan untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang berdaulat secara politik, berdikari secara ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan," ujarnya.

Selain itu, Nida juga menjelaskan bahwa melalui naskah-naskah koleksi Surau Simaung akan membuka penelitian-penelitian keagamaan, falsafah, kesejarahan, kesusastraan, kebahasaan, dan kajian-kajian dengan sudut pandang yang lain.

Kehadirannya di sana sebagai Data Manager Digital Repository of Endanger and Affected Manuscript in Southeast Asia (DREAMSEA) dalam rangka mendigitalkan naskah-naskah tersebut bersama beberapa filolog dari berbagai perguruan tinggi di Sumatera Barat.

"Semoga digital naskah koleksi surau ini segera dapat diakses secara daring oleh khalayak luas," harapnya.

Harapan besar ini sesuai dengan tujuan akhir dari program DREAMSEA, yakni terbentuknya sebuah repository naskah digital Asia Tenggara yang dapat dimanfaatkan secara akademik luas untuk memperkuat persatuan dalam keragaman bangsa Asia Tenggara. (Syakir NF/Muiz)
Ahad 21 April 2019 16:0 WIB
Jokowi Hingga Alissa Wahid Ramai Ucapkan Hari Kartini
Jokowi Hingga Alissa Wahid Ramai Ucapkan Hari Kartini
Ucapan Hari Kartini Joko Widodo via Twitter

Jakarta, NU Online
Setiap tanggal 21 April, masyarakat di Indonesia memperingati Hari Kartini. Semasa hidup, perempuan bernama lengkap Raden Ayu Kartini ini dikenal sebagai salah satu pahlawan nasional yang gigih dalam memperjuangkan emansipasi kaumnya.

Tepat pada Ahad (21/4) ini, masyarakat kembali memperingatinya. Berbagai ucapan selamat mengalir di media sosial, terutama di Twitter. Dalam pantauan NU Online, orang nomor satu di Indonesia Joko Widodo pun terlihat turut mengucapkannya.

"Untuk perempuan-perempuan Indonesia, para ibu bangsa: mari terus menggelorakan semangat juang Ibu Kartini. Semangat juang untuk membangun keluarga, masyarakat, bangsa, dan memajukan generasi penerus," demikian twit @jokowi.

Ucapan lain datang dari Gubernur Jawa Timur yang juga Ketua Umum PP Muslimat NU, Hj Khofifah Indar Parawansa. Menurut Khofifah, momentum Hari Kartini harus menjadi refleksi, evaluasi dan memantapkan aksi atas beragam masalah perempuan.


"Selamat Hari Kartini untuk seluruh perempuan Indonesia di mana pun berada. Lakukan yang terbaik untuk dirimu, keluarga, juga bangsa dan negara. Momentum Hari Kartini harus menjadi refleksi, evaluasi dan memantapkan aksi atas beragam masalah perempuan," tulis @KhofahIP.

Putri KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, Alissa Wahid juga ikut mengucapkannya. Alissa mengemukakan tentang peran kakeknya, KH Wahid Hasyim ketika menjabat sebagai Menteri Agama dan ayahanya, Gus Dur ketika menjadi presiden memperjuangkan keadilan dan kesetaraan perempuan.


"Hari Kartini. Selamat merayakan perjuangan keadilan & kesetaraan bagi perempuan, Indonesia. Kyai Wahid Hasyim sbg Menteri Agama memastikan perempuan bisa menjadi Hakim Agama. Presiden #GusDur dg Inpres PUG no.9/2000: kebijakan Negara harus berperspektif gender. Yuk lanjutkan!" tulisnya.

Saat berita ini ditulis, ucapan Hari Kartini menjadi salah satu topik populer dengan menduduki 5 besar di Twitter. (Husni Sahal/Muhammad Faizin)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG