IMG-LOGO
Daerah

Ruwahan Akbar, Puluhan Yatim Sampaikan Pesan Damai

Ahad 21 April 2019 7:30 WIB
Bagikan:
Ruwahan Akbar, Puluhan Yatim Sampaikan Pesan Damai
99 yatim menyapa pengendara dengan aneka poster di depan kantor PWNU Jatim.
Surabaya, NU Online
Pengurus Wilayah Lembaga Amil Zakat, Infaq dan Shadaqah Nahdlatul Ulama atau LAZISNU Jawa Timur menggelar Ruwahan Akbar Malam Nishfu Sya'ban. Acara yang digelar di depan Gedung PWNU Jatim Jl Masjid Al Akbar Timur Surabaya no 9 ini dihadiri 99 anak yatim, Sabtu (20/4). 

Sebagai tanda cinta kepada sesama, 99 anak yatim itu membagikan kue apem kepada para pengendara dan warga yang melintas di jalan depan kantor NU Jatim. Dengan berjalan kaki, mereka memutari Masjid Nasional Al Akbar Surabaya yang diawali menyanyikan lagu Indonesia Raya, Yaa Lal Wathan, dan shalawat.

“Anak-anak yatim itu berasal dari sejumlah panti asuhan di Surabaya dan Sidoarjo,” kata Ketua PW LAZIZNU Jatim, A Afif Amrullah. 

Saat mengitari masjid kebanggaan warga Surabaya tersebut, puluhan yatim mengampanyekan pesan perdamaian kepada seluruh elemen bangsa. “Sekaligus menyambut malam Nisfu Sya’ban 1440 Hijriah sebagai momentum bermaaf-maafan menjelang dibukanya lembaran catatan amal baru setahun ke depan,” jelasnya.

Terlihat beberapa anak yatim membawa poster dengan tulisan menyikapi kondisi mutaakhir yang kerap berselisih lantaran beda pilihan, seperti Jangan Ada Lagi Kampret dan Cebong. Semuanya, Ayo Baikan, Dong!.

Poster lain bernada sama. Bunyinya: Sing Menang Rasah Jumawa, Sing Kalah Kudu Legawa. Poster lain mengajak masyarakat melupakan perselisihan pilihan politik saat pemungutan suara beberapa hari lalu, apalagi menjelang Ramadhan. Ayo Move On dari Coblosan, Saatnya Persiapan Sambut Ramadan.

Para yatim juga membawa poster ajakan untuk berzakat, tertulis Ayo Tuntaskan Zakat sebelum Wafat dan Ramadhan Berbagi Satukan Negeri. 

Pesan-pesan perdamaian di poster yang dibawa anak yatim itu terutama ditujukan kepada para elit dan pendukung pasangan calon presiden-wakil presiden. "Sudah saatnya para elite atau siapa pun pendukung pasangan calon yang mengikuti kontestasi Pemilu 2019, bersatu kembali untuk membangun Indonesia," harap dosen Universitas Sunan Giri (Unsuri) Surabaya ini.

Kue apem sengaja dibagikan sebagai simbol saling memaafkan. Apem biasa dihidangkan masyarakat Jatim saat menyambut malam Nisfu Sya’ban. "Nama apem sendiri, sesuai petunjuk kiai sepuh di NU, berasal dari kata afwan yang artinya permaafan,” jelasnya. 

Biasanya, menjelang Nisfu Sya’ban seperti ini, apem dibuat untuk dibagikan kepada tetangga maupun keluarga. “Sebagai bentuk ungkapan saling memaafkan," pungkas Afif. (Rof Maulana/Ibnu Nawawi)

Bagikan:
Ahad 21 April 2019 23:45 WIB
Ini Sejumlah Ciri Khas Santri menurut D Zawawi Imron
Ini Sejumlah Ciri Khas Santri menurut D Zawawi Imron
D Zawawi Imron pada tasyakuran kelas akhir di MAUWH Tambakberas.
Jombang, NU Online
Ada sejumlah ciri yang akan membedakan antara mereka yang berpredikat sebagai santri dengan kalangan lain. Yang utama adalah memiliki etos belajar tinggi dan bertutur kata dengan kalimat indah.

Penegasan ini disampaikan D Zawawi Imron. Penyair nasional tersebut menyampaikan pesannya pada Muwadaah dan Tasyakuran Kelas Akhir Madrasah Aliyah Unggulan KH Abd Wahab Hasbulloh (MAUWH) Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, Sabtu (20/4). 

Dalam pandangan penyair yang dikenal dengan sebutan Sang Celurit Emas itu, santri adalah mereka yang belajar kalimat suci dan indah yaitu Al-Qur’an. Karena seperti diketahui, kitab suci umat Islam tersebut keindahannya tidak tertandingi.

“Karena itu  para santri harus bertutur santun dan kalimat yang disampaikan indah,” ungkap kiai yang kini tinggal di Sumenep tersebut. 

Akhlak itu menjadi pembeda karena para santri meniru kiai serta ulama. “Dan kiai juga meniru apa yang telah dilakukan oleh Rasulullah SAW,” jelasnya. 

Di hadapan para undangan, ratusan wisudawan dan wali murid tersebut, Zawawi Imron juga mengemukakan alasan KH Abd Wahab Chasbullah atau Mbah Wahab menyatakan hubbul wathan minal iman atau cinta tanah air sebagai bagian dari iman. 

“Karena tidak ada alasan untuk tidak cinta tanah air,” jelas peraih sejumlah penghargaan dari dalam dan luar negeri ini. 

Namun demikian, komitmen cinta tanah air harus dibuktikan dengan perilaku nyata. Seperti dengan tidak berbuat maksiat, menebar kebencian di negeri sendiri, dan sejenisnya. “Bagi Mbah Wahab, tanah air bukan semata ibu pertiwi, tetapi juga sajadah kita,” urainya. Oleh sebab itu tidak ada kamus memberontak di kalangan santri, lanjutnya.

Hal menonjol yang juga tidak boleh hilang bagi setiap santri adalah tingginya etos belajar. “Barangsiapa yang malas belajar di waktu muda, bertakbirlah empat kali atas kematiannya,” katanya mengutip pernyataan Imam Syafii. 

Tidak berhenti sampai di situ, Zawawi Imron juga memberikan penegasan terkait anak muda yang tidak memiliki semangat belajar. “Mereka adalah anak yang gagal dilahirkan oleh ibunya. Dengan demikian, santri yang malas belajar tidak layak untuk hidup,” tegasnya.

Di akhir orasi budayanya, Zawawi Imron membacakan puisi berjudul Ibu yang mampu menghipnotis hadirin. Pada kesempatan tersebut dirinya juga mengajak hadirin untuk membacakan shalawat demi kejernihan rohani. (Ibnu Nawawi)

Ahad 21 April 2019 22:30 WIB
Kelompok Penulis IAIN Pontianak Luncurkan Buku Bersama
Kelompok Penulis IAIN Pontianak Luncurkan Buku Bersama
Peserta peluncuran buku di Madrasah Al-Adabiy, Pontianak.
Pontianak, NU Online
Setelah melaksanakan pelatihan kepenulisan 14 April lalu, Club IAIN Pontianak Kalimantan Barat yang telah bekerja sama dengan Club Menulis  Al-Adabiy Pontianak meluncurkan buku bersama. Acara dilaksanakan di madrasah setempat, yang dikemas dalam nuansa religi. Lagu Ibu Kita Kartini dilantunkan dengan versi islami. 

Kegiatan dihadiri Ketua Pembimbing Club Menulis IAIN Pontianak, Yusridadi, Kepala Yayasan MAS Al-Adaby, Nursilan, dan Pembina Club Menulis IAIN Pontianak, Farninda Aditya. Bergabung pula Ketua Yayasan Madrasah Al-Adabiy Pontianak, KH Azman Alka, serta tamu undangan orang tua santri dan perwakilan madrasah dan sekolah di Kota Pontianak. 

Mita Hairani dalam sambutannya menyampaikan bahwa ada 9 buku yang diluncurkan. “Semua karya siswa Madrasah Aliyah Al-Adabiy dan beberapa buku karya anggota Club Menulis IAIN Pontianak,” katanya, Ahad (21/4). 

Buku berjudul Asal-Usul Desa di Kalimantan Barat merupakan hasil latihan kepenulisan yang merupakan kumpulan tulisan asal-usul desa peserta. 

Ketua Pembimbing Club IAIN Pontianak, Yusriadi dalam sambutannya mengatakan bahwa menulis adalah tongkat kehidupan yang akan selalau dibawa sepanjang hidup. “Menulis membuat seseorang memiliki kemampuan literasi sehingga mampu memfilter hoaks dan tulisan di media. Dan menulis adalah panggilan jiwa,” jelasnya. 

Kegiatan dipandu Mita Hairani, dan buku yang baru saja diluncurkan menjadi hadiah bagi hadirin yang beruntung melalui undian kupon yang telah dibagikan sebelumnya. 

Acara ditutup makan bersama yang telah disajikan siswa-siswi Madrasah Aliyah Al-Adabiy Pontianak. (Nursieh/Ibnu Nawawi)

Ahad 21 April 2019 22:0 WIB
Rayakan Hari Kartini, SD NU Metro Gelar Ajang Kreativitas
Rayakan Hari Kartini, SD NU Metro Gelar Ajang Kreativitas
Peringatan Hari Kartini SD NU Metro
Metro, NU Online
Kartini Kreatif, Kartini Inovatif. Inilah tema besar yang diangkat Sekolah Dasar Nahdlatul Ulama Kota Metro saat memperingati Hari Kartini tahun 2019 yang dilaksanakan di kampus sekolah tersebut, Sabtu (20/4).

Selain untuk memperingati perjuangan pahlawan emansipasi wanita RA Kartini, kegiatan tersebut juga diharapkan mampu mengasah minat, bakat, rasa percaya diri peserta didik dan sebagai ajang kreativitas mengenalkan adat budaya.

Kepala SD NU Kota Metro Nur Hidayat mengatakan, dengan kegiatan tersebut ia berharap juga peserta didik dapat menghormati jasa para pahlawan.

"Peserta didik harus meneladani semangat Kartini dalam menghadapi era global yang mampu mengangkat harkat dan derajat wanita," katanya.

Kegiatan peringatan tersebut diwujudkan dalam bentuk karnaval dimulai dari kampus SD NU dan berakhir di taman terminal Mulyojati, Metro. 

Selain karnaval, peringatan Hari Kartini juga diwarnai dengan fashion show dan kids competition. Beragam kostum budaya dan profesi digunakan oleh dewan guru dan peserta didik guna memeriahkan ajang kreativitas tersebut.

Setelah perlombaan dilaksanakan para dewan juri memutuskan para pemenang dari lomba dan berhak membawa pulang piala.

Untuk lomba video competition dengan menyanyikan kreasi lagu Ibu Kita Kartini, juara I diraih oleh M. Nur Halim, juara II diraih oleh Badzli Putra Anggara, dan juara III diraih oleh Nur Labibah Qurota A'yunina.

Sementara untuk Lomba Fashion show kids, juara I Azam Khoirul Tsani, juara II Mifta Aulia dan juara III Ardan Fatiyan Ashrofi. (Meilinda/Muhammad Faizin)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG