IMG-LOGO
Daerah

Peduli Masa Depan Mahasiswa, Unusa Miliki Lembaga Sertifikasi Profesi

Ahad 21 April 2019 21:30 WIB
Bagikan:
Peduli Masa Depan Mahasiswa, Unusa Miliki Lembaga Sertifikasi Profesi
Profesor Kacung Marijan saat wisuda di Unusa.
Surabaya, NU Online
Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya terus berbenah. Sejumlah ikhtiar dilakukan dengan sangat serius demi meningkatkan kualitas lulusan melalui pengembangan berbagai sertifikasi profesi. Hal tersebut penting guna menyiapkan para lulusan agar berkompetensi dan siap pakai.

“Alhamdulillah, Lembaga Sertifikasi Profesi atau LSP Unusa mendapatkan lisensi dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) pada 28 Maret 2019,” kata Kacung Marijan, Sabtu (20/4).

Wakil Rektor I Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Unusa tersebut menjelaskan bahwa saat ini sudah ada delapan skema yang bisa disertifikasi LSP Unusa. Yakni Bahasa Inggris Keperawatan Vokasi, Bahasa Inggris Keperawatan Generalis, Teknisi Akuntansi Ahli, Teknisi Akuntansi Ahli Syariah, Ahli K3 Madya, Auditor Madya Teknologi Informasi, Analis Program dan Kepala Cabang/Manajer Koperasi Jasa Keuangan. 

“Sertifikasi profesi bisa dilakukan setelah lulus maupun saat kuliah, asalkan memenuhi persyaratan tertentu,” jelas guru besar di Universitas Airlangga Surabaya tersebut. LSP Unusa juga bisa memberikan sertifikasi profesi kepada mahasiswa dari perguruan tinggi lain yang menjadi mitra, lanjutnya.

Menurut Profesor Kacung, meski sudah lulus kuliah belum tentu seorang wisudawan memiliki kompetensi untuk bekerja. “Oleh karenanya sertifikasi profesi ini memberi kekuatan bagi mahasiswa untuk bersaing dan siap kerja,” ungkapnya.

Dengan demikian, begitu lulus, mereka sudah bisa langsung bekerja. “Misalnya menjadi Kepala Cabang/Manajer Koperasi Jasa Keuangan, karena sudah memiliki kompetensi di bidang tersebut sesuai sertifikasi profesi yang diambilnya,” katanya.

Pada hari yang sama, Unusa menggelar wisuda. Dari 81 wisudawan, ada empat wisudawan yang sudah mengantongi sertifikasi profesi. Salah satu wisudawan terbaik Unusa 2019, yakni Maria Trykurniati Maju dari S1 Keperawatan, kini sedang menjalani profesi ners selama setahun.

“Saya sangat senang kuliah di Unusa yang mayoritas Muslim. Awalnya saya minder karena kuliah di antara mahasiswi berhijab,” akunya. 

Tapi dalam pandangannya, ternyata mahasiswa di kampus ini sangat terbuka, bahkan sangat mendukung. “Kami biasa belajar dan diskusi bersama di kos saya yang nonmuslim,” kata mahasiswi asal Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur itu.

Maria merupakan Aparatur Sipil Negara (ASN) di sebuah Puskesmas Labuan Bajo. Ia mendapatkan beasiswa dari pemerintah pusat setempat untuk kuliah S1 keperawatan di Unusa.

Setelah lulus profesi ners tersebut dirinya akan menerapkan ilmu yang sudah ditempuh ke tempat asalnya. “Setelah lima tahun mengabdi, saya ingin kembali meneruskan pendidikan S2 di Unusa,” tandas ibu dua putra ini. 

Direktur Akademik dan Kemahasiswaan Unusa, Umdatus Saleha mengemukakan kampus sudah menyiapkan para wisudawan dengan bekal dan ilmu sesuai jurusan yang ditempuh. Mereka diberi keterampilan dasar dan soft skill berkompetensi agar mampu bersaing di pasar kerja.

Keterampilan lain juga diajarkan. Misalnya kemampuan berkomunikasi, pemanfaatan teknologi informasi, serta berkarakter dan berintegritas. “Mahasiswa harus diberi ruang untuk mengembangkan kreativitasnya, supaya bisa berkembang dan mengasah kemampuan dan daya kritis, serta meningkatkan kemampuan dalam bekerja secara tim,” paparnya.

Kabar baiknya, Unusa memiliki lembaga khusus untuk menyalurkan lulusan agar bisa diserap di dunia kerja, yakni Unusa Career Center (UCC). Fungsinya membekali mahasiswa serta lulusan agar siap bersaing di dunia kerja. 

“Mereka bakal mengikuti workshop dan seminar penyusunan curiculum vitae, pelatihan teknik wawancara kerja, sekaligus memberi informasi lowongan pekerjaan,” pungkasnya. (Ibnu Nawawi)

Bagikan:
Ahad 21 April 2019 23:45 WIB
Ini Sejumlah Ciri Khas Santri menurut D Zawawi Imron
Ini Sejumlah Ciri Khas Santri menurut D Zawawi Imron
D Zawawi Imron pada tasyakuran kelas akhir di MAUWH Tambakberas.
Jombang, NU Online
Ada sejumlah ciri yang akan membedakan antara mereka yang berpredikat sebagai santri dengan kalangan lain. Yang utama adalah memiliki etos belajar tinggi dan bertutur kata dengan kalimat indah.

Penegasan ini disampaikan D Zawawi Imron. Penyair nasional tersebut menyampaikan pesannya pada Muwadaah dan Tasyakuran Kelas Akhir Madrasah Aliyah Unggulan KH Abd Wahab Hasbulloh (MAUWH) Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, Sabtu (20/4). 

Dalam pandangan penyair yang dikenal dengan sebutan Sang Celurit Emas itu, santri adalah mereka yang belajar kalimat suci dan indah yaitu Al-Qur’an. Karena seperti diketahui, kitab suci umat Islam tersebut keindahannya tidak tertandingi.

“Karena itu  para santri harus bertutur santun dan kalimat yang disampaikan indah,” ungkap kiai yang kini tinggal di Sumenep tersebut. 

Akhlak itu menjadi pembeda karena para santri meniru kiai serta ulama. “Dan kiai juga meniru apa yang telah dilakukan oleh Rasulullah SAW,” jelasnya. 

Di hadapan para undangan, ratusan wisudawan dan wali murid tersebut, Zawawi Imron juga mengemukakan alasan KH Abd Wahab Chasbullah atau Mbah Wahab menyatakan hubbul wathan minal iman atau cinta tanah air sebagai bagian dari iman. 

“Karena tidak ada alasan untuk tidak cinta tanah air,” jelas peraih sejumlah penghargaan dari dalam dan luar negeri ini. 

Namun demikian, komitmen cinta tanah air harus dibuktikan dengan perilaku nyata. Seperti dengan tidak berbuat maksiat, menebar kebencian di negeri sendiri, dan sejenisnya. “Bagi Mbah Wahab, tanah air bukan semata ibu pertiwi, tetapi juga sajadah kita,” urainya. Oleh sebab itu tidak ada kamus memberontak di kalangan santri, lanjutnya.

Hal menonjol yang juga tidak boleh hilang bagi setiap santri adalah tingginya etos belajar. “Barangsiapa yang malas belajar di waktu muda, bertakbirlah empat kali atas kematiannya,” katanya mengutip pernyataan Imam Syafii. 

Tidak berhenti sampai di situ, Zawawi Imron juga memberikan penegasan terkait anak muda yang tidak memiliki semangat belajar. “Mereka adalah anak yang gagal dilahirkan oleh ibunya. Dengan demikian, santri yang malas belajar tidak layak untuk hidup,” tegasnya.

Di akhir orasi budayanya, Zawawi Imron membacakan puisi berjudul Ibu yang mampu menghipnotis hadirin. Pada kesempatan tersebut dirinya juga mengajak hadirin untuk membacakan shalawat demi kejernihan rohani. (Ibnu Nawawi)

Ahad 21 April 2019 22:30 WIB
Kelompok Penulis IAIN Pontianak Luncurkan Buku Bersama
Kelompok Penulis IAIN Pontianak Luncurkan Buku Bersama
Peserta peluncuran buku di Madrasah Al-Adabiy, Pontianak.
Pontianak, NU Online
Setelah melaksanakan pelatihan kepenulisan 14 April lalu, Club IAIN Pontianak Kalimantan Barat yang telah bekerja sama dengan Club Menulis  Al-Adabiy Pontianak meluncurkan buku bersama. Acara dilaksanakan di madrasah setempat, yang dikemas dalam nuansa religi. Lagu Ibu Kita Kartini dilantunkan dengan versi islami. 

Kegiatan dihadiri Ketua Pembimbing Club Menulis IAIN Pontianak, Yusridadi, Kepala Yayasan MAS Al-Adaby, Nursilan, dan Pembina Club Menulis IAIN Pontianak, Farninda Aditya. Bergabung pula Ketua Yayasan Madrasah Al-Adabiy Pontianak, KH Azman Alka, serta tamu undangan orang tua santri dan perwakilan madrasah dan sekolah di Kota Pontianak. 

Mita Hairani dalam sambutannya menyampaikan bahwa ada 9 buku yang diluncurkan. “Semua karya siswa Madrasah Aliyah Al-Adabiy dan beberapa buku karya anggota Club Menulis IAIN Pontianak,” katanya, Ahad (21/4). 

Buku berjudul Asal-Usul Desa di Kalimantan Barat merupakan hasil latihan kepenulisan yang merupakan kumpulan tulisan asal-usul desa peserta. 

Ketua Pembimbing Club IAIN Pontianak, Yusriadi dalam sambutannya mengatakan bahwa menulis adalah tongkat kehidupan yang akan selalau dibawa sepanjang hidup. “Menulis membuat seseorang memiliki kemampuan literasi sehingga mampu memfilter hoaks dan tulisan di media. Dan menulis adalah panggilan jiwa,” jelasnya. 

Kegiatan dipandu Mita Hairani, dan buku yang baru saja diluncurkan menjadi hadiah bagi hadirin yang beruntung melalui undian kupon yang telah dibagikan sebelumnya. 

Acara ditutup makan bersama yang telah disajikan siswa-siswi Madrasah Aliyah Al-Adabiy Pontianak. (Nursieh/Ibnu Nawawi)

Ahad 21 April 2019 22:0 WIB
Rayakan Hari Kartini, SD NU Metro Gelar Ajang Kreativitas
Rayakan Hari Kartini, SD NU Metro Gelar Ajang Kreativitas
Peringatan Hari Kartini SD NU Metro
Metro, NU Online
Kartini Kreatif, Kartini Inovatif. Inilah tema besar yang diangkat Sekolah Dasar Nahdlatul Ulama Kota Metro saat memperingati Hari Kartini tahun 2019 yang dilaksanakan di kampus sekolah tersebut, Sabtu (20/4).

Selain untuk memperingati perjuangan pahlawan emansipasi wanita RA Kartini, kegiatan tersebut juga diharapkan mampu mengasah minat, bakat, rasa percaya diri peserta didik dan sebagai ajang kreativitas mengenalkan adat budaya.

Kepala SD NU Kota Metro Nur Hidayat mengatakan, dengan kegiatan tersebut ia berharap juga peserta didik dapat menghormati jasa para pahlawan.

"Peserta didik harus meneladani semangat Kartini dalam menghadapi era global yang mampu mengangkat harkat dan derajat wanita," katanya.

Kegiatan peringatan tersebut diwujudkan dalam bentuk karnaval dimulai dari kampus SD NU dan berakhir di taman terminal Mulyojati, Metro. 

Selain karnaval, peringatan Hari Kartini juga diwarnai dengan fashion show dan kids competition. Beragam kostum budaya dan profesi digunakan oleh dewan guru dan peserta didik guna memeriahkan ajang kreativitas tersebut.

Setelah perlombaan dilaksanakan para dewan juri memutuskan para pemenang dari lomba dan berhak membawa pulang piala.

Untuk lomba video competition dengan menyanyikan kreasi lagu Ibu Kita Kartini, juara I diraih oleh M. Nur Halim, juara II diraih oleh Badzli Putra Anggara, dan juara III diraih oleh Nur Labibah Qurota A'yunina.

Sementara untuk Lomba Fashion show kids, juara I Azam Khoirul Tsani, juara II Mifta Aulia dan juara III Ardan Fatiyan Ashrofi. (Meilinda/Muhammad Faizin)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG