IMG-LOGO
Daerah

Rayakan Hari Kartini, SD NU Metro Gelar Ajang Kreativitas

Ahad 21 April 2019 22:0 WIB
Bagikan:
Rayakan Hari Kartini, SD NU Metro Gelar Ajang Kreativitas
Peringatan Hari Kartini SD NU Metro
Metro, NU Online
Kartini Kreatif, Kartini Inovatif. Inilah tema besar yang diangkat Sekolah Dasar Nahdlatul Ulama Kota Metro saat memperingati Hari Kartini tahun 2019 yang dilaksanakan di kampus sekolah tersebut, Sabtu (20/4).

Selain untuk memperingati perjuangan pahlawan emansipasi wanita RA Kartini, kegiatan tersebut juga diharapkan mampu mengasah minat, bakat, rasa percaya diri peserta didik dan sebagai ajang kreativitas mengenalkan adat budaya.

Kepala SD NU Kota Metro Nur Hidayat mengatakan, dengan kegiatan tersebut ia berharap juga peserta didik dapat menghormati jasa para pahlawan.

"Peserta didik harus meneladani semangat Kartini dalam menghadapi era global yang mampu mengangkat harkat dan derajat wanita," katanya.

Kegiatan peringatan tersebut diwujudkan dalam bentuk karnaval dimulai dari kampus SD NU dan berakhir di taman terminal Mulyojati, Metro. 

Selain karnaval, peringatan Hari Kartini juga diwarnai dengan fashion show dan kids competition. Beragam kostum budaya dan profesi digunakan oleh dewan guru dan peserta didik guna memeriahkan ajang kreativitas tersebut.

Setelah perlombaan dilaksanakan para dewan juri memutuskan para pemenang dari lomba dan berhak membawa pulang piala.

Untuk lomba video competition dengan menyanyikan kreasi lagu Ibu Kita Kartini, juara I diraih oleh M. Nur Halim, juara II diraih oleh Badzli Putra Anggara, dan juara III diraih oleh Nur Labibah Qurota A'yunina.

Sementara untuk Lomba Fashion show kids, juara I Azam Khoirul Tsani, juara II Mifta Aulia dan juara III Ardan Fatiyan Ashrofi. (Meilinda/Muhammad Faizin)
Tags:
Bagikan:
Ahad 21 April 2019 23:45 WIB
Ini Sejumlah Ciri Khas Santri menurut D Zawawi Imron
Ini Sejumlah Ciri Khas Santri menurut D Zawawi Imron
D Zawawi Imron pada tasyakuran kelas akhir di MAUWH Tambakberas.
Jombang, NU Online
Ada sejumlah ciri yang akan membedakan antara mereka yang berpredikat sebagai santri dengan kalangan lain. Yang utama adalah memiliki etos belajar tinggi dan bertutur kata dengan kalimat indah.

Penegasan ini disampaikan D Zawawi Imron. Penyair nasional tersebut menyampaikan pesannya pada Muwadaah dan Tasyakuran Kelas Akhir Madrasah Aliyah Unggulan KH Abd Wahab Hasbulloh (MAUWH) Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, Sabtu (20/4). 

Dalam pandangan penyair yang dikenal dengan sebutan Sang Celurit Emas itu, santri adalah mereka yang belajar kalimat suci dan indah yaitu Al-Qur’an. Karena seperti diketahui, kitab suci umat Islam tersebut keindahannya tidak tertandingi.

“Karena itu  para santri harus bertutur santun dan kalimat yang disampaikan indah,” ungkap kiai yang kini tinggal di Sumenep tersebut. 

Akhlak itu menjadi pembeda karena para santri meniru kiai serta ulama. “Dan kiai juga meniru apa yang telah dilakukan oleh Rasulullah SAW,” jelasnya. 

Di hadapan para undangan, ratusan wisudawan dan wali murid tersebut, Zawawi Imron juga mengemukakan alasan KH Abd Wahab Chasbullah atau Mbah Wahab menyatakan hubbul wathan minal iman atau cinta tanah air sebagai bagian dari iman. 

“Karena tidak ada alasan untuk tidak cinta tanah air,” jelas peraih sejumlah penghargaan dari dalam dan luar negeri ini. 

Namun demikian, komitmen cinta tanah air harus dibuktikan dengan perilaku nyata. Seperti dengan tidak berbuat maksiat, menebar kebencian di negeri sendiri, dan sejenisnya. “Bagi Mbah Wahab, tanah air bukan semata ibu pertiwi, tetapi juga sajadah kita,” urainya. Oleh sebab itu tidak ada kamus memberontak di kalangan santri, lanjutnya.

Hal menonjol yang juga tidak boleh hilang bagi setiap santri adalah tingginya etos belajar. “Barangsiapa yang malas belajar di waktu muda, bertakbirlah empat kali atas kematiannya,” katanya mengutip pernyataan Imam Syafii. 

Tidak berhenti sampai di situ, Zawawi Imron juga memberikan penegasan terkait anak muda yang tidak memiliki semangat belajar. “Mereka adalah anak yang gagal dilahirkan oleh ibunya. Dengan demikian, santri yang malas belajar tidak layak untuk hidup,” tegasnya.

Di akhir orasi budayanya, Zawawi Imron membacakan puisi berjudul Ibu yang mampu menghipnotis hadirin. Pada kesempatan tersebut dirinya juga mengajak hadirin untuk membacakan shalawat demi kejernihan rohani. (Ibnu Nawawi)

Ahad 21 April 2019 22:30 WIB
Kelompok Penulis IAIN Pontianak Luncurkan Buku Bersama
Kelompok Penulis IAIN Pontianak Luncurkan Buku Bersama
Peserta peluncuran buku di Madrasah Al-Adabiy, Pontianak.
Pontianak, NU Online
Setelah melaksanakan pelatihan kepenulisan 14 April lalu, Club IAIN Pontianak Kalimantan Barat yang telah bekerja sama dengan Club Menulis  Al-Adabiy Pontianak meluncurkan buku bersama. Acara dilaksanakan di madrasah setempat, yang dikemas dalam nuansa religi. Lagu Ibu Kita Kartini dilantunkan dengan versi islami. 

Kegiatan dihadiri Ketua Pembimbing Club Menulis IAIN Pontianak, Yusridadi, Kepala Yayasan MAS Al-Adaby, Nursilan, dan Pembina Club Menulis IAIN Pontianak, Farninda Aditya. Bergabung pula Ketua Yayasan Madrasah Al-Adabiy Pontianak, KH Azman Alka, serta tamu undangan orang tua santri dan perwakilan madrasah dan sekolah di Kota Pontianak. 

Mita Hairani dalam sambutannya menyampaikan bahwa ada 9 buku yang diluncurkan. “Semua karya siswa Madrasah Aliyah Al-Adabiy dan beberapa buku karya anggota Club Menulis IAIN Pontianak,” katanya, Ahad (21/4). 

Buku berjudul Asal-Usul Desa di Kalimantan Barat merupakan hasil latihan kepenulisan yang merupakan kumpulan tulisan asal-usul desa peserta. 

Ketua Pembimbing Club IAIN Pontianak, Yusriadi dalam sambutannya mengatakan bahwa menulis adalah tongkat kehidupan yang akan selalau dibawa sepanjang hidup. “Menulis membuat seseorang memiliki kemampuan literasi sehingga mampu memfilter hoaks dan tulisan di media. Dan menulis adalah panggilan jiwa,” jelasnya. 

Kegiatan dipandu Mita Hairani, dan buku yang baru saja diluncurkan menjadi hadiah bagi hadirin yang beruntung melalui undian kupon yang telah dibagikan sebelumnya. 

Acara ditutup makan bersama yang telah disajikan siswa-siswi Madrasah Aliyah Al-Adabiy Pontianak. (Nursieh/Ibnu Nawawi)

Ahad 21 April 2019 21:45 WIB
Hubungan Baik NU dengan Pemerintah Harus Terus Didorong
Hubungan Baik NU dengan Pemerintah Harus Terus Didorong
KHR Syarif Rahmat
Bekasi, NU Online
Pengasuh Pesantren Ummul Quro, Pondok Cabe, Pamulang, Tangerang Selatan KH Raden Syarif Rahmat menilai hubungan baik antara pengurus NU dengan pemerintahan harus terus dibantu. "Karenanya, NU harus kita jaga karena cuma NU yang menjaga NKRI," tegasnya.

Hal itu disampaikan saat dirinya mengisi pengajian rajaban yang dihelat Pengurus Majelis Wakil Cabang (MWC) Nahdlatul Ulama (NU) Kecamatan Tambun Selatan, Kota Bekasi, Jawa Barat di Lapangan Sepakbola Mekarsari, Tambun Selatan, Bekasi, pada Sabtu (20/4).

Guru Besar Padepokan Dakwah Sunan Kalijaga (Padasuka) KH Raden Syarif Rahmat itu menjelaskan soal proses Nabi Muhammad melakukan perjalanan sehingga turun perintah salat lima waktu bagi umat Islam. "Isra Mi'raj adalah perjalanan nabi Muhammad SAW ke langit ketujuh dengan membawa perintah shalat lima waktu atau bisa disebut perayaan hari sembahyang," ucapnya disertai tawa dari para pengunjung.

Menurutnya, surat Al-Isra yang urutan ke-17 di dalam Al-Qur'an sangat berkaitan dengan jumlah rakaat shalat. "Seperti shalat sendiri yang terdiri dari 17 rakaat, maka jika Bu Lurah dengan pengurus NU di sini merayakan Isra Mi'raj berarti masih punya ingatan. Biarkan orang-orang yang tidak mau merayakan, itu berarti mereka sudah hilang ingatan," kata kiai berambut gondrong yang menjadi ciri khasnya ini.

Pada kesempatan tersebut, ia memberikan ijazah tasbih kepada masyarakat yang hadir. Kemudian, ia juga memberitahukan kepada masyarakat untuk senantiasa mendukung program para pemimpin.  "(Dan) bangga karena mereka semua telah mengorbankan pikiran, tenaga, dan nyawa untuk kemaslahatan masyarakat. Maka contohlah Gus Dur," kata Kiai Syarif.

Ia menekankan agar menaruh rasa bangga kepada seluruh Presiden RI dari awal hingga kini. Sebab, menjadi pemimpin tidaklah mudah. Ia mengajak untuk mencontoh sosok Gus Dur yang mampu merawat bangsa dan masyarakat dengan hati. 

"Tidak ada jabatan apa pun yang harus dipertahankan sampai mati. Jika itu harus mengorbankan darah anak bangsa, maka saya rela dilengserkan," katanya sembari berapi-api, mengutip pernyataan Gus Dur.

Acara pengajian diawali dengan membaca istighotsah bersama, pembacaan maulid, dan shalawat asyghil, serta beberapa shalawat yang dibawakan oleh Tim Hadroh Mangunjaya. 

Di sela-sela pengajian, Kades Linda memberikan hadiah umroh kepada salah satu masyarakat yang rajin mengikuti majelis ta'lim kaum ibu yang diadakan setiap bulan di kantor desa. "Semoga Desa Mekarsari semakin jaya, di bawah kepemimpinan seorang wanita dan bisa terus bersinergi memajukan Tambun Selatan," ucapnya. (Nur Arfah/Aru Elgete/Muiz)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG