IMG-LOGO
Daerah

Bupati Brebes Ajak Warganya Makmurkan Masjid

Ahad 21 April 2019 21:15 WIB
Bagikan:
Bupati Brebes Ajak Warganya Makmurkan Masjid
Bupati Brebes, Hj Idza Priyanti (kanan)
Brebes, NU Online
Bupati Brebes Jawa Tengah Hj Idza Priyanti mengaja warganya untuk memakmurkan Masjid Multazam Dukuh Karangjati, Desa Laren, Kecamatan Bumiayu Brebes yang baru diresmikan.  

Hal itu disampaikan saat dirinya meresmikan masjid baru yang dikelola warga NU di Kecamatan Bumiayu, Kabupaten Brebes, Sabtu (20/4).

"Masjid bukan hanya sebagai tempat menunaikan ibadah shalat saja, tetapi juga berperan sebagai pusat penyebaran syiar islam,  dan juga bisa didayagunakan untuk membina dan mendidik anak-anak dalam pendalaman agama," jelasnya. 

Bupati mengatakan, masjid merupakan tempat ibadah kaum muslimin yang memiliki peran strategis dalam pertumbuhan peradaban umat islam.   Bahkan masjid pada masa rasulullah, di samping digunakan sebagai tempat menyelesaikan berbagai persoalan umat, juga menjadi pusat pemberdayaan masyarakat.

"Ini menunjukan adanya keseimbangan antara pembangunan fisik dan pembangunan mental," ucapnya. 

Bupati Idza menyampaikan terima kasih dan apresiasi yang sebesar besarnya pada keluarga besar H Ahmad Gozali yang telah mewakafkan tanahnya untuk membangun masjid Multazam. Juga kepada seluruh warga masyarakat Dukuh Karangjati yang sudah berpartisipasi dalam pembangunan masjid Multazam. 

Ketua Panitia Widagdo menceritakan, awalnya perencanaan pembangunan masjid Multazam diprakarsai H Ahmad Gozali sejak 1988 saat menunaikan ibadah haji. Ketika bermunajat kepada Allah SWT di depan Kabah, H Ghozali ingin membangun masjd.

Tujuan dibangun masjid, kata Widagdo, antara lain sebagai upaya  turut serta membangun jiwa bangsa dan mewujudkan syiar islam secara nyata.

Tahun 1998, H Ahmad Gozali mengganti dan merubah nama sertifikat tanah tidak atas nama dirinya tetapi langsung menggunakan nama masjid Multazam  dan di wakafkan kepada pemerintah desa. "Alhamdulillah, sekarang sudah resmi sertifikatnya menjadi  masjid Multazam," ujar Widagdo. 

Pelaksanaan pembangunan dimulai November 2018 hingga akhir Maret 2019. "Sambil menunggu kesempurnaan, akhirnya pada 19 April 2019 masjid Multazam diresmikan," terangnya.

Masjid Multazam di bangun diatas areal tanah seluas 420 meter persegi dengan luas bangunan 150 meter persegi. "Masih banyak yang harus di tata, mulai dari pengurugan halaman depan dan samping masjid yang nantinya akan di paving," terangnya.

Sebentar lagi, lanjutnya,  Ramadhan tiba, sehingga warga masyarakat bisa shalat tarawih berjamaah di Multazam.

Pembangunan Masjid Multazam menelan biaya sekitar Rp400 juta. Dana tersebut berasal dari para donatur, masyarakat khususnya warga  Karangjati dan Bumiayu secara swadaya. "Sumbangan terkumpul selama proses pembangunan," papar Widagdo. (Wasdiun)

Bagikan:
Ahad 21 April 2019 23:45 WIB
Ini Sejumlah Ciri Khas Santri menurut D Zawawi Imron
Ini Sejumlah Ciri Khas Santri menurut D Zawawi Imron
D Zawawi Imron pada tasyakuran kelas akhir di MAUWH Tambakberas.
Jombang, NU Online
Ada sejumlah ciri yang akan membedakan antara mereka yang berpredikat sebagai santri dengan kalangan lain. Yang utama adalah memiliki etos belajar tinggi dan bertutur kata dengan kalimat indah.

Penegasan ini disampaikan D Zawawi Imron. Penyair nasional tersebut menyampaikan pesannya pada Muwadaah dan Tasyakuran Kelas Akhir Madrasah Aliyah Unggulan KH Abd Wahab Hasbulloh (MAUWH) Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, Sabtu (20/4). 

Dalam pandangan penyair yang dikenal dengan sebutan Sang Celurit Emas itu, santri adalah mereka yang belajar kalimat suci dan indah yaitu Al-Qur’an. Karena seperti diketahui, kitab suci umat Islam tersebut keindahannya tidak tertandingi.

“Karena itu  para santri harus bertutur santun dan kalimat yang disampaikan indah,” ungkap kiai yang kini tinggal di Sumenep tersebut. 

Akhlak itu menjadi pembeda karena para santri meniru kiai serta ulama. “Dan kiai juga meniru apa yang telah dilakukan oleh Rasulullah SAW,” jelasnya. 

Di hadapan para undangan, ratusan wisudawan dan wali murid tersebut, Zawawi Imron juga mengemukakan alasan KH Abd Wahab Chasbullah atau Mbah Wahab menyatakan hubbul wathan minal iman atau cinta tanah air sebagai bagian dari iman. 

“Karena tidak ada alasan untuk tidak cinta tanah air,” jelas peraih sejumlah penghargaan dari dalam dan luar negeri ini. 

Namun demikian, komitmen cinta tanah air harus dibuktikan dengan perilaku nyata. Seperti dengan tidak berbuat maksiat, menebar kebencian di negeri sendiri, dan sejenisnya. “Bagi Mbah Wahab, tanah air bukan semata ibu pertiwi, tetapi juga sajadah kita,” urainya. Oleh sebab itu tidak ada kamus memberontak di kalangan santri, lanjutnya.

Hal menonjol yang juga tidak boleh hilang bagi setiap santri adalah tingginya etos belajar. “Barangsiapa yang malas belajar di waktu muda, bertakbirlah empat kali atas kematiannya,” katanya mengutip pernyataan Imam Syafii. 

Tidak berhenti sampai di situ, Zawawi Imron juga memberikan penegasan terkait anak muda yang tidak memiliki semangat belajar. “Mereka adalah anak yang gagal dilahirkan oleh ibunya. Dengan demikian, santri yang malas belajar tidak layak untuk hidup,” tegasnya.

Di akhir orasi budayanya, Zawawi Imron membacakan puisi berjudul Ibu yang mampu menghipnotis hadirin. Pada kesempatan tersebut dirinya juga mengajak hadirin untuk membacakan shalawat demi kejernihan rohani. (Ibnu Nawawi)

Ahad 21 April 2019 22:30 WIB
Kelompok Penulis IAIN Pontianak Luncurkan Buku Bersama
Kelompok Penulis IAIN Pontianak Luncurkan Buku Bersama
Peserta peluncuran buku di Madrasah Al-Adabiy, Pontianak.
Pontianak, NU Online
Setelah melaksanakan pelatihan kepenulisan 14 April lalu, Club IAIN Pontianak Kalimantan Barat yang telah bekerja sama dengan Club Menulis  Al-Adabiy Pontianak meluncurkan buku bersama. Acara dilaksanakan di madrasah setempat, yang dikemas dalam nuansa religi. Lagu Ibu Kita Kartini dilantunkan dengan versi islami. 

Kegiatan dihadiri Ketua Pembimbing Club Menulis IAIN Pontianak, Yusridadi, Kepala Yayasan MAS Al-Adaby, Nursilan, dan Pembina Club Menulis IAIN Pontianak, Farninda Aditya. Bergabung pula Ketua Yayasan Madrasah Al-Adabiy Pontianak, KH Azman Alka, serta tamu undangan orang tua santri dan perwakilan madrasah dan sekolah di Kota Pontianak. 

Mita Hairani dalam sambutannya menyampaikan bahwa ada 9 buku yang diluncurkan. “Semua karya siswa Madrasah Aliyah Al-Adabiy dan beberapa buku karya anggota Club Menulis IAIN Pontianak,” katanya, Ahad (21/4). 

Buku berjudul Asal-Usul Desa di Kalimantan Barat merupakan hasil latihan kepenulisan yang merupakan kumpulan tulisan asal-usul desa peserta. 

Ketua Pembimbing Club IAIN Pontianak, Yusriadi dalam sambutannya mengatakan bahwa menulis adalah tongkat kehidupan yang akan selalau dibawa sepanjang hidup. “Menulis membuat seseorang memiliki kemampuan literasi sehingga mampu memfilter hoaks dan tulisan di media. Dan menulis adalah panggilan jiwa,” jelasnya. 

Kegiatan dipandu Mita Hairani, dan buku yang baru saja diluncurkan menjadi hadiah bagi hadirin yang beruntung melalui undian kupon yang telah dibagikan sebelumnya. 

Acara ditutup makan bersama yang telah disajikan siswa-siswi Madrasah Aliyah Al-Adabiy Pontianak. (Nursieh/Ibnu Nawawi)

Ahad 21 April 2019 22:0 WIB
Rayakan Hari Kartini, SD NU Metro Gelar Ajang Kreativitas
Rayakan Hari Kartini, SD NU Metro Gelar Ajang Kreativitas
Peringatan Hari Kartini SD NU Metro
Metro, NU Online
Kartini Kreatif, Kartini Inovatif. Inilah tema besar yang diangkat Sekolah Dasar Nahdlatul Ulama Kota Metro saat memperingati Hari Kartini tahun 2019 yang dilaksanakan di kampus sekolah tersebut, Sabtu (20/4).

Selain untuk memperingati perjuangan pahlawan emansipasi wanita RA Kartini, kegiatan tersebut juga diharapkan mampu mengasah minat, bakat, rasa percaya diri peserta didik dan sebagai ajang kreativitas mengenalkan adat budaya.

Kepala SD NU Kota Metro Nur Hidayat mengatakan, dengan kegiatan tersebut ia berharap juga peserta didik dapat menghormati jasa para pahlawan.

"Peserta didik harus meneladani semangat Kartini dalam menghadapi era global yang mampu mengangkat harkat dan derajat wanita," katanya.

Kegiatan peringatan tersebut diwujudkan dalam bentuk karnaval dimulai dari kampus SD NU dan berakhir di taman terminal Mulyojati, Metro. 

Selain karnaval, peringatan Hari Kartini juga diwarnai dengan fashion show dan kids competition. Beragam kostum budaya dan profesi digunakan oleh dewan guru dan peserta didik guna memeriahkan ajang kreativitas tersebut.

Setelah perlombaan dilaksanakan para dewan juri memutuskan para pemenang dari lomba dan berhak membawa pulang piala.

Untuk lomba video competition dengan menyanyikan kreasi lagu Ibu Kita Kartini, juara I diraih oleh M. Nur Halim, juara II diraih oleh Badzli Putra Anggara, dan juara III diraih oleh Nur Labibah Qurota A'yunina.

Sementara untuk Lomba Fashion show kids, juara I Azam Khoirul Tsani, juara II Mifta Aulia dan juara III Ardan Fatiyan Ashrofi. (Meilinda/Muhammad Faizin)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG