IMG-LOGO
Nasional

Potensi Naskah-naskah Surau Simaung Sumbar

Ahad 21 April 2019 23:15 WIB
Bagikan:
Potensi Naskah-naskah Surau Simaung Sumbar
Naskah kuno di surau surau Sumbar
Jakarta, NU Online
Surau Simaung merupakan surau tarekat Syatariyah yang menjadi salah satu destinasi wisata religi ziarah. Sepanjang tahun, ribuan orang datang ke surau-surau yang terletak di Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat itu untuk berbagai tujuan, seperti membayar nazar, berziarah ke makam ulama, dan lain-lain.

Di dalamnya terdapat puluhan naskah dengan ribuan halaman. Namun sayangnya, naskah-naskah dengan kekayaan kandungan (sastra, sejarah, hagiografi, agama, pengobatan tradisional dan lain-lain) dan keragaman iluminasi (ragam hias di dalam naskah) yang tersimpan di surau-surau tarekat itu belum terkelola dan dikembangkan.

Peneliti Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, M Nida Fadlan mengungkapkan bahwa hal tersebut dapat dimanfaatkan menjadi hal produktif yang bernilai ekonomi dan sumber pengetahuan.

"Melalui penerbitan edisi teks dan rekayasa iluminasi menjadi motif kain (batik) akan memberi peluang untuk pengembangan ekonomi kreatif masyarakat pendukung surau-surau tarekat di Sumatera Barat," jelasnya melalui rilis yang diterima NU Online pada Sabtu (20/4).

Terbitan edisi teks naskah dan rekayasa iluminasi tersebut, menurutnya dapat menjadi buah tangan bagi peziarah atau wisatawan. Selain itu, naskah-naskah yang sudah dikemas rapi saat ini, lanjutnya, dapat dipajang guna dipamerkan sehingga bisa dilihat oleh peziarah. Mereka dapat melihat khazanah naskah tersebut sebagai warisan intelektual ulama pada masa lampau.

"Tentu ini akan menjadi nilai lebih Surau Simaung sebagai tujuan wisata ziarah religi," ujar alumnus Pondok Buntet Pesantren Cirebon, Jawa Barat itu.

Bagi pemerintah, katanya, khazanah naskah koleksi Surau Simaung merupakan aset kebudayaan. Naskah-naskah tersebut merupakan salah satu objek penting dalam pemajuan kebudayaan.

Pemerintah melalui Undang-Undang Pemajuan Kebudayaan Nomor 5 Tahun 2017 telah menempatkan naskah kuno (manuskrip) pada urutan kedua dari sepuluh objek pemajuan kebudayaan yang telah ditetapkan. 

Pemajuan kebudayaan di dalam undang-undang ini, katanya, diartikan sebagai upaya meningkatkan ketahanan budaya dan konstribusi budaya Indonesia di tengah peradaban dunia melalui perlindungan, pengembangan, pemanfaatan, dan pembinaan kebudayaan (Pasal 1 Ayat 3).

"Pemajuan kebudayaan ini bertujuan untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang berdaulat secara politik, berdikari secara ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan," ujarnya.

Selain itu, Nida juga menjelaskan bahwa melalui naskah-naskah koleksi Surau Simaung akan membuka penelitian-penelitian keagamaan, falsafah, kesejarahan, kesusastraan, kebahasaan, dan kajian-kajian dengan sudut pandang yang lain.

Kehadirannya di sana sebagai Data Manager Digital Repository of Endanger and Affected Manuscript in Southeast Asia (DREAMSEA) dalam rangka mendigitalkan naskah-naskah tersebut bersama beberapa filolog dari berbagai perguruan tinggi di Sumatera Barat.

"Semoga digital naskah koleksi surau ini segera dapat diakses secara daring oleh khalayak luas," harapnya.

Harapan besar ini sesuai dengan tujuan akhir dari program DREAMSEA, yakni terbentuknya sebuah repository naskah digital Asia Tenggara yang dapat dimanfaatkan secara akademik luas untuk memperkuat persatuan dalam keragaman bangsa Asia Tenggara. (Syakir NF/Muiz)
Bagikan:
Ahad 21 April 2019 23:30 WIB
Haul Masyayikh Kudus di Ciganjur Berlangsung Khidmat
Haul Masyayikh Kudus di Ciganjur Berlangsung Khidmat
Pembina IKAQ H Abdurrahman Mas'ud (keempat dari kiri)
Jakarta, NU Online
Haul para Masyayikh Kudus di lantai 2 SDIT KH A Wahid Hasyim Ciganjur, Ahad (21/4), siang hingga jelang malam berlangsung khidmat. Para Masyayikh yang diperingati haulnya antara lain KH R Asnawi (ke-61) dan KH Ma'ruf Irsyad (ke-9). Acara tersebut diinisiasi Ikatan Alumni Qudsiyyah Kudus di Jakarta-Bogor-Depok-Tangerang-Bekasi (IKAQ Jabodetabek).

Selain seratusan alumni, kegiatan yang diisi mulai takhtiman Al-Qur’an, tahlil, pembacaan sholawat Asnawiyah, hingga dzibaan dengan langgam khas Kudus ini dihadiri Pembina IKAQ H Abdurrahman Mas'ud. Hadir pula perwakilan guru yang didaulat menyampaikan testimoni, yakni KH Ali Fikri dan KH Nur Hamid yang datang langsung dari Kudus.

Dalam sambutan selaku pembina dan perwakilan keluarga masyayikh, Abdurrahman Mas'ud menyatakan terima kasih tak terhingga kepada alumni. Ia menyebut rangkaian acara haul merupakan tradisi yang baik. “Kita harus menjunjung tinggi acara ini. Sebab, ini merupakan cara yang menyatukan kita atau The Uniting. Bukan memisahkan,” tandas Kepala Balitbang Diklat Kemenag ini.

Menurut doktor jebolan UCLA Amerika Serikat ini, tradisi mulai tahlilan hingga dzibaan ini merupakan identitas santri. “Inilah main identity atau identitas utama kita. Ini cara kita bertauhid. Saya waktu masih kuliah di Amerika juga menjaga tradisi tersebut,” ungkap Guru Besar UIN Walisongo Semarang ini.

Sebelumnya, Ketua Yayasan KH A Wahid Hasyim Ciganjur, H Arif Rahman Hamid, dalam sambutannya menyambut baik terselenggaranya acara tersebut. “Mohon maaf jika fasilitas yang ada di sini minimalis. Terima kasih kepada para kiai dan alumni yang berkenan menyelenggarakan kegiatan di sini,” ujar Arif Rahman mengawali sambutan.

Keponakan Gus Dur ini juga sempat meluruskan pembawa acara yang kurang tepat menyebut namanya. “Saya koreksi sedikit, saya bukan Arif Rahman Wahid. Tapi Arif Rahman Hamid. Ayah saya KH Hamid Baidhowi bin KH Baidhowi. Wahid itu Mbah saya dari ibu,” terangnya.

Mas Yai, sapaan akrabnya, mengaku baru tiba dari Yogyakarta pada pukul 08.00 pagi. Baru mendapat kabar sesampainya di rumah yang berada di kompleks yayasan. “Jadi, saya agak bingung juga mau ngomong apa. Sebenarnya, sepeninggal Gus Dur yang menempati jabatan tertinggi di sini adalah yang ditempati Haji Amin. Saya ini anak buah beliau ini,” selorohnya.

Putra bungsu Nyai Hj Aisyah Hamid Baidhowi ini menambahkan, ada agenda penting yang harus ia ikuti. Oleh karena itu, usai sambutan langsung pamit. “Mohon maaf tidak bisa menemani hingga selesai. Silakan dilanjutkan acara ini,” tandas pria nyentrik ini.
    
Usai acara, H Syaifullah Amin (Alumnus Qudsiyyah 2002) mengatakan, acara tersebut terselenggara berkat kolaborasi alumni Madrasah Qudsiyyah, Taswiquth Thullab Salafiyyah (TBS), Banat, Muallimat, Diniyyah Kradenan, Pondok Pesantren Roudhotul Muta'allimin (PPRM) dan Pesantren Roudhotuth Tholibin yang notabene peninggalan KH R Asnawi. (Musthofa Asrori)


Ahad 21 April 2019 16:0 WIB
Jokowi Hingga Alissa Wahid Ramai Ucapkan Hari Kartini
Jokowi Hingga Alissa Wahid Ramai Ucapkan Hari Kartini
Ucapan Hari Kartini Joko Widodo via Twitter

Jakarta, NU Online
Setiap tanggal 21 April, masyarakat di Indonesia memperingati Hari Kartini. Semasa hidup, perempuan bernama lengkap Raden Ayu Kartini ini dikenal sebagai salah satu pahlawan nasional yang gigih dalam memperjuangkan emansipasi kaumnya.

Tepat pada Ahad (21/4) ini, masyarakat kembali memperingatinya. Berbagai ucapan selamat mengalir di media sosial, terutama di Twitter. Dalam pantauan NU Online, orang nomor satu di Indonesia Joko Widodo pun terlihat turut mengucapkannya.

"Untuk perempuan-perempuan Indonesia, para ibu bangsa: mari terus menggelorakan semangat juang Ibu Kartini. Semangat juang untuk membangun keluarga, masyarakat, bangsa, dan memajukan generasi penerus," demikian twit @jokowi.

Ucapan lain datang dari Gubernur Jawa Timur yang juga Ketua Umum PP Muslimat NU, Hj Khofifah Indar Parawansa. Menurut Khofifah, momentum Hari Kartini harus menjadi refleksi, evaluasi dan memantapkan aksi atas beragam masalah perempuan.


"Selamat Hari Kartini untuk seluruh perempuan Indonesia di mana pun berada. Lakukan yang terbaik untuk dirimu, keluarga, juga bangsa dan negara. Momentum Hari Kartini harus menjadi refleksi, evaluasi dan memantapkan aksi atas beragam masalah perempuan," tulis @KhofahIP.

Putri KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, Alissa Wahid juga ikut mengucapkannya. Alissa mengemukakan tentang peran kakeknya, KH Wahid Hasyim ketika menjabat sebagai Menteri Agama dan ayahanya, Gus Dur ketika menjadi presiden memperjuangkan keadilan dan kesetaraan perempuan.


"Hari Kartini. Selamat merayakan perjuangan keadilan & kesetaraan bagi perempuan, Indonesia. Kyai Wahid Hasyim sbg Menteri Agama memastikan perempuan bisa menjadi Hakim Agama. Presiden #GusDur dg Inpres PUG no.9/2000: kebijakan Negara harus berperspektif gender. Yuk lanjutkan!" tulisnya.

Saat berita ini ditulis, ucapan Hari Kartini menjadi salah satu topik populer dengan menduduki 5 besar di Twitter. (Husni Sahal/Muhammad Faizin)

Ahad 21 April 2019 15:30 WIB
Inilah Keragaman Koleksi Naskah Kuno Surau Simaung Sumatera Barat
Inilah Keragaman Koleksi Naskah Kuno Surau Simaung Sumatera Barat
Naskah Kuno Surau Simaung, Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat

Jakarta, NU Online
Digital Repository of Endanger and Affected Manuscript in Southeast Asia (DREAMSEA) berhasil mendigitalkan 88 naskah di Surau Simaung, Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat selama 22 Maret 2019 sampai 19 April 2019.

A. Malin Bandaro Tuangku Mudo, pewaris dan tuangku Surau Simaung, mengungkapkan bahwa  88 naskah itu merupakan peninggalan Syekh Kitabullah yang bergelar Syekh Malin Bayang (w. 1963).

"Naskah-naskah tersebut selama ini tersimpan di lemari dalam salah satu bangunan surau kecil di tengah-tengah dua surau besar," katanya melalui rilis yang NU Online terima pada Sabtu (20/4).


Foto: Perawatan

Ruangan yang minim ventilasi dan penyimpanan naskah yang bertumpuk dengan benda lain membuat banyak naskah yang rusak. Bahkan, ada dua naskah tebal yang sama sekali tidak dapat terbaca lagi karena kertasnya hancur.         

Namun, jika dibandingkan dengan koleksi naskah di surau-surau lain di Sumatera Barat, koleksi Surau Simaung ini lebih beragam teksnya.

M Nida Fadlan, Data Manager DREAMSEA, menjelaskan bahwa ada banyak naskah penting yang ditemukan di surau tersebut. Mîzân al-Qarb, misalnya, yang berisi tentang persoalan takwim.

"Dalam konteks wacana Islam lokal Minangkabau, teks takwim yang lengkap ini sangat penting. Perdebatan penentuan awal bulan dalam tahun Hijriah pernah menjadi perdebatan di kalangan ulama Minangkabau pada permulaan abad XX," terang peneliti Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu.

Kitab tersebut, lanjutnya, berisi empat bab. Pertama, perhitungan tahun mulai dari perhitungan tahun dunia sejak zaman Nabi Adam, lahir Nabi Muhammad, dan hari kiamat. Kedua, tentang pembagian tahun Syamsiah dan Kamariah. Ketiga, tentang sistem kalender hijriah taqwîm. Keempat, tentang penetapan puasa.

Selain tema takwim, Nida juga menyebut naskah lainnya yang menjelaskan tentang takwil gempa dengan uraian yang panjang dan lengkap. Menurutnya, naskah tersebut berbeda dengan naskah-naskah takwil gempa lainnya yang biasanya hanya berisi uraian singkat saja.

Alumnus Pondok Buntet Pesantren itu juga menguraikan naskah-naskah lain yang ditemukan di Surau Simaung itu dalam bidang tasawuf. Koleksi naskah Surau Simaung dalam bidang itu, menurutnya, cukup lengkap mengingat surau tersebut merupakan surau tarekat Syatariyah.


Foto: Koleksi Naskah Kuno

Naskah yang berisi ajaran martabat tujuh, misalnya, yang termuat dalam karya Syamsuddin Sumatrani, yakni Rubai Hamzah Fansuri dan Tubayyin al-Mulahazah al-Mawwâhib wa al-Mulhîd Fî Zikrillâh; karyaSyekh Abdurrauf Singkel, Tanbîh al-Masyi; bahkan salinan naskah karya Ali Sirnawi, guru dari Syekh Ahmad al-Qusyasi yang berjudul Mawâhib al-Khamsiyahdan; dan karya Sayyid Mahumud al-Husni al-Bukhari al-Qadiri al-Syattari yang berjudul Diwâr al-Wujûd fi Ilm al-Haqâiq.

"Beberapa naskah di surau tersebut juga berisi teks genealogi tarekat Syatariyah di Minangkabau yang secara umum tidak diketahui sebelumnya," jelasnya.

Hal ini, menurutnya, tentu saja menjadi informasi penting untuk mengungkap jaringan ulama lokal Minangkabau secara luas.

Tidak hanya naskah Syatariyah, di surau ini juga ditemukan naskah-naskah berkenaan dengan ajaran tasawuf dari tarekat Naqsyabandiyah yang ditulis oleh Arif Billah Ahmad Ibrahim.

Lebih lanjut, Nida juga menerangkan bahwa koleksi naskah di Surau Simaung juga diperkaya dengan naskah-naskah yang berisi teks pengetahuan tradisional, seperti cara menentukan kecocokan jodoh dengan menghitung nama pasangan, menentukan kecocokan yang mengobati dengan yang diobati berdasarkan nama, melihat jenis pasangan dengan nama, melihat hal yang baik dan buruk berdasarkan pala (perjalanan) dan peredaran naga, bulan-bulan yang baik dalam satu tahun berdasarkan bulan-bulan yang dinamai dengan jenis binatang, hari yang baik untuk berjalan dan mendirikan rumah, meramal anak yang sedang dikandung apakah laki-laki atau perempuan, dan tanda-tanda gerak tubuh (Syakir NF/Muhammad Faizin)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG