IMG-LOGO
Cerpen

Aku, Kamu, dan Kereta

Senin 22 April 2019 4:34 WIB
Bagikan:
Aku, Kamu, dan Kereta
Larangan Menyakiti Keturunan Rasulallah 







Jombang, NU Online - Wakil Rois Syuriah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Jombang KH M Soleh menjelaskan pesan Rasulullah Muhammad SAW tentang golongan yang dilaknat oleh Allah, Rasulallah dan para nabi.



Diantara golongan itu adalah orang yang menyakiti keturunan Rasulullah SAW. Baik keturunan biologis. Maupun keturunan ideologis yakni para ulama yang mewarisi ilmu nabi.



"Keturunanku seperti perahunya Nabi Nuh. Siapa yang naik kedalamnya akan selamat," katanya saat mengisi lailatul ijtima pengajian rutin ranting NU Candimulyo di Musala Al-Kautsar, Jombang, Jawa Timur, Ahad (21/4).



Kiai Soleh mengajak seluruh umat Islam menghormati keturunan para nabi. Seperti apapun kondisi mereka dan tetap tidak mencaci maki keturunan Nabi Muhammad SAW. "Misalnya ada sikap mereka yang kita tidak cocok, jangan sampai mencaci maki apalagi menyakitinya," tegas Kiai Soleh.



Kiai Soleh lalu menceritakan suatu peristiwa zaman dahulu dimana ada seorang perempuan keturunan Nabi Muhammad yang miskin dan saat itu anak-anaknya sedang kelaparan. Syarifah ini lantas mendatangi seseorang yang kaya lantas menyampaikan kebutuhannya.



Namun Orang kaya itu tidak mau memberi. Ia justru mempertanyakan bukti bahwa syarifah tersebut keturunan Rasulullah. Malamnya, orang itu mimpi dunia sudah kiamat. Ia panik mencari perlindungan. Hingga ketemu Rasulullah dan minta perlindungannya. Namun nabi bilang, dia hanya mau melindungi umatnya. 



"Orang itupun bilang, saya ini umat jenengan. Nabi balik bertanya, apa buktinya?. Orang itu pun terbangun dan menyesali perbuatannya. Lantas mencari syarifah tadi dan membantunya," bebernya.





Dikatakanya, di Nahdlatul Ulama banyak habib yang masuk struktur organisasi. Di PCNU Jombang juga ada habib. Diantaranya, Habib Muhammad Al-Jufri dan Habib Muhammad bin Salim Assegaf. Keduanya Wakil Rais syuriah.



Selain itu, para kiai di NU banyak juga yang nasabnya menyambung ke Rasulallah namun tidak koar-koar. "Kiai-kiai banyak yang habib tapi tidak diomong-omong," tegasnya



Agar tidak terjerumus pada menyakiti nabi dan keturunannya, Kiai Soleh mengingatkan untuk banyak bersalawat. Hal ini sesuai isi kandungan Al-Quran surat Al-Ahzab ayat 56.



"Pada  Surat Al-Ahzab ayat 57 Allah menyebutkan golongan yang menyakiti Allah dan Rasulallah, sehingga dilaknat oleh Allah di dunia dan akhirat," tandas Kiai Soleh.



Bagikan:
Rabu 17 April 2019 14:30 WIB
Palu dalam Lingkaran Benturan
Palu dalam Lingkaran Benturan
Ilustrasi via Dictio
Harus hadir angin segar masuk ke dalam rumah. Ada sebuah gradasi panjang yang kemudian menjadi mushaf penggunaan elemen sebagai otoritas kekuasaan. Ini bukan drama, bukan hikayat, bukan ludruk, bukan pula wayang. Wujud itu benar-benar muncul dengan huruf dan kata-kata yang tak butuh asumsi. Hanya dia yang bisa memikul, bahkan raja pun tak akan sanggup dan kuat.

Ucapannya bukan bahasa sekedar bahasa, tapi bahasa yang memungkinkan ia dapat dari pengelanaan berjuta atau bermiliaran tahun. Bukan umur, tapi jangka daya pikirnya. Jangan berburuk sangka dahulu.

Bayangkan jika ia pun mampu menaklukkan isi otak manusia. Karena dari mulutnya, aku pernah mendengar ultimatum bernada ancaman. "Bisakah anda bayangkan apa yang akan saya lakukan jika saya bisa melakukan semua yang saya bisa?"

Seketika nyaliku ciut dan menarik kembali sebilah bambu yang sedari tadi kuacung-acungkan dengan tangan kiri, begitu juga dengan tangan kanan dan mulut moncong yang tak kalah panjangnya dengan galah. Ini mungkin yang sering disebutkan oleh banyak orang. Bahwa jangan pernah menganggap kecil si muka datar, jangan pernah menganggap rendah dia yang nyaris tak pernah muncul di permukaan.

Aku duduk dihadapkan tepat di depannya. Bajunya lusuh sama seperti sarung yang dililit di pinggangnya. Tak beraturan, asal pakai, yang penting paha rampingnya tertutupi barangkali. Di sela-sela jari telunjuk dan tengahnya terselip sebatang rokok tembakau. Suara hisapannya berbeda dari perokok amatir biasanya. Seolah ia ingin menunjukkan bahwa rokok adalah bagian dari dirinya. Perlahan, berbunyi "srlupppppp". Kalian pernah mendengar orang menyeruput kopi? Nah persis seperti itulah kira-kira.

"Tadi asalnya dari mana?" Kepalanya agak sedikit mendongak ke atas, lalu keluar kepulan asap yang membuat kepalaku pening menciumnya.

"Aslinya Jakarta, bang."

Aku tak mau bercerita banyak tentang bagaimana Maghrib itu. Kutimbang dengan mata yang tak kunjung segar, badan yang tak kunjung bugar, kaki pegal, kepala buyar, malas meladeni beliau bercerita panjang lebar. Tapi namanya tamu, mana ada yang mempersilakan diri rebahan di balai-balai ataupun di tikar pohon. Ini saja kakiku dingin.

Hal unik yang membuatku agak sedikit planga plongo adalah, bagaimana orang Palu kuno bisa membuat lantai kayu selicin keramik. Aku nyaris bisa berkaca. Sekalinya ketika menunduk, aku bisa mencuri pandang pada sosok yang ada di depanku.

"Itu dipel pakai serutan kelapa, digosok-gosok di permukaan lantai kayu berkali-kali sampai licin betul. Ada juga yang pakai oli. Tapi resikonya agak sedikit bau." Aku mengangguk pelan.

"Dudukmu gusar begitu, ada apa?"

"Eh he ini bang, kakiku pegal."

"Kamu kalau letih, silakan rehat dulu. Nanti kita lanjut ceritanya, masih ada banyak waktu kamu di sini kan?"

"Iya bang, siap. Saya duluan ya bang." Ucapku tanpa berpikir panjang. Karena memang itulah yang aku inginkan sedari tadi.

Ia mengangguk.

"Eh tapi tunggu dulu." Tiba-tiba ia menyetop jalanku.

"Iya bagaimana bang?"

"Nanti selesai sholat maghrib, kamu siap-siap ya. Kita langsung menemui bu Fifi. Kebetulan kamu kebagian di yayasan Darul Fatah. Nanti kamu ngobrol banyak dengan beliau."

Aku hanya tersenyum sambil mengacungkan jempol dan langsung balik arah menuju kamar yang akan aku tinggali selama 2 minggu kedepan di Palu.

***

Sore itu aku berangkat ke yayasan Darul Fatah. Perjalanan itu memakan waktu kisaran 15 menit dari Guest House Legian, tempat menginapku sekarang. Mataku tak lepas dari laut yang kemarin ganas dan tak terkendali. Ia menyapu bersih permukaan. Masjid Apung sudah tak lagi berdiri cantik, jembatan kuning hanya tinggal ruas ujung barat dan timur, bangkai ayam, sampah, kayu, ranting, ikan mati, dan masih banyak lagi onggokan yang menutupi jalanan aspal sepanjang pinggiran pantai.

Kiranya, terkutuklah mereka yang berfoto dan swafoto gembira sambil tertawa memperlihatkan gusi dan geraham mereka dengan latar rumah roboh, puing tiang listrik dan sandal balita. Bagaimana bisa mereka bangga berdiri di tanah yang baru saja tertimbun duka? Terkutuklah mereka yang berani demikian.

"Abang, tidak takut lagi melihat air? Bukankah punggung abang kemarin sempat tersapu juga?"

"Peristiwanya sudah lama. Tak usah lagi diingat-ingat, tugasmu ke sini adalah menghilangkan duka? Bukan kembali membawa ingatan bukan?"

Aku berusaha untuk tidak menelan ludah sendiri yang dari tadi terkumpul di mulutku. Ditelan tak enak, dibuang tak sopan. Nanti dikira tidak punya tata krama. Belum lagi kejadian 3 hari yang lalu. Ketika aku dan rombongan datang untuk pertama kalinya. Tadinya, aku pikir bahwa Palu adalah keras dan tidak terbuka. Sehingga aku juga menarik diri untuk tidak terkesan "sok asik" di depan mereka. Prasangka hanyalah prasangka. Justru penerimaan mereka sangat luar biasa. Tidak seperti yang saya bayangkan sebelumnya.

Darul Fattah kami tempuh dalam waktu kisaran 45 menit dari posko utama. Dimulai dari ketika bagasi mobil dibuka, anak-anak dari yayasan Darul Fattah yang terdiri dari Raudhatul Anfal (setingkatan Paud), MI, MTs dan MA mulai mengerumuni kami. Dengan energi yang masih segar, aku tersenyum sumringah di hadapan mereka. Berharap dari senyuman inilah, akan lahir semangat baru pula bagi mereka.

Jika diizinkan, seharusnya Tuhan mengundur bencana agar mereka tidak tumbang secara mental di usia yang masih dini. Atau setidaknya Tuhan beri tahu mereka dengan tanda-tanda agar mereka bersiap menyingsingkan celana dan baju untuk berlari menghindari ganasnya gempa dan tsunami.

Bang Tamik sudah berdiri di depan gerbang. Tidak seperti kemarin pakaian dan dirinya yang acak-acakan. Kali ini rambutnya licin oleh minyak rambut, seragam gurunya yg rapi walaupun ada bekas garis setrika, sepatunya yang bersih. Ia mempersilakan kami memasuki tenda darurat yang digunakan untuk keperluan belajar mengajar. Sembari menunggu anak-anak berkumpul untuk mendengarkan terapi psikososial tim dari Jakarta.

Acara dimulai, anak-anak diajak berteriak kencang, berdoa, bermain, dll. Sedangkan seorang anak duduk dengan rambut sebahu yang tergerai lurus. Pupil matanya tidak diam menetap, menunduk, menggigit jari. Sekali-kali ia mendekap kaki hingga menyatu dengan tubuhnya. Aku memaksakan diri untuk menghampirinya dan bertanya. Tidak berhasil. Tidak ada jawaban.

Aku mencoba lagi berkomunikasi dengan melakukan kontak mata. Tetap tidak ada respon. Malah tatapannya bergulir ke kanan dan ke kiri.

"Ini sudah ada perubahan. Pasca gempa keadaannya lebih parah dari ini. Sungguh kejam memang nasib berpihak kepadanya. Sudah yatim dan tidak ada yang mengurusi kecuali ibunya yang pincang. Tentu menambah sakit hati ibunya."

Telinga bang Tamik memerah. Matanya mulai berkaca-kaca. Ia berpura-pura membenarkan posisi kacamatanya. Padahal aku tahu, ia menyeka air matanya yang setitik, "Saya sangat ingin membantunya. Tapi tidak bisa kecuali berdoa supaya ada yang bisa mengajaknya bicara."

"Saya ini lho, miskinnya nggak selesai-selesai. Capek. Kalau saja saya kaya, sudah saya bawa ia ke psikolog atau psikiater." Lanjut bang Tamik.

"Kepalanya terbentur, mba. Kebetulan waktu kejadian gempa itu, dia duduk di gerobak menunggui ibunya yang sedang sholat di masjid. Namanya ibunya pincang ya, jadi ketika gempa berlangsung, ibunya juga nggak bisa berbuat apa-apa kecuali berusaha menghampirinya. Sedangkan badannya sudah tidak bergerak dengan kepala yang bertetes darah. Saya kepengin nangis, mba. Saya ini bukan siapa-siapanya dia. Kebetulan saya lewat dan melihat keadaannya dan ibunya seperti itu. Kejam sekali." Lagi bang Tamik menyeka air matanya.

Aku mengkhususkan diri mengajak anak tersebut berkomunikasi dan bicara. Susah memang. Tapi tidak ada pilihan lain. Dengan keadaan dan peralatan seadanya untuk terapi psikososial aku terus mengajaknya berkomunikasi.

Aku memutuskan tiga hari berturut-turut selepas mendatangi sekolah-sekolah di Palu, sorenya akan menyempatkan waktu berkunjung ke Darul Fattah. Perubahan memang tidak cukup signifikan. Hanya saja aku patut bersyukur, si anak sudah mulai mau kuajak mengobrol walau dengan jawaban yang terbata-bata. Setidaknya ini adalah awal yang baik.

Di hari ke empat, aku tidak berkunjung lagi ke Darul Fattah. Melainkan berbalik ke kantor pusat konseling di kota Palu. Berbicara kelanjutan terkait dengan kasus-kasus trauma yang dialami oleh anak-anak di Palu pasca bencana.

Waktu sangat terbatas, tidak mungkin si anak akan menunggui dan bergantung padaku sampai selesai ke tahap penyembuhan. Tahap pelepasan dimulai. Di hari kelima aku dan konselor datang lagi ke Darul Fattah. Kali ini aku melakukan aktivitas seperti biasa. Bedanya sekarang aku mulai memperkenalkan konselor baru dengan si anak. Mulai ngobrol bersama-sama dan bermain.

Esok Jakarta sudah menungguku dengan sejuta aktivitas yang lain. Semoga semua baik-baik saja. Ini hari adalah terakhir. Semoga kedepan aku bisa menyambangi tempat ini kembali dengan keadaan yang sudah damai dan bersahabat.


Dwi Putri, Tim Psikososial LPBINU dan UNUSIA Jakarta
Sabtu 13 April 2019 16:25 WIB
Patim
Patim
Oleh Dwi Putri

1.
Sudah menjadi rahasia umum bagaimana hubungan keluarga Patim dan dua istrinya. Istri pertamanya Ayuk  Roza, cantik, gemulai dan memiliki naluri keibuan yang mampu memikat perhatian banyak orang. Bukankah beginilah keinginan semua suami. Betapapun tegar dan kekarnya ia di luar, tetap akan menjadi anak kecil ketika sudah di rumah. Ingin dimanja, diperhatikan sama seperti sang istri memperlakukan anak-anaknya. Lalu bagaimana dengan istri Patim yang kedua? Ayuk Tita ,umurnya lebih tua 2 tahun dari Patim. Kabarnya dia juga seorang janda beranak 1. Pikir tetangga, duh mulia sekali hati Patim.

Punya dua istri sah sekaligus masih sangat tabu untuk dilakukan bagi masyarakat suku Besemah. Kalaupun ada, hanya satu dua orang yang mau berani berbuat demikian. Karena selain menanggung cibiran masyarakat sekitar, anggapan dituduh hamil di luar nikah, berbuat mesum dan hal-hal yang tidak layak untuk didengar. Patim? Dia cukup cerdas. Ia tidak menempatkan istrinya dalam 1 atap. Ayuk Roza ia boyong ke kota Pagaralam, sedangkan Ayuk Tita tetap ia biarkan berdekatan dengan kerabatnya di Lahat. 

Namun demikian, Patim berani mengambil resiko. Pasalnya, dalam keadaan ia yang beristri 2 dan beranak 3, Patim bukanlah anak orang kaya. Bahkan ia masih serba kekurangan di sana sini. Akibatnya, mau tidak mau Ayuk Tita hanya ia beri rumah kayu mungil berukuran 8x4 meter. Entahlah, ini disebut adil atau tidak jika dibandingkan dengan fasilitas yang Patim berikan kepada Ayuk Roza. Rumah mereka di Pagaralam sudah cukup baik. Kesehariannya bertani dan sayur kubis yang cukup luas yang ia jual di pasar Pagaralam seorang diri, dan kedua anak kembarnya sudah menginjak sekolah menengah atas.

Jangan dibayangkan jika kedua istri Patim adalah dua orang perempuan yang akur. Jelas tidak. Mereka sama-sama saling mengetahui jika mereka bukanlah satu-satunya istri Patim, tapi mau bagaimana lagi? Nasi sudah jadi bubur. Toh mereka tahu jika mereka madu dari orang lain. Pernah terjadi adu mulut ketika Ayuk Tita sedang berbelanja di pasar Pagaralam. Sengaja ia ke sana, sekedar ingin membuktikan kebenaran rumah tangganya. Sesampainya di sana, Ayuk Tita langsung menghampiri kedai Ayuk Roza. Benar saja. Setelah tawar menawar sayur, Ayuk Tita langsung memberitahu siapa dirinya sebenarnya. Sontak Ayuk Roza kaget bukan kepalang melihat perempuan yang saat itu berada di depan matanya. Dari sanalah pertengkaran hebat terjadi. Pelipis sebelah kiri Ayuk Tita terluka akibat kena lemparan mangkok dacing  milik Ayuk Roza. Untungnya satpol PP langsung menghampiri mereka dan keduanya diurus pihak keamanan pasar setempat. Mau tidak mau, Patim juga ikut terlibat dalam insiden tersebut.

Setelah duduk permasalahan diketahui, keduanya baru diperbolehkan pulang. Bukan main geramnya Ayuk Roza. Patim tidak tahu harus berbuat apa. Dari sini, kelelakiannya diuji. Memang susah.

2.
“Kasihan tim sepakbola dari Jerman, Mak.”

“Lah? Kenapa, Pak?”

“Itu lho, mereka jadi korban kutukan selanjutnya di piala dunia. Tadi malam bapak lihat di televisi, nonton bareng dengan bapak-bapak yang lain di balai desa.”

“Lah Bapak masih ke sana?”

“Kenapa harus diungkit-ungkit lagi, Mak? Patim kan sudah meminta maaf ke Emak. Bapak juga baik-baik saja dengan keluarganya. Kecualinya memang istrinya itu. Aduh, rendah sekali dia memandang keluarga kita, mak. Tapi tak apa……..”

“Halah sudahlah. Bapak bilang tidak usah diungkit-ungkit lagi. Buktinya sekarang? Bapak malah membicarakan perempuan itu lagi. Jangankan mukanya, namanya saja disebut-sebut di rumah ini aku tidak sudi lagi.”

“Itu istrinya, tapi kan Patim tidak mak.”

“Terserah. Baik istrinya maupun Patim sama saja. Kalau memang Patim itu baik, sudah jelas seharusnya dia sadarkan perempuan yang berlagak sok kaya itu.”

Lelaki kurus jangkung itu langsung mengarah ke belakang dengan bertelanjang dada. Sedang istrinya masih sibuk mengupas singkong untuk dibuat keripik pedas lalu kemudian dijual di kedai mungil depan rumahnya. Setidaknya dari hasil keripik itulah mereka bisa memenuhi kebutuhan sehari-sehari pasca diberhentikan oleh Patim bekerja menyadap di kebun karet miliknya. Si bapak tidak ambil pusing dengan keputusan Patim. Baginya, rezeki masing-masing orang sudah diatur oleh Allah. 

“Nanti Allah akan mengganti rezeki kita dengan yang lebih besar, mak”

“Rezeki boleh diatur Allah, pak. Tapi perlakuan Patim dan istrinya itu sudah keterlaluan. Kasihan Agil sampai harus membongkar celengan untuk masuk SMP. Kalau saja seandainya anaknya Patim itu mengatakan hal yang sebenarnya, mungkin hubungan  keluarga kita tidak akan separah ini.”

“Ya sudah, terus emak maunya gimana? Apakah saya harus datang ke keluarganya Patim? Menyampaikan kalau emak tersinggung? Agil bongkar celengan? Bapak yang pengangguran?”

“Bukan begitu maksud saya, pak.”

“Kalau bukan, ya sudah. Nggak usah dibicarakan terus. Selama kita masih punya Tuhan yang maha besar, Dia punya segalanya. Kita malah lebih kaya lagi, karena punya Dia yang punya segalanya hehe…”

Emak hanya tersenyum sambil terus mengupas singkongnya. Di luar cuaca gerimis. Padahal hari ini pak Tris si lelaki jangkung sudah berjanji pada Agil  membelikannya cat air untuk keperluannya di sekolah besok. Langkahnya urung keluar. Sandal kulit yang sudah ia lap gemilang 4 jam yang lalu setelah selesai sholat subuh, juga akhirnya ikut masuk lagi ke dalam rumahnya yang hanya beralaskan tanah liat mengeras.

Mendapati dirinya yang masih bugar bekerja untuk anak istrinya saja pak Tris sudah bersyukur. Baginya tidak semua orang akan diberikan hal semacam ini. Ada yang bergelimang harta, namun kesehatan selalu terancam. Ada juga yang sehat, namun hanya bermalas-malasan di rumah. 

Sembari menghisap rokok tembakau miliknya di pelataran balai bambu, pak Tris menarik sarung lusuh yang tergantung di paku dinding yang ada di dekatnya. Suasana berubah. Membuat kulit menggigil. 

“Ada kopi hitam, mak?” Ujarnya memanggil si istri.

“Iya pak, nanti emak antarkan.”

Tak lama berselang, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu rumah mereka. Balai bambu berderik, pak Tris buru-buru membukakan pintu. Matanya nanar setelah melihat siapa yang datang.

“Maaf ganggu pak. Saya mau masuk, ngobrol dengan bapak. Boleh?”

Pak Tris hanya mengangguk dan mempersilakan tamunya masuk.

“Maaf nak Patim. Di rumah bapak nggak ada kursi. Jadi duduk di balai saja ya.”

Si lawan bicara tersenyum, “Iya nggak apa-apa pak. Emak mana?”

“Ada di belakang, sedang memanaskan air untuk kopi. Mau ngopi juga?”

“Nyeruput gelas sama bapak saja nggak apa-apa.”

“Hahahahaha…” Keduanya tertawa.

Emak datang membawa segelas kopi dan beberapa potong singkong rebus yang sudah ditaburi gula pasir. Emak juga kaget dengan kedatangan Patim di rumahnya, hanya saja agar terkesan dalam keadaan baik, emak diam dan langsung menaruh kopi di hadapan keduanya.

“Ngopi Tim?” Tawarnya

“Nggak usah, mak. Patim nyeruput gelas bapak saja.”

Emak langsung kembali lagi ke belakang. Dan melanjutkan pekerjaannya mengupas singkong. Jelas ia menggerutu melihat kedatangan Patim. Tapi emak pada akhirnya tidak ambil pusing. Toh benar juga apa yang dikatakan si bapak. Yang memberhentikan pak Tris itu si Roza, istri Patim.

“Istriku ngamuk lagi pak” Adu Patim tiba-tiba.

“Istri yang mana?”

“Roza.” Jawab Patim singkat.

“Itu kan sudah menjadi konsekuensinya, Tim. Kamu yang sudah memilih jalan begini. Berarti kamu juga harus menyelesaikan sampai akhir. Dari awal aku sudah memberitahu kalau Tita juga manusia. Dia janda. Sudah kamu nikahi dengan sah, tapi hanya beberapa kali aku lihat kamu bertandang ke Lahat. apa nggak sedih hatinya si Tita? Saya juga akhirnya merasa bersalah. Maksud hati saya ingin melihat dia bahagia mempunyai suami seperti kamu. Mengenalkan kamu dengan keponakanku, Tita. Ini malah ditelantarkan. Masih baik Tita tidak menuntut lebih ke kamu, Tim. Sebagai seorang istri, wajar seandainya nanti Tita menuntut hak.”

Patim membenamkan pandangannya dalam-dalam.

“Semalam Tita juga menelpon saya, pak. Dia sudah memutuskan untuk menggugat cerai saya. Nah sebelumnya, ketika sore, Roza juga berontak meminta cerai. Nggak mendengar apa yang saya katakan. Dua-duanya sudah tidak ada niat untuk saya pilih. Masa saya harus menceraikan dua perempuan sekaligus, pak. Minimal salah satu di antara keduanya harus ada yang tetap bertahan dengan saya. Atau kalau bisa dua-duanya tetap sama saya. Aduh bingung pak. Capek saya.”

“Roza bagaimana?” Tanya pak Tris.

“Saya nggak tahu pak. Saya bingung.” Mata Patim mulai berkaca-kaca, “Jujur. Hati saya tergerak untuk segera mendatangi Tita ke Lahat.”

“Kamu datang ke sana. Temui Tita. Kalau dia sudah meminta cerai, maka kamu sudah harus beri dia kejelasan. Benar-benar cerai, atau pilih dia satu-satunya sebagai istri. Saya juga merasa tidak enak hati dengan Tita, Tim.”

“Besok saya ke sananya pak. Hari ini dengan Roza dahulu. Saya ingin mendengarkan dia maunya seperti apa. Kalau saya jujur saja, ingin tetap bertahan dengan keduanya.”

Lama bercengkrama dengan pak Tris. Ketika gerimis sudah mulai reda, Patim beranjak pergi dari rumah pak Tris yang merupakan buruh di kebun Patim. Namun, dua hari yang lalu, Ayuk Roza memberhentikannya dengan alasan pak Tris sudah lamban dalam bekerja dan akan digantikan dengan pekerja yang lebih muda di ladangnya. Pak Tris tidak yakin sepenuhnya. Pasalnya Ayuk Roza dikenal sangat baik dengan keluarga pak Tris. Bahkan sudah dianggap saudara sendiri. Tapi semenjak Ayuk Roza tahu kalau pak Tris lah yang memperkenalkan Patim dengan Tita, di sana perubahan sikapnya dimulai. Ia sudah mulai berani membentak pak Tris. Hasilnya, pak Tris malah diberhentikan bekerja di ladangnya.

Dua bulan aral melintang tidak tahu arah. Patim harus menerima kenyataan bahwa prahara rumah tangganya benar-benar tidak bisa dibendung lagi. Dua istrinya memilih untuk bercerai dengan Patim. Luar biasa memang keputusan kedua istrinya. Setelah ia bolak balik antara Pagaralam dan Lahat, satupun tidak ada yang bisa menerima. Pikir Patim awalnya, ia bisa menaklukkan keduanya agar rukun dan tidak bertengkar. 

Kenyataannya, justru Patim yang terpuruk menghadapi nasib yang baru saja ia terima. Ia memang masih di Pagaralam. Hanya saja ia kini tinggal di gubuk di ladang kubis miliknya. Sempat terbersit oleh Patim untuk menjual kebun tersebut dan pindah ke Muara Enim, daerah asal orangtua kandungnya. Tapi entahlah. Patim masih berbaring dan menutup wajahnya dengan lengan. Lalu kemudian tertidur. Untuk esok, belum terencana apalagi yang harus ia perbuat.


Penulis adalah mahasiswa Psikologi UNUSIA Jakarta


Selasa 26 Maret 2019 4:20 WIB
Sebuah Kado Untukmu
Sebuah Kado Untukmu
Oleh Abdullah Alawi 

Hari pernikahanmu semakin dekat. Kamu pasti sibuk mempersiapkan segala sesuatunya. Membagi-bagikan surat undangan, mempersiapkan mas kawin, mendatangi penghulu, membeli pakaian baru dan sebagainya. Pokoknya mempersiapkan lahir dan batin. 

Lalu akad nikah pun dilaksanakan di sebuah masjid. Ikatan suci memang mesti dilakukan di tempat suci. Itu rencanamu dari dulu yang sering diceritakan. Pihak keluargamu dan keluarga calon isterimu semuanya hadir. Mereka memanggilmu ‘pengantin baru’. Kamu menjadi raja sehari. Makanan serba enak. Pakaian serba bagus. Semuanya mengucapkan 'selamat'. Sungguh sejarah emas episode kehidupanmu. Kamu mengabadikannya dalam potret. Manusia memang menginginkan keabadian. Atau sekedar untuk kenang-kenangan. Sesekali kamu bisa membukanya di album. Atau ditempel di ruang keluarga. Meski sudah buram, tapi sangat tinggi nilainya.

Lalu kamu pun berbulan madu. Apa yang sering kita bayangkan dan diobrolkan di larut malam, di kamar kost itu, sekarang kamu menunaikan dengan halalnya. Kamu menunaikan titah alam. Melaksanakan sunnah Rasul dan sabda Tuhan.

Di malam pertamamu, kamu bagaimana ya? Canggung tidak? Kamu pasti memakai obat kuat bertenaga kuda. Mudah-mudahan kamu tidak impotensi. Kalau seperti itu, kamu harus berurusan dengan Mak Erot. Suatu saat kalau kita bertemu, entah kapan dan di mana pun, kamu harus menceritakannya. Seperti yang sering kita obrolkan tentang pernikahan, teman hidup, malam pertama, waktu larut malam sambil tiduran. Kalau sudah larut malam, pikiran memang selalu seperti itu. Hasrat paling purba datang menyapa.

Sekarang kamu disebut suami dan pendampingmu disebut isteri. Kamu boleh memanggil isterimu 'mama', 'umi', 'sayangku', namanya, atau 'humaira' seperti Nabi memanggil isterinya. Dan isterimu boleh memanggilmu 'aa', 'kang mas', 'papa', 'sayangku' atau namamu sendiri. Terserah apa kesepakatan kalian berdua. Atau bisa juga kamu membikin istilah baru yang dipahami dan disenangi kalian berdua.

Kamu sekarang berumah tangga. Punya lembaga yang bernama keluarga.  Punya mertua, adik ipar, dan kakak ipar. Mereka pasti memanggilmu berbeda-beda sesuai posisinya masing-masing. Untuk sementara, kamu bisa tinggal di rumah orang tua isterimu atau di rumah orang tuamu. Tugasmu sekarang bertambah, mencari nafkah. Apa pun caranya rezeki harus dicari asal halal. 

Dalam berumah tangga, kamu jangan memikirkan enaknya saja. Pada kenyataannya, pasti banyak menemukan masalah. Mulai dari masalah keuangan, rumah, kebutuhan sehari-hari hingga masalah ranjang. Itulah pernak-pernik perkawinan. Kamu harus ingat dalam berumah tangga, semua orang itu belajar. Yang sudah lama berkelurga saja bisa bercerai, apalagi pengantin baru. Semua masalah harus dihadapi dengan kepala dingin. Segala cara harus dilakukan untuk mempertahankan perkawinanmu. Kalau bisa semur hidup.
***

Beberapa bulan kemudian, isterimu ngidam. Dia hamil. Kamu mengantarnya ke puskesmas untuk memeriksa kandungan. Sebentar lagi buah hatimu akan lahir. Pada saat-saat senggang, kamu dan isterimu main tebak-tebakan; lelakikah, atau perempuankah anakmu kelak. Kalian mempersiapkan nama-nama yang indah seperti putra-putri rasul, nama-nama sahabat Nabi, tokoh-tokoh besar atau nama yang belum pernah ada. Kalian semakin bahagia. Pada saat usia kandungannya tujuh bulan, kamu melaksanakan ritual nujuh bulan. Kamu mengundang tetangga untuk membaca surat Yusuf dan surat Maryam. Itu maksudnya kalau lelaki ingin solih seperti Yusuf yang diceritakan dalam kitab suci. Dan kalau perempuan ingin solihah seperti Maryam. Perempuan suci ibundanya Al-masih. 

Usia kandungan isterimu semakin tua. Dan saat yang ditunggu-tunggu itu pun datang. Kamu pasti berdebar-debar saat isterimu antara hidup dan mati melahirkan. Menyaksikan orang yang paling kamu cintai kesakitan yang tak terperikan untuk pertama kalinya. Kamu pasti berdoa sebisanya untuk keselamatan isteri dam anakmu.

Setelah anakmu lahir, isterimu tersenyum dengan penuh kemenangan. Kamu pun bahagia. Kamu dengan senangnya menyenandungkan azan di telinga sebelah kanan dan iqamah di sebelah kiri. Mungkin maksudnya pertama yang  didengar anakmu adalah panggilan shalat.  Kemudian  anakmu diberi nama yang indah sesuai kesepakatan kalian berdua. Kalau perempuan bisa Fatimah, Aisyah, atau Maryam. Kalau lelaki bisa Ali, Muhammad, atau nama yang belum pernah ada sebelumnya. Tapi satu hal yang harus kamu ketahui, kalau anakmu lelaki, tapi diberi Aisyah misalnya, atau kalau anakmu perempuan dan diberi nama Yusuf, orang-orang akan heran. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan semua itu. Tapi orang-orang terlanjur sepakat bahwa Aisyah untuk orang yang berjenis kelamin perempuan, dan Yusuf untuk manusia yang berjenis kelamin laki-laki. Entah sejak kapan pembedaan tersebut. Lagi pula kasihan anakmu yang akan diolok-olok temannya. 

Kamu sekarang menjadi ayah dan isterimu menjadi ibu. Tugas kalian bertambah. Isterimu harus menyusui bayi, memandikan, mengganti popok. Kadang-kadang kamu juga menggantikannya bila ia sibuk. Betapa repotnya punya. Tapi ingat, kamu dan istrimu seperti itu waktu kecil. 

Kelak anakmu boleh memanggilmu 'ayah', 'bapak, 'abi', 'papa'. Kepada isterimu dia boleh memanggil 'ibu', 'bunda', 'mama' 'umi', atau panggilan yang sering digunakan di tempat tinggalmu. Atau panggilan yang sedang ngetrend saat itu. Atau istilah yang belum ada sebelumnya yang kalian pahami dan senangi. Anak itu bagaimana kamu membiasakannya. Dia akan menurutimu. Dan kamu boleh memanggil anakmu 'ade', 'nak', atau apa saja sesuai tempat kamu berada atau kesepakatanmu dengan isterimu. 

Pada hari ketujuh, kamu pasti aqiqah. Kalau laki-laki menyembelih dua ekor domba, sedangkan perempuan satu. Begitulah aturan fiqihnya. Kita pernah diskusi panjang lebar tantang perbedaan itu hingga masalah pambagian warisan, pemimpin, hakim, dan saksi perempuan sampai pada masalah kesetaraan jender. Kita mengeluarkan hadits dan dalil Alquran yang menjadi dasarnya. Pendapat-pendapat ulama klasik hingga ulama kontemporer kita kutip. Masing-masimg ngotot dengan pendapat sendiri. Tapi semua berakhir dengan tidak jelas. Dan ujung-ujungnya kembali pada masalah hidup, perkawinan, malam pertama, masa depan. Pada akhirnya kita bertanya pada diri sendiri, siapakah yang akan jadi isteriku kelak? Bagaimanakah wajahnya? Dimanakah dia sekarang? Orang manakah? Sedang apa dia sekarang, ya? Tahu tidak ya, kelak dia akan menjadi pasangan hidupku, menjadi ibu dari anak-anakku. Betapa misteriusnya jodoh. Seperti hidup itu sendiri.  Setelah itu kita terdiam dengan pikiran masing-masing. Menerawang ke dunia antah-berantah. Kemudian tertidur. Bangun kesiangan. Tidak mandi pagi. Berangkat kuliah. Dicemberutin dosen.

***


Anakmu sekarang sudah mulai pandai bicara. Betapa lucunya. Dia mulai belajar menyebut ‘ayah’ dan ‘ibu’. Betapa indah kata-kata yang keluar dari buah hatimu. Kata-kata itu menegaskan eksistensimu sebagai ayah. Ketika berumur empat tahun, anakmu masuk TK. Dia mulai diperkenalkan pada rimba angka dan dunia aksara. Belajar menulis dan membaca. Mulai mengenal kawan dan belajar jajan. Pada usia enam tahun, anakmu mulai masuk sekolah dasar. Seperti anak-anak lain. Dia memasuki dunia baru lagi. Mulai mengenal PR. Saat itu adalah fase yang sangat mempengaruhi perkembangan anakmu. Biaya hidup bertambahmu pun bertambah.

Kemudian isterimu hamil lagi. Seperti yang kamu rencanakan. Jarak lahir anak-anakmu kira-kira enam tahun. Isterimu ikut program KB. Kamu berencana punya anak empat atau lima. Di sinilah aku salut padamu. Hidup itu terprogram. Meski hidup itu sebenarnya sulit ditebak.

Anak-anakmu semakin besar. Usiamu bertambah tua. Pendidikan anakmu sudah melewati beberapa jenjang. Ada yang sudah lulus dari perguruan tinggi dan bekerja. Anakmu sudah ada yang merengek minta nikah pula. Kamu kemudian punya besan dan mantu yang tentunya orang-orang yang tak terduga sebelumnya. Seperti pernikahanmu dengan isterimu.  Kamu mandapat panggilan lagi sesuai posisinya. Dan ketika anakmu lahir, kamu punya cucu. Kelak kalau cucumu punya anak, kamu punya cicit. Begitu seterusnya. Kamu sekarang mempunyai keluarga besar.

***

Suatu hari, beberapa hari sehabis lebaran, seluruh keluarga besarmu bekumpul. Beramah-tamah setelah setahun tak berjumpa. Membicarakan tentang apa saja. Salah seorang cucumu yang sudah duduk di perguruan tinggi bertanya pengalamanmu selama kuliah. Kamu pun bercerita. Saat itulah kamu ingat seorang sahabat semasa kuliah. Dan kamu pun ingat pada secarik kertas yang usang.

"Kakek punya sahabat semasa kuliah. Pada waktu pernikahan kakek, dia tidak datang. Dia hanya menitip kado yang isinya cuma sebuah cerpen." Kemudian kamu menunjukkan kertas yang sudah usang itu. Cucumu berebut ingin membacanya.

"Siapa namanya teman Kakek itu?"

Kamu diam. Ingatamu mengaduk nama-nama yang pernah dekat. Pada sahabatmu yang dulu pernah sekamar, saling bercerita tentang hidup, keluh-kesah, sampai lupa. Karena bertahun-tahun terlindas dalam silang-sengkarut pikiranmu. Begitulah, kadang kita lupa pada orang yang begitu dekat dengan kita.  

"Dimana dia sekarang, Kek?" tanya cucumu yang lain karena dia memahami bahwa kamu memang lupa. Dan tidak mementingkan persoalan nama.

"Kakek tidak tahu. Sahabat kakek ini pemalas. Tidurnya kuat. Kabarnya dia tidak menyelesaikan kuliahnya. Dan sekarang kakek tidak tahu, apakah dia sudah menikah apa belum.” 

“Atau mungkin sudah mati, Kek?” kata salah seorang cucumu yang manis. Kemudian seluruh keluarga besarmu tertawa lepas. 

Kamu tak menjawab. Cuma senyum tertahan. Ingatan-ingatan tentangku menampakan diri. Berkelebat begitu cepat di kepalamu. Kemudian lenyap...

Dan aku tak tahu sudah seperti apakah keadaanku waktu itu.


25 Desember 2005



IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG
IMG