IMG-LOGO
Fragmen

Model Pembelajaran KH Muhammad Ali Alhamidi Matraman

Senin 22 April 2019 16:35 WIB
Bagikan:
Model Pembelajaran KH Muhammad Ali Alhamidi Matraman
KH Saifuddin Amsir mengakui kealiman, pengusaan ilmu keislaman yang mumpuni dari KH Muhammad Ali Alhamidi (1909-1985 M). Dikarenakan kealimannya, dia memiliki pengaruh yang kuat di lingkungan tempat tinggalnya, yaitu di wilayah Matraman, Jakarta Pusat.

Banyak jamaah di Masjid Jami Matraman di Jalan Mataram, Kelurahan Pegangsaan, Kecamatan Menteng, Jakarta Pusat yang terpengaruh pemikirannya. Bahkan, tidak sedikit kerabat dari KH Saifuddin Amsir yang terpengaruh dengan paham keislaman KH Muhammad Ali Alhamidi.

Dalam melakukan pembelajaran, KH Muhammad Ali Alhamidi tidak mengajar kitab kuning dengan model sorogan atau bandongan, seperti ulama Betawi pada umumnya. Tetapi dia memilih cara diskusi atau mujadalah dengan topik-topik pilihan setiap diskusinya.

Pilihan metode diskusi atau mujadalah dalam penyampaian dakwah dan pembelajaran keislaman yang dilakukan oleh KH Muhammad Ali Alhamidi membuktikan tiga hal, yaitu: Pertama, KH Muhammad Ali Alhamidi terbukti sangat menguasai ilmu dakwah dan tahu cara memuaskan obyek dakwah (mad`u) atau peserta didik.

Dalam ilmu dakwah, metode mujadalah sangat efektif digunakan untuk memberikan kepuasan kepada obyek dakwah agar dapat menerima dakwah secara mantap atau untuk memberikan kepuasaan peserta didik.

Kedua, KH Muhammad Ali Alhamidi sangat menguasai teknik diskusi, yaitu dengan melakukan persiapan ilmu atau materi yang matang, dapat menyampaikan perkataan yang sebaik-baiknya dan tidak berlebihan; dapat menjauhkan terjadinya perdebatan yang sengit itu lebih baik dari pada dia turut terlibat di dalamnya.

Kiai Ali Alhamidi sangat berkhidmat dalam memberikan jawaban atas pertanyan-pertanyaan yang merupakan suatu tindakan yang bijaksana. Demikian pula jawaban yang ringkas lagi padat yang disertai dengan teknik-teknik tertentu yang tajam; dia  tidak mencampuri sesuatu yang bukan bidang yang dia kuasai.

Sekiranya terpaksa harus mencampurinya, maka perkataannya disesuaikan serta disertai dengan isyarat atau penjelasan bahwa dia belum mempelajarinya secara detail dan mendalam; dia  lemah lembut dan berhati-hati, yakni menaruh perhatian dan mendengarkan sungguh-sungguh dalam sebuah diskusi agar informasi informasi yang dikemukakan dalam forum diskusi tersebut menjadi pelajaran bagi anggota diskusi. Bahkan seseorang dapat mengambil faedah dari hal tersebut.

Kiai Ali memiliki etiket atau berbudi diskusi yang baik, seperti: tidak memutus pembicaraan orang yang sedang berbicara, menyebutkan nama orang dengan sebutan yang sebaik-baiknya dan tidak membeda-badakan antara satu dan yang lainnya.

Kiai Ali juga mampu memandu dan memberikan kesimpulan dalam diskusi (mujadalah) dengan sangat baik. Hal inilah yang membuat banyak orang menyukai dakwah atau pembelajaran dari KH Muhammad Ali Alhamidi.

Ketiga, KH Muhammad Ali Alhamidi terbukti menguasai ilmu keislaman secara mendalam. Dikarenakan metode ini mensyaratkan sang pendakwah atau pengajar memiliki  penguasaan ilmu keislaman yang sangat mendalam sehingga bisa mendatangkan respon dan partisipasi yang tinggi dari obyek dakwah atau peserta didik yang menggembirakan perasaan atau memuaskan mereka.

Sedangkan untuk bahan panduan ceramah atau pembelajarannya, KH Muhammad Ali Alhamidi tidak membawa kitab atau risalah rujukan yang lazim digunakan alim ulama, khususnya di Betawi, atau membuat makalah. Tetapi dia membuat pointer-pointer materi di secarik kertas dan menyampaikannya dengan ceramah dan dilanjutkan dengan tanya jawab atau diskusi (mujadalah).

Namun untuk pertanyaan yang diajukan dibatasi hanya maksimal untuk lima penanya saja. Terkadang tempat ceramah dan diskusinya di masjid atau di rumah. Tempat-tempatnya antara lain di Masjid Said Naum Tanah Abang, Petojo, Pedurenan, Pos Pengumben, dan Masjid Jami` Matraman.

Mengenai pemahaman keislaman KH Muhammad Ali Alhamidi, menurut menantunya, Ahmad Syaukani, paham keislaman dari KH Muhammad Ali Alhamidi ini berpaham “netral”.  Dia mengambil semua pemahaman keislaman yang ketika itu tumbuh berkembang, lalu dia simpulkan dan sikapi sendiri, menghasilkan pemahaman keislaman ala KH Muhammad Ali Alhamidi.

Karenanya, dalam mengaji ke alim ulama, dia hanya mengambil “kunci-kuncinya”, yang penting-penting saja, menurut pemikirannya. Karenanya, gurunya banyak, seperti Habib Ali Kwitang, Syeikh Ahmad Surkati, dan lain-lain. Dia juga pandai bergaul dengan semua kalangan, baik NU, Muhammadiyah, Persis, Perti, dan lainnya.

Model pembelajaran dan paham keislamannya yang tidak lazim ini sempat menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat Betawi. KH Saifuddin Amsir, yang merupakan penduduk asli Matraman, mengisahkan tentang suasana mencekam yang tidak pernah dia lupakan saat dia kecil, yaitu ketika KH Abdullah Syafi`i, pendiri Perguruan Asy-Syafi'iyah, akan ceramah di Masjid Jami` Matraman harus dikawal dengan para pemuda yang membawa golok karena untuk keamanan dan keselamatan KH Abdullah Syafi`i.

Sebab, saat itu, Jama`ah dan bahkan sebagian pengurus Masjid Jami` Matraman sudah menjadi pengikut dari KH Muhammad Ali Alhamidi yang memiliki paham keislaman dan juga metode ceramah dan pembelajaran yang berbeda dengan KH Abdullah Syafi`i.

Berdasarkan penjelasan-penjelasan di atas dan yang sebelumnya, saya berpendapat bahwa KH Muhamamd Ali Alhamidi adalah tipe ulama yang independen dan ”one man show”. Dia tidak berada di ormas Islam manapun dan tidak berkelompok kepada kelompok ulama tertentu.

Dalam dakwahnya, dia mengambil jenis dakwah fardiyah, yaitu ajakan atau seruan ke jalan Allah yang dilakukan seorang dai (pendakwah) kepada orang lain secara perseorangan dengan kekuatan dirinya sendiri yang bertujuan untuk memindahkan al-mad`u (obyek dakwah) pada keadaan yang lebih baik dan diridhai Allah. Dakwah fardiyah merupakan antonim dari dakwah jama`iyah atau`ammah. (selesai...)


Penulis Rakhmad Zailani Kiki, Peneliti dan Penulis Genealogi Intelektual Ulama Betawi, Sekretaris RMI-NU DKI Jakarta.
Bagikan:
Jumat 19 April 2019 14:0 WIB
Karya Monumental KH Ali Alhamidi Matraman
Karya Monumental KH Ali Alhamidi Matraman
Ruhul Mimbar
Dalam tulisan ini, saya akan mengulas dua karya ulama asal Betawi, KH Ali Alhamidi Matraman (1909-1985 M) yang menjadi karya monumentalnya dan ditulis dalam aksara Arab Melayu, yaitu Kitab Ruhul Mimbar dan Kitab Adabul Insan fil Islam.

Hampir semua karya tulis KH Muhammad Ali Alhamidi diterbitkan oleh Penerbit Al-Ma’arif Bandung. Terkecuali di antaranya Kitab Ruhul Mimbar. Kitab ini dia tulis sendiri dengan tulisan tangan, kemudian dia cetak sendiri (karena punya alat cetak stensil sendiri) dan dijahit sendiri serta dipasarkan sendiri dengan jumlah yang sangat terbatas. Sampai hari ini, Kitab Ruhul Mimbar belum dicetak ulang oleh penerbit lain.

Ruhul Mimbar adalah kumpulan naskah khutbah Jumat yang dia tulis dalam aksara Arab Melayu. Kendati ia disinyalir berpaham Persis, tetapi banyak juga para ustadz dan ulama Betawi yang berpaham NU menjadikan Kitab Ruhul Mimbar dan karya-karyanya yang lain sebagai bahan referensi untuk berkhutbah. Bahkan karya-karyanya beredar hingga ke Sumatera dan Kalimantan.

Kitab Ruhul Mimbar karya KH Muhammad Ali Alhamidi yang ditulis tangan dengan aksara Arab Melayu yang terdiri atas 10 jilid dan dicetak di atas kertas buku (book paper). Book paper adalah jenis kertas yang bertekstur sedikit kasar cenderung halus, kekuningan, ringan dan tipis. Ketebalan kertas mulai 55 gsm,70, dan 90 gsm.

Kertas ini kegunaannya khusus untuk buku yang sifat teks saja, karena untuk gambar kurang menghasilkan warna yang tajam karena warna kertasnya sendiri cenderung kekuningan. Ukuran Kitab Ruhul Mimbar setiap jilidnya adalah tinggi 20 cm dan lebar 15,5 cm. 

Total halaman untuk  jilid 1 sampai jilid 5 dari kitab Ruhul Mimbar adalah 416 halaman yang penomorannya dilakukan secara bersambung (istimrar) dari jilid ke jilid yang berakhir pada halaman 416 di jilid 5. Untuk jilid 1, halamannya berjumlah 80 halaman (halaman 1 sampai dengan 80) ; jilid 2 berjumlah 79 (halaman 81 sampai dengan 160); jilid 3 berjumlah 95 halaman (halaman 161 sampai dengan 256); jilid 4 berjumlah 79 halaman (halaman 257 sampai dengan 336); jilid 5 berjumlah 79 halaman (halaman 337 sampai dengan 416).

Sedangkan total halaman untuk jilid 6 sampai jilid 10 dari Kitab Ruhul Mimbar adalah 400 halaman yang penomorannya dilakukan secara bersambung dari jilid ke jilid yang berakhir pada halaman 400 pada jilid 10. Untuk jilid 6, halamannya berjumlah 80 halaman (halaman 1 sampai dengan halaman 80); jilid 7 berjumlah 79 (halaman 81 sampai dengan 160); jilid 8 berjumlah 79 halaman (halaman 161 sampai dengan 240); jilid 9 berjumlah 79 halaman (halaman 241 sampai dengan 320); dan jilid 10 berjumlah 79 halaman (halaman 321 sampai dengan 400).

Total keseluruhan halaman Kitab Ruhul Mimbar dari jilid 1 sampai dengan jilid 10 adalah 816 halaman.Kitab yang diteliti peneliti telah menjadi koleksi dari Pusat Pengkajian dan Pengembangan Islam Jakarta (Jakarta Islamic Centre) sejak tahun 2009.  

Di dalam muqaddimah Kitab Ruhul Mimbar Jilid 1 dijelaskan mengenai alasan KH Muhammad Ali Alhamidi menyusun Kitab Ruhul Mimbar. Dia menjelaskan bahwa banyak khatib-khatib datang kepadanya, meminta dia membuat teks khutbah Jumat dan sebagainya dengan bahasa yang bisa dipahami oleh hadirin, yaitu bahasa Indonesia, dengan tidak mengurangi syarat rukunnya.

Teks tersebut berisi penerangan agama dan nasihat agar kaum Muslimin berpegang teguh dengan agamanya, meneguhkan tali persaudaraan, mengajak manusia berbuat kebaikan, mencegah daripada melakukan kejahatan dan lain-lainnya. Teks yang ditulis ini untuk dibacakan di masjid-masjid, di surau-surau, dan tempat-tempat tabligh dan pengajian (Alhamidi, 1948: 3).

Permintaan yang sudah pada tempatnya itu, dia terima dengan baik. Lalu dia tuliskan beberapa khutbah seperti yang diminta. Mula-mula dia tulis beberapa lembar saja, tetapi oleh karena semakin banyak yang meminta, maka dia cetak banyak, supaya sewaktu-waktu ada yang meminta bisa dia berikan.

Pada tanggal 1 Juli 1947, sebelum ”Aksi Militer”(maksudnya Agresi Militer Belanda I, yaitu operasi militer Belanda di Jawa dan Sumatera terhadap Republik Indonesia yang dilaksanakan dari 21 Juli 1947 sampai 5 Agustus 1947)  adalah permulaan sekali dia mencetak khutbah Jumat, yang kemudian dibagikan kepada khatib-khatib masjid.

Usahanya ini rupanya mendapat sambutan baik, lantaran khatib-khatib sepakat meminta dirinya meneruskan, menyusun dan menyiarkannya setiap minggu. Maka di Kota Jakarta saja dan sekitarnya, tidak kurang dari tiga ratus lembar khutbah Jumat yang dia sebarkan setiap minggunya.

Lembaran teks khutbah ini dibacakan pada beberapa puluh masjid, dengan mendapat perhatian yang istimewa, karena isinya cocok dengan keadaan zaman. Sehingga pada  waktu dirinya menyusun kitab ini (Ruhul Mimbar) sudah lebih dari lima puluh nomor khutbah, ditambah dengan dua khutbah Idul Fihtri dan Idul Adha.

Atas permintaan beberapa alim ulama, kiai-kiai dan khatib-khatib, dia susun kembali khutbah-khutbah itu dari nomor satu dan seterusnya dengan sedikit perubahan di beberapa tempat, supaya bersifat ”istimrar”, yakni bisa dipakai untuk selama-lamanya. Maka, jadilah sebuah kitab khutbah yang tebal, yang dia namakan ”Ruhul Mimbar”, artinya jiwa mimbar (Alhamidi, 1948: 4).

Tidak lupa, dia mengucapkan terima kasih kepada alim ulama dan kiai-kiai yang telah menyokong dan membantu dengan iklhas sehingga Kitab Ruhul Mimbar bisa diterbitkan pada bulan Desember 1948.   

Menurut KH Saifuddin Amsir, Kitab Ruhul Mimbar ini awalnya memang lembaran tulisan untuk  khutbah Jumat yang ditulis oleh KH Muhammad Ali Alhamidi dan dijual per lembarnya. Banyak ulama dan muballigh di Betawi yang membeli lembaran khutbah Jumat ini karena isinya menarik dan tidak bertentangan dengan paham Ahlussunnah wal Jama`ah Asy-Syafi`iyyah. Karenanya, ketika lembaran khutbah Jumat ini juga dijual di Perguruan Asy-Syafi`iyyah yang dipimpin ketika itu oleh KH Abdullah Syafi`i.

Adapun masing-masing jilid di Kitab Ruhul Mimbar membahas topik yang berbeda-berbeda. Kitab Ruhul Mimbar ditulis dalam format teks khutbah dimaksudkan agar dapat memberikan manfaat langsung kepada umat karena dapat dimanfaatkan oleh para khatib untuk khutbah Jumat dan ceramah-ceramah mereka.

Adabul Insan fil Islam
Berbeda dengan Ruhul Mimbar, Kitab Adabul Insan fil Islam tidak dicetak sendiri oleh KH Muhammad Ali Alhamidi (1909-1985 M), tetapi dicetak oleh penerbit lain yang berdomisili di Surabaya. Karenanya, saya masih melihat Kitab Adabul Insan fil Islam sampai sekarang masih diterbitkan dan dijual secara umum. Saya sendiri menemukan langsung Kitab Adabul Insan fil Islam pada pertengahan tahun 2018 yang dijual di Toko Buku Wali Songo, Kwitang, Jakarta Pusat.

Dalam studi saya tentang kitab dan risalah yang ditulis oleh ulama Betawi, sepanjang yang saya tahu sampai saat ini, Kitab Adabul Insan fil Islam karya KH Muhammad Ali Alhamidi merupakan satu-satunya karya ulama Betawi, bahkan mungkin di Indonesia, yang mengulas tentang adab dan ditulis dalam aksara Arab Melayu secara lengkap dan komprehensif; dikarenakan kitab ini membahas tentang adab atau kesantunan dari yang besar-besar sampai yang kecil-kecil, dengan sangat terperinci.

Kitab Adabul Insan fil Islam yang saya miliki termasuk kitab cetakan yang awal, berjumlah 320 halaman dan dicetak di kertas book paper. Ukuran kitabnya adalah tinggi 21,5 cm dan lebar 14,5 cm.

Di dalam pengantar kitab ini, KH Muhammad Ali Alhamidi menjelasakan bahwa di Kitab Adabul Insan fil Islam hanya memuat perkara adab atau kesopanan manusia terhadap tuhannya, agamanya, nabinya, dirinya, orang lain dan sebagainya. Sedangkan yang mengenai akhlak akhlak, sudah ia jabarkan dalam kitabnya yang lain yang berjudul Perbaikan Akhlak

Sumber penulisan kitab ini berasal dari keterangan Al-Qur`an, Al-Hadits dan pendapat orang-orang besar, seperti sahabat, imam-imam, dan ulama yang berpengaruh dan terkemuka. (bersambung...).


Penulis Rakhmad Zailani Kiki Peneliti dan Penulis Genealogi Intelektual Ulama Betawi Sekretaris RMI-NU DKI Jakarta
Jumat 19 April 2019 9:45 WIB
Delusi Kemenangan Disebarkan Jepang saat Kalah Perang
Delusi Kemenangan Disebarkan Jepang saat Kalah Perang
Kondisi Hiroshima via DW
Dalam buku Guruku Orang-orang dari Pesantren, KH Saifuddin Zuhri menceritakan kekonyolan para serdadu Jepang menjelang kekalahannya. Dai Nippon memang cepat menguasai Pasifik dan Asia Tenggara, namun cepat pula rontok dihajar Sekutu.

Agar moralitas prajuritnya tidak anjlok, propagandis Jepang senantiasa menyiarkan kabar kemenangan Jepang di berbagai palagan, heroisme serdadu, kekalahan musuh secara menyakitkan, dan sebagainya.

Propaganda tersebut terus menerus disampaikan melalui Domei, kantor berita Jepang, maupun melalui koran Tjahaja, Soeara Asia, dan Asia Raja.

Di sinilah kekonyolan itu bermula. Setiap hari koran-koran ini memberitakan apabila Jepang berhasil menghancurkan sekian puluh tank, merontokkan puluhan pesawat terbang, membunuh ribuan prajurit Sekutu, dan sebagainya. Sehingga, kata Kiai Saifuddin Zuhri, jumlahnya sangat tidak masuk akal jika dikalkulasi. Irrasional.

Di sini para kiai tahu jika Jepang sudah di ujung tanduk dan berita itu hanya untuk menutupi keroposnya kekuatan mereka. Tujuan lain, mempertahankan moril pasukan mereka di pelosok-pelosok.

Ketika panglima Isoroku Yamamoto tewas, moril tempur pasukan terus dijaga. Solusinya propaganda terus disemburkan. Dibuatlah mitos Jepang tak terkalahkan. Jepang yang perkasa.

Hideki Tojo, Perdana Menteri Jepang, ini yang tahu mekanisme penggunaan taktik psikologis sekutu Jermannya, “Kebohongan yang terus-menerus diulang akan dipercaya sebagai sebuah kebenaran”, sebagaimana doktrin Joseph Goebbels.

Efeknya dahsyat. Di film Letters From Iwojima, ada adegan di mana para perwira bersikeras tidak mau mendengar berita jatuhnya pangkalan militer Jepang di berbagai kawasan. Mereka percaya, Jepang dilindungi dewa. Mereka percaya, prajurit Jepang adalah yang terbaik, dan ketika kekalahan diumumkan, mereka frustrasi. Tidak mau menerima kabar menyakitkan ini.

Di Maluku dan Filipina, bahkan ada dua serdadu Jepang yang bertahan hingga tahun 1970-an. Gila. Perang Pasifik sudah berakhir tahun 1945, dan mereka masih bersembunyi dengan karaben dan sangkurnya, dengan tubuh ringkihnya, dengan pakaian compang-camping didampingi pedang samurainya. Mereka menderita delusi, wahm, bahwa perang masih ada, dan prajurit-prajurit ini menunggu jemputan kawan-kawannya.

Hideki Tojo, perdana menteri pecandu perang itu, memang tak percaya Jepang bertekuk lutut. Dia mengambil pistol. Menembak dadanya. Harakirinya gagal. Nyawanya masih betah dalam raganya. Dia akhirnya didakwa sebagai penjahat perang.

Mengapa Tojo dan para perwira Jepang tak mempercayai kekalahannya? Penyebabnya satu: delusi! Mereka membangun istana bayangan dalam pikirannya. Mempercayainya dengan sepenuh hati dan memaksa orang lain untuk mempercayainya. Diam-diam, mereka menderita antisocial personality disorder. Sindrom apa lagi ini? 


Rijal Mumazziq Z, Rektor Institut Agama Islam Al-Falah Assunniyyah Kencong, Jember, Jawa Timur
Kamis 18 April 2019 9:30 WIB
KH Ali Alhamidi Matraman dan Paham Keislamannya
KH  Ali Alhamidi Matraman dan Paham Keislamannya
KH Saifuddin Amsir yang melewati masa kecilnya di Matraman meyakini bahwa KH Muhammad Ali Alhamidi Matraman (1909-1985 M) bukanlah orang atau penganut paham Persis, tetapi memiliki pemahaman keagamaan yang tidak biasanya seperti ulama Betawi lainnya karena pengaruh dari gerakan tajdid yang waktu itu merebak di di Jakarta.

Paham yang tidak biasa itu seperti yang dikatakan oleh KH Muhammad Ali Alhamidi bahwa Ahlussunnah wal Jama`ah tidak harus bermazhab Syafi`i. Padahal umumnya masyarakat Betawi berpaham Ahlussunnah wal Jama`ah Asy-Syafi`iyyah.

Dia juga tidak menjalankan tradisi keislaman yang biasa dilakukan oleh masyarakat Betawi, seperti tahlilan dan Maulid Nabi SAW. Dia juga sebagai pencetus pertama shalat Id di lapangan terbuka bukan di dalam masjid.

Namun dari dari karya-karyanya, seperti Ruhul Mimbar, terlihat bahwa dia menulis sesuai dengan paham Ahlussnunnah wal Jama`ah Asy-Syafi`iyyah sehingga KH Saifuddin Amsir mengutip pernyataan Muallim Ramli dari Gang Murtadho, bahwa teks-teksi khutbah Jumat yang ditulis KH Muhammad Ali Alhamidi sesuai dengan Ahlussunnah wal Jama`ah Asy-Syafi`iyyah tetapi orang yang menulisnya tidak (berpaham Ahlussunnah wal Jama`ah Asy-Syafi`iyyah).

Walau KH Muhammad Ali Alhamidi memiliki pemahaman keislaman yang berbeda dengan kebanyakan ulama Betawi, namun cara dia menyebarkan pemahamannya banyak menggunakan guyonan khas Betawi supaya tidak mendapatkan respon negatif. Contohnya tentang tradisi ritual tujuh bulanan, yang di dalam budaya Betawi diistilahkan dengan nuju bulan.

Orang Betawi sangat memikirkan dan memuliakan perempuan yang hamil. Perempuan hamil adalah pintu gerbang bagi penciptaan generasi penerus yang andal. Salah satunya adalah memuliakan perempuan yang kehamilannya memasuki usia tujuh bulan dengan istilah nuju bulan. Di daerah Marunda, upacara ini disebut dengan kekeba.

Upacara ini dilakukan karena bayi dalam rahim pada usia itu sudah dianggap sempurna, sudah berbentuk, sehingga harus disyukuri dalam bentuk upacara. Nuju bulan juga dimaksudkan untuk memberi rasa aman kepada keluarga si ibu yang sedang mengandung agar tidak terjadi malapetaka bagi diri yang mengandung dan keluarganya.

Upacara nuju bulan ini dilakukan untuk Tanggal pelaksanaannya biasanya antara tanggal 7, 17, atau 27 dari bulan hijriyah. Orang Betawi biasanya memilih tanggal 7 atau 17, karena tanggal 27 dianggap sudah masuk bulan ke delapan.

Upacara nuju bulan dilakukan tiga tahap, yaitu: selametan (tahlilan) dengan membaca surat Yusuf di dalam ruangan, mandi air kembang di kamar mandi, dan ngirag di kamar tidur. Ngirag di daerah lain disebut juga gedog. Dapat pula dilakukan sebaliknya, mulai dari ngirag dan seterusnya.

Ngirag disebut juga ngorog, merupakan upacara di mana secara simbolis orang tua melalui dukun bayi mengajarkan anak dalam kandungan sesuatu yang baik, anak harus patuh kepada kedua orang tua. Pada upacara ini dukun bayi membetulkan letak bayi dalam kandungan ibu sambil membisikkan kepada bayi pesan agar kelak ia akan menjadi anak yang berguna dan patuh kepada orang tua.

Acara ini dilakukan di dalam kamar atau di ruangan tertutup setelah acara memandikan si ibu hamil selesai. Dalam upacara ini digunakan sejumlah uang logam dan sedikit bunga tujuh warna, sama dengan bunga yang digunakan untuk mandi kembang.

Semuanya dibalut dengan kain warna putih kurang lebih satu meter, seperti orang menggulung tembakau dengan kertasnya. Gulungan kain putih yang berisi kembang dan uang logam tadi disimpan dahulu untuk dipergunakan setelah acara mandi.

Terhadap tradisi nuju bulan yang telah mendarah daging di masyarakat Betawi ini, KH Muhammad Ali Alhamidi berkomentar,” Nggak usah ngadaian nuju bulan. Nuju bulan mah repot, perlu roket!”

Yang mendengar komentarnya bertanya,” Kok perlu roket?”

KH Muhammad Ali Alhamidi menjawab, ”Kan nuju (menuju) bulan!”

Kritiknya juga dilakukan terhadap tradisi masyarakat Betawi membaca surat Yasin. KH Muhammad Ali Alhamidi berkomentar dengan guyonan khas orang Betawi,” Kenapa cuma si Yasin. Kasihan Yusuf, Yunus kagak diajak!”

KH Muhammad Ali Alhamidi juga tidak menganjurkan ziarah kubur. Bahkan kepada anak, keturunannya dan kerabat dekatnya, dia berpesan agar ketika dia wafat, makamnya tidak usah diziarahi. Kalau mau berdoa untuknya, dari rumah saja. Maka sampai saat ini, anak, keturunannya dan kerabat dekatnya tidak menziarahi makamnya untuk mendoakannya di Pemakaman Umum Menteng Pulo I, Jakarta Pusat.

Anak, keturunan dan kerabat dekatnya, seperti mantu-mantunya, juga tidak menjalankan tradisi masyrakat Betawi seperti pemahaman KH Muhammad Ali Alhamidi, yaitu nuju bulan, ritual baca surat Yasin, tahlilan, dan maulid Nabi SAW. (bersambung...)


Penulis Rakhmad Zailani Kiki, Peneliti dan Penulis Genealogi Intelektual Ulama Betawi, Sekretaris RMI-NU DKI Jakarta.
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG
IMG