::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Pergunu Jabar Tangkal Radikalisme melalui Musik

Selasa, 23 April 2019 18:30 Daerah

Bagikan

Pergunu Jabar Tangkal Radikalisme melalui Musik
PW Pergunu Jawa Barat usai rapat kerja LKBH.
Bandung, NU Online
Beberapa hasil penelitian menunjukkan paham radikalisme sudah masuk ke sekolah. Lembaga pendidikan formal yang seharusnya menanamkan nilai intelektual, malah disusupi ideologi radikal. Bahkan menurut survei Badan Intelijen Negara (BIN) 2017 menunjukan bahwa 23,3 persen siswa SMA sederajat setuju tegaknya Negara Islam di Indonesia.

Hal tersebut disampaikan Ketua Pimpinan Wilayah (PW) Persatuan Guru Nahdlatul Ulama atau Pergunu Jawa Barat, H Saepuloh. Kegiatan berbarengan dengan rapat kerja LKBH (Lembaga Konsultasi dan Bantuan Hukum) Pergunu setempat di ruang rapat kantor Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Barat jalan Terusan Galunggung No 9 Bandung, Senin (22/4).

Lebih lanjut, Saepuloh menjelaskan bahwa penyebaran paham radikal melalui lembaga pendidikan sangat masif dan berbahaya bagi masa depan bangsa Indonesia.

"Ini sangat berbahaya bagi kelangsungan bangsa Indonesia, karena anak-anak didik kita di lembaga pendidikan tersebut, merupakan generasi penerus bangsa yang akan meneruskan estafet kepemimpinan di masa depan,” jelasnya. Mereka harus memiliki wawasan kebangsaan yang baik untuk menjaga pluralisme dan multikulturalisme di negeri kita ini, lanjutnya.

Karenanya, Pergunu Jawa Barat melakukan kerja sama dengan Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung. Yaitu dengan menyelenggarakan pelatihan musik islami sebagai sarana deradikalisasi agama bagi guru dan siswa di Jawa Barat. 

“Ini sebagai wujud kontribusi Pergunu dan ISBI Bandung dalam upaya menangkal radikalisme di lembaga pendidikan yang akan diselenggarakan selama dua bulan, dari Juli sampai dengan Agustus 2019,” ungkapnya.

Sementara itu, menurut Dosen ISBI Bandung, H Yus Wiradireja yang dihubungi via telpon mengatakan bahwa kegiatan akan dilaksanakan dengan tiga tahapan. 

Pertama, workshop untuk para guru guna mentransfer skills dan pengetahuan tentang musik dengan pesan deradikalisasi melalui lagu yang telah diciptakan dan diaransemen secara khusus. “Sehingga dalam jangka panjang para guru dapat mengajarkannya kepada para siswa di sekolah,” urainya.

Kedua, menyelenggarakan pelatihan musik kepada para siswa yang dipilih dari sejumlah sekolah. Lagu-lagu pada pelatihan musik tersebut akan diaransemen dalam bentuk musik kontemporer yang bernuansa Sunda, yang mudah dibawakan oleh anak-anak.

“Harapannya, selain memahami pesan Islam yang toleran dan cinta tanah air, para siswa juga akan tumbuh kecintaannya pada musik lokal yakni Sunda,” jelasnya. 

Sedangkan terakhir, mengadakan pentas seni bersama. “Hal ini sebagai hasil dari pelatihan untuk diapresiasi oleh masyarakat luas,” tutupnya. (Muhamad Cahya Rizqi/Ibnu Nawawi)