IMG-LOGO
Daerah

Pergunu Jabar Tangkal Radikalisme melalui Musik

Selasa 23 April 2019 18:30 WIB
Bagikan:
Pergunu Jabar Tangkal Radikalisme melalui Musik
PW Pergunu Jawa Barat usai rapat kerja LKBH.
Bandung, NU Online
Beberapa hasil penelitian menunjukkan paham radikalisme sudah masuk ke sekolah. Lembaga pendidikan formal yang seharusnya menanamkan nilai intelektual, malah disusupi ideologi radikal. Bahkan menurut survei Badan Intelijen Negara (BIN) 2017 menunjukan bahwa 23,3 persen siswa SMA sederajat setuju tegaknya Negara Islam di Indonesia.

Hal tersebut disampaikan Ketua Pimpinan Wilayah (PW) Persatuan Guru Nahdlatul Ulama atau Pergunu Jawa Barat, H Saepuloh. Kegiatan berbarengan dengan rapat kerja LKBH (Lembaga Konsultasi dan Bantuan Hukum) Pergunu setempat di ruang rapat kantor Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Barat jalan Terusan Galunggung No 9 Bandung, Senin (22/4).

Lebih lanjut, Saepuloh menjelaskan bahwa penyebaran paham radikal melalui lembaga pendidikan sangat masif dan berbahaya bagi masa depan bangsa Indonesia.

"Ini sangat berbahaya bagi kelangsungan bangsa Indonesia, karena anak-anak didik kita di lembaga pendidikan tersebut, merupakan generasi penerus bangsa yang akan meneruskan estafet kepemimpinan di masa depan,” jelasnya. Mereka harus memiliki wawasan kebangsaan yang baik untuk menjaga pluralisme dan multikulturalisme di negeri kita ini, lanjutnya.

Karenanya, Pergunu Jawa Barat melakukan kerja sama dengan Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung. Yaitu dengan menyelenggarakan pelatihan musik islami sebagai sarana deradikalisasi agama bagi guru dan siswa di Jawa Barat. 

“Ini sebagai wujud kontribusi Pergunu dan ISBI Bandung dalam upaya menangkal radikalisme di lembaga pendidikan yang akan diselenggarakan selama dua bulan, dari Juli sampai dengan Agustus 2019,” ungkapnya.

Sementara itu, menurut Dosen ISBI Bandung, H Yus Wiradireja yang dihubungi via telpon mengatakan bahwa kegiatan akan dilaksanakan dengan tiga tahapan. 

Pertama, workshop untuk para guru guna mentransfer skills dan pengetahuan tentang musik dengan pesan deradikalisasi melalui lagu yang telah diciptakan dan diaransemen secara khusus. “Sehingga dalam jangka panjang para guru dapat mengajarkannya kepada para siswa di sekolah,” urainya.

Kedua, menyelenggarakan pelatihan musik kepada para siswa yang dipilih dari sejumlah sekolah. Lagu-lagu pada pelatihan musik tersebut akan diaransemen dalam bentuk musik kontemporer yang bernuansa Sunda, yang mudah dibawakan oleh anak-anak.

“Harapannya, selain memahami pesan Islam yang toleran dan cinta tanah air, para siswa juga akan tumbuh kecintaannya pada musik lokal yakni Sunda,” jelasnya. 

Sedangkan terakhir, mengadakan pentas seni bersama. “Hal ini sebagai hasil dari pelatihan untuk diapresiasi oleh masyarakat luas,” tutupnya. (Muhamad Cahya Rizqi/Ibnu Nawawi)



Bagikan:
Selasa 23 April 2019 23:0 WIB
Rais NU Pekalongan: Pemilu adalah Investasi NU
Rais NU Pekalongan: Pemilu adalah Investasi NU
Rais PCNU Kota Pekalongan, KH Zakaria Ansor (kiri)
Pekalongan, NU Online
Rais Syuriyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Pekalongan KH Zakaria Ansor mengungkapkan, keikutsertaan nahdliyin dalam pesta demorasi pemilu adalah bagian dari investasi yang suatu saat akan dapat diambil dari hasil investasi itu.

Hal itu disampaikan pada kegiatan Halaqah Kebangsaan mengambil tema Peran dan Peluang NU, Ponpes dan Madin Pascapilpres 2019 yang dihelat PCNU Kota Pekalongan di Pesantren Al-Mubarok, Pekalongan, Jateng, Senin (22/4).

"Apa yang telah kita lakukan beberapa bulan terakhir, yakni keikutsertaan dalam pelaksanaan pemilu adalah hal yang tidak bisa kita hindarkan dan itu anggap saja sebagai investasi kita," ujarnya.

Dikatakan, investasi tidak bisa kita kelola sendiri, oleh karena itu pentingnya kita mendengar paparan Wakil Gubernur Jawa Tengah tentang peran dan peluang NU, madrasah diniyah, dan pondok pesantren usai pilpres.

"Sebenarnya bukan hanya pada pilpres kemarin saja, akan tetapi jauh sebelum Indonesia merdeka, NU sudah menanamkan investasi yang justru belum banyak kita nikmati," tandasnya.

Pemilu sudah selesai, lanjutnya, saatnya warga NU kembali merajut kebersamaan, saling bahu membahu bagaimana kita bisa mendapatkan investasi yang sudah ditanamkan dalam perjalanan bangsa ini.

Kegiatan Halaqah Kebangsaan selain dihadiri KH Abdul Ghofur Maemoen dan utusan Wakil Gubernur Jawa Tengah H Taj Yasin Maemoen, juga Kepala Kantor Kemenag Kabupaten dan Kota Pekalongan, jajaran pengurus cabang NU, badan otonom, lembaga NU Kota Pekalongan, jajaran pengurus MWC dan Ranting NU se-Kota Pekalongan serta guru-guru Madrasah Diniyah.

Sebelum halaqah dimulai, Pimpinan Wilayah Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Jawa Tengah melantik PC ISNU Kota Pekalongan masa khidmat 2019-2024. (Muiz)

Selasa 23 April 2019 21:0 WIB
PCNU Pekalongan: Pemilu Sudah Selesai, Saatnya NU Fokus ke Program Diniyah
PCNU Pekalongan: Pemilu Sudah Selesai, Saatnya NU Fokus ke Program Diniyah
Rais PCNU Kota Pekalongan, KH Zakaria Ansor
Pemilu Sudah Selesai, Saatnya NU Fokus ke Program Diniyah

Pekalongan, NU Online
Nahdlatul Ulama Kota Pekalongan Jawa Tengah menganggap hiruk pikuk politik baik pemilihan presiden (Pilpres) maupun pemilihan legislatif (Pileg) adalah bagian dari siyasah, sehingga begitu hajatan nasional sudah selesai, saatnya NU fokus ke bidang garapan utama, yakni program diniyah.

Hal itu diungkapkan Rais Syuriyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Pekalongan, KH Zakaria Ansor pada kegiatan Halaqah Kebangsaan yang dihelat PCNU di Pesantren Al-Mubarok, Pekalongan, Jateng, Senin (22/4).

"Karena pemilu hanya bagian dari siyasah NU dan Pemilu sudah selesai, maka NU harus kembali fokus pada program-programnya, terutama masalah diniyah," ujarnya.

Dikatakan, tugas-tugas bimbingan kepada warga NU baik dalam pemahaman maupun pengamalan dari ajaran Rasululah SAW, merupakan tugas utama pengurus NU di semua tingkatan.

"Dengan siyasah atau politik, kita sudah menyerahkan epada partai politik maupun para politisi agar bisa membawa misi ajaran ahlussunnah waljamaah," tandas Kiai Zakaria yang juga Pengasuh Pesantren Al-Mubarok, Kota Pekalongan ini.

Karena itu, lanjutnya, kegiatan Halaqah Kebangsaan yang mengambil tema Peran dan Peluang NU, Ponpes dan Madin Pascapilpres 2019 menjadi penting, agar kita tidak hanyut terbawa arus politik yang kemarin sempat memecah belah, sehingga terjadi sekat-sekat antar warga NU karena beda pilihan.

"Melalui forum ini, saya berharap dapat meningkatkan pemahaman ajaran Rasulullah SAW, sekaligus membentengi akidah nahdliyin yang pada pemilu kemarin sempat terkena imbas," tandasnya. 

Kegiatan Halaqah Kebangsaan selain dihadiri KH Abdul Ghofur Maemoen dan utusan Wakil Gubernur Jawa Tengah H Taj Yasin Maemoen, juga Kepala Kantor Kemenag Kabupaten dan Kota Pekalongan, jajaran pengurus cabang NU, badan otonom, lembaga NU Kota Pekalongan, jajaran pengurus MWC dan Ranting NU se-Kota Pekalongan serta guru-guru Madrasah Diniyah.

Sebelum halaqah dimulai, Pimpinan Wilayah Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Jawa Tengah melantik PC ISNU Kota Pekalongan masa khidmat 2019-2024. (Muiz)
Selasa 23 April 2019 20:30 WIB
Gunakan Metode Permainan Agar Siswa Gemar Pelajaran IPA
Gunakan Metode Permainan Agar Siswa Gemar Pelajaran IPA
Para wisudawan terbaik Unusa.
Surabaya, NU Online
Selain matematika, mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam atau IPA juga menjadi momok bagi sebagian siswa. Banyaknya hafalan di mapel IPA membuat siswa akhirnya malas belajar. 

Sebagai calon guru, Nurul Khikmawati merasa tergerak untuk mencarikan solusi. Ia pun membuat metode bagaimana membuat para siswa menjadi tertarik dan bersemangat saat belajar mapel IPA. 

Hal itu ia rumuskan dalam tugas akhirnya berjudul Pengaruh Model Pembelajaran Team Games Tournament pada Mata Pelajaran IPA terhadap Berpikir Kreatif Siswa Kelas V SD Al-Islah Surabaya. Tugas ini mengantarkan mahasiswi  S1 PGSD menjadi wisudawati terbaik Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa), April 2019 dengan IPK 3.95.

Metode permainan pada pembelajaran ini menerapkan lima tahapan yakni perjanjian kelas, team, games, tournament, dan terakhir penghargaan kelompok. Menurutnya metode ini menyangkut tiga hal yakni kognitif, afektif, dan psikomotorik. Sehingga para siswa bisa memberi jawaban yang tak hanya kreatif namun juga sangat inovatif.

Para siswa diajak bermain dengan gambar untuk menyusun sebuah rangkaian peristiwa alam. Seperti halnya mata rantai makanan pada hewan. Jika pada hafalan pelajaran sudah tersusun asal muasal dan sebab akibat. 
“Namun dengan metode permainan ini para siswa berpikir lebih kreatif untuk mendapatkan sebuah jawaban yang sangat inovatif. Hal inilah yang membuat anak-anak tidak bosan,” kata Nurul, Selasa (23/4). 

Permainan menjadi lebih hidup ketika para siswa diajak berkompetisi dan mendapatkan reward (penghargaan). Inilah yang membuat mereka bersemangat. “Materi IPA yang semual hafalan diaplikasikan dalam sebuah gambar permainan yang mengajak mereka berpikir kreatif. Dengan kompetisi berkelompok, mereka sekaligus belajar untuk bisa bekerja sama dalam tim. Hal ini ternyata membuat mereka lebih cepat untuk mengingat apa yang dipelajarinya. Karena mereka tidak merasa terbebani,” kata Nurul yang bertubuh mungil.

Tentang tubuhnya yang mungil, Nurul mengakui semula dirinya bercita-cita menjadi perawat. Namun karena ada persyaratan tertentu yang tidak bisa dipenuhi, Nurul pun harus ikhlas melepas cita-citanya. 

“Atas restu orang tua, saya akhirnya mengambil kuliah di jurusan PGSD. Dan Alhamdulillah sekarang sudah kelar dalam waktu 3,5 tahun,” kata Nurul yang sudah siap mengajar di salah satu sekolah di Surabaya. (Ibnu Nawawi)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG