IMG-LOGO
Internasional

Tokoh Muslim Sri Lanka Serukan Pelaku Teror Bom Dihukum Maksimal

Selasa 23 April 2019 19:45 WIB
Bagikan:
Tokoh Muslim Sri Lanka Serukan Pelaku Teror Bom Dihukum Maksimal
Foto: AFP/STR
Colombo, NU Online
Para pemimpin Muslim di Sri Lanka yang tergabung dalam All Ceylon Jamiyyathuul Ulama (ACJU) -semacam dewan cendekiawan Muslim- menyampaikan belasungkawa atas terjadinya teror bom di sejumlah gereja dan hotel di negara itu. Mereka juga mengaku siap memberikan uluran tangan persahabatan dan solidaritas bagi warga umat Nasrani. 

ACJU menilai, teror bom yang terjadi di Sri Lanka pada Minggu Paskah lalu adalah tindakan pengecut. Mereka meminta agar siapapun yang terlibat dalam aksi itu dijatuh hukuman berat. Pernyataan ini disampaikan menyusul sikap pemerintah Sri Lanka yang enggan memberikan informasi secara lebih rinci tentang para pelaku yang sudah ditangkap. Dilaporkan bahwa sejauh ini ada 40 orang yang ditangkap terkait dengan teror bom di Sri Lanka.

"Kami mendorong pemerintah untuk memberikan keamanan bagi semua tempat-tempat ibadah dan memberikan hukuman maksimum terhadap semua orang yang terlibat dalam aksi pengecut ini," kata ACJU, dilansir AFP, Selasa (23/4).

ACJU menyebut, setelah terjadi teror bom di sejumlah titik di Sri Lanka pihaknya telah bertemu dengan Uskup Agung Colombo, Kardinal Malcolm Ranjith. Sebagaimana diketahui, pada Minggu Paskah kemarin terjadi serangan bom di delapan lokasi di Sri Lanka; tiga di kebaktian gereja, tiga di hotel, satu di luar kebun binatang di selatan Ibu Kota Kolombo, dan satu lagi di pinggiran kota. Akibatnya, sedikitnya 310 orang meninggal dunia dan 500 orang lainnya terluka, termasuk luka parah. Jumlah itu kemungkinan masih akan bertambah.

Hal yang sama juga dilakukan Dewan Syura Nasional (NSC) Sri Lanka. Majelis yang beranggotakan 18 organisasi Muslim di Sri Lanka itu mengucapkan belasungkawa atas terjadinya teror bom di negeri itu. Mereka mendorong pemerintah Sri Lanka agar mengusut tuntas siapa dalang di balik teror bom yang menyebabkan ratusan orang meninggal itu. 

“Melakukan semua hal yang mungkin dalam upaya-upaya menangkap biang keladinya siapa pun itu dan dari komunitas mana saja mereka berasal," tegas Dewan Syura Nasional Sri Lanka kepada pemerintah. 

Sekitar 40 orang yang ditangkap terkait serangkaian teror bom diidentifikasi sebagai warga negara Sri Lanka. Hingga kini, identitas detail mereka belum diungkap. Otoritas setempat menyebut kalau para tersangka tersebut berasal dari satu kelompok radikal. Namun tidak disebutkan nama kelompoknya. (Red: Muchlishon)
Bagikan:
Selasa 23 April 2019 23:30 WIB
Liga Arab Tolak Usulan AS soal ‘Kesepakatan Abad Ini’
Liga Arab Tolak Usulan AS soal ‘Kesepakatan Abad Ini’
Peta Palestina dan Israel.
Kairo, NU Online
Pada akhir tahun lalu, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan akan meresmikan ‘Kesepakatan Abad Ini’ untuk mengakhiri konflik Israel-Palestina beberapa bulan mendatang. Pernyataan itu disampaikan Trump ketika bertemu dengan Perdana Menteri Israel Benyamin Netanyahu di sela-sela sidang Majelis Umum PBB di New York.

Pada saat itu, Trump menegaskan dukungannya kepada Israel dan menyatakan kebijakan dua negara sebagai adalah kebijakan yang terbaik untuk mengakhiri konflik Israel-Palestina. Sampai saat ini, AS memang belum merilis detail tentang ‘Kesepakatan Abad Ini’. Namun media-media AS melaporkan bahwa dalam kebijakan itu Palestina hanya akan diakui sebagai wilayah istimewa dan menjadi bagian Israel, bukan negara yang merdeka. 

Dalam kebijakan ‘Kesepakatan Abad Ini’ diperkirakan AS juga akan menyerahkan pengelolaan Yerusalem Timur kepada Israel dan memastikan keberlangsungan permukinan Israel di Tepi Barat.

Para menteri luar negeri Liga Arab menolak segala bentuk kebijakan atau rencana yang tidak menghormati hak-hak rakyat Palestina. Sebagaimana diberitakan kantor berita Anadolu, Senin (22/4), Liga Arab menilai, rencana ‘Kebijakan Abad Ini’ usulan AS tidak akan pernah memberikan perdamaian yang abadi di Timur Tengah. Karena bagaimanapun kebijakan itu tidak memberikan hak-hak rakyat Palestina seperti mendirikan negara Palestina yang merdeka dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kotanya, melepaskan tawanan, dan memberikan kompensasi bagi para pengungsi Palestina.

Pada kesempatan itu, Liga Arab juga mendesak berbagai macam kelompok Palestina untuk membangun rekonsiliasi nasional dan menyelenggarakan pemilihan umum. (Red: Muchlishon)
Selasa 23 April 2019 22:30 WIB
ISIS Klaim Bertanggung Jawab atas Teror Bom di Sri Lanka
ISIS Klaim Bertanggung Jawab atas Teror Bom di Sri Lanka
Tentara berjaga di depan Gereja St. Sebastian Sri Lanka. Foto: Getty Images/AFP
Colombo, NU Online
Kelompok militant Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) mengklaim bertanggung jawab atas serentetan serangan bom di sejumlah titik di Sri Lanka pada Hari Paskah, Ahad (21/4) lalu. Pada hari itu, serangan bom terjadi di delapan lokasi di Sri Lanka; tiga di kebaktian gereja, tiga di hotel mewah, satu di luar kebun binatang di selatan Ibu Kota Kolombo, dan satu lagi di pinggiran kota.  

Sebagaimana dikutip AFP, Selasa (23/4), klaim ISIS itu dipublikasikan di media propaganda mereka, Amaq. ISIS membuat klaim itu dua hari setelah aksi teror yang menewaskan ratusan orang itu. “Mereka yang melakukan serangan dengan target anggota koalisi pimpinan Amerika Serikat dan umat Kristen di Sri Lanka kemarin lusa adalah militan kelompok ISIS," kata ISIS. 

Klaim ISIS itu belum bisa dikonfirmasi kebenarannya mengingat tidak ada bukti yang disertakan untuk mendukung klaimnya itu. Mengutip CNN, selama ini kelompok ISIS memang kerap kali mengklaim beberapa kejadian teror yang terjadi di berbagai belahan dunia. Namun nyatanya, klaim ISIS terbukti tidak benar. 

Otoritas setempat melaporkan bahwa hingga saat ini ada 321 orang yang meninggal dan 500 orang lainnya mengalami luka-luka akibat serangan bom tersebut. Pihak kepolisian Sri Lanka telah menangkap 40 orang terkait serangkaian serangan bom tersebut. Sebagian besar tersangka yang ditangkap adalah warga negara Sri Lanka.

Wakil Menteri Negara Urusan Pertahanan Ruwan Wijewardene mengungkapkan, serangkaian bom yang terjadi di Sri Lanka merupakan aksi balasan atas teror yang terjadi di dua masjid di Christchurch, New Zealand, pada pertengahan Maret lalu. Pihak pemerintah Sri Lanka mencurigai kelompok kelompok National Thawheeth Jamaath (NJT) sebagai pihak yang melancarkan serangan berdarah itu.

Para pemimpin Muslim di Sri Lanka yang tergabung dalam All Ceylon Jamiyyathuul Ulama (ACJU) -semacam dewan cendekiawan Muslim- mendesak pemerintah agar siapapun yang terlibat dalam aksi itu dijatuh hukuman berat. Pernyataan ini disampaikan menyusul sikap pemerintah Sri Lanka yang enggan memberikan informasi secara lebih rinci tentang para pelaku yang sudah ditangkap. 

"Kami mendorong pemerintah untuk memberikan keamanan bagi semua tempat-tempat ibadah dan memberikan hukuman maksimum terhadap semua orang yang terlibat dalam aksi pengecut ini," kata ACJU, dilansir AFP, Selasa (23/4). (Red: Muchlishon)
Selasa 23 April 2019 19:22 WIB
Di Forum G-20, Indonesia Jelaskan Upaya Atasi Kesenjangan Gender di Tempat Kerja
Di Forum G-20, Indonesia Jelaskan Upaya Atasi Kesenjangan Gender di Tempat Kerja
Tokyo, NU Online
Pemerintah Indonesia memberikan penjelasan kepada negara-negara G20 tentang upaya yang telah dilakukan untuk memperkecil kesenjangan gender khususnya terkait partisipasi perempuan di dunia kerja.

"Pemerintah terus berupaya mengurangi kesenjangan gender di tempat kerja serta meningkatkan partisipasi angkatan kerja  perempuan di dunia kerja," kata Direktur Jenderal Pembinaan Hubungan Industrial dan Jaminan Sosial Tenaga Kerja (PHI dan Jamsos) Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) Haiyani Rumondang saat mengikuti Forum 2nd Employment Working Group G20 di Tokyo, Jepang, Senin (22/4).

Menurut Haiyani langkah pemerintah tersebut sebagai bentuk perhatian pemerintah terhadap perempuan di dunia kerja. Hal itu bisa dilihat dari adanya pasal khusus dalam Undang-Undang Ketenagakerjaan atau peraturan lain terkait. Di antaranya akses bukan hanya terhadap pendidikan formal tapi juga pelatihan-pelatihan.

"Selain itu juga perlindungan sosial bagi pekerja perempuan dan meningkatkan kepedulian perusahaan dalam menyediakan fasilitas kesejahteraan bagi pekerja perempuan," ujarnya.

Lebih jauh, Haiyani menjelaskan upaya lain pemerintah untuk mengatasi kesenjangan gender adalah dengan membentuk gugus tugas kesempatan dan perlakuan yang sama dalam pekerjaan dan menyusun panduan mengenai kesempatan dan perlakuan yang sama dalam pekerjaan di Indonesia.

"Kemnaker juga telah menandatangani Nota Kesepahaman Bersama dan Perjanjian Kerja Sama tentang Optimalisasi Penerapan Kesempatan dan Perlakuan yang Sama Tanpa Diskriminasi Dalam Pekerjaan dengan kementerian terkait," ucap Haiyani.

Selain itu, Kemnaker juga terus mendorong pembuatan Perjanjian Kerja Bersama (PKB) di perusahaan sebagai upaya menghapus diskriminasi di tempat kerja.

Pasalnya, PKB merupakan salah satu instrumen yang bisa menghapus diskriminasi seperti pembedaan, pengabaian, pengistimewaan atau pilih kasih yang dilakukan berdasarkan ras, warna kulit, jenis kelamin, agama, paham politik, asal usul sosial, dan kondisi fisik (penyandang disabilitas dan HIV/AIDS).

"Kemnaker telah menempuh upaya penguatan kualitas syarat kerja yang nondiskriminasi di tempat kerja yang dituangkan melalui pembuatan PKB di perusahaan," tutur Haiyani. (Red: Kendi Setiawan)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG