IMG-LOGO
Nasional
NU PEDULI NTB

LAZISNU Latih Guru NTB 'Self-Therapy Healing'

Selasa 23 April 2019 22:35 WIB
Bagikan:
LAZISNU Latih Guru NTB 'Self-Therapy Healing'
Pelatihan Self Healing
Jakarta, NU Online
Untuk memberikan semangat kepada para guru di wilayah terdampak bencana NTB, NU Care-LAZISNU mengadakan pelatihan Self-Therapy Healing. Program ini berlangsung selama dua hari, yakni Senin-Selasa, 22-23 April 2019 di Hotel Arum Jaya, Kota Mataram.

Ketua NU Care-LAZISNU NTB, H Saprudin mengatakan sebanyak 50 guru madrasah, guru SD negeri, para asatidz pesantren yang berasal dari empat kabupatan dan kota di NTB mengikuti program tersebut.

"Peserta dari seluruh wilayah kabupaten dan kota di Pulau Lombok dengan koordinasi PCNU Lombok Timur, Lombok Tengah Utara, Lombok Barat dan Kota Mataram," katanya dihubungi dari Jakarta, Senin (23/4) malam.

"Selain itu hadir juga perwakilan Muslimat NU NTB. Acara dibuka Ketua PWNU NTB H Masnun, dan dihadiri Ketua NU Care-LAZISNU Pusta, H Achmad Sudarajat," imbuhnya.

Program tersebut merupakan pemanfaatan penggalangan bantuan pelanggan masyarakat melalui toko Indomaret.

Ketua NU Care-LAZISNU, H Achmad Sudrajat mengatakan usai bencana gempa bumi di Lombok tahun lalu, NU Peduli terus mengawal dan mendampingi masyarakat dengan beragam program termasuk pemberdayaan.

"NU Peduli tidak akan meninggalkan Lombok," tegasnya.

Ia menambahkan atas dukungan dan kepedulian Sahabat Peduli, sampai saat ini sudah dilakukan beragam kegiatan, mulai dari tanggap darurat pada saat bencana terjadi, recovery, pembangunan hunian untuk warga, hingga beragam pelatihan," kata Achmad Sudrajat.

Pembangunan untuk NTB dengan dukungan NU Pedulu, imbuhnya, akan diteruskan melalui program penguatan ekonomi. (Kendi Setiawan)
Bagikan:
Selasa 23 April 2019 22:45 WIB
Puluhan Pemuda dari Asia Tenggara Bersatu Bangun Narasi Melawan Terorisme
Puluhan Pemuda dari Asia Tenggara Bersatu Bangun Narasi Melawan Terorisme

Jakarta, NU Online

Sejumlah studi mengklasifikasi aksi terorisme menjadi dua kelompok, pertama adalah teroris lokal dalam satu negara dan yang kedua adalah teroris yang terafiliasi dalam jaringan internasional. Saat ini, aksi teror yang dilakukan kelompok teroris banyak ditemukan berhubungan antara satu dengan yang lainnya.

Seperti contoh, kelompok teror yang melakukan aksi teror di Philipina dianggap memiliki hubungan dengan kelompok teror di Poso Indonesia dan juga Malaysia. Mereka menggunakan perbatasan yang tidak dijaga dengan ketat sebagai pintu keluar-masuk dari satu negara ke negara lainnya.

Oleh karena itu sejumlah studi merekomendasikan adanya kerja sama antarnegara dalam menghalau aksi terorisme. Hal itu yang mengilhami Badan nasional penanggulangan Terorisme saat membentuk aliansi perdamaian antara pemuda lintas negara Asia Tenggara.

Sebanyak 50 pemuda-pemudi dari negara-negara Asia Tenggara yaitu Thailand, Malaysia, Singapura, Filipina, Kamboja, Vietnam, Brunei Darussalam, dan Laos untuk mengikuti “Regional Workshop on Establishing Youth Ambassadors for Peace Against Terrorism and Violent Extremism” di Jakarta selama empat hari, 22-25 April 2019.

“Kami sengaja memperluas duta damai dunia maya ke kawasan Asia Tenggara karena saat ini seluruh negara di dunia sedang menghadapi perubahan pola dan modus terorisme dari cara lama ke cara baru,” kata Deputi Pencegahan, Perlindungan, dan Deradikalisasi BNPT Mayjen TNI Hendri Paruhuman Lubis, Senin (22/4).

Perubahan pola yang dimaksud Hendri adalah pemanfaatan kecanggihan teknologi dan informasi oleh kelompok teroris dalam menyebarkan pesan kekerasan dan rekrutmen anggota mereka.

Sehingga, aksi yang diperlukan dalam melawan terorisme harus melibatkan pemantauan narasi kekerasan yang tersebar di dunia maya. Aksi kekerasan dan terorisme di dunia nyata bisa dicegah dan diamputasi melalui upaya penindakan dan penegakan hukum, tetapi narasi kekerasan dan terorisme yang masif dan viral di dunia maya lebih sulit untuk ditanggulangi.

“Sesungguhnya melawan terorisme saat ini adalah melawan narasi kekerasan yang mudah mempengaruhi semua lapisan masyarakat. Pasalnya tidak ada orang yang kebal dari pengaruh ideologi dan indoktrinasi, kecuali mempunyai imunitas dan kecerdasan dalam menangkalnya,” terang Hendri.

Dalam perang narasi kekerasan dan teror di dunia maya, generasi muda dianggap sebagai kelompok yang paling rentan karena secara demografi kelompok ini merupakan pengguna terbesar dunia maya. Itu akan sangat berbahaya bila tidak ditangkal melalui upaya peningkatan kapasitas dan kemampuan literasi media dan literasi digital.

“Generasi muda adalah kelompok usia yang sedang mencari jati diri, identitas, dan idealisme. Apabila dalam proses itu mereka selalu bersinggungan dengan narasi kekerasan, maka akan menimbulkan apa yang disebut self radicalization melalui dunia maya,” ungkapnya.

Oleh karenanya penting adanya gerakan bersama antanegara dalam rangka memberikan narasi positif dan pesan damai. Pekerjaan itu tidak cukup dilakukan di dalam negeri saja karena, sifat dunia maya yang lintas batas teritorial (borderless) dan lintas negara. 

“Kami melihat perlunya kolaborasi generasi muda, tidak hanya antar daerah di Indonesia, tapi lebih luas yaitu antar pemuda-pemudi perdamaian lintas negara. Tahun ini negara-negara Asia Tenggara, tahun depan Insya Allah kita perluas lagi sampai ke tingkat dunia,” jelasnya. (Red: Ahmad Rozali)

Selasa 23 April 2019 21:30 WIB
Di Sampang, Mursyid Naqsabandiyah Minta Warga Jaga Persatuan
Di Sampang, Mursyid Naqsabandiyah Minta Warga Jaga Persatuan
Haul Akbar Masyayikh Tarekat Naqsyabandiyah di Sampang
Sampang, NU Online
Usai pemilihan umum 17 April 2019 lalu, Mursyid Tarekat Naqsabandiyah, KH Ahmad Ja'far Abdul Wahid Qs meminta masyarakat untuk saling memaafkan, menjaga kedamaian, keamanan serta persatuan.

Menurutnya saat ini sudah tidak ada lagi kosong satu maupun kosong dua, yang ada hanya kosong kosong. "Dan siapapun yang ditakdirkan sebagai presiden, atau aggota legislatif, semuanya kita pasrahkan kepada Allah Swt," katanya pada Haul Akbar Masyayikh Tarekat Naqsyabandiyah dan Haul Al-Maghfurlah Sayyidina Abdul Wahid Khudzaifah Qs, Sabtu (20/4) di Pondok Pesantren Darul Ulum II Al-Wahidiyah Gersempal Omben Sampang, Jawa Timur.

Pasrah dan menyerahkan semuanya kepada Allah, kata dia, sebab sebenarnya hal itu (jadi presiden atau legislatif) dari zaman azali sudah ada ketetapan.

Dihadiri oleh puluhan ribu jamaah dari seluruh Indonesia, mereka bersama-sama menyanyikan Ya Lal Wathon karya KH Abdul Wahab Chasbullah. Hal itu sebagai bentuk kecintaan terhadap NKRI.

Acara juga diisi dengan pembacaan Shalawat Robithoh, karya Al-Maghfurlah Syeikh Abdul Adhim Al-Maduri, seorang ulama Makkah, pembawa Tarekat Naqsyabandiyah Ahmadiyah Mudzhariyah ke Indonesia.

Hadir dalam kegiatan ini para habaib, masyayikh, pejabat pemerintah, dan pimpinan organisasi di antaranya KH Zubaidi Muhammad, KH Syafiuddin Abd Wahid, dan KH Ahmad Ja'far Abd Wahid Qs, Habib Ahmad, Kapolres Sampang, Dandim 0828 Sampang.

Jama'ah yang terwadah dalam organisasi Silaturrahim Ikhwan Akhwat dan Simpatisan Naqsyabandiyah Gersempal (SITQON) hadir dari berbagai cabang yang tersebar di Indonesia, di antaranya Pulau Sapudi, Sumenep, Pamekasan, Sampang, Bangkalan, Pulau Mandangin, Surabaya, Sidoarjo, Pasuruan, Malang, Tuban, Lumajang, Situbondo, Jember, Bondowoso, Bali, dan Jakarta. (Dedi Haryono/Kendi Setiawan)
Selasa 23 April 2019 20:45 WIB
Banyak Korban Jiwa, Lakpesdam PBNU Soroti Rekruitmen dan Asuransi Petugas Pemilu
Banyak Korban Jiwa, Lakpesdam PBNU Soroti Rekruitmen dan Asuransi Petugas Pemilu
Jakarta, NU Online
Ketua Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia PBNU H Rumadi Ahmad menilai perlu adanya evaluasi rekruitmen dalam hal standar kesehatan petugas pemilu. Menurut Rumadi, selama ini standar kesehatan petugas pemilu terabaikan.

"Saya sih melihat mungkin ada keteledoran dari rekruitmen, ya, yang tidak menjadikan standar kesehatan apalagi dengan beban berat seperti sekarang ini sebagai salah satu ukuran," kata Rumadi kepada NU Online, Selasa (23/4).

Rumadi menyoroti standar kesehatan petugas karena dalam pandangannya, selama ini yang menjadi petugas pemilu didominasi oleh tokoh-tokoh lokal dan tidak ada pengecekan kesehatan dan mentalnya terlebih dahulu.

"Itu yang menurut saya memang perlu dievaluasi dari sisi itu," ucapnya.

Namun menurutnya, jika persoalan banyaknya petugas pemilu yang meninggal karena pelaksanaan pemilu secara serentak, maka untuk memecahkan persoalan tersebut perlu membuka kembali diskusi dengan serius karena pelaksanaan pemilu serentak ini lahir dari pergulatan panjang dan evaluasi terhadap persoalan pemilu sebelum-sebelumnya, seperti ongkos yang dianggap besar, sehingga salah satu cara untuk menghemat ongkos pemilu dengan melakukan pemilu serentak.

Selain standar kesehatan, ia juga menganggap perlunya asuransi kesehatan bagi petugas pemilu. Menurutnya, dengan pekerjaan yang mempunyai risiko tinggi, jaminan kesehatan menjadi kebutuhan yang sangat penting.

"(Jadi) harus ada semacam asuransi kesehatan bagi petugas pemilu. Ke depannya harus dipikirkan begitu," ucapnya. 

Berdasarkan catatan Komisi Pemilihan Umum (KPU) hingga Senin (22/4), sudah ada 91 orang petugas KPPS meninggal dunia dan 374 sakit. Jumlah itu belum termasuk personel polisi dan petugas lain yang meninggal atau sakit saat bertugas. (Husni Sahal/Abdullah Alawi)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG