IMG-LOGO
Opini

Yenny Wahid, Desa Damai, dan Tokoh Perubahan

Jumat 26 April 2019 16:45 WIB
Bagikan:
Yenny Wahid, Desa Damai, dan Tokoh Perubahan
Yenny Wahid, Tokoh Perubahan 2018
Oleh Fathoni Ahmad

Malam itu sekitar tahun 1980-an, gadis kecil bernama Zannuba Arifah Chafsoh Rahman dipangku ayahnya, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta. Bukan sedang menikmati suasana malam atau pun rekreasi, tetapi sedang melakukan gerakan amal bakti berupa penggalangan dana untuk rakyat Palestina.

Gadis kecil yang saat ini akrab disapa Yenny Wahid itu mengungkapkan, pada momen khidmat tersebut ayahnya mengenakan kaos bertuliskan “Palestina”. Kala itu, Gus Dur menggelar pengumpulan dana dan aksi simpati terhadap warga Palestina bersama para tokoh bangsa dan sejumlah seniman, di antaranya Sutardji Calzoum Bachri.

Sepenggal kisah tersebut diungkapkan dalam buku Gus! Sketsa Seorang Guru Bangsa (2017). Buku kumpulan tulisan yang berisi testimoni, pandangan, dan kisah-kisah menarik dari sejumlah sahabat dekat Gus Dur tersebut menggambarkan prinsip keagamaan dan kebangsaan yang sangat mendalam dalam bingkai nilai-nilai kemanusiaan. Gus Dur seorang humanis, diterima oleh siapa pun dan dari golongan mana pun. Sehingga sahabat karib Gus Dur, KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) pernah berujar, “Kenapa Gus Dur dicintai semua orang? Karena Gus Dur mencintai mereka semua.”

Simpati kemanusiaan terhadap sebuah bangsa, terutama kelompok tertindas dan lemah (mustadh’afin) adalah salah satu persoalan pokok yang menjadi perhatian Gus Dur dan menjadi teladan mendalam bagi anak-anaknya, termasuk Yenny Wahid. Apapun agama, keyakinan, bangsa, etnis, rasnya bukan menjadi pembatas bagi Gus Dur untuk melindungi mereka, baik yang di dalam negeri maupun peran kebangsaannya di luar negeri.

Peran dan pergaulannya yang luas membuat setiap orang mempunyai kesan mendalam terhadap Gus Dur. Bahkan, kasih sayangnya yang tercurah kepada semua manusia membuatnya terus dikenang oleh setiap elemen bangsa ketika dirinya telah tiada. Bahkan, Soka University Tokyo milik Soka Gakkai yang didirikan Daisaku Ikeda hingga saat ini masih menjadikan Gus Dur sebagai ikon penggerak kebudayaan modern.

Level kebangsaan Gus Dur tidak lagi lokal, tetapi telah mendunia. Bahkan buah pemikiran Gus Dur dijadikan konsen jurusan tersendiri di Universitas Pennsylvania, salah satu kampus terkemuka di Amerika Serikat. Jejak-jejak keagamaan, kemanusiaan, dan kebangsaan inilah yang berupaya kuat diteruskan oleh Alissa Wahid, Yenny Wahid, Anita Wahid, dan Inayah Wahid, keempat putri Gus Dur.

Hingga pada akhirnya, walaupun bukan yang terakhir atas sebuah perjuangan, Yenny Wahid dianugerahi sebagai Tokoh Perubahan 2018 oleh Republika pada Rabu (24/4/2019) malam di Jakarta Theatre. Moderasi keagamaan, nilai-nilai kemanusiaan, dan menebarkan toleransi merupakan salah satu perjuangan Yenny Wahid yang diwujudkan melalui program Desa Damai (Peace Village). Bahkan, program yang saat ini telah berhasil diwujudkan di 30 desa tidak hanya menyerap prinsip-prinsip perdamaian, tetapi juga mewujudkan kesejahteraan melalui pemberdayaan ekonomi.

Program yang menyedot perhatian Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) ini telah digulirkan sejak 2012. Desa Damai memiliki empat pilar. Pertama, pilar penguatan ekonomi dalam arti memberi akses permodalan dan pelatihan ekonomi kreatif. Kedua, pilar penguatan peran perempuan. Ketiga, pilar penguatan aparatur daerah dan desa. Keempat, penguatan nilai-nilai toleransi di tengah masyarakat.

Sebelumnya, adanya keinginan untuk menjembatani perbedaan di Indonesia telah mendorong Yenny Wahid mendirikan The Wahid Institute, yang sekarang berubah nama menjadi Wahid Foundation pada 2014. Yayasan ini pada awalnya menggelar berbagai diskusi mengenai keberagaman dengan mengundang cendekiawan, peneliti, tokoh bangsa, aktivis, pelajar, mahasiswa, dan lain-lain.

Namun, Yenny Wahid tidak mau kampanye damai hanya berhenti dalam tataran diskusi sehingga desa damai merupakan salah satu wujud gerakan nyata di tengah masyarakat dalam membangun kebersamaan berdasarkan kearifan lokal dan nilai-nilai Pancasila.

Dalam pandangan Yenny, Pancasila menjadi dasar toleransi dan sikap moderasi keagamaan yang merupakan kekhasan dan kearifan bangsa ini. Terlahir dari kemajemukan bangsa, masyarakat di Indonesia sudah terbiasa dengan perbedaan sehingga dapat mewujudkan pembangunan. Persatuan menjadi kunci untuk mewujudkan kondisi bangsa yang damai, berpikiran maju, mendukung investasi, dan pembangunan.

Idealisa Masyrafina dalam Ajarkan Toleransi Melalui Desa Damai (2019) yang dirilis Republika mencatat bahwa Program Desa Damai memberikan akses permodalan dan ekonomi kepada ibu-ibu dari berbagai latar belakang budaya dan agama di desa-desa. Perbedaan latar belakang tersebut memungkinkan mereka berinteraksi secara harmonis. Dari komunikasi tersebut, pemahaman kebangsaan dan saling menghormati akan terwujud sehingga tercipta kerukunan, keguyuban, dan kerja sama.

Yenny bersama Wahid Foundation mencoba membangun masyarakat yang toleran dan terbuka melalui program tersebut. Semula ada masyarakat hanya bergaul dengan yang seagama. Jarang sekali bergaul dengan pihak lain. Yenny kemudian berupaya mempertemukan masyarakat dengan komunitas berbeda. Ibu-ibu pengajian dipertemukan dengan komunitas gereja juga dengan kelompok agama lain.

Interaksi budaya dan antarumat beragama tersebut berbuah, bukan hanya perdamaian dan keharmonisan yang tercipta, tetapi juga produktivitas karya dalam bidang ekonomi. Desa Damai yang dicetuskan Yenny Wahid memunculkan produk khas daerah bernilai jual. Tidak berhenti di level produktivitas, Wahid Foundation juga melakukan edukasi terkait pengepakan (packaging) dan pemasaran (marketing).

Kesuksesan menebarkan perdamaian ini membawa badan PBB untuk pemberdayaan perempuan, UN Women berinisiatif mengajak Wahid Foundation bekerja sama pada 2015 lalu. Inspirasi Desa Damai meluas hingga ke markas PBB. Pada 2018 Yenny Wahid diundang ke PBB untuk mengenalkan Desa Damai dan program-programnya. Sebab PBB memandang, program tersebut merupakan salah satu gerakan nyata yang menunjukkan keberhasilan Indonesia dalam mendorong perdamaian, toleransi, dan pemberdayaan perempuan. Selamat!


Penulis adalah Redaktur NU Online
Tags:
Bagikan:
Jumat 26 April 2019 20:15 WIB
Relasi Kiai-Santri
Relasi Kiai-Santri
ilustrasi kiai
Oleh: Wildan Rifqi Asyfia

Pondok pesantren sebagai pusat studi Islam klasik merupakan salah satu bentuk dari kearifan lokal (local wisdom) dari sekian banyak khazanah warisan budaya Islam Nusantara. Secara harfiah pesantren berarti lembaga pendidikan Islam tradisional untuk mempelajari, memahami, menghayati, dan mengamalkan ajaran agama Islam (tafaqquh fiddin) dengan menekankan pentingnya moral keagamaan sebagai pedoman hidup bermasyarakat. Concern pesantren sesuai visinya adalah mencetak kader-kader andal yang siap memenuhi kebutuhan masyarakat. Lebih dari itu pesantren mengharapkan setiap anak didiknya menjadi seorang Insan Kamil, manusia paripurna yang memiliki budi pekerti luhur; tidak meresahkan masyarakat dan barang tentu hubbul wathon, mencintai tanah airnya dengan sepenuh hati dan segenap jiwa raga mereka.

Jika disebuah universitas orang akan mengenal istilah dosen-mahasiswa, dalam sistem pendidikan pesantren kita akan dikenalkan dengan istilah kiai-santri. Sekilas mungkin keduanya akan terlihat sama, kiai guru, dosen juga guru; mahasiswa murid, santri juga murid. Namun, pada kenyataannya istilah yang digunakan mempunyai perbedaan yang begitu mendasar, jika dosen hanya diposisikan sebagai pengajar yang apabila setelah jam pelajarannya selesai maka tugasnya pun selesai. Hal ini berbeda jauh dengan kiai, hubungan kiai dengan para santri tidaklah sesimpel dosen dengan mahasiswa. Kiai diposisikan bukan hanya sebagai pengajar, namun juga sebagai pendidik spiritual para santri yang didalamnya terdapat hubungan istimewa yaitu hubungan yang dijiwai oleh semangat nasyrul ilmi yang sama-sama akan mereka emban untuk misi dakwah islamiah, menyebarkan Islam yang rahmatan lil alamin, di mana para santri mendapat pengajaran tentang akidah, adab (tata krama), dalil-dalil agama agar mereka siap untuk menghadapi lika-liku kehidupan dunia.

Beberapa perbedaan kecil antara kaum akademisi dan pesantren dapat kita lihat bahwa sebelum mengajar, seorang kiai dan para santrinya bersama-bersama mendoakan guru-guru mereka dengan harapan supaya silsilah sanad keilmuannya bisa selalu on time terkoneksi dengan baik dan mendapatkan ilmu yang bermanfaat serta kebaikan hidup dari apa yang akan mereka pelajari. Ritual semacam ini mungkin jarang terlaku, bahkan bisa jadi tidak akan kita temukan disekolah-sekolah umum maupun diuniversitas-universitas ternama sekalipun. Jika yang ditinjau aspek materi, kebayanyakan para kiai tidaklah digaji atau tidak ada yang menggaji, namun ‘profesinya’ itu tetap dilakukan dengan ikhlas tanpa pamrih, sebab, disamping merupakan panggilan keberagamaan dan bentuk ketaatan terhadap doktrin nilai-nilai ajaran agamanya juga merupakan wujud kepeduliaannya kepada masyarakat.

Relasi antara kiai dengan santri tak terhenti sampai di situ. Seorang kiai akan menjadi pelindung bagi mereka, sementara para santri secara gotong royong membantu keperluan dan kebutuhan hidup sang kiai, misalanya dengan mengerjakan sawah dan tanah ladang kiainya. Dukungan ini terjadi di samping karena figur sang kiai yang telah mendapatkan pengakuan secara penuh, juga dikarenakan mereka merasa berhutang budi atas bimbingan dan kebaikan sang kiai, atau dalam istilah santri mereka anggap hal itu sebagai wujud khidmah mereka kepada guru. Hal semacam ini, ikut andil dalam menciptakan suasana ikatan kekeluargaan yang kuat di antara mereka. Hingga saat ini banyak sekali pondok pesantren yang masih melestarikan perilaku ini. Sehingga, meskipun sang kiai mampu memenuhi kebutuhannya sendiri, terkadang pula mendapat sumbangsih dari hasil bumi atau bentuk lainnya dari keluarga para santri dan masyarakat sekitar yang berkecukupan secara ekonomi.

Karenanya, dapat dipahami, jika hubungan mereka tidak lantas terputus seusai seorang santri menyelesaikan masa pendidikan. Tidak ada mantan murid, pun tidak ada mantan kiai. Inilah prinsip yang selama ini dipegang di kalangan pesantren, hubungan seorang santri dengan gurunya di pondok pesantren akan terus bertahan sampai akhir hayat kehidupannya dan tidak bisa diputuskan oleh apa pun juga. Guru adalah guru dan murid adalah murid, inilah realitas yang berlaku di dunia pesantren. 

Maka, seringkali seorang kiai dilibatkan sebagai pertimbangan utama sekalipun dalam hal-hal yang sangat pribadi. Misalnya tentang keputusan memilih pekerjaan, begitu percayanya seorang santri dengan konsep barakah. Maka tidak sedikit seorang santri meminta petunjuk dan doa restu tentang pekerjaan yang baik untuknya. Tentang keputusan memilih calon istri atau calon suami, seringkali para kiai menjadi 'mak comblang; untuk para santrinya dengan orang lain. Malahan, kiai sendiri kadang yang melamarkan untuk santrinya. Tentang pemberian nama bagi putra-putri santrinya, kai juga sering dilibatkan. Mereka yakin bahwa nama seseorang akan banyak berpengaruh dengan masa depannya kelak, begitu juga dari siapa nama itu diberikan. Dengan meminta kiai memilihkan nama pada anak mereka, para alumni yakin bayi mereka akan mengalami nasib yang baik. Begitu pun ketika terjadi konflik keluarga, kiai sering kali diminta untuk menjadi penengah dalam menyelesaikannya.

Melihat sejarahnya, relasi kiai-santri bukan merupakan suatu hal yang aneh, hubungan ini sudah lama terlaku. Kesakralannya membawa hubungan batiniah yang begitu kuat dan menjadi suatu chemistry tersendiri bagi keduannya. 

Ketika Indonesia masih berjuang melawan penjajah, banyak kita temukan seorang kiai menyerukan perlawananan, mengobarkan semangat nasionalisme, dan mengangkat senjata bersama-bersama dengan para santrinya. Bukti nyata atas hal tersebut yakni terbitnya Resolusi Jihad oleh KH Hasyim Asy’ari yang berisi seruan wajib bagi seluruh penduduk Indonesia yang berada pada jarak masafatul qosri untuk berjihad melawan para penjajah. Dampaknya, dengan berbondong-bondong para santri menyambut seruan itu. Mereka berlomba menjadikan diri mereka sebagai seorang santri yang sami’na watha'na, mendengar dan siap melaksanakan setiap apa yang diperintahkan sang guru. Maka, tak heran jika ada seorang kiai yang sekaliber Mbah Kiai Abdul Karim saat menjelang wafatnya, yang ia  inginkan hanyalah supaya bias diakui sebagai santri Si Mbah Kiai Kholil Bangkalan. Karena bagi diri para santri, pengakuan seorang kiai atas kesantriannya adalah suatu harga mati yang amat begitu sakral demi terjalinnya hubungan batiniah mereka dengan sang guru.

Kalau kita cermati secara mendalam, hubungan santri dengan kiai adalah hubungan yang saling melengkapi (komplementer). Ibarat sebuah bangunan, maka kiai sebagai pondasinya dan para santri sebagai tubuh bangunannya itu sendiri. Karena kiailah yang meletakan dasar-dasar pengetahuan dan amaliahnya, sedangkan para santri yang melajutkan dasar-dasar tersebut

Pada akhirnya, potret tersebut melahirkan statement bahwa hubungan kiai dan santri tidak lagi sebatas murid dengan guru. Namun, bertransformasi lebih kedalam sebuah hubungan 'batiniah ideologis' yang mengimplementasikan bentuk dan nila-nilai pendidikan seumur hidup (long life education). Karena dalam hubungan silaturahim yang mereka bagun dan rawat, di dalamnya ada semangat tetap saling belajar, transformasi tata nilai, transformasi budaya dan tradisi keagamaan.

Wildan Rifqi Asyfia, seorang santri asal Majalengka, Jawa Barat, saat ini berdomisili dalam rangka rihlah ilmu di Pondok Pesantren Lirboyo Kediri, Jawa Timur.Jejaknya bisa dilacak melalui akun IG @dhan.ra__ atau FB Asyfia Munawwir.

Selasa 23 April 2019 20:35 WIB
Potensi Keuangan Syariah dalam Mendorong Pertumbuhan Ekonomi Indonesia
Potensi Keuangan Syariah dalam Mendorong Pertumbuhan Ekonomi Indonesia
Ilustrasi (sindonews)
Oleh: Indah Wahyuningsih

Selama lebih dari dua dekade terakhir, ekonomi dan keuangan syariah terus berkembang dan mengalami pertumbuhan yang cukup pesat di seluruh dunia. Saat ini, sistem keuangan syariah telah berkembang di lebih dari 50 negara, baik negara berpenduduk mayoritas Muslim maupun Non-Muslim.

Indonesia sebagai negara dengan mayoritas penduduk beragama Islam memiliki 209,1 juta jiwa penduduk Muslim atau sebesar 87,2 persen dari total penduduk Indonesia berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS). Jumlah penduduk Muslim ini harusnya bisa menjadi daya dorong bagi berkembangnya ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia. Oleh karenanya Indonesia memiliki potensi besar dalam pengembangan ekonomi dan keuangan syariah sehingga bisa berkontribusi terhadap perekonomian Indonesia. 

Pengembangan ekonomi dan keuangan syariah dibutuhkan untuk memperkuat struktur ekonomi dan pasar keuangan. Dengan begitu bisa mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia. Hal ini dilandaskan pada potensi pengembangan ekonomi dan keuangan syariah yang cukup menjanjikan. Ekonomi dan keuangan syariah memiliki potensi besar untuk memberikan kontribusi pada perekonomian melalui dua aspek utama, yakni pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dan inklusif, serta stabilitas perekonomian dan keuangan yang lebih baik.

Salah satu potensi keuangan syariah yang memiliki kontribusi langsung maupun tidak langsung terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia adalah Sukuk Negara atau Surat Berharga Syariah Negara (SBSN). Sebagai salah satu instrumen keuangan syariah, peran SBSN dalam membiayai APBN semakin meningkat dari waktu ke waktu. 

Tujuan utama diterbitkannya SBSN berdasarkan UU No. 19 Tahun 2008 tentang SBSN adalah untuk membiayai defisit APBN dan juga membiayai proyek infrastruktur guna mendorong pertumbuhan ekonomi. Total akumulasi penerbitan SBSN sejak 2008 sampai dengan 9 Oktober 2018 mencapai Rp.944,03 Triliun. Hal ini menjadikan Indonesia sebagai negara penerbit International Sovereign Sukuk (USD denominated) terbesar di dunia.

Menurut data DJPPR Kemenkeu, setiap tahunnya total Project Financing Sukuk (Earmarked) mengalami peningkatan. Total Project Financing Sukuk (Earmarked) sejak tahun 2013 sampai dengan tahun 2018 mencapai Rp. 62,4 Triliun. Optimalisasi pertumbuhan ekonomi harus didukung oleh infrastruktur yang memadai. Oleh karenanya SBSN berpotensi besar mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia. 

Perkembangan ekonomi dan keuangan syariah tentunya juga didorong oleh pertumbuhan sektor perbankan. Sektor perbankan berperan mendorong pertumbuhan ekonomi dengan mengarahkan sumber keuangan ke sektor-sektor riil. Prinsip bagi hasil dan risiko dalam keuangan syariah dipandang sangat sesuai dengan pembiayaan sektor riil terutama UKM sehingga dapat mendukung pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkualitas. Sampai dengan April 2018, total aset perbankan syariah mencapai Rp.435 triliun atau 5,79 persen dari total aset industri perbankan nasional. 

Selain sektor perbankan, potensi pengembangan ekonomi dan keuangan syariah juga dapat dilihat dari sektor pasar modal, terutama saham syariah. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), sampai dengan April 2018 nilai kapitalisasi saham yang tergolong efek syariah tercatat sebesar Rp.3.428 triliun, atau 52,5 persen dari total kapitalisasi saham yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI). Pasar modal syariah memiliki peranan penting dalam pendanaan dan investasi baik untuk sektor pemerintah maupun sektor swasta.

Di samping sektor keuangan komersial syariah, sektor keuangan sosial syariah seperti zakat, infak, dan sedekah (ZIS) memiliki potensi yang besar dalam membantu mewujudkan distribusi pendapatan dan kekayaan serta mengatasi ketimpangan di masyarakat. Menurut data Pusat Kajian Strategis Badan Amil Zakat Nasional (Baznas), potensi zakat di Indonesia mencapai Rp.217 triliun per tahun. ZIS berperan penting dalam menjamin terpenuhinya kebutuhan dasar bagi masyarakat miskin, mengurangi kesenjangan, dan mendorong berputarnya roda perekonomian. 

Selain zakat, wakaf juga mampu mendukung pembangunan nasional melalui pemberdayaan ekonomi masyarakat serta peningkatan investasi dan kesejahteraan di bidang keagamaan, pendidikan, dan layanan sosial. Menurut data inisiatif Wakaf (iWakaf) potensi aset wakaf di Indonesia yang mencapai Rp.2.000 triliun, dan potensi wakaf uang mencapai Rp188 triliun per tahun. Jadi, wakaf punya kemampuan untuk berkontribusi pada pembangunan negara, baik aspek infrastruktur, pendidikan, kesehatan, ataupun aspek sosial keagamaan lainnya. 

Secara lebih luas, sistem keuangan syariah juga mencakup sektor industri halal (ekonomi riil) yang saat ini cukup gencar dikembangkan. Hal ini mengingat Indonesia merupakan salah satu pasar terbesar kebutuhan halal yang mencakup makanan, fashion, kosmetik, farmasi, dan pariwisata syariah. 

Industri halal pada tahun ini menjadi sektor prioritas yang akan dikembangkan oleh pemerintah melalui master plan Komite Nasional Keuangan Syariah (KNKS) 2019. Laju pertumbuhan industri halal global meningkat dalam beberapa tahun terakhir, dari 7,5% pada tahun 2015 menjadi lebih dari 8% pada tahun 2016 dan diperkirakan akan terus meningkat. 

Pasar industri halal di Indonesia, khususnya sektor makanan halal, travel, fashion, dan obat-obatan serta kosmetik halal telah mencapai sekitar 11% dari pasar global pada tahun 2016. Oleh karenanya pengembangan suatu rantai pasok halal (halal supply chain) menjadi perlu. Jejaring aktivitas ekonomi halal yang dapat memenuhi produksi, pemasaran, hingga berbagai kebutuhan dasar produk dan jasa halal. Sehingga tidak hanya dimanfaatkan sebagai pasar (market) namun juga bisa berperan sebagai pemain yang pada akhirnya akan dapat meningkatkan ketahanan ekonomi nasional.

Pengembangan ekonomi dan keuangan syariah diharapkan dapat menjadi salah satu upaya dalam memperkuat struktur ekonomi dan pasar keuangan global saat ini dan mendatang. Ke depan, untuk meningkatkan peran dan kontribusi ekonomi dan keuangan syariah secara global dan nasional, diperlukan peran aktif semua pihak, baik pembuat kebijakan, pelaku ekonomi maupun dunia pendidikan.

Penulis adalah Mahasiswa Program Magister Ekonomi dan Keuangan Syariah Universitas Indonesia.


Senin 22 April 2019 21:30 WIB
Politik Identitas dalam Pusaran Pilpres 2019
Politik Identitas dalam Pusaran Pilpres 2019
Oleh Achmad Murtafi Haris 

Pemilihan presiden atau Pilpres kali ini lebih keras dibandingkan dengan sebelumnya. Meski calon presiden (Capres) yang bertanding sama dan hanya berubah calon wakil presiden (Cawapres), pada 2014: Joko Widodo-Jusuf Kalla melawan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa, namun eskalasi kali ini  lebih tinggi.  

Ada dua hal yang menyebabkan hal itu, yaitu masuknya kekuatan Islam ideologis baru yang dimotori oleh Persaudaraan Alumni (PA) 212 dengan pimpinan Habib Rizieq Shihab yang sekarang mukim di Arab Saudi. Dan faktor merajalelanya media sosial (Medsos) yang efektif menebarkan informasi secara massif dan cepat. Dua hal ini menjadikan ekskalasi demikian dahsyat. Saking dahsyatnya, sampai-sampai kedua kubu dalam kampanye puncak mampu memobilisir massa dengan bilangan terbanyak dalam sejarah pemilu di dunia. Tidak ada kampanye di manapun, baik di Amerika maupun Eropa yang mampu mengumpulkan massa sebanyak ini. Mereka berjubel di Gelora Bung Karno (GBK) dan mengular sepanjang 4,8km di jalan raya hingga bundaran Hotel Indonesia. Sebuah perhelatan kampanye terbesar yang seharusnya tercatat dalam Guinness World Records

Kerumunan itu merupakan  simbol eksistensi  kelompok  politik tertentu di kancah nasional. Yaitu naiknya kelompok pengusung identitas Islam yang tidak terakomodir dalam partai Islam yang ada. Identitas Islam yang kabur  seiring dengan kalahnya partai Islam dalam beberapa pemilu di era reformasi, menjadikan munculnya kelompok alternatif yang memimpikan hal itu. Sebuah mimpi agar identitas Islam memenangi jagad perpolitikan negeri. Hal seperti yang muncul dalam sebuah hadits riwayat Umar bin Khattab dan Mu’ad bin Jabal: Islam itu unggul dan tidak ada yang mengunggulinya (al-Islam ya’lu wa laa yu’la ‘alaih). Dalil ini menjadi spirit agar umat Islam memenangkan persaingan di segala bidang termasuk politik nasional bahkan global. 

Dengan backup teks transendental, politik identitas Islam menjadi berdaya dorong sangat kuat. Jutaan umat menyambutnya, menyemut dan mengular sepanjang Monumen Nasional (Monas) hingga bundaran Hotel Indonesia (HI) pada aksi 212 pertama (2016).  Kerumunan itu menuntut pengusutan kasus penistaan agama oleh Basuki Tjahaja Purnama dan penolakannya dalam pemilihan Gubernur Jakarta. Kekuatan dan soliditas mereka terus menggelinding dan merupakan  kekuatan signifikan dalam Pilpres 2019.

Dengan mengusung isu menolak penista agama, Habib Rizieq Shihab mampu menarik massa di luar anggota Front Pembela Islam (FPI) yang dipimpinnya mengalahkan kemampuan kekuatan tradisional dalam mobilisasi massa. Pertanyaannya kemudian, mengapa partai dengan identitas Islam tebal seperti Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan Partai Bulan Bintang (PBB) tidak menjadi kanal aspirasi mereka? Bukankah mereka juga memperjuangkan Islam? PPP berlambangkan Kakbah sementara PBB berlambangkan Bulan Bintang, simbol Islam global. Nampaknya, PKS dengan struktur dan sistemnya yang kuat tidak mungkin rela memberikan posisi strategis partainya ke FPI. Di samping, paham dan tradisi keislaman yang dianut oleh PKS cenderung puritan, sedangkan FPI tradisional. Untuk PPP dan PBB, meski yang pertama berpaham sama dengan FPI, Islam tradisonal, nampaknya keberpihakan mereka dalam mengusung petahana (Jokowi) sebagai presiden mendatang menjadikan mereka berseberangan satu sama lain. Muncul hipotesa di sini, bahwa kesamaan identitas Islam tidak mampu mempersatukan mereka dan yang mampu mempersatukan adalah kesamaan agenda politik  menolak  naiknya Jokowi ke kursi presiden untuk kedua kali. 

Kesamaan pilihan politik menjadi faktor pemersatu  di sini. Bahkan mampu mengalahkan perbedaan paham keislaman. Mereka yang semula penganut Islam puritan yang menolak kegiatan zikir berjamaah, bersatu dalam acara doa bersama dan munajat. Dengan dipimpin oleh para habaib, mereka melantunkan doa-doa, ratib dan dzikir khas amaliah Islam tradisional. Amalan yang semula oleh sebagian dari mereka dianggap bid’ah dan tidak ada dasarnya, menjadi dilaksanakan bersama. 

Terkait dengan politik identitas, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) mengatakan bahwa semua perjuangan atas nama agama sejatinya adalah perjuangan politik atau untuk merebut kekuasaan. Hal ini lantaran bahwa kepentingan. Islam sebenarnya bisa diperjuangkan oleh banyak kelompok dan bukan hanya oleh mereka yang membawa bendera Islam. Ia juga bisa diperjuangkan lewat banyak jalan (dalam bahasa pesantren min abwabin mutafarriqah), tidak hanya lewat  politik seperti dengan memenangkan Pilpres.

Akan tetapi kelompok tertentu yang mengusung identitas Islam, menginginkan merebut kursi kekuasaan dan memperjuangkannya sedemikian rupa menafikan kelompok lain yang juga memperjuangkan agenda Islam. Seandainya dia tidak menginginkan kekuasaan, tidak perlu bersusah payah bertarung di arena politik. Apalagi dalam era sekarang di mana semua partai nasionalis seperti Partai Demokrasi Indonesia (PDI), Partai Golongan Karya (Golkar), Partai Nasionalis Demokrat (Nasdem) dan Partai Demokrat akomodatif terhadap kepentingan Islam dan aspirasi kaum santri. Maka gelora kelompok Islam di kancah politik lebih merupakan agenda merebut kekuasaan. Suatu hal yang jamak dan seperti halnya kelompok yang lain yang menginginkan hal serupa, dia harus mengikuti aturan Pemilu yang sudah diatur dan dikembangkan semenjak Pemilu pertama 1955. Siapa pun yang menang, tidak peduli dari partai apa pun, PA 212 atau bukan, harus diterima dengan lapang dada. Insyaallah siapa pun yang menang akan memperjuangkan aspirasi umat Islam, kaum santri  dan rakyat Indonesia semua demi menuju baldatun tayyibatun wa rabbun ghafur

Achmad Murtafi Haris adalah dosen Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya.

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG