IMG-LOGO
Nasional

'Hati Suhita' Dibedah di Krapyak

Senin 29 April 2019 8:0 WIB
Bagikan:
'Hati Suhita' Dibedah di Krapyak
Bedah novel 'Hati Suhita' di Pesantren Krapyak, Sabtu (27/4)
Yogyakarta, NU Online
Novel karya Khilma Anis, Hati Suhita akhirnya dibedah di Pondok Pesantren Krapyak, Yayasan Ali Maksum, Yogyakarta, Sabtu (27/4). Hadir pada kesempatan tersebut sang penulis novel, Khilma Anis; Pengasuh Pesantren Krapyak, Maya Fitria; dan Subkhani Kusuma Dewi dari Litbang PW Fatayat NU DIY.

Acara bedah buku ini sebelumnya juga telah dilangsungkan di UIN Sunan Kalijaga dan. IIQ An-Nur Yogyakarta yang bekerjasama dengan PW Fatayat DIY.

Khilma Anis merupakan penulis yang lahir dari pesantren. Ia alumni santri Krapyak, tujuh tahun mondok di komplek Gedung Putih Pondok Krapyak Yayasan Ali Maksum. Tulisan-tulisannya memfokuskan pada tema pesantren, perempuan, dan budaya Jawa. Ini merupakan wujud mempertahankan budaya menulis dan sastra pesantren. Hati Suhita ini bukan novel pertama, karena sudah ada beberapa novel Khilma Anis sebelumnya, seperti Jadilah Purnamaku, Ning, dan Wigati.

Novel ini menjadi menarik di kalangan pesantren, terlebih kalangan santri putri. Karena kisah-kisah yang dihadirkan dengan tokoh utama santri putri, juga sangat mewakili kisah yang relasi dengan mereka. Bahkan bisa dikatakan jarang santri putra yang tertarik dengan kisah-kisah seperti ini, dengan bukti acara bedah buku di Pondok Krapyak hanya sedikit santri putra yang hadir. Padahal, santri putri yang hadir tidak hanya dari Pondok Krapyak Ali Maksum dan Almunawwir, melainkan ada yang dari Nurul Ummah, Al Barokah, dan pesantren-pesantren lain.

Mikul dhuwur mendem jero; adalah ajaran yang identik pada novel ini. "Meskipun tentang pesantren, tetapi tidak terlalu saya perdalam dakwahnya. Karena dakwah tidak melulu soal dalil ayat-ayat. Namun saya di sini membangun dakwah dengan mengangkat budaya dalam pesantren dan budaya jawa. Budaya jawa yang mendominasi pada novel ini adalah ajaran pewayangan. Berbeda dengan novel sebelumya, novel Wigati yang banyak membahas tentang filosofi keris,"papar Khilma Anis memperkenalkan novel terbarunya.

Menurut Subkhani, novel yang bertema pernikahan ini sangat menarik. Terlebih keshalehan diri yang digambarkan pada tokoh-tokoh yang ada dalam novel ini. Meskipun sedikit dilihat nilai konservatisme agama dalam novel ini. Namun tidak hanya sebatas itu, ada tema dan nilai-nilai yang lebih penting dalam novel ini untuk hidup yang harus kita perjuangkan; seperti nilai spiritualitas dalam keaktualan cerita, yang mana setiap orang menuju ke sana.

Keaktualan Hati Suhita ini juga terlihat datang di waktu yang tepat. Ketika isu keluarga sedang memanas muncul di mana-mana, kemudian ia hadir memberikan bacaan bagaimana mempertahankan pernikahan agar tetap utuh. Hal-hal sederhana yang digambarkan pada masing-masing tokoh bisa menjadi panutan bagi hidup kita.
 
"Novel ini juga menarik untuk diperkenalkan kepada santri-santri pesantren modern, di mana mereka mungkin kurang memahami istilah-istilah dalam novel ini yang berlatar belakang pada pesantren salafi, istilah seperti tabarukan, yang mungkin praktiknya sama namun istilahnya berbeda, atau istilah konseptual seperti tradisi ziarah, ini  adalah kesempatan untuk mengenalkan istilah-istilah dan tradisi yang demikian kepada mereka," imbuh Subkhani.

Ibu Nyai Maya Fitria, selaku pengasuh Pondok Pesantren Krapyak memberikan pernyataan yang cukup menarik. "Gara-gara novel ini yang dulu masih rilisnya di facebook, Bu Nyai-Bu Nyai Krapyak sampai buat grup whatsapp khusus untuk posting tulisan  cerita bersambung Hati Suhita ini. Karena ceritanya menarik dan juga ini untuk menumbuhkan budaya membaca kami," ujarnya.

Menurutnya Hati Suhita mampu menggambarkan bagaimana dalam lingkup pesantren, terdapat norma-norma dan nilai yang mengikatnya. "Dalam novel ini juga ada tanggung jawab sosial yang ditawarkan oleh penulis. Seperti hikmah yang dapat diambil dari tokoh-tokohnya, yaitu menjadi orang yang bisa mengontrol diri dan  menjadi orang yang bisa bertanggungjawab," pungkasnya. (Lulu'il Maknun/Kendi Setiawan)
Bagikan:
Senin 29 April 2019 23:35 WIB
Di Era 'Post-Truth', Pemuda Mesti Selalu Kritis terhadap Informasi
Di Era 'Post-Truth', Pemuda Mesti Selalu Kritis terhadap Informasi
Jakarta, NU Online
Fenomena post-truth (pasca-kebenaran), yakni suatu keadaan di mana fakta objektif kurang berpengaruh dalam membentuk opini publik bila dibandingkan dengan emosi dan keyakinan pribadi sedang melanda negara-negara di dunia, tak terkecuali Indonesia.

Bahkan dalam pandangan Akademisi Universitas Negeri Jakarta Karuniana Dianta Arfiando Sebayang, fenomena post-truth terlihat di tengah-tengah pesta demokrasi pemilihan umum secara serentak pada 17 April 2019.

"(Post-truth) Itu sudah kelihatan kok dengan banyaknya ujaran kebencian," kata Dianta seusai mengisi acara Talk Show yang diselenggarakan Kopri PB PMII di Hotel MaxOne Jakarta Pusat, Senin (28/4), dengan tajuk "Peace as a Value".

Ia mengemukakan bahwa berdasarkan data yang diterimanya, kebanyakan yang terpengaruh post-truth adalah orang tua dan bukan anak muda. Orang tua, katanya, jika mendapatkan informasi seperti di grup Whatsapp, tanpa berpikir panjang untuk mengonsumsi dan menyebarkannya.

"Orang tua menganggap semua informasi itu bener. Kalau anak muda itu sekarang terbiasa dengan banyak informasi dan pada akhirnya masih proses memilah, jadi gak kagetan," ucapnya.

Namun, pria kelahiran 1980 ini berpesan kepada para pemuda untuk tetap berpikir kritis sehingga dapat memilah antara informasi yang benar dan tidak.

Ia mengatakan, post-truth merupakan salah satu dampak negatif dari media sosial. Seseorang yang mengedepankan emosi daripada fakta objektif atas suatu kasus, membuatnya menjadi menutup diri terhadap kebenaran. 

Meski begitu, ia optimis bahwa bangsa Indonesia akan mampu melewati fase tersebut karena memiliki Bhineka Tunggal Ika. Melalui semboyan tersebut, bangsa Indonesia mampu menerima perbedaan yang ada.

"Saya sangat optimis, bangsa Indonesia itu akan ketemu caranya sendiri untuk kembali kepada asal usulnya, yaitu bangsa yang menerima dan menghargai perbedaan," ucapnya. (Husni Sahal/Abdullah Alawi)

Senin 29 April 2019 23:30 WIB
Gus Sholah Minta Masyarakat Belajar dari Ketegangan Pemilu 2019
Gus Sholah Minta Masyarakat Belajar dari Ketegangan Pemilu 2019
Semarang, NU Online
Pengasuh Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur KH Salahuddin Wahid (Gus Sholah) meminta masyarakat Indonesia belajar dari ketegangan pemilihan presiden dan anggota legislatif 2019. Banyak

Menurut Gus Sholah, masyarakat Indonesia harus belajar dari situasi tidak menyenangkan ini, yaitu dari situasi selama delapan bulan terakhir. "Baru kali ini kita mengalami situasi pemilu tidak nyaman seperti ini. Kita harus bisa menganalisis apa penyebab situasi ini. Yang saya amati situasi itu timbul karena hadirnya kembali ketegangan antara Islam dan Indonesia," katanya, Ahad (28/4) saat di Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Semarang.

Gus Sholah juga meminta masyarakat Indonesia untuk bisa menahan diri. Baik dari pendukung 01, 02 maupun yang bukan bagian dari keduanya. Menahan diri yang dimaksudnya yaitu tidak membuat pernyataan yang kontroversi atau sikap politik yang memperkeruh suasana.

"Ke depan kita semua harus menghindari pernyataan-pernyataan atau sikap politik yang bisa memunculkan kembali ketegangan Islam dan Indonesia. Keterpaduan Islam dan Indonesia jangan diganggu lagi dengan pernyataan atau sikap politik yang bisa mengganggu," ungkapnya.

Menurutnya, ketegangan serupa pernah hadir ketika Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, dan ormas-ormas Islam lain serta partai Islam masih menghendaki Islam menjadi dasar negara. Namun ketegangan itu sirna ketika ormas-ormas Islam menerima asas Pancasila pada tahun 1984. 

Selanjutnya, ketentuan hukum Islam diakomodasi dalam sejumlah Undang-undang (UU) dan peraturan Presiden. Menurutnya, ketegangan yang kini berlangsung berawal dari pernyataan Basuki Cahaya Purnama yang dianggap menghina Islam saat di Pulau Seribu.

"Semoga suasana tidak nyaman dalam kampanye dapat kita akhiri dan proses islah bisa dipercepat. Semoga kedua calon dapat menahan diri dan menempatkan kepentingan bangsa dan negara diatas kepentingan pribadi kelompok dan golongan," ungkap cucu pendiri NU, Hadratussyaikh KH Hasyim Asy'ari ini.

Terlepas dari itu, Gus Sholah mengapresiasi penyelenggaraan pemilu 2019 yang tidak menimbulkan masalah berarti. Meskipun ada beberapa hal yang perlu diperbaiki di masa depan agar tak terulang lagi dimasa depan.

"Selamat kepada rakyat Indonesia yang telah menyelesaikan tahapan pemilu dengan relatif baik meskipun masih ada kekurangan di sana-sini yang harus diperbaiki," tandasnya. (Syarif Abdurrahman/Abdullah Alawi) 

Senin 29 April 2019 23:18 WIB
Masyarakat Penentu Keberhasilan Pemilu 2019
Masyarakat Penentu Keberhasilan Pemilu 2019
Jakarta, NU Online
Koordinator Nasional Jaringan Pendidikan Pemilih untuk Rakyat (JPPR) Alwan Ola Riantoby, menilai bahwa pelaksanaan pemilihan umum secara serentak pada 17 April 2019 itu berhasil. Keberhasilan itu dilihat dari indikator masyarakat sebagai pemilih yang menggunakan hak pilihnya dengan damai dan tenteram.

"Indikator keberhasilan itu ada pada masyarakat pemilih, bukan pada elit politik, bukan juga pada penyelenggara karena masyarakat menggunakan hak pilihnya dengan damai, dengan tentram,"kata Alwan pada acara Talk Show yang diselenggarakan Kopri PB PMII di Hotel MaxOne Jakarta Pusat, Senin (28/4), dengan tajuk "Peace as a Value".

Menurut Alwan, pemilu berlangsung dengan damai tidak hanya pada hari pencoblosan. Namun, hingga hari ini, proses rekapitulasi yang sedang berlangsung di tingkat kecamatan, tidak terjadi konflik.

"Tidak ada masyarakat saling berkonflik, justru yang berkonflik adalah elit politik," ucapnya.

Alwan mengartikan kedamaian itu sebagai sebuah kedewasaan masyarakat dalam berpolitik. Masyarakat dalam penilaiannya telah mulai menjalankan nilai-nilai perdamaian.

Ia juga tidak mempersoalkan terjadinya polarisasi masyarakat pada pemilihan presiden 2019, seperti terpolarisasinya pendukung antara pendukung pasangan Joko Widodo-KH Ma'ruf Amin dan pendukung Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Sebab menurutnya, masyarakat hanya dihadapkan pada dua kontestan. Baginya, yang terpenting bagaimana seusai pilpres, masyarakat kembali berdamai.

"Polarisasi itu wajar, tetapi apa yang harus dilakukan, inilah kita bicara soal kedamaian dan value pasca terjadinya polarisasi itu," ucapnya. (Husni Sahal/Abdullah Alawi)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG