IMG-LOGO
Nasional

Gus Sholah Minta Masyarakat Belajar dari Ketegangan Pemilu 2019

Senin 29 April 2019 23:30 WIB
Bagikan:
Gus Sholah Minta Masyarakat Belajar dari Ketegangan Pemilu 2019
Semarang, NU Online
Pengasuh Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur KH Salahuddin Wahid (Gus Sholah) meminta masyarakat Indonesia belajar dari ketegangan pemilihan presiden dan anggota legislatif 2019. Banyak

Menurut Gus Sholah, masyarakat Indonesia harus belajar dari situasi tidak menyenangkan ini, yaitu dari situasi selama delapan bulan terakhir. "Baru kali ini kita mengalami situasi pemilu tidak nyaman seperti ini. Kita harus bisa menganalisis apa penyebab situasi ini. Yang saya amati situasi itu timbul karena hadirnya kembali ketegangan antara Islam dan Indonesia," katanya, Ahad (28/4) saat di Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Semarang.

Gus Sholah juga meminta masyarakat Indonesia untuk bisa menahan diri. Baik dari pendukung 01, 02 maupun yang bukan bagian dari keduanya. Menahan diri yang dimaksudnya yaitu tidak membuat pernyataan yang kontroversi atau sikap politik yang memperkeruh suasana.

"Ke depan kita semua harus menghindari pernyataan-pernyataan atau sikap politik yang bisa memunculkan kembali ketegangan Islam dan Indonesia. Keterpaduan Islam dan Indonesia jangan diganggu lagi dengan pernyataan atau sikap politik yang bisa mengganggu," ungkapnya.

Menurutnya, ketegangan serupa pernah hadir ketika Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, dan ormas-ormas Islam lain serta partai Islam masih menghendaki Islam menjadi dasar negara. Namun ketegangan itu sirna ketika ormas-ormas Islam menerima asas Pancasila pada tahun 1984. 

Selanjutnya, ketentuan hukum Islam diakomodasi dalam sejumlah Undang-undang (UU) dan peraturan Presiden. Menurutnya, ketegangan yang kini berlangsung berawal dari pernyataan Basuki Cahaya Purnama yang dianggap menghina Islam saat di Pulau Seribu.

"Semoga suasana tidak nyaman dalam kampanye dapat kita akhiri dan proses islah bisa dipercepat. Semoga kedua calon dapat menahan diri dan menempatkan kepentingan bangsa dan negara diatas kepentingan pribadi kelompok dan golongan," ungkap cucu pendiri NU, Hadratussyaikh KH Hasyim Asy'ari ini.

Terlepas dari itu, Gus Sholah mengapresiasi penyelenggaraan pemilu 2019 yang tidak menimbulkan masalah berarti. Meskipun ada beberapa hal yang perlu diperbaiki di masa depan agar tak terulang lagi dimasa depan.

"Selamat kepada rakyat Indonesia yang telah menyelesaikan tahapan pemilu dengan relatif baik meskipun masih ada kekurangan di sana-sini yang harus diperbaiki," tandasnya. (Syarif Abdurrahman/Abdullah Alawi) 

Bagikan:
Senin 29 April 2019 23:35 WIB
Di Era 'Post-Truth', Pemuda Mesti Selalu Kritis terhadap Informasi
Di Era 'Post-Truth', Pemuda Mesti Selalu Kritis terhadap Informasi
Jakarta, NU Online
Fenomena post-truth (pasca-kebenaran), yakni suatu keadaan di mana fakta objektif kurang berpengaruh dalam membentuk opini publik bila dibandingkan dengan emosi dan keyakinan pribadi sedang melanda negara-negara di dunia, tak terkecuali Indonesia.

Bahkan dalam pandangan Akademisi Universitas Negeri Jakarta Karuniana Dianta Arfiando Sebayang, fenomena post-truth terlihat di tengah-tengah pesta demokrasi pemilihan umum secara serentak pada 17 April 2019.

"(Post-truth) Itu sudah kelihatan kok dengan banyaknya ujaran kebencian," kata Dianta seusai mengisi acara Talk Show yang diselenggarakan Kopri PB PMII di Hotel MaxOne Jakarta Pusat, Senin (28/4), dengan tajuk "Peace as a Value".

Ia mengemukakan bahwa berdasarkan data yang diterimanya, kebanyakan yang terpengaruh post-truth adalah orang tua dan bukan anak muda. Orang tua, katanya, jika mendapatkan informasi seperti di grup Whatsapp, tanpa berpikir panjang untuk mengonsumsi dan menyebarkannya.

"Orang tua menganggap semua informasi itu bener. Kalau anak muda itu sekarang terbiasa dengan banyak informasi dan pada akhirnya masih proses memilah, jadi gak kagetan," ucapnya.

Namun, pria kelahiran 1980 ini berpesan kepada para pemuda untuk tetap berpikir kritis sehingga dapat memilah antara informasi yang benar dan tidak.

Ia mengatakan, post-truth merupakan salah satu dampak negatif dari media sosial. Seseorang yang mengedepankan emosi daripada fakta objektif atas suatu kasus, membuatnya menjadi menutup diri terhadap kebenaran. 

Meski begitu, ia optimis bahwa bangsa Indonesia akan mampu melewati fase tersebut karena memiliki Bhineka Tunggal Ika. Melalui semboyan tersebut, bangsa Indonesia mampu menerima perbedaan yang ada.

"Saya sangat optimis, bangsa Indonesia itu akan ketemu caranya sendiri untuk kembali kepada asal usulnya, yaitu bangsa yang menerima dan menghargai perbedaan," ucapnya. (Husni Sahal/Abdullah Alawi)

Senin 29 April 2019 23:18 WIB
Masyarakat Penentu Keberhasilan Pemilu 2019
Masyarakat Penentu Keberhasilan Pemilu 2019
Jakarta, NU Online
Koordinator Nasional Jaringan Pendidikan Pemilih untuk Rakyat (JPPR) Alwan Ola Riantoby, menilai bahwa pelaksanaan pemilihan umum secara serentak pada 17 April 2019 itu berhasil. Keberhasilan itu dilihat dari indikator masyarakat sebagai pemilih yang menggunakan hak pilihnya dengan damai dan tenteram.

"Indikator keberhasilan itu ada pada masyarakat pemilih, bukan pada elit politik, bukan juga pada penyelenggara karena masyarakat menggunakan hak pilihnya dengan damai, dengan tentram,"kata Alwan pada acara Talk Show yang diselenggarakan Kopri PB PMII di Hotel MaxOne Jakarta Pusat, Senin (28/4), dengan tajuk "Peace as a Value".

Menurut Alwan, pemilu berlangsung dengan damai tidak hanya pada hari pencoblosan. Namun, hingga hari ini, proses rekapitulasi yang sedang berlangsung di tingkat kecamatan, tidak terjadi konflik.

"Tidak ada masyarakat saling berkonflik, justru yang berkonflik adalah elit politik," ucapnya.

Alwan mengartikan kedamaian itu sebagai sebuah kedewasaan masyarakat dalam berpolitik. Masyarakat dalam penilaiannya telah mulai menjalankan nilai-nilai perdamaian.

Ia juga tidak mempersoalkan terjadinya polarisasi masyarakat pada pemilihan presiden 2019, seperti terpolarisasinya pendukung antara pendukung pasangan Joko Widodo-KH Ma'ruf Amin dan pendukung Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Sebab menurutnya, masyarakat hanya dihadapkan pada dua kontestan. Baginya, yang terpenting bagaimana seusai pilpres, masyarakat kembali berdamai.

"Polarisasi itu wajar, tetapi apa yang harus dilakukan, inilah kita bicara soal kedamaian dan value pasca terjadinya polarisasi itu," ucapnya. (Husni Sahal/Abdullah Alawi)

Senin 29 April 2019 23:15 WIB
Lakpesdam PBNU Jabarkan Prinsip NU Jaga Amaliah dan Pemikiran Aswaja
Lakpesdam PBNU Jabarkan Prinsip NU Jaga Amaliah dan Pemikiran Aswaja
H. Marzuki Wahid
Jakarta, NU Online
Sekretaris Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (Lakpesdam PBNU), H Marzuki Wahid menjabarkan perbedaan fikrah (pemikiran) dan harakah (pergerakan) yang menjadi prinsip NU dalam mempertahankan ideologi Ahlusunah wal-Jamaah (Aswaja). Ia menjelaskan, pribadi NU yang utuh bukan sekedar dinilai pada amaliahnya namun pada fikrohdan harokahnya.
 
"Tiga tiganya harus an-nahdyiyah artinya sesuai dengan prinsip prinsip dasar dan nilai-nilai ke NU-an atau dasar-dasar ke NU-an, itu disisi amaliah.  Jelas, NU itu selalu berbasis tradisi, mengaitkan antara aqli, naqli dan waqi'i," kata H Marzuki Wahid dihubungi NU Online di Jakarta, Senin (29/4).
 
Tradisi tersebut ujar dia, misalnya warga NU masih melakukan Muludan, Marhabanan, bajanjian, dan qunut. Amaliah yang dirawat dan dijaga oleh masyarakat tersebut, lanjut H Marzuki, adalah bagian dari  qosois  atau ciri khas NU dari sisi amaliah.
 
"Nah Fikrohnya NU an-nahdiyah ada lima, fikrah  tawasutiyah (pola berpikir yang moderat) fikrah tasamuhiyah  (pola pikir yang toleran), fikroh islahiyah (pola pikir yang reformatif), fikrah tatrawiyah  (pola pikir transformatif)  dan fikroh mu'tabaroh (pola pikir yang metodologis)," ujarnya.
 
H Marzuki menambahkan, atas dasar itu maka cara berfikir warga NU harus sesuai dengan lima fikrah yang sudah dibangun oleh ulama Aswaja tersebut. Upaya itu dilakukan agar Nahdliyin di seluruh dunia tidak kaku tetapi dinamis.
 
"Ini harus menjadi cara berpikir orang NU, sehingga orang NU tidak jumud, tidak kaku, tidak hitam putih tetapi justru dinamis karena ada islahiyahالاصلاح الى ما هو الاصلح ثم الاصلح فالاصلح jadi terus menerus memperbaiki keadaan," katanya menegaskan.
 
Kemudian, fikrah warga NU yaitu reformatif dan mu'tabarah. Reformatif yaitu  mampu mengubah diri sampai mencapai cita cita NU dan mu'tabarah  maksudnya memiliki metodologi yang jelas.
 
Sementara itu, harakah-nya NU yaitu turunan dari fikrah yang sudah dibahas di atas, harokah tersebut adalah tawasuth, (moderat) tawazun (seimbang), tidak ekstrim kanan tidak ekstrim kiri artinya tidak berat sebelah, selalu mengedepankan keadilan dan kesetaraan.
 
Harokah selanjutnya adalah i'tidal (tegak lurus), maksudnya, warga NU tidak boleh mencla mencle harus teguh dalam suatu prinsip. Lalu, harakah keempat yaitu taadl yaitu bersifat adil, warga NU tentu harus bersikap adil dalam merespon berbagai persoalan.
 
"Prinsip yang lain adalah assidqu (jujur) الأمان وفات العدل terpercaya dan tepat janji. Kelima, attaawun (solidaritas) yaitu tolong menolong, gotong royong, dan konsisten. Nah  itulah harokah NU yang utuh," tuturnya. (Abdul Rahman Ahdori/Abdullah Alawi)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG