IMG-LOGO
Nasional

Cerita di Balik Pertemuan Jokowi dan Gus Dur 2006 Silam

Selasa 30 April 2019 22:15 WIB
Bagikan:
Cerita di Balik Pertemuan Jokowi dan Gus Dur 2006 Silam
Gus Dur dan Jokowi (Foto: Blontank Poer)
Jakarta, NU Online
Pertemuan KH Abdurrahman Wahid dan Joko Widodo yang terdokumentasikan lewat sejumlah foto mendadak viral di media sosial. Foto-foto tersebut pertama kali diunggah oleh akun facebook bernama Blontank Poer. Dalam waktu dua jam saja, postingan foto bersejarah tersebut 2.000 kali dibagikan oleh netizen.

Pria yang pernah mengenyam pendidikan di Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) Solo itu mengaku bahwa awalnya dia tidak sengaja bersih-bersih CD koleksi foto lama. “Nemu adegan Pak Jokowi mencium tangan Gus Dur,” ungkap Blontank Poer.

Ia mengungkapkan, peristiwa di Kraton Surakarta itu, menurut catatan digital di kamera Canon EOS D30, 8 Januari 2006. Berarti, itu baru beberapa bulan Pak Jokowi menjabat Wali Kota Surakarta.

Dalam pertemuan tersebut, dua tokoh bangsa itu sama-sama mengenakan baju batik. Jokowi melengkapi baju batik abu-abu mengkilapnya dengan mengenakan peci hitam.

Kisah menarik di balik pertemuan tersebut tidak terelakan. Di antaranya, saat masih menjadi Wali Kota Solo, Jokowi disebut Gus Dur bakal menempati kepemimpinan tertinggi di negara ini, yaitu Presiden RI. Hal itu pertama kali diungkapkan oleh Hussein Syifa, ketua panitia Harlah ke-9 Gus Dur di Kota Solo pada Jumat (22/2/2019) lalu.

Pernyataan Gus Dur menurut Hussein terlontar pada 8 Januari 2006 silam. Kala itu, di Solo ada acara bertema Njejegake Sakaguru Nusantara (Menegakkan Kembali Sokoguru Nusantara) dengan mendatangkan Gus Dur. Saat kedatangannya ke Solo, Gus Dur disinggahkan oleh panitia ke Loji Gandrung, rumah dinas Wali Kota Solo. 

"Saat itu bertemu dengan beberapa orang, termasuk di antaranya Pak Jokowi yang menjadi Wali Kota Solo," kata Hussein Syifa di Solo, Jumat (22/2/2019) lalu seperti diwartakan Sindonews Biro Jateng dan DIY.

Beragam obrolan ringan, hangat, dan santai tercipta dalam pertemuan tersebut. Ketika Gus Dur tengah bercerita tentang kisah wayang Dewaruci, datang KH Moeslim Rifai Imampuro (Mbah Liem) yang kini telah wafat. Sesaat setelah kedatangannya, pendiri Pondok Pesantren Al-Muttaqien Pancasila Sakti itu meminta Gus Dur menjadi presiden lagi.

Menanggapi permintaan itu, Gus Dur menjawab dalam Bahasa Jawa, intinya adalah terpenting tiang Nusantara harus berdiri kokoh dulu. Gus Dur lalu menyebut bahwa Jokowi nanti juga bisa jadi presiden karena kriteria syaratnya telah terpenuhi.

Kala itu, Jokowi yang berada di sisi kiri Gus Dur hanya tersenyum. Tidak ada reaksi berlebihan dari Jokowi selain terlihat tenang dan menyungging senyum atas pernyataan Gus Dur tersebut.

Kini, apa yang dikatakan Gus Dur pada 2006 silam tersebut menjadi kenyataan. Joko Widodo menjadi Presiden ke-7 RI saat memenangkan Pilpres 2014 lalu ketika ia berpasangan dengan Muhammad Jusuf Kalla.
 
Bahkan merujuk pada Real Count KPU dalam sistem penghitungan suara (situng) di website www.pemilu2019.kpu.go.id, Jokowi yang kini menggandung KH Ma’ruf Amin sebagai Wapres kembali unggul dalam perhelatan Pilpres 2019. (Fathoni)
Bagikan:
Selasa 30 April 2019 23:55 WIB
Danarto, Generasi Emas Sastrawan Indonesia
Danarto, Generasi Emas Sastrawan Indonesia
Sastrawan Danarto membacakan puisi
Tangerang Selatan, NU Online
Tak sedikit kontroversi dibuat oleh sosok sastrawan kelahiran Sragen, 27 Juni 1940, bernama Danarto, dalam karya-karya sastranya. Mulai dari judul, isi, hingga bentuknya.

Hal tersebut di mata budayawan Radhar Panca Dahana, merupakan gagasan segar di kancah kesusastraan Indonesia pada saat itu, sekitar tahun 1970-an.

"Dia menciptakan gagasan yang baru, yang segar," ujar Radhar dalam diskusi Napak Tilas Danarto di Hall Student Center UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ciputat Timur, Kota Tangerang Selatan, Banten, Senin (29/4).

Radhar mengungkapkan bahwa di era Orde Baru itu, banyak lahir sastrawan-sastrawan terbaik Indonesia, seperti WS Rendra, Pramoedya Ananta Toer, Sutardji Calzoum Bachri, dan sebagainya.

"Generasi 70-80-an generasi emas dalam kesastraan Indonesia," kata penulis Manusia Istana, Sekumpulan Puisi Politik itu.

Hal serupa diungkapkan oleh Sastrawan Acep Zamzam Noor. Karya-karyanya yang di luar batas normal membuat Kang Acep menyebut Danarto sebagai sastrawan yang luar biasa.

"Tidak kalah dengan cerpenis dunia," kata putra Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) 1992-1997 KH Ilyas Ruhiyat itu.

Narasi cerpen-cerpen Danarto, kata Kang Acep, bukan sekadar cerpen, tetapi memiliki kekuatan puisi. "Seandainya cerpen Danarto dipenggal-penggal pada bagian-bagian tertentu itu bisa menjadi puisi tersendiri," ucap Wakil Ketua Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) itu.

Lebih lanjut, Kang Acep juga menjelaskan bahwa cerpen Danarto berjudul Adam Ma'rifat merupakan cerpen eksperimen yang sangat luar biasa. "Bagi saya itu puisi panjang," katanya.

Dalam kegiatan yang digelar oleh Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) UIN Jakarta itu, hadir pula Sastrawan Sapardi Djoko Damono dan Wakil Sekretaris Lesbumi PBNU Abdullah Wong. (Syakir NF/Kendi Setiawan)
Selasa 30 April 2019 23:10 WIB
Danarto Jelaskan Marah sebagai Cikal Bakal Masalah
Danarto Jelaskan Marah sebagai Cikal Bakal Masalah
(Foto: @dok. kompas via geotimes)
Danarto Jelaskan Marah sebagai Cikal Bakal Problem
Tangerang Selatan, NU Online
Di antara puluhan karya-karya sastra Danarto, dari puisi, cerpen, novel, dan drama, terdapat satu judul naskah drama dan cerpennya yang dibuatnya berjudul Godlob.

Wakil Sekretaris Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Abdullah Wong melihat bahwa pilihan diksi Godlob itu dekat dengan bahasa Arab ghadlab, yang berarti marah.

"Sepertinya, Mas Dan ingin menjelaskan cikal bakal problem manusia itu karena marah," katanya saat menjadi narasumber pada Bincang-bincang Napak Tilas Danarto di Hall Studen Center UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ciputat Timur, Kota Tangerang Selatan, Banten, Senin (29/4).

Marah itu, jelas Wong, merupakan ciri besar dari orang yang tidak percaya. Selama masih ada marah di benaknya, selama itu pula ia tidak memiliki kepercayaan.

Kebetulan dalam drama tersebut, terdapat tokoh-tokoh yang berwatak pemarah, dan sebagainya. Hal serupa juga dalam tasawuf, kata Wong, terdapat nafsu al-amarah, nafsu al-lawamah, nafsu al-muthmainnah, dan lainnya.
 
Kata tersebut juga termaktub dalam Surat Al-Fatihah dalam bentuk yang berbeda pada ayat terakhir. "Pilihan diksi ghadlab ini juga menarik karena ada dalam diksi Fatihah," kata Penulis Novel Mata Penakluk, Manaqib KH Abdurrahman Wahid itu.

Karenanya, ia berharap agar kita (bersama para hadirin) bukan termasuk dalam golongan ghadlab yang ditulis Danarto.

"Semoga kita bukan termasuk orang-orang yang dalam term godlobnya Danarto. Amin," pungkasnya dalam diskusi bertema Membedah Pemikiran Danarto dari Berbagai Perspektif itu.

Menurut penuturan kerabatnya, sosok sastrawan serbabisa itu juga dikenal sebagai pribadi yang tak pernah marah. Bahkan, Ken Zuraida dalam testimoninya pada Haul Danarto yang digelar di tempat yang sama pada malam harinya, menyebut Danarto sebagai seorang yang humoris.

Dalam kegiatan yang digelar oleh Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) UIN Jakarta itu, hadir pula Sastrawan Acep Zamzam Noor, Radhar Panca Dahana, dan Sapardi Djoko Damono. (Syakir NF/Alhafiz K)
Selasa 30 April 2019 22:40 WIB
Ketum Pagar Nusa: Yang Susah bukan Menyambung Hidup, tapi Ikuti Gaya Hidup
Ketum Pagar Nusa: Yang Susah bukan Menyambung Hidup, tapi Ikuti Gaya Hidup
Ketum Pagar Nusa: Yang Susah bukan Menyambung Hidup, tapi Ikuti Gaya Hidup
Jakarta, NU Online
Ketua Umum Pengurus Pusat Pagar Nusa, HM Nabil Harun, meminta kepada ribuan pendekar di berbagai daerah untuk komitmen menjaga Nahdlatul Ulama dari berbagai ancaman yang tidak diinginkan.

Pimpinan Pagar Nusa periode 2017-2022 tersebut yakin mengurus NU tidak akan menemukan kesusahan hidup, justru, kata dia, akan banyak menerima barokah seperti yang dijanjikan pendiri NU, KH Hasyim Asy’ari. 

“Ngurus pagar Nusa pasti hidup, tidak akan mati (susah), karena untuk menyambung hidup tidak membutuhkan biaya yang banyak. Yang banyak itu memenuhi kebutuhan gaya hidup,” kata Nabil saat memberikan arahan sebelum kegiatan Istigotsah Rutin PP Pagar Nusa di Masjid Annahdliyah Gedung PBNU lt 1, di Jalan Kramat Raya no 164, Jakarta Pusat, Selasa (29/4).

Ia mengatakan, sesama warga NU terutama pendekar Pagar Nusa dapat saling membantu dan bergotong royong dalam segala hal. Jika ada masalah harus melakukan tabayyun terlebih dahulu tidak langsung memviralkannya di media sosial. 

Selanjutnya, pendekar Pagar Nusa harus terus merekatkan persaudaraan karena untuk menjaga NU harus kuat dari dalam timnya terlebih dahulu. Menurutnya, meski konstestasi politik nasional sudah selesai ancaman untuk nahdliyin dimungkinkan terus terjadi. 

“Jangan berharap, jangan bermimpi orang lain akan mendukung kita, karena kitalah yang harus mendukung diri kita sendiri. Kita harus bergerak, kalau kita bergerak sudah ada yang menjamin,” ucapnya.

Ia mejelaskan, ada kelompok tertentu yang terus meregangkan hubungan persaudaraan anak bangsa. Dengan memecah ukhuwah islamiyah yang sudah terbangun dalam diri anak bangsa tersebut. Untuk itu, pendekar Pagar Nusa harus cermat, dan menguatkan militansinya. 

“Jadi mari kita cermati bersama, solidaritas kita diperkuat, militansi kita diperkuat, dan mari bergerak,” tuturnya (Abdul Rahman Ahdori/Alhafiz K)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG