Bulan Suci Ramadhan dan Ibadah Menjaga Kesehatan Gambut

Bulan Suci Ramadhan dan Ibadah Menjaga Kesehatan Gambut
foto: ilustrasi
foto: ilustrasi
Oleh Abdul Rahman Ahdori
 
Beberapa hari lagi umat Muslim di Dunia akan berjumpa dengan bulan suci Ramadhan, bulan yang menjadi tumpuan bagi masyarakat untuk meningkatkan keimanannya. Meski hisab sudah dilakukan pemerintah termasuk oleh Nahdlatul Ulama, Ramadhan 1440 hijriah diperkirakan jatuh pada Senin (6/4) mendatang akan tetapi kepastiannya masih menunggu hasil Rukyatul Hilal dan diputuskan memalui sidang Itsbat oleh Kementerian Agama RI. Di Indonesia, bulan Ramadhan bukan saja bulan yang diperintahkan Agama Islam untuk berpuasa, ada banyak peradaban baru yang mampu membuat setiap masyarakat merasa 'kangen' dengan suasana tersebut.

Tentu suasana itu adalah suasana yang religius dan positif, seperti tadarusan, buka bersama, bakti sosial, tarawih bersama, ngabuburit, dan beberapa peradaban yang menjadi ciri khas bangsa Indonesia. Konon, Ramdhan di Indonesia memang berbeda dengan Ramadhan di negara negara lain, di Indonesia Ramadhan kentara dengan budaya dan tradisinya, sementara di negara lain Ramadhan hanya diisi dengan perintah yang tertuang dalam Qur'an saja. Tidak ada perluasan implementasi ibadah yang dilakukan masyarakat luar.

Tapi bukan itu yang akan dibahas penulis pada artikel ini, Ramadhan menjadi kesempatan bagi umat manusia untuk berbuat kebaikan dan keshalihan sosial. Ada 9 aktifitas yang ditekankan agama agar dilakukan seluruh umat Nabi Muhammad saw. Misalnya, berpuasa, tarawih, tadarus, sedekah Ramadhan, isi masjid, i'tikaf akhir Ramadhan, umrah Ramadhan, menghidupkan lailatul qadr, dan memperbanyak dzikir-istigfar.  Kesembilan amalan tersebut termasuk amalan atau ibadah paling utama yang diperintahkan Islam. Semuanya memiliki dalil yang kuat, tentu akan sangat panjang uraiannya jika diuraikan penulis dalam artikel singkat ini.

Ada satu sudut pandang yang menurut penulis belum banyak tersampaikan terkait dengan perintah agama dalam mengisi Ramadhan. Adalah menjaga lingkungan, menjaga lingkungan sudah sangat jelas kewajiban bagi umat manusia, lalu bagaimana kaitannya dengan bulan Ramadhan?, sebagai umat Muslim kita sadar bahwa Syariat Islam membolehkan umat manusia untuk mengolah lahan yang ada di muka bumi. Tetapi ada batasan-batasan tertentu yang harus diperhatikan umat manusia, batasan batasan itulah yang disebut menjaga lingkungan.

Sebagai bulan yang penuh Rahmat, bulan Ramadhan merupakan bulan yang tepat bagi masyarakat Indonesia untuk menjaga lingkungan dan menjaga alam Indonesia dari segala ancaman dan kemungkinan yang akan terjadi. Soal menjaga alam dan lingkungan, Imam Gazali dalam Kitabnya Al-Hikmah FI Makhluqatillahi telah banyak menguraikan. Ia menyebut bumi diciptakan Allah dalam keadaan seimbang, variasi karakter permukaannya memungkinkan keragaman hayati tumbuh dan menjadi sumber kehidupan masnusia. Wajar jika sampai detik ini tidak ditemukan satupun ulama Indonesia yang membolehkan merusak alam apapun alasannya.

Dalam buku Merintis Fiqih Lingkungan Hidup, Rais 'Aam PBNU 1991-1992 KH Ali Yafie menjabarkan sikap manusia atas alam yang tidak bertentangan dengan nilai nilai agama. Menurutnya, manusia tidak harus mengacak-acak ekosistem yang sudah diatur rapih oleh sang pencipta.

Pandangan itu, kata Kiai Alie, selaras dengan ayat Al-Qur'an yang menyatakan misi kenabian adalah membawa rahmat bagi alam semesta, artinya, bukan manusia semata yang patut kita muliakan alam dan seisinya harus diperhatikan. Bahkan dalam buku tersebut Kiai Alie menyebut tindakan dan aksi pemeliharaan dan perlindungan lingkungan hidup (hifdul bi'ah) termasuk komponen primer dalam setiap langkah manusia (addaruriyat-al-kulliyat).

Atas dasar tersebut, tidak mengada-ngada kemudian jika penulis mengaitkan amaliah Ramadhan dengan menjaga alam Indonesia sebagai faktor penting yang harus menjadi bahan untuk disampaikan kepada seluruh umat Islam Dunia. Ramadhan adalah bulan yang diberikan oleh Allah untuk diisi dengan berbagai kebaikan. Sebab, pahala di bulan Ramadhan memiliki nilai yang berbeda dengan nilai yang ada pada hari biasa. Sebagai bulan untuk meningkatkan ibadah dan menjaga alam sebagai bagian dari ibadah adalah sesuatu yang tepat jika disimpulkan bahwa Ramadhan adalah bulan yang tepat untuk menjaga alam dari berbagai ancaman yang akan dihadapi.

Masyarakat Indonesia tidak boleh lengah. Sebab, ada berbagai bencana alam di Indonesia akibat ulah manusia yang enggan menjaga alam. Jika menengok berbagai peristiwa penting yang pernah menimpa Indonesia seperti di Provinsi Riau, telah terjadi kebakaran hutan yang berdampak buruk untuk semua sektor termasuk sektor kesehatan masyarakatnya.

Dampak yang disebabkan kebakaran hutan di Provinsi Riau tahun 2015 lalu diantaranya selama lima bulan Riau diselimuti asap tebal yang mengandung zat berbahaya. Kedua, tingkat pertumbuhan PDB tergelincir 0,2 persen yang mengakibatkan laju pembangunan menurun karena gangguan kegiatan ekonomi. Dan 600 ribu orang menderita infeksi saluran pernafasan akut serta lebih dari 60 juta terkena polusi asap.

Sebagai kawasan tropis Indonesia diberikan berbagai anugerah yang patut disyukuri, Indonesia memiliki suasana lingkungan yang cenderung lebih sejuk. Waktu yang seimbang dan musim yang hanya kemarau-hujan menyebabkan kekayaan alam Indonesia semakin memberikan banyak manfaat untuk masyarakat. Atas anugerah itu, lahan gambut yang jarang ditemukan di negara luar, ada di Indonesia. Data dari Badan Restorasi Gambut sekitar 83 persen dari 27 juta hektare lahan gambut di Asia Tenggara berada di Indonesia. Antara lain tersebar di Pulau Sumatera, Papua, dan Kalimantan.

Setelah dibentuk pada 2016 silam, BRG terus menggali mengenai masalah gambut yang kerap menjadikan warga Indonesia hidup dalam kekhawatiran. Jika tidak salah mengolah gambut memiliki manfaat yang cukup baik untuk kehidupan manusia, lahan gambut menjaga kestabilan iklim dunia, untuk mencegah pemanasan global, setiap lapisan gambut dapat menyerap gas karbon. Lahan gambut juga dapat menyimpan 550 gigaton karbon, jumlah ini ternyata setara dengan 75 persen karbon yang ada di atmosfer atau dua kali jumlah karbon yang dikandung hutan non gambut.

Gambut di kawasan Indonesia berfungsi sebagai pintu air alami, padat akan serat. Selain itu, lahan gambut bisa menyerap air sebanyak lima belas kali bobot keringnya. Pada musim kemarau lahan gambut menjadi cadangan air, sedangkan pada musim hujan gambut menjadi penghalau aliran air sehingga tidak terjadi banjir.

Dalam beberapa kesempatan kunjungan ke kawasan Indonesia yang memiliki lahan gambut, Deputi Edukasi, Sosialisasi, Partisipasi, dan Kemitraan pada BRG, Myra A Safitri menyatakan, kebakaran hutan di lahan gambut sulit untuk menanggulanginya karena tidak mudah dan memakan biaya yang sangat tinggi. Selain itu, asap pada hutan gambut yang dibakar memiliki gas berbahaya yaitu sianida, sehingga masyarakat tidak diperbolehkan membuka lahan dengan membakarnya karena akan membunuh masyarakat secara perlahan. Justru kata dia, lahan gambut akan banyak memberikan manfaat jika diolah dengan cara cara yang benar.  

"Jadi saatnya sekarang kita merenungkan kembali apa yang harus kita lakukan sebagai sebuah cara mengelola alam gambut yang benar berdasarkan perintah Al-Qur'an," kata Myrna saat melakukan pertemuan dengan masyarakat Kepulauan Meranti, Provinsi Riau.

Apa yang bisa ditarik dari artikel ini, penulis meyakini masyarakat Indonesia sudah mengetahui banyak soal hikmah bulan Ramadhan. Namun, belum banyak yang tahu jika menjaga lingkungan merupakan masalah penting yang harus diperhatikan. Ramadhan adalah momentum umat manusia untuk mendakwahkan bahwa Indonesia harus selamat dari berbagai ancaman alam. Termasuk lahan gambut yang bisa memunculkan berbagai manfaat dan dampak buruk jika tidak menjadi fokus perhatian.

Penulis yakin semuanya akan bernilai ibadah, apalagi dilakukan di bulan Ramadhan, selamat menyambut Ramadhan dan menjaga lingkungan, selamat bersuka ria dan selamat menabung amal sebanyak banyaknya.


Penulis adalah Jurnalis NU Online-Mahasiswa Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta
BNI Mobile