IMG-LOGO
Daerah

Harlah Ke-69, Fatayat NU Magelang Gelar Apel dan Gelegar Senam

Rabu 1 Mei 2019 15:0 WIB
Bagikan:
Harlah Ke-69, Fatayat NU Magelang Gelar Apel dan Gelegar Senam
Apel Harlah Fatayat NU di Kabupaten Magelang, Jateng
Magelang, NU Online
Pimpinan Cabang (PC) Fatayat Nahdlatul Ulama (NU) Kabupaten Magelang menggelar Apel dan Gelegar Senam Fatayat NU 2019 di Lapangan Drh Soepardi Sawitan, Kota Mungkid, Magelang, Jawa Tengah, Rabu (1/5).

Kegiatan yang digelar dalam rangka memperingati Hari Lahir (Harlah) Ke-69 Fatayat NU itu mengusung tema Perempuan Indonesia Bersatu untuk Keadilan dan Perdamaian.

"Harlah kali ini mengusung kegiatan yakni Apel dan dilanjutkan dengan senam Fatayat," kata Ketua PC Fatayat NU Kabupaten Magelang, Titik Rahmawati.

Ia menjelaskan, sebelumnya, dibuat formasi dengan membentuk angka 69 yang kemudian diambil gambar dari atas dengan menggunakan drone. "Itu sebagai simbolis Harlah kami yang Ke-69," jelas Titik.

Dalam rilis yang diterima NU Online, Titi menjelaskan, tema Harlah kali ini sangat tepat dengan momen usai pemilu yang tentu setiap orang punya perbedaan pilihan. "Apa pun keberagaman pilihan kita saat pemilu, pada momen ini kita disatukan menjadi satu kesatuan yang utuh. Menjadi bagian dari bangsa dan negara," tegasnya.

Dengan terselenggaranya kegiatan Harlah, dirinya ingin menunjukkan bahwa kader Fatayat NU haruslah sehat jasmani, dan rohani, serta menjadi perempuan berkualitas bagi bangsa dan negara. "Ini adalah simbol bahwa kami siap menjadi warga bangsa dan perempuan muda yang berkualitas dengan ditunjukkan dari senam ini," pungkasnya.

Kegiatan peringatan Harlah dan senam diikuti sekitar 3500 peserta yang berasal dari 21 Pimpinan Anak Cabang (PAC) Fatayat NU se-Kabupaten Magelang.

Turut hadir dalam acara, Rais PCNU KH Toha Mansyur, Ketua PCNU KH Muhammad Izzudin, Ketua Muslimat NU Hj Nur Istiqomah, Ketua PC GP Ansor Anas Munaji Ahmad, Ketua MUI KH Afiffudin, Ketua KNPI  Ariyanto, dan Jajaran Forkompimda Kabupaten Magelang. (Vinanda Febriani/Muiz)
 
Bagikan:
Rabu 1 Mei 2019 23:59 WIB
Upaya Mbah Dullah Salam Mempertemukan Kiai-kiai di Sekitar Kajen
Upaya Mbah Dullah Salam Mempertemukan Kiai-kiai di Sekitar Kajen
KH Abdullah Zein Salam (Mbah Dullah) dan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur)
Jakarta, NU Online
Pengasuh Pesantren Dar Al-Qur’an Al-Islamy Tegal KH Abdullah Ubaid Mahfudz mengatakan, KH Abdullah Zein Salam atau Mbah Dullah memiliki kepedulian yang tinggi untuk mempertemukan kiai-kiai yang ada di sekitar Kajen, Pati, Jawa Tengah.

“Saya melihat ada dua hal sebagai bentuk upaya untuk menyatukan atau mempertemukan kiai-kiai di sekitar Kajen,” kata Kiai Ubaid saat menjadi narasumber acara Haul ke-18 KH Abdullah Zein Salam di Masjid PTIQ, Jakarta, Rabu (1/5).

Pertama, mengumpulkan para ustadz yang mengajar di Perguruan Islam Mathali’ul Falah (PIM) Kajen-Pati di kediamannya setiap tanggal 10 bulan Hijriyah. Mbah Dullah mengundang mereka untuk datang ke rumahnya dan membaca manaqib bersama. Di pertemuan itu, mereka bisa bertukar pikiran dan menyelesaikan persoalan. 

“Itu setiap bulan. Untuk mempersatukan persepsi di antara guru-guru madrasah. Kalaupun ada persoalan, dibahas di situ, tidak dibahas di luar,” ujarnya. 

Kedua, lanjut Kiai Ubaid, mengundang kiai sekitar Kajen setiap kali ada akad nikah di kediamannya. Memang, banyak orang -bukan hanya santrinya saja- yang melangsungkan akad nikah di kediaman Mbah Dullah. Pada kesempatan itu, Mbah Dullah tidak hanya mengundang kiai-kiai yang mengajar di madrasahnya saja, tetapi juga kiai-kiai di sekitar Kajen ketika ada akad nikah di rumahnya. Kiai-kiai Kajen bisa saling berinteraksi antara yang satu dengan yang lainnya dengan leluasa pada acara itu. 

“Jadi bukan hanya guru-guru Mathole’ (PIM) saja, tetapi kiai seluruhnya (di sekitar Kajen),” ucapnya.

Sebagaimana diketahui, Mbah Dullah merupakan ulama kharismatik asal Kajen, Pati, Jawa Tengah. Mbah Dullah wafat pada Ahad 11 Nopember 2001 atau bertepatan dengan 25 Sya’ban 1422 H. (Muchlishon)
Rabu 1 Mei 2019 23:50 WIB
‘Mbah Dullah Jarang mengatakan Sesuatu, tapi Menunjukkan dengan Sikap’
‘Mbah Dullah Jarang mengatakan Sesuatu, tapi Menunjukkan dengan Sikap’
Jakarta, NU Online
Pengasuh Pesantren Dar Al-Qur’an Al-Islamy Tegal KH Abdullah Ubaid Mahfudz menilai, KH Abdullah Zein Salam (Mbah Dullah) Kajen-Pati lebih banyak mengajarkan sesuatu kepada santri-santri dengan teladan daripada dengan ucapan. Sehingga apa yang diajarkan Mbah Dullah selalu diingat santri-santrinya.

“Yang paling saya lihat selama tiga tahun mengaji kepada beliau (Mbah Dullah), saya mushafahah kepada beliau, itu saya melihat beliau tidak pernah mengatakan sesuatu. Jarang sekali dengan bahasa, tapi beliau menunjukkan dengan sikap, dengan perilaku beliau” kata Kiai Ubaid dalam acara Haul ke-18 KH Abdullah Zein Salam di Masjid PTIQ, Jakarta, Rabu (1/5).

Kiai Ubaid menambahkan, salah satu pengajaran Mbah Dullah melalui perilaku adalah istiqamah dalam berjamaah dan mengajar. Mbah Dullah selalu istiqamah menjadi imam shalat lima waktu dan tepat waktu dalam mengerjakannya. Hal itu dilakukan secara konsisten hingga akhir hayatnya.

“Beliau sangat (istiqamah), Dzuhur, Ashar, semua lima waktu shalat itu beliau (KH Abdullah Salam) mengimami. Itu istiqamahnya beliau,” jelas menantu Mbah Dullah ini. 

Saking istiqamahnya, lanjut Kiai Ubaid, para santrinya bertanya-tanya kapan kira-kira Mbah Dullah libur mengimami shalat dan mengajar ngaji. Ia kemudian menceritakan, suatu ketika ada seseorang yang melangsungkan akad nikahnya di kediaman Mbah Dullah. Kejadian itu membuat para santri berpikir bahwa besoknya ngaji akan libur.  

“Pada saat pelaksanaan akad itu, saya sebagai santri ‘Paling besok ngaji prei (libur)’. Ternyata begitu subuh, jamaah, langsung krek (suara pintu terbuka) pintunya. Begitu krek, yaudah harus ngaji. Itu keistiqamahannya Mbah Dullah dalam hal mengajar dan juga istiqamah dalam hal berjamaah. Itu sampai akhir hayat beliau,” jelasnya. (Muchlishon)
Rabu 1 Mei 2019 23:45 WIB
Santri Al-Inayah Jambi Punya Tradisi Potong Ayam Jago Sebelum Akhirussanah
Santri Al-Inayah Jambi Punya Tradisi Potong Ayam Jago Sebelum Akhirussanah
Tebo, NU Online
Pondok Pesantren Al-Inayah Desa Perintis, Kecamatan Rimbo Bujang, Kabupaten Tebo, Jambi punya tradisi unik ketika hendak akhirussanah. Sebagai wujud syukur, setiap santri akan berkurban satu ayam jago. Ayam yang disembelih tersebut dibawa dari rumah masing-masing.

Selanjutnya, setelah disembelih para santri akan ramai-ramai di tengah pondok mencabut bulu ayam secara jamaah. Setelah sebelumnya ayam tersebut direndam di dalam air panas. Kemudian baru lah isi perutnya ayam dibersihkan dan dikumpulkan menjadi satu. Daging ayam ini nantinya digunakan untuk makan bersama dan menjamu tamu undangan saat akhirussanah.

"Tradisi ini sudah berlangsung sejak lama, bentuk syukuran," kata Pengasuh Pondok Pesantren Al-Inayah KH Muhammad Rifai Abdullah saat acara akhirussanah di Pesantren Al-Inayah, Rabu (01/5).

Ia juga menyarankan bagi santri yang diwisuda hari ini untuk tetap di pesantren setidaknya enam tahun. Hal ini guna menyempurnakan ilmu yang didapat.

"Bagi lulusan Tsanawiyah lanjutkan di sini, kalau tidak bisa lanjutkan ke pondok lain, asal di pesantren. Karena selama 3 tahun diajar di pondok, kemudian dimasukan ke sekolah umum, saya kuatir bagi yang muslimah akan mencopot hijabnya makanya lanjutkan ke pesantren," jelasnya.

Ia berharap orang tua santri juga berperan aktif dalam memantau tumbuh kembang anaknya. Jangan dibiarkan dan cuek dengan pendidikan anak. "Orang tua yang harus mengarahkan," imbuhnya

Kiai Rifai menambahkan, di pesantren santri diberikan pendidikan karakter yang baik dan kemandirian. Karena diharapkan para santri setelah boyong nanti bisa berguna bagi masyarakat. Ia juga menegaskan, bila dalam mendidik santri para ulama mengedepankan kasih sayang. Marahnya para kiai tak lebih untuk mendidik santri agar lebih baik.

"Kemampuan kami sampai disitu, seandainya ada kekhilafan dan kekurangan seperti marah itu adalah bentuk didikan kami, jadi itu bukan marah," tambah Kiai Rifai.

Menurut Kiai Rifai, saat ini pesantrennya membuka Agro Wisata Pesantren Preneur dengan tujuan mengembangkan bakat santri. Dengan begitu, para mendapatkan ruang untuk mengembangkan potensi terbaiknya dan menciptakan santri memiliki kemampuan entrepreneur, komunikasi dan digital marketing.

"Ini adalah impian kami sebagai salah satu ikhtiar kami mencetak generasi rabbani, mencetak kader-kader peradaban yang ahli fikir, ahli dzikir, ahli ikhtiar yang handal dan terampil," ungkapnya,

Alumni Pondok Pesantren Pancasila Salatiga ini secara khusus meminta para santri untuk tidak berhenti belajar dan mudah puas. Hal ini dikarenakan tantangan kedepan jauh lebih berat dan komplek. "Pesan dan harapan saya setelah tamat lanjutkan ke pendidikan lebih tinggi," tandasnya. (Syarif/Abdullah Alawi) 
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG