Menengok Kembali Soekarno Soal Buruh di Indonesia

Menengok Kembali Soekarno Soal Buruh di Indonesia
Oleh Abdul Rahman Ahdori
 
Presiden pertama Indonesia, Soekarno, memiliki peranan penting dalam setiap peristiwa sejarah berdirinya Indonesia. Hari buruh yang jatuh pada hari ini, Rabu (1/4) juga tidak terlepas dari perannya sebagai pemikir perburuhan di Indonesia.
 
Penulis buku sejarah, Tedjakusuma mengungkap, para pendiri bangsa seperti Semaoen, Soekarno, Tan Malaka, Sutan Sjahrir, dan dr. Soetomo adalah buruh tulen. Menurut dia, bukan hal yang baru lagi jika semua partai politik di era kepemimpinan Soekarno berlomba-lomba untuk melebarkan sayap di kalangan buruh.
 
Saat itu, PNI membentuk Serikat Kaum Buruh Marhaen (SKBM), Partai NU membentuk  Serikat Buruh Muslimin Indonesia (Sarbumusi), Masyumi mendirikan  Serikat Buruh Islam Indonesia (SBII), dan PKI membentuk Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia (SOBSI) 
 
Soekarno adalah tokoh yang memiliki ide cemerlang dalam merespon perburuhan di Indonesia. Ia mahir dalam urusan mengajak massa termasuk menggaet buruh, Soekarno mengajak bangsa Indonesia untuk terus merevolusi setiap langkah perjuangan kala itu. Puncaknya, saat Partai Komunis Indonesia (PKI) dibabat kolonial Belanda sekitar tahun 1935-1940an.

Melalui penyampaian gagasannya di pidato Indonesia Menggugat Soekarno semakin menjadi sosok yang digandrungi oleh semua kalangan terutama oleh jutaan kaum buruh yang merasakan langsung penidindasan oleh kolonial Belanda. Soekarno adalah motor kekuatan massa yang bisa mengancam keberadaan penjajah di Indonesia, sehingga kehadiran Soekarno disegani.

Dalam berbagai sumber yang penulis temukan, baik artikel para sejarawan maupun artikel di media media sejarah Indonesia, menyebutkan Soekarno adalah sosok yang akrab dengan pemimpin gerakan buruh Eropa Kautsky, Ferdinand Lassalle, Sidney dan Beatrice. Hal itu pula yang menyebabkan pemikiran Soekarno soal buruh dinilai sangat mumpuni untuk dijadikan kajian akademis sebagai analisa sejarah.
 
Melalui kedekatan itulah kemudian Soekarno memunculkan ide 'massa-actie-machtvorming' yaitu ide dalam membangun gerakan serikat. Dalam pandangan Soekarno, perjuangan politik bagi serikat buruh dimaksudkan untuk mempertahankan dan memperbaiki nasib politik kaum buruh, atau mempertahankan "politieke toestand".

Politieke toestand dalam pemikiran Sokearno sangat terkait dengan masa depan gerakan buruh, yaitu penciptaan syarat-syarat politik untuk tumbuh-suburnya gerakan buruh di Indonesia. Soekarno meyakini, jika kaum buruh menginginkan kehidupan yang layak, naik upah, mengurangi tempo-kerja, dan menghilangkan ikatan-ikatan yang menindas, maka perjuangan kaum buruh harus bersifat ulet dan habis-habisan.

Saat menjadi Presiden, Seokarno menghasilkan kebijakan dengan menetapkan peraturan baru tentang pemberlakuan Tunjangan Hari Raya atau yang biasa dikenal THR pada tahun 1950-an. Ia juga mengingatkan kaum buruh bahwa perjuangan buruh bukan bergantung pada siapa yang memerintah namun perjuangan kesejahteraan buruh sepenuhnya merupakan dari konsistensi perjuangan itu sendiri.

Era kepemimpinannya sebagai kepala negara, pemerintah tidak dapat berbuat banyak menghadapi aksi mogok dan tuntutan buruh. Bahkan, Soekarno kerap memberikan solusi solusi terbaik saat menjumpai ribuan buruh.  


Penulis adalah jurnalis NU Online-Mahasiswa Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)

 

BNI Mobile