IMG-LOGO
Opini
HARDIKNAS

Membangun Fondasi Pendidikan ala Ulama Pesantren

Kamis 2 Mei 2019 10:45 WIB
Bagikan:
Membangun Fondasi Pendidikan ala Ulama Pesantren
Ilustrasi (Tirto)
Oleh Fathoni Ahmad

Selama tujuah tahun belajar di Makkah, KH Muhammad Hasyim Asy’ari mempunyai kegelisahan tersendiri terkait kondisi beberapa bangsa di sejumlah negara yang sedang mengalami penjajahan, termasuk di Indonesia. Kegelisahaannya itu dituangkan dalam sebuah pertemuan di Multazam bersama para sahabat seangkatannya dari Afrika, Asia, dan juga negara-negara Arab sebelum Kiai Hasyim kembali ke tanah airnya.

Pertemuan tersebut terjadi pada suatu hari pada bulan Ramadhan di Masjidil Haram, Makkah. Singkat cerita, dari pertemuan itu lahir kesepakatan di antara mereka untuk mengangkat sumpah di hadapan “Multazam”, dekat pintu ka’bah untuk menyikapi kondisi di negara masing-masing yang dalam keadaan terjajah.

Isi kesepakatan tersebut antara lain ialah sebuah janji yang harus ditepati apabila mereka sudah sampai dan berada di negara masing-masing. Sedangkan janji tersebut berupa tekad untuk berjuang di jalan Allah SWT demi tegaknya agama Islam, berusaha mempersatukan umat Islam dalam kegiatan penyebaran ilmu pengetahuan serta pendalaman ilmu agama Islam.

Jalan yang ditempuh oleh KH Hasyim Asy’ari ialah mendirikan pondok (funduq) yang kini familiar disebut pondok pesantren, tempat para santri belajar ilmu-ilmu agama dan menempa kemandirian dan kekuatan akhlak baik. Implementasi ilmu agama yang diperoleh santri dari sejumlah metode pendidikan yang digunakan oleh kiai langsung terintegrasi dalam kehidupan sehari-hari.

Kemampuan dalam bidang ilmu agama, kekuatan karakater dan akhlak, serta penghormatan penuh terhadap guru tidak terlepas dari sosok kiai yang kharismatik. Kiai sebagai pengasuh pondok pesantren tidak hanya memberikan ta’lim dan tarbiyah, tetapi juga tidak ketinggalan untuk selalu mendoakan para murid dan santrinya. Penghormatan santri dan doa kiai bertemu sehingga ikatan batin sangat kuat di antara kiai dan santrinya hingga kini.

KH Hasyim Asy’ari merupakan pemegang sanad ke-14 dari Kitab Shahih Bukhori Muslim. Sanad ilmunya wushul (terhubung) langsung hingga ke Rasulullah. Keilamuan agama ia perdalam di tanah hijaz dan banyak berguru dari ulama kelahiran Nusantara di Makkah seperti Syekh Nawawi Al-Bantani, Syekh Mahfudz Termas, Syekh Yasin Al-Fadani, dan ulama-ulama lainnya.

Sebutan Hadhratussyekh sendiri menggambarkan bahwa ayah KH Wahid Hasyim dan kakek Gus Dur tersebut merupakan mahaguru, mahakiai. Bahkan, Muhammad Asad Syihab (1994) menyebut Kiai Hasyim dengan sebutan al-‘Allamah. Dalam tradisi akademik di Timur Tengah, istilah tersebut diberikan kepada orang yang mempunyai pangkat keulamaan dan keilmuan yang tinggi.

KH Hasyim Asy’ari mendirikan Pondok Pesantren di Tebuireng, Jombang, Jawa Timur. Ia tidak mendirikan lembaga pendidikan di kawasan yang telah mapan secara moral, tetapi sebaliknya. Sehingga Kiai Hasyim kerap mendapat gangguan dan beberapa kali mendapat percobaan pembunuhan oleh jawara-jawara sekitar. Namun, dengan ilmu kanuragan dan kelembutan hatinya, Kiai Hasyim berhasil membuat para jagoan dan penjahat bayaran tobat. Mereka akhirnya bersedia menimba ilmu di Pesantren Tebuireng.

Selain mempunyai banyak sahabat-sahabat ulama yang tersebar di Jawa dan Madura, Kiai Hasyim Asy’ari sendiri telah banyak menelurkan murid-murid berkarakter kuat. Setelah menimba ilmu kepada Kiai Hasyim, mereka mengabdi dan mendirikan pesantren di kampungnya masing-masing. Murid-muridnya paham betul tentang apa yang pernah dikatakan oleh Kiai Hasyim Asy’ari, “pulanglah ke kampungmu, mengajarlah di sana minimal ngajar ngaji.”

Selain itu, kemerdekaan bangsa Indonesia tidak terlepas dari peran dan jasa para ulama, selain para nasionalis dan tentunya seluruh rakyat Indonesia. Namun, sejarah mencatat bahwa pergerakan ulama sebagai panutan masyarakatnya kerap membuat penjajah ketir-ketir karena merasa terancam eksistensinya. Terlebih ketika mereka mendirikan perkumpulan atau organisasi dan pondok pesantren.

Di sini pesantren tidak hanya sebagai tempat menempa ilmu agama, tetapi juga sebagai wadah pergerakan nasional, perlawanan terhadap penjajah, dan tempat menyemai kecintaan terhadap tanah air. Sejarah mencatat, hanya kalangan pesantren yang tidak mudah tunduk begitu saja di tangan penjajah. Dengan perlawanan kulturalnya, Kiai Hasyim dan pesantrennya tidak pernah luput dari spionase Belanda.

Langkah awal, pesantren melakukan perlawanan kultural hingga akhirnya bangsa Indonesia mencapai kemerdekaan hakiki secara lahir dan batin. Kemerdekaan ini tentu hasil perjuangan seluruh rakyat Indonesia. Tetapi tentu saja peran ulama pesantren sebagai motor, motivator, sekaligus negoisator tidak bisa dielakkan begitu saja. Sebab, di masa Agresi Militer Belanda II, KH Hasyim Asy’ari mengeluarkan Fatwa Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945. Fatwa ini mampu menggerakkan rakyat Indonesia untuk melawan dan mengusir penjajahan kembali oleh Belanda yang membonceng tentara Sekutu (Inggris).

Fatwa tersebut menggambarkan bahwa perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia merupakan kewajiban agama. Hal ini merupakan bagian yang inheren dari pola pendidikan pesantren yang diperkuat oleh para kiai. Santri senantiasa diperkuat dengan kepedulian-kepedulian sosial yang tinggi sehingga melahirkan spirit perjuangan melepaskan rakyat Indonesia dari belenggu penjajahan.

Kebutuhan akan pentingnya pendidikan untuk menunjang pergerakan nasional juga dilakukan oleh KH Abdul Wahab Chasbullah. Pada tahun 1916 ia mendirikan Madrasah Nahdlatul Wathan. Kiai Wahab Chasbullah menyadari bahwa perjuangan di ranah politik tidak akan maksimalkan, terutama dalam mempersiapkan generasi muda sehingga ia mendirikan Nahdlatul Wathan.

Pada tahun 1916 juga, Nahdlatul Wathan (Pergerakan Cinta Tanah Air) resmi mendapatkan Rechtspersoon (badan hukum) sebagai sebuah lembaga pendidikan untuk menggembleng nasionalisme para pemuda. Nahdlatul Wathan digawangi oleh KH Abdul Kahar sebagai Direktur, KH Abdul Wahab Chasbullah sebagai Pimpinan Dewan Guru (keulamaan), dan KH Mas Mansur sebagai Kepala Sekolah dibantu KH Ridwan Abdullah.

Nahdlatul Wathan merupakan upaya Kiai Wahab dan kawan-kawan untuk menumbuhkan rasa kebangsaan yang kuat di dada para pemuda melalui pendidikan. Berangkat dari misi besar tersebut, Kiai Wahab menciptakan syair Ya Ahlal Wathan yang kini kita kenal dengan Ya Lal Wathan. Syair ini menjadi lagu wajib yang harus didengungkan sebelum memulai pelajaran di kelas, karena saat itu memang sudah diterapkan sistem klasikal dengan kurikulum 100 persen agama.

Sebagai madrasah perintis dalam memperkuat rasa nasionalisme, kurikulum Nahdlatul Wathan tentu menarik untuk dipelajari. Dalam teori pendidikan modern, masyarakat pendidikan tentu mengenal disiplin ilmu Teknologi Pendidikan. Deskripsi kurikulum Nahdlatul Wathan ini sesungguhnya tidak lain untuk mempelajari Teknologi Pendidikan dalam bingkai tradisi pesantren yang digagas Kiai Wahab sebagai salah seorang arsitek pergerakan nasional.

Madrasah Nahdlatul Wathan juga berkembang pesat di setiap cabang NU. Di jawa Barat berpusat di Madrasah Mathla’ul Anwar Menes, Banten. Di Jawa Tengah berpusat di Nahdlatul Wathan di Jomblangan Kidul, Semarang. Sedangkan di Jawa Timur berpusat di Surabaya dengan cabang-cabangnya yang tersebar luas di Jombang, Gresik, banyuwangi, Jember, Lumajang, Malang, dan kota-kota lainnya.

Dalam mengembangkan Madrasah Nahdlatul Wathan dan Tashwirul Afkar, Kiai Wahab berupaya menyebarkan 'virus' cinta tanah air (hubbul wathan) secara luas di tengah masyarakat dan generasi muda dengan membawa misi tradisi keilmuan pesantren. Perjuangan mulia ini tentu harus digerakkan secara terus-menerus melalui setiap lembaga pendidikan di mana pun  sehingga cita-cita luhur pendiri bangsa untuk memperkokoh Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) semakin kuat dan tak pernah surut.


Penulis adalah Redaktur NU Online
Tags:
Bagikan:
Kamis 2 Mei 2019 16:30 WIB
Hardiknas Momentum Penguatan NU Passion School (NPS) Bagi Pendidik Indonesia
Hardiknas Momentum Penguatan NU Passion School (NPS) Bagi Pendidik Indonesia
foto: masukuniversitas.com
Oleh: Maya Muizzatul Lutfillah

Setelah kaum buruh memanfaatkan momentum 'May Day', pada Rabu (1/5) kemarin, hari ini Kamis (2/5) masyarakat Indonesia diingatkan kembali kepada sejarah dan corak pendidikan di Indonesia melalui momentum Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Hardiknas yang diperingati setiap tahun oleh masyarakat Indonesia tertuang dalam Keputusan Presiden Republik Indonesia nomor 316 tahun 1959.
 
Tanggal tersebut merupakan tanggal di mana Ki Hajar Dewantara ditetapkan menjadi pahlawan nasional oleh Pemerintah Soekarno. Ki Hajar Dewantara merupakan Menteri Pendidikan pertama untuk periode 1945, dua Mei juga merupakan hari yang spesial bagi Ki Hajar Dewantara. Sebab tanggal tersebut adalah tanggal kelahirannya. Ki Hajar Dewantara yang memiliki nama asli Raden Mas Soewardi Soerjaningrat lahir 2 Mei 1922.
 
Ia adalah sosok yang berpengaruh terhadap sistem pendidikan di Indonesia, corak pemikirannya yang berbasis kepribadian dan kebudayaan memiliki dampak positif untuk arah gerakan pendidikan kala itu.  
 
Petuah fenomenal yang kerap kita jumpai adalah Ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani'. Saduran bebas pemaknaan istilah tersebut adalah 'di depan memberi contoh, di tengah memberi semangat, di belakang memberikan dorongan'.
 
Sederet slogan tersebut sampai kini masih menjadi acuan bagi guru dalam mendidik para siswanya. Bahkan frasa 'tut wuri handayani' masih terpampang pada logo Kementerian dan Kebudayaan Republik Indonesia.
 
Sejalan dengan nilai sejarah tersebut, Nahdlatul Ulama (NU) yang menjunjung tinggi nilai nilai tradisi tentu lebih luas memaknai pemikiran Ki Hajar Dewantara. Meski pusat pendidikan NU di Pesantren yang bukan bagian dari pendidikan formal, sesungguhnya para kiai sepuh NU adalah pendidik dan pengajar yang patut diberikan apresiasi oleh bangsa Indonesia.
 
Atas kerja keras Kiai Hasyim Asy'ari, KH Wahab Hasbullah dan kiai-kiai NU lainnya, pendidikan anak bangsa semakin tercerahkan. Terutama pada penanaman nasionalisme dan akidah Ahlussunnah Waljamaah.
 
Pada perkembanganya, sejak 1945 sampai dengan 2019 ini, perkembangan pendidikan formal semakin menjulang. Hal itu dapat dibuktikan dari banyaknya lembaga pendidikan formal dan masifnya penerapan kurikulum yang beragam. Semuanya tentu memiliki tujuan yang mulia adalah mencerdaskan anak bangsa.
 
Terlepas dari hal tersebut, di era modern kini, seharusnya NU menjadi role model bagi pendidikan di Indonesia. Itu dapat dilakukan NU dengan menampilkan perbedaan pada sistem pendidikan nasional, misalnya NU lebih mengunggulkan perpaduan metode salaf dan metode modern di semua lembaga pendidikan yang dinaungi NU. 

Pada praktiknya penulis menyebutnya sistem ini dengan bahasa "NU PASSION SCHOOL (NPS)". Konsep NPS adalah mendidik dengan karakter dan akhlakul karimah berdasarkan fikrah dan harakah yang tertuang dalam Aswaja-nya NU.
 
Menurut penulis, konsep ini dinilai tepat karena pendidikan sebagai elemen dasar dalam pembentukan kepribadian yang baik seejak dini. NPS yang penulis tawarkan lebih fokus Pada Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Jika konsep ini berkembang secara baik, tentu dapat dilanjutkan kepada tingkatan yang lebih tinggi seperti SD atau SMP.
 
Siswa PAUD yang memiliki usia 3-5 tahun adalah waktu yang pas untuk 'merekam' semua pelajaran terutama tumpuan pendidikan dasar seperti akidah Ahlussunnah Waljamaah. Pada kesempatan itu, NU bisa leluasa mengenalkan pemikiran dan pergerakan keagamaan persfektif NU. Sehingga, setelah dewasa nanti, siswa akan tetap berpegang teguh pada pemikiran dan ideologi yang sejalan dengan Nahdlatul Ulama. 

Kurikulum muatan lokalnya bisa menggunakan tradisi tradisi NU yang tidak dilakukan PAUD pada umumnya. Bisa di telusuri di lapangan, saat ini sistem pendidikan PAUD di Indonesia lebih senang dengan konsep yang kurang religious lagi.

Kebanyakan PAUD di Indonesia, memberikan materi ajar sambil bermain saja, dengan rincian materi secara umum tidak menjurus kepada nilai nilai kebangsaan,  ke-islaman dan ke-Indonesiaan.
 
NPS ini memberikan materi ajar sambil bermain menggunakan konsep modern berbasis NU, contoh anak anak dibiasakan baca shalawat nabi sebelum dan sesudah belajar, dibiasakan melakukan tradisi ke-NUan seperti ber-ziarah, tata cara shalat yang sesuai dengan ajaran Aswaja dan memberikan pemahaman dasar Ahlussunnah waljamaah.
 
Sehigga mereka akan terbiasa melakukan tradisi NU, penulis masih yakin mempersiapkan generasi NU harus dimulai sejak dini dengan begitu NU akan kuat secara gerakan dan pemikiran.

Selanjutnya, konsep NPS yang ditawarkan penulis, penguatan jiwa nasionalisme dapat dipupuk secara luas, misalnya siswa/sisiwinya di berikan materi ajar tentang empat pilar kebangsaan dan pengenalan tokoh tokoh nasional, lagu-lagu nasional, lagu-lagu daerah, dan mendoktrin bahwa Indonesia adalah Indonesia bukan Suriah, bukan pula Amerika. Termasuk penggunakan bahasa nasional yakni Bahasa Indonesia sebagai bahasa Tanah Air.

Di usianya yang masih sangat produktif, siswa siswa PAUD dengan konsep NPS, akan diberikan penguatan nasionalisme seperti bernyanyi lagu-lagu Kebangsaan Indonesia Raya, story telling kisah para pahlawan, menonton film perjuangan, pentas drama, baca puisi, dan sebagainya.

Cara mengajarkan anak semangat nasionalisme religius tidak perlu dengan cara yang dogmatis. Seorang anak akan lebih mudah menerima pesan dengan cara penyampaian yang menyenangkan.

Jika semangat nasionalisme religius ini secara konsisten ditanamkan sejak anak-anak hingga menjadi dewasa maka ia akan tertanam dalam sanubari. Dengan begitu generasi muda kita tidak akan mudah terpedaya oleh rayuan ideologi yang justru akan merusak bangsa. Untuk itu, NU Passion School menjadi solusi atas dinamika pendidikan yang ada saat ini. Sebab NPS adalah model kurikulum pendidikan yang memuat semangat nasionalisme religius secara berkesinambungan.

Bagi penulis, Islam yang moderat dan nasionalisme sangat penting terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara. Sebagai wujud pengabdian dan kecintaan terhadap bangsa sendiri. Dengan demikian, generasi muda NU dapat menjaga keutuhan bangsa, persatuan bangsa, dan dapat meningkatkan martabat serta citra positif bangsa dan agama. (*)


Penulis adalah Alumni Program Studi Pendidikan Dasar Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UNJ) Jakarta 2018, Ketua Bidang Pendidikan dan Kepemudaan Pengurus Besar PMII Puteri (KOPRI PB PMII)
Kamis 2 Mei 2019 3:0 WIB
Menengok Kembali Soekarno Soal Buruh di Indonesia
Menengok Kembali Soekarno Soal Buruh di Indonesia
Oleh Abdul Rahman Ahdori
 
Presiden pertama Indonesia, Soekarno, memiliki peranan penting dalam setiap peristiwa sejarah berdirinya Indonesia. Hari buruh yang jatuh pada hari ini, Rabu (1/4) juga tidak terlepas dari perannya sebagai pemikir perburuhan di Indonesia.
 
Penulis buku sejarah, Tedjakusuma mengungkap, para pendiri bangsa seperti Semaoen, Soekarno, Tan Malaka, Sutan Sjahrir, dan dr. Soetomo adalah buruh tulen. Menurut dia, bukan hal yang baru lagi jika semua partai politik di era kepemimpinan Soekarno berlomba-lomba untuk melebarkan sayap di kalangan buruh.
 
Saat itu, PNI membentuk Serikat Kaum Buruh Marhaen (SKBM), Partai NU membentuk  Serikat Buruh Muslimin Indonesia (Sarbumusi), Masyumi mendirikan  Serikat Buruh Islam Indonesia (SBII), dan PKI membentuk Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia (SOBSI) 
 
Soekarno adalah tokoh yang memiliki ide cemerlang dalam merespon perburuhan di Indonesia. Ia mahir dalam urusan mengajak massa termasuk menggaet buruh, Soekarno mengajak bangsa Indonesia untuk terus merevolusi setiap langkah perjuangan kala itu. Puncaknya, saat Partai Komunis Indonesia (PKI) dibabat kolonial Belanda sekitar tahun 1935-1940an.

Melalui penyampaian gagasannya di pidato Indonesia Menggugat Soekarno semakin menjadi sosok yang digandrungi oleh semua kalangan terutama oleh jutaan kaum buruh yang merasakan langsung penidindasan oleh kolonial Belanda. Soekarno adalah motor kekuatan massa yang bisa mengancam keberadaan penjajah di Indonesia, sehingga kehadiran Soekarno disegani.

Dalam berbagai sumber yang penulis temukan, baik artikel para sejarawan maupun artikel di media media sejarah Indonesia, menyebutkan Soekarno adalah sosok yang akrab dengan pemimpin gerakan buruh Eropa Kautsky, Ferdinand Lassalle, Sidney dan Beatrice. Hal itu pula yang menyebabkan pemikiran Soekarno soal buruh dinilai sangat mumpuni untuk dijadikan kajian akademis sebagai analisa sejarah.
 
Melalui kedekatan itulah kemudian Soekarno memunculkan ide 'massa-actie-machtvorming' yaitu ide dalam membangun gerakan serikat. Dalam pandangan Soekarno, perjuangan politik bagi serikat buruh dimaksudkan untuk mempertahankan dan memperbaiki nasib politik kaum buruh, atau mempertahankan "politieke toestand".

Politieke toestand dalam pemikiran Sokearno sangat terkait dengan masa depan gerakan buruh, yaitu penciptaan syarat-syarat politik untuk tumbuh-suburnya gerakan buruh di Indonesia. Soekarno meyakini, jika kaum buruh menginginkan kehidupan yang layak, naik upah, mengurangi tempo-kerja, dan menghilangkan ikatan-ikatan yang menindas, maka perjuangan kaum buruh harus bersifat ulet dan habis-habisan.

Saat menjadi Presiden, Seokarno menghasilkan kebijakan dengan menetapkan peraturan baru tentang pemberlakuan Tunjangan Hari Raya atau yang biasa dikenal THR pada tahun 1950-an. Ia juga mengingatkan kaum buruh bahwa perjuangan buruh bukan bergantung pada siapa yang memerintah namun perjuangan kesejahteraan buruh sepenuhnya merupakan dari konsistensi perjuangan itu sendiri.

Era kepemimpinannya sebagai kepala negara, pemerintah tidak dapat berbuat banyak menghadapi aksi mogok dan tuntutan buruh. Bahkan, Soekarno kerap memberikan solusi solusi terbaik saat menjumpai ribuan buruh.  


Penulis adalah jurnalis NU Online-Mahasiswa Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)

 

Rabu 1 Mei 2019 15:5 WIB
Revolusi Industri 4.0 dan Masa Depan Buruh
Revolusi Industri 4.0 dan Masa Depan Buruh
ilustrasi (liputan6)
Oleh: Mohammad Faiz Maulana

Membincang revolusi industri tidak bisa begitu saja mengabaikan nasib manusia di antara gempuran inovasi berbasis teknologi. Fakta sejarah mengungkapkan bahwa ada banyak manusia menjadi korban keganasan teknologi dalam beberapa abad yang lalu, bahkan hingga saat ini. Mesin-mesin menggantikan manusia tanpa perasaan. Manusia mulai kehilangan pekerjaannya, kesenjangan dan kemiskinan muncul perlahan-lahan.

Revolusi industri selalu menciptakan angkatan pengangguran baru. Hal ini disebabkan karena dunia industri terus bergerak mengarah kepada big profits dengan efesiensi modal. Hal ini tentu mengakibatkan pada penghematan sumber daya, dan di sisi lain menuntut adanya peningkatan efektivitas kerja.

Revolusi Industri 4.0 adalah permulaan dari berakhirnya pekerjaan bagi manusia. Kita bisa melihat dari digantikannya tenaga kerja manusia dengan mesin, e-parking, penggunaan uang elektronik atau e-money, pengembangan AI (Artificial Intelegensia), bahkan di beberapa negara Eropa dan Timur Tengah telah gencar-gencarnya membuat robot perang untuk memperkuat keamanan negaranya. Internet of think yang menjadi ciri dari Revolusi Industri 4.0 juga telah mulai dikembangkan dibanyak negara.

Perubahan zaman kian pasti, revolusi industri tidak bisa kita hindari. Lalu, masih adakah pekerjaan di masa depan untuk manusia? Bagaimana nasib buruh?

Era teknologi telah membuka segala kemungkinan di dunia ini. Termasuk kepunahan pekerjaan bagi manusia. Kecepatan dan kecanggihan adalah modal utama teknologi mendegradasi manusia dari peradaban kerja. Lalu apa yang bisa kita lakukan?

Mengembangkan Keterampilan

Mengembangkan keterampilan adalah salah satu upaya manusia keluar dari lubang kepunahan. Laurence Frank (2019), rektor Los Angeles Trade Technical College menyebut perlunya mengebangkan keterampilan baru. Ia menganggap bahwa mempelajari keterampilan baru adalah bagian penting dari ekonomi saat ini.

Frank mengatakan, para pekerja harus senantiasa mempelajari keterampilan baru untuk dapat mengikuti kemajuan teknologi. Sebab teknologi tidak pernah berhenti. Ia akan terus menerus berinovasi.

Maka, penting bagi kita untuk mulai belajar terhadap hal-hal baru di luar apa yang biasanya kita kerjakan. Memikirkan masa depan dengan kemampuan, bukan sekadar mengikuti kehendak tuan.

Humanisme

Selain mengembangkan keterampilan, hal lain yang perlu kita lakukan adalah menjaga humanisme. Di era teknologi yang tak kenal perasaan, humanisme penting untuk membedakan kita dengan teknologi.

Perasaan sayang, cinta, simpati, menghargai, menghormati adalah suara manusia yang tidak mungkin digantikan oleh teknologi. Kita sudah sepatutnya menjaganya, merawatnya di tengah-tengah era teknologi atau di era distrupsi saat ini.

Akhir-akhir ini banyak sekali hal yang terdistrupsi, tidak hanya industri melainkan juga etika kita terhadap sesama manusia. Dalam pandangan Levinas yang etik hilang ketika kita sudah tidak lagi menemukan wajah manusia dalam pandangan kita. Maka Revolusi Industri 4.0 jangan sampai hanya mementingkan teknologi. Kita harus kembali melihat dasar-dasar humanitas: enequality, problem keadilan, problem sustainabelity.

Saya teringat dengan perdebatan yang dilakukan oleh Mark Zukenberg dengan Elon Musk soal Artificial Intelegensia: Elon Musk mengatakan bahwa segala proyek AI harus dihentikan karena akan menggantikan seluruh elemen manusia, sedangkan Mark mengatakan yang paling penting bukanlah apa yang akan menggantikan apa melainkan semua itu tergantung pada man behind the gun, siapa yang menggunakannya, humanity tidak akan pernah terganti.

Selamat Hari Buruh, 1 Mei 2019.

Penulis adalah Pengajar di Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) Jakarta.
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG