IMG-LOGO
Opini

Mengukuhkan KH Abd Wahab Chasbullah sebagai Bapak Pendidikan Madrasah

Sabtu 4 Mei 2019 7:30 WIB
Bagikan:
Mengukuhkan KH Abd Wahab Chasbullah sebagai Bapak Pendidikan Madrasah

Oleh: Miftakhul Arif 

“Di antara kewajiban kita sebagai Muslim adalah mengajak yang bodoh untuk belajar dan yang pintar untuk mengajar.” (KH Abdul Wahab Chasbullah, Surabaya 1927)

Sejak usia muda, KH Abd Wahab Chasbullah atau Kiai Wahab memiliki perhatian khusus pada dunia pendidikan. Apa sebabnya? Jumlah santri terus merosot dari waktu ke waktu. Untuk membuktikannya, Kiai Wahab melakukan riset di empat kota di Jawa Timur: Surabaya, Sidoarjo, Mojokerto, dan Jombang. Hasilnya cukup mengagetkan. Di Surabaya, jumlah santri dari 2.065 menjadi 1.602. Sidoarjo, dari 1.740 santri menjadi 484. Mojokerto, dari 620 santri menjadi 300. Jombang, dari 2450 santri menjadi 1607. Jadi, dalam rentang waktu 40 tahun, dari tahun 1880-an sampai dengan 1900-an, terdapat penurunan drastis jumlah santri. Dari total 6875 santri menurun menjadi 3.993 santri. Data ini bisa dilihat dari Majalah Suara NU tahun 1927 yang dikelola Kiai Wahab. 

Tak hanya itu, warga pribumi yang mayoritas Islam banyak buta huruf. Di pulau Jawa, rata-rata dari 1000 orang hanya 15 orang saja yang dapat membaca dan menulis. Bila perempuan turut dihitung, jumlahnya menjadi 16. Parahnya, masih ada anggapan bahwa mengajar perempuan menulis adalah makruh. Lebih baik ditinggalkan. 

MemodernIsasi Pendidikan Pesantren
Awal tahun 1900-an, pemerintah Hindia-Belanda menerapkan sistem politik etis. Sekolah-sekolah Belanda banyak didirikan. Meski demikian, sekolah ini hanya dapat diakses oleh kalangan priayi. Pelajaran agama Islam tidak diajarkan. Lulusannya pun kebanyakan tumbuh besar sebagai orang sekuler. 

Untuk mengimbanginya, tahun 1912 Kiai Wahab mendirikan Madrasah Mubdil Fann di Tambakberas, Jombang. Sempat ayahnya, Kiai Chasbullah melarang madrasah ini beroperasi. “Ngaji nganggo bor alamat bar” (belajar dengan papan tulis, pertanda akan bubar), kata Kiai Chasbullah. Namun, berkat kegigihan Kiai Wahab izin mendirikan madrasah Mubdil Fann pun diberikan. 

Sukses merintis Mubdill Fann, Kiai Wahab pun mendirikan Madrasah Taswirul Afkar dan Nahdlatul Wathon di Surabaya. Hanya dalam waktu singkat, madrasah ini dapat berkembang pesat dan memiliki cabang di beberapa kota besar. Taswirul Afkar dan Nahdlatul Wathon pun menjadi lembaga pendidikan Islam alternatif selain pesantren. Peminatnya kebanyakan adalah Muslim perkotaan.

Seiring dengan itu, kebutuhan guru pun kian mendesak. Kiai Wahab pun mengorganisir murid-murid Nahdlatul Wathon yang usianya 15 tahun ke atas dalam wadah Jamiyah an-Nasihin dan Syubbanul Wathon. Di sana mereka dididik untuk menjadi guru dan dai-dai yang terampil berpidato di depan banyak orang. 

Merintis Fiqih Berkeadilan Gender
Kondisi masyarakat Indonesia yang mayoritas buta huruf diperparah oleh anggapan bahwa perempuan makruh belajar menulis. Fatwa makruh itu didasarkan pada fatwa Ibn Hajar al-Haitami yang oleh sebagian kiai dipahami secara sepenggal. Tidak utuh. Padahal kemakruhan itu dikaitkan dengan illat (alasan rasional hukum) khasyatal mafasid. Khawatir menimbulkan kerusakan. Namun, bagi Kiai Wahab illat itu saat ini tidak lagi relevan. Sebaliknya, maslahatnya jauh lebih besar. Menurut Kiai Wahab, mafasid mengajar perempuan menulis bernilai asumtif (madhnunah). Sedangkan nilai maslahatnya adalah riil, nyata (munjazah). Jika terjadi pertentangan antara mafasid madhnunah dan maslahat munjazah maka yang dimenangkan adalah maslahat munjazah. Dengan demikian, mengajar perempuan menulis tidaklah makruh selama tujuannya benar. Tidak melanggar prinsip syariah. Dari sini terlihat betapa Kiai Wahab mampu mengkontekstualisasikan kitab kuning dengan keahlian usul fiqih-nya.   

Tak hanya berwacana, Kiai Wahab pun berupaya mewujudkan pendidikan berkeadilan gender. Di Madrasah Mubdil Fann, Kiai Wahab mulai membuka kelas putri. Di antara gurunya adalah Nyai Mas Wardiyah, istri dari KH Abdrurrachim Chasbullah yang tidak lain adalah adik kandung Kiai Wahab. Nyai Mas Wardiyah sendiri adalah keponakan KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah. Adik ipar Kiai Wahab yang satu ini dikenal cerdas. Bukan saja pandai agama, tetapi juga fasih Bahasa Belanda. Di bawah asuhan Nyai Mas Wardiyah ini, kaum perempuan di sekitaran Tambakberas mendapat pendidikan baca tulis. Selain itu, adik iparnya yang lain, KH Bishri Syansuri, di tahun 1919 juga merintis kelas perempuan yang kelak menjadi cikal bakal pondok putri pertama di Jawa Timur. Melihat karakter fiqih Kiai Bishri yang keras”dalam hukum, besar kemungkinan bila Kiai Wahab turut andil di dalam upaya pendirian kelas putri di Denanyar tersebut. 

Menyeimbangkan Pendidikan 
Di saat banyak umat Islam yang mendikotomi pendidikan agama dan dunia, Kiai Wahab justru berpikir sudah sangat jauh. Kiai Wahab prihatin melihat realitas bahwa di kalangan umat Islam sangat sedikit tenaga-tenaga terampil profesional di bidang kedokteran, arsitektur, dan lainnya. “Poro murid-murid pondok mboten wonten ingkang sami mikir kados pundi sagetipun poro muslimin menawi adek griyo lajeng cekap dateng arsitek Kiai Fulan. Menawi bade ucal jampi lajeng dateng dokter Kiai Fulan...” (para murid pondok tidak ada yang berpikir bagaimana umat Islam misalnya mendirikan rumah cukup datang ke ahli arsitek Kiai Fulan. Jika hendak mencari obat [jamu] cukup datang ke dokter Kiai Fulan), demikian kegelisahan Kiai Wahab. Didasarkan pada ungkapan Imam al-Ghazali: al-‘Ilm Ilmani, ‘Ilmun Lil adyan wa ilmun li al-abdan (ilmu ada dua; ilmu untuk kemaslahatan agama dan ilmu untuk kemaslahatan tubuh), Kiai Wahab berpandangan bahwa baik ilmu agama ataupun dunia sama-sama penting demi tertibnya kehidupan manusia. 

KH Abd Wahid Hasyim adalah salah satu tokoh yang mampu menerjemahkan konsep pendidikan yang diidealkan Kiai Wahab. Ia pun mendirikan sekolah kejuruan di Tebuireng dengan empat spesialisasi: perdagangan (madrasah tijariyah), pertanian (madrasah zira’ah), pertukangan (madrasah najjariyah), dan hukum pemerintahan (madrasah al-qudhat). Sekolah kejuruan ini diterjemahkan oleh Kiai Wahid dari empat gagasan politik Kiai Wahab: siyasah tijariyah, siyasah ziraiyah, siyasah najjariyah, dan siyasah hukmiyah.     

Demikianlah Kiai Wahab. Kiai berparas kecil, tetapi memiliki semangat dan cita-cita yang besar. Kiprahnya di bidang pendidikan tidak kalah dengan Ki Hajar Dewantara. Dengan melihat segudang prestasinya, khususnya di bidang modernisasi pendidikan pesantren dengan mendirikan madrasah, sudah sepatutnya jika Kiai Wahab dinobatkan sebagai bapak pendidikan madrasah. (*)


Kandidat doktor di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya dan pengajar di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang, Jawa Timur.
Bagikan:
Kamis 2 Mei 2019 16:30 WIB
Hardiknas Momentum Penguatan NU Passion School (NPS) Bagi Pendidik Indonesia
Hardiknas Momentum Penguatan NU Passion School (NPS) Bagi Pendidik Indonesia
foto: masukuniversitas.com
Oleh: Maya Muizzatul Lutfillah

Setelah kaum buruh memanfaatkan momentum 'May Day', pada Rabu (1/5) kemarin, hari ini Kamis (2/5) masyarakat Indonesia diingatkan kembali kepada sejarah dan corak pendidikan di Indonesia melalui momentum Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Hardiknas yang diperingati setiap tahun oleh masyarakat Indonesia tertuang dalam Keputusan Presiden Republik Indonesia nomor 316 tahun 1959.
 
Tanggal tersebut merupakan tanggal di mana Ki Hajar Dewantara ditetapkan menjadi pahlawan nasional oleh Pemerintah Soekarno. Ki Hajar Dewantara merupakan Menteri Pendidikan pertama untuk periode 1945, dua Mei juga merupakan hari yang spesial bagi Ki Hajar Dewantara. Sebab tanggal tersebut adalah tanggal kelahirannya. Ki Hajar Dewantara yang memiliki nama asli Raden Mas Soewardi Soerjaningrat lahir 2 Mei 1922.
 
Ia adalah sosok yang berpengaruh terhadap sistem pendidikan di Indonesia, corak pemikirannya yang berbasis kepribadian dan kebudayaan memiliki dampak positif untuk arah gerakan pendidikan kala itu.  
 
Petuah fenomenal yang kerap kita jumpai adalah Ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani'. Saduran bebas pemaknaan istilah tersebut adalah 'di depan memberi contoh, di tengah memberi semangat, di belakang memberikan dorongan'.
 
Sederet slogan tersebut sampai kini masih menjadi acuan bagi guru dalam mendidik para siswanya. Bahkan frasa 'tut wuri handayani' masih terpampang pada logo Kementerian dan Kebudayaan Republik Indonesia.
 
Sejalan dengan nilai sejarah tersebut, Nahdlatul Ulama (NU) yang menjunjung tinggi nilai nilai tradisi tentu lebih luas memaknai pemikiran Ki Hajar Dewantara. Meski pusat pendidikan NU di Pesantren yang bukan bagian dari pendidikan formal, sesungguhnya para kiai sepuh NU adalah pendidik dan pengajar yang patut diberikan apresiasi oleh bangsa Indonesia.
 
Atas kerja keras Kiai Hasyim Asy'ari, KH Wahab Hasbullah dan kiai-kiai NU lainnya, pendidikan anak bangsa semakin tercerahkan. Terutama pada penanaman nasionalisme dan akidah Ahlussunnah Waljamaah.
 
Pada perkembanganya, sejak 1945 sampai dengan 2019 ini, perkembangan pendidikan formal semakin menjulang. Hal itu dapat dibuktikan dari banyaknya lembaga pendidikan formal dan masifnya penerapan kurikulum yang beragam. Semuanya tentu memiliki tujuan yang mulia adalah mencerdaskan anak bangsa.
 
Terlepas dari hal tersebut, di era modern kini, seharusnya NU menjadi role model bagi pendidikan di Indonesia. Itu dapat dilakukan NU dengan menampilkan perbedaan pada sistem pendidikan nasional, misalnya NU lebih mengunggulkan perpaduan metode salaf dan metode modern di semua lembaga pendidikan yang dinaungi NU. 

Pada praktiknya penulis menyebutnya sistem ini dengan bahasa "NU PASSION SCHOOL (NPS)". Konsep NPS adalah mendidik dengan karakter dan akhlakul karimah berdasarkan fikrah dan harakah yang tertuang dalam Aswaja-nya NU.
 
Menurut penulis, konsep ini dinilai tepat karena pendidikan sebagai elemen dasar dalam pembentukan kepribadian yang baik seejak dini. NPS yang penulis tawarkan lebih fokus Pada Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Jika konsep ini berkembang secara baik, tentu dapat dilanjutkan kepada tingkatan yang lebih tinggi seperti SD atau SMP.
 
Siswa PAUD yang memiliki usia 3-5 tahun adalah waktu yang pas untuk 'merekam' semua pelajaran terutama tumpuan pendidikan dasar seperti akidah Ahlussunnah Waljamaah. Pada kesempatan itu, NU bisa leluasa mengenalkan pemikiran dan pergerakan keagamaan persfektif NU. Sehingga, setelah dewasa nanti, siswa akan tetap berpegang teguh pada pemikiran dan ideologi yang sejalan dengan Nahdlatul Ulama. 

Kurikulum muatan lokalnya bisa menggunakan tradisi tradisi NU yang tidak dilakukan PAUD pada umumnya. Bisa di telusuri di lapangan, saat ini sistem pendidikan PAUD di Indonesia lebih senang dengan konsep yang kurang religious lagi.

Kebanyakan PAUD di Indonesia, memberikan materi ajar sambil bermain saja, dengan rincian materi secara umum tidak menjurus kepada nilai nilai kebangsaan,  ke-islaman dan ke-Indonesiaan.
 
NPS ini memberikan materi ajar sambil bermain menggunakan konsep modern berbasis NU, contoh anak anak dibiasakan baca shalawat nabi sebelum dan sesudah belajar, dibiasakan melakukan tradisi ke-NUan seperti ber-ziarah, tata cara shalat yang sesuai dengan ajaran Aswaja dan memberikan pemahaman dasar Ahlussunnah waljamaah.
 
Sehigga mereka akan terbiasa melakukan tradisi NU, penulis masih yakin mempersiapkan generasi NU harus dimulai sejak dini dengan begitu NU akan kuat secara gerakan dan pemikiran.

Selanjutnya, konsep NPS yang ditawarkan penulis, penguatan jiwa nasionalisme dapat dipupuk secara luas, misalnya siswa/sisiwinya di berikan materi ajar tentang empat pilar kebangsaan dan pengenalan tokoh tokoh nasional, lagu-lagu nasional, lagu-lagu daerah, dan mendoktrin bahwa Indonesia adalah Indonesia bukan Suriah, bukan pula Amerika. Termasuk penggunakan bahasa nasional yakni Bahasa Indonesia sebagai bahasa Tanah Air.

Di usianya yang masih sangat produktif, siswa siswa PAUD dengan konsep NPS, akan diberikan penguatan nasionalisme seperti bernyanyi lagu-lagu Kebangsaan Indonesia Raya, story telling kisah para pahlawan, menonton film perjuangan, pentas drama, baca puisi, dan sebagainya.

Cara mengajarkan anak semangat nasionalisme religius tidak perlu dengan cara yang dogmatis. Seorang anak akan lebih mudah menerima pesan dengan cara penyampaian yang menyenangkan.

Jika semangat nasionalisme religius ini secara konsisten ditanamkan sejak anak-anak hingga menjadi dewasa maka ia akan tertanam dalam sanubari. Dengan begitu generasi muda kita tidak akan mudah terpedaya oleh rayuan ideologi yang justru akan merusak bangsa. Untuk itu, NU Passion School menjadi solusi atas dinamika pendidikan yang ada saat ini. Sebab NPS adalah model kurikulum pendidikan yang memuat semangat nasionalisme religius secara berkesinambungan.

Bagi penulis, Islam yang moderat dan nasionalisme sangat penting terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara. Sebagai wujud pengabdian dan kecintaan terhadap bangsa sendiri. Dengan demikian, generasi muda NU dapat menjaga keutuhan bangsa, persatuan bangsa, dan dapat meningkatkan martabat serta citra positif bangsa dan agama. (*)


Penulis adalah Alumni Program Studi Pendidikan Dasar Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UNJ) Jakarta 2018, Ketua Bidang Pendidikan dan Kepemudaan Pengurus Besar PMII Puteri (KOPRI PB PMII)
Kamis 2 Mei 2019 10:45 WIB
HARDIKNAS
Membangun Fondasi Pendidikan ala Ulama Pesantren
Membangun Fondasi Pendidikan ala Ulama Pesantren
Ilustrasi (Tirto)
Oleh Fathoni Ahmad

Selama tujuah tahun belajar di Makkah, KH Muhammad Hasyim Asy’ari mempunyai kegelisahan tersendiri terkait kondisi beberapa bangsa di sejumlah negara yang sedang mengalami penjajahan, termasuk di Indonesia. Kegelisahaannya itu dituangkan dalam sebuah pertemuan di Multazam bersama para sahabat seangkatannya dari Afrika, Asia, dan juga negara-negara Arab sebelum Kiai Hasyim kembali ke tanah airnya.

Pertemuan tersebut terjadi pada suatu hari pada bulan Ramadhan di Masjidil Haram, Makkah. Singkat cerita, dari pertemuan itu lahir kesepakatan di antara mereka untuk mengangkat sumpah di hadapan “Multazam”, dekat pintu ka’bah untuk menyikapi kondisi di negara masing-masing yang dalam keadaan terjajah.

Isi kesepakatan tersebut antara lain ialah sebuah janji yang harus ditepati apabila mereka sudah sampai dan berada di negara masing-masing. Sedangkan janji tersebut berupa tekad untuk berjuang di jalan Allah SWT demi tegaknya agama Islam, berusaha mempersatukan umat Islam dalam kegiatan penyebaran ilmu pengetahuan serta pendalaman ilmu agama Islam.

Jalan yang ditempuh oleh KH Hasyim Asy’ari ialah mendirikan pondok (funduq) yang kini familiar disebut pondok pesantren, tempat para santri belajar ilmu-ilmu agama dan menempa kemandirian dan kekuatan akhlak baik. Implementasi ilmu agama yang diperoleh santri dari sejumlah metode pendidikan yang digunakan oleh kiai langsung terintegrasi dalam kehidupan sehari-hari.

Kemampuan dalam bidang ilmu agama, kekuatan karakater dan akhlak, serta penghormatan penuh terhadap guru tidak terlepas dari sosok kiai yang kharismatik. Kiai sebagai pengasuh pondok pesantren tidak hanya memberikan ta’lim dan tarbiyah, tetapi juga tidak ketinggalan untuk selalu mendoakan para murid dan santrinya. Penghormatan santri dan doa kiai bertemu sehingga ikatan batin sangat kuat di antara kiai dan santrinya hingga kini.

KH Hasyim Asy’ari merupakan pemegang sanad ke-14 dari Kitab Shahih Bukhori Muslim. Sanad ilmunya wushul (terhubung) langsung hingga ke Rasulullah. Keilamuan agama ia perdalam di tanah hijaz dan banyak berguru dari ulama kelahiran Nusantara di Makkah seperti Syekh Nawawi Al-Bantani, Syekh Mahfudz Termas, Syekh Yasin Al-Fadani, dan ulama-ulama lainnya.

Sebutan Hadhratussyekh sendiri menggambarkan bahwa ayah KH Wahid Hasyim dan kakek Gus Dur tersebut merupakan mahaguru, mahakiai. Bahkan, Muhammad Asad Syihab (1994) menyebut Kiai Hasyim dengan sebutan al-‘Allamah. Dalam tradisi akademik di Timur Tengah, istilah tersebut diberikan kepada orang yang mempunyai pangkat keulamaan dan keilmuan yang tinggi.

KH Hasyim Asy’ari mendirikan Pondok Pesantren di Tebuireng, Jombang, Jawa Timur. Ia tidak mendirikan lembaga pendidikan di kawasan yang telah mapan secara moral, tetapi sebaliknya. Sehingga Kiai Hasyim kerap mendapat gangguan dan beberapa kali mendapat percobaan pembunuhan oleh jawara-jawara sekitar. Namun, dengan ilmu kanuragan dan kelembutan hatinya, Kiai Hasyim berhasil membuat para jagoan dan penjahat bayaran tobat. Mereka akhirnya bersedia menimba ilmu di Pesantren Tebuireng.

Selain mempunyai banyak sahabat-sahabat ulama yang tersebar di Jawa dan Madura, Kiai Hasyim Asy’ari sendiri telah banyak menelurkan murid-murid berkarakter kuat. Setelah menimba ilmu kepada Kiai Hasyim, mereka mengabdi dan mendirikan pesantren di kampungnya masing-masing. Murid-muridnya paham betul tentang apa yang pernah dikatakan oleh Kiai Hasyim Asy’ari, “pulanglah ke kampungmu, mengajarlah di sana minimal ngajar ngaji.”

Selain itu, kemerdekaan bangsa Indonesia tidak terlepas dari peran dan jasa para ulama, selain para nasionalis dan tentunya seluruh rakyat Indonesia. Namun, sejarah mencatat bahwa pergerakan ulama sebagai panutan masyarakatnya kerap membuat penjajah ketir-ketir karena merasa terancam eksistensinya. Terlebih ketika mereka mendirikan perkumpulan atau organisasi dan pondok pesantren.

Di sini pesantren tidak hanya sebagai tempat menempa ilmu agama, tetapi juga sebagai wadah pergerakan nasional, perlawanan terhadap penjajah, dan tempat menyemai kecintaan terhadap tanah air. Sejarah mencatat, hanya kalangan pesantren yang tidak mudah tunduk begitu saja di tangan penjajah. Dengan perlawanan kulturalnya, Kiai Hasyim dan pesantrennya tidak pernah luput dari spionase Belanda.

Langkah awal, pesantren melakukan perlawanan kultural hingga akhirnya bangsa Indonesia mencapai kemerdekaan hakiki secara lahir dan batin. Kemerdekaan ini tentu hasil perjuangan seluruh rakyat Indonesia. Tetapi tentu saja peran ulama pesantren sebagai motor, motivator, sekaligus negoisator tidak bisa dielakkan begitu saja. Sebab, di masa Agresi Militer Belanda II, KH Hasyim Asy’ari mengeluarkan Fatwa Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945. Fatwa ini mampu menggerakkan rakyat Indonesia untuk melawan dan mengusir penjajahan kembali oleh Belanda yang membonceng tentara Sekutu (Inggris).

Fatwa tersebut menggambarkan bahwa perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia merupakan kewajiban agama. Hal ini merupakan bagian yang inheren dari pola pendidikan pesantren yang diperkuat oleh para kiai. Santri senantiasa diperkuat dengan kepedulian-kepedulian sosial yang tinggi sehingga melahirkan spirit perjuangan melepaskan rakyat Indonesia dari belenggu penjajahan.

Kebutuhan akan pentingnya pendidikan untuk menunjang pergerakan nasional juga dilakukan oleh KH Abdul Wahab Chasbullah. Pada tahun 1916 ia mendirikan Madrasah Nahdlatul Wathan. Kiai Wahab Chasbullah menyadari bahwa perjuangan di ranah politik tidak akan maksimalkan, terutama dalam mempersiapkan generasi muda sehingga ia mendirikan Nahdlatul Wathan.

Pada tahun 1916 juga, Nahdlatul Wathan (Pergerakan Cinta Tanah Air) resmi mendapatkan Rechtspersoon (badan hukum) sebagai sebuah lembaga pendidikan untuk menggembleng nasionalisme para pemuda. Nahdlatul Wathan digawangi oleh KH Abdul Kahar sebagai Direktur, KH Abdul Wahab Chasbullah sebagai Pimpinan Dewan Guru (keulamaan), dan KH Mas Mansur sebagai Kepala Sekolah dibantu KH Ridwan Abdullah.

Nahdlatul Wathan merupakan upaya Kiai Wahab dan kawan-kawan untuk menumbuhkan rasa kebangsaan yang kuat di dada para pemuda melalui pendidikan. Berangkat dari misi besar tersebut, Kiai Wahab menciptakan syair Ya Ahlal Wathan yang kini kita kenal dengan Ya Lal Wathan. Syair ini menjadi lagu wajib yang harus didengungkan sebelum memulai pelajaran di kelas, karena saat itu memang sudah diterapkan sistem klasikal dengan kurikulum 100 persen agama.

Sebagai madrasah perintis dalam memperkuat rasa nasionalisme, kurikulum Nahdlatul Wathan tentu menarik untuk dipelajari. Dalam teori pendidikan modern, masyarakat pendidikan tentu mengenal disiplin ilmu Teknologi Pendidikan. Deskripsi kurikulum Nahdlatul Wathan ini sesungguhnya tidak lain untuk mempelajari Teknologi Pendidikan dalam bingkai tradisi pesantren yang digagas Kiai Wahab sebagai salah seorang arsitek pergerakan nasional.

Madrasah Nahdlatul Wathan juga berkembang pesat di setiap cabang NU. Di jawa Barat berpusat di Madrasah Mathla’ul Anwar Menes, Banten. Di Jawa Tengah berpusat di Nahdlatul Wathan di Jomblangan Kidul, Semarang. Sedangkan di Jawa Timur berpusat di Surabaya dengan cabang-cabangnya yang tersebar luas di Jombang, Gresik, banyuwangi, Jember, Lumajang, Malang, dan kota-kota lainnya.

Dalam mengembangkan Madrasah Nahdlatul Wathan dan Tashwirul Afkar, Kiai Wahab berupaya menyebarkan 'virus' cinta tanah air (hubbul wathan) secara luas di tengah masyarakat dan generasi muda dengan membawa misi tradisi keilmuan pesantren. Perjuangan mulia ini tentu harus digerakkan secara terus-menerus melalui setiap lembaga pendidikan di mana pun  sehingga cita-cita luhur pendiri bangsa untuk memperkokoh Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) semakin kuat dan tak pernah surut.


Penulis adalah Redaktur NU Online
Kamis 2 Mei 2019 3:0 WIB
Menengok Kembali Soekarno Soal Buruh di Indonesia
Menengok Kembali Soekarno Soal Buruh di Indonesia
Oleh Abdul Rahman Ahdori
 
Presiden pertama Indonesia, Soekarno, memiliki peranan penting dalam setiap peristiwa sejarah berdirinya Indonesia. Hari buruh yang jatuh pada hari ini, Rabu (1/4) juga tidak terlepas dari perannya sebagai pemikir perburuhan di Indonesia.
 
Penulis buku sejarah, Tedjakusuma mengungkap, para pendiri bangsa seperti Semaoen, Soekarno, Tan Malaka, Sutan Sjahrir, dan dr. Soetomo adalah buruh tulen. Menurut dia, bukan hal yang baru lagi jika semua partai politik di era kepemimpinan Soekarno berlomba-lomba untuk melebarkan sayap di kalangan buruh.
 
Saat itu, PNI membentuk Serikat Kaum Buruh Marhaen (SKBM), Partai NU membentuk  Serikat Buruh Muslimin Indonesia (Sarbumusi), Masyumi mendirikan  Serikat Buruh Islam Indonesia (SBII), dan PKI membentuk Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia (SOBSI) 
 
Soekarno adalah tokoh yang memiliki ide cemerlang dalam merespon perburuhan di Indonesia. Ia mahir dalam urusan mengajak massa termasuk menggaet buruh, Soekarno mengajak bangsa Indonesia untuk terus merevolusi setiap langkah perjuangan kala itu. Puncaknya, saat Partai Komunis Indonesia (PKI) dibabat kolonial Belanda sekitar tahun 1935-1940an.

Melalui penyampaian gagasannya di pidato Indonesia Menggugat Soekarno semakin menjadi sosok yang digandrungi oleh semua kalangan terutama oleh jutaan kaum buruh yang merasakan langsung penidindasan oleh kolonial Belanda. Soekarno adalah motor kekuatan massa yang bisa mengancam keberadaan penjajah di Indonesia, sehingga kehadiran Soekarno disegani.

Dalam berbagai sumber yang penulis temukan, baik artikel para sejarawan maupun artikel di media media sejarah Indonesia, menyebutkan Soekarno adalah sosok yang akrab dengan pemimpin gerakan buruh Eropa Kautsky, Ferdinand Lassalle, Sidney dan Beatrice. Hal itu pula yang menyebabkan pemikiran Soekarno soal buruh dinilai sangat mumpuni untuk dijadikan kajian akademis sebagai analisa sejarah.
 
Melalui kedekatan itulah kemudian Soekarno memunculkan ide 'massa-actie-machtvorming' yaitu ide dalam membangun gerakan serikat. Dalam pandangan Soekarno, perjuangan politik bagi serikat buruh dimaksudkan untuk mempertahankan dan memperbaiki nasib politik kaum buruh, atau mempertahankan "politieke toestand".

Politieke toestand dalam pemikiran Sokearno sangat terkait dengan masa depan gerakan buruh, yaitu penciptaan syarat-syarat politik untuk tumbuh-suburnya gerakan buruh di Indonesia. Soekarno meyakini, jika kaum buruh menginginkan kehidupan yang layak, naik upah, mengurangi tempo-kerja, dan menghilangkan ikatan-ikatan yang menindas, maka perjuangan kaum buruh harus bersifat ulet dan habis-habisan.

Saat menjadi Presiden, Seokarno menghasilkan kebijakan dengan menetapkan peraturan baru tentang pemberlakuan Tunjangan Hari Raya atau yang biasa dikenal THR pada tahun 1950-an. Ia juga mengingatkan kaum buruh bahwa perjuangan buruh bukan bergantung pada siapa yang memerintah namun perjuangan kesejahteraan buruh sepenuhnya merupakan dari konsistensi perjuangan itu sendiri.

Era kepemimpinannya sebagai kepala negara, pemerintah tidak dapat berbuat banyak menghadapi aksi mogok dan tuntutan buruh. Bahkan, Soekarno kerap memberikan solusi solusi terbaik saat menjumpai ribuan buruh.  


Penulis adalah jurnalis NU Online-Mahasiswa Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)

 

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG