IMG-LOGO
Fragmen

Nasihat Ramadan Ibunda KH Saifuddin Zuhri

Senin 6 Mei 2019 3:0 WIB
Nasihat Ramadan Ibunda KH Saifuddin Zuhri
Masyarakat Muslim seluruh dunia ramai-ramai menyambut datangnya bulan Ramadan dengan riang gembira. Tak terkecuali oleh anak-anak. Mereka bersorak-sorai mengetahui bulan suci itu kembali bisa ditemui.
 
Anak-anak desa di Jawa umumnya menanti pengumuman awal Ramadan di masjid terdekat. Jika kiai mengisyaratkan bulan Ramadan tiba mulai Maghribnya, mereka akan memukul-mukul beduk masjid tersebut sebagai pertanda bagi seluruh masyarakat desa.
 
Hal itulah yang dilakukan oleh KH Saifuddin Zuhri di masa kecilnya dahulu. Ia membuat pemukul beduknya sendiri setelah mencari kayu bagus di sekitar kuburan atau dekat sungai setelah berziarah. Setelah Ramadan itu diumumkan tiba pada malam tersebut, ia dan rekan-rekan sebayanya yang telah memenuhi masjid langsung ramai-ramai memukul beduk. Tradisi demikian disebutnya Tiduran atau Jiduran.
 
Kiai Saifuddin mengajak rekan-rekannya untuk melantunkan bait-bait nazam kitab Barzanji, asyraqal badru, untuk mengiringi irama beduk yang sudah teratur. Mereka pun bersamaan melantunkan bait-bait nazam tersebut sembari membayangkan kehadiran Rasulullah saw. Suasana keriangan mereka pun penuh khidmat.
 
Meskipun anak-anak menyambutnya dengan penuh keriangan, akan tetapi mereka kerap kali keberatan dengan puasa yang harus mereka jalani selama seharian penuh. Bagaimana tidak, biasanya makan tak kenal waktu, lalu tetiba harus ditahan sejak terbit fajar hingga terbenamnya matahari.
 
Tak ayal, di antara mereka harus mencicil puasa mereka. Mulai dari buka puasa pada pagi hari, waktu Dzuhur, hingga waktu Ashar. Tentu saja selepas berbuka di waktu-waktu tersebut, mereka melanjutkan puasanya sampai Maghrib. Tahapan-tahapan demikian mereka tempuh agar kelak mampu bertahan sejak fajar hingga waktu Maghrib saat usia mereka sudah mencapai taklif.
 
Hal itu tidak berlaku bagi seorang Saifuddin Zuhri kecil. Ia tetap merasa senang dengan kehadiran bulan Ramadan itu beserta puasanya. Meskipun lapar dan haus menderitanya, tetapi hal tersebut ditempuhnya bersama dengan rekan-rekan sebayanya sehingga puasa tetapi dijalaninya dengan penuh kesenangan sampai Maghrib benar-benar tiba.
 
Hal itu diperkuat dengan pesan ibunya yang selalu terngiang dan memberi dorongan tersendiri untuk tetap menahan nafsunya agar tidak makan dan minum sebelum beduk Maghrib ditabuh. KH Saifuddin Zuhri menulis pesan ibunya itu dalam bukunya Berangkat dari Pesantren (1987) pada bab 3 Menyongsong Bulan Ramadhan.
 
"Kita kan orang Islam! Orang-orang yang berpuasa Ramadhan kelak di akhirat tidak akan mengalami lapar dan haus."
 
Bagi Kiai Saifuddin saat kecil dahulu, pesan ibunya itu menjadi suplemen yang memperkuat dirinya untuk bertahan dari godaan makan dan minum di siang hari. Kata-kata ibunya itu, tulisnya, berhasil membuat tentram hatinya dan berani menempuh derita lapar saat berpuasa. (Syakir NF)

-- 

Author

Senin 6 Mei 2019 14:15 WIB
Ini Jalan Ibadah Almarhum Al-Faqih KHM Syafi’i Hadzami
Ini Jalan Ibadah Almarhum Al-Faqih KHM Syafi’i Hadzami
(Foto: @sumur yang tak pernah kering)
"Zulfa, shalat sunahku sedikit. Wiridku sedikit. Puasa sunahku juga sedikit,” kata almarhum KHM Syafi’i Hadzami.

Ia kemudian mengutip satu bait dalam Qashidah Al-Burdah

وما تزودت قبل الموت نافلة # ولم أصل سوى فرض  ولم أصم 

“Tapi moga-moga wiridku dari muda, muthalaah kitab dari jam 10 sampai jam 2 malam, bisa menolongku di akhirat nanti,” kata guru kami KH Syafi’i Hadzami dengan suara lirih.

Larik dalam qashidah ini kalau diterjemahkan berbunyi, “Aku tidak berbekal sebelum meninggal ibadah sunnah#Aku tidak sembahyang selain shalat wajib, dan aku tidak puasa (selain shalat wajib).” 

Kalimat itu terasa seperti baru kemarin mendengarnya. Padahal kalimat ini disampaikan hampir 23 tahun yang lalu saat kami bersilaturahmi di bulan Syawwal.

Kami teringat ucapan dan kerendahan hati guru mulia kami karena nasihat Imam Ibnu Athaillah Al-Iskandari:

تنوعت أجناس الأعمال بتنوع واردات الأحوال

Artinya, "Bermacam-macam jalan ibadah seseorang itu, sesuai dengan keadaan yang datang menghampirinya."

Begitu biasanya para guru mursyid menerjemahkannya. Nasihat di atas diambil dari Kitab Al-Hikam karya Imam Ibnu Athaillah yang biasa kami baca setiap Shubuh Bulan Ramadhan sebagai kajian rutin di masjid dekat rumah.

Secara tidak langsung Ibnu Athaillah mengajak kita untuk tidak rendah diri dan merendahkan orang lain dalam mengukur standar suatu ibadah karena ibadah, jalan menghamba kepada Allah itu banyak. Ibadah ditempuh tidak hanya lewat ibadah jasadiyah atau fisik seperti shalat, puasa, dan lain-lain.

Ibadah dapat berbentuk ibadah aqliyah atau akal misalnya, bertafakur atas kebesaran Allah dalam ayat kauniyah (alam semesta dan kehidupan) yang merupakan ibadahnya para filsuf dan cendekiawan; atau mengkaji dan memahami ayat Allah dalam Al-Quran dan hadits serta menyampaikannya (ibadah para ahli ilmu).

Ibadah dapat juga berbentuk ibadah qalbiyyah atau ibadah hati, misalnya melatih diri untuk ikhlas dan ridha, zuhud terhadap dunia, bersyukur atas nikmat, bersabar dan tidak mengeluh atas keinginan/harapan yang tidak tercapai. Ibadah ini biasanya menjadi concern para ahli tasawuf.

Dari penjelasan di atas kita bisa memahami bahwa jalan untuk ibadah atau mendekatkan diri itu sangat banyak. Siapapun kita, dengan profesi dan latar belakang apapun, bisa menjadi kekasih Allah dengan jalan yang mudah, banyak, dan terbuka lebar tanpa perlu pesimis, rendah diri, atau bahkan merendahkan orang lain atas ibadahnya.

Begitulah kata seorang ulama:

ولكل واحدهم طريق من طرق # يختاره فيكون من ذا  واصلا

Artinya, “Masing-masing hamba boleh memilih jalan ibadah yang Allah mudahkan baginya untuk bisa wushul (sampai menuju Allah).”

Singkat cerita, guru kami berkata, “Banyak wali di luar sana yang kau temui tapi kau tidak pernah menyadarinya bahwa dia adalah kekasih Allah. Karena kau mungkin melihat orang itu hanya tukang sol sepatu, pedagang pasar, guru TPQ/madrasah, kuli bangunan, atau bahkan sopir, tapi mereka menjadi kekasih Allah karena kesabaran, keikhlasan, dan kezuhudannya atau karena yang lainnya yang kau tidak pahami.”

Tulisan ini dibuat pada 1 Ramadhan 1444 Hijriyah/6 Mei 2019 M. Al-Fatihah untuk guru kami, almarhum KHM Syafi’i Hadzami. ***

Almarhum KHM Syafi‘i Hadzami (1931-2006 M) dikenal sebagai ahli agama. Penguasaannya atas sumber-sumber keislaman cukup memadai. Ia bertempat tinggal di Kebayoran Lama Utara sejak tahun 1975. Sebelumnya almarhum KHM Syafi‘i Hadzami sekeluarga tinggal di Senen. Almarhum KHM Syafi‘i Hadzami pernah menjadi Ketua MUI DKI Jakarta dan Rais Syuriyah PBNU 1994-1999 M.

Di usia yang begitu muda, ia sudah mengasuh banyak majelis taklim di seantero Jakarta. Pengajiannya sempat mengudara di radio Cenderawasih dalam bentuk tanya-jawab agama dengan pendengar seputar permasalahan keseharian masyarakat pada 1971 M.

Bentuk audionya lalu dibukukan dengan judul Taudhihul Adillah yang terdiri dari 7 jilid, sejenis Buku Ahkamul Fuqaha, kumpulan putusan keagamaan NU sejak 1926. ***


Penulis adalah turabul aqdam KH Zulfa Mustofa MY, Katib Syuriyah PBNU (2015-2020 M). Ia kini diamanahi sebagai Ketua MUI Jakarta Utara.
Ahad 5 Mei 2019 17:15 WIB
Pesan Persatuan KH Hasyim Asy’ari
Pesan Persatuan KH Hasyim Asy’ari
Prinsip persatuan umat telah diajarkan Al-Qur’an bahwa umat Islam harus berpegang pada tali Allah secara menyeluruh dan jangan terpecah belah. Pernyataan Al-Qur’an yang termaktub dalam Qur’an Surat Ali ‘Imran ayat 103 itu juga secara filosofis menjadi pijakan pokok para kiai untuk memaknai tali yang melingkar dalam lambang Nahdlatul Ulama.

Persatuan, baik dalam lingkup umat Islam dan umat manusia akan mewujudkan kekuatan tak tertandingi. Namun, kekuatan tersebut juga harus disertai ilmu, wawasan, dan pengetahuan yang luas sehingga selaras dengan ajaran atau syariat Islam. Prinsip-prinsip inilah yang terus dipegang oleh pendiri NU KH Muhammad Hasyim Asy’ari. Nilai-nilai universal Islam menjadi sesuatu yang fundamental dalam melakukan setiap perjuangan.

Kiai Hasyim Asy’ari beberapa kali melakukan perlawanan kultural terhadap penjajah yang ia kemas dengan spirit ajaran Islam. Dalam konteks melakukan perlawanan terhadap penjajah, Kiai Hasyim Asy’ari tidak segan-segan mengeluarkan fatwa haram bagi santri yang pakaiannya menyerupai penjajah Belanda. Tentu saja fatwa tersebut tidak bisa digunakan di setiap zaman sebab konteks fatwa itu untuk melawan ketidakperikemanusiaan penjajah.

Kabar-kabar penting terkait perjuangan dan pergerakan nasional selalu Kiai Hasyim Asy’ari sampaikan melalui utusan  dan surat tertulis. Kabar yang disampaikan tidak jarang berisi pesan berharga kepada kiai-kiai pesantren di Jawa dan Madura terkait strategi dalam menghadapi penjajah.

Tercatat ialah Mahfudz Siddiq, Wahid Hasyim, Abdullah Ubaid, dan Muhammad Ilyas merupakan kiai-kiai muda yang tidak asing namanya di kalangan pesantren. Mereka merupakan ‘kurir-kurir’ KH Hasyim Asy’ari dan KH Wahab Chasbullah untuk membawa pesan-pesan untuk dunia pesantren terkait kepentingan agama, bangsa, dan negara.

Di antara pesan yang ditulis oleh KH Hasyim Asy’ari kepada para ulama pesantren di Jawa dan Madura tentang pentingnya persatuan ialah:

“Perkokoh persatuan kita, karena orang lain juga memperkokoh persatuan mereka. Kadang-kadang suatu kebatilan mencapai kemenangan disebakan mereka bersatu dan terorganisasi. Sebaliknya, kadang-kadang yang benar menjadi lemah dan terkalahkan lantaran bercerai-berai dan bersengketa.” (KH Saifuddin Zuhri, Guruku Orang-orang dari Pesantren, LKiS, 2001)

Selain terus berupaya memperkokoh jam’iyah dan jamaah NU, Kiai Hasyim Asy’ari juga selalu mendorong persatuan umat Islam yang kala itu telah terwadahi di berbagai ormas Islam. Sebab, sengketa dan perselisihan dipastikan terjadi. Jangankan perbedaan pendapat di antara berbagai macam ormas Islam, dalam wadah satu organisasi pun tidak jarang perbedaan pendapat muncul dan berkembang.

Dalam kondisi berselisih, penjajah mudah dalam mempengaruhi masyarakat. Hal ini dipandang sebagai kerugian besar secara sosial dan moral karena justru akan menjadikan eksistensi penjajah semakin kuat. Dari pintu ke pintu dan dari utusan ke utusan, Kiai Hasyim Asy’ari tidak pernah lelah menggelorakan persatuan bangsa dan persatuan umat Islam.

Apalagi jika melihat beberapa tokoh masyarakat dan pejabat lokal yang cukup bangga dan terbuai dengan tipu daya Belanda dalam wujud penghargaan. Namun, politik dalam bentuk penghargaan oleh Belanda tersebut tidak membutakan mata KH Hasyim Asy’ari. Apalagi Kiai Hasyim tidak pernah memikirkan perjuangan atau jasa yang telah dilakukan untuk rakyat Indonesia.

Pada tahun 1937 misalnya, pernah datang kepada Kiai Hasyim Asy’ari seorang ambtenar (utusan pemerintah Hindia-Belanda) bermaksud memberikan tanda jasa berupa ‘Bintang Jasa’ yang terbuat dari perak dan emas. Tetapi dengan tegas kakek KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menolak pemberian itu. (Choirul Anam, Pertumbuhan dan Perkembangan NU, 2010)

Sikap ayah Kiai Wahid Hasyim itu tidak lepas dari pandangan bahwa apa yang dilakukan Belanda hanya intrik politik semata untuk menundukkan sikap kritis dan perjuangan para kiai pesantren dalam melawan penjajah. Lalu, Hadratussyekh pun bergegas mengumpulkan santrinya lalu berkata:

Sepanjang keterangan yang disampaikan oleh ahli riwayat, pada suatu ketika dipanggillah Nabi Muhammad SAW oleh kakeknya Abdul Muthalib dan diberitahu bahwasanya pemerintah jahiliyah di Mekkah telah mengambil keputusan menawarkan tiga hal untuk Nabi Muhammad: 1) kedudukan yang tinggi; 2) harta benda yang berlimpah; dan 3) gadis yang cantik. Akan tetapi Baginda Nabi Muhammad menolak ketiga-tiganya itu dan berkata di hadapan kakeknya, Abdul Muthalib: “Demi Allah umpama mereka itu kuasa meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku dengan maksud agar aku berhenti berjuang, aku tak akan mau. Dan aku akan berjuang terus sampai cahaya Islam merata ke mana-mana, atau aku gugur lebur menjadi korban.” Maka, kamu sekalian anakku, hendaknya dapat meneladani Baginda Nabi Muhammad SAW dalam menghadapi segala pesoalan.

Kiai Hasyim Asy’ari merupakan salah satu ulama yang mempunyai sikap tegas terhadap penjajah. Perlawanan terhadap penjajah yang dilakukan oleh Kiai Hasyim dan kawan-kawan tidak hanya dilakukan secara fisik, tetapi juga perlawanan kultural. Di mana segala sesuatu yang yang berkaitan dengan penjajah tidak mendapat kompromi. (Fathoni)
Ahad 5 Mei 2019 12:0 WIB
Polemik Keras Rukyatul Hilal di Kalangan Ulama Betawi Abad 19-20 M (2)
Polemik Keras Rukyatul Hilal di Kalangan Ulama Betawi Abad 19-20 M (2)
Oleh Rakhmad Zailani Kiki

Dalam risalah berjumlah delapan halaman dengan judul Fadhlurrahman fi Raddi Man Radda Al-Marhum As-Sayyid Utsman, Guru Marzuqi bin Mirshod Muara (1877 M-1934 M) membela pendapat Habib Utsman bin Yahya (1822 M-1913 M) dan membantah pendapat Guru Manshur Jembatan Lima (1878 M-1967 M) dalam masalah rukyatul hilal.

Pada poin keempat yang menjadi pokok-pokok bantahannya, Guru Marzuqi menyatakan bahwa burhan yang lain atas kebenaran fatwa Sayyid Utsman bin Yahya adalah tentang kewajiban qadhi untuk menolak saksi yang melihat bulan kurang dari tujuh derajat meski saksi itu cukup syarat-syaratnya sebagai saksi, yaitu `adalah dan muruah.

Menurut Guru Marzuqi, masalah ini terkait dengan pandangan jumhur `ulama muhaqqiqin yang berpegang kepada qaul Tuan Syekh As-Subki yang berkata bahwa ditolak akan saksi yang mendakwakan melihat bulan di malam yang mustahil rukyat dan itulah qaul rajih (pendapat yang kuat) yang wajib agar qadhi (hakim) menghukumkan dengan menolak saksi yang melihat hilal kurang dari tujuh derajat.

Begitu pula  mufti, ia juga harus memfatwakannya. Sedangkan qaul Tuan Syekh Az-Zarkasyi dan qaul tuan Syekh Ar-Ramli yang mengikut qaul Syekh Az-Zarkasyi mengatakan bahwa diterima saksi yang cukup syarat-syaratnya yang mengaku melihat bulan (hilal) di malam yang mustahil rukyat padahal al-hasanatul qath`iy, maka ini qaul dianggap dhaif.

Guru Marzuqi menambahkan bahwa kedhaifannya diberikan oleh jumhur `ulama muhaqqiqin. Oleh karenanya, qadhi atau mufti yang menghukumkan atau memfatwakan dengan qaul Tuan Zarkasiy itu fasik lagi zhalim karena ijma` ulama tidak menghukumkan dan memfatwakan sesuatu dengan qaul yang dhaif.

Dari poin-poin bantahan di atas, kita bisa menilai tentang kemampuan ulama Betawi terdahulu yang mampu berargumen dengan baik dan membantah dengan cerdas melalui tulisan,  dengan kesantunan, bukan debat kusir tak berujung di forum-forum terbuka yang sering kali mempermalukan lawan debatnya.

Bantahan yang dilakukan oleh Guru Marzuqi Cipinang Muara terhadap pendapat Guru Manshur Jembatan Lima mengenai hilal dapat dilihat kurang dari tujuh derajat sebenarnya tidak begitu tepat juga.

Sebab, Guru Manshur Jembatan Lima memiliki alasannya juga yang berbasis pada hisab, bukan pada rukyat. Rukyat, bagi Guru Manshur, dipahami juga dengan hisab. Jika Hilal sudah wujud (wujudul hilal), maka awal bulan hanya untuk menyandarkannya pada Sullamun Nayyirain (Anak Tangga Matahari dan Bulan) menggunakan sistem/teori hasil pengamatan yang dilakukan oleh seorang Zij Sulthan (astronom pemerintah) yang bernama Ulugh Beyk As-Samarkand.

Ulugh Beyk adalah ahli astronomi yang lahir di Salatin pada tahun 1393 Masehi dan meninggal di Iskandaria 1449 Masehi. Ia hidup pada masa pemerintahan Bani Abbasiyah, tepatnya pada masa kepemimpinan Khalifah Al-Makmun. Pada masa kepemimpinannya, sang khalifah memerintahkan para ilmuwan untuk mendirikan observatorium, salah satunya yaitu di daerah Samarkand yang dikepalai oleh Ulugh Beyk tersebut.

Ulugh Beyk adalah seorang astronom yang pandai. Ia mengepalai penyelidikan-penyelidikan yang menelan biaya yang tidak sedikit. Ulugh Beyk merupakan keponakan dari cucu Hulago dari keluarga Timur Lenk, Hasan Al-A’raj, Si Pincang.

Pada tahun 1437 M, ia berhasil membuat sebuah Zij berdasarkan observasi yang dilakukannya. Pengertian dari Zij itu sendiri adalah tabel keangkaan yang diterapkan pada planet-planet untuk mengetahui ciri masing-masing, baik jalan gerakannya, kecepatan, kelambatan, kediaman dan geraknya kembali.

Ia menamakannya Zij Ulugh Beyk. Tabel-tabel tersebut masih menggunakan model angka Jumali yang merupakan model angka yang biasa digunakan oleh para ulama hisab tempo dulu untuk menyajikan data astronomis benda-benda langit.

Kitab Sullamun Nayyirain (Tangga Matahari dan Bulan) adalah karya Guru Manshur Jembatan Lima berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Ulugh Beyk tersebut, yang sebelumnya telah ditalhis (dijelaskan) oleh orang tuanya sendiri yang bernama Abdul Hamid bin Muhammad Damiri Al-Batawi dengan taqrir atau ketetapan dari Syekh Abdurrahman bin Ahmad Al-Mishri.

Walau hisab Sullamun Nayyirain telah dikategorikan saat ini sebagai hisab taqribi atau akurasinya masih di bawah hisab hakiki, namun pendapat Guru Manshur Jembatan Lima bahwa hilal bisa dilihat di bawah tujuh derajat telah sesuai dengan perhitungan astronomi modern melalui Rekomendasi Jakarta Tahun 2017 di mana syarat minimal hilal terlihat adalah tiga derajat. (Selesai…).


*) Penulis adalah Peneliti dan Penulis Genealogi Intelektual Ulama Betawi. Sekarang ia diamanahi sebagai Sekretaris RMI-NU DKI Jakarta.