IMG-LOGO
Daerah

Di IAIN Pontianak, Pengamat Jelaskan Tantangan Ekonomi Syariah

Senin 6 Mei 2019 15:0 WIB
Bagikan:
Di IAIN Pontianak, Pengamat Jelaskan Tantangan  Ekonomi Syariah
Seminar nasional di FEBI IAIN Pontianak, Kalimantan Barat.
Pontianak, NU Online
Program Studi Ekonomi Syariah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) IAIN Pontianak, Kalimantan Barat menggelar seminar nasional bertajuk Prospek dan Tantangan Implementasi Ekonomi Syariah di Era Revolusi Industri 4.0. Seminar berlangsung di aula gedung rektorat kampus setempat, Sabtu (3/5).

Pemateri seminar ini adalah Faisal Basri yang merupakan pengamat ekonomi dan politikus Indonesia. Kemudian Adnan Sharif selaku kepala Sub Bagian Pengawasan Bank 1 Otoritas Jasa Keuangan Kalimantan Barat, dan Fachrurrazi selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam IAIN Pontianak. Seminar dihadiri mahasiswa dan sejumlah dosen di lingkungan FEBI.

Fachrurrazi mengatakan bahwa tujuan pokok peran perguruan tinggi adalah menjadikan mahasiswa berkualitas. “Dengan adanya seminar diharapkan mampu membuka pemikiran mahasiswa FEBI tentang pospek dan tantangan  ekonomi syariah di era revolusi Industri ini,” katanya. 

Dirinya mengharapkan kegiatan tidak hanya untuk mahasiswa yang terdaftar di FEBI namun untuk semua. “Artinya FEBI datang untuk menjadi solusi perekonomian khususnya di era digital ini,” jelasnya.

Sedangkan Faisal Basri mengemukakan saat ini ekonomi Indonesia mengalami perlambatan dari negara lain. "Negara lain sudah beberapa kali lebih maju namun Indonesia selalu menerapkan alon-alon tapi kelakon. Ini yang membuat pertumbuhan lambat," katanya di hadapan ratusan hadirin.

Ia mengharapkan generasi milenial mampu beradaptasi dengan perkembangan revolusi industri. “Karena setelah 2030 nanti generasi ini juga menanggung beban para orang tua. Dan ekonomi syariah adalah solusi paling tepat untuk mengatasi ketimpabgan karena berdasarkan kemaslahatan dan keadilan tanpa adanya eksploitasi, sehingga perekonomian merata,” ungkapnya.

Lain halnya Adnan Sharif dalam penyampaian materinya menjelaskan tentang peluang financial technologi (fintech) di Kalimantan Barat.  “Bank konvensional lebih maju dari bank syariah karena ditunjang sumber daya manusia lebih kompeten,” tegasnya. 

Menurutnya, saat ini masyarakat lebih banyak menyimpan dana di bank konvensional karena merasa praktis. Tidak perlu pergi ke bank tapi bisa transaksi langsung lewat gawai. “Ini membuktikan bahwa fintech di bank konvensional maju, sedang kalau kita lihat orang ingin nabung di bank syariah harus ngantri panjang karena fintechnya belum maju," ungkapnya.

Dirinya berharap generasi milenial khususnya mahasiswa FEBI dapat melek teknologi agar bisa memajukan ekonomi syariah. “Karena terbukti ekonomi syariah solusi kesejahteraan dan mampu bertahan dari gonjangan ekonomi. Hal ini dibuktikan ketika krisis moneter, ekonomi syariah tidak ikut tumbang,” pungkasnya. (Maulida/Ibnu Nawawi)

Bagikan:
Senin 6 Mei 2019 22:15 WIB
Pasar Takjil di Masjid Al-Hikmah Mulya Jaya Tubaba
Pasar Takjil di Masjid Al-Hikmah Mulya Jaya Tubaba
Persiapan lokasi pasar takjil Masjid Al-Hikmah Mulya Jaya Tuabab.
Tubaba, NU Online
Masyarakat Muslim di Tiyuh (desa) Mulya Jaya Kecamatan Tulangbawang Tengah, Kabupaten Tulangbawang Barat (Tubaba), Lampung, selama Ramadan dapat berburu aneka makanan buka puasa bersama keluarga di pasar takjil yang dibuka di halaman Masjid Jami' Al-Hikmah.

Yuli Rohman Arsid, panitia penyelenggara pasar takjil Ramadan 1440 Hijriah menyebutkan pasar ini akan dibuka setiap hari selama bulan puasa mulai pukul 15.30 WIB atau selepas Shalat Ashar hingga menjelang waktu berbuka puasa.

"Insyaallah hari pertama puasa kita buka hingga akhir Ramadan nanti," kata Rohman, Sabtu (4/5) di sela-sela persiapan lokasi.

Pasar takjil ini melibatkan seluruh warga tiyuh yang berkeinginan menjajakan dagangannya di pasar takjil, khususnya penjaja aneka makanan dan minuman khas Ramadhan.

"Kami percaya bulan Ramadan hadir dengan keberkahan, dengan pasar takjil harapan kami dapat menggerakkan perekonomian masyarakat di bulan suci nanti. Mohon doanya semoga para penjual takjil di beri kelancaran dan mendapatkan keberkahan itu," kata Bondan.

Seperti diketahui, pasar takjil adalah pasar dadakan yang biasa dijumpai pada bulan puasa Ramadan. Pasar ini biasanya hanya berjualan jenis makanan yang manis manis atau makanan ringan dan hanya hadir saat menjelang berbuka atau saat orang-orang berburu takjil berbuka puasa di sore hari. (Ahmad Sobirin/Kendi Setiawan)
Senin 6 Mei 2019 22:0 WIB
Safari Ramadhan Komunitas Santri Aceh Besar
Safari Ramadhan Komunitas Santri Aceh Besar
Para santri Safari Ramadhan di Aceh.

Aceh Besar, NU Online

Ikatan Santri Banda Aceh Aceh besar dan Sabang (Nahdatul Mujahidin) mengadakan program Safari Ramadhan di sejumlah desa di Kabupaten Aceh Besar, Banda Aceh dan Kota Sabang. Program tersebut berlangsung mulai 1 Ramadhan hingga akhir Ramadhan.

Ketua Tim Safari Nahdhatul Mujahidin, Tgk Maulidin mengatakan bahwa program Safari Ramadhan tahun ini fokus pada tiga kabupaten dan kota yang ada di Aceh.

"Delegasi tim safari tahun ini ke kota Sabang kami kirim sebanyak 45 santri, ke Aceh Besar 65 orang, dan Banda Aceh sebanyak 15 orang santri. Para santri berasal dari beberapa dayah yang ada di seluruh Aceh," katanya.

Kegiatan yang dilakukan selama Safari Ramadhan ini antara lain mengisi kultum, menjadi imam shalat maktubah dan shalat tarawih. "Juga mengisi kuliah Shubuh, pengajian bagi perempuan, mengajar di Taman Pendidikan Al-Qur'an, dan tadarusan di sejumlah masjid," lanjutnya.

Lebih lanjut, Tgk Maulidin mengatakan maksud dan tujuan diadakan program safari untuk belajar bersyiar, juga mengenalkan dayah kepada masyarakat. "Termasuk belajar bermasyarakat dan membentengi paham akidah Aswaja melalui pengajian Tastafi (Tasawuf, tauhid dan fiqih) sehingga masyarakat terbebas dari paham yang bertentangan," urainya.

Pihaknya berharap agar apa yang dilakukan selama Safari Ramadhan bisa bermanfaat bagi santri kususnya dan masyarakat umumnya. (Muslim Hamdani/Kendi Setiawan)

Senin 6 Mei 2019 21:0 WIB
Pelajar NU Tak Boleh Tiru Pemimpin yang Tak Bisa Memimpin
Pelajar NU Tak Boleh Tiru Pemimpin yang Tak Bisa Memimpin
Pelantikan PAC IPNU-IPPNU Kecamatan Wonoayu
Sidoarjo, NU Online
Dewasa ini, banyak sosok yang dianggap pemimpin namun tidak bisa menjadi pemimpin sejati. Bukannya membawa kemaslahatan, kepimpinannya malah mendatangkan kerusakan yang lebih besar. Ia malah mengajak yang dipimpinnya melakukan tindakan dosa.

Hal ini dikatakan Eva Rosyidana, panitia pelaksana Pelantikan Pimpinan Anak Cabang (PAC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU)-Ikatan Pelajar Puteri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kecamatan Wonoayu, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, Ahad (5/5).

Pernyataan ini selaras dengan tema yang diangkat pada pelantikan tersebut yakni Tasharruful imam ala Ra' iyyah Manuthun bil Mashlahah.

Eva menjelaskan, tema pelantikan ini diambil dari kaidah fikih dan juga fatwa Imam Syafi’i yang artinya: "Kedudukan imam terhadap rakyat adalah seperti kedudukan wali terhadap anak yatim."

Imam Syafi'i sendiri mengatakan, jika fatwanya berasal dari ucapan Umar bin Khattab yang diriwayatkan oleh Sa’id bin Mansyur dari Abu Ahwash dari Abi Ishaq dari Barro’ bin Azib yang artinya: “Sungguh aku menempatkan diriku terhadap harta Allah seperti kedudukan wali terhadap anak yatim, jika aku membutuhkan, aku mengambil dari padanya, dan apabila ada sisa aku kembalikan. Dan apabila aku tidak membutuhkan, aku menjauhinya (menahan diri padanya)”.

“Secara khusus ini tafa'ulan (mengikuti) ke para pendiri NU sebagai suri tauladan. Selain itu untuk menghindari sikap pemimpin yang menyeleweng dari aturan syari'ah serta memberi kemaslahatan sekarang atau masa depan,” tambah Eva.

Tema ini juga dipilih untuk memotivasi para pengurus IPNU-IPPNU Wonoayu agar kompak dan tidak jalan sendiri-sendiri. Karena hakikat organisasi adalah sinergitas antar pengurus.

“Kita berharap pengurus baru pada semangat semua, makanya diangkat tema itu. Kita gaungkan semangat ini keseluruh dunia. Apalagi mau Ramadlan dan Idul Fitri yang kegiatannya padat dan butuh banyak personil,” katanya.

Kader-kader NU sejak muda lanjutnya, harus diajarkan menjadi pemimpin yang bertanggung jawab. Hal ini disebabkan tindakan dan kebijakan yang diambil oleh pemimpin atau penguasa berdampak pada yang dipimpinnya.

“Kader NU diajarkan dalam mengambil kebijakan harus sejalan dengan kepentingan umum bukan untuk golongan atau untuk diri sendiri. Penguasa adalah pengayom dan pengemban kesengsaraan rakyat,” jelasnya.

Kepemimpinan lanjutnya, merupakan sebuah keniscayaan dalam sebuah perkumpulan ataupun suatu badan. Karena tanpa seorang pemimpin maka suatu perkumpulan tidak akan berjalan dengan baik. (Syarif Abdurrahman/Muhammad Faizin)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG