IMG-LOGO
Esai
RAMADHAN BERKAH

Ramadhan, Pasar Pengajian Pesantren

Rabu 8 Mei 2019 3:30 WIB
Bagikan:
Ramadhan, Pasar Pengajian Pesantren
Naji pasaran Ramadhan di Lirboyo
Oleh Syakir NF

Memang, Ramadhan merupakan bulan libur bagi para santri dari kegiatan yang sudah terjadwal dalam kurikulum pesantren. Tapi hal demikian tidak berarti mereka lepas dari kegiatan pengajian. Justru, Ramadhan menjadi wadah mereka untuk lebih giat menggali pundi-pundi pengetahuan dari banyak kiai. Mereka menyibukkan diri dengan kegiatan pengajian dari selepas sahur hingga hendak sahur lagi.

Para santri ini dibebaskan oleh pihak pesantren untuk mengaji apa, kepada siapa, dan di pesantren mana. Maka tak aneh jika ada migrasi santri dari pondok a ke pondok b, dan seterusnya. Santri Buntet, Cirebon, Jawa Barat, misalnya, menghabiskan masa Ramadhannya di Sarang, Rembang, Jawa Tengah. Hal tersebut sudah lumrah. Begitupun santri pondok lainnya yang pindah ke pondok yang tidak sedang mereka tinggali. Hal demikian dilakukan guna menambah jejaring sanad keilmuan, di samping menambah rekanan baru dan merasakan lingkungan baru di pondok lain.

Pengajian khusus bulan Ramadhan ini disebut pasanan atau posonan. Penamaan tersebut didasarkan pada kata puasa yang diberi akhiran an, puasanan, lalu berubah menjadi pasanan atau posonan. Ada pula yang menyebutnya pasaran. Istilah ini disebut sebagai sebuah metode pengajaran kitab kuning dengan kiai membacakan dan menjelaskan isinya, sedangkan santri hanya menyimak dan mencatatkan makna-maknanya. Artinya, santri tersebut tidak turut aktif berbicara. Metode demikian dikenal sebagai teacher centered. Metode demikian disebut juga metode bandungan. Akan tetapi, istilah pasaran juga ada yang mengartikannya seperti pasar mengingat para kiai membuka pengajian dan para santri bebas menentukan pilihannya, tidak terpaku pada kurikulum yang sudah ditentukan.

Pilihan mereka dijatuhkan karena dua alasan setidaknya. Pertama, santri ingin mengaji kitab yang belum pernah atau ingin mendalami kitab yang dibaca oleh kiai tertentu. Para kiai memang pada umumnya membaca kitab yang tidak biasa dibacakan atau tercantum dalam kurikulum.

Kedua, santri ingin mengaji tidak melihat kitabnya, tetapi dengan alasan ingin mengaji kepada kiai atau pesantrennya. Tidak peduli kitabnya apa, meski kitab tersebut sudah pernah ia pelajari sebelumnya. Umumnya, alasan kedua ini diterapkan oleh para santri yang ingin mengaji kepada kiai sepuh demi mengalap berkahnya. Ada pula yang karena ketokohan kiai tersebut sehingga dikenal luas oleh masyarakat. Terkadang, santri juga melihat sosok kiai yang dikenal pengetahuannya luas dan penjelasannya lugas. Hal demikian pernah dilakukan oleh KH Saifuddin Zuhri pada masa kecilnya dulu saat dikirim oleh ayahnya untuk mengaji di Pesantren Karangsari asuhan pamannya, KH Dimyati. Meskipun kitab yang dipelajari di sana sudah pernah ia dalami, yakni kitab Safinat al-Naja dan kitab al-Ajurumiyah, tetapi hal tersebut tidak menyurutkannya untuk belajar mengaji di pondok tersebut. Kiai Saifuddin sebelumnya pernah mengaji kitab Safinah secara sorogan kepada Kiai Hudori pada Ramadhan sebelumnya.

Adapun pilihan kitab para kiai beragam. Penulis melihat adanya kesukaan para kiai pada bidang kajian tertentu. Ada pula kiai yang saban tahun membaca satu kitab tertentu saja. Di Buntet, misalnya, saya menemui setidaknya tiga kiai yang membaca kitab yang sama di setiap tahunnya. KH Muhammad Abbas Fuad Hasyim, misalnya, yang setiap tahun membaca kitab Tafsir al-Jalalain melanjutkan pengajian yang dilakukan oleh kakaknya KH Luthfi el-Hakim. Sebelumnya, dibacakan oleh ayahnya, yakni KH Fuad Hasyim. Kiai Fuad melanjutkan guru sekaligus mertuanya, yakni KH Mustahdi Abbas. Kitab yang sama, Tafsir al-Jalalain, juga dibaca oleh KH Baidlowi Yusuf.

Di samping itu, guru penulis juga KH Muhadditsir Rifa'i saban tahun membaca kitab Tafsir Yasin selain mengajarkan Al-Qur'an qiraat sab'ah. Kiai Hadis, sapaan akrabnya, membaca kitab Tafsir Yasin karena melanjutkan ayahandanya, KH Abdullah Syifa Akyas.

Namun pada umumnya, para kiai membaca kitab berbeda-beda di setiap tahunnya. Atau jika sama pun dengan beberapa tahun sebelumnya.

Pengajian Ramadhan hanya dilaksanakan selama kurang dari sebulan. Umumnya, pengajian tersebut dimulai pada hari pertama Ramadhan hingga pertengahan atau sampai tanggal 20-an. Oleh karena itu, sesaat sebelum berpamitan kepada Kiai Dimyati, Kiai Saifuddin Zuhri mendapat wejangan dari pamannya itu.

"Kau cuma sebulan di sini, yaitu selama bulan Ramadhan, buat orang-orang yang menuntut ilmu itu belum berarti apa-apa," kata Kiai Haji Dimyati sebagaimana ditulis oleh KH Saifuddin Zuhri dalam bukunya Berangkat dari Pesantren.

Pesantren Daring (Online)

Di era digital saat ini, masyarakat santri tak perlu bingung jika sedang sibuk dengan berbagai kewajibannya, tetapi ingin mengikuti pengajian Ramadhan sesuai dengan keinginan. Hal tersebut bisa ditunaikan dengan mengaji daring (online). Tak sedikit kiai yang membuka pengajian secara daring, baik melalui Facebook maupun Youtube.

Dosen penulis, KH Ulil Abshar Abdalla, sudah di tahun ketiga ini mengampu kitab Ihya Ulumiddin. Di tahun ini, selain kitab tersebut, ia juga membaca dua kitab lain, yakni Himayat al-Kana'is fi al-Islam (Menjaga Gereja Menurut Islam), keluaran Kementerian Waqaf Mesir dan Watsiqat al-Ukhuwwah al-Insaniyyah (Dokumen Persaudaraan Kemanusiaan), dokumen bersejarah yang ditandatangani oleh Syaikh al-Azhar dan Paus Fransiskus pada 4 Februari 2019 di Abu Dhabi.

Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ahmad Mustofa Bisri juga membuka pengajian daring di pesantrennya. Melalui akun Youtube-nya, Gus Mus Channel, ia membaca kitab-kitab karya Imam al-Ghazali. Dua tahun lalu, mertua Gus Ulil itu membaca kitab Bidayatul Hidayah. Tahun ini, kiai yang juga dikenal sebagai budayawan ini membaca karya al-Ghazali yang lain, yakni Kimyaus Sa'adah.

Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj juga membuka pengajian daringnya di Facebook Teras Kiai Said. Ramadhan kali ini, Kiai Said membaca kitab Qasidatul Burdah saban bakda Subuh.

Keragaman kitab yang dikaji secara daring juga memberi kesempatan luas bagi para santri yang hendak mengaji di tengah kesibukannya. Meskipun tidak dapat mengikutinya secara langsung, mereka dapat mengikuti siaran tundanya dengan video yang sudah diunggah.

Kamu ngaji di mana?

Penulis adalah mahasiswa Fakultas Islam Nusantara Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) Jakarta.
Bagikan:
Senin 6 Mei 2019 7:0 WIB
Pesan Raja Ali Haji untuk Pemimpin Terpilih
Pesan Raja Ali Haji untuk Pemimpin Terpilih
Foto: Tirto.id
Oleh: Syakir NF
 
Pemilihan Umum (Pemilu) berlangsung dengan aman, lancar, dan damai. Meskipun demikian, hal tersebut harus mengorbankan lebih dari 400 nyawa para petugas akibat kelelahan karena prosesnya yang cukup panjang.
 
Pemilu telah usai, tinggal menunggu pengumuman pada tanggal 22 Mei 2019 mendatang. Siapapun yang terpilih nanti, baik presiden maupun anggota parlemen nanti, perlu kiranya untuk menyimak pesan begawan bahasa Indonesia, Raja Ali Haji.
 
Sosok sastrawan kelahiran 1808 itu dikenal dengan karya sastranya yang monumental, yakni Gurindam Dua Belas. Gurindam merupakan puisi lama yang satu bait terdiri dari dua baris dengan akhir baris berima aa. Sementara itu, Wilkinson, sarjana Inggris, sebagaimana dikutip oleh Maman S. Mahayana dalam Jalan Puisi dari Nusantara ke Negeri Poci, menyebutkan bahwa gurindam merupakan sesuatu pepatah berangkap yang disebutkan berpadan dengan tempatnya, sedangkan Van Ronkel, sarjana Belanda, menyebut gurindam sebagai seloka (spreukdicht).
 
Raja Ali Haji juga membuat ta'rif, pengertian, sendiri atas bentuk sastra hasil ijtihadnya itu. Ia menyebutkan definisinya tersebut dalam bagian pembuka naskah gurindam 12 yang ia susun, bahwa gurindam adalah perkataan yang bersajak pada akhir pasangannya, tetapi sempurna perkataan dengan satu pasangannya sehingga jadilah seperti sajak yang pertama itu syarat dan syair sajak yang kedua itu jadi seperti jawab. Hal itu penulis temukan dalam Naskah W 233, disalin oleh Afifuddin Ahmad, 1439 H, di Perpustakaan Nasional lantai 9, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta. Sebab, naskah aslinya sudah sangat rusak sehingga pustakawan tidak memperkenankan pembaca mengakses naskah aslinya.
 
 
Gurindam yang ia buat terdiri dari 12 fasal sehingga dikenal dengan sebutan Gurindam Dua Belas. Meski hanya 12 fasal, namun banyak pembahasan yang ditulis oleh peletak tata bahasa Melayu dan Indonesia itu, seperti akidah, syariat, hingga tasawuf. Tema politik juga tidak terkecualikan dalam magnum opusnya itu. Sebab, sebagaimana diungkapkan oleh Abdul Hadi WM, dalam Kembali ke Akar Kembali ke Sumber, bahwa para penulis sufi lazim menyampaikan kritik sosialnya secara halus, namun tajam dan menukik hingga permasalahan.
 
Setidaknya, penulis menemukan empat bait nasihat penting Raja Ali Haji untuk para pemimpin dalam menjalankan roda pemerintahan. Pertama, Raja Ali Haji berpesan agar para pemimpin dapat mengutamakan kepentingan bangsa. Hal ini penting mengingat keterpilihan mereka juga karena rakyat menaruh kepercayaan besar. Dalam Fasal 11, ia menulis bait pertamanya seperti berikut ini.
 
Hendaklah berjasa
Kepada yang sebangsa
 
Bait selanjutnya, sastrawan yang juga ulama itu mengingatkan agar laku positif itu perlu diimbangi dengan tidak melakukan pekerjaan negatif. Sebagai pemimpin, tentu harus mencerminkan dan melakukan hal yang baik untuk bangsanya. Sebagaimana kepala, ia harus mengatur seluruh anggota tubuhnya dengan baik.
 
Hendaklah jadi kepala
Buang perangai yang cela
 
Di samping itu, mengingat kepercayaan merupakan harta yang sangat berharga, maka tidak boleh disia-siakan begitu saja dengan laku dan perangai seperti di atas. Hal tersebut dipertegas oleh pengarang kitab Bustan al-Katibin itu dengan bait berikutnya di pasal yang sama.
 
Hendak memegang amanat
Buanglah khianat
 
Jika hal-hal di atas dapat terlaksana dengan baik, tentu tidak menjadi kebolehan bagi sang pemimpin tersebut untuk bertakabbur bahwa hal itu merupakan lakunya sebagai seorang yang adil, tidak pilih kasih kepada siapapun. Bukan sama sekali. Hal tersebut, kata Raja Ali Haji, merupakan pertolongan dari Allah.
 
Hukum adil atas rakyat
Tanda raja beroleh inayat
 
Meskipun karya sastra ini dibuat sejak lebih dari 100 tahun lalu, tetapi masih sangat relevan untuk konteks saat ini. Karena saat itu konteksnya kerajaan, maka ia menulisnya raja. Ada kemungkinan ia menulisnya presiden jika gurindam tersebut ditulis dalam konteks sekarang.
 

Penulis adalah mahasiswa Fakultas Islam Nusantara Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) Jakarta


Ahad 5 Mei 2019 14:30 WIB
Teguh, Teduh Bersaudara dalam Bingkai NKRI
Teguh, Teduh Bersaudara dalam Bingkai NKRI
Oleh: Abdul Muiz Ali*

Judul di atas terilhami dari acara Silaturrahim Nasional dalam rangka Hari Jadi ke-282 Pondok Pesantren Sidogiri, beberapa waktu lalu, tepatnya lima hari setelah Pemilu. Silaturahim ini dihadiri KH Yahya Cholil Staquf (Katib Aam PBNU), Saad Ibrahim (Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur) dan Habib Muhammad Hanif bin Abdurrahman Al-Attas (Ketua Umum Front Santri Indonesia-FPI).
Acara di Pondok Pesantren Sidogiri yang menghadirkan tiga narasumber dari perwakilan tiga ormas ini seperti sedang mengingatkan kita, saya khususnya, bahwa beda cara, apalagi beda pilihan jangan sampai mengorbankan tujuan yang lebih mulia; Beragama dan bernegara dengan menjunjung tinggi persatuan dan keutuhan. 
Dalam konteks pascapemilu, ada yang lebih penting dari sekedar mempertahankan suksesi kepemimpinan lima tahunan, yaitu teguh merawat dan mengisi kemerdekaan Republik Indonesia, teduh dalam persatuan dan terus merajut ukhuwah (persaudaraan) sesama anak bangsa. Hasil Pemilu serahkan kepada pihak KPU dengan tetap menjaga nilai-nilai luhur demokrasi.

Membangun Harmonisasi dan Menjaga NKRI
Islam adalah agama yang selalu menyeru pesan damai, bukan saja khusus bagi pemeluknya, tapi juga kepada semua pemeluk agama lain. Inilah hakikat Islam Rahmatan lil 'alamin yang menjadi tren cara berkehidupan umat Muslim dunia, terlebih di Indonesia yang terdiri dari berbagai ras, suku, budaya dan agama. 
Harmonisasi rakyat Indonesia sudah berjalan lama; hidup secara damai, berdampingan, gotong royong dengan tetap menghormati agama dan budaya masing-masing. Akar keharmonisan yang berjalan lama di Indonesia karena sama-sama didasari saling menjaga tiga pilar persaudaraan, yaitu; persaudaraan sebangsa dan setanah air (ukhuwah wathaniyah), persaudaraan sesama pemeluk agama Islam (ukhuwah Islamiah), dan persaudaraan sesama manusia (ukhuwah Insaniyah).
Semangat dan kokohnya tiga pilar persaudaraan diatas dalam rangka menjaga NKRI dianggap linier dengan hasil keputusan Ijtima Ulama Komisi Fatwa MUI se-Indonesia yang berbunyi;
  1. Kesepakatan bangsa Indonesia untuk membentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai ikhtiar untuk memelihara keluhuran agama dan mengatur kesejahteraan kehidupan bersama, adalah mengikat seluruh elemen bangsa.
  2. Pendirian NKRI adalah upaya final bangsa Indonesia untuk mendirikan negara di wilayah ini.
  3. Wilayah NKRI dihuni oleh penduduk yang sebagian besar beragama Islam, maka umat Islam wajib memelihara keutuhan NKRI dan menjaga dari segala bentuk pengkhianatan terhadap kesepakatan dan upaya pemisahan diri (separatisme) oleh siapapun dengan alasan apapun.
  4. Dalam rangka menghindarkan adanya pengkhianatan dan/atau pemisahan diri (separatisme) negara wajib melakukan upaya-upaya nyata untuk menciptakan rasa adil, aman dan sejahtera secara merata dan serta penyadaran terhadap elemen-elemen yang cenderung melakukan pengkhianatan atau separatisme.
  5. Upaya pengkhianatan terhadap kesepakatan bangsa Indonesia dan pemisahan diri (separatisme) dari Negara Kesatuan Republik Indonesia yang sah, dalam pandangan Islam termasuk bughat. Sedangkan bughat adalah haram hukumnya dan wajib diperangi oleh negara.
  6. Setiap orang, kelompok masyarakat, lembaga-lembaga atau organisasi-organisasi yang melibatkan diri, baik secara terang-terangan maupun tersembunyi, dalam aktivitasnya yang mengarah pada tindakan pemisahan diri (separatisme) dari NKRI adalah termasuk bughat. 
Anggota Komisi Fatwa MUI dan Pengurus Lembaga Dakwah PBNU
Selasa 23 April 2019 17:5 WIB
Meluruskan Disorientasi dan ‘Peradaban Sekedar’ di PMII
Meluruskan Disorientasi dan ‘Peradaban Sekedar’ di PMII
Oleh: Hilful Fudhul 

Beruntung sekali organisasi yang bernama PMII itu, karena lahir dua tokoh penting yang membawa api perubahan bagi banyak hal atau setidaknya perubahan bagi dunia yang digeluti oleh mereka berdua. Walau dari dunia yang berbeda, Mahbub Djunaidi dikenal sebagai pendekar pena sedang Zamroni sebagai konsolidator ulung. Zamroni menjadi tokoh penting angkatan 66 melalui organisasi Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia atau disingkat KAMI, sedang Mahbub seorang penulis melihat keterlibatan dirinya dengan organisasi macam Persatuan Wartawan Indonesia atau dikenal dengan singkatan PWI.

Keduanya telah tiada, sebagaimana hidup yang tak jelas maka hanya kematian yang pasti. Keduanya meninggalkan rumah yang sama ialah organisasi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia atau dikenal dengan nama PMII. Dua anak zaman yang tak pernah luput dari rekam sejarah bangsa yang tercatat ataupun tidak yang pasti mereka hidup di zaman yang serba tidak enak. Berhadapan langsung dengan rejim Orde Baru yang menindas dan tak jarang harus menerima konsekuensi terburuk seperti diasingkan atau bahkan dipenjara sebagaimana nasib Mahbub sang pendekar pena.

Pada dua ciri tokoh ini ada keunikan yang jarang bisa lagi kita temui pada diri kader PMII saat ini. Kondisi yang sebar tak pasti, kondisi yang tak lagi memberi arah tujuan. Kondisi seperti ini membuat saya merenung, sebenarnya untuk apa PMII itu lahir?, untuk mewarai zaman?, untuk sekedar ada sebagai sebuah eksistensi diri mahasiswa NU berkumpul, ngerumpiin zaman, ngebisikinnasib, atau hanya tempat kongkow yang tak berarti?

Pada kondisi yang serba tak menentu ini, kita merasa kehilangan sosok Mahbub yang mengabdikan dirinya bagi bangsa melalui tulisan-tulisan uniknya atau kehilangan sosok seperti Zamroni yang mampu mengkonsolidasikan berbagai varian gerakan mahasiswa. Mungkin di zaman yang serba tak pasti, jumud dan setiap makna mengalami pergeseran yang tak bisa terbacakan oleh siapapun kader PMII. Bahkan anehnya makna berorganisasi mulai kehilangan sandaran maknanya, produk organisasi, kaderisasi organisasi. Di zaman yang serba tak pasti, suara-suara bising kelelahan membaca zaman, jumud berorganisasi, semua akhirnya hanya menjadi sekedar saja. Sekedar berorganisasi, sekedar ber-PMII, sekedar ber-Aswaja, sekedar program kerja, sekedar aktivis, sekedar baca buku, sekedar diskusi.

‘Serba sekedar’ adalah kejumudan yang belum ada obatnya, banyak sudah yang mendiagnosis penyakit apa yang sedang menjangkiti PMII, dari tumor sampai masuk angin sudah diutarakan dan bahkan terurai dengan jelas. Tapi, penyakit kita adalah komplikasi. ‘Semua serba’ ada di sini. Yang bisa dilakukan adalah operasi dan bukan sekedar minum obat atau kerokan saja. Penyakit kita sudah akut, semua orang sudah tak boleh berdiam diri, kita semua perlu melakukan operasi agar penyakit ini sembuh dan menjadi pelajaran agar pola hidup berorganisasi mesti harus sehat.

Operasi Intelektualisme atau Tak Perlu?

Operasi itu bernama operasi intelektualisme. Diakui atau tidak, kedigdayaan peradaban Barat hari ini adalah hasil dari revolusi intelektual pada jaman dulu yang kerap kita kenal dengan era Renaissance dan diikuti dengan rangkaian pembebasan pikiran dari lingkungan gereja yang jumud kala itu. Kemudian inilah yang disebut oleh Gunnar Myrdal sebagai “revolusi besar intelektual”. Kemudian revolusi intelektual ini merambah ke masyarakat sehingga muncul revolusi sosia-ekonomi yang berdampak pada kemajuan peradaban barat yang kita kenal hari ini.

Sedikitnya kita sedang mengalami masa kegelapan, di mana sesuatu yang dilakukan dan dilaksanakan hanya menjadi sekedar memenuhi tuntutan berorganisasi, yang sakral menjadi tak ada artinya. Aswaja sebagai manhaj menjadi jumud dan kaku. Paradigma tak lagi menjadi tradisi sebab intelektualisme telah mati bersama dikuburnya materi paradigma kritis, karena belum ada paradigma resmi dari organisasi yang dibahas diforum-forum ‘dewa’ macam, kongres atau muspimnas.

Rupanya kita lupa bahwa revolusi intelektual akan berdampak pada peradaban bangsa, atau setidaknya peradaban organisasi. Maka jika PMII ingin menjadi bagian penting kehidupan bangsa, atau bahasanya politisi ulung atau relawan politik adalah ring satu kehidupan bangsa maka kita perlu mengadakan operasi intelektualisme. Agar menjadi pioner perubahan bangsa. Jika penyakit ini tidak segera diambil keputusan untuk mengadakan operasi, maka gagasan apapun seperti leading sector yaitu narasi merebut ruang strategi hanya menjadi omong kosong, karena lahir dari peradaban sekedar maka di ruang apapun hanya menjadi ‘sekedar’ dan bukan penggerak.

Operasi intelektual adalah cara untuk keluar dari penyakit kegelapan dan meyambut era Renaissance. Ini yang dilakukan oleh dua tokoh yang telah disebut diatas yaitu Mahbub serta Zamroni. Mereka berdua adalah penggerak yang pada diri mereka terdapat intelektualisme sebagai senjata atau setidaknya api kecil yang menjadi penerang bagi kegelapan bangsa Indonesia dalam selimut Orde Baru. Diakui atau tidak, kita fasih bicara peta perpolitikan nasional dan gagap membaca zaman.

Penulis adalah kader PMII Yogyakarta
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG
IMG