IMG-LOGO
Nasional

Jejak Pendekatan Kemanusiaan Gus Dur dalam Penyelesaian Konflik Aceh

Rabu 8 Mei 2019 4:0 WIB
Bagikan:
Jejak Pendekatan Kemanusiaan Gus Dur dalam Penyelesaian Konflik Aceh

Jakarta, NU Online

“Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur adalah seorang presiden yang humanis. Ia mendahulukan pendekatan kemanusiaan untuk menyelesaikan sejumlah konflik, termasuk konflik di Aceh. Dia merupakan tokoh penting dalam penyelesaian konflik yang telah lama berlangsung di Aceh. Saya beruntung waktu itu ditunjuk sebagai ketua tim negosiator dalam menyelesaikan konflik di Aceh”.

Kalimat itu dikemukakan Hasan Wirajuda saat menyampaikan sebuah mata kuliah bertajuk “The role of leadership in conflict resolution, negotiation and mediation” di kampus School of Government and Public Policy, Sentul Bogor, Selasa, (7/5).

Dia menyontohkan bagaimana pentingnya faktor kepemimpinan dalam melihat sebuah sengketa secara jeli sehingga dapat menemukan jalan keluar yang bisa diambil oleh dua kelompok yang sedang berseberangan. Pendekatan yang dilakukan Gus Dur saat itu mengubah banyak hal. Cara yang diterapkan Gus Dur untuk menghadapi kelompok Gerakan Aceh Merdeka (GAM) sangat berbeda dengan pemerintah sebelumnya yang memilih pendekatan militeristik.

Perubahan itu nyatanya membuahkan hasil. Konflik yang telah terjadi sejak tahun 1976 sejak kepemimpinan Suharto perlahan mencair setelah 23 tahun di era Gus Dur pada tahun 1999 saat Gus Dur menjabat presiden. Gus Dur berhasil menawarkan jalan keluar yang baik untuk kedua belah pihak.

“Cara dialog yang ditawarkan Gus Dur bukan tanpa halangan. Penolakan datang dari mana-mana termasuk dari militer kita sendiri waktu itu,” lanjut Hasan. Sikap itu dari sisi yang lain juga bisa dipahami mengingat militer tidak ditugaskan untuk melakukan tugas-tugas negosiasi, namun lebih kepada menjaga teritori dengan cara yang milieristik, dengan cara lebih kasar.

Hari-hari saat penyelesaian konflik Aceh tak akan pernah dilupakan oleh mantan menteri luar negeri era Megawati ini. Ia terlibat secara langsung di garda paling depan setelah ditunjuk Gus Dur sebagai kepala tim negosiator untuk menyelesaikan konflik tersebut. Tak mudah menyelesaikan konflik yang sudah terjadi puluhan tahun.

Rekam jejak serupa juga pernah dituangkan Teuku Kemal Fasya dalam sebuah tulisan berjudul Gus Dur dan Aceh yang pernah dipublikasikan Kompas, 30 Desember 2014. Dalam tulisannya Teuku merekam kehadiran Gus Dur di Aceh pada 17 September 1999, dalam rangka menyelesaikan konflik tersebut. Hari itu merupakan salah satu dari banyak kunjungan Gus Dur ke tanah rencong tersebur. Di sana, Gus Dur menemui semua kalangan mulai dari pemerintah, tokoh masyarakat, ulama, aktivis HAM, aktivis perempuan dan kelompok lain.

Dalam keadaan segenting itu Gus Dur ‘turun’ sendiri untuk menyelesaikan konflik, seolah tak takut akan keselamatannya masuk kawasan yang masih berkonflik. Dalam menggambarkan itu, Teuku menulis… “Dasar Gus Dur bukan seorang yang penakut dan traumatis, ia malah semakin intensif berkomunikasi dengan masyarakat Aceh. Sejak dilantik sebagai presiden, ia terus melakukan pendekatan menyelesaikan konflik secara nonmiliter. Berpuluh kelompok masyarakat Aceh bertemu dengannya, baik di Ciganjur, Istana Negara, Hotel Peninsula, atau di kediaman orang kepercayaan Gus Dur, H. Masnuh. Semua kalangan diterimanya: aktivis mahasiswa, aktivis perempuan, ulama, politikus, dan juga tokoh Gerakan Aceh Merdeka (GAM) tanpa protokoler yang ketat. Pertemuan itu tidak hanya sekali, tapi berkali-kali!”.

Kebijakan menggunakan dialog sebagai cara menyelesaikan konflik dianggap anomali. Sebab selagi Gus Dur menawarkan dialog, baku tempur antara militer dan GAM di lapangan masih terjadi dan seolah merusak harapan perdamaian. Belum lagi adanya pertentangan dari parlemen. Meskipun upaya perdamaian yang kadung dilakukan gagal, Gus Dur tak patah arang, apalagi berbalik arah memilih pendekatan represif seperti pemerintah sebelumnya. Bahkan dalam sebuah pertemuan dengan kami kelompok aktivis mahasiswa pascakegagalan Jeda Kemanusiaan (Humanitarian Pause) Gus Dur berucap, selama ia menjadi presidennya, adalah haram mengambil kebijakan operasi militer lagi untuk Aceh.

Secara umum, menurut paparan Hasan Wirajuda, ada beberapa tahapan penyelesaian koflik ini; yang pertama terjadi pada tahun 1999. Lalu dilanjutkan pada tahun 2001. Selanjutnya saat kepemimpinan presiden Megawati. Hingga puncaknya kesepakatan pada tahun 2004 saat kepemimpinan SBY. Proses sepanjang itu tak lain merupakan buah dari keberanian Gus Dur mengubah cara penyelesaian konflik dari cara militeristik menjadi cara yang lebih humanistik. (Ahmad Rozali)

Bagikan:
Rabu 8 Mei 2019 22:30 WIB
Ini Kata Andre Taulany Usai Bertemu Kiai Said
Ini Kata Andre Taulany Usai Bertemu Kiai Said

Jakarta, NU Online
Komedian Andre Taulany mengaku bersyukur bisa berkunjung ke kantor PBNU (Pengurus Besar Nahdlatul Ulama), dan diterima oleh KH Said Aqil Siroj. Sebab menurutnya, banyak ilmu dan nasihat yang diperoleh seusai pertemuannya dengan Kiai Said, sapaan akrab Ketua Umum PBNU tersebut.

"Selain bersilaturahmi dengan Pak Kiai, alhamdulillah saya juga banyak mendapatkan ilmu yang tentu saja ini menjadi berkah yang insyaallah mudah-mudahan bisa saya amalkan," kata Andre di Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Rabu (8/5).

Andre juga menyatakan bahwa dirinya diberikan tasbih dan ijazah untuk memperbanyak baca shalawat dan membaca Al-Qur'an Surat At-Taubah ayat 128 pada pagi dan sore hari. Pemberian tersebut dimaksudkan agar Andre menjadi pribadi yang lebih baik dengan cara mendekatkan diri kepada Allah.

"Insyaallah mudah-mudahan ini bisa saya gunakan setiap kalau saya berdzikir, bershalawat untuk membekali diri supaya menjadi lebih baik lagi," ucapnya.

Selain itu, pria yang pernah menjadi vokalis grup band Stinky itu juga meminta maaf atas kekhilafan yang dilakukannya, dan menyampaikan terima kasih atas dukungan moril Kiai Said dan pengurus NU lainnya.

"Semoga (ini) menjadi pembelajaran buat saya sendiri supaya bisa lebih baik dan lebih berhati-hati," ucapnya.

Ia berharap, kejadian yang menimpa dirinya tidak akan terulang lagi. Kepada Kiai Said, ia meminta agar tidak lelah membimbing dan menuntunnya.

"Saya juga memohon bimbingan dari Pak Kiai apabila saya ada salah atau khilaf, mohon saya diingatkan dan dituntun ke arah yang lebih baik," pungkasnya.

Sebagaimana diketahui, Andre Taulany sedang menjadi perhatian publik atas dugaan menghina Nabi Muhammad melalui candaannya di salah satu stasiun televisi pada 2017. (Husni Sahal/Aryudi AR).  

Rabu 8 Mei 2019 22:0 WIB
Seri Ngaji Pasanan
Gus Mus Jelaskan Makna Qolbu di Hari Pertama Ngaji Pasanan
Gus Mus Jelaskan Makna Qolbu di Hari Pertama Ngaji Pasanan
KH A Musthofa Bisri (Gus Mus)
Rembang, NU Online
Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH A Musthofa Bisri (Gus Mus) menjelaskan makna qolbu bukanlah hati secara fisik. Melainkan qolbu adalah sesuatu yang berhubungan dengan jiwa, nafsu, dan akal yang sifatnya ghaib.

Demikian itu disampaikan dalam malam pertama Ngaji Pasanan Kitab Kimya as-Sa’adah karya Imam Al-Ghazali di Pondok Raudlatuth Thalibien, Leteh, Rembang, Senin (06/05) malam.

“Qolbu bukanlah potongan daging yang berada di dada sebelah kiri. Sebenarnya yang digambarkan orang-orang mengenai hati itu adalah jantung bukan hati. Dan yang dikatakan mengenai hati tidak seperti yang diperkirakan banyak orang,” kata Gus Mus.

Kalau di Arab, lanjut Gus Mus, orang mau beli hati hewan itu juga tidak bisa pakai istilah qolbu tetapi qibdah. Maka di kitab ini Imam Al-Ghazali merumuskan qolbu itu bukan potongan daging itu yang dimaksud. Sebab hati yang bisa dilihat itu berasal dari alam syahadah (bisa disaksikan), padahal qolbu itu sifatnya ghaib. Hanya dia sendiri dan Allah yang tahu kondisi qolbu seseorang.

“Adapun hakikat hati adalah bukan dari alam syahadah. Tetapi hanya ada di alam ghaib. Jadi bukan jantung atau hati secara fisik, tetapi memang hakikat hati (qolbu) itu sesungguhnya ghaib,” ujar Gus Mus.

Meski begitu, kata Gus Mus, dalam diri manusia qolbu ini tetap butuh sandaran. Ia melekat pada hati yang secara fisik bisa dilihat itu. Maka dikatakan dalam hadits ada salah satu bagian tubuh manusia yang jika baik maka seluruhnya baik dan jika rusak maka rusaklah seluruhnya.

Qolbu itu bukan dari alam syahadah tetapi dari alam ghaib. Ia bersandar pada hati secara fisik itu, tetapi bukan yang kelihatan itu. Dan qolbu itu adalah raja, ia bisa mengenali Allah, dan sifat-sifat keindahan alam semesta ini dikenali qolbu,” jelasnya.

Gus Mus mengatakan bahwa qolbu ini hanya diberikan kepada manusia. Maka sejatinya yang dihukum sebab dosa itu pertama kali hati (qolbu), maka termasuk yang menjadi bagian dari qolbu adalah akal.

Taklif atau akal itu berada dalam qolbu. Yang kamu merasa sedih, perihatin, susah itu tempatnya di qolbu. Begitu juga yang kamu merasa bahagia sampai lupa diri itu juga sebab ada qolbu,” paparnya.

Gus Mus melanjutkan, orang yang hilang nyawanya, hilang juga hatinya. Maka Imam Al-Ghazali dalam kitab itu mengatakan wajib bagi manusia untuk sungguh-sungguh dalam mengenal qolbu. Sebab qolbu menurut Imam Al-Ghazali adalah inti yang mulia dari jenisnya inti malaikat.

“Maka kadang (qolbu) ini disebut hati nurani karena bentuknya cahaya, bukan bersifat fisik atau jasad,” pungkas Gus Mus dengan kata Tsumma qola, Wallahu A’lam Bisshowab.

Ngaji Pasanan akan dilanjutkan malam ketiga Ramadhan dan seterusnya setelah sholat tarawih. Bagi netizen yang ingin mengikutinya bisa menyaksikan melalui siaran langsung (live streaming) di Youtube pada Gus Mus Channel atau NU Channel. (Red: Muiz)
Rabu 8 Mei 2019 18:30 WIB
IPNU Gelar Ngaji Ramadhan 1440 H di Instagram
IPNU Gelar Ngaji Ramadhan 1440 H di Instagram
Ilustrasi (Ist.)
Jakarta, NU Online
Ramadhan menjadi ladang pahala dan pengetahuan bagi segenap Muslim. Terlebih santri, bulan suci ini merupakan waktu yang tepat untuk mengumpulkan pundi-pundi ilmu.

Hal inilah yang coba difasilitasi oleh Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (PP IPNU) dalam mengisi Ramadhan 1440 H dengan menggelar siaran langsung pengajian Ramadhan bersama pengurus PP IPNU di Instagram resmi PP IPNU setelah tarawih.

"Instagram merupakan salah satu medsos paling favorit di kalangan milenial sehingga kami perlu memberikan edukasi dan dakwah melalui platform ini," ujar Aswandi, Ketua Umum IPNU kepada NU Online, pada Rabu (8/5).

Lebih lanjut, Aswandi mengungkapkan bahwa kegiatan ini bagian dari upaya IPNU untuk meningkatkan mutu dan kualitas sumber daya manusia anggotanya, baik secara spiritual, intelektual, maupun emosional.

"Karena konten berisi pesan spiritual dan intelektual, sedangkan interaksi melalui medsos ini bagian dari pendekatan emosional," ungkapnya.

Selain pengajian tematik seputar Ramadhan, melalui akun media sosialnya, PP IPNU juga menghadirkan infografis bertema Ramadhan, seperti niat dan doa buka puasa, hukum-hukum puasa, dan sebagainya.

"Ini bagian dari dakwah digital kami yang langsung menyasar pelajar karena pengikut kami di Instagram mayoritas usia pelajar dan mahasiswa. 56 persen usia 18-24 tahun," kata Mufarrihul Hazin, Sekretaris Umum PP IPNU.

Oleh karena itu, menurutnya, hal tersebut perlu dimanfaatkan betul agar para pelajar dapat memperoleh manfaatnya. "Setidaknya, jika mereka membuka akun medsosnya, dapat sedikit pencerahan dari akun Instagram resmi PP IPNU," pungkas doktor termuda lulusan Universitas Negeri Surabaya itu. (Syakir NF/Muhammad Faizin)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG