IMG-LOGO
Opini

Akar Masalah yang Menghambat Kedaulatan Pangan Indonesia

Rabu 8 Mei 2019 13:15 WIB
Bagikan:
Akar Masalah yang Menghambat Kedaulatan Pangan Indonesia
Oleh Muhammad Syamsudin

Dalam dua dasawarsa terakhir ini, pangan menjadi topik menarik untuk diperbincangkan. Tidak hanya di Indonesia, tapi juga di seluruh dunia, sejak mulai dari wilayah dusun-dusun terpencil, sampai dengan wilayah perkotaannya. Topik ini tidak berhenti sebatas dalam perbincangan saja, melainkan juga telah menjadi aksi sosial dan menimbulkan gejolak. Tercatat, ada Mesir, Bolivia, Madagaskar, Haiti, Ethiopia, Pakistan, Kamerun, Burkima Faso, Senegal, Filipina, dan bahkan di negara kita tercinta ini, Indonesia. Latar belakangnya sederhana dan merupakan ranah klasik pembahasan, yakni menipisnya persediaan pangan dunia sehingga melahirkan spekulasi harga di tengah krisis lain naik turunnya harga minyak dunia yang menambah iklim ketidakpastian itu. 

Jumlah penduduk kelaparan dan kurang gizi terus meningkat di seluruh belahan bumi. Anak-anak dan perempuan menempati rating yang paling tinggi menjadi korban. Meskipun kaum laki-laki juga turut menjadi korban, tapi agaknya kaum perempuan justru memiliki pengalaman lain ekses yang berbeda. Dalam kondisi kurang pangan, dalam berbagai kasus penelitian ditemukan bahwa perempuan tetap mendapat kesempatan terakhir untuk makan dalam keluarga. Sebagai imbasnya, kebutuhan kalori perempuan per hari menjadi tidak tercukupi meskipun dalam taraf minimal. Karena peran perempuan adalah juga menempati peran reproduksi, kelaparan dan kurang gizi padanya secara tidak langsung akan memiliki dampak yang simultan terhadap generasi yang akan datang. Kekurangan gizi pada ibu hamil dan menyusui, dapat berpengaruh terhadap kesehatan dirinya, bayi yang dikandung dan konsumsi ASI pada bayi menjadi tidak optimal. Bayi yang lahir dari ibu yang kurang gizi dapat berakibat pada hambatan pertumbuhan si anak dan perkembangan otaknya. 

Melonjaknya harga pangan di pasaran global secara tidak langsung membawa ekses kepada Indonesia. Negara yang dulu dikenal sebagai negara agraris dan pernah mengekspor beras, kini sedang menghadapi krisis pangan. Soeharto yang waktu itu menjabat sebagai presiden, pernah mendapat penghargaan dari organisasi pangan dunia FAO sebagai Bapak Pembangunan karena mampu mewujudkan swasembada beras. Namun kebanggaan ini tampaknya tidak berlangsung lama, karena dalam waktu kurang lebih hanya selang 3 dekade saja (24 tahun), gelar ini langsung lenyap bak ditelan bumi. Kemana larinya?

Indonesia kini sedang menghadapi krisis pangan seiring dengan naiknya harga BBM. Harga pangan di pasar dunia mulai beranjak naik sejak pertengahan tahun 1990-an. Tahun 2006 harga semakin melonjak secara fluktuatif pada kisaran 16% hingga 140% dibanding dekade sebelum 1990-an, terutama terhadap produk biji-bijian, seperti beras, gandum, jagung, dan lain-lain. Tidak hanya pada produk ini, produk perikanan dan perkebunan kelapa sawit juga turut mengalami lonjakan harga. 

Tahun 2006-2008 tercatat, lonjakan (fluktuasi) harga pangan itu berlangsung paling lama dibanding tahun-tahun sebelumnya. Harga beras di pasaran global tak stabil, berkisar antara 900-1000 dolar/ton yang diakibatkan permintaan beras yang melonjak naik sementara ketersediaan cadangan pangan sebagai wujud ketahanan pangan menurun hingga kurang lebih 3.5% atau sekitar 29.9 juta ton. 

Jika dianalisis lebih lanjut, penurunan yang terjadi kala itu adalah dipengaruhi beberapa faktor, yaitu:

1. Negara-negara pengekspor beras kala itu, yaitu Vietnam dan Thailand, menghentikan pasokan berasnya ke pasaran dunia diakibatkan kebutuhan mencukupi ketahanan pangan negaranya sendiri. 

2. Naiknya kebutuhan bahan bakar biologi dan ramah lingkungan oleh  beberapa perusahaan dan industri negara maju, sebagai akibat regulasi lingkungan, membawa akibat digusurnya beberapa lahan yang dulu dipergunakan sebagai lahan pertanian menjadi lahan perkebunan industri, ekses dari upaya mencukupi kebutuhan bahan bakar tersebut (agrofuel).

3. Adanya dampak perubahan iklim global yang mengakibatkan beberapa belahan dunia dilanda kekeringan, seperti Australia dan India, bahkan Amerika dan Jepang, membawa ekses pada penurunan kapasitas produksi beras dan jumlah pasokan pangan dunia.

4. Kenaikan harga minyak dunia hingga mencapai 135 dolar/barel (kala itu) turut menjadi penyumbang semakin mahalnya harga pangan tersebut ketika sampai di tangan konsumen kelas negara. 

Keempat situasi ini, secara tidak langsung telah memicu pada munculnya tindakan spekulatif di pasaran global, khususnya yang dilakukan oleh para investor pedagang besar. Tindakan tidak terpuji dari sejumlah netizen yang aktif dalam perdagangan Forex dan Binary juga menjadi satu bagian faktor penyebab munculnya tindakan spekulan pasar ini. 

Indonesia yang telah menjadi negara pengimpor beras sebelumnya (food net importer), hingga pertengahan tahun 1990-an, tak luput dari krisis ini. Persediaan pangan Indonesia sangat tergantung pada ketersediaan dan harga beras di pasaran Internasional. Menurut data dari Kementerian Pertanian, dalam satu dasawarsa (10 tahun), yakni kisaran tahun 1996-2006, Indonesia kala itu sudah harus menghabiskan cadangan devisanya sebesar 14.7 Triliun per tahun, hanya untuk keperluan pengadaan beras melalui impor saja. 

Data ini apabila dikroscekkan dengan data dari organisasi perdagangan dunia (WTO) akan menemui kesinkronan. Tahun 2006 saja, Indonesia sudah menjadi pemasok beras "terbesar" di dunia, yaitu mencapai 4.8 juta ton per tahun dengan rata-rata angka impor sebesar 3.2 juta ton per tahun. Padahal kemampuan pasokan beras dunia ke pasar Internasional adalah 320 juta ton rata-rata per tahun. Ini berarti, Indonesia merupakan negara pemasok 10% cadangan beras dunia. Sedemikian besar Indonesia memiliki ketergantungan pada beras di luar negeri sehingga ketidakpastian supply dan harganya di pasaran dunia, dapat berpengaruh secara simultan terhadap masyarakat Indonesia. Apalagi, beras sudah menjadi tren budaya makan Indonesia. Jika belum makan nasi beras, orang Indonesia bisa bilang: "saya belum makan", meskipun sudah habis singkong sepiring. (Data FAO Symposium on Agriculture, Trade and Food Security, Geneva, 23-24 September 2019).

Mahalnya harga beras, secara linier dapat berakibat pada naiknya jumlah penderita kelaparan, busung lapar atau bahkan mati akibat kelaparan. Jumlah ibu hamil yang kurang gizi dan ibu menyusui, serta anak-anak yang menderita busung lapar, akan semakin bertambah. Kematian ibu hamil juga akan menjadi meningkat. Tercatat 307 per 100 ribu orang ibu hamil, meninggal akibat kekurangan gizi itu, 3 kali lebih besar dari Vietnam, per tahun 2008. Tak heran bila FAO, sebagai induk organisasi pangan dunia , sudah memperingatkan jauh-jauh hari (tahun 2001), bahwa setiap hari telah terjadi kematian sebanyak 24 ribu ibu hamil akibat kelaparan dan penyakit uang diakibatkan pangan. Ironis, bukan. Padahal ikrar setia FAO adalah memerangi jumlah kelaparan menjadi separuhnya pada tahun 2015. Namun, seiring dengan krisis pangan ini, angka itu dapat melonjak tajam mencapai prediksi 122 juta per tahun orang akan mati akibat kelaparan, di seluruh dunia. 

Sebenarnya, apa akar masalahnya? Jika ditelusuri, sebenarnya akar masalah utama selain 4 faktor yang sudah disebutkan di muka, ada faktor lain yang berhubungan dengan petani. Petani sebagai produsen pertanian telah mengalami defisit penghasilan. Antara biaya perawatan dengan hasil panen tidak berimbang, bahkan sering jatuh dalam kebangkrutan. Teknologi pengadaan beras, seperti ketersediaan bibit unggul, terlalu mahal bagi petani. Padahal sebagian besar dari petani ini berlahan sempit. Biaya ini masih ditambah dengan biaya lain seperti kebutuhan pestisida, menyewa traktor, menyewa diesel, biaya pemeliharaan dan panen, bahkan biaya pupuk, semuanya dirasa menjadi faktor utama menjadi penyebab, khususnya di tanah air. 

Kebanyakan petani mengeluh bahwa hasil panen hanya cukup untuk menutup kebutuhan utang saprodi dan gali lubang utang baru untuk masa tanam berikutnya. Kondisi ini seringkali terus berulang sehingga berakibat jeratan utang yang mencekik petani menjadi semakin berkepanjangan. Meskipun pemerintah sudah menetapkan Harga Pokok Pertanian (HPP) setiap masa panennya per tahun, namun dirasa hal itu belum mencukupi. Petani masih belum mendapatkan keuntungan karena nilai tukar petani yang sangat rendah karena berbagai hal:

1. Dalam banyak kasus, spekulan swastalah yang banyak membeli produk gabah itu dengan harga sudah ditetapkan di muka

2. Tingginya harga pupuk hingga mencapai 140 ribu per zak Urea pada kisaran tahun ini

3. Serbuan beras impor yang berada di luar kendali pemerintah dan masuk ke pasaran saat petani panen.

4. Harga produk pertanian lebih tinggi dari harga produk pertanian. Akibatnya, peningkatan kebutuhan penyesuaian gaya hidup petani menjadi tidak dapat dilakukan. Apalagi transfer pengetahuan dan teknologi. 

Sebenarnya kasus ini tidak hanya terhenti pada petani, tapi juga nelayan dan lain sebagainya. Sedemikian kompleksnya masalah, maka penting bagi pemerintah untuk membina dan merawat produsen dasar ini mulai dari andil langsung terhadap sumber pokok masalah. Berantas spekulan pasar! Jika perlu cabut izinnya! Wallâhu a'lam bish shawâb.


Penulis adalah Tim Peneliti Bidang Ekonomi Syariah Aswaja NU Center PWNU Jatim dan Wakil Sekretaris Bidang Maudluiyah LBMNU PWNU Jatim.


Bagikan:
Rabu 8 Mei 2019 6:0 WIB
Pesantren dan Pemuliaan Adab Literasi di Era Digital
Pesantren dan Pemuliaan Adab Literasi di Era Digital
Oleh: Muhammad Ghufron

Pesantren sebagai institusi ilmu keagamaan tertua di Nusantara, sedari awal berdirinya membawa misi mencetak insan-insan yang berpengetahuan luas dengan berlandaskan akidah Ahlusunnah wal Jama’ah. Salah satu instrumen fundamental yang digunakan pesantren dalam mencetak generasi yang demikian ialah menggembleng para santri dengan berbagai ajaran keagamaan serta ilmu pengetahuan umum untuk meluaskan spektrum berpikir santri.

Namun, dalam taraf perkembangan lebih lanjut, pesantren kian akomodatif dengan dinamika zaman tanpa menghilangkan substansi ajarannya yang paling fundamental (keagamaan). Pada titik ini, pesantren telah membuka ruang bagi para santri untuk mencerna berbagai transfer ilmu pengetahuan. Sehingga, tidak hanya kitab-kitab klasik saja yang dijadikan medium pembelajaran. Akan tetapi, buku-buku yang mencakup berbagai disiplin ilmu pengetahuan pun juga mewarnai jagat literatur pesantren. 

Realitas yang demikian telah mengantarkan kondisi santri yang begitu getol bergelut dengan dunia literasi. Salah satunya dengan aktivitas membaca buku apa saja yang sekiranya bisa untuk memperluas spektrum berpikir. Bagi kehidupan santri, eksistensi buku-buku menjadi makanan pokok yang wajib dibaca sebagai suplemen gizi batin. Tak peduli buku dari berbagai jenis kategori pun dilahap. Seolah buku menjelma bak kekasih yang bisa membuka cakrawala cinta yang cerdas.

Relasi santri dengan aktivitas membaca pun terjalin begitu intim. Buku-buku menjadi teman bercakap yang bisa mengisi waktu senggang mereka. Inilah salah satu bentuk implementasi konkret dari ajaran untuk menghargai waktu. Semuanya harus diisi dengan aktivitas yang bersifat edukatif. Dan, aktivitas membaca termasuk salah satu dari sekian banyak kegiatan edukatif yang ditekuni. Dari kebiasaan membaca inilah yang pada akhirnya pesantren menjadi ladang gembur tumbuh suburnya kader-kader penulis yang produktif. 

Beberapa tahun terakhir nama-nama penulis berlatar pesantren mulai menyeruak ke permukaan, mewarnai jagat literatur nasional. Memberi sumbangsih tersendiri dalam pergumulan ide dan imajinasi publik. Banyak tulisan mereka dari berbagai jenis kategori berhasil berkibar di media massa cetak maupun online. Mereka telah benar-benar memanfaatkan eksistensi media massa sebagai ruang mengasah kreativitas.  

Nama pesantren pun kian tenar tidak hanya sebagai pencetak seorang alim ilmu agama, tapi dengan sendirinya masyhur memproduksi penulis-penulis berskala nasional. Sekelumit contoh misalkan, M Musthafa, Jamal D Rahman, Mohammad al-Fayyadl, Raedu Basha, dan Mohammad Ali Fakih merupakan contoh penulis yang mewakili generasi muda berlatar proses kreatif Pesantren Annuqayah. Dari generasi 1980-an kita lihat, D Zawawi Imron, Ahmad Tohari, A Mustofa Bisri, Faisal Ismail, dan Emha Ainun Nadjib. Kesemuanya merupakan representasi penulis berlatar pesantren yang kapasitas keilmuannya sudah tidak bisa disangkal lagi.

Lahirnya penulis-penulis berlatar pesantren dengan kekhasan di setiap karyanya merupakan angin segar bagi kita. Biar bagaimanapun pesantren seolah menjadi tempat bagi persemaian para penulis berbakat. Alih-alih sambil belajar ilmu agama, justru tidak menampik diri pada geliat  kegitan sawala ilmiah dan sastra. Di bilik-bilik maupun di serambi-serambi pesantren kini menjadi tempat di mana forum-forum dan komunitas diskusi berpendar secara massif. 

Melalui diskusi kecil-kecilan inilah pemuliaan adab literasi kian menemukan momentumnya. Ia hendak menjadi wadah yang bersedia menuntun ke arah pemajuan selebrasi gairah literer. Di mana pertukaran ide mengalir begitu saja sebagai manifestasi dari kebebasan berkespresi. Hingga, memunculkan perspektif baru yang bisa membidani proses kreatif menulis. 

Selain diskusi, sepi menjadi suasana ampuh melahirkan sebuah karya. Di sudut-sudut pesantren pada waktu malam, kita akan bertemu dengan segelintir santri yang menaruh loyalitas pada sepi. Bagi sebagian santri, dalam sepi terdapat eksistensi inspirasi yang beranak-pinak. Barangkali inilah salah satu proses kreatif menulis santri yang jarang diulik oleh publik. Selain itu, secara historis-geneologis gairah literasi pesantren yang tetap membuhul hingga kini tentu tidak bisa dilepaskan dari inspirasi masa lalu. 

Inspirasi Masa Lalu untuk Masa Depan Literasi

Ada adagium tradisi kenabian yang mengajarkan "Ikatlah ilmu dengan tulisan." Adagium tersebut menjadi fundamen bagi para ulama masa silam untuk menuangkan gagasannya dalam bentuk tulisan. Para ulama sadar akan peribahasa latin yang berbunyi "Verba Volant, Scripta Manent," Ungkapan akan cepat menguap, sedangkan tulisan akan tetap mengabadi. Para ulama semisal Syaikh Nawawi al-Bantani, Imam al-Ghazali, dan Imam as-Syafi’ie memberikan ihwal kerja keabadian itu bagi kita. 

Imam al- Ghazali misalnya, dengan nada yang menggebu seolah menyadarkan kita akan pentingnya semangat menumbuhkan jiwa literasi. Dirinya berujar, "Kalau kamu bukan anak raja, kalau kamu bukan anak pejabat, maka jadilah penulis". Demikianlah kata Ayyuha al- Walad, Imam al-Ghazali yang masih relevan untuk dikontekstualisasikan hingga kini. Maka, menekuni dunia literasi bagi ulama masa silam semisal al-Ghazali merupakan puncak manifestasi hasrat yang tak tertangguhkan. 

Mereka menghasilkan karya-karya fenomenal yang hingga kini masih tetap mengabadi. Kitab-kitab mereka dipelajari dan dikaji oleh generasi-generasi berikutnya sebagai sumber ilmu, rujukan mengolah iman, dan suluh mengimajinasikan bangsa. Meski mereka sudah tiada, namanya tetap diingat sebagai ulama yang produktif dalam menulis. Jihad mereka, jihad keabadian. Mereka telah bekerja melampaui jauh sebelum Pramoedya berucap, "Menulis adalah bekerja untuk keabadian." Itulah salah satu manifestasi ikhtiar ulama masa silam yang memberi sumbangsih terhadap literatur khazanah peradaban Islam. 

Maka benar jika Azyumardi Azra suatu kali dalam perjumpaan intelektual Muslim mengatakan, "Peradaban Islam adalah peradaban buku-buku; jalan hidup Muslim dipandu buku; dan kita menemukan nilai hidup kita hanya dalam buku-buku. Tuhan kita termanifestasi dalam buku; dan identitas kita terbentuk oleh buku-buku. Jadi bagaimana bisa ada orang di antara kita yang merusak buku. Dan menjadi penghianat buku-buku."

Dengan menoleh ke geliat literasi ulama masa silam justru kian menumbuhkan eksplorasi imajinatif untuk lebih getol memajukan adab literasi. Pada titik ini santri telah berhasil mengafirmasi pepatah Yunani kuno "Historia Magistra Vitae". Sejarah adalah guru kehidupan. Dan, di dalam sejarah kita akan bertemu dengan mercusuar inspirasi yang berpendar relevan bagi masa depan. Termasuk inspirasi dari ulama masa silam.

Di era digital saat ini, pesantren masih tetap ajeg dengan geliat etos literasi. Para santri tetap nyaman menekuni laku literasi dengan tetap berpangku pada nilai-nilai kepesantrenan tanpa terpengaruh oleh gemuruh isu-isu provokatif yang bertebaran di media sosial. Seolah terjadi semacam pemuliaan terhadap adab literasi di pesantren. Dari literasi pesantren diharapkan mampu menjadi kiblat bagi pemajuan selebrasi adab literasi bangsa kita yang hampir terperosok ke tubir mengerikan kehancuran literasi yang menurut laporan Central Connectut State University (2016) menempati peringkat 60 dari 61 negara. Semoga.

Penulis adalah arsiparis perpustakaan Pondok Pesantren  Annuqayah daerah Lubangsa, penggerak Komunitas Menulis Pasra (Kompas)


Selasa 7 Mei 2019 19:0 WIB
Tantangan Dakwah Pesantren di Era Disrupsi
Tantangan Dakwah Pesantren di Era Disrupsi
Seorang kiai melakukan tapping video ceramah (dok: NU Online)
Oleh: Fahri Rizal

Dewasa ini, disadari atau tidak peradaban manusia telah berangsur berubah. Realita kehidupan manusia telah masuk era revolusi teknologi yang secara fundamental mengubah cara hidup, bekerja dan berhubungan antar sesama. Dalam skala ruang lingkup dan kompleksitasnya, transformasi yang sedang terjadi sekarang mengalami pergeseran gaya hidup dari sebelumnya. Kemajuan bidang informasi komunikasi dan bioteknologi hingga teknik material mengalami percepatan luar biasa dan membawa perubahan radikal di semua dimensi kehidupan. Kondisi ini menggiring kita agar segera menyesuaikan diri dalam menghadapi era modern yang semakin berubah ini. Khususnya dalam hal ini, pesantren dan santri. 

Salah satu hal yang menonjol pada revolusi ini adalah konektivitas. Kemunculan internet membawa perubahan berarti bagi kehidupan manusia. Terlepas dari dampak negatif  yang ditimbulkan. Semua perangkat sekarang hampir sudah terkoneksi dengan jaringan internet. Dengan internet semuanya seakan menjadi mudah dan instan. Dan memang begitu, sesuatu yang instan cenderung lebih diminati oleh kebanyakan manusia zaman sekarang. 

Kalau di zaman dulu ketika seseorang ingin membaca atau mencari referensi harus memerlukan berbagai kitab atau buku, kini di era digital dengan hanya membuka aplikasi Maktabah Syameela atau menuliskan kata kunci yang menjadi pokok permasalahan di Google, tanpa membutuhkan waktu lama, semua informasi yang kita butuhkan akan muncul di layar monitor kita, dengan berbagai model dan sumbernya.

Dengan semakin derasnya arus informasi dan komunikasi yang tak terbatas, maka dakwah pesantren pun harus pula berbenah. Pesantren yang notabene sebagai kawah candradimuka pendakwah Islam mempunyai kewajiban untuk segera menyesuaikan diri dalam menghadapi era yang semakin berubah ini. Era disrupsi tidak boleh dihadapi kaum santri dengan ketakutan dengan berbagai mitosnya. Kaidah Al-akhdu bil jadiid al-ashlah harus menjadi prinsip seorang santri. 

Jangan sampai karena kelambanan pesantren dalam menyikapi kemajuan-kemajuan zaman justru menjadi bumerang bagi pesantren itu sendiri, ketika hanya mencetak lulusan yang kuper dan gagap ketika terjun di masyarakat. Tidak bisa menyesuaikan diri dalam kehidupan bermasyarakat modern. Padahal, kiprah santri sebagai ujung tombak, pengawal ilmu agama dan  akhlak sangat dibutuhkan. Santrilah yang mestinya memegang kendali pengetahuan agama di dunia nyata maupun maya. Karena jika tidak, maka medan dakwah akan semakin suram karena diisi oleh mereka ustadz-ustadz yang baru belajar agama, pengharap popularitas dan berdakwah dengan serampangan. Dengan berbekal pengetahuan yang minim mereka dengan mudah memvonis dan menghukumi adat istiadat atau pandangan seseorang dalam beribadah sebagai sebuah kesesatan, bidah atau kemusyrikan. 

Dalam masa yang sedemikian dinamis, santri seharusnya juga memiliki keahlian dalam berdakwah. Santri harus mulai menguasai media dakwah. Jika zaman dulu, santri diajari pidato atau khitobah agar kelak dapat berbicara di masyarakat, kini santri juga perlu memiliki skill yang mumpuni dalam bidang tulis menulis, membuat video pendek, hingga membuat unggahan dan bentuk tulisan di media sosial untuk merespon isu-isu terkini. Santri tidak boleh kudet tentang dunia teknologi dan media sosial. Santri juga harus bisa berdakwah dengan cara tulis menulis, sinematografi, fotografi, membuat video pendek atau caption menarik. Kesemuanya tentu atas dasar usaha dalam meyampaikan dan menyeru kebaikan atau dakwah islami. Bukankah berlaku kaidah dalam berdakwah, Khatibun nas ‘ala qodri uqulihim. Bahwa hendaknya dakwah itu menyesuaikan dengan keadaan orang yang kita dakwahi. Belajar dari strategi dakwah yang dilakukan oleh para wali songo dulu, bagaimana media wayang dijadikan sebagai solusi atau alternatif dalam menyampaikan pesan-pesan risalah nabi. Demikian itu, karena wayang pada masa  itu merupakan sesuatu yang disukai oleh masyarakat. Pun sekarang harusnya dakwah santri harus merambah di Youtube, Snapchat, Instagram, Twitter, Facebook, Telegram dan media-media sosial lainnya yang banyak digandrungi oleh masyarakat zaman sekarang.

Lagi-lagi pesantren sebagai lembaga pengembangan dakwah, tidak lagi hanya bertumpu pada satu cara-cara lama seperti ceramah sebagai satu-satunya teknik dominan dalam menyampaikan materi dakwah dan pembelajaran. Bukan saja jangkauan segmen pendengarnya yang terbatas oleh ruang dan waktu tetapi terkait juga fleksibilitas akses terhadap materi dakwah. Media dakwah dengan basis teknologi mutlak dibutuhkan. Karena realitas masyarakat millennial lebih suka mengakses ceramah, tausyiah dan materi dakwah melalui media sosial. Selain mudah, bisa juga dilakukan dimanapaun dan kapanpun mereka menginginkannya, maka tanpa disadari perlahan tapi pasti media sosial telah banyak memberi pengaruh besar dalam pemahaman agama di masyarakat terutama anak muda ‘zaman now’.

Akhir kata, sudah saatnya santri mengubah mindset lama. Bersikukuh dengan cara dan sistem lama tanpa menghiraukan perkembangan zaman, akan menjadikan aktivitas dakwah kian terpuruk dan tertinggal. Hakikat dari dakwah itu sendiri akan tidak tersampaikan secara kaffah. Kita harus melakukan apa yang dinamakan Self-Driving agar mampu melakukan inovasi-inovasi terobosan terbaru  sesuai dengan tuntutan era modern sekarang. Belajar dari dakwah para Wali Songo, bahwa dakwah harus sesuai dengan zamannya. Karena zaman tidak bisa kita atur atau pungkiri, sedangkan dakwah merupakan sebuah kewajiban bagi setiap insan terkhusus orang yang memiliki kemampuan dan ahli dalam bidang agama. Teriring doa semoga Allah Swt menolong dan memberi petunjuk atas hamba-hamba-Nya yang senantiasa mau dan terus berjuang untuk menyebarkan agama-Nya dalam keadaan apapun dan sampai kapanpun. Aamiin.

Penulis adalah Mahasiswa Indonesia S1 di Fakultas Syariah Imam Shafei College, Kota Mukalla, Provinsi Hadhramaut, Republik Yaman.

Sabtu 4 Mei 2019 7:30 WIB
Mengukuhkan KH Abd Wahab Chasbullah sebagai Bapak Pendidikan Madrasah
Mengukuhkan KH Abd Wahab Chasbullah sebagai Bapak Pendidikan Madrasah

Oleh: Miftakhul Arif 

“Di antara kewajiban kita sebagai Muslim adalah mengajak yang bodoh untuk belajar dan yang pintar untuk mengajar.” (KH Abdul Wahab Chasbullah, Surabaya 1927)

Sejak usia muda, KH Abd Wahab Chasbullah atau Kiai Wahab memiliki perhatian khusus pada dunia pendidikan. Apa sebabnya? Jumlah santri terus merosot dari waktu ke waktu. Untuk membuktikannya, Kiai Wahab melakukan riset di empat kota di Jawa Timur: Surabaya, Sidoarjo, Mojokerto, dan Jombang. Hasilnya cukup mengagetkan. Di Surabaya, jumlah santri dari 2.065 menjadi 1.602. Sidoarjo, dari 1.740 santri menjadi 484. Mojokerto, dari 620 santri menjadi 300. Jombang, dari 2450 santri menjadi 1607. Jadi, dalam rentang waktu 40 tahun, dari tahun 1880-an sampai dengan 1900-an, terdapat penurunan drastis jumlah santri. Dari total 6875 santri menurun menjadi 3.993 santri. Data ini bisa dilihat dari Majalah Suara NU tahun 1927 yang dikelola Kiai Wahab. 

Tak hanya itu, warga pribumi yang mayoritas Islam banyak buta huruf. Di pulau Jawa, rata-rata dari 1000 orang hanya 15 orang saja yang dapat membaca dan menulis. Bila perempuan turut dihitung, jumlahnya menjadi 16. Parahnya, masih ada anggapan bahwa mengajar perempuan menulis adalah makruh. Lebih baik ditinggalkan. 

MemodernIsasi Pendidikan Pesantren
Awal tahun 1900-an, pemerintah Hindia-Belanda menerapkan sistem politik etis. Sekolah-sekolah Belanda banyak didirikan. Meski demikian, sekolah ini hanya dapat diakses oleh kalangan priayi. Pelajaran agama Islam tidak diajarkan. Lulusannya pun kebanyakan tumbuh besar sebagai orang sekuler. 

Untuk mengimbanginya, tahun 1912 Kiai Wahab mendirikan Madrasah Mubdil Fann di Tambakberas, Jombang. Sempat ayahnya, Kiai Chasbullah melarang madrasah ini beroperasi. “Ngaji nganggo bor alamat bar” (belajar dengan papan tulis, pertanda akan bubar), kata Kiai Chasbullah. Namun, berkat kegigihan Kiai Wahab izin mendirikan madrasah Mubdil Fann pun diberikan. 

Sukses merintis Mubdill Fann, Kiai Wahab pun mendirikan Madrasah Taswirul Afkar dan Nahdlatul Wathon di Surabaya. Hanya dalam waktu singkat, madrasah ini dapat berkembang pesat dan memiliki cabang di beberapa kota besar. Taswirul Afkar dan Nahdlatul Wathon pun menjadi lembaga pendidikan Islam alternatif selain pesantren. Peminatnya kebanyakan adalah Muslim perkotaan.

Seiring dengan itu, kebutuhan guru pun kian mendesak. Kiai Wahab pun mengorganisir murid-murid Nahdlatul Wathon yang usianya 15 tahun ke atas dalam wadah Jamiyah an-Nasihin dan Syubbanul Wathon. Di sana mereka dididik untuk menjadi guru dan dai-dai yang terampil berpidato di depan banyak orang. 

Merintis Fiqih Berkeadilan Gender
Kondisi masyarakat Indonesia yang mayoritas buta huruf diperparah oleh anggapan bahwa perempuan makruh belajar menulis. Fatwa makruh itu didasarkan pada fatwa Ibn Hajar al-Haitami yang oleh sebagian kiai dipahami secara sepenggal. Tidak utuh. Padahal kemakruhan itu dikaitkan dengan illat (alasan rasional hukum) khasyatal mafasid. Khawatir menimbulkan kerusakan. Namun, bagi Kiai Wahab illat itu saat ini tidak lagi relevan. Sebaliknya, maslahatnya jauh lebih besar. Menurut Kiai Wahab, mafasid mengajar perempuan menulis bernilai asumtif (madhnunah). Sedangkan nilai maslahatnya adalah riil, nyata (munjazah). Jika terjadi pertentangan antara mafasid madhnunah dan maslahat munjazah maka yang dimenangkan adalah maslahat munjazah. Dengan demikian, mengajar perempuan menulis tidaklah makruh selama tujuannya benar. Tidak melanggar prinsip syariah. Dari sini terlihat betapa Kiai Wahab mampu mengkontekstualisasikan kitab kuning dengan keahlian usul fiqih-nya.   

Tak hanya berwacana, Kiai Wahab pun berupaya mewujudkan pendidikan berkeadilan gender. Di Madrasah Mubdil Fann, Kiai Wahab mulai membuka kelas putri. Di antara gurunya adalah Nyai Mas Wardiyah, istri dari KH Abdrurrachim Chasbullah yang tidak lain adalah adik kandung Kiai Wahab. Nyai Mas Wardiyah sendiri adalah keponakan KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah. Adik ipar Kiai Wahab yang satu ini dikenal cerdas. Bukan saja pandai agama, tetapi juga fasih Bahasa Belanda. Di bawah asuhan Nyai Mas Wardiyah ini, kaum perempuan di sekitaran Tambakberas mendapat pendidikan baca tulis. Selain itu, adik iparnya yang lain, KH Bishri Syansuri, di tahun 1919 juga merintis kelas perempuan yang kelak menjadi cikal bakal pondok putri pertama di Jawa Timur. Melihat karakter fiqih Kiai Bishri yang keras”dalam hukum, besar kemungkinan bila Kiai Wahab turut andil di dalam upaya pendirian kelas putri di Denanyar tersebut. 

Menyeimbangkan Pendidikan 
Di saat banyak umat Islam yang mendikotomi pendidikan agama dan dunia, Kiai Wahab justru berpikir sudah sangat jauh. Kiai Wahab prihatin melihat realitas bahwa di kalangan umat Islam sangat sedikit tenaga-tenaga terampil profesional di bidang kedokteran, arsitektur, dan lainnya. “Poro murid-murid pondok mboten wonten ingkang sami mikir kados pundi sagetipun poro muslimin menawi adek griyo lajeng cekap dateng arsitek Kiai Fulan. Menawi bade ucal jampi lajeng dateng dokter Kiai Fulan...” (para murid pondok tidak ada yang berpikir bagaimana umat Islam misalnya mendirikan rumah cukup datang ke ahli arsitek Kiai Fulan. Jika hendak mencari obat [jamu] cukup datang ke dokter Kiai Fulan), demikian kegelisahan Kiai Wahab. Didasarkan pada ungkapan Imam al-Ghazali: al-‘Ilm Ilmani, ‘Ilmun Lil adyan wa ilmun li al-abdan (ilmu ada dua; ilmu untuk kemaslahatan agama dan ilmu untuk kemaslahatan tubuh), Kiai Wahab berpandangan bahwa baik ilmu agama ataupun dunia sama-sama penting demi tertibnya kehidupan manusia. 

KH Abd Wahid Hasyim adalah salah satu tokoh yang mampu menerjemahkan konsep pendidikan yang diidealkan Kiai Wahab. Ia pun mendirikan sekolah kejuruan di Tebuireng dengan empat spesialisasi: perdagangan (madrasah tijariyah), pertanian (madrasah zira’ah), pertukangan (madrasah najjariyah), dan hukum pemerintahan (madrasah al-qudhat). Sekolah kejuruan ini diterjemahkan oleh Kiai Wahid dari empat gagasan politik Kiai Wahab: siyasah tijariyah, siyasah ziraiyah, siyasah najjariyah, dan siyasah hukmiyah.     

Demikianlah Kiai Wahab. Kiai berparas kecil, tetapi memiliki semangat dan cita-cita yang besar. Kiprahnya di bidang pendidikan tidak kalah dengan Ki Hajar Dewantara. Dengan melihat segudang prestasinya, khususnya di bidang modernisasi pendidikan pesantren dengan mendirikan madrasah, sudah sepatutnya jika Kiai Wahab dinobatkan sebagai bapak pendidikan madrasah. (*)


Kandidat doktor di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya dan pengajar di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang, Jawa Timur.
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG