IMG-LOGO
Pustaka

Menyerap Teladan Nabi di Bulan Suci

Kamis 9 Mei 2019 12:15 WIB
Bagikan:
Menyerap Teladan Nabi di Bulan Suci
Rasanya baru kemarin kita Lebaran, sekarang sudah Ramadhan lagi. Waktu terasa begitu cepat, dan beberapa bulan sebelum Ramadhan tiba kita sudah merindukannya kembali. Qad ghibta wa ilaika istaqnâ, engkau telah pergi dan kami pun merindukanmu, begitulah kira-kira kutipan lagu yang dibawakan oleh Humood Alkhudher, penyanyi kebangsaan Kuwait, yang substansinya adalah kerinduan dan rasa gembira menyambut bulan suci Ramadhan.

Sekarang, kita sudah bertemu dan bertatap wajah dengan bulan suci, alangkah bahagianya. Kita rayakan rasa gembira bersama orang-orang di sekeliling kita. Baik keluarga, sahabat, maupun rekan kerja. 

Dr. KH. Ahsin Sakho Muhammad, MA menegaskan puasa (shaum) adalah ibadah yang bersifat nafsiyyah, artinya hanya dirinya dan Allah yang benar-benar mengetahui bahwa dia benar-benar berpuasa atau tidak. Karena itu shaum digolongkan sebagai ibadah yang sangat privatif sekali. Kita harus melaksanakannya dengan sangat maksimal. Aturan serta prinsip-prinsip syariah yang telah ditetapkan di dalamnya mesti kita laksanakan. Untuk melaksanakannya kita perlu mengetahui perkara-perkara tersebut dengan belajar, entah talaqqi ataupun membaca.

Tak lengkap rasanya jikalau kita berpuasa dan menjalani bulan suci tanpa mengikuti pedoman Nabi, lebih khususnya meneladani beliau ketika Ramadhan. Untuk meneladani Nabi dalam berpuasa, lagi-lagi kita harus mengaji, mendengarkan pengajarkan guru mengenai perilaku Nabi ketika Ramadhan, membaca teks-teks kalam beliau yang terkait dengan pelaksanaan puasa, serta suluk dan tingkah laku Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di bulan Ramadhan.

Salah satu contoh yang ditorehkan dan patut kita teladani adalah sifat kedermawanan Rasulullah ketika bulan Ramadhan. Telah ada Nabi Muhammad ketika Ramadhan lebih dermawanan dibanding bulan lainnya. Hal tersebut sebagaimana dikatakan dalam hadits Rasulullah:

أَنَّ ابْنَ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ بِالخَيْرِ، وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ، وَكَانَ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلاَمُ يَلْقَاهُ كُلَّ لَيْلَةٍ فِي رَمَضَانَ، حَتَّى يَنْسَلِخَ، يَعْرِضُ عَلَيْهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ القُرْآنَ، فَإِذَا لَقِيَهُ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلاَمُ، كَانَ أَجْوَدَ بِالخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ المُرْسَلَةِ

Sesungguhnya Ibnu ‘Abbas RadhiyalLahu ‘anhumā berkata: “Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia yang paling dermawan, dan Beliau lebih dermawan lagi pada bulan Ramadhan tatkala berjumpa malaikat Jibril alaihissalam. Malaikat Jibril bertemu dengan Beliau setiap malam pada bulan Ramadhan sampai penghujung Ramadhan, Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam membacakan Al-Qur`an kepada Jibril, maka tatkala Beliau bertemu dengan Jibril, Beliau lebih derwaman dengan memberikan kebaikan melebihi angin yang bertiup.” (HR Muslim).

Dari penggalan hadits diatas kita dapat mengetahui salah satu kelebihan Nabi di bulan Ramadhan, yaitu bertambahnya kedermawanan Beliau. Sudah selayaknya memang kita tahu bahwa Nabi sangat dermawan, namun di bulan suci ternyata beliau meningkatkan taraf kedermawanannya. Dari hadits tersebut tersirat perilaku yang harus kita teladani, yaitu menumbuhkan serta meningkatkan sifat dermawan dalam diri, meski zahir redaksi haditsnya tidak instruktif.

Pengimplementasian hadits diatas diantaranya adalah ketika bulan suci, mari yang belum sempat berbagi dan bersedekah kita sedekah di bulan ini. Bagi yang diberi kesempatan berbagi rezeki di bulan-bulan sebelumnya, mari tingkatkan taraf kedermawanannya, dengan niat beribadah dan meneladani sang Nabi.

Selain melalui kitab hadits, kita dapat mengetahui perangai Rasulullah melalui kitab-kitab sirah. Disana akan dijelaskan secara panjang lebar mengenai perangai Nabi selama 63 tahun umumnya. Tentunya tebal dan butuh waktu lama untuk membacanya. Apalagi untuk mengetahui bagaimana Rasulullah di bulan Ramadhan, kita mesti membaca dengan kompleks kitab-kitab sirah nabawi.

Dengan demikian, sangatlah cocok kiranya kita membaca buku yang ditulis oleh saudara Ulin Nuha Mahfudhon, salah satu dosen di Darus-Sunnah International Institute for Hadith Sciences Ciputat. Buku tersebut memuat 15 tema kisah dan ajaran Rasulullah seputar bulan Ramadhan. Buku ini adalah sepenggal riwayat-riwayat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam menjalani hari-harinya di bulan suci Ramadhan.

Banyak sekali teladan-teladan Nabi di bulan Ramadhan yang perlu kita ikuti. Dengan meneladani pengajaran beliau di bulan Ramadhan, semoga nantinya dapat membekas dalam diri, sehingga kita dapat mengamalkan ajaran tersebut di bulan-bulan lainnya.

Penulis banyak mengutip hadits-hadits nabawi dalam penulisan buku ini, begitupun dengan ayat Al-Qur`an yang berkaitan. Riwayat-riwayat yang dikutip derajatnya adalah shahih dan hasan,. Adapun yang dha’îf bahkan palsu maka penulis memberikan catatan kritis dan mengutip pendapat para ulama terdahulu.

Sebagai kontekstualisasi, penulis juga sering menyinggung praktik dan tradisi Ramadan yang berkembang di negara kita Indonesia, semisal tradisi penyambutan Ramadan, takbir keliling, halal bi halal, dan selainnya. Praktik-praktik ini lalu ditimbang berdasarkan ajaran-ajaran Nabi. Jika memang relevan, maka tidak ada alasan untuk menolaknya. Namun jika menyalahi syariat, maka pelan-pelan harus kita tinggalkan.

Buku ini akan membimbing kita bagaimana menapaki sunnah Nabi, dan meneladaninya, serta meraih keberkahan di bulan suci Ramadhan, bulan yang penuh ampunan dan rahmat.

Peresensi adalah Amien Nurhakim, mahasantri Pesantren Luhur Ilmu Hadis Darussunnah

Identitas buku:
Judul : Ramadhan Bersama Nabi Saw
Penulis : Ulin Nuha Mahfudhon
ISBN : 978-623-7197-01-0
Tebal : 152 halaman
Terbit : April 2019

Tags:
Bagikan:
Ahad 5 Mei 2019 16:0 WIB
Ketabahan Hati Seorang Istri
Ketabahan Hati Seorang Istri
Aku harus menanggung lukaku sendiri. Tabah mengobati dukaku sendiri, karena ini adalah tirakatku. Karena ini adalah jalan menuju kemuliaanku.

Demikian, Alina Suhita, menguatkan hatinya menghadapi perihnya hidup lantaran tak dianggap oleh suaminya sendiri, Abu Raihan Al – Birruni (Gus Birru). Suaminya hasil perjodohan antara orang tua.

Perjodohan yang dijalaninya, dengan keikhlasan, kendati luka hati senantiasa dirasa. Alina Suhita ''tak pernah diterima'' oleh suaminya sendiri, bahkan meski hidup tak hanya dalam satu atap, melainkan tidur di kamar yang sama.

Sebagai wanita pada umumnya, terkadang Alina Suhita ingin mengadukan perihal kecamuk keluarga dan suasana hatinya pada orang tuanya. Namun dia selalu ingat ajaran kakeknya untuk mikul duwur mendem jero. Dan pepatah Jawa bahwa wanita itu harus berani bertapa (wani tapa), menjadi penguat hatinya untuk menghadapi badai kehidupan rumah tangganya dengan penuh ketabahan dan ketegaran. (hal. 16)

Pelajaran menarik bagaimana ketabahan seorang istri menghadapi badai kehidupan dalam rumah tangganya, itu ternarasikan secara apik dalam novel keren Hati Suhita' karya Khilma Anis.

Sebuah novel yang tidak saja mengajak pembacanya untuk mengeja narasi-narasi apik dengan beragam keteladanan yang sangat dahsyat, melainkan juga penuh filosofi hidup yang sangat dahsyat.

Suhita, misalnya, senantiasa  mengingat ajaran Begawan Wiyasa dalam cerita pewayangan, bahwa orang-orang yang dapat menaklukkan dunia, adalah orang-orang yang sabar menghadapi caci maki orang lain. Orang yang dapat mengendalikan emosi, ibarat kusir yang dapat menaklukkan dan mengendalikan kuda liar. (hal. 61)

Pelajaran lain yang sangat dahsyat dalam novel ini adalah falsafah tebu. Betapa untuk memberikan rasa manis terlebih dulu harus digiling, diperas, bahkan diinjak-injak sampai benar-benar mengeluarkan sarinya.

Itu menjadi penanda dan tuladha terkait jerih payah dalam menjalani kehidupan: untuk mencapai kenikmatan, butuh perjuangan yang panjang. (hal. 126)

Dan di luar itu semua, hikmah menarik yang tak bisa diabaikan adalah betapa doa orang tua, khususnya ibu –tak terkecuali mertua- mengambil peran maksimal bagi seseorang untuk tegar dan tabah menghadapi segala cobaan dan dera kehidupan.

''... Ummiku. Mertuaku. Anugerah terbesar dalam hidupku. Yang mencintai sedalam ibuku sendiri. Ummiklah satu-satunya alasanku bertahan di rumah ini''.

Ya, banyak sekali pelajaran dan hikmah dalam mengarungi bahtera kehidupan yang bisa ditelisik dalam novel Hati Suhita ini. Namun tentunya, pelajaran dan hikmah itu hanya akan ''menguap'' dan tidak bernilai apapun, jika kita tak mau menghayati dan mengamalkannya dalam hidup. Wallahu a'lam. 


Peresensi adalah Rosidi, Pemimpin Redaksi Buletin Suara Nahdliyin dan Suaranahdliyin.com, bergiat di Gubug Literasi Tansaro Kudus serta Staf Akademik Bidang Media dan Publikasi pada Ma'had Aly TBS Kudus. 


Identitas Buku
Judul Buku       : Hati Suhita
Penulis             : Khilma Anis
Penerbit          : Telaga Aksara Yogyakarta & Mazaya Media Jember
Cetakan I         : Maret 2019
Halaman         : 405 + x
ISBN                 : 978 – 602 – 51017 – 4 – 8
 

Rabu 10 April 2019 20:15 WIB
Menjawab Tudingan Miring kepada Ahlussunnah wal Jama’ah
Menjawab Tudingan Miring kepada Ahlussunnah wal Jama’ah
Mayoritas umat Islam Indonesia, bahkan dunia, adalah penganut paham Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja). Oleh KH M Hasyim Asy’ari, dalam kitab Risalah-nya, kelompok Aswaja diidentifikasikan sebagai pengikut Asy’ariyah-Maturidiyah dalam bertauhid (teologi), pengikut Mazhab Empat (Maliki, Hanafi, Syafi‘i, dan Hanbali) dalam berfiqih, dan pengikut al-Imam Junaid al-Baghdadi serta al-Imam Abul Hasan As-Syadzili dalam bertasawuf. 

Paham Aswaja ini memiliki prinsip ajaran tanzih—menyucikan Allah dari sifat menyerupai makhluk, tidak mudah menuduh kafir, serta menghormati dan mengapresiasi tradisi lokal selama tidak menyalahi ketentuan nash (syariat Islam). Ajaran-ajaran Aswaja telah mengakar kuat dalam keseharian masyarakat Muslim Indonesia dalam beragam ekspresi: haul, manaqiban, tahlil, maulid Nabi, hingga praktik ke-thariqat-an. 

Di penghujung abad ke-19 dan awal abad ke-20 M, umat Islam digemparkan dengan munculnya paham puritan Wahabi di Semenanjung Arab. Pengaruhnya meluas hingga ke Indonesia. Paham yang dirintis oleh Muhammad bin Abdul Wahab an Najdi (1703-1791 M) ini mengusung ajaran 3 T: Tajsim/Tasybih (antromorfis; meragakan atau menyerupakan Tuhan dengan wujud dan sifat-sifat makhluk), Takfir (memvonis kafir dan sesat kelompok di luar mereka), dan Tabdi‘ (memvonis bid’ah semua praktik yang tidak ada presedennya dari Nabi). 

Ulama Indonesia pun dibuat gusar, tak terima atas tudingan kafir, syirik, bid’ah, sesat yang dialamatkan pengikut Wahabi atas mereka. Maka berhimpunlah ulama Indonesia berpaham Aswaja ini dalam berbagai ormas ke-Islam-an: Nahdlatul Ulama (NU), Nahdlatul Wathan, Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Perti), Al Jam’iyah Al Washiliyah, dan Mathla’ul Anwar. Ormas-ormas Islam ini hadir sebagai reaksi atas menguat dan menyebarnya pengaruh ajaran Wahabi di Indonesia. Selain itu, gerakan ta’lif (kepenulisan) juga massif bermunculan. Karya-karya berbahasa Arab, Indonesia, dan daerah (Jawa, Sunda, dll) ramai ditulis. Tujuannya adalah untuk menguatkan dan memantapkan aqidah Aswaja sekaligus membantah ajaran sesat Wahabi. Misalnya Risalah Ahlissunnah karya KH M Hasyim Asy’ari, al-Nusus al-Islamiyah fir Raddi ala Madhhab al-Wahhabiyah karya KH Muhammad Faqih Maskumambang, Hujjah Ahlis Sunnah Wal Jama’ah karya KH Ali Maksum, Khazanah Aswaja karya Tim Aswaja Center NU Jatim, dan lain-lain. 

Buku berjudul Argumen Ahlussunnah wal Jama’ah: Jawaban Tuntas atas Tudingan Bid’ah dan Sesat karya Abu Abdillah dan Nur Rohmad adalah upaya meneladani jejak para ulama Aswaja di negeri ini yang telah mewariskan banyak karya seperti di atas. Menurut mu’allif-nya, buku yang kali ketiga dicetak ini dirasa perlu ditulis meskipun sudah ada karya-karya sejenis sebelumnya. Alasannya: buku yang dibubuhi pengantar oleh KH Ma’ruf Khozin, Direktur Aswaja Center NU Jatim, ini menitikberatkan pada beberapa hal, antara lain: [1] menyertakan dalil-dalil yang bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah; [2] menguraikan masalah dari akar permasalahannya dan merumuskan jawaban sesuai dengan kaidah-kaidah yang disepakati oleh para ulama; [3] dilengkapi dengan bantahan atas beberapa syubhat (propaganda) Wahabi yang dikutip dari karya-karya mereka secara langsung; [4] menyajikan kaidah-kaidah yang sangat bermanfaat dalam membantah golongan Wahabi (hal. 379-380).

Hemat penulis, kekuatan buku Argumen Ahlussunnah wal Jama’ah ini terletak pada tiga aspek. Pertama, ditulis oleh orang yang ahli (pakar) di bidangnya. Mu’allif-nya, Abu Abdillah dan Nur Rohmad, adalah alumnus pesantren yang telah menekuni kajian Aswaja puluhan tahun. Keduanya memperoleh pengetahuan Islam melalui talaqqi (belajar langsung berhadap-hadapan) kepada para ulama yang memiliki sanad keilmuan bersambung (muttasil) sampai Rasulullah. Selain aktif di NU, keduanya juga aktif mengelola Yayasan Syahamah, suatu lembaga yang concern bergerak di bidang pengembangan dan penguatan dakwah Ahlussunnah wal Jama’ah. 

Kedua, selain mengetengahkan argumen-argumen naqliyah (tekstual) dan aqliyah (rasional) atas keabsahan tradisi Aswaja (tawassul, tabarruk, tahlil, dan lain-lain), buku ini menyertakan kaidah-kaidah usul fiqih penting dalam ber-istidlal (cara menggunakan dalil) dan istinbath (menggali hukum). Misalnya kaidah: tarku ash-syai’ la yadullu ala man‘ihi (tidak melakukan sesuatu, tidak menunjukkan bahwa sesuatu itu terlarang), dan al-am yu’mal bih fi jami’i juz’iyatihi (dalil yang umum itu diterapkan dalam semua bagian-bagiannya). Dua kaidah ini dapat digunakan menghantam tudingan bid’ah Wahabi yang mengharamkan berbagai tradisi Islam lokal dengan dalih: tidak pernah dicontohkan Nabi, atau tidak ada dalilnya. Kaidah-kaidah ini menjadi instrumen penting dalam membingkai cara berpikir (manhaj al-fikr), bagaimana semestinya dalil itu dipahami dan disimpulkan. Dengan memahami kaidah tersebut, pembaca akan mengetahui betapa rapuhnya argumentasi kaum Wahabi.

Ketiga, di bagian Appendiks, pembaca akan disuguhi data-data ilmiah tentang aqidah mayoritas ulama Indonesia: Allah ada tanpa tempat dan arah, Allah tidak dapat dibayangkan, dan kalam Allah bukan berupa huruf, suara, dan bahasa (hal. 335-357). Menyusul segmen tanya jawab seputar aqidah dengan topik-topik penting seperti sifat-sifat ke-Tuhan-an, dan bantahan atas syubhat-syubhat Wahabi. Semuanya disajikan dengan bahasa singkat, lugas, dan to the point

Dengan segala kelebihan yang dimiliki, buku yang juga dipengantari oleh KH Abdul Hannan Ma’shum, Pengasuh Pesantren Fathul Ulum Kwagean Kediri, ini sangat layak dibaca, khususnya bagi mereka yang meragukan keabsahan aqidah dan amaliah Aswaja yang telah mentradisi dan mengakar kuat di Indonesia. Membaca buku ini, anda akan berkesimpulan bahwa tudingan bid’ah dan sesat Wahabi atas penganut paham Ahlussunah wal Jama’ah adalah sama sekali tidak berdasar. Para aktivis Aswaja wajib memiliki dan mengkaji buku ini agar tidak gagap menghadapi syubhat kaum Wahabi.[]


Peresensi adalah Miftakhul Arif, Pengajar Aswaja di MA Unggulan KH. Abd. Wahab Chasbullah Bahrul Ulum Tambakberas Jombang

Identitas Buku
Judul : Argumen Ahlussunnah Wal Jama’ah: Jawaban Tuntas atas Tudingan Bid’ah dan Sesat
Penulis : Abu Abdillah dan Nur Rohmad
Penerbit         : Pustaka Ta’awun
Tebal : xxiv + 397 = 421 hlm. 
Edisi : Cetakan III (Maret 2019)
 

Senin 1 April 2019 18:30 WIB
Menengok Kembali Awal Mula Lembaga Pendidikan Islam di Nusantara
Menengok Kembali Awal Mula Lembaga Pendidikan Islam di Nusantara
Ilustrasi (Ist.)
Berdasarkan laporan ekspedisi Ibnu Batutah dalam kitab Rihlah Ibnu Bathutah sebagaimana dikutip oleh Musyrifah Sunanto, halaqah adalah lembaga pendidikan yang pertama kali diselenggarakan di Samudera Pasai.

Kegiatan halaqah dilaksanakan di masjid-masjid istana kesultanan bagi keluarga kerajaan dan pembesar istana. Sedangkan bagi masyarakat umum kegiatan ini dilaksanakan di rumah-rumah guru dan surau-surau bagi masyarakat umum.

Selain itu, istana juga membangun tempat mudzakarah sebagai perpustakaan umum dan pusat penerjemahan serta penyalinan kitab-kitab keislaman.

Dalam perkembangannya, lembaga pendidikan Islam di Nusantara pada masa kerajaan-kerajaan Islam setelah halaqah adalah seperti: Dayah & Rangkang di Aceh, Surau di Minangkabau dan Pesantren di Jawa.

Menurut Musyrifah Sunanto, bahwa kegiatan pembelajaran di lembaga-lembaga pendidikan Islam saat itu memiliki kemiripan satu sama lain. Pembelajaran agama bagi ummat Islam ketika itu pada umumnya adalah pengajian Al-Qur’an yang dimulai dengan pengenalan huruf-huruf hijaiyah, kemudian dilanjutkan dengan menghafalkan Juz ‘Amma dan tajwidnya untuk kebutuhan shalat lima waktu.

Kemudian untuk jenjang pendidikan lanjutan diajarkan mata pelajaran Fiqih dan Tasawuf. Selain itu juga diajarkan Kitab Tafsiir, Hadits, Balaghah, dan mantiq di Pesantren Bantoalo di Kerajaan Gowa oleh Syaikh Yusuf Makassari sekembalinya belajar dari Aceh.

Namun, dalam penelusurannya mengenai pendidikan Islam di Nusantara, Musyriah Sunanto melihat kitab-kitab yang diajarkan di lembaga-lembaga pendidikan saat itu biasanya merupakan karya ulama Nusantara yang ditulis dalam bahasa Melayu, Sunda atau Jawa. Ada beberapa kitab dalam bahasa Arab tapi jumlahnya terbatas.

Dalam bukunya, Musyrifah Sunanto memaparkan bahwa pengajian agama di daerah Sumatra rata-rata adalah kitab berbahasa Melayu yang ditulis oleh tokoh-tokoh seperti: Syai Nuruddin Ar-Raniri dan Syamsuddin As-Sumatrani.

Sedangkan di Demak, kegiatan pembelajaran dilaksanakan dengan menggunakan kitab pegangan sebagai berikut: (1) Kitab Ushul enam Bis; (2) Tafsir Jalalain; (3) Primbon; dan (4) Suluk.

Kitab Tafsir Jalalain adalah kitab tafsir terkenal di pesantren sampai sekarang yang ditulis oleh: Imam Jalaluddin Al-Suyuthi dan Imam Jalaluddin Al-Mahalli. Kitab Primbon adalah kitab berisi wejangan para wali. Sedang kitab suluk adalah kitab berisi ajaran mistik.

Setelah pusat kerajaan Islam pindah kemaratan Mataram, lembaga pendidikan pesantren yang diselenggarakan oleh kerajaan mengkaji kitab-kitab seperti: (1) Kitab Ushul enam Bis; (2) Taqrib; dan (3) Bidayatul Hidayah. Kitab Ushul enam Bis sendiri adalah kitab tulisan tangan berisi enam Bismillah karya ulama Samarkand mengenai dasar-dasar ilmu keislaman. Kitab Taqrib adalah karya Abu Syuja’ yang terkenal sampai sekarang di pesantren. Sedang Bidayatul Hidayah adalah Karya Al-Ghazali.

Masa Penjajahan Belanda

Pada awalnya, ketika pemerintah Belanda mulai berkuasa pada 1610 M, Belanda membiarkan pendidikan Islam berjalan sedemikian adanya. Namun kemudian Belanda berfikir bahwa kaum santri dan pesantren tidak koperatif dengan mereka, tidak mau dan tidak bisa dipekerjakan untuk kepentingan Belanda ditambah lagi mereka tidak bisa membaca tulisan latin, maka dimulailah usaha-usaha pelemahan terhadap pendidikan pesantren ini.

Belanda kemudian membuat kebijakan-kebijakan yang merugikan dan melemahkan pesantren utamanya setelah perjanjian Giyanti (1755 M). Pihak kolonial berusaha melemahkan Islam seperti: Tanah Pamerdikan untuk Penghulu, Modin, Naib dan Kiai dihapuskan dan dijadikan tanah gabernamen. Hasil zakat yang sebelumnya dibuat untuk membiayai pendidikan dihapus dan dialihkan untuk menggaji penghulu, modin, dan naib sebagai ganti penghapusan tanah pamerdikan yang sebelumnya menjadi hak mereka dan dapat diwariskan.

Hal inilah yang kemudian membuat Pangeran Diponegoro marah dan mengkonsolidasi para ulama untuk melawan Belanda. Dan Akhirnya meletuslah Perang Jawa. Perang ini adalah suatu perang yang menghabiskan banyak energi dan finansial bagi Belanda.

Setelah kekalahan Diponegoro melalui muslihat liciknya, Belanda terus berupaya melemahkan pendidikan Islam di Nusantara. Ia kemudian mengeluarkan berbagai kebijakan-kebijakan seperti: pewajiban izin bagi ulama yang mengajar agama. Peraturan ordonansi sekolah liar, pendirian sekolah belanda di seluruh daerah di Indonesia dan sebagainya.

Dalam pada itu, di tengah upaya pelemahan tersebut, pada tahun 1900, menurut catatan Musyrifah Sunanto, KH Hasyim Asy’ari membuka pesantren di Tebuireng Jombang yang menyelenggarakan pendidikan mulai dari tingkat tinggi sampai tingkat dasar.

Pada pereode ini kitab kuning yang dikaji di pesantren sudah sedemikian banyak dan meliputi kitab-kitab besar yang sebelumnya tak pernah dikaji di lembaga pendidikan di masa kerajaan baik Pasai, Malaka, Aceh, Demak maupun Mataram. Susunan kurikulum pesantren pada masa ini ditandai dengan beberapa hal sebagai berikut: (1) Pembelajaran Al-Qur’an sama seperti sebelum 1900; (2) Pengajian kitab kuning terdiri dari: (a) Nahwu-Shorrof menggunakan kitab-kitab seperti, Jurumiah, Asymawi, Syaikh Kholid, Azhari, Asymuni, Alfiyah, Kailani dan Taftazani, (b) Fiqih meliputi: Fathul Qarib, Fathul Muin, Mahalli dan bahkan sampai kitab Tuhfah dan Nihayah.

Sebagai catatan lagi bahwa kitab-kitab yang digunakan pada masa ini adalah sudah kitab yang tercetak dan bukan kitab tulisan tangan sebagaimana sebelumnya. Rata-rata kitab tersebut dipesan dari Makkah dan Singapura.

Musyrifah Sunanto sekali lagi mengatakan bahwa pada masa pembaharuan pendidikan yang dipelopori KH Hasyim Asy’ari ini, ilmu kegamaan Islam di Nusantara menjadi lebih tinggi (lebih luas). Pada masa ini menurut catatan Sunanto, pelajaran agama Islam di Nusantara sudah hampir menyamai Makkah Al-Mukarramah. Disarikan dari buku: Sejarah Peradaban Islam Indonesia. Karya: Musyrifah Sunanto (2007). (R. Ahmad Nur Kholis)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG