IMG-LOGO
Opini

Ramadhan dan Demokrasi (Bagian 1)

Jumat 10 Mei 2019 5:0 WIB
Bagikan:
Ramadhan dan Demokrasi (Bagian 1)
ilustrasi
Oleh: Asmawi Mahfudz

Saat ini kita semua warga bangsa dalam suasana bulan suci Ramadhan, di mana seluruh umat islam berkewajiban untuk menjalankan puasa selama sebulan penuh, dengan tujuan supaya menjadi pribadi Muslim yang bertakwa. Takwa dalam arti puasa dapat dipahami sebagai sarana untuk menjadi pribadi yang sabar, ikhlas, totalitas beribadah kepada Allah. Hikmah dari puasa di bulan Ramadhan tahun ini tampaknya menemukan momentumnya di tengah hiruk pikuk rutinitas lima tahunan bangsa Indonesia yang belum selesai melaksanakan pemilihan umum. Maka perlu bagi kita untuk menemukan dua hal penting dalam relitas kehidupan demokrasi Indonesia dengan aspek-aspek etika ke-Tuhan-an yang terkandung dalam bulan Ramadhan, yang mayoritas diyakini oleh warga Muslim Indonesia. Apalagi nilai-nilai bulan Ramadhan berbasis keyakinan mayoritas penduduk Indonesia, sesuai dengan sifat, watak, dan karakter dasar bangsa di Nusantara ini. Salah satu nilai yang begitu penting kita ungkap adalah sikap aktulisasi sabar hasil dari berpuasa di bulan Ramadhan, dalam berdemokrasi di Indonesia. 

Istilah sabar memang mudah untuk diucapkan, dalam bahasa Indonesia terdiri dari lima huruf dan satu kata. Tetapi, praktiknya sulit untuk dilaksanakan oleh setiap insan hamba Allah. Karena sikap sabar ini berhubungan dengan totalitas manusia sebagai pribadi seorang hamba, terdiri dari anggota badan, akal fikiran dan hati. Manusia ketika berusaha untuk bersikap sabar, harus mensinergikan semua unsur kemanusiaannya tersebut dalam sebuah tindakan atau tidak bertindak dalam realitas kesehariannya. Taruhlah dalam iklim demokrasi dengan ditopang arus teknologi informasi yang begitu dinamis sekarang ini, seseorang begitu berat untuk melakukan sikap mulia ini. Sebagaimana di dijelaskan dalam Al-Qur’an, yang artinya "Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk." (2: 45).
 
Apalagi sekarang kita bangsa Indonesia yang lagi melaksanakan rutinitas demokrasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Pemilihan umum untuk calon legislator kita dan Kepala Negara atau Pemerintahan, yang melibatkan seluruh komponen bangsa dan negara, baik dari panitia penyelenggaranya yaitu Komisi Pemilihan Umum (KPU); dari pengawasnya oleh Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu), rakyat yang memilih, pengurus partai politiknya, calon legislatornya dan juga calon Presiden dan Wakil Presidennya. Semua harus mempunyai sikap sabar dalam melaksanakan demokrasi ini. Kalau sikap sabar ini tidak kita tanamkan dalam sanubari kita bagaimana jadinya rutinitas demokrasi ini. Yang harus kita ingat adalah kita adalah bangsa yang berbudaya, bermartabat sejak nenek moyang kita babat (membukanya), memperjuangkan negeri dan mendirikannya ini. Mereka selalu dilandasi sikap santun, ramah, sabar, baik ketika memperjuangkan dan mendirikan negeri ini. 

Mungkin kita perlu berilustrasi dan imajinasi ketika para nenek moyang kita baru babat tanah di Nusantara ini, meramaikannya sehingga bisa berbentuk sebuah bangsa walaupun masih sederhana. Kemudian bagaimana para pejuang-pejuang kemerdekaan di bumi Nusantara ini melepaskan Kolonialisme para penjajah, dan bagaimana para pendahulu kita memakmurkan Nusantara ini, pastinya dilandasi dengan sikap sabar dan kebesaran jiwa sehingga eksistensi bagsa Indonesia masih bisa kita nikmati sampai sekarang. 

Maka dalam pesta demokrasi ini yang harus kita ingat adalah semua yang terlibat di dalamnya berusaha untuk mengisi kemerdekaan bangsa Indonesia, memajukannya sehingga menjadi bangsa yang makmur dalam berbagai perspektif. Untuk itu dalam mengisi dan memajukan bangsa ini harus didasari dengan sikap-sikap dan perilaku sebagaimana yang ditanamkan oleh para pendahulu kita, yakni sopan santun, ramah sumeh, sabar, gotong royong, rukun dan sebagainya. Jangan sampai idealisme para pengisi kemerdekaan ini menyebabkan elan vital dari bangsa ini tercerabut dari akarnya. Ini penting penulis ungkap, karena kondisi empiris di sekitar kita dalam pesta demokrasi pemilu ini seolah-olah banyak hal negatif yang kita lakukan sebagai anak bangsa. Sekarang banyak fitnah, kebohongan, caci maki terhadap sesama, merendahkan kepada yang lain, adu domba, egoisme, yang seolah-olah euphoria demokrasi ini kita artikulasikan sebagai manusia yang individualistik, sombong, sangar, materialistik, merasa benar sendiri, merasa sebagai makhluk yang paling dekat dengan Allah, dengan menafikan hamba Allah yang lain, seolah-olah kita sebagai pemilik surga dan yang lain adalah neraka.

Penulis jadi teringat dengan salah satu senior di lembaga tempat bekerja dan mengabdi sehari-hari. Pada saat ada suatu acara, dia yang berumur 75 tahun, sudah purnatugas, tetapi ketika naik menuju tempat acara di lantai tiga. Begitu ringannya, walaupun dengan tangga manual, tidak merasa berat, juga tidak ngos-ngosan. Maka sesudah sampai tempat acara, penulis ambil tempat duduk di sampingnya. Ketika berbicara engan dia saya tanya, "Bapak tadi naik ke tempat acara ini kok begitu ringan sekali, tidak mengeluh? Padahal umur Bapak sudah kepala tujuh lebih. Apa kira-kira resep yang bisa ditularkan kepada saya sebagai pelajaran pengalaman yang bisa saya tiru, Pak?"

Dia menjawab singkat, "Kulo mboten nate muring-muring" (Saya tidak pernah marah-marah)." Mendapat jawaban senior ini saya kemudian merenung, dan berkata dalam hati, inilah manusia Indonesia yang otentik sesuai dengan karakteristik manusia Indonesia. Sebuah profil manusia yang kuat dari sisi jasmani juga dari sisi rohaninya. Artinya orang kuat sebagaimana ilustrasi bapak senior tadi adalah sederhana, 'dia tidak pernah marah-marah', sehingga bisa mengendalikan jiwa. Lalu berimplikasi kepada kekuatan lahirnya, yang walaupun sudah tua tetapi tetap tegak berdiri, semangat untuk berjuang, dan masih bisa kumpul-kumpul bersama yunior-yuniornya yang dari sisi umur jauh di bawahnya.

Contoh bapak senior tadi mungkin kalau kita nukil Hadits Rasul Saw, mungkin berbunyi demikian "Laysa al-ghina an katsrat al-aradh wa lakin al-ghina ghina al-nafs." Bukanlah orang kaya itu adalah orang yang bertumpuk materi tetapi orang kaya adalah orang yang bersimpati dengan dengan hati nuraninya. Atau dawuh yang lain, "Laysa al-syadid bi al-shur’ah innama al-syadid yamliku nafsahu ‘inda al-ghadhab." Bukanlah orang kuat adalah diukur dengan adu badannya, tetapi orang kuat adalah yang dapat mengendalikan nafsunya ketika marah. Ini kembali lagi kepada pernyataan awal bahwa orang harus dapat mensinergikan antara akal fikirannya, hatinya dan anggota badanya sehingga dapat meng-artikulasi sabar dalam tindakannya. 

Kemudian pertanyaannya adalah bagaimana kita dapat bersabar dalam konteks demokrasi yang sekarang prosesnya masih berjalan? Mungkin kita dapat mengutip teori dari Al-Ghazali dalam kitab Minhaj al-Abidin, sabar ada beberapa macam di antaranya, sabar dalam menjalankan ketaatan kepada Allah. Contohnya orang dapat mempertahankan konsistensinya dalam patuh dan taat, melakukan perbuatan-perbuatan baik menurut Allah, Rasulullah, dan keumuman manusia sekitar kita. Sabar dalam shalat, puasa, haji, zakat, silaturahmi, menebar kasih sayang. Sabar melaksanakan tugas kewajiban sebagai pelayan masyarakat, sabar dalam mencari rezeki. Sabar untuk dakwah ajaran-ajaran Islam, sabar sebagai pejabat, sabar sebagai rakyat, sabar sebagai anggota keluarga, sabar dalam semua kebaikan, baik yang berdimensi kemanusiaan (insaniyah) atau dimensi ke-Tuhan-an (ilahiyah).

Dalam menjalankan program demokrasi pun kita harus sabar. Misalnya sebagai panitia pemilu, baik di level desa atau kabupaten atau bahkan Komisi Pemilihan Umum (KPU) tingkat pusat juga harus bersabar. Usai pencoblosan, mungkin banyak komentar, kadang hujatan atau gugatan, padahal panitia sudah melaksanakannya dengan maksimal sesuai dengan kemampuan kemanusiaan mereka. Maka panitia juga harus tetap konsisten (istiqomah) sesuai dengan aturan perundang-undangan yang berlaku. Tidak boleh mundur, patah semangat atau putus asa. Sabar dalam hal kebaikan menjalankan kepaanitian pemilu dijalankan dengan aturan dan prosedur yang telah kita sepakati bersama, walaupun tantangan dan gangguannnya begitu berat.   

Penulis adalah Pengajar IAIN Tulungagung dan Mustasyar NU Blitar, Jawa Timur.

Bagikan:
Jumat 10 Mei 2019 12:0 WIB
Mewujudkan Nilai Ilahiyah dalam Berpuasa
Mewujudkan Nilai Ilahiyah dalam Berpuasa
Ilustrasi (ist)
Oleh Fathoni Ahmad

Ada ungkapan menarik yang berbunyi, “Manusia jangan hanya sebatas beragama, tetapi juga harus bertuhan”. Karena praktik beragama bisa dilakukan oleh siapa pun dengan hanya mengedepankan simbol-simbol agama. Sedangkan orang yang bertuhan sudah jelas beragama karena agama yang dipeluknya tidak meninggalkan nilai-nilai ketuhanan atau ilahiyah.

Simbol agama bisa menipu siapa saja karena mencampakkan substansi agama. Fenomena itu terlihat jelas ketika ada sekelompok orang yang secara artifisial sangat agamis, tetapi akhlak dan perkataannya jauh dari nilai-nilai universal agama yang semestinya menjunjung tinggi kasih sayang terhadap seluruh manusia.

Manusia beragama hendaknya sejurus dengan upaya mewujudkan nilai-nilai ketuhanan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam agama Islam sendiri diajarkan banyak syariat sebagai wujud atau manifestasi nilai-nilai ketuhanan, salah satunya ibadah puasa. Syariat puasa tidak hanya bertujuan mewujudkan keshalihan spiritual, tetapi keshalihan sosial tanpa memandang keyakinan dan golongan tertentu. Karena muara agama ialah bagaimana mewujudkan keseimbangan dan perdamaian kehidupan antarmanusia.

Beragama menurut sementara pakar adalah upaya manusia meneladani sifat-sifat Allah sesuai dengan kedudukan manusia sebagai makhluk. Dalam hal ini, kekuasaan Allah baik dalam wujud ayat-ayat qauliyah (wahyu) maupun ayat-ayat kauniyah (tanda-tanda alam) bisa menjadi washilah bagi manusia merenungi sekaligus memanfestasikan sifat-sifat Allah.

Menurut ulama tafsir Muhammad Quraish Shihab dalam Wawasan Al-Qur'an: Tafsir Maudhu'i atas Pelbagai Persoalan Umat (2000) menjelaskan bahwa Nabi Muhammad SAW memerintahkan, Takhallaqu bi akhlaq Allah (Berakhlaklah (teladanilah) sifat-sifat Allah).

Di sisi lain, manusia mempunyai kebutuhan beraneka ragam, dan yang terpenting adalah kebutuhan fa'ali, yaitu  makan, minum, dan hubungan seks Allah SWT memperkenalkan diri-Nya antara lain sebagai tidak mempunyai anak atau istri: “Bagaimana Dia memiliki anak, padahal Dia tidak memiliki istri?” (QS Al-An'am [6]: 101). “Dan sesungguhnya Mahatinggi kebesaran Tuhan kami. Dia tidak beristri dan tidak pula beranak.” (QS Al-Jin [72]: 3).

Al-Qur’an juga memerintahkan Nabi Muhammad untuk menyampaikan: “Apakah aku jadikan pelindung selain Allah yang menjadikan langit dan bumi padahal Dia memberi makan dan tidak diberi makan...?” (QS Al-An'am [6]: 14).

Dalam karya lainnya Membumikan Al-Qur’an (1999), Quraish Shihab menerangkan, manusia dapat mempertanyakan mengapa puasa menjadi kewajiban bagi umat Islam dan umat-umat terdahulu? Manusia memiliki kebebasan bertindak memilih dan memilah aktivitasnya, termasuk dalam hal ini, makan, minum, dan berhubungan seks. 

Binatang—khususnya binatang-binatang tertentu--tidak demikian. Nalurinya  telah mengatur ketiga kebutuhan pokok itu, sehingga--misalnya--ada waktu atau musim berhubungan seks bagi mereka. Itulah hikmah Ilahi demi memelihara kelangsungan hidup binatang yang bersangkutan, dan atau menghindarkannya dari kebinasaan.

Kebebasan yang dimilikinya bila tidak terkendalikan dapat menghambat pelaksanaan fungsi dan peranan yang harus diembannya. Kenyataan menunjukkan bahwa orang-orang yang memenuhi syahwat perutnya melebihi kadar yang diperlukan, bukan saja menjadikannya tidak lagi menikmati makanan atau minuman itu, tetapi juga menyita aktivitas lainnya kalau enggan berkata menjadikannya lesu sepanjang hari.

Syahwat seksual juga demikian. Semakin dipenuhi semakin haus bagaikan penyakit eksim  semakin digaruk semakin nyaman dan menuntut, tetapi tanpa disadari menimbulkan borok. Potensi dan daya manusia--betapa pun besarnya--memiliki keterbatasan, sehingga apabila  aktivitasnya telah digunakan secara berlebihan ke arah tertentu --arah pemenuhan kebutuhan fa’ali misalnya—maka arah yang lain, --mental spiritual--akan terabaikan. Nah, di sinilah diperlukannya pengendalian.

Dengan berpuasa, manusia berupaya dalam tahap awal dan minimal mencontohi sifat-sifat tersebut. Tidak makan dan tidak minum, bahkan memberi makan orang lain (ketika berbuka  puasa), dan tidak pula berhubungan seks, walaupun pasangan ada.

Tentu saja sifat-sifat Allah tidak terbatas pada ketiga hal itu, tetapi mencakup paling tidak sembilan puluh sembilan sifat yang kesemuanya harus diupayakan untuk diteladani sesuai dengan kemampuan dan kedudukan manusia sebagai makhluk ilahi.

Misalnya Maha Pengasih dan Penyayang, Mahadamai, Mahakuat, Maha Mengetahui, dan lain-lain. Upaya peneladanan  ini dapat mengantarkan manusia menghadirkan Tuhan dalam kesadarannya, dan bila hal itu berhasil dilakukan, maka takwa dalam pengertian di atas dapat pula dicapai.

Karena itu, nilai puasa ditentukan oleh kadar pencapaian kesadaran tersebut --bukan pada sisi lapar dan dahaga-- sehingga dari sini dapat dimengerti mengapa Nabi Muhammad menyatakan bahwa, "Banyak orang yang berpuasa, tetapi tidak memperoleh dari puasanya kecuali rasa lapar dan dahaga."

Puasa Ramadhan merupakan mercusuar ilahiyah yang mengajarkan umat Islam agar melaksanakan ibadah puasa dalam kesempatan-kesempatan lain sesuai syariat. Misal melaksanakan puasa sunnah secara rutin. Belum lagi ketika puasa ramadhan seseorang hendaknya memperbanyak ibadah, membaca Al-Qur’an, membantu orang lain, beramal, dan lain-lain karena nilainya berlipat-lipat di sisi Allah.

Praktik tersebut seharusnya bisa menjadi inspirasi kebaikan ketika bulan ramadhan telah berlalu. Sehingga nilai-nilai ketuhanan mewujud sepanjang masa bagi orang-orang yang benar-benar mempraktikkan agama sebagai jalan hidup. Sebab esensi agama ialah dijalankan sebaik-baiknya, tidak hanya disimbolkan secara artifisial. Apalagi berupaya menggunakan agama sebagai alat untuk merusak tatanan kehidupan.


Penulis adalah Redaktur NU Online
Rabu 8 Mei 2019 13:15 WIB
Akar Masalah yang Menghambat Kedaulatan Pangan Indonesia
Akar Masalah yang Menghambat Kedaulatan Pangan Indonesia
Oleh Muhammad Syamsudin

Dalam dua dasawarsa terakhir ini, pangan menjadi topik menarik untuk diperbincangkan. Tidak hanya di Indonesia, tapi juga di seluruh dunia, sejak mulai dari wilayah dusun-dusun terpencil, sampai dengan wilayah perkotaannya. Topik ini tidak berhenti sebatas dalam perbincangan saja, melainkan juga telah menjadi aksi sosial dan menimbulkan gejolak. Tercatat, ada Mesir, Bolivia, Madagaskar, Haiti, Ethiopia, Pakistan, Kamerun, Burkima Faso, Senegal, Filipina, dan bahkan di negara kita tercinta ini, Indonesia. Latar belakangnya sederhana dan merupakan ranah klasik pembahasan, yakni menipisnya persediaan pangan dunia sehingga melahirkan spekulasi harga di tengah krisis lain naik turunnya harga minyak dunia yang menambah iklim ketidakpastian itu. 

Jumlah penduduk kelaparan dan kurang gizi terus meningkat di seluruh belahan bumi. Anak-anak dan perempuan menempati rating yang paling tinggi menjadi korban. Meskipun kaum laki-laki juga turut menjadi korban, tapi agaknya kaum perempuan justru memiliki pengalaman lain ekses yang berbeda. Dalam kondisi kurang pangan, dalam berbagai kasus penelitian ditemukan bahwa perempuan tetap mendapat kesempatan terakhir untuk makan dalam keluarga. Sebagai imbasnya, kebutuhan kalori perempuan per hari menjadi tidak tercukupi meskipun dalam taraf minimal. Karena peran perempuan adalah juga menempati peran reproduksi, kelaparan dan kurang gizi padanya secara tidak langsung akan memiliki dampak yang simultan terhadap generasi yang akan datang. Kekurangan gizi pada ibu hamil dan menyusui, dapat berpengaruh terhadap kesehatan dirinya, bayi yang dikandung dan konsumsi ASI pada bayi menjadi tidak optimal. Bayi yang lahir dari ibu yang kurang gizi dapat berakibat pada hambatan pertumbuhan si anak dan perkembangan otaknya. 

Melonjaknya harga pangan di pasaran global secara tidak langsung membawa ekses kepada Indonesia. Negara yang dulu dikenal sebagai negara agraris dan pernah mengekspor beras, kini sedang menghadapi krisis pangan. Soeharto yang waktu itu menjabat sebagai presiden, pernah mendapat penghargaan dari organisasi pangan dunia FAO sebagai Bapak Pembangunan karena mampu mewujudkan swasembada beras. Namun kebanggaan ini tampaknya tidak berlangsung lama, karena dalam waktu kurang lebih hanya selang 3 dekade saja (24 tahun), gelar ini langsung lenyap bak ditelan bumi. Kemana larinya?

Indonesia kini sedang menghadapi krisis pangan seiring dengan naiknya harga BBM. Harga pangan di pasar dunia mulai beranjak naik sejak pertengahan tahun 1990-an. Tahun 2006 harga semakin melonjak secara fluktuatif pada kisaran 16% hingga 140% dibanding dekade sebelum 1990-an, terutama terhadap produk biji-bijian, seperti beras, gandum, jagung, dan lain-lain. Tidak hanya pada produk ini, produk perikanan dan perkebunan kelapa sawit juga turut mengalami lonjakan harga. 

Tahun 2006-2008 tercatat, lonjakan (fluktuasi) harga pangan itu berlangsung paling lama dibanding tahun-tahun sebelumnya. Harga beras di pasaran global tak stabil, berkisar antara 900-1000 dolar/ton yang diakibatkan permintaan beras yang melonjak naik sementara ketersediaan cadangan pangan sebagai wujud ketahanan pangan menurun hingga kurang lebih 3.5% atau sekitar 29.9 juta ton. 

Jika dianalisis lebih lanjut, penurunan yang terjadi kala itu adalah dipengaruhi beberapa faktor, yaitu:

1. Negara-negara pengekspor beras kala itu, yaitu Vietnam dan Thailand, menghentikan pasokan berasnya ke pasaran dunia diakibatkan kebutuhan mencukupi ketahanan pangan negaranya sendiri. 

2. Naiknya kebutuhan bahan bakar biologi dan ramah lingkungan oleh  beberapa perusahaan dan industri negara maju, sebagai akibat regulasi lingkungan, membawa akibat digusurnya beberapa lahan yang dulu dipergunakan sebagai lahan pertanian menjadi lahan perkebunan industri, ekses dari upaya mencukupi kebutuhan bahan bakar tersebut (agrofuel).

3. Adanya dampak perubahan iklim global yang mengakibatkan beberapa belahan dunia dilanda kekeringan, seperti Australia dan India, bahkan Amerika dan Jepang, membawa ekses pada penurunan kapasitas produksi beras dan jumlah pasokan pangan dunia.

4. Kenaikan harga minyak dunia hingga mencapai 135 dolar/barel (kala itu) turut menjadi penyumbang semakin mahalnya harga pangan tersebut ketika sampai di tangan konsumen kelas negara. 

Keempat situasi ini, secara tidak langsung telah memicu pada munculnya tindakan spekulatif di pasaran global, khususnya yang dilakukan oleh para investor pedagang besar. Tindakan tidak terpuji dari sejumlah netizen yang aktif dalam perdagangan Forex dan Binary juga menjadi satu bagian faktor penyebab munculnya tindakan spekulan pasar ini. 

Indonesia yang telah menjadi negara pengimpor beras sebelumnya (food net importer), hingga pertengahan tahun 1990-an, tak luput dari krisis ini. Persediaan pangan Indonesia sangat tergantung pada ketersediaan dan harga beras di pasaran Internasional. Menurut data dari Kementerian Pertanian, dalam satu dasawarsa (10 tahun), yakni kisaran tahun 1996-2006, Indonesia kala itu sudah harus menghabiskan cadangan devisanya sebesar 14.7 Triliun per tahun, hanya untuk keperluan pengadaan beras melalui impor saja. 

Data ini apabila dikroscekkan dengan data dari organisasi perdagangan dunia (WTO) akan menemui kesinkronan. Tahun 2006 saja, Indonesia sudah menjadi pemasok beras "terbesar" di dunia, yaitu mencapai 4.8 juta ton per tahun dengan rata-rata angka impor sebesar 3.2 juta ton per tahun. Padahal kemampuan pasokan beras dunia ke pasar Internasional adalah 320 juta ton rata-rata per tahun. Ini berarti, Indonesia merupakan negara pemasok 10% cadangan beras dunia. Sedemikian besar Indonesia memiliki ketergantungan pada beras di luar negeri sehingga ketidakpastian supply dan harganya di pasaran dunia, dapat berpengaruh secara simultan terhadap masyarakat Indonesia. Apalagi, beras sudah menjadi tren budaya makan Indonesia. Jika belum makan nasi beras, orang Indonesia bisa bilang: "saya belum makan", meskipun sudah habis singkong sepiring. (Data FAO Symposium on Agriculture, Trade and Food Security, Geneva, 23-24 September 2019).

Mahalnya harga beras, secara linier dapat berakibat pada naiknya jumlah penderita kelaparan, busung lapar atau bahkan mati akibat kelaparan. Jumlah ibu hamil yang kurang gizi dan ibu menyusui, serta anak-anak yang menderita busung lapar, akan semakin bertambah. Kematian ibu hamil juga akan menjadi meningkat. Tercatat 307 per 100 ribu orang ibu hamil, meninggal akibat kekurangan gizi itu, 3 kali lebih besar dari Vietnam, per tahun 2008. Tak heran bila FAO, sebagai induk organisasi pangan dunia , sudah memperingatkan jauh-jauh hari (tahun 2001), bahwa setiap hari telah terjadi kematian sebanyak 24 ribu ibu hamil akibat kelaparan dan penyakit uang diakibatkan pangan. Ironis, bukan. Padahal ikrar setia FAO adalah memerangi jumlah kelaparan menjadi separuhnya pada tahun 2015. Namun, seiring dengan krisis pangan ini, angka itu dapat melonjak tajam mencapai prediksi 122 juta per tahun orang akan mati akibat kelaparan, di seluruh dunia. 

Sebenarnya, apa akar masalahnya? Jika ditelusuri, sebenarnya akar masalah utama selain 4 faktor yang sudah disebutkan di muka, ada faktor lain yang berhubungan dengan petani. Petani sebagai produsen pertanian telah mengalami defisit penghasilan. Antara biaya perawatan dengan hasil panen tidak berimbang, bahkan sering jatuh dalam kebangkrutan. Teknologi pengadaan beras, seperti ketersediaan bibit unggul, terlalu mahal bagi petani. Padahal sebagian besar dari petani ini berlahan sempit. Biaya ini masih ditambah dengan biaya lain seperti kebutuhan pestisida, menyewa traktor, menyewa diesel, biaya pemeliharaan dan panen, bahkan biaya pupuk, semuanya dirasa menjadi faktor utama menjadi penyebab, khususnya di tanah air. 

Kebanyakan petani mengeluh bahwa hasil panen hanya cukup untuk menutup kebutuhan utang saprodi dan gali lubang utang baru untuk masa tanam berikutnya. Kondisi ini seringkali terus berulang sehingga berakibat jeratan utang yang mencekik petani menjadi semakin berkepanjangan. Meskipun pemerintah sudah menetapkan Harga Pokok Pertanian (HPP) setiap masa panennya per tahun, namun dirasa hal itu belum mencukupi. Petani masih belum mendapatkan keuntungan karena nilai tukar petani yang sangat rendah karena berbagai hal:

1. Dalam banyak kasus, spekulan swastalah yang banyak membeli produk gabah itu dengan harga sudah ditetapkan di muka

2. Tingginya harga pupuk hingga mencapai 140 ribu per zak Urea pada kisaran tahun ini

3. Serbuan beras impor yang berada di luar kendali pemerintah dan masuk ke pasaran saat petani panen.

4. Harga produk pertanian lebih tinggi dari harga produk pertanian. Akibatnya, peningkatan kebutuhan penyesuaian gaya hidup petani menjadi tidak dapat dilakukan. Apalagi transfer pengetahuan dan teknologi. 

Sebenarnya kasus ini tidak hanya terhenti pada petani, tapi juga nelayan dan lain sebagainya. Sedemikian kompleksnya masalah, maka penting bagi pemerintah untuk membina dan merawat produsen dasar ini mulai dari andil langsung terhadap sumber pokok masalah. Berantas spekulan pasar! Jika perlu cabut izinnya! Wallâhu a'lam bish shawâb.


Penulis adalah Tim Peneliti Bidang Ekonomi Syariah Aswaja NU Center PWNU Jatim dan Wakil Sekretaris Bidang Maudluiyah LBMNU PWNU Jatim.


Rabu 8 Mei 2019 6:0 WIB
Pesantren dan Pemuliaan Adab Literasi di Era Digital
Pesantren dan Pemuliaan Adab Literasi di Era Digital
Oleh: Muhammad Ghufron

Pesantren sebagai institusi ilmu keagamaan tertua di Nusantara, sedari awal berdirinya membawa misi mencetak insan-insan yang berpengetahuan luas dengan berlandaskan akidah Ahlusunnah wal Jama’ah. Salah satu instrumen fundamental yang digunakan pesantren dalam mencetak generasi yang demikian ialah menggembleng para santri dengan berbagai ajaran keagamaan serta ilmu pengetahuan umum untuk meluaskan spektrum berpikir santri.

Namun, dalam taraf perkembangan lebih lanjut, pesantren kian akomodatif dengan dinamika zaman tanpa menghilangkan substansi ajarannya yang paling fundamental (keagamaan). Pada titik ini, pesantren telah membuka ruang bagi para santri untuk mencerna berbagai transfer ilmu pengetahuan. Sehingga, tidak hanya kitab-kitab klasik saja yang dijadikan medium pembelajaran. Akan tetapi, buku-buku yang mencakup berbagai disiplin ilmu pengetahuan pun juga mewarnai jagat literatur pesantren. 

Realitas yang demikian telah mengantarkan kondisi santri yang begitu getol bergelut dengan dunia literasi. Salah satunya dengan aktivitas membaca buku apa saja yang sekiranya bisa untuk memperluas spektrum berpikir. Bagi kehidupan santri, eksistensi buku-buku menjadi makanan pokok yang wajib dibaca sebagai suplemen gizi batin. Tak peduli buku dari berbagai jenis kategori pun dilahap. Seolah buku menjelma bak kekasih yang bisa membuka cakrawala cinta yang cerdas.

Relasi santri dengan aktivitas membaca pun terjalin begitu intim. Buku-buku menjadi teman bercakap yang bisa mengisi waktu senggang mereka. Inilah salah satu bentuk implementasi konkret dari ajaran untuk menghargai waktu. Semuanya harus diisi dengan aktivitas yang bersifat edukatif. Dan, aktivitas membaca termasuk salah satu dari sekian banyak kegiatan edukatif yang ditekuni. Dari kebiasaan membaca inilah yang pada akhirnya pesantren menjadi ladang gembur tumbuh suburnya kader-kader penulis yang produktif. 

Beberapa tahun terakhir nama-nama penulis berlatar pesantren mulai menyeruak ke permukaan, mewarnai jagat literatur nasional. Memberi sumbangsih tersendiri dalam pergumulan ide dan imajinasi publik. Banyak tulisan mereka dari berbagai jenis kategori berhasil berkibar di media massa cetak maupun online. Mereka telah benar-benar memanfaatkan eksistensi media massa sebagai ruang mengasah kreativitas.  

Nama pesantren pun kian tenar tidak hanya sebagai pencetak seorang alim ilmu agama, tapi dengan sendirinya masyhur memproduksi penulis-penulis berskala nasional. Sekelumit contoh misalkan, M Musthafa, Jamal D Rahman, Mohammad al-Fayyadl, Raedu Basha, dan Mohammad Ali Fakih merupakan contoh penulis yang mewakili generasi muda berlatar proses kreatif Pesantren Annuqayah. Dari generasi 1980-an kita lihat, D Zawawi Imron, Ahmad Tohari, A Mustofa Bisri, Faisal Ismail, dan Emha Ainun Nadjib. Kesemuanya merupakan representasi penulis berlatar pesantren yang kapasitas keilmuannya sudah tidak bisa disangkal lagi.

Lahirnya penulis-penulis berlatar pesantren dengan kekhasan di setiap karyanya merupakan angin segar bagi kita. Biar bagaimanapun pesantren seolah menjadi tempat bagi persemaian para penulis berbakat. Alih-alih sambil belajar ilmu agama, justru tidak menampik diri pada geliat  kegitan sawala ilmiah dan sastra. Di bilik-bilik maupun di serambi-serambi pesantren kini menjadi tempat di mana forum-forum dan komunitas diskusi berpendar secara massif. 

Melalui diskusi kecil-kecilan inilah pemuliaan adab literasi kian menemukan momentumnya. Ia hendak menjadi wadah yang bersedia menuntun ke arah pemajuan selebrasi gairah literer. Di mana pertukaran ide mengalir begitu saja sebagai manifestasi dari kebebasan berkespresi. Hingga, memunculkan perspektif baru yang bisa membidani proses kreatif menulis. 

Selain diskusi, sepi menjadi suasana ampuh melahirkan sebuah karya. Di sudut-sudut pesantren pada waktu malam, kita akan bertemu dengan segelintir santri yang menaruh loyalitas pada sepi. Bagi sebagian santri, dalam sepi terdapat eksistensi inspirasi yang beranak-pinak. Barangkali inilah salah satu proses kreatif menulis santri yang jarang diulik oleh publik. Selain itu, secara historis-geneologis gairah literasi pesantren yang tetap membuhul hingga kini tentu tidak bisa dilepaskan dari inspirasi masa lalu. 

Inspirasi Masa Lalu untuk Masa Depan Literasi

Ada adagium tradisi kenabian yang mengajarkan "Ikatlah ilmu dengan tulisan." Adagium tersebut menjadi fundamen bagi para ulama masa silam untuk menuangkan gagasannya dalam bentuk tulisan. Para ulama sadar akan peribahasa latin yang berbunyi "Verba Volant, Scripta Manent," Ungkapan akan cepat menguap, sedangkan tulisan akan tetap mengabadi. Para ulama semisal Syaikh Nawawi al-Bantani, Imam al-Ghazali, dan Imam as-Syafi’ie memberikan ihwal kerja keabadian itu bagi kita. 

Imam al- Ghazali misalnya, dengan nada yang menggebu seolah menyadarkan kita akan pentingnya semangat menumbuhkan jiwa literasi. Dirinya berujar, "Kalau kamu bukan anak raja, kalau kamu bukan anak pejabat, maka jadilah penulis". Demikianlah kata Ayyuha al- Walad, Imam al-Ghazali yang masih relevan untuk dikontekstualisasikan hingga kini. Maka, menekuni dunia literasi bagi ulama masa silam semisal al-Ghazali merupakan puncak manifestasi hasrat yang tak tertangguhkan. 

Mereka menghasilkan karya-karya fenomenal yang hingga kini masih tetap mengabadi. Kitab-kitab mereka dipelajari dan dikaji oleh generasi-generasi berikutnya sebagai sumber ilmu, rujukan mengolah iman, dan suluh mengimajinasikan bangsa. Meski mereka sudah tiada, namanya tetap diingat sebagai ulama yang produktif dalam menulis. Jihad mereka, jihad keabadian. Mereka telah bekerja melampaui jauh sebelum Pramoedya berucap, "Menulis adalah bekerja untuk keabadian." Itulah salah satu manifestasi ikhtiar ulama masa silam yang memberi sumbangsih terhadap literatur khazanah peradaban Islam. 

Maka benar jika Azyumardi Azra suatu kali dalam perjumpaan intelektual Muslim mengatakan, "Peradaban Islam adalah peradaban buku-buku; jalan hidup Muslim dipandu buku; dan kita menemukan nilai hidup kita hanya dalam buku-buku. Tuhan kita termanifestasi dalam buku; dan identitas kita terbentuk oleh buku-buku. Jadi bagaimana bisa ada orang di antara kita yang merusak buku. Dan menjadi penghianat buku-buku."

Dengan menoleh ke geliat literasi ulama masa silam justru kian menumbuhkan eksplorasi imajinatif untuk lebih getol memajukan adab literasi. Pada titik ini santri telah berhasil mengafirmasi pepatah Yunani kuno "Historia Magistra Vitae". Sejarah adalah guru kehidupan. Dan, di dalam sejarah kita akan bertemu dengan mercusuar inspirasi yang berpendar relevan bagi masa depan. Termasuk inspirasi dari ulama masa silam.

Di era digital saat ini, pesantren masih tetap ajeg dengan geliat etos literasi. Para santri tetap nyaman menekuni laku literasi dengan tetap berpangku pada nilai-nilai kepesantrenan tanpa terpengaruh oleh gemuruh isu-isu provokatif yang bertebaran di media sosial. Seolah terjadi semacam pemuliaan terhadap adab literasi di pesantren. Dari literasi pesantren diharapkan mampu menjadi kiblat bagi pemajuan selebrasi adab literasi bangsa kita yang hampir terperosok ke tubir mengerikan kehancuran literasi yang menurut laporan Central Connectut State University (2016) menempati peringkat 60 dari 61 negara. Semoga.

Penulis adalah arsiparis perpustakaan Pondok Pesantren  Annuqayah daerah Lubangsa, penggerak Komunitas Menulis Pasra (Kompas)


IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG