IMG-LOGO
Internasional

Kiai Said Cerita Hubungan Indonesia-China dalam Penyebaran Islam

Jumat 10 Mei 2019 4:0 WIB
Bagikan:
Kiai Said Cerita Hubungan Indonesia-China dalam Penyebaran Islam
Ketum PBNU KH Said Aqil Siroj.
Jakarta, NU Online
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj mengemukakan tentang sejarah keterkaitan antara China dan Indonesia dalam tersebarnya Islam.

"Banyak sekali hubungan China yang bersejarah dengan Indonesia," kata Kiai Said saat santunan anak yatim dan buka puasa bersama di Pesantren Luhur Al-Tsaqafah Ciganjur, Jakarta Selatan, Kamis (9/5) petang.

Menurut Kiai Said, Syekh Hasanuddin yang dikenal dengan Syekh Quro karena suaranya yang sangat merdu ketika membaca ayat suci Al-Qur'an. Syekh Quro merupakan guru Nyai Subang Larang yang mengislamkan Prabu Siliwangi, yang di kemudian hari antara Nyai Subang Larang dan Prabu Siliwangi menjadi suami istri.

"Subang Larang mempunyai anak yang mengislamkan seluruh Jawa Barat, yaitu Prabu Kiansantang," ucapnya.

Kiai Said juga mengemukkan sekelumit kisah perjalanan Cheng Ho. Menurut Kiai Said, pada masa Dinasti Ming, Cheng Ho diutus untuk membangun jalur sutra maritim.

"Pak Jokowi ini kalau membangun tol laut harus meniru dari China yang sudah dilakukan oleh Cheng Ho," kata Kiai Said.

Kiai Said menuturkan bahwa Cheng Ho telah tujuh kali melakukan lawatannya ke Indonesia. Dan dalam salah satu perjalanan yang dilakukan bersama sebuah rombongan, termasuk di dalamnya terdapat anak Kaisar China bernama Putri Ong Tien, menemui Sunan Gunung Jati.

Melihat Putri Ong Tien, membuat Sunan Gunung Jati tertarik, kemudian menikahinnya. Namun, keberadaan Putri Ong Tien tak disukai oleh salah satu istri Sunan Gunung Jati, sehingga membuat Putri Ong Tien pergi dan menetap di Kuningan, Jawa Barat.

Kisah lain yang dikemukakan Kiai Said, ialah tentang Raja Brawijaya V dari Kerajaan Majapahit. Sebagai seorang raja, ia memiliki banyak istri yang salah satunya beragama Islam, yakni Dewi Sari, perempuan berasal dari Champa. 

Salah satu putra Raja Brawijaya dan Dewi Sari bernama Jin Bun. Namun, Jin Bun diusir dari istana kerajaan karena nakal. Jin Bun pun pergi ke Surabaya, kemudian bertemu Raden Rahmat atau yang lebih dikenal dengan Sunan Ampel. Pertemuan tersebut membuat Jin Bun masuk Islam, lalu namanya diubah menjadi Raden Fatah.

"Setelah lima tahun (belajar ke Sunan Ampel, Raden Fatah) permisi kepada gurunya untuk membangun kerajaan Islam. Maka berdirilah kerajaan Islam pertama di Jawa, yaitu Demak Bintoro," ucapnya.

Raja Brawijaya V pun mendengar kabar tentang Jin Bun atau Raden Fatah yang telah masuk Islam. Lantas Raja Brawijaya V berkomunikasi dengan putra lainnya, yakni Aryadillah, dengan maksud 'curhat' tentang anaknya yang masuk Islam. Namun, Raja Brawijaya V pun dibuat terkejut karena Aryadillah juga telah memeluk agama Islam. Tak hanya itu, rakyat Majapahit juga berbondong-bondong memeluk agama Islam. Melihat fenomena tersebut, akhirnya Raja Brawijaya V ikut menjadi muallaf.

"Dengan masuk Islam-nya Raja Brawijaya V, selesailah riwayat, sejarah kerajaan Majapahit yang pernah luas sampai ke Srilanka, sampai ke Filiphina Selatan, Nusantara ini semua Majapahit," ucapnya.

Akhirnya, kerajaan Majapahit dikuasai Kerajaan Demak tanpa terjadi peperangan atau mengalirkan darah. (Husni Sahal/Kendi Setiawan)
Bagikan:
Jumat 10 Mei 2019 23:59 WIB
Masjid-masjid di Sri Lanka Dikontrol Ketat setelah Serangan Bom
Masjid-masjid di Sri Lanka Dikontrol Ketat setelah Serangan Bom
Masjid Raya Mohideen Meththai di Kattankudy, Sri Lanka (Asanka Brendon Ratnayake/The Washington Post)
Colombo, NU Online
Pemerintah Sri Lanka mewajibkan para pengurus masjid untuk menyerahkan salinan materi khutbah yang disampaikan di tempat mereka. Selain itu, masjid-masjid juga diperintahkan untuk mendesak ekstremisme. Peraturan ini dikeluarkanp oleh pemerintah Sri Lanka pada Jumat (10/5).

Kebijakan ketat pemerintah Sri Lanka ini dimaksudkan untuk menekan persebaran ajaran dan kelompok ekstremisme Islam di sana, terutama setelah serangan bom yang menewaskan 258 orang pada Hari Paskah bulan lalu.

Kementerian Urusan Agama dan Kebudayaan Muslim Sri Lanka menegaskan, di masjid tidak boleh diselenggarakan kegiatan-kegiatan yang mengarah kepada ekstremisme, terorisme, dan ujaran kebencian.

"Mengingat situasi yang terjadi di negara saat ini, kementerian mengarahkan kepada seluruh pengurus masjid untuk tidak terlibat atau mengizinkan pertemuan yang mempromosikan atau menyebarkan kebencian atau ekstremisme dalam bentuk apa pun," kata kementerian dalam pernyataannya, sebagaimana dikutip AFP.

Sebelumnya, pemerintah Sri Lanka juga menerapkan kebijakan ketat bagi Muslim di sana menyusul serangkaian yang terjadi di negeri itu. Diantaranya melarang Muslimah Sri Lanka mengenakan cadar, mengusir 200 ulama asing yang visanya kedaluarsa, menutup media sosial, dan memberlakukan jam malam.

"Larangan (mengenakan cadar bagi Muslimah) ini diberlakukan untuk memastikan keamanan nasional terjaga. Tidak seorang pun harus mengaburkan wajah mereka untuk membuat identifikasi menjadi sulit," bunyi pernyataan Kantor Kepresidenan Sri Lanka saat itu.

Sebagaimana diketahui, pada Hari Paskah Ahad, 21 April lalu terjadi serangan bom di delapan lokasi di Sri Lanka; tiga di kebaktian gereja, tiga di hotel, satu di luar kebun binatang di selatan Ibu Kota Kolombo, dan satu lagi di pinggiran kota. Akibatnya, sedikitnya 258 orang meninggal dunia dan ratusan orang lainnya terluka, termasuk luka parah.

Pemerintah Sri Lanka menuding kelompok radikal lokal, National Thowheed Jamaath (NTJ), sebagai pihak yang bertanggung jawab atas serangan itu. (Red: Muchlishon)
Jumat 10 Mei 2019 23:30 WIB
Burj Khalifa Dihiasi Lampu LED Menawan selama Ramadhan
Burj Khalifa Dihiasi Lampu LED Menawan selama Ramadhan
(Screenshot/ Burj Khalifa Twitter)
Dubai, NU Online
Banyak cara yang dilakukan umat Muslim di seluruh dunia untuk menyambut bulan Ramadhan. Setiap daerah memiliki tradisi dan keunikan masing-masing untuk merayakan datangnya bulan suci umat Islam itu. Salah satu contohnya adalah di Dubai, Uni Emirat Arab (UEA). 

Di sana, bulan suci Ramdhan dirayakan dengan pertunjukan LED yang mengagumkan. Burj Khalifa, menara paling tinggi di dunia dengan tinggi mencapai 828 meter dan 163 lantai, dilengkapi dengan lampu yang berwarna-warni selama bulan Ramadhan. Pancaran sinar lampu LED tersebut menghiasi seluruh badan gedung.

Struktur lampu LED diprogram untuk menerangi Burj Khalifa dengan simbol-simbol bernuansa Ramadhan seperti bulan sabit, masjid, dan bintang berujung delapan. Pertunjukan lampu LED di Burj Khalifa selama Ramadhan tersebut bisa dinikmati di Downtown atau Dubai Mall, pusat perbelanjaan terbesar di dunia. 

Dikutip Gulf News UAE, Rabu (8/5), pertunjukan ini ditampilkan setiap malam. Para pengunjung bisa melihat pertunjukan tersebut pukul 19.45-22.45 waktu setempat untuk hari Ahad sampai Rabu. Sementara untuk hari Kamis hingga Sabtu, pertunjukan bisa dinikmati 20.45-20.45 waktu setempat. 

Yang perlu ditekankan adalah pertunjukan itu bukan hanya menampilkan hiburan semata, namun ada pesan tersirat di dalamnya. Pertunjukan pertama yang berdurasi tiga menit menampilkan bulat sabit yang bersisian dengan lentera Arab. Ini dimaksudkan sebagai tampilan inspiratif untuk menyambut nilai spiritual Ramadhan.

Pertunjukan kemudian diteruskan dengan rentetan pola geometris Arab yang dipenuhi dengan warna emas. Tidak kalah ketinggalan, musik oriental diputar untuk mengiringi pertunjukan tersebut. Sementara pada pertunjukan kedua, ditampilkan karya terkenal dari pelukis Art Noor yang terinspirasi dari Asmaul Husna. 

Tidak hanya itu, At The Top, lantai tertinggi di Burj Khalifa, dibuka dengan waktu yang lebih lama selama bulan Ramadhan. Yaitu mulai pukul 10.00 hingga 01.00 waktu setempat. Tentu itu akan memberikan pengalaman yang menakjubkan bagi para pengunjung. Mereka bisa menikmati pemandangan dari puncak tertinggi gedung di dunia pada tengah malam hari. (Red: Muchlishon)
Jumat 10 Mei 2019 16:0 WIB
Palestina setelah Dibombardir Israel Menjelang Ramadhan Kemarin
Palestina setelah Dibombardir Israel Menjelang Ramadhan Kemarin
Aksi bela Palestina di Jakarta (NU Online)
Yerusalem, NU Online
Pertempuran terbaru Palestina dan Israel terjadi pada Sabtu hingga Ahad, 4-5 Mei kemarin atau sehari sebelum tiba bulan Ramadhan 1440 H yang jatuh hari Senin, 6 Mei 2019. Dalam pertempuran itu, Israel berhasil serangan udara mengenai 260 sasaran di Gaza. Israel mengklaim, serangan itu dilancarkan sebagai balasan setelah sebelumnya milisi Gaza melancarkan serangan ke wilayah mereka. 

Diantara yang menjadi target serangan Israel adalah terowongan yang membentang dari Gaza selatan ke wilayah Israel, dua gedung bertingkat di Gaza, kantor intelijen dan keamanan militer Hamas, dan kantor berita Anadolu. 

Seperti diberitakan kantor berita AFP, Senin (6/5), Kementerian Kesehatan di Gaza menyatakan bahwa ada 19 warga Palestina tewas akibat serangan Israel di Jalur Gaza pada Minggu (5/5) waktu setempat. Salah satu korban tewas dari pihak Palestina adalah seorang bayi berusia 14 bulan dan ibunya. Sementara di pihak Israel, ada empat orang tewas.

Pihak Palestina dan Israel dilaporkan sepakat untuk gencatan senjata pada Senin (6/5) atau pada hari pertama bulan Ramadhan 1440 H. Meski demikian, ancaman serangan lanjutan dari kedua belah pihak telah menimbulkan kekhawatiran perang baru selama bulan Ramadhan. Kabar tentang gencatan senjata itu mengemuka setelah pihak internasional, termasuk PBB, mendesak agar kedua belak pihak saling menahan diri. 

Lebih dari setahun terakhir, warga Palestina menggelar demonstrasi di sepanjang jalur Gaza. Mereka mendesak Israel agar menghentikan blokade atas Gaza. Mereka juga menuntut hak mereka untuk kembali ke rumahnya setelah terusir puluhan tahun lalu. Sejak Maret 2018, sedikitnya 269 warga Palestina meninggal di tangan tentara Israel ketika mengikuti aksi-aksi demo tersebut. Sementara di pihak Israel, dalam kurun waktu yang sama, dua orang tewas. 

Gaza diambang bencana kemanusiaan

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan, saat ini Gaza sedang ‘diambang bencana kemanusiaan’ karena hampir sejuta warga Palestina terancam kelaparan. Pernyataan PBB itu didasarkan pada kondisi keuangan Badan Pengungsi Palestina (UNRWA). Anggaran keuangan UNRWA dilaporkan akan habis dalam waktu sebulan, sementara di sisi lain UNRWA dalam keadaan darurat untuk mendapatkan dana tambahan. 

"Skenario terburuknya kita tidak akan dapat memberi makan setengah populasi Gaza," kata Direktur kantor UNRWA di Washington, Elizabeth Campbell, dikutip The Independent, Jumat (10/5). 

Setiap tahunnya, UNRWA setidaknya butuh sekitar 1,2 miliar dollar AS atau setara Rp 117,2 triliun untuk dana operasional sekolah, program pangan, dan fasilitas kesehatan. Dana itu juga digunakan untuk menyantuni lima juta pengungsi Palestina di beberapa wilayah seperti Gaza, Tepi Barat, Yordania, Lebanon, dan Suriah.

Sebelumnya, Amerika Serikat (AS), selaku donator terbesar, memutuskan untuk memangkas dana untuk UNRWA. Akibatnya, UNRWA mengalami defisit keuangan hingga 440 juta dollar AS atau Rp 6,3 triliun. 

Krisis yang dialami UNRWA itu juga mengancam ribuan warga Palestina yang menderita luka tembak. Dikutip Reuters, Kamis (9/5), sekitar 1.700 orang di Gaza yang ditembak Israel terancam kehilangan anggota badannya akibat krisis UNRWA tersebut. Saat ini, PBB menyatakan bahwa untuk mencegah krisis layanan kesehatan yang melanda warga Gaza maka dibutuhkan dana sekitar 20 juta dollar AS atau sekitar Rp 287,3 miliar. 

Koordinator Kemanusiaan PBB di Palestina Jamie McGoldrick menuturkan, ada 29.000 warga Palestina yang terkena luka tembak ketika bentrok dengan pasukan Israel sepanjang tahun ini. Sebagian besar dari mereka menderita luka di bagian bawah tubuh. Oleh karenanya, mereka harus dioperasi untuk rekonstruksi tulang. Mengingat tidak adanya dana untuk operasi, McGoldrick memperingatkan mereka akan diamputasi. 


Bahas kondisi terkini, PM Palestina bertemu utusan Swiss

Perdana Menteri Palestina Mohammed Shtayeh bertemu dengan utusan Swiss bagi Proses Perdamaian Timur Tengah Roland Stinger di Ramallah, Rabu (8/5). Pada kesempatan itu, kedua pejabat itu membahas tentang kondisi terkini Palestina. Mereka juga mendiskusikan tentang upaya untuk menggerakkan dukungan keuangan dan politik sehubungan dengan perang keuangan yang dilancarkan AS dan Israel terhadap rakyat Palestina.

Dilaporkan kantor berita Palestina, WAFA, Shtayeh juga mendesak komunitas internasional untuk tidak menerima ‘Kesepakatan Abad Ini’ usulan AS. Ia menyerukan agar mereka membuat konferensi perdamaian internasional untuk mengakhiri pendudukan Israel dan menyelamatkan penyelesaian dua negara.

Shtayeh menerima surat dari Presiden Swiss Ueli Maurer. Dalam surat itu disebutkan kalau Swiss mendukung penyelesaian dua negara dan sejalan dengan resolusi hukum internasional. Swiss juga mendukung pendirian negara Palestina yang berdaulat. (Red: Muchlishon)
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG