IMG-LOGO
Opini

Mewujudkan Nilai Ilahiyah dalam Berpuasa


Jumat 10 Mei 2019 12:00 WIB
Bagikan:
Mewujudkan Nilai Ilahiyah dalam Berpuasa
Ilustrasi (ist)
Oleh Fathoni Ahmad

Ada ungkapan menarik yang berbunyi, “Manusia jangan hanya sebatas beragama, tetapi juga harus bertuhan”. Karena praktik beragama bisa dilakukan oleh siapa pun dengan hanya mengedepankan simbol-simbol agama. Sedangkan orang yang bertuhan sudah jelas beragama karena agama yang dipeluknya tidak meninggalkan nilai-nilai ketuhanan atau ilahiyah.

Simbol agama bisa menipu siapa saja karena mencampakkan substansi agama. Fenomena itu terlihat jelas ketika ada sekelompok orang yang secara artifisial sangat agamis, tetapi akhlak dan perkataannya jauh dari nilai-nilai universal agama yang semestinya menjunjung tinggi kasih sayang terhadap seluruh manusia.

Manusia beragama hendaknya sejurus dengan upaya mewujudkan nilai-nilai ketuhanan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam agama Islam sendiri diajarkan banyak syariat sebagai wujud atau manifestasi nilai-nilai ketuhanan, salah satunya ibadah puasa. Syariat puasa tidak hanya bertujuan mewujudkan keshalihan spiritual, tetapi keshalihan sosial tanpa memandang keyakinan dan golongan tertentu. Karena muara agama ialah bagaimana mewujudkan keseimbangan dan perdamaian kehidupan antarmanusia.

Beragama menurut sementara pakar adalah upaya manusia meneladani sifat-sifat Allah sesuai dengan kedudukan manusia sebagai makhluk. Dalam hal ini, kekuasaan Allah baik dalam wujud ayat-ayat qauliyah (wahyu) maupun ayat-ayat kauniyah (tanda-tanda alam) bisa menjadi washilah bagi manusia merenungi sekaligus memanfestasikan sifat-sifat Allah.

Menurut ulama tafsir Muhammad Quraish Shihab dalam Wawasan Al-Qur'an: Tafsir Maudhu'i atas Pelbagai Persoalan Umat (2000) menjelaskan bahwa Nabi Muhammad SAW memerintahkan, Takhallaqu bi akhlaq Allah (Berakhlaklah (teladanilah) sifat-sifat Allah).

Di sisi lain, manusia mempunyai kebutuhan beraneka ragam, dan yang terpenting adalah kebutuhan fa'ali, yaitu  makan, minum, dan hubungan seks Allah SWT memperkenalkan diri-Nya antara lain sebagai tidak mempunyai anak atau istri: “Bagaimana Dia memiliki anak, padahal Dia tidak memiliki istri?” (QS Al-An'am [6]: 101). “Dan sesungguhnya Mahatinggi kebesaran Tuhan kami. Dia tidak beristri dan tidak pula beranak.” (QS Al-Jin [72]: 3).

Al-Qur’an juga memerintahkan Nabi Muhammad untuk menyampaikan: “Apakah aku jadikan pelindung selain Allah yang menjadikan langit dan bumi padahal Dia memberi makan dan tidak diberi makan...?” (QS Al-An'am [6]: 14).

Dalam karya lainnya Membumikan Al-Qur’an (1999), Quraish Shihab menerangkan, manusia dapat mempertanyakan mengapa puasa menjadi kewajiban bagi umat Islam dan umat-umat terdahulu? Manusia memiliki kebebasan bertindak memilih dan memilah aktivitasnya, termasuk dalam hal ini, makan, minum, dan berhubungan seks. 

Binatang—khususnya binatang-binatang tertentu--tidak demikian. Nalurinya  telah mengatur ketiga kebutuhan pokok itu, sehingga--misalnya--ada waktu atau musim berhubungan seks bagi mereka. Itulah hikmah Ilahi demi memelihara kelangsungan hidup binatang yang bersangkutan, dan atau menghindarkannya dari kebinasaan.

Kebebasan yang dimilikinya bila tidak terkendalikan dapat menghambat pelaksanaan fungsi dan peranan yang harus diembannya. Kenyataan menunjukkan bahwa orang-orang yang memenuhi syahwat perutnya melebihi kadar yang diperlukan, bukan saja menjadikannya tidak lagi menikmati makanan atau minuman itu, tetapi juga menyita aktivitas lainnya kalau enggan berkata menjadikannya lesu sepanjang hari.

Syahwat seksual juga demikian. Semakin dipenuhi semakin haus bagaikan penyakit eksim  semakin digaruk semakin nyaman dan menuntut, tetapi tanpa disadari menimbulkan borok. Potensi dan daya manusia--betapa pun besarnya--memiliki keterbatasan, sehingga apabila  aktivitasnya telah digunakan secara berlebihan ke arah tertentu --arah pemenuhan kebutuhan fa’ali misalnya—maka arah yang lain, --mental spiritual--akan terabaikan. Nah, di sinilah diperlukannya pengendalian.

Dengan berpuasa, manusia berupaya dalam tahap awal dan minimal mencontohi sifat-sifat tersebut. Tidak makan dan tidak minum, bahkan memberi makan orang lain (ketika berbuka  puasa), dan tidak pula berhubungan seks, walaupun pasangan ada.

Tentu saja sifat-sifat Allah tidak terbatas pada ketiga hal itu, tetapi mencakup paling tidak sembilan puluh sembilan sifat yang kesemuanya harus diupayakan untuk diteladani sesuai dengan kemampuan dan kedudukan manusia sebagai makhluk ilahi.

Misalnya Maha Pengasih dan Penyayang, Mahadamai, Mahakuat, Maha Mengetahui, dan lain-lain. Upaya peneladanan  ini dapat mengantarkan manusia menghadirkan Tuhan dalam kesadarannya, dan bila hal itu berhasil dilakukan, maka takwa dalam pengertian di atas dapat pula dicapai.

Karena itu, nilai puasa ditentukan oleh kadar pencapaian kesadaran tersebut --bukan pada sisi lapar dan dahaga-- sehingga dari sini dapat dimengerti mengapa Nabi Muhammad menyatakan bahwa, "Banyak orang yang berpuasa, tetapi tidak memperoleh dari puasanya kecuali rasa lapar dan dahaga."

Puasa Ramadhan merupakan mercusuar ilahiyah yang mengajarkan umat Islam agar melaksanakan ibadah puasa dalam kesempatan-kesempatan lain sesuai syariat. Misal melaksanakan puasa sunnah secara rutin. Belum lagi ketika puasa ramadhan seseorang hendaknya memperbanyak ibadah, membaca Al-Qur’an, membantu orang lain, beramal, dan lain-lain karena nilainya berlipat-lipat di sisi Allah.

Praktik tersebut seharusnya bisa menjadi inspirasi kebaikan ketika bulan ramadhan telah berlalu. Sehingga nilai-nilai ketuhanan mewujud sepanjang masa bagi orang-orang yang benar-benar mempraktikkan agama sebagai jalan hidup. Sebab esensi agama ialah dijalankan sebaik-baiknya, tidak hanya disimbolkan secara artifisial. Apalagi berupaya menggunakan agama sebagai alat untuk merusak tatanan kehidupan.


Penulis adalah Redaktur NU Online
Tags:
Bagikan:
IMG
IMG