IMG-LOGO
Trending Now:
Nasional

Romo Benny: Gus Dur Selalu Mendasarkan Pikirannya pada Konstitusi

Sabtu 11 Mei 2019 5:15 WIB
Bagikan:
Romo Benny: Gus Dur Selalu Mendasarkan Pikirannya pada Konstitusi
Jakarta, NU Online
Rohaniawan Romo Benny Susetyo menyatakan bahwa KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur selalu mendasarkan pikirannya pada konstitusi. Sementara konstitusi bekerja untuk kesejahteraan dan keadilan.

"Dia menjalankan konstitusi. Lah konstitusi itu apa? Keadilan dan kesejahteran. Maka untuk berlaku adil, maka martabat manusia harus dipentingkan," kata Romo Benny  pada diskusi bertajuk The Gus Dur Code: Pemikiran dan Tindakan di Kantor Pengurus Besar Majelis Dzikir Hubbul Wathan di Tebet, Jakarta Selatan, Jumat (10/5).

Menurut Romo Benny, Gus Dur menganggap setiap orang itu mempunyai arti. Gus Dur tidak membedakan siapa pun dan dari etnis dan suku apa pun. Sebagai contoh, Gus Dur membebaskan Zaenab, TKI asal Bangkalan Madura, Jawa Timur, yang ketika itu diancam hukuman pancung oleh pemerintah Arab Saudi atas kasus pembunuhan terhadap anak majikannya.

"Ketika ada TKI yang mau dipancung, Gus Dur mendatangi, bahkan Gus Dur meminta supaya salah satu keluarga itu di Madura supaya diyakinkan, supaya dia (pihak dari Arab Saudi) mau memberi pengampuan, dilakukanlah Gus Dur, demi kemanusiaan," ucapnya.

Beberapa contoh lainnya, ialah Gus Dur melindungi atau berani pasang badan terhadap aktivis-aktivis dari Partai Rakyat Demokratik yang dikriminalisasi dan membela Ignasius Sandyawan Sumardi atau Romo Sandy dalam gerakan Suaka Kemanusiaan kasus 27 Juli 1996.

"Gus Dur itu mau melihat Indonesia ke depan itu adalah Indonesia yang konstitusional. Gus Dur tidak pernah berpikir tidak konstitusion," ucapnya.

Oleh karena Gus Dur selalu berpikir konstitusional, sambungnya, Gus Dur menolak kekerasan, dalam menyelesaikan persoalan memilih jalan dialog, dan dalam dialog itulah, setiap orang memiliki arti.

"Maka bagi Gus Dur, semua ditempatkan (pada) posisi yang sama dan tidak ada diskriminasi, baik terhadap minoritas, termasuk minoritas kecil pun," jelasnya. (Husni Sahal/Kendi Setiawan)
Bagikan:
Sabtu 11 Mei 2019 23:45 WIB
Makna ‘Shirathal Mustaqim’ Menurut Prof Quraish Shihab
Makna ‘Shirathal Mustaqim’ Menurut Prof Quraish Shihab
Jakarta, NU Online
Prof Quraish Shihab memaknai kata ‘shirath’ dalam Al-Qur’an Surat al-Fatihah ayat 6 ‘shirathal mustaqim’ sebagai jalan yang lebar. Dia mengibaratkan ‘shirath’ atau jalan yang lebar dengan jalan tol.

“Di dalam Al-Qur’an, (kata) shirath itu selalu berbentuk tunggal,” kata Prof Quraish dalam sebuah video yang diunggah akun Mata Najwa di YouTube, Kamis (9/5).

Selain shirath, lanjut Prof Quraish, di dalam Al-Qur'an juga ada kata lain yang memiliki makna jalan, yaitu sabil. Bedanya, sabil adalah jalan kecil. Menurut dia, ada sabil atau jalan kecil yang menghantarkan kepada kesesatan dan ada juga yang menghantarkan kepada jalan yang lurus (shirathal mustaqim).

Dia mencontohkan, di dalam Al-Qur’an disebutkan ada jalannya orang yang tidak mengerti (sabililladzina la ya’lamun) dan jalannya para pendurhaka (sabilul mujrimin). Ada juga sabil atau jalan kecilnya orang yang bertakwa (sabilul muttaqin) atau jalannya Allah (sabilillah). Jadi, ketika seseorang masih di sabil atau jalan kecil, maka dia bisa saja tersesat dan bisa juga sudah di jalan yang baik sehingga mengantarkannya ke jalan yang lurus (shirathal mustaqim). 

“Jadi shiroth itu jalan tol, sabil itu jalan kecil. Jalan kecil selama bercirikan kedamaian itu mengantar ke jalan tol. Kalau Anda sudah sampai siroth, jalan tol, pasti sudah sampai ke tujuan. Tidak sesat lagi,” jelasnya.

Penulis buku Tafsir al-Misbah ini menjelaskan, jika ada sesorang yang mengajak untuk mengikuti suatu jalan yang mengakibatkan perpecahan dan permusuhan maka jalan tersebut tidak akan sampai kepada shirathal mustaqim. Kebalikannya, jalan-jalan yang baik yang menghantarkan ke sirathal mustaqim itu dihimpun oleh kedamaian. 

“Kita bisa beda-beda dong, yang penting kita bertemu di jalan tol. Kalau sampai jalan tol, lebar, tidak berdesak-desakan. Itu artinya shiroth,” jelasnya. (Red: Muchlishon)
Sabtu 11 Mei 2019 23:30 WIB
RAMADHAN BERKAH
Jambu LAZISNU, Corong Ketersediaan Jamban di Rumah Warga
Jambu LAZISNU, Corong Ketersediaan Jamban di Rumah Warga
Poster program Jambu NU Care-LAZISNU
Jakarta, NU Online
Berdasarkan data yang dirangkum oleh NU Care-LAZISNU, penyediaan jamban untuk setiap rumah hunian masih belum merata. Bahkan, di sebagian perkampungan hanya segelintir orang yang memiliki jamban. Terdapat 25 juta kampung di Indonesia yang belum memiliki jamban atau fasilitas sanitasi yang layak.

Selain itu, 47% masyarakat masih berperilaku buang air besar di sungai, sawah, kolam, kebun dan tempat terbuka. Sangat sedikit rumah tangga pedesaan yang benar-benar memiliki jamban sehat.

"Permasalahan jamban bukan saja soal infrastruktur dan sanitasi air, akan tetapi mengenai sosial budaya, kesehatan dan kebersihan lingkungan masyarakat. Penyediaan jamban bagi setiap rumah akan menggiring kebiasaan masyarakat untuk menjaga pola hidup sehat," ungkap Sekretaris NU Care-LAZISNU Abdur Rouf.

Persoalan tersebut menjadi pertimbangan kuat bagi NU Care-LAZISNU menggulirkan program Jamban Bagus (Jambu), dan menjadikannya salah satu dari sembilan program unggulan NU Care-LAZISNU di bulan Ramadhan ini.

Melalui Jambu, lanjut Rouf, NU Care-LAZISNU akan konsisten untuk menjadi corong ketersediaan jamban bagi setiap rumah warga, terutama di daerah pelopok dan perkampungan. Untuk menjalankan program ini, LAZISNU telah mendapatkan data ter-up date atas kebutuhan jamban di Indonesia.

"Namun begitu, LAZISNU tetap perlu menjalin kerja sama dengan masyarakat sekitar lokasi dan lembaga-lembaga terkait untuk mendapatkan  sasaran tepat bantuan Jambu," imbuhnya.

Melalui program Jambu, NU Care-LAZISNU menyediakan bantuan dalam bentuk tunai bagi pembangunan dan renovasi jamban. Diharapkan, program Jambu memutus mata rantai penyakit yang disebabkan oleh sanitasi yang salah serta memberikan semangat menjaga lingkungan yang sehat dan mewujudkan kehidupan masyarakat yang sehat dan sejahtera.

Target yang ingin dicapai selama program Ramadhan 1440 H sebanyak 100 unit jamban. Adapun bantuan yang diberikan berupa biaya renovasi ataupun pembangunan jamban.

Program Jambu juga sesuai dengan tujuan atau kriteria SDGs, yakni Tujuan 3 Kehidupan sehat dan sejahtera; Tujuan 6 Air bersih dan sanitasi layak, dan  Tujuan 9 Industri, inovasi dan infrastruktur. (Kendi Setiawan)
Sabtu 11 Mei 2019 22:45 WIB
Seri Ngaji Pasanan
Gus Mus: Kalbumu Bisa seperti Nabi atau Para Wali
Gus Mus: Kalbumu Bisa seperti Nabi atau Para Wali
KH A Mustofa Bisri mengisi pengajian Ngaji Pasanan
Rembang, NU Online
Dalam persfektif spiritual, kalbu (qolb) atau hati manusia diartikan sebagai sesuatu yang halus, memiliki sifat ruhaniyah dan rubaniyah (ketuhanan). Semua manusia yang diciptakan Allah memiliki kalbu, dan tidak ada perbedaan pada kalbu tersebut.
Kendati manusia itu adalah manusia biasa, kalbunya sama dengan para nabi dan wali yang tidak lain adalah manusia pilihan Allah.

Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU, KH A Mustofa Bisri (Gus Mus) mengatakan, berdasarkan pemahaman Imam Al-Ghazali, inti dari manusia adalah kalbu, dan kalbu berlaku untuk semua umat manusia, tidak melihat apakah manusia itu nabi atau wali.

Pemahaman itu disampaikan Gus Mus saat mengisi pengajian Ngaji Pasanan pertemuan keenam Kitab Kimya as-Sa'adah karya Imam Al-Ghazali di Pondok Raudlatuth Thalibien, Leteh, Rembang, Jawa Tengah, Sabtu (11/5) malam.

Menurutnya, kalbu memiliki keistimewaan yang sudah dianugerahkan Allah kepada manusia sejak Nabi Adam diciptakan sampai generasi saat ini. Hanya saja, kalbu tersebut ibarat besi atau kaca, semakin kaca itu bersih maka dia akan memantulkan gambar-gambaran yang jelas. Sebaliknya, semakin kaca itu kotor, maka gambaran itu akan terlihat buram, bahkan sama sekali tidak bisa memantulkan gambar apapun.

"Nabi-nabi itu cemerlang kabeh (semua), karena digosok terus sehingga terus bisa memantulkan gambaran-gambaran," katanya.

Sementara kalbu yang dimiliki manusia biasa, lanjut Gus Mus, ibarat kaca yang sudah penuh dengan debu, kotor. Tertutup dengan dosa dan syahwat itu sendiri, sehingga tidak bisa mencapai derajatnya sebagai kalbunya para nabi atau para kekasih Allah.
 
"Kalbumu bisa seperti nabi-nabi, kamu juga bisa menerima pantulan-pantulan. Intinya sama, manusia biasa dengan yang suci-suci kalbunya sama. Ada bahan melihat itu ada, tapi udah karatan," tutur penulis buku Membuka Pintu Langit: Momentum Mengevaluasi Perilaku (Kompas, 2007).

Baca artikel lainnya

Gus Mus: Allah itu 'Maha Semau Gue'

Gus Mus Jelaskan Makna Qolbu di Hari Pertama Ngaji Pasanan


Tokoh NU penerima penghargaan kehormatan Bintang Budaya Parama Dharma ini menjabarkan, hal itu selaras dengan sabda Nabi yang mengatakan, 'Setiap bayi yang lahir dalam keadaan fitrah Islam. Sejak bayi manusia percaya dengan Allah Swt dan memiliki naluri yang sangat terpuji'.

"Nalurinya orang percaya kepada Allah Swt. Islam itu pasrah kepada Allah. Mungkin (bayi) tidak ngerti istilah itu, tapi sebenarnya dia ngerti soal itu, ya kalbu itu. Inti dari kita itu kalbu dan setiap orang punya kalbu dan bayi juga punya," ujarnya. (Abdul Rahman Ahdori/Zunus)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG