IMG-LOGO
Nasional

Jawaban Kiai Miftach soal Bukber di Mal hingga Menjamak Shalat

Sabtu 11 Mei 2019 8:15 WIB
Bagikan:
Jawaban Kiai Miftach soal Bukber di Mal hingga Menjamak Shalat
Rais Aam PBNU, KH Miftachul Akhyar
Jakarta, NU Online
Rais 'Aam PBNU, KH Miftachul Akhyar mendapat pertanyaan dari jamaah, bagaimana jika ada umat Islam berbuka puasa di mal dan membuat mereka menjamak Shalat Maghrib dan Isya?

Menjawab pertanyaan tersebut, Kiai Miftach mengatakan bahwa aslinya menjamak dua shalat menjadi satu waktu adalah sebuah kemurahan untuk musafir. Musafir karena dalam kondisi perjalanan, membuat terlepas dari hal-hal yang biasanya diwajibkan untuk orang yang bukan musafir.

"Musafir adalah sesuatu yang tidak wajar (tidak biasanya), bahkan ada hadits yang berbunyi, 'Perjalanan adalah sepotong dari kepayahan.' Maka diberilah (keringangan) jamak," kata Kiai Miftach seperti dalam rekaman yang diunggah 164 Channel.

Sebab lain, kata Kiai Miftach, saat seorang Muslim misalnya ingin menuju ke masjid atau mushala kemudian turun hujan dan khawatir jika tetap berangkat akan basah, diperbolehkan menjamak takdim, bukan takhir.

Seiring perkembangan zaman, muncul situasi-situasi daruat yang membuat orang boleh menjamak shalat. Misalnya jika seseorang sedang menggelar hajatan pernikahan anaknya, yang di situ banyak tamu dan tidak baik jika ditinggalkan, itu juga boleh menjamak shalat.

"Atau ada hajat (keperluan) apa yang menyita waktu, diperbolehkan jamak takdim di rumah," ujar Pengasuh Pesantren Miftachus Sunah, Surabaya, Jawa Timur ini.

Dengan begitu, menjamak shalat pada dasarnya diperbolehkan jika ada hajat-hajat yang syari', yang umum, dan normal yang memang mengandaikan hal itu sebagai kebutuhan mendesak.

"Kalau buka puasa di mal apalagi senang-senang, tidak memenuhi syarat. Kecuali di situ tidak ada fasilitas atau sulit melaksanakan shalat," tegasnya pada sesi tanya jawab usai pengajian rutin Kitab Al-Hikam.

Buka puasa bersama di mal, dengan demikian, tidak menjadi penyebab orang melakukan jamak. "Tetap nggak boleh, karena untuk senang-senang tak boleh menjamak, shalatnya seperti biasa," ulangnya. (Kendi Setiawan)
Bagikan:
Sabtu 11 Mei 2019 23:45 WIB
Makna ‘Shirathal Mustaqim’ Menurut Prof Quraish Shihab
Makna ‘Shirathal Mustaqim’ Menurut Prof Quraish Shihab
Jakarta, NU Online
Prof Quraish Shihab memaknai kata ‘shirath’ dalam Al-Qur’an Surat al-Fatihah ayat 6 ‘shirathal mustaqim’ sebagai jalan yang lebar. Dia mengibaratkan ‘shirath’ atau jalan yang lebar dengan jalan tol.

“Di dalam Al-Qur’an, (kata) shirath itu selalu berbentuk tunggal,” kata Prof Quraish dalam sebuah video yang diunggah akun Mata Najwa di YouTube, Kamis (9/5).

Selain shirath, lanjut Prof Quraish, di dalam Al-Qur'an juga ada kata lain yang memiliki makna jalan, yaitu sabil. Bedanya, sabil adalah jalan kecil. Menurut dia, ada sabil atau jalan kecil yang menghantarkan kepada kesesatan dan ada juga yang menghantarkan kepada jalan yang lurus (shirathal mustaqim).

Dia mencontohkan, di dalam Al-Qur’an disebutkan ada jalannya orang yang tidak mengerti (sabililladzina la ya’lamun) dan jalannya para pendurhaka (sabilul mujrimin). Ada juga sabil atau jalan kecilnya orang yang bertakwa (sabilul muttaqin) atau jalannya Allah (sabilillah). Jadi, ketika seseorang masih di sabil atau jalan kecil, maka dia bisa saja tersesat dan bisa juga sudah di jalan yang baik sehingga mengantarkannya ke jalan yang lurus (shirathal mustaqim). 

“Jadi shiroth itu jalan tol, sabil itu jalan kecil. Jalan kecil selama bercirikan kedamaian itu mengantar ke jalan tol. Kalau Anda sudah sampai siroth, jalan tol, pasti sudah sampai ke tujuan. Tidak sesat lagi,” jelasnya.

Penulis buku Tafsir al-Misbah ini menjelaskan, jika ada sesorang yang mengajak untuk mengikuti suatu jalan yang mengakibatkan perpecahan dan permusuhan maka jalan tersebut tidak akan sampai kepada shirathal mustaqim. Kebalikannya, jalan-jalan yang baik yang menghantarkan ke sirathal mustaqim itu dihimpun oleh kedamaian. 

“Kita bisa beda-beda dong, yang penting kita bertemu di jalan tol. Kalau sampai jalan tol, lebar, tidak berdesak-desakan. Itu artinya shiroth,” jelasnya. (Red: Muchlishon)
Sabtu 11 Mei 2019 23:30 WIB
RAMADHAN BERKAH
Jambu LAZISNU, Corong Ketersediaan Jamban di Rumah Warga
Jambu LAZISNU, Corong Ketersediaan Jamban di Rumah Warga
Poster program Jambu NU Care-LAZISNU
Jakarta, NU Online
Berdasarkan data yang dirangkum oleh NU Care-LAZISNU, penyediaan jamban untuk setiap rumah hunian masih belum merata. Bahkan, di sebagian perkampungan hanya segelintir orang yang memiliki jamban. Terdapat 25 juta kampung di Indonesia yang belum memiliki jamban atau fasilitas sanitasi yang layak.

Selain itu, 47% masyarakat masih berperilaku buang air besar di sungai, sawah, kolam, kebun dan tempat terbuka. Sangat sedikit rumah tangga pedesaan yang benar-benar memiliki jamban sehat.

"Permasalahan jamban bukan saja soal infrastruktur dan sanitasi air, akan tetapi mengenai sosial budaya, kesehatan dan kebersihan lingkungan masyarakat. Penyediaan jamban bagi setiap rumah akan menggiring kebiasaan masyarakat untuk menjaga pola hidup sehat," ungkap Sekretaris NU Care-LAZISNU Abdur Rouf.

Persoalan tersebut menjadi pertimbangan kuat bagi NU Care-LAZISNU menggulirkan program Jamban Bagus (Jambu), dan menjadikannya salah satu dari sembilan program unggulan NU Care-LAZISNU di bulan Ramadhan ini.

Melalui Jambu, lanjut Rouf, NU Care-LAZISNU akan konsisten untuk menjadi corong ketersediaan jamban bagi setiap rumah warga, terutama di daerah pelopok dan perkampungan. Untuk menjalankan program ini, LAZISNU telah mendapatkan data ter-up date atas kebutuhan jamban di Indonesia.

"Namun begitu, LAZISNU tetap perlu menjalin kerja sama dengan masyarakat sekitar lokasi dan lembaga-lembaga terkait untuk mendapatkan  sasaran tepat bantuan Jambu," imbuhnya.

Melalui program Jambu, NU Care-LAZISNU menyediakan bantuan dalam bentuk tunai bagi pembangunan dan renovasi jamban. Diharapkan, program Jambu memutus mata rantai penyakit yang disebabkan oleh sanitasi yang salah serta memberikan semangat menjaga lingkungan yang sehat dan mewujudkan kehidupan masyarakat yang sehat dan sejahtera.

Target yang ingin dicapai selama program Ramadhan 1440 H sebanyak 100 unit jamban. Adapun bantuan yang diberikan berupa biaya renovasi ataupun pembangunan jamban.

Program Jambu juga sesuai dengan tujuan atau kriteria SDGs, yakni Tujuan 3 Kehidupan sehat dan sejahtera; Tujuan 6 Air bersih dan sanitasi layak, dan  Tujuan 9 Industri, inovasi dan infrastruktur. (Kendi Setiawan)
Sabtu 11 Mei 2019 22:45 WIB
Seri Ngaji Pasanan
Gus Mus: Kalbumu Bisa seperti Nabi atau Para Wali
Gus Mus: Kalbumu Bisa seperti Nabi atau Para Wali
KH A Mustofa Bisri mengisi pengajian Ngaji Pasanan
Rembang, NU Online
Dalam persfektif spiritual, kalbu (qolb) atau hati manusia diartikan sebagai sesuatu yang halus, memiliki sifat ruhaniyah dan rubaniyah (ketuhanan). Semua manusia yang diciptakan Allah memiliki kalbu, dan tidak ada perbedaan pada kalbu tersebut.
Kendati manusia itu adalah manusia biasa, kalbunya sama dengan para nabi dan wali yang tidak lain adalah manusia pilihan Allah.

Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU, KH A Mustofa Bisri (Gus Mus) mengatakan, berdasarkan pemahaman Imam Al-Ghazali, inti dari manusia adalah kalbu, dan kalbu berlaku untuk semua umat manusia, tidak melihat apakah manusia itu nabi atau wali.

Pemahaman itu disampaikan Gus Mus saat mengisi pengajian Ngaji Pasanan pertemuan keenam Kitab Kimya as-Sa'adah karya Imam Al-Ghazali di Pondok Raudlatuth Thalibien, Leteh, Rembang, Jawa Tengah, Sabtu (11/5) malam.

Menurutnya, kalbu memiliki keistimewaan yang sudah dianugerahkan Allah kepada manusia sejak Nabi Adam diciptakan sampai generasi saat ini. Hanya saja, kalbu tersebut ibarat besi atau kaca, semakin kaca itu bersih maka dia akan memantulkan gambar-gambaran yang jelas. Sebaliknya, semakin kaca itu kotor, maka gambaran itu akan terlihat buram, bahkan sama sekali tidak bisa memantulkan gambar apapun.

"Nabi-nabi itu cemerlang kabeh (semua), karena digosok terus sehingga terus bisa memantulkan gambaran-gambaran," katanya.

Sementara kalbu yang dimiliki manusia biasa, lanjut Gus Mus, ibarat kaca yang sudah penuh dengan debu, kotor. Tertutup dengan dosa dan syahwat itu sendiri, sehingga tidak bisa mencapai derajatnya sebagai kalbunya para nabi atau para kekasih Allah.
 
"Kalbumu bisa seperti nabi-nabi, kamu juga bisa menerima pantulan-pantulan. Intinya sama, manusia biasa dengan yang suci-suci kalbunya sama. Ada bahan melihat itu ada, tapi udah karatan," tutur penulis buku Membuka Pintu Langit: Momentum Mengevaluasi Perilaku (Kompas, 2007).

Baca artikel lainnya

Gus Mus: Allah itu 'Maha Semau Gue'

Gus Mus Jelaskan Makna Qolbu di Hari Pertama Ngaji Pasanan


Tokoh NU penerima penghargaan kehormatan Bintang Budaya Parama Dharma ini menjabarkan, hal itu selaras dengan sabda Nabi yang mengatakan, 'Setiap bayi yang lahir dalam keadaan fitrah Islam. Sejak bayi manusia percaya dengan Allah Swt dan memiliki naluri yang sangat terpuji'.

"Nalurinya orang percaya kepada Allah Swt. Islam itu pasrah kepada Allah. Mungkin (bayi) tidak ngerti istilah itu, tapi sebenarnya dia ngerti soal itu, ya kalbu itu. Inti dari kita itu kalbu dan setiap orang punya kalbu dan bayi juga punya," ujarnya. (Abdul Rahman Ahdori/Zunus)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG