IMG-LOGO
Trending Now:
Opini

Bagaimana Memilih Teman di Era Medsos?

Ahad 12 Mei 2019 4:15 WIB
Bagikan:
Bagaimana Memilih Teman di Era Medsos?
Ilustrasi (Ist.)

Oleh: Muhammad Nur Hayid

Teman adalah kebutuhan yang tak bisa kita tolak. Karena berteman itu merupakan wujud nyata kita ini mahluk sosial. Orang yang tak berteman tidak akan pernah menjadi manusia seutuhnya. Lalu, Bagaimana cara berteman dalam Islam?

Dalam kitab Bidayatul Hidayah, Imam Ghazali membagi manusia dalam tiga kategori.

Pertama, manusia seperti makanan. Kita tidak mungkin bisa melepaskan diri dari makanan selama kita masih bernyawa. Artinya, sebagai makhluk sosial, tidak tidak akan bisa hidup sendiri tanpa bantuan orang lain.

Maka, berakhlaklah yang baik agar kita bisa mendapatkan asupan makanan yang baik melalui mua'syaroh kita dengan akhlak yang mulia.

Kedua, manusia seperti obat. Kadang kita butuh saat kita sakit dan kadang kita harus menjauhi obat agar tidak over dosis. Dalam konteks ini, pastikan jangan salah memilih teman sebagaimana jangan salah mendiagnosa penyakit dan akhirnya salah minum obat.

Kalau kita salah memilih teman sama dengan salah minum obat, bukannya badan sehat yang kita rasakan, tetapi justru bisa keracunan. Begitu juga saat kita salah memilih sahabat atau teman, bukannya kemaslahatan dan kemanfaatan yang kita peroleh, tetapi justru madharat dan bahaya yang akan kita rasakan.

Ketiga, manusia seperti penyakit. Jauhilah tipe yang ketiga ini. Maka tidak ada pilihan, jangan cari manusia model ini sebagai kawan atau teman, sebab selain pasti akan merusak diri kita, pasti juga akan menularkan keburukannya kepada orang lain. Sebagaimana penyakit yang akan menularkan kepada orang lain kalau kita tidak menjauhi dan mencegahnya.

Namun tipe ketiga ini tidak bisa kita hindari karena itu bentuk ujian dari Allah SWT. Sebagaimana penyakit juga tidak bisa kita hindari pasti akan ada untuk menguji kita sebagai manusia yang mengaku beriman kepada Allah.

Hanya saja caranya, kalau kita tahu dia ini penyakit, maka janganlah didekati, jauhi dan jika bisa dibasmi. Bukan manusianya yang dibasmi, tapi akhlak dan prilakunya yang menjadi penyakit menular itulah yang harus kita basmi.

Di era medsos yang sangat terbuka ini, kita bisa mencari sendiri tipologi manusia yang disebutkan Imam Ghazali di atas. Pilihan tinggal kita sendiri, mau memilih sahabat dan teman yang kita butuh setiap saat karena mampu membawa kekuatan dan energi yang baik, atau mau memilih penyakit yang akan menggerogoti diri kita hingga tumbang tanpa manfaat hidup di atas muka bumi ini.

Tentu orang yang waras akan memilih yang pertama dibanding yang ketiga. Dan golongan orang-orang yang pertama itu adalah golongan orang-orang yang shaleh, alim, tawadhu', penuh rahmah dan cinta yang jauh dari sikap sombong, benere dewe alias maunya menang sendiri.

Bukan model orang-orang yang suka mencaci maki dan menebar hoaks, suka menghina dan merendahkan orang lain karena kesombongannya. Bukan pula model orang yang suka membid'ahkan orang lain, bahkan berani mengkafirkan orang lain. Karena golongan ini adalah golongan manusia yang ketiga yaitu penyakit menular yang sangat berbahaya dan harus diberantas agar masyarakat menjadi sehat.

Nabi Isa AS pernah ditanya soal bagaimana beliau belajar adab, tata krama dan akhlak yang mulia? Beliau menjawab, tidak pernah belajar dari siapa pun dan diajari oleh seseorang pun. Tetapi Nabi Isa belajar akhlak dan adab itu dari bodohnya orang-bodoh yang tidak mau memperbaiki diri. Lalu beliau menjauhi sikap para juhala itu alias tak mau mencontohnya.

Dengan menghindari sikap yang dibenci orang lain, dan tidak meniru kelakuan orang-orang bodoh itu, sebenarnya cara belajar adab yang paling sederhana dan gampang, demikian kata Imam Ghozali. Sekarang bagaimana dengan kita?

Masihkan kita ikuti prilaku orang-orang yang tak paham agama lalu menyerukan jihad dan meniru prilaku orang-orang bodoh yang setiap saat menghina siapapun yang berbeda dengan dirinya? Jawabannya adalah, itulah potret kita sesungguhnya. Menjadi bodoh bersama juhala atau keluar dari mereka menjadi orang-orang yang waras.

Saatnya kita jadikan medsos kita medsos yang sehat dan waras. Jangan jadikan medsos kita sebagai alat penebar fitnah, hoaks dan adu domba. Orang jawa bilang, becik ketitik olo ketoro, apa yang kita tulis akan jadi cacatan pribadi kita di dunia ini, lebih-lebih di akhirat kelak saat kita mempertanggungjawabkan semua itu dihadapan sang khaliq.

Penulis adalah Wakil Ketua Lembaga Dakwah PBNU

Bagikan:
Ahad 12 Mei 2019 8:0 WIB
Ramadhan dan Demokrasi (Bagian 2)
Ramadhan dan Demokrasi (Bagian 2)
Oleh: Asmawi Mahfudz

Kelanjutan dari hikmah puasa Ramadhan adalah menjadi pribadi yang sabar untuk menjauhi larangan-larangan Allah (munkarat). Di sekitar kita mungkin banyak meluapkan kegembiraan dengan melampauhi batasan atau larangan Allah. Misalnya setelah kita menang, dalam alam demokrasi ini melakukan tindakan-tindakan yang dilarang oleh agama, negara, atau bertentangan dengan adat kebiasaan kita. Sabar tipe menghindari perkara yang tidak baik ini biasanya lebih berat dibanding dengan sabar menjalankan ketaatan, tetapi yang dapat mengukur adalah invidu masing-masing dan sesuai dengan konteks kehidupannya. Orang kadang bisa untuk menjalankan ketaatan secara istiqomah, tetapi belum tentu dapat menghindari larangan-larangan yang diingkari oleh agama dan kemanusiaan kita.

Maka tidak heran kadang orang rajin untuk shalat, dermawan, sudah haji, tetapi kadang menebar fitnah, hoaks, adu domba, caci maki kepada sesama, menebar aib atau kejelekan orang lain, atau bahkan karena terlanjut mendapat atribut status sosial yang tingi di masyakat (borju). Akhirnya merasa yang paling dekat dengan Allah, paling berhak untuk masuk surga, dan lain sebagainya. Untuk itu dalam suasana rutinitas demokrasi tahun ini, penting sekali kita aktualisasikan sabar dalam menghindari perbuatan-perbuatan yang tidak baik. 

Selanjutnya adalah sabar atas musibah yang menimpa kita. Musibah menurut Islam mempunyai pengertian tersendiri. Musibah itu tidak selamanya dapat diartikan sebagai tanda-tanda murka Allah atau keburukan. Demikian pula dengan nikmat, tidak selamanya sebagai pertanda mendapat ridha Allah. Tetapi, bahagia dan musibah kedua-duanya merupakan hukum Allah terhadap makhluk-Nya. Allah bermaksud menguji hamba-Nya yang beriman dengan kebaikan dan keburukan, agar dengan ujian ini Allah dapat mengetahui sampai di mana kebenaran imannya. Sebagaimana ayat Al-Qur’an "Wa basyir al-shabirin, alladhina idha ashabathum mushibat qalu inna lillahi wa inna ilayhi rajiun. Dan berilah kabar gembira bagi orang-orang yang sabar, yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka berkata sesungguhnya ini adalah milik allah dan sesungguhnya semuanya kembali kepada-Nya.

Menurut penulis, kandungan ayat ini adalah kegembiraan, ketidaksukaan, kekecewaan dalam kehidupan ini adalah kehendak Allah. Sebagai orang yang beriman bisakah kita menerima kekecewaan, kegembiraan sebagai perwujudan kehendak Allah. Tentu itu bukan hal yang mudah bagi kita. Sebagaimana manusia kadang kita bisa menerima kemenangan, kesenangan, kegembiraan dalam kehidupan kita, tetapi sulit untuk menerima kekecewaan, keburukan, kekalahan, menimpa kepada kita.

Maka semangat sabar pada tipe yang ketiga ini juga sesuatu yang sangat penting dalam kontestasi pemilu Indonesia tahun ini. Karena kita semua adalah orang yang beriman, meyakini keyakinan Agama masing-masing, tentunya segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupan orang yang beriman harus selaras dengan apa yang diyakininya selama ini, baik kita sebagai pemenang kontestasi maupun sebagai pihak yang kalah. Atau jawaban yang lain dalam kontestasi ini adalah semua yang terjadi inilah yang terbaik untuk hamba Allah menurut Allah, bukan menurut hamba-Nya. Karena kita sebagai hamba Allah tidak mengetahui mana yang terbaik untuk diri kita sendiri. Mungkin kemenangan itu yang terbaik dan mungkin juga kekalahan itu yang terbaik.   

Tipe sabar yang lain menurut Al-Ghazali adalah sabar atas ketentuan (takdir) Allah. Sebagai sabar kelompok sebelumnya, segala sesuatu yang terjadi di dunia ini adalah berdasarkan ketentuan Allah Rabul Izzati. Manusia sebagai hamba diberi hak untuk berikhtiar sesuai dengan kemauannya, tetapi akhir dari semua usaha manusia tetap akan kembali kepada kuasa Allah. Kita diberi hak untuk berpartisipasi dalam alam demokrasi ini sesuai dengan perannya masing-masing. Semua dari kita berperan sebagai pemilih dalam pemilu, sebagaian sebagai calon legislatif, sebagian sebagai panitia pemilu, sebagian sebagai pengamat, sebagian sebagai peneliti, sebagian sebagai calon pemimpin dalam tingkatannya. Tetapi, seluruh kita tetap bermuara kepada keputusan Tuhan yang Maha Esa, Allah Swt. 

Dalam sebuah dawuh-nya, Kanjeng Nabi Saw bersabda "Man Lam Yardla bi Qadla’i, fa al-Yathlub Rabban Siwaya." Barang siapa tidak ridla dengan ketentuan-ketentuan Allah maka carilah Tuhan selain Allah. Artinya, keputusan atau takdir dalam ajaran agama Tauhid menempati posisi pokok dalam keimanan ajaran Tauhid. Maka sikap sabar dalam menerima keputusan Allah adalah sebuah akhlak yang mulia bagi hamba Allah di sisi-Nya.
 
Sejak awal, rutinitas lima tahunan pesta demokrasi ini sudah dirancang sedemikian rupa oleh pihak-pihak yang mempunyai kewenangan, sesuai dengan perannya. Sebagian mungkin sesuai dengan keinginan seseorang, tetapi sebagian mungkin mengecewakan. Sebagian mungkin diposisikan sebagai orang yang kalah dalam kontestasi, tetapi sebagian di posisi sebagai pemenangnya. Sebagai posisi apa pun kita, baik sebagai pemenang atau yang kalah, jika dikembalikan kepada teologi ketuhanan kita, maka sebenarnya semuanya telah berposisi sebagai hamba Allah yang dalam satu muara yaitu kehendak Allah.

Sikap kerelaan atau sabar untuk mengembalikan kepada yang berkehendak, itulah yang harus kita tanamkan dalam sikap kita sekarang ini. Dan, sikap sabar dan rela ini harus menjadi sifat bagi orang yang beriman, dengan menjadikannya dasar utama dalam melakukan perbuatannya. Implikasinya dalam demokrasi ini semuanya akan menjadi pemenang dalam kacamata teologi kita. Hasil dari pemilu kita yang sesuai dengan keinginan seseorang, itu merupakan kehendak Tuhan disebut sebagai pemenang. Juga, yang tidak sesuai dengan keinginan dan kepentingan kita disebut sebagai pemenang pula. 

Demikianlah sebenarnya teologi sabar sebagai hikmah dari Ramadhan kita dalam berdemokrasi, apalagi dalam konstitusi bangsa Indonesia, sila yang pertama adalah Ketuhanan yang Maha Esa. Artinya, kehidupan berbangsa dan bernegara kita di Bumi Nusantara ini jelas mempunyai landasan teologis yang jelas, bahwa landasan utamanya adalah berdimensi Ketuhanan (Ilahiyah). Baik dari sisi kehidupan ekonomi, politik, sosial, seni budaya, pendidikan, religius (keagamaan), olahraga, pengelolaan hutan, kelautan, pengelolaan aset bangsa, administrasi, dan lain sebagainya. Semuanya di dasari oleh teologi yang meramu antara aspek ketuhanan dan aspek kemanusiaan.

Semoga bermanfaat.     

Penulis adalah pengajar IAIN Tulungagung dan Mustasyar PCNU Blitar, Jawa Timur.


Jumat 10 Mei 2019 12:0 WIB
Mewujudkan Nilai Ilahiyah dalam Berpuasa
Mewujudkan Nilai Ilahiyah dalam Berpuasa
Ilustrasi (ist)
Oleh Fathoni Ahmad

Ada ungkapan menarik yang berbunyi, “Manusia jangan hanya sebatas beragama, tetapi juga harus bertuhan”. Karena praktik beragama bisa dilakukan oleh siapa pun dengan hanya mengedepankan simbol-simbol agama. Sedangkan orang yang bertuhan sudah jelas beragama karena agama yang dipeluknya tidak meninggalkan nilai-nilai ketuhanan atau ilahiyah.

Simbol agama bisa menipu siapa saja karena mencampakkan substansi agama. Fenomena itu terlihat jelas ketika ada sekelompok orang yang secara artifisial sangat agamis, tetapi akhlak dan perkataannya jauh dari nilai-nilai universal agama yang semestinya menjunjung tinggi kasih sayang terhadap seluruh manusia.

Manusia beragama hendaknya sejurus dengan upaya mewujudkan nilai-nilai ketuhanan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam agama Islam sendiri diajarkan banyak syariat sebagai wujud atau manifestasi nilai-nilai ketuhanan, salah satunya ibadah puasa. Syariat puasa tidak hanya bertujuan mewujudkan keshalihan spiritual, tetapi keshalihan sosial tanpa memandang keyakinan dan golongan tertentu. Karena muara agama ialah bagaimana mewujudkan keseimbangan dan perdamaian kehidupan antarmanusia.

Beragama menurut sementara pakar adalah upaya manusia meneladani sifat-sifat Allah sesuai dengan kedudukan manusia sebagai makhluk. Dalam hal ini, kekuasaan Allah baik dalam wujud ayat-ayat qauliyah (wahyu) maupun ayat-ayat kauniyah (tanda-tanda alam) bisa menjadi washilah bagi manusia merenungi sekaligus memanfestasikan sifat-sifat Allah.

Menurut ulama tafsir Muhammad Quraish Shihab dalam Wawasan Al-Qur'an: Tafsir Maudhu'i atas Pelbagai Persoalan Umat (2000) menjelaskan bahwa Nabi Muhammad SAW memerintahkan, Takhallaqu bi akhlaq Allah (Berakhlaklah (teladanilah) sifat-sifat Allah).

Di sisi lain, manusia mempunyai kebutuhan beraneka ragam, dan yang terpenting adalah kebutuhan fa'ali, yaitu  makan, minum, dan hubungan seks Allah SWT memperkenalkan diri-Nya antara lain sebagai tidak mempunyai anak atau istri: “Bagaimana Dia memiliki anak, padahal Dia tidak memiliki istri?” (QS Al-An'am [6]: 101). “Dan sesungguhnya Mahatinggi kebesaran Tuhan kami. Dia tidak beristri dan tidak pula beranak.” (QS Al-Jin [72]: 3).

Al-Qur’an juga memerintahkan Nabi Muhammad untuk menyampaikan: “Apakah aku jadikan pelindung selain Allah yang menjadikan langit dan bumi padahal Dia memberi makan dan tidak diberi makan...?” (QS Al-An'am [6]: 14).

Dalam karya lainnya Membumikan Al-Qur’an (1999), Quraish Shihab menerangkan, manusia dapat mempertanyakan mengapa puasa menjadi kewajiban bagi umat Islam dan umat-umat terdahulu? Manusia memiliki kebebasan bertindak memilih dan memilah aktivitasnya, termasuk dalam hal ini, makan, minum, dan berhubungan seks. 

Binatang—khususnya binatang-binatang tertentu--tidak demikian. Nalurinya  telah mengatur ketiga kebutuhan pokok itu, sehingga--misalnya--ada waktu atau musim berhubungan seks bagi mereka. Itulah hikmah Ilahi demi memelihara kelangsungan hidup binatang yang bersangkutan, dan atau menghindarkannya dari kebinasaan.

Kebebasan yang dimilikinya bila tidak terkendalikan dapat menghambat pelaksanaan fungsi dan peranan yang harus diembannya. Kenyataan menunjukkan bahwa orang-orang yang memenuhi syahwat perutnya melebihi kadar yang diperlukan, bukan saja menjadikannya tidak lagi menikmati makanan atau minuman itu, tetapi juga menyita aktivitas lainnya kalau enggan berkata menjadikannya lesu sepanjang hari.

Syahwat seksual juga demikian. Semakin dipenuhi semakin haus bagaikan penyakit eksim  semakin digaruk semakin nyaman dan menuntut, tetapi tanpa disadari menimbulkan borok. Potensi dan daya manusia--betapa pun besarnya--memiliki keterbatasan, sehingga apabila  aktivitasnya telah digunakan secara berlebihan ke arah tertentu --arah pemenuhan kebutuhan fa’ali misalnya—maka arah yang lain, --mental spiritual--akan terabaikan. Nah, di sinilah diperlukannya pengendalian.

Dengan berpuasa, manusia berupaya dalam tahap awal dan minimal mencontohi sifat-sifat tersebut. Tidak makan dan tidak minum, bahkan memberi makan orang lain (ketika berbuka  puasa), dan tidak pula berhubungan seks, walaupun pasangan ada.

Tentu saja sifat-sifat Allah tidak terbatas pada ketiga hal itu, tetapi mencakup paling tidak sembilan puluh sembilan sifat yang kesemuanya harus diupayakan untuk diteladani sesuai dengan kemampuan dan kedudukan manusia sebagai makhluk ilahi.

Misalnya Maha Pengasih dan Penyayang, Mahadamai, Mahakuat, Maha Mengetahui, dan lain-lain. Upaya peneladanan  ini dapat mengantarkan manusia menghadirkan Tuhan dalam kesadarannya, dan bila hal itu berhasil dilakukan, maka takwa dalam pengertian di atas dapat pula dicapai.

Karena itu, nilai puasa ditentukan oleh kadar pencapaian kesadaran tersebut --bukan pada sisi lapar dan dahaga-- sehingga dari sini dapat dimengerti mengapa Nabi Muhammad menyatakan bahwa, "Banyak orang yang berpuasa, tetapi tidak memperoleh dari puasanya kecuali rasa lapar dan dahaga."

Puasa Ramadhan merupakan mercusuar ilahiyah yang mengajarkan umat Islam agar melaksanakan ibadah puasa dalam kesempatan-kesempatan lain sesuai syariat. Misal melaksanakan puasa sunnah secara rutin. Belum lagi ketika puasa ramadhan seseorang hendaknya memperbanyak ibadah, membaca Al-Qur’an, membantu orang lain, beramal, dan lain-lain karena nilainya berlipat-lipat di sisi Allah.

Praktik tersebut seharusnya bisa menjadi inspirasi kebaikan ketika bulan ramadhan telah berlalu. Sehingga nilai-nilai ketuhanan mewujud sepanjang masa bagi orang-orang yang benar-benar mempraktikkan agama sebagai jalan hidup. Sebab esensi agama ialah dijalankan sebaik-baiknya, tidak hanya disimbolkan secara artifisial. Apalagi berupaya menggunakan agama sebagai alat untuk merusak tatanan kehidupan.


Penulis adalah Redaktur NU Online
Jumat 10 Mei 2019 5:0 WIB
Ramadhan dan Demokrasi (Bagian 1)
Ramadhan dan Demokrasi (Bagian 1)
ilustrasi
Oleh: Asmawi Mahfudz

Saat ini kita semua warga bangsa dalam suasana bulan suci Ramadhan, di mana seluruh umat islam berkewajiban untuk menjalankan puasa selama sebulan penuh, dengan tujuan supaya menjadi pribadi Muslim yang bertakwa. Takwa dalam arti puasa dapat dipahami sebagai sarana untuk menjadi pribadi yang sabar, ikhlas, totalitas beribadah kepada Allah. Hikmah dari puasa di bulan Ramadhan tahun ini tampaknya menemukan momentumnya di tengah hiruk pikuk rutinitas lima tahunan bangsa Indonesia yang belum selesai melaksanakan pemilihan umum. Maka perlu bagi kita untuk menemukan dua hal penting dalam relitas kehidupan demokrasi Indonesia dengan aspek-aspek etika ke-Tuhan-an yang terkandung dalam bulan Ramadhan, yang mayoritas diyakini oleh warga Muslim Indonesia. Apalagi nilai-nilai bulan Ramadhan berbasis keyakinan mayoritas penduduk Indonesia, sesuai dengan sifat, watak, dan karakter dasar bangsa di Nusantara ini. Salah satu nilai yang begitu penting kita ungkap adalah sikap aktulisasi sabar hasil dari berpuasa di bulan Ramadhan, dalam berdemokrasi di Indonesia. 

Istilah sabar memang mudah untuk diucapkan, dalam bahasa Indonesia terdiri dari lima huruf dan satu kata. Tetapi, praktiknya sulit untuk dilaksanakan oleh setiap insan hamba Allah. Karena sikap sabar ini berhubungan dengan totalitas manusia sebagai pribadi seorang hamba, terdiri dari anggota badan, akal fikiran dan hati. Manusia ketika berusaha untuk bersikap sabar, harus mensinergikan semua unsur kemanusiaannya tersebut dalam sebuah tindakan atau tidak bertindak dalam realitas kesehariannya. Taruhlah dalam iklim demokrasi dengan ditopang arus teknologi informasi yang begitu dinamis sekarang ini, seseorang begitu berat untuk melakukan sikap mulia ini. Sebagaimana di dijelaskan dalam Al-Qur’an, yang artinya "Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk." (2: 45).
 
Apalagi sekarang kita bangsa Indonesia yang lagi melaksanakan rutinitas demokrasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Pemilihan umum untuk calon legislator kita dan Kepala Negara atau Pemerintahan, yang melibatkan seluruh komponen bangsa dan negara, baik dari panitia penyelenggaranya yaitu Komisi Pemilihan Umum (KPU); dari pengawasnya oleh Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu), rakyat yang memilih, pengurus partai politiknya, calon legislatornya dan juga calon Presiden dan Wakil Presidennya. Semua harus mempunyai sikap sabar dalam melaksanakan demokrasi ini. Kalau sikap sabar ini tidak kita tanamkan dalam sanubari kita bagaimana jadinya rutinitas demokrasi ini. Yang harus kita ingat adalah kita adalah bangsa yang berbudaya, bermartabat sejak nenek moyang kita babat (membukanya), memperjuangkan negeri dan mendirikannya ini. Mereka selalu dilandasi sikap santun, ramah, sabar, baik ketika memperjuangkan dan mendirikan negeri ini. 

Mungkin kita perlu berilustrasi dan imajinasi ketika para nenek moyang kita baru babat tanah di Nusantara ini, meramaikannya sehingga bisa berbentuk sebuah bangsa walaupun masih sederhana. Kemudian bagaimana para pejuang-pejuang kemerdekaan di bumi Nusantara ini melepaskan Kolonialisme para penjajah, dan bagaimana para pendahulu kita memakmurkan Nusantara ini, pastinya dilandasi dengan sikap sabar dan kebesaran jiwa sehingga eksistensi bagsa Indonesia masih bisa kita nikmati sampai sekarang. 

Maka dalam pesta demokrasi ini yang harus kita ingat adalah semua yang terlibat di dalamnya berusaha untuk mengisi kemerdekaan bangsa Indonesia, memajukannya sehingga menjadi bangsa yang makmur dalam berbagai perspektif. Untuk itu dalam mengisi dan memajukan bangsa ini harus didasari dengan sikap-sikap dan perilaku sebagaimana yang ditanamkan oleh para pendahulu kita, yakni sopan santun, ramah sumeh, sabar, gotong royong, rukun dan sebagainya. Jangan sampai idealisme para pengisi kemerdekaan ini menyebabkan elan vital dari bangsa ini tercerabut dari akarnya. Ini penting penulis ungkap, karena kondisi empiris di sekitar kita dalam pesta demokrasi pemilu ini seolah-olah banyak hal negatif yang kita lakukan sebagai anak bangsa. Sekarang banyak fitnah, kebohongan, caci maki terhadap sesama, merendahkan kepada yang lain, adu domba, egoisme, yang seolah-olah euphoria demokrasi ini kita artikulasikan sebagai manusia yang individualistik, sombong, sangar, materialistik, merasa benar sendiri, merasa sebagai makhluk yang paling dekat dengan Allah, dengan menafikan hamba Allah yang lain, seolah-olah kita sebagai pemilik surga dan yang lain adalah neraka.

Penulis jadi teringat dengan salah satu senior di lembaga tempat bekerja dan mengabdi sehari-hari. Pada saat ada suatu acara, dia yang berumur 75 tahun, sudah purnatugas, tetapi ketika naik menuju tempat acara di lantai tiga. Begitu ringannya, walaupun dengan tangga manual, tidak merasa berat, juga tidak ngos-ngosan. Maka sesudah sampai tempat acara, penulis ambil tempat duduk di sampingnya. Ketika berbicara engan dia saya tanya, "Bapak tadi naik ke tempat acara ini kok begitu ringan sekali, tidak mengeluh? Padahal umur Bapak sudah kepala tujuh lebih. Apa kira-kira resep yang bisa ditularkan kepada saya sebagai pelajaran pengalaman yang bisa saya tiru, Pak?"

Dia menjawab singkat, "Kulo mboten nate muring-muring" (Saya tidak pernah marah-marah)." Mendapat jawaban senior ini saya kemudian merenung, dan berkata dalam hati, inilah manusia Indonesia yang otentik sesuai dengan karakteristik manusia Indonesia. Sebuah profil manusia yang kuat dari sisi jasmani juga dari sisi rohaninya. Artinya orang kuat sebagaimana ilustrasi bapak senior tadi adalah sederhana, 'dia tidak pernah marah-marah', sehingga bisa mengendalikan jiwa. Lalu berimplikasi kepada kekuatan lahirnya, yang walaupun sudah tua tetapi tetap tegak berdiri, semangat untuk berjuang, dan masih bisa kumpul-kumpul bersama yunior-yuniornya yang dari sisi umur jauh di bawahnya.

Contoh bapak senior tadi mungkin kalau kita nukil Hadits Rasul Saw, mungkin berbunyi demikian "Laysa al-ghina an katsrat al-aradh wa lakin al-ghina ghina al-nafs." Bukanlah orang kaya itu adalah orang yang bertumpuk materi tetapi orang kaya adalah orang yang bersimpati dengan dengan hati nuraninya. Atau dawuh yang lain, "Laysa al-syadid bi al-shur’ah innama al-syadid yamliku nafsahu ‘inda al-ghadhab." Bukanlah orang kuat adalah diukur dengan adu badannya, tetapi orang kuat adalah yang dapat mengendalikan nafsunya ketika marah. Ini kembali lagi kepada pernyataan awal bahwa orang harus dapat mensinergikan antara akal fikirannya, hatinya dan anggota badanya sehingga dapat meng-artikulasi sabar dalam tindakannya. 

Kemudian pertanyaannya adalah bagaimana kita dapat bersabar dalam konteks demokrasi yang sekarang prosesnya masih berjalan? Mungkin kita dapat mengutip teori dari Al-Ghazali dalam kitab Minhaj al-Abidin, sabar ada beberapa macam di antaranya, sabar dalam menjalankan ketaatan kepada Allah. Contohnya orang dapat mempertahankan konsistensinya dalam patuh dan taat, melakukan perbuatan-perbuatan baik menurut Allah, Rasulullah, dan keumuman manusia sekitar kita. Sabar dalam shalat, puasa, haji, zakat, silaturahmi, menebar kasih sayang. Sabar melaksanakan tugas kewajiban sebagai pelayan masyarakat, sabar dalam mencari rezeki. Sabar untuk dakwah ajaran-ajaran Islam, sabar sebagai pejabat, sabar sebagai rakyat, sabar sebagai anggota keluarga, sabar dalam semua kebaikan, baik yang berdimensi kemanusiaan (insaniyah) atau dimensi ke-Tuhan-an (ilahiyah).

Dalam menjalankan program demokrasi pun kita harus sabar. Misalnya sebagai panitia pemilu, baik di level desa atau kabupaten atau bahkan Komisi Pemilihan Umum (KPU) tingkat pusat juga harus bersabar. Usai pencoblosan, mungkin banyak komentar, kadang hujatan atau gugatan, padahal panitia sudah melaksanakannya dengan maksimal sesuai dengan kemampuan kemanusiaan mereka. Maka panitia juga harus tetap konsisten (istiqomah) sesuai dengan aturan perundang-undangan yang berlaku. Tidak boleh mundur, patah semangat atau putus asa. Sabar dalam hal kebaikan menjalankan kepaanitian pemilu dijalankan dengan aturan dan prosedur yang telah kita sepakati bersama, walaupun tantangan dan gangguannnya begitu berat.   

Penulis adalah Pengajar IAIN Tulungagung dan Mustasyar NU Blitar, Jawa Timur.

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG