IMG-LOGO
Daerah

Ini Pesan Hadratussyaikh kepada Generasi Milenial

Ahad 12 Mei 2019 11:30 WIB
Bagikan:
Ini Pesan Hadratussyaikh kepada Generasi Milenial

Surabaya, NU Online

Pemuda atau kalangan milenial adalah salah satu generasi yang menentukan nasib bangsa ke depan. Pasalnya, merekalah yang akan melanjut estafet generasi tua, setelah para pendahulu udzur serta menghadap Allah SWT.


“Bersamaan dengan mengenang wafatnya maha guru pesantren dan bangsa, Hadratussyaikh KH M Hasyim Asy'ari, maka layak kita kutip warisan pesan beliau terkhusus untuk pemuda atau kalangan milenial,” kata Wasid Manshur, Sabtu (11/5).


Secara khusus, dosen Fakultas Adab dan Humaniora Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya membuka kitab Irsyadul Mukminin karya Muhammad Isham Hadzik.


Di kitab tersebut, sang muallif mengutip pesan KH M Hasyim Asy’ari. "Wahai pemuda Muslim, sesungguhnya umat telah memanggil dan menunggu kamu. Maka seyogyanya jawaban kamu adalah berbuat untuk kehidupan mereka dan berusaha menciptakan keadaan mereka semakin baik,” jelasnya mengutip pesan Hadratussyaikh.


"Ketahuilah, sesungguhnya kamu tidak hidup dengan baik kecuali karena kehidupan umat. Maka mantapkan dan kerjakan. Hanya dengan ini kebahagiaan hidup tercapai,” ungkap Ustadz Wasid, sapaan akrabnya.


Menurut alumni Pondok Pesantren Al-Khazini, Buduran, Sidoarjo tersebut, pesan ini terkesan santai sekaligus keras. “Sebagai pemantik agar pemuda harus bangkit dari tidurnya untuk berbuat yang terbaik bagi umat,” urainya. 


Menurut Wakil Ketua Pengurus Wilayah (PW) Lembaga Ta’lif wan Nasyr Nahdlatul Ulama (LTN NU) Jawa Timur tersebut, jangan nodai kondisi umat dengan perbuatan amoral. “Termasuk di dalamnya dengan menebar kabar bohong atau hoaks, maupun pekerjaan apapun yang merugikan umat,” ungkapnya.


Dalam pandangan Ustadz Wasid, para pemuda dan generasi milenial hendaknya menjaga warisan kondisi dari umat. “Termasuk warisan para pendahulu agar NKRI damai,” urainya. 


Apa yang dapat diraih dari khidmat para generasi milenial? “Dengan itu, bangsa ini kuat dan jaya. Dan peran pemuda atau millenial sangat menentukan mengawal cita-cita luhur ini,” jelasnya.


Menurutnya, pesan Hadratussyaikh ini cukup bermakna bagi kehidupan agar tidak larut mengejar kesenangan pribadi. “Tapi, kita sadar bertanggung jawab untuk menciptakan kesenangan dan kebahagiaan kepada umat sejagat dengan berharap mendapat hidayah,” tandasnya.


Hadratussyaikh KH M Hasyim Asyari meninggal Pukul 03.45 dini hari. Tepatnya Kamis, 7 Ramadhan 1366 H yang bertepatan dengan 25 Juli 1947 M. (Ibnu Nawawi)


 

Bagikan:
Ahad 12 Mei 2019 23:0 WIB
Sabuk Ramadhan, Pelajar NU Solo Diskusi Pluralisme
Sabuk Ramadhan, Pelajar NU Solo Diskusi Pluralisme
Kegatan bukber IPNU-IPPNU Solo
Solo, NU Online
Momentum bulan Ramadhan dimanfaatkan para pelajar NU Kota Surakarta, Jawa Tengah, untuk mengadakan acara Sabuk Ramadhan (Silaturahmi dan Buka Bersama). Selama bulan puasa kegiatan Sabuk Ramadhan ini diselenggarakan setiap seminggu sekali.  Agenda ini dilakukan rutin dalam bulan Ramadhan, seminggu satu kali yang dilaksanakan secara bergilir. 

"Kamis kemarin, kegiatan perdana dilaksanakan di kediaman salah satu anggota dengan tema Ramadhan Sebagai Sarana Untuk Memperkokoh Silaturahmi dan Kekompakan Serta Kegigihan dalam Belajar Berjuang & Bertaqwa," terang Ketua Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (PC IPNU) Kota Surakarta M. Faiz Asykarullah, kepada NU Online, Ahad (12/5).

Dijelaskan Faiz, kegiatan Sabuk Ramadhan ini dilaksanakan selain untuk menjalin silaturahmi, dan juga untuk memperkuat kesolidan kader-kader IPNU IPPNU Kota Surakarta.

Dalam kesempatan tersebut, dibahas mengenai pluralisme, yang dijabarkan oleh Faiz sebagai sikap untuk saling mentoleransi keadaan masyarakat yang majemuk yang ada di Indonesia.

"Sikap pluralisme sendiri penting untuk menjadi sebuah pegangan nilai bagi kita. Seperti halnya yang sudah dicontohkan Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid), hingga beliau disebut sebagai bapak pluralisme Indonesia, berkat sikap pluralisme dan perdamaian yang beliau gagas baik dalam hal pemikiran maupun praktis berkehidupan," imbuh Faiz.


Sementara itu, Ketua PC Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kota Surakarta Sitta Al-Huda mengharapkan melalui acara Sabuk Ramadhan kali ini dapat memperkuat tali ikatan para pelajar NU solo khususnya, dan menjadi bahan belajar, serta merealisasikan program kerja yang pernah dibuat. "Semoga ke depannya kegiatan seperti ini dapat kita ulang kembali di tahun berikutnya," pungkas Sitta.

Kegiatan ini diakhiri dengan shalat isya, tarawih berjamaah, dan ditutup dengan doa bersama. (Ajie Najmuddin/Muiz)
Ahad 12 Mei 2019 22:15 WIB
Buka Cakrawala Berpikir Santri, Pesantren Pecangaan Gelar Ngaji Literasi
Buka Cakrawala Berpikir Santri, Pesantren Pecangaan Gelar Ngaji Literasi
Kegiatan LTNNU Jepara, Jateng
Jepara, NU Online
Pesantren Mathla’un Nasyi’in Desa Pecangaan Kulon Kecamatan Pecangaan Kabupaten Jepara, Jawa Tengah Sabtu (11/5) siang menggelar Ngaji Literasi, Merawat Tradisi Literasi yang berlangsung di Aula pesantren setempat. 

Kegiatan yang diikuti 50 santri dari pesantren Mathla’un Nasyi’in, Nurul Hijrah, Darul Qur’an, Ummul Quro, dan Tahfidhul Qur’an itu menghadirkan 2 narasumber. 

Narasumber pertama, Sigit Aulia Firdaus menyampaikan materi “Santri Perawat Tradisi Literasi” dan narasumber kedua Faqih Mansur Hidayat memaparkan materi “Pemanfataan Teknologi untuk Dakwah Santri”. 

Ketua Pengurus Cabang Lembaga Ta'lif wan Nasyr Nahdlatul Ulama (LTNNU) Kabupaten Jepara, Syaiful Mustaqim mengatakan, kegiatan tersebut merupakan salah satu program kerja LTNNU Jepara, LTNNU Goes To yang acaranya dikemas dengan ngaji literasi. 

“Tujuan dari kegiatan ini untuk mengenalkan literasi kepada santri meskipun mereka sebenarnya sudah dekat dengan literasi,” katanya. 

Khodimul Ma'had, Ahmad Zainal Muttaqin Al-Hafidz mengungkapkan, ngaji literasi itu sangat baik diikuti oleh santri, karena selain mengkaji ilmu salaf, santri juga harus dibuka cakrawala berpikir. “Agar tidak gagap dalam merespon zaman atau  'arifun biz zamanihi serta mengasah kepekaan terhadap permasalahan umat," ungkap Gus Zen. 

Dalam kesempatan itu Sigit Aulia Firdaus menyatakan arti dari literasi tidak hanya sekadar membaca dan menulis tetapi ditambah dengan pemaknaan yang mendalam. Kepada santri anggota Divisi Permediaan LTNNU Jepara itu mengungkap data indek membaca masyarakat Indonesia. 

Di tahun 2011 dari 1000 orang yang serius membaca buku hanya di angka 1 yang tergolong serius dengan prosentase 000,1. Sedangkan di tahun 2016 Indonesia berada di peringkat 61 dari 62 negara. “Sehingga dari keprihatinan itu, Gus Sholahudin Wahid Pengasuh Pesantren Tebuireng Jombang menyuarakan gerakan literasi santri,” paparnya. 

Dalam rilis yang diterima NU Online, Ahad (12/5) Faqih Mansur Hidayat, narasumber yang kedua menambahkan, para santri sudah dekat dengan banyak medsos. Sebelum menggunakan medsos alangkah lebih baiknya sisi positif dan negatifnya perlu diketahui santri.  

Di samping itu, Faqih yang juga anggota Divisi Permediaan LTNNU Jepara mengajak santri agar membuat konten yang menyejukkan. Pihaknya menyebutkan santri-santri di Jawa Timur banyak yang membuat konten dari yang sumbernya dari kitab-kitab salaf. “Sehingga konten yang kita (NU) buat memberikan kesejukan kepada yang lain dan bukan menyerang,” pungkasnya. 

Kegiatan yang berlangsung 2 jam dalam rangka memperingati Haul KH Mahfudz Asymawi ke-18 itu semakin menarik karena pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan santri putra dan putri baik secara langsung maupun ditulis. (Red: Muiz)
Ahad 12 Mei 2019 20:30 WIB
Lawan Hoaks, Para Santri Dirikan Rumah Diskusi Lampung
Lawan Hoaks, Para Santri Dirikan Rumah Diskusi Lampung
Rumah Diskusi Lampung
Bandar Lampung, NU Online
Berawal dari kegelisahan akan maraknya informasi hoaks, fitnah, dan ujaran kebencian yang mengakibatkan gesekan horizontal di tengah-tengah masyarakat, sejumlah santri Lampung tergerak untuk membentuk sebuah forum diskusi yang diberi nama Rumah Diskusi Lampung (RDL).

Penggagas RDL, M. Rifai Aly mengatakan bahwa kondisi masyarakat saat ini masih lemah dalam memahami dan bersikap terhadap informasi di media sosial. Sebagian masyarakat masih belum dewasa dan waspada dengan kecenderungan mudah terbawa arus informasi yang terus mengalir tanpa henti setiap detiknya.

"Berangkat dari kondisi ini, dengan kesadaran yang tinggi akan pentingnya informasi, edukasi,  dan pemahaman yang baik dan benar demi tercapainya hubungan yang rukun, damai, sejuk dalam interaksi sosial kemasyarakatan baik di media sosial terlebih di dunia nyata, saya tergerak memberanikan diri untuk turut ambil peran dengan mendirikan Rumah Diskusi Lampung ini," ungkap pria yang biasa disapa Bang Fay ini, Ahad (12/5).

Rumah Diskusi Lampung lanjutnya, membawa moto Noto Ati: Ngaji, Diskusi, Berbagi dan akan menjadi agenda rutinan yang dilaksanakan dua kali dalam sebulan.

"Nantinya para narasumber yang akan mengisi diskusi ini terlebih dahulu membuat makalah yang akan di kemas menjadi sebuah buku jurnal. Sehingga bisa diterbitkan dan bermanfaat untuk banyak orang," terang alumni Pesantren Alumni Pesantren Miftahul Falah, Lampung Timur ini.

RDL secara resmi telah dibuka pada Jumat (10/5) yang dikemas dengan doa bersama untuk Indonesia aman dan damai pascapemilu serentak 2019. Pembukaan ini juga dirangkai dengan buka bersama para pengurus dan anggota.

"Dalam pembukaan RDL kita juga lakukan dzikir, doa, dan sharing (berbagi) seputar isu aktual yang terjadi saat ini," jelasnya.

Hadir pada acara pembukaan RDL Ustadzah muda Ade Rizki yang merupakan peserta aksi 2019 asal Lampung Selatan, Ana Yunita, Ketua umum Kopri PMII Lampung, sejumlah anggota Remaja Islam Masjid (Risma) dan para mahasiswa UIN Raden Intan Lampung. (Muhammad Faizin).
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG