IMG-LOGO
Risalah Redaksi

Sampah Makanan dan Makna Puasa Kita

Ahad 12 Mei 2019 17:15 WIB
Bagikan:
Sampah Makanan dan Makna Puasa Kita
Ilustrasi (via theheal.ca)
Indonesia, menurut laporan dari Barilla Center for Food and Nutrition menjadi produsen sampah makanan terbesar nomor dua di dunia setelah Arab Saudi. Setiap tahunnya, setiap orang membuat sampah sebanyak 300 kg sementara di Saudi Arabia, per orangnya membuang sampah sebanyak 427 kg. Sementara banyak orang yang kekurangan makanan, yang lainnya dengan gampangnya membuang-buang makanan.

Sampah makanan yang dibuang di Indonesia bahkan lebih tinggi dibandingkan dengan negara kaya-raya Amerika Serikat dengan jumlah 277 kg per orang per tahun yang dibuang. Negara penguasa dunia ini menduduki urutan nomor tiga dalam hal membuang sampah. Urutan keempat, diduduki oleh Uni Emirat Arab dengan 196 kg.

Yang memprihatinkan bahwa Indonesia bukanlah negara kaya, tetapi menjadi kontributor kedua dalam hal produksi sampah makanan. Di negara ini masih banyak anak-anak yang mengalami stunting atau tubuh pendek karena kekurangan nutrisi. Laporan organisasi pangan dunia FAO menyebutkan 19.4 juta penduduk Indonesia masih mengalami kelaparan karena kemiskinan. Total terdapat 13 juta ton sampah makanan di Indonesia yang dapat digunakan untuk konsumsi sebanyak 28 juta orang.  

Tiga dari empat negara yang memproduksi sampah makanan adalah negara dengan Muslim. Tentu saja hal ini bertentangan dengan ajaran Islam yang agar tidak memubazirkan sesuatu karena hal ini sama dengan berteman dengan setan. Tetapi ternyata perilaku umat Islam masih jauh dari nilai-nilai yang diajarkan oleh Islam. 

Negara Muslim yang kaya terutama berlokasi di Timur Tengah yang kaya akan minyak dan gas. Namun demikian, banyak Muslim di negara lain yang masih menghadapi persoalan mendasar untuk bisa bertahan hidup. Di Yaman yang merupakan tetangga Arab Saudi, jutaan orang mengalami kelaparan karena perang yang hingga kini belum berhenti. Permasalahan yang sama dialami oleh Muslim yang tinggal di benua Afrika.  

Sewaktu kecil, anak-anak diajarkan untuk selalu menghabiskan makanan untuk menghargai pak tani yang telah bersusah payah menanam padi. Atau dikisahkan nasi akan menangis jika tidak dihabiskan. Pada intinya, anak diajarkan untuk makan sesuai dengan porsi yang dibutuhkan sehingga tidak ada yang tersisa. Namun, kini ada budaya yang kurang bagus dalam pertemuan-pertemuan sosial, menghabiskan makanan dipersepsikan sebagai serakah. Hal ini kemudian memunculkan kebiasaan menyisakan sedikit makanan atau minuman untuk memunculkan kesan sebagai orang yang beretika. 

Ukuran piring untuk menampung makanan dalam berbagai pesta atau acara juga cenderung lebih besar. Ini mendorong orang untuk mengambil makanan apa saja yang terlihat menarik, tetapi ketika dicoba ternyata tidak sesuai dengan seleranya. Akhirnya, makanan tersebut terbuang percuma. Penyelenggara pesta juga cenderung menyediakan makanan berlebih karena jika kehabisan makanan, dianggap mengalami sebagai hal yang memalukan.  

Dalam bulan Ramadhan ini, media melaporkan jumlah sampah yang dibuang di Jakarta dan sekitarnya lebih banyak lagi dibandingkan dengan hari-hari biasanya. Hal ini terus berulang dari tahun-tahun sebelumnya. Padahal, Ramadhan adalah bulan untuk menahan diri dengan ikut merasakan lapar dan dahaga sebagaimana yang dialami oleh orang miskin yang kekurangan makanan.

Ada perubahan perilaku di kalangan Muslim terkait dengan puasa. Memang betul bahwa mereka menahan diri untuk tidak makan selama waktu tertentu sebagaimana ketentuan syariat, tetapi kemudian ketika berbuka puasa, maka segala sesuatu dimakan. Seolah-olah, mereka telah mengalami kelaparan yang akut. 

Pada bulan puasa, makanan yang disajikan lebih beragam, lebih berkualitas, dan dalam porsi lebih banyak. Ramadhan telah menjadi sebuah bulan untuk berpesta dengan beragam jenis makanan. Dan ketika perut sudah tidak dapat menampung makanan yang tersedia, maka makanan tersebut berakhir di tong sampah. 

Maka, dalam bulan Ramadhan ini, penting bagi kita untuk kembali melakukan perenungan, sejauh mana kita menjalankan substansi dari ajaran Islam untuk ikut berempati terhadap rasa lapar yang dialami oleh orang miskin. Dari situ, kita akan tergerak untuk lebih peduli kepada mereka. Dan di sisi lain, bagi yang diberi kecukupan rezeki, maka mereka dapat meningkatkan rasa syukurnya kepada Allah. 

Telah ada upaya dari beberapa organisasi untuk memanfaatkan sisa makanan yang terbuang dari ritel, restoran, dan catering untuk mereka yang membutuhkan. Makanan yang dibagikan bukanlah berasal dari sisa piring, tetapi tempat yang belum di makan. Ini tentu langkah yang patut diapresiasi. Namun, yang lebih penting lagi adalah berusaha menyajikan kebutuhan makanan dalam porsi yang tepat. 

Terkait dengan budaya membuang-buang makanan, maka ada banyak hal yang harus dilakukan agar perilaku tersebut dapat dikurangi sampai pada tingkat yang minimal. Kesadaran bahwa tidak menghabiskan makanan berarti menyia-nyiakan sumber daya yang dimiliki harus ditumbuhkan. Sumber daya yang kita miliki hari ini bukan hanya untuk kita nikmati, tetapi merupakan titipan dari anak cucu kita di masa mendatang. (Achmad Mukafi Niam)

Tags:
Bagikan:
Ahad 5 Mei 2019 20:30 WIB
Saatnya Bersatu Kembali Membangun Bangsa
Saatnya Bersatu Kembali Membangun Bangsa
Sejumlah tokoh Indonesia dan ulama berpengaruh berkunjung ke rumah mantan presiden Indonesia BJ Habibie untuk menggalang rekonsiliasi dan persatuan. Tak berselang lama, ulama, habaib, dan cendekiawan Muslim juga melakukan pertemuan di Jakarta dengan tujuan yang sama. Rekomendasi yang dikeluarkan dalam pertemuan tersebut salah satunya juga menyangkut persatuan dan rekonsiliasi kembali bangsa pascapemilu.

Pemilu 2019 berlangsung cukup panas. Hal ini terutama dengan narasi-narasi politik identitas yang menjadi bagian dari kampanye. Kampanye-kampanye bernuasa politik identitas agama yang disebarkan melalui media sosial mempengaruhi pandangan sebagian masyarakat. Narasi yang dimasukkan secara terus menerus akhirnya dianggap sebagai sebuah kebenaran mutlak yang harus diperjuangkan.  

Pandangan yang dikembangkan bersifat hitam putih. Yang baik melawan yang jahat, antara kami dan mereka. Bagi sebagian orang yang termakan isu tersebut, pemilihan presiden kali ini adalah persoalan siapa kandidat yang membela Islam dan siapa yang menista Islam. Padahal, politik tidaklah sesederhana itu.

Bahkan, ketika pemilu sudah usai, upaya untuk mendelegitimasi proses tersebut terus dilakukan oleh kelompok yang merasa akan kalah. Pemilu dianggap penuh dengan kecurangan yang dilakukan secara terstruktur, masif, dan sistematis. Lembaga penyelenggara hitung cepat diopinikan dibeli pihak tertentu. Hasil hitung cepat dianggap sebagai sihir sains, dan lainnya. 

Sayangnya, opini tersebut tidak didasarkan pada data-data yang memadai. Ada banyak kekurangan dalam proses pemilu yang melibatkan 182 juta pemilih pemilu dan berlangsung di ribuan pulau di Indonesia, serta kondisi geografis yang sangat beragam. Mulai dari daerah perkotaan yang gampang terakses sampai daerah terpencil yang harus dicapai dengan jalan kaki selama berhari-hari.  Dengan segala tantangan berat yang harus dihadapi, secara umum pemilu berlangsung baik dan damai.

Jika ada kecurangan, UU telah memberi jalan. Pihak yang merasa dicurangi dapat mengadukan ke Bawaslu, DKPP, dan Mahkamah Konstitusi. Mekanisme yang dibangun tentu lebih baik dibandingkan dengan mengancam melakukan pengerahan massa untuk menekan pihak lain dengan kekerasan agar memenuhi keinginannya.

Pemilu telah usai. Rakyat telah menentukan pilihannya. Mereka yang merasa didukung oleh banyak orang tetapi ternyata nantinya diputuskan kalah oleh KPU karena suaranya lebih kecil dibandingkan dengan lawan politiknya, harus menyadari jumlah dukungan yang diperolehnya lebih kecil dibandingkan dengan pihak lainnya. Kelompok kecil tetapi vokal tak berarti mencerminkan kehendak rakyat secara keseluruhan. Pemilihan yang dilakukan secara rahasia di bilik suara, memastikan rakyat memilih sesuai dengan hati nuraninya, tanpa takut ancaman dari pihak lain.

Kini saatnya kita fokus untuk kembali bekerja menyelesaikan banyak hal yang tertunda karena hiruk-pikuk kampanye pemilu yang panjang dan menguras emosi. Ada banyak persoalan besar yang harus diselesaikan oleh para pemimpin bangsa ini. Jika bangsa ini terus terpolarisasi karena pemilu, maka kehidupan berbangsa dan bernegara akan terhambat.

Sebuah kekalahan tentu mengecewakan. Banyak yang telah dikorbankan selama proses pemilu, baik berupa uang, waktu, tenaga, dan lainnya. Semuanya terkuras untuk sebuah pertarungan panjang yang melelahkan. Tapi kematangan seorang calon pemimpin sesungguhnya juga dilihat bagaimana responnya terhadap hasil yang tidak sesuai dengan harapannya. Rakyat juga akan menilainya dari situ. Sikap besar hati dan memberikan dukungan kepada calon yang terpilih akan menumbuhkan simpati kepada rakyat. Ini bisa menjadi modal sosial yang bisa digunakan untuk pemilu lima tahun mendatang, jika memang masih berminat untuk  mengikuti kontestasi lagi. 

Berbagai praktek pelaksanaan pemilu yang berlangsung di berbagai negara dapat kita pelajari. Jangan sampai kita mengalami hal buruk karena tidak mau belajar dari bangsa lain yang sudah pernah mengalaminya. Jangan sampai pula kita mengulang-ulang kesalahan yang sama dari pemilu yang diselenggarakan sebelumnya. Sikap menerima hasil, baik kalah atau menang menunjukkan kematangan dalam berdemokrasi. Pada negara-negara yang demokrasinya telah matang, pihak yang kalah dengan segera menyampaikan selamat kepada pemenang dan siap mendukung proses demokrasi selanjutnya.  

Bangsa ini membutuhkan orang-orang yang bersedia mengabdikan dirinya untuk kemajuan bersama. Ada banyak peran yang bisa dilakukan. Presiden dan wakil presiden hanya ada satu, tetapi pengabdian kepada bangsa tak harus menjadi seorang presiden atau wakil presiden. Setiap orang dapat memjalankan peran sesuai dengan kemampuan dan minat yang dimilikinya. 

Sikap para ulama dan cendekiawan Muslim yang mengajak kita kembali bersatu patut kita apresiasi dan dukung. Mereka adalah para tokoh yang menginginkan Indonesia terus membangun dan memperbaiki diri. Mereka setiap harinya berinteraksi dengan masyarakat dan merasakan berbagai masalah yang dihadapi oleh rakyat Indonesia. Jangan sampai kita terprovokasi untuk melakukan hal-hal yang mengganggu kehidupan masyarakat. 

Saatnya kita bersama-sama kembali membangun bangsa. Mereka yang terpilih adalah pemimpin dari semua rakyat Indonesia, yang bertanggung jawab untuk memajukan semuanya. Ada banyak kesamaan yang harus kita tonjolkan dibandingkan dengan terus merawat perbedaan. Mari kita tunjukkan bangsa Indonesia adalah bangsa yang beradab, yang mampu menyelesaikan berbagai persoalan dengan cara-cara yang baradab. Penyelesaian yang tidak menimbulkan persoalan tambahan. Dalam momen Ramadhan ini, saatnya bersatu kembali membangun bangsa. (Achmad Mukafi Niam)

Ahad 28 April 2019 7:0 WIB
Menjaga Kondusivitas Selama Proses Penghitungan Suara
Menjaga Kondusivitas Selama Proses Penghitungan Suara
Ilustrasi (Antara)
Persaingan antarkandidat dalam pemilu membuat suasana kehidupan bersama menjadi hangat. Banyak orang berharap pemilu segera selesai agar kehidupan kembali normal seperti semula. Ternyata harapan tersebut belum sepenuhnya terwujud. Sekalipun pemilu sudah usai dan perkiraan hasil melalui hitung cepat diumumkan, sejumlah pihak belum puas. Karena itu, kita bersama-sama harus menunggu hasil penghitungan resmi yang akan dilakukan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU).

Ada upaya provokasi melakukan people power dengan mengatasnamakan pemilu berlangsung penuh dengan kecurangan. Narasi inilah yang dicoba dibangun untuk mendelegitimasi bahwa pelaksanaan pemilu tidak jujur dan adil sehingga rakyat boleh menentukan pemimpinnya sendiri melalui people power.  Sesungguhnya pemilu merupakan pelaksanaan amanat people power yang dilaksanakan secara damai. Tidak perlu darah  tertumpah gara-gara pemilihan pemimpin. Mereka yang paling dirugikan adalah  rakyat banyak yang sehari-harinya masih harus berjuang untuk bertahan hidup dari berbagai  kesulitan yang mendera. 

Proses penghitungan suara terus berjalan di KPU yang nantinya akan diumumkan pada tanggal 22 Mei 2019.  Proses ini berlangsung secara terbuka. Semua pihak dapat mengawasi prosesnya. Jika ada salah perhitungan atau potensi kecurangan, pihak yang dirugikan dapat melakukan pelaporan. Mekanisme inilah yang harus dijalankan. Jangan sampai membangun narasi KPU melakukan kecurangan tanpa disertai bukti. Ada Bawaslu, DKPP, dan Mahkamah Konstitusi sebagai jalur menyelesaikan sengketa pemilu. 

Selama ini ada sejumlah kesalahan input data yang terjadi karena faktor manusia. Kesalahan tersebut bisa saja menguntungkan pasangan 01 atau 02. Tetapi dengan pengawasan publik, maka dengan segera KPU memperbaiki input tersebut. Harus dilihat seberapa banyak persentase kesalahan tersebut apakah sifatnya signifikan atau tidak dari jumlah total suara yang masuk. Jangan sampai dilakukan pembesar-besaran kesalahan seolah-olah KPU melakukan kecurangan terstruktur, sistematis, dan masif. Ini tentu pekerjaan bagi KPU untuk memastikan semuanya berjalan dengan baik karena pekerjaannya diawasi oleh rakyat. 

Kerja-kerja yang dilakukan KPU sangat menentukan legitimasi hasil pemilu. Berbagai sistem yang ada tersebut merupakan upaya menjaga transparansi dan akuntabilitas hasil pemilu. Ongkos sosial dan politik yang timbul sangat besar jika hasil pemilu tidak memiliki legitimasi di depan rakyat. Upaya delegitimasi KPU telah dilakukan bahkan sebelum pemilu berlangsung, seperti adanya hoaks tujuh kontainer telah tercoblos, server KPU telah disetting untuk memenangkan calon tertentu, ketua KPU ikut umrah bersama Jokowi, dan lainnya. 

Beruntung, mulai pemilu tahun 2014, publik melalui berbagai kanal mengajak masyarakat membantu mengawal pemilu dengan mengajak mereka mengunggah C1 di situs tersebut sebagai  data pembanding. Upaya tersebut harus diapresiasi sebagai keterlibatan warga dalam gawe besar bangsa Indonesia menentukan pimpinan tertingginya. 

Pihak-pihak yang tidak puas dengan hasil tentu akan terus melakukan upaya agar situasi Indonesia menjadi kacau. Dalam kondisi seperti itu, mereka akan berusaha mengambil keuntungan. Situasi inilah yang harus diantisipasi oleh semua pihak.  

Dalam hal ini, aparat keamanan memiliki peran besar untuk memastikan bahwa kehidupan berjalan dengan normal. Upaya pemerintah untuk meningkatkan jumlah personel keamanan di ibu kota Jakarta patut diapresiasi. Jangan sampai para provokator mengambil kesempatan membuat kekisruhan untuk kepentingan pribadi. Pendekatan pencegahan harus diutamakan sebelum semuanya terlambat. 

Upaya-upaya rekonsiliasi telah digagas dan terus diupayakan antarpihak yang berkompetisi. Joko Widodo telah menginisiasi pertemuan dengan Prabowo Subianto sebagai rivalnya dalam pilpres kali ini, sekalipun belum ada titik temu. Jika hal tersebut terlaksana, tentu akan membuat para pendukung kedua belah pihak mengikuti langkah para pemimpinnya. Wapres Jusuf Kalla juga telah mengundang para pemimpin ormas Islam untuk bersama-sama menjaga suasana kondusif. PBNU dan sejumlah -ormas Islam juga telah mengeluarkan seruan menjaga kedamaian. 

Bangsa ini telah beberapa kali melaksanakan pemilu dan secara umum, masyarakat semakin dewasa dalam menyikapi perbedaan pilihan atau menyikapi kemenangan dan kekalahan dari pihak yang didukungnya. Mereka yang terpilih akan menjadi pemimpin bagi seluruh rakyat Indonesia, bukan hanya partai atau kelompok yang mendukungnya saja. 

Pemilu berlangsung secara rutin setiap lima tahun sekali. Bagi pihak yang nantinya diputuskan kalah oleh KPU, waktunya untuk melakukan evaluasi strateginya dan mulai menyusun langkah-langkah baru mempeersiapkan kontestasi berikutnya pada tahun 2024. Bagi pihak yang nantinya diputuskan menang, juga bukan hal yang mudah. Janji-janji yang telah diucapkan selama kampanye akan ditagih oleh rakyat. Zaman digital menyebabkan hampir semua hal terdokumentasi dengan baik di dunia maya dan dengan mudah dicari kembali. 

Kita dapat belajar dari negara-negara lain yang situasi politiknya tidak stabil, maka kondisi sosial dan ekonominya juga tidak bisa berjalan dengan bagus. Ada banyak pekerjaan besar yang harus dilakukan secara bersama-sama dalam membangun Indonesia. Jangan sampai energi kita habis sia-sia untuk perdebatan yang tidak perlu. 

Persoalan besar pemilu kali ini adalah banyaknya orang meninggal yang mencapai 225 dan sakit 1470 orang per Kamis (25/4). Ini disebabkan oleh kelelahan akibat banyaknya suara yang harus dihitung. Pemilu 2019 untuk pertama kalinya menggabungkan pemilu presiden dan parlemen. Ada lima kertas suara yang harus dicoblos. Dengan demikian, dibutuhkan waktu yang panjang untuk penghitungannya. 

Penggabungan pemilu kali ini merupakan upaya efisiensi dan efektifitas proses pemilu. Tapi ternyata, ada problem baru yang belum terantisipasi. Sejumlah ahli telah mengusulkan perbaikan teknis atau sistem pemilu ke depan. Tetapi hal tersebut tentunya harus dipikirkan secara matang dan komprehensif. 

Pemilu telah usai, kini saatnya merajut kembali persaudaraan yang mungkin renggang akibat perbedaan pilihan. Pengalaman baik atau pengalaman buruk, dapat menjadi pelajaran bagi pelaksanaan pemilu selanjutnya. Jangan sampai kita jatuh ke lubang yang sama karena tidak mau belajar dari pengalaman sebelumnya. Kita optimis bahwa bangsa Indonesia memiliki masa depan cerah.  (Achmad Mukafi Niam)

Sabtu 20 April 2019 15:0 WIB
Menjaga Kedamaian Indonesia Pascapemilu
Menjaga Kedamaian Indonesia Pascapemilu
Pesta akbar demokrasi berupa pemilihan umum yang diselenggarakan pada 17 April 2019 lalu disambut dengan antusias oleh rakyat Indonesia. Masyarakat berbondong-bondong mendatangi TPS untuk memberikan suaranya. Warga di perantauan juga terlihat mendaftar ke KPUD Kabupaten/Kota agar bisa pindah tempat memilih. Hal yang sama terlihat dari membludaknya pemilih di luar negeri. Tentu saja mereka berharap agar kandidat yang mereka pilih dapat memimpin Indonesia dan menunaikan program beserta janji yang telah diucapkan selama kampanye. 

Secara umum pemilu yang menghabiskan anggaran 24.9 triliun rupiah ini berlangsung sukses. Hitung cepat yang diselenggarakan oleh sejumlah lembaga survey memenangkan pasangan 01, Joko Widodo dan KH Ma’ruf Amin. Namun demikian, hasil hitung cepat hanya berupa prediksi yang tidak dapat digunakan untuk mengambil keputusan sekalipun pada pemilu-pemilu sebelumnya, hasil hitug cepat dapat menjadi prediksi perolehan suara. Resminya, KPU akan memutuskan pemenang pipres pada tanggal 22 Mei 2019. 

Dalam sebuah kontestasi, menang atau kalah merupakan hal yang biasa. Sikap legowo bagi yang kalah akan mendatangkan simpati masyarakat sementara sikap tidak jumawa bagi yang menang akan menghindari adanya permusuhan dari pihak yang kalah. Masing-masing pihak telah mengerahkan strategi terbaik dan seluruh sumber daya yang dimiliki untuk meraih kemenangan. Sebagai manusia, masing-masing telah berusaha semaksimal mungkin, tetapi sebagai umat beragama, kita percaya ada kekuatan Tuhan yang menentukan segalanya. Tentu ada hikmah yang bisa dipetik dari pengalaman tersebut.

Rakyat Indonesia telah banyak belajar bagaimana menghadapi pemilu. Pascareformasi, pemilu sudah diselenggarakan 1999,2004, 2009, 2014, dan 2019. Sikap dewasa telah terlihat dalam proses pelaksanaan maupun menerima hasilnya. Kini, masyarakat sedang menunggu hasil resmi dari KPU yang akan menjadi acuan dari semua pihak yang terlibat dalam proses pemilihan.

Para penyelenggara pemilu pun sekarang lebih profesional dalam melaksanakan tugasnya. Tingkat transparansi penyelenggaraan juga jauh lebih baik karena adanya keterlibatan masyarakat dan dukungan teknologi seperti adanya situs kawalpemilu.org atau aplikasi Ayo Jaga TPS. Berbagai kekurangan tentu saja masih terjadi, tapi jika dibandingkan dengan pemilu sebelumnya, tentu lebih baik.

Berbeda dengan pemilu sebelumnya yang memisahkan antara pemilihan pemilu parlemen dan pemilu presiden. Pemilih harus mencoblos lima kertas suara yang meliputi pasangan capres-cawapres, DPR RI, DPRD Provinsi, DPRD Kabupaten/Kota, dan DPD. Kali ini, semuanya dijadikan satu. Akibatnya, penghitungan suara berlangsung sampai malam, bahkan dini hari. Tentu saja, hal seperti ini perlu diperbaiki di masa mendatang.

Mereka yang kalah pasti tidak puas, tetapi hal tersebut tidak boleh dilampiaskan dalam tindakan-tindakan anarkis yang merugikan banyak orang. Cara-cara kekerasan tidak akan menyelesaikan masalah, bahkan menimbulkan masalah baru. Kalah dalam pemilu, berarti menunjukkan bahwa dukungan yang mereka peroleh tidak sebagaimana yang mereka bayangkan. Kemampuan untuk mengumpulkan massa besar di ibu kota hanya menunjukkan sebagian kecil dukungan yang mereka peroleh karena ada 192 juta rakyat Indonesia yang berhak menentukan pemimpinnya. Dan banyak di antara mayoritas tersebut adalah mayoritas diam. 

Penyelenggaraan pemilu yang transparan dan akuntabel akan membuat hasilnya memiliki kredibilitas tinggi. KPU dalam hal ini beberapa kali mendapat serangan hoaks seperti server sudah didesain untuk memenangkan kandidat 01 dengan kemenangan 57 persen, padahal mekanisme penghitungan dilakukan secara manual dan berjenjang dari bawah, hoaks tujuh kontainer sudah tercoblos, padahal surat suara belum dicetak. Dan banyak lagi. 

Rilis yang disampaikan oleh Kementerian Komunikasi dan Informasi menyatakan bahwa penyebaran hoaks meningkat dengan drastis menjelang pemilu. Bahkan setelah usai proses pencoblosan, beragam hoaks tentang hasil pemilu yang beredar di media sosial terus menyebar. Para penyelenggara hitung cepat dianggap melakukan kecurangan atau sudah dibeli pihak tertentu untuk menggiring opini. Padahal, mereka sudah secara rutin menyelenggarakan hal tersebut setiap ada penyelenggaraan pemilu, baik pemilu tingkat nasional atau pilkada. Masyarakat menjadi kebingungan, siapa yang sesungguhnya menang dalam pilpres kali ini.  

Bagi pihak yang memenangkan kontestasi, tentu ini merupakan kepercayaan rakyat yang harus dijaga dengan baik. Janji-janji yang sudah disampaikan dalam kampanye harus segera ditunaikan. Masih banyak sekali pekerjaan rumah bagi para pemimpin Indonesia agar negara ini sejajar atau bahkan lebih maju dibandingkan dengan negara lain. Tingkat kesejahteraan, kualitas pendidikan, kesehatan, dan beragam indikator lainnya menunjukkan bahwa posisi Indonesia belum bagus-bagus amat. Belum lagi jika kita bicara soal korupsi yang masih marak di Indonesia.

Kini saatnya semua pihak menahan diri, mengawasi seluruh proses dan tahapan pemilu yang masih terus berjalan agar semuanya berjalan dengan baik. Sesungguhnya, keberhasilan pemilu ini adalah kemenangan seluruh rakyat Indonesia. Bukan kemenangan satu kelompok saja karena seluruh rakyat nantinya yang akan merasakan hasil baik atau buruk dari pemilu ini. (Achmad Mukafi Niam)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG